• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Kinerja Usaha Kehutanan Indonesia

3. Multidimensi Konflik

Hutan alam produksi di Luar Jawa juga diwarnai gejala dan fenomena multidimensi konflik. Itu setidaknya digambarkan oleh FWI/GFW (2002) dan Wulan et al (2004) 7 sebagaimana diuraikan di bawah ini.

FWI/GFW (2002) berhasil memetakan sebaran konflik berdasarkan survey. Digambarkan, bahwa penyebab umum konflik antara lain terkait konsesi HPH, penebangan liar, penetapan kawasan lindung dan taman nasional, pembangunan hutan tanaman dan perkebunan sawit. Ditambahkan, bahwa konflik terjadi lebih sering karena akibat beda pandangan terkait hak atas lahan (land rights issues), pelanggaran atas kontrak perjanjian, dan ketidak jelasan batas kawasan. Diperlihatkan, bahwa konflik menyebar terjadi di keseluruhan pulau utama di Indonesia.

Sementara, Wulan et al (2004) memotret profil konflik ini berdasar survey media dalam kurun 1997-2003. Disebutkan, bahwa dari 359 konflik, lebih dari seperempat (27 %) diantaranya terjadi di areal HPH. Dari 359 konflik, 273 (76,04%) diantaranya terjadi di Luar Jawa. Adapun penyebab konflik teridentifikasi setidaknya lima hal: perambahan hutan, pencurian kayu, perusakan lingkungan, tata batas kawasan (akses), dan alih fungsi kawasan. Seperti halnya hasil FWI/GFW (2002), Wulan et al (2004) juga menunjukkan bahwa konflik juga menyebar terjadi di hampir keseluruhan pulau utama (Tabel 9). Sedangkan kecenderungan jumlah atau frekuensi konflik dari tahun ke tahun berfluktuasi, dimana konflik terbanyak terjadi pada 2000 sebanyak 153 kasus. (Gambar 8)

Beberapa kebijakan pemerintah terkait langsung dengan keberpihakannya atas kepentingan masyarakat, seperti hutan rakyat, hutan kemasyarakatan, hutan cadangan pangan, bina desa hutan (BDH) dan pembinaan masyarakat desa hutan (PMDH) yang telah berjalan sejauh ini dinilai tidak berjalan sebagaimana mestinya. Khan (1996) menunjukkan bahwa program BDH yang kini telah mengalami berbagai perubahan (ditingkat aturan) itu, misalnya, masih tetap sulit diimplementasikan,

7

Wulan et al (2004) Analisis Konflik Sektor Kehutanan 1997-2003. Center for International Forestry Research. Bogor.

Tabel 9. Frekuensi Konflik Kehutanan per Provinsi (1997-2003)

No. Provinsi Frekwensi Konflik Persentase (%)

1 Nangroe Aceh Darusasalam 10 2,79

2 Sumatera Utara 36 10,03 3 Sumatera Selatan 12 3,34 4 Riau 19 5,29 5 Jambi 16 4,46 6 Kalimantan Timur 109 30,36 7 Kalimantan Tengah 10 2,79 8 Jawa Barat 25 6,96 9 Jawa Tengah 47 13,09 10 Jawa Timur 14 3,90 11 Provinsi lain 61 16,99 Total Jawa 86 23,96

Total Luar Jawa 273 76,04

TOTAL INDONESIA 359 100,00

Sumber: Wulan et al (2004) – data diolah ulang, urutan dimodifikasi

Frekuensi Konflik per Tahun

14 29 52 153 45 31 35 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 1997 1998 1999 2000 2001 2002 Jun-03 T a hun Frekuensi Konflik

Gambar 8 Frekwensi Konflik Pertahun (1997-2003) (Sumber: Wulan et al, 2004 – data diolah ulang)

antara lain karena program ini bagi pemegang HPH maupun HTI (waktu itu) pada akhirnya – dan dalam jangka pendek – lebih merupakan beban biaya tambahan (disinsentive) yang tidak ada kaitan langsung baik dengan upaya peningkatan efisiensi ataupun kapasitas produksi HPH/HTI yang bersangkutan. Keadaan ini menguatkan dugaan, bahwa program semacam ini kurang memperhitungkan dan mengantisipasi kedudukan dan karakter HPH/HTI sebagai institusi bisnis yang berorientasi pada perilaku memaksimalkan keuntungan.

4. Deforestasi

Sementara itu, kebijakam konsesi melalui sistem HPH selama efektif lebih dari tiga dekade terakhir telah menyebabkan juga kehilangan dan kerusakan sumberdaya hutan yang sangat menyedihkan. World Bank (2006c) mencatat bahwa hampir 30% luas hutan produksi kondisinya rusak (deforested) dan laju kerusakan hutan tertinggi terjadi pada hutan alam produksi yang dikelola HPH/IUPHHK.

Maka bermunculan berbagai versi angka laju deforestasi hutan Indonesia dengan rentang 700 ribu ha/tahun sampai 3 jutaan ha pertahun. Menurut Gautam et al (2000), merujuk pada hasil beberapa riset saat itu, tingkat kerusakan hutan telah mencapai rata-rata 1,5 juta ha per tahun. Pada 2008, Indonesia bahkan telah masuk Buku Rekor Dunia Guiness dalam hal kerusakan hutan. Disebutkan, dari 44 negara yang secara kolektif menguasai 90% hutan dunia, Indonesia meraih tingkat laju deforestasi tercepat di dunia dengan angka 1,8 juta ha per tahun antara

2000-2005. Greenpeace (2007)8 menyebutkan, bahwa rekor ini

berimplikasi menjadikan Indonesia juga sebagai pencemar gas rumah kaca ketiga di dunia, setelah Amerika dan Cina, dengan besaran 25% emisi gas rumah kaca akibat penggundulan hutan.

Seikh PA (2008) memberikan gambaran pula bahwa deforestasi menyumbang seperlima dari emisi gas rumah kaca dunia. Sementara sebuah studi yang disponsori pemerintah Indonesia sendiri memerkirakan bahwa kerusakan hutan Indonesia berkontribusi hampir 80% atas emisi gas rumah kaca nasional. Level itu dinilainya sangat kritis dan menempatkan Indonesia sebagai emiter terbesar ketiga dunia.

Namun, data resmi Dephut yang tertuang antara lain dalam Statistik Kehutanan 2007 (Dephut, 2008) mengonfirmasi lain terkait tingginya laju deforestasi ini. Dalam kurun lima tahun (2000-2005) tercatat jumlah deforestasi dari tujuh pulau utama di Indonesia mencapi luasan 5,45 juta ha, dengan laju rata-rata per tahun seluas 1,1 juta ha (Tabel 10)

8

Tabel 10. Besar dan Laju Deforestasi dari Tujuh Pulau Utama Indonesia Deforestasi (Ha/th)

Pulau 2000/2001 2001/2002 2002/2003 2003/2004 2004/2005 Total Rataan

Sumatera 259,500 202,600 339,000 208,700 335,700 1,345,500 269,100 Kalimantan 212,000 129,700 480,400 173,300 234,700 1,230,100 246,020 Sulawesi 154,000 150,400 385,800 41,500 134,600 866,300 73,260 Maluku 20,000 41,400 132,400 10,600 10,500 214,900 42,980 Papua 147,200 160,500 140,800 100,800 169,100 718,400 143,680 Jawa 118,300 142,100 343,400 71,700 37,300 712,800 142,560 Bali-NT 107,200 99,600 84,300 28,100 40,600 359,800 71,960 INDONESIA 1,018,200 926,300 1,906,100 634,700 962,500 5,447,800 1,089,560 Sumber: Dephut (2008) Statistik Kehutanan Indonesia 2007. Jakarta (diolah)

Berapapun besarnya, deforestasi diakui berdampak merugikan, bahkan dalam jangka panjang dikhawatirkan dapat menghilangkan peradaban manusia, bila kondisinya dibiarkan terus berlanjut. Berbagai kejadian bencana alam yang berulang secara rutin dalam dua dekade terakhir ini seolah telah membuat manusia begitu terbiasa dan akrab dengan banjir, longsor dan kekeringan serta kebakaran hutan. Sebut saja banjir bandang yang datang berulang berbagai wilayah di Sumatera (Walhi, 2003), banjir di Gorontalo dan berbagai wilayah di Sulawesi (Walhi 2006) dan banjir di Kutai Barat, di Samarinda dan wilayah lain di

Kalimantan (Kompas 2005)9; tentu dengan besaran, sebaran, dan

frekuensi, serta jumlah korban yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Keseluruhan kejadian bencana lingkungan ini memiliki kaitan logis-fungsional dengan menyusutnya peran, fungsi dan keberadaan hutan alam akibat deforestasi. Kekhawatiran terkait akan terjadinya peningkatan tekanan lingkungan di Indonesia sebagaimana pernah diungkap Diamond (2005) sebetulnya sudah (cukup lama) terbukti.

Selain deforestasi, terjadi pula kerusakan dan kehilangan atau perubahan peruntukan kawasan hutan yang dimungkinkan karena kegiatan seperti tukar menukar kawasan hutan untuk pemanfaatan lain, mutasi kawasan hutan produksi kepada fungsi lain, dan bahkan konversi hutan alam kepada penggunaan lain, terutama pertanian dan perkebunan. Berbagai perubahan ini memang secara resmi telah diatur dan difasilitasi

9

Bahkan pada saat penulisan akhir disertasi bagian ini dilakukan, diberitakan berbagai media cetak dan elektronik nasional bahwa sedang terjadi banjir dan longsor di banyak wilayah di Jawa dan Nusa Tenggara.

oleh pemerintah, Cq Kementerian Kehutanan. Sampai 2002, misalnya, tercatat seluas 4,46 juta ha kawasan hutan alam produksi telah berubah peruntukannya menjadi lahan pertanian dan perkebunan. Pada 2007 luasan ini meningkat menjadi 4,74 juta ha, keseluruhannya melalui keputusan pelepasan oleh menteri (Dephut, 2008).

Gautam et al (2000) sampai pada simpulan bahwa penyebab utama penggundulan hutan di Indonesia adalah kepentingan komersialisasi hutan sekala besar yang berujung tidak saja pada ketidak-lestarian tetapi juga ketidak adilan manfaat yang begitu lebar. Demikian pula kesimpulan Kato (2005), yang menyebutkan bahwa penyebab deforestasi mencakup penebangan berlebih, kebakaran hutan, transmigrasi dan konversi hutan menjadi lahan pertanian.