Tempat dan Waktu Penelitian
Survei dan pengambilan sampel kutukebul dan tanaman tomat yang menunjukkan gejala penyakit klorosis dilakukan di sentra produksi tomat di daerah Bogor, Cianjur, Batu dan Sukabumi. Identifikasi, pengukuran panjang rostrum dan sayap kutukebul dilakukan di Laboratorium Biosistematika Serangga sedangkan pengukuran periode retensi dan identifikasi virus dilakukan di Laboratorium Virologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilakukan dari bulan April sampai November 2010.
Metode Penelitian
Survei dan Pengambilan Sampel Kutukebul dan Tanaman Tomat Sumber ToCV
Pengambilan sampel kutukebul dilakukan di beberapa daerah sentra produksi tomat di Jawa Barat dan Jawa Timur yang mempunyai ketinggian tempat yang berbeda yaitu di Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor dengan ketinggian 573 m di atas permukaan laut (mdpl) dengan suhu rata-rata 25.30C; Kecamatan Batu, Kota Batu 675 mdpl suhu 24.40C; Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi 1022 mdpl suhu 22.2 0C; Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur 1225 mdpl suhu 20.9 0C. Untuk analisa variasi ukuran tubuh B. tabaci, koleksi imago kutukebul dilakukan dari beberapa pertanaman tomat petani sekitar 5-6 kebun per daerah ketinggian tempat. Imago kutukebul yang telah dikoleksi dengan aspirator, kemudian dimasukkan ke dalam tabung gelas yang telah diisi alkohol 70% agar awet sampai diamati di laboratorium. Untuk analisa periode retensi ToCV dalam tubuh kutukebul, tanaman tomat sumber ToCV diambil dari tanaman tomat yang menunjukkan gejala khas penyakit klorosis di daerah Pacet, Cianjur.
Pembuatan Preparat dan IdentifikasiB. tabaci
Identifikasi B. tabaci dilakukan berdasarkan morfologi pupa yang diperoleh dari hasil perbanyakan serangga. Agar morfologi pupa kutukebul dapat diamati dan dianalisa dengan jelas maka terlebih dahulu harus dilakukan pewarnaan dengan
asam fuchsin. Preparasi pewarnaan dilakukan sebagai berikut. Pupa kutukebul direndam ke dalam tabung reaksi yang berisi alkohol 80% dan dipanaskan pada suhu 80-100 0C selama 10 menit, kemudian dipindahkan ke dalam tabung reaksi yang berisi KOH 10% dan dipanaskan sampai isi pupa lunak atau terlihat transparan. Kemudian spesimen dipindahkan ke dalam cawanSyracus.Pada cawan Syracus, spesimen pupa ditekan perlahan pada bagian lingkar dorsal posterior sampai seluruh isi pupa keluar, lalu dicuci dengan aquades sampai bersih dan sisa KOH hilang. Pewarnaan dilakukan dengan merendam spesimen pupa di dalam campuran asam fuchsin dan asam asetik glacial dengan perbandingan 1:1 sampai berwarna merah yaitu sekitar 10-20 menit. Kemudian spesimen pupa direndam dalam alkohol 80% sampai warna merah yang optimum, kemudian direndam lagi dalam larutanCarbol xyleneselama satu menit. Spesimen pupa kemudian direndam dalam alkohol absolut beberapa menit, lalu di dalam minyak cengkeh selama 10 menit. Selanjutnya pupa diambil dan diletakkan di tengah kaca objek. Setelah pupa ditata lurus, diteteskan Canada balsam secara merata dan ditutup dengan kaca penutup, kemudian preparat dikeringkan ke dalam pemanas selama 4-7 hari. Pengamatan morfologi pupa kutukebul dilakukan di bawah mikroskop compound dan identifikasi dilakukan berdasarkan Martin (2000).
Pengukuran Panjang Rostrum dan SayapB. tabaci
Pengukuran panjang rostrum dan sayap dilakukan terhadap imago betina B. tabaci yang sudah dikoleksi dari berbagai sentra produksi tomat di Jawa Barat dan Jawa Timur. Pengukuran tersebut dilakukan dengan bantuan mikroskop stereo yang dilengkapi skala mikrometer. Pengukuran panjang sayap dilakukan cukup dengan pembesaran 80 kali, sedangkan untuk pengukuran panjang rostrum perlu pembesaran yang lebih tinggi yaitu 110 kali. Ukuran panjang sebenarnya (dalam µm) diperoleh dengan membagi ukuran yang teramati di mikroskop dengan nilai pembesaran mikroskop. Untuk mendapatkan data yang dapat mewakili panjang rostrum dan sayap populasiB. tabacidi suatu daerah maka pengukuran dilakukan terhadap 30 ekor imago kutukebul per lokasi survei.
Gambar 1 PengukuranB. tabaci. Panjang rostrum (kiri) dan sayap (kanan)
Pengukuran Periode Retensi ToCV pada Tubuh Kutukebul
Periode retensi ToCV pada tubuh kutukebul diukur dengan menginokulasikan virus dari satu individu serangga vektor ke bibit tomat secara berseri. Satu ekor imagoB. tabaci yang baru berumur sehari dibiarkan makan akuisisi pada tanaman tomat sakit sumber ToCV atau tanaman tomat sehat, sebagai kontrol selama dua hari (48 jam), kemudian dipindahkan ke bibit tomat yang baru berumur seminggu setelah dipindahkan ke pot individu atau dua minggu setelah disemai dan dibiarkan makan inokulasi selama sehari (24 jam). Setelah makan inokulasi pada satu bibit tomat, serangga tersebut (individu yang sama) dipindahkan ke bibit tomat baru dan dibiarkan makan inokulasi juga selama sehari (24 jam). Kegiatan seperti ini terus dilakukan sampai proses inokulasi berseri dilakukan pada bibit tomat baru yang ke tujuh. Perlakuan yang sama juga dilakukan terhadap sembilan ekor individu imago B. tabaci yang lain sehingga perlakuan ini diulangi pada sepuluh ekor serangga vektor. Setelah proses inokulasi, bibit tomat dipelihara pada kurungan kedap serangga dan kemunculan gejala khas infeksi ToCV dilakukan setiap hari.
Gambar 2 Tanaman tomat untuk pengujian retensi ToCV
Perbanyakan serangga vektor dilakukan dengan menginvestasikan imago B. tabaci yang dikumpulkan dari pertanaman tomat di daerah Cisarua, Bogor pada tanaman tomat sehat di dalam kurungan serangga. Telur yang muncul dipelihara pada kurungan yang sama sampai pupulasinya mencukupi sebagai bahan pengujian. Tanaman yang digunakan dalam pengujian adalah benih tanaman tomat varietas Martha yang di tanam di dalam tray yang berisi campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1. Setelah satu minggu bibit tanaman tomat dipindahkan ke dalam polibag yang berisi campuran tanah dan pupuk. Satu minggu kemudian tanaman tomat dapat digunakan untuk percobaan.
Untuk memastikan bahwa gejala klorosis yang muncul pada bibit tomat uji disebabkan oleh infeksi ToCV dan bukan oleh faktor lain, maka dikonfirmasi melalui reverse transcriptation-polymerase chain reaction (RT-PCR) yang dilakukan sebagai berikut: RNA total diekstraksi dari jaringan daun bibit tomat uji dengan Rneasy Plant Mini Kits (Qiagen Inc., Chatsworth, CA., USA) mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh Qiagen. RNA total yang telah diekstraksi digunakan sebagai template dalam reaksi RT.
Reaksi RT dilakukan dengan total volume 10 µl yang mengandung 2 µl RNA total, 1 µl buffer RT 10X, 0.35 µl 50 mM DTT (dithiothreitol), 2 µl 10 mM dNTP (deoksiribonukleotida triphosphat), 0.35 µl M-MuLV Rev, 0.35 µlRNase inhibitor, 0.75 µl oligo (dT), dan 3.2 µl H2O. Reaksi RT dilakukan dalam sebuahAutomated
Thermal cycler(Gene Amp PCR System 9700; PE Applied Biosystem, USA) yang diprogram untuk satu siklus pada suhu 25 0C selama 5 menit, 42 0C selama 60 menit, dan 70 0C selama 15 menit. Complementary DNA hasil RT digunakan sebagai template dalam reaksi PCR menggunakan pasangan primer yang telah didesain khusus untuk mengamplifikasi ToCV yaitu ToCV-CF (5’-GTGTCAGGC CATTGTAAACCAAG-3’) dan ToCV-CR (5’-CACAAAGCGTTTCTTTTCATA AGCAGG-3’) dengan prediksi ukuran produk 360 bp.
Reaksi PCR dilakukan dengan total volume 25 µl, terdiri atas 1 µl primer ToCV-CF, 1 µl primer ToCV-CR, 2.5 µl buffer PCR 10X + Mg2+, 0.5 µl 10 mM dNTP, 0.3 µl Taq DNA polymerase, 18.7 µl H2O, dan 1 µl DNA template.
Amplifikasi ini dilakukan padaAutomated Thermal cycler(Gene Amp PCR System 9700; PE Applied Biosystem, USA). Amplifikasi ini didahului dengan denaturasi
awal pada 94 0C selama 4 menit. Kemudian dilanjutkan dengan 30 siklus yang terdiri dari denaturasi pada 94 0C selama 1 menit, penempelan primer (annealing) pada 620C selama 1 menit, dan pemanjangan pada 720C selama 2 menit. Khusus untuk siklus terakhir, ditambahkan 10 menit pada 720C untuk tahapan sintesis, dan siklus berakhir pada suhu 40C.
Produk PCR kemudian dielektroforesis pada 1.0% gel agarose. Elektroforesis dilakukan dengan tegangan 50 volt selama 45 menit. Hasil elektroforesis divisualisasikan dengantransluminator ultraviolet. Pita DNA yang terbentuk pada hasil elektroforesis tersebut dipotret dengan menggunakan kamera digital.
Analisis Data
Data pengukuran panjang rostrum dan sayap B. tabaci diolah menggunakan Analisis Sidik Ragam (ANOVA) dengan program The Statistical Analysis System (SAS) 9.0 for Windows. Pengaruh yang berbeda nyata akan dilakukan uji lanjut dengan uji selang berganda Duncandengan taraf nyata (α) = 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Identitas Kutukebul Pengkoloni Pertanaman Tomat
Kutukebul yang dikumpulkan dari pertanaman tomat di daerah Cisarua, Bogor diperbanyak di tanaman tomat dalam kurungan kedap serangga dan digunakan dalam penelitian ini telah berhasil diidentifikasi. Tubuh imago kutukebul ini berwarna kuning dengan sayap yang ditutupi oleh sekresi berupa tepung berwarna putih, dengan panjang tubuh 1.0-1.5 mm. Sayap terdiri dari dua pasang dan transparan seperti tenda dengan posisi saat istirahat terlihat menyempit ke depan (Gambar 3, kiri). Ciri-ciri tersebut sesuai yang disebutkan oleh Kalshoven (1981) tentang ciri-ciri imagoB. tabaci.
Gambar 3 Morfologi B. tabaci. Imago (kiri) dan puparium (kanan): (1) basal tungkai tengah dan belakang, (2) ruas abdomen VII, (3) operculum, (4) vasiform orifice, (5) lingula, (6) caudal furrow, dan (7) caudal setae.
Identifikasi lebih lanjut yang dilakukan menggunakan kunci identifikasi Martin (2000) berdasarkan morfologi puparium memastikan bahwa kutukebul ini adalahB. tabaci. Ciri-ciri morfologi puparium yang ditemukan bersesuaian dengan B. tabaci adalah sebagai berikut: Puparium berbentuk bulat panjang, dengan bakal mata terpisah. Mempunyai tujuh pasang rambut dorsal memanjang, trakea dengan pinggiran seperti sisir terdiri dari gigi-gigi yang jelas, lingula memanjang membentuk lidah, tetapi bagian submargin tidak mempunyai barisan papila, serta basal tungkai tengah dan belakang tidak berseta. Terdapat satu pasangcaudal setae pada ujung anal yang sama panjangnya.Vasiform orificeterdapat di daerah sebelum
0.3 mm 0.2 mm 1 2 3 4 5 6 7
ujung ujung posterior puparium, berbentuk segitiga, dan ukurannya lebih panjang dari panjang caudal furrow. Operculum hampir seluruh bagian menutupi bagian vasiform orifice(Gambar 3, kanan).
Variasi Panjang Rostrum dan Panjang SayapB. tabaci
Kutukebul B. tabaci yang diamati pada pertanaman tomat di daerah dengan ketinggian tempat yang berbeda memperlihatkan variasi panjang rostrum dan sayap (Tabel 1). ImagoB. tabaciyang hidup di daerah dataran yang lebih tinggi memiliki rostrum berukuran nyata lebih panjang dari imago B. tabaciyang hidup di daerah yang lebih rendah. Demikian juga ukuran sayap imago B. tabaci yang hidup di daerah dataran yang lebih tinggi nyata lebih panjang dibandingkan dengan imago B. tabaciyang hidup di daerah yang lebih rendah.
Pengukuran yang dilakukan oleh Oliveira et al.(2004) juga memperlihatkan hasil yang sama dengan penelitian ini yaitu pada Dalbulus maidis (Hemiptera: Cicadellidae). Wereng yang berada di dataran tinggi memiliki ukuran lebih besar, bobot tubuh lebih berat, dan warna lebih gelap dibandingkan dengan spesies wereng yang sama yang berada di dataran rendah. Variasi ukuran anggota tubuh wereng tampaknya lebih dipengaruhi oleh perbedaan suhu lingkungan hidupnya. Menurut Ayoade (1983) tinggi-rendahnya suatu daerah, mempengaruhi suhu pada daerah tersebut. Semakin tinggi suatu tempat, maka suhu akan semakin rendah dan intensitas cahaya semakin tinggi.
Seperti data yang disajikan dalam Tabel 1, terlihat bahwa B. tabaci yang ditemukan di daerah Pacet, daerah pengamatan dengan ketinggian tertinggi (1225 m dpl) dan dengan kondisi suhu terendah (20.9 0C), mempunyai ukuran rostrum sebesar 226.06±21.72 µm dan sayap sebesar 1031.33±95.66 µm. Kedua parameter ini menunjukkan ukuran rostrum dan sayap terpanjang dibandingkan tempat pengamatan lainnya. Murai & Toda (2002) juga menemukan bahwa imagoThrips tabaci yang pada stadia nimfanya berada pada suhu rendah memiliki bobot tubuh yang lebih berat dibandingkan imago serangga yang pada stadia nimfanya berada pada suhu tinggi.
Data yang ditabulasikan dalam Tabel 1 juga menunjukkan bahwa ukuran rostrum B. tabaci memperlihatkan beda nyata pada masing-masing tempat
pengamatan. Perbedaan ketinggian masing-masing tempat sudah dapat memberikan pengaruh nyata terhadap panjang rostrum B. tabaci.Panjang sayapB. tabaciyang hidup di daerah Pacet tidak nyata berbeda dengan yang hidup di daerah Cikole. Perbedaan ketinggian tempat daerah-daerah ini tampaknya belum cukup untuk memberikan perbedaan pengaruh nyata terhadap panjang sayapB. tabaci. Hal yang sama juga terlihat pada sayapB. tabaciyang hidup di daerah Batu dan Ciawi.
Tabel 1 Panjang rostrum dan sayapB. tabaci Lokasi pengamatan Ketinggian tempat (m dpl) Suhu (0C) Rata-rata Panjang ±SBa(µm) rostrum sayap Pacet 1225 21.9 226.06±21.72 a 1031.33±95.66 ab Cikole 1022 22.3 213.03±21.84 b 1023.33±60.13 a Batu 675 24.4 211.21±18.60 bc 928.67±67.40 b Ciawi 573 25.8 201.52±17.06 c 916.67±53.57 b a SB = Simpangan baku b
angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan hasil berbeda nyata (uji selang ganda Duncan α 0.05)
Periode Retensi ToCV dalam TubuhB. tabaci
Dalam penelitian ini dan juga penelitian yang dilakukan oleh Fitriasari (2010), telah berhasil dilakukan penularan ToCV penyebab penyakit klorosis pada tanaman tomat melalui satu individu imago B. tabaci. Membiarkan B. tabaci melakukan makan akuisisi pada tanaman tomat bergejala klorosis sebagai sumber ToCV sudah cukup untuk menjadikan serangga tersebut menjadi infektif dan dapat menularkan virus ke tanaman tomat baru. Lamanya periode infektifB. tabacidalam menularkan ToCV telah berhasil diukur dalam penelitian ini (Tabel 2). Periode retensi diukur mulai saat serangga vektor menjadi infektif sampai tidak mampu lagi menularkan virus. Pengukuran dilakukan dengan penularan berseri yaitu serangga vektor (dalam hal ini B. tabaci) segera setelah menjadi infektif (setelah 48 jam periode makan akuisisi) dipindahkan setiap 24 jam untuk makan inokulasi pada bibit tomat baru. Kemampuan penularan dilihat dari muncul tidaknya gejala klorosis pada bibit tomat yang diinokulasi.
Pada penelitian ini, gejala khas penyakit klorosis muncul pada bibit tomat uji berkisar antara 2 sampai 3 minggu setelah inokulasi. Seperti disajikan pada Gambar 4, gejala awal yang jelas nampak berupa daun-daun bagian bawah mengalami
klorosis berwarna kuning terutama pada jaringan di antara tulang daun. Gejala yang sama juga telah dilaporkan oleh Fitriasari (2010) yang menularkan ToCV pada tomat varietas Martha. Menurut Accottoet. al(2001) gejala lain yang timbul pada tanaman tomat di lapangan akibat infeksi ToCV dapat berupa daun nekrosis, daun menggulung ke bawah, beberapa daun pucuk dapat berubah warna menjadi ungu, diikuti dengan penurunan produksi buah. Kehilangan hasil terjadi karena area fotosintesis pada daun berkurang.
Gambar 4 Tanaman tomat uji yang memperlihatkan gejala klorosis setelah diinokulasi ToCV melalui B. tabaci (kiri) dan yang tidak memperlihatkan gejala (kanan).
Dalam masa infektif, beberapa B. tabacimampu menularkan ToCV ke bibit tomat pada pemindahan ke-4, atau dengan kata lain periode retensinya mencapai 4 hari (Tabel 2). Namun demikian, kebanyakanB. tabacimampu menularkan ToCV hanya sampai hari ke-3. Sampai saat ini belum ada laporan tentang periode retensi B. tabaciterhadap virus ToCV.
Tabel 2 Masa infektif Bemisia tabaci dalam penularan berseri Tomato chlorosis virusa
Pengamatan hari ke
Tanaman yang diinokulasi dan reaksinya
A B C D E F G H I J 1 + + + + + + + + + + 2 + + + + + + + + + + 3 + + + + + - + + + - 4 - - + - + - - - + - 5 - - - - 6 - - mt - - - - 7 - mt mt - - mt - mt - - a
Periode retensi B. tabaci terhadap ToCV hasil penelitian ini lebih singkat dibandingkan hubungan geminivirus dengan serangga vektornya, misalnyaTomato yellow leaf curl virus(TYLCV) dengan vektorB. tabaci.Hasil penelitian Sulandari (2004), menyatakan periode retensi B. tabaci terhadap TYLCV mencapai 6 hari. Penelitian periode retensi B. tabaci terhadap Squash leaf curl virus(SLCV), hasil penelitian Cohenet al. (1983) menunjukkan hasil periode retensi yang cukup lama yakni mencapai 26 hari. Stenger et al.(1990) menyatakan bahwaB. tabaci hanya mampu menahanPepper leaf curl virus(PepLCV) dalam tubuhnya selama 10 hari, sedangkan Idris & Brown (1998) menemukan periode retensi B. tabaci terhadap Sinaloa tomato leaf curl virus (STLCV) lebih dari 9 hari dan terputus-putus. Adanya perbedaan periode retensi yang cukup jauh dari hasil penelitian ini dengan penelitian lainnya di atas karena adanya perbedaan dari sifat virus. Kelompok ToCV yang digunakan dalam penelitian ini bersifat semipersisten, sedangkan penelitian lain menggunakan virus yang persisten dalam tubuh B. tabaci. Perbandingan ini dilakukan karena belum adanya laporan periode retensi virus golongan crinivirus terhadap vektornya.
Imago B. tabaciyang digunakan dalam penelitian ini mempunyai lama hidup sekitar 8 hari. Menurut Kurniawan (2007) imago B. tabaci biotipe-B yang diperbanyak di rumah kaca dapat hidup sampai hari ke-20. Hal ini mungkin disebabkan adanya zat antiviral di dalam tubuhnya yang berasal dari tanaman yang berpengaruh negatif atau pengaruh langsung dari virus pada serangga vektornya (Cohenet al.1983). Antiviral yang berasal dari tanaman selain berpengaruh negatif pada serangga vektornya, juga dapat menurunkan konsentrasi virus yang terdapat di dalam tubuh serangga. Menurut Cohenet al.(1983), konsentrasi virus menurun 1- 2% per hari sampai hari ke-20. Keberadaan virus di dalam tubuh kutukebul juga menyebabkan lama hidupnya turun sekitar 25% (Sulandari 2004). Selain itu, ada faktor abiotik atau faktor lingkungan yang mempengaruhi lama hidup kutukebul, salah satunya adalah suhu lingkungan. Menurut Subagyo (2010), peningkatan suhu 40C (dari 250C ke 290C) akan memperpendek siklus hidupB. tabacipada tanaman tomat.
ToCV merupakan salah satu anggota Crinivirus yang mempunyai panjang partikel 800-850 nm (Wintermantel et al. 2005). Virus ini mempunyai dua jenis
genom berupa RNA utas tunggal RNA yaitu RNA 1 dan RNA 2 yang masing- masing berukuran 7.8 dan 8.2 kb. Crinivirus merupakan kelompok virus yang penyebarannya terbatas pada jaringan floem dan terakumulasi pada tingkat rendah pada tanaman yang terinfeksi. Oleh karena itu, pembuatan antiserum sulit dilakukan dan sampai saat ini belum tersedia antiserum untuk deteksi ToCV. Pada penelitian ini, deteksi virus ini dilakukan melalui pendekatan molekuler yaitu melalui RT- PCR. Deteksi dengan RT-PCR memerlukan sepasang primer yang didesain khusus untuk mendeteksi virus tersebut. Pasangan primer yang digunakan dalam penelitian ini telah didesain khusus berdasarkan analisa sekuen ToCV yang diunduh dari GenBank.
M K+ D3 D4 K-
Gambar 5 Hasil elektroforesis menggunakan pasangan primer spesifik ToCV-CF dan ToCV-CR. RNA diekstraksi dari sampel tanaman tomat yang positif terinfeksi oleh ToCV (K+), sampel bibit tomat uji yang memperlihatkan gejala klorosis (D3) dan yang tidak memperlihatkan gejala (D4) setelah diinokulasi, dan sampel tanaman tomat sehat (K-). M adalah marker 100 bp DNA ladder.
Pada penelitian ini, keberhasilan penularan ToCV melalui imago B. tabaci dilihat dari kemunculan gejala klorosis pada bibit tomat uji. Untuk memastikan bahwa gejala klorosis tersebut disebabkan oleh karena keberadaan ToCV dalam jaringan tanaman maka dilakukan verifikasi melalui RT-PCR yang hasilnya disajikan pada Gambar 5.
RT-PCR yang telah dilakukan dengan menggunakan pasangan primer ToCV- CF [5’-GTGTCAGGCCATT GTAAACCAAG-3’] dan ToCV-CR [5’-CACAAAG
CGTTTCTTTTCATAAGCAGG-3’] berhasil mengamplifikasi DNA berukuran 360 bp. Produk PCR ini sesuai dengan prediksi berdasarkan sikuen ToCV isolat NC007341 yang berasal dari Florida, USA (Wintermantel et al. (2005). Seperti terlihat pada Gambar 4, hasil RT-PCR dari sampel bibit tomat uji yang bergejala klorosis memperlihatkan pita DNA berukuran 360 bp, sama dengan hasil RT-PCR dari sampel tanaman tomat yang sudah diketahui terinfeksi ToCV (kontrol positif).
Hasil penelitian ini memverifikasi bahwa bibit tomat yang menunjukkan gejala klorosis setelah diinokulsi adalah benar disebabkan oleh keberadaan ToCV di dalam jaringannya. RT-PCR dari sampel tanaman tomat sehat yang tidak menghasilkan pita DNA meneguhkan bahwa sistem deteksi ini sangat valid.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Ukuran panjang rostrum dan sayap B. tabaci bervariasi pada ketinggian tempat dan suhu lingkungan yang berbeda. Ukuran rostrum B. tabaci yang ditemukan di daerah Pacet adalah 226.06±21.72 µm, Cikole 213.03±21.84 µm, Batu 211.21±18.60 µm, Ciawi 201.52±17.06 µm. Ukuran sayap B. tabaci yang ditemukan di daerah Pacet 1031.33±95.66 µm, Cikole 1023.33±60.13 µm, Batu 928.67±67.40 µm, dan di Ciawi 916.67±53.57 µm.
Kutukebul B. tabacimasih infektif menularkan ToCV pada hari ke-4 setelah periode makan akuisisi, atau periode retensi ToCV pada tubuhB. tabaci adalah 4 hari.
Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang pengukuran tubuhB. tabacibagian lain, pada inang tanaman selain tomat dan kisaran tinggi tempat yang lebih luas, yaitu <500 m dpl dan >1200 m dpl. Selain itu perlu dilakukan penelitian tentang periode retensi ToCV dengan menggunakan kutukebul vektor ToCV dan varietas tanaman tomat yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
[BMKG] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. 2011. Data Temperatur dan Kelembaban. Bogor: BMKG.
[CABI] Centre for Agriculture and Bioscience International. 2005. Corp protection compendium 2005 [CD-ROM]. Wallingford, UK: CAB International.
Accotto GP, Vaira AM, Vecchiati M, Finetti Sialer MM, Gallitelli D, Davino M. 2001. First report of tomato chlorosis virus in Italy. Plant Disease85:1208.
Aidawati N, Hidayat SH, Suseno R, Sosromarsono S. 2002. Transmission of an Indonesian isolate ofTobacco leaf curl virus(Geminivirus) byBemisia tabaci Genn. (Hemiptera: Aleyrodidae). Plant Pathology18:231-236.
Ayoade JO. 1983. Introduction to Climatology for the Topics. John Wiley & Sons, Ney York.
Borror DJ, Triplehorn, Johnson. 1992. An Introduction to the Study of Insects. Edisi ke-6. New York: Saunders College Publishing.
Cohen S, Duffus JE, Larsen RC, Liu HY, Flock RA. 1983. Purification, serology, and vector relationships of Squash leaf curl virus a whitefly transmitted geminivirus. Phytopathology3:1669-1673.
Duffus JE, Liu H-Y, Wisler GC. 1996. Tomat infectious chlorosis virus-a new clostero-like virus transmitted by Trialeurodes vaporariorum. European Journal of Plant Pathology102:219-226.
Fereres A, Moreno A. 2009. Behavioural aspects influencing plant virus transmission by homopteran insects.Virus Research141:158-168.
Fitriasari ED. 2010. Keefektifan kutukebul dalam menularkan virus penyebab penyakit kuning pada tanaman tomat. [tesis]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Gray SM, Banerjee N. 1999. Mechanism of arthropod transmission of plant and animal viruses. Microbiol. Mol. Biol. Rev.3:128-148.
Hartono S, Wijonarko A. 2007. Karakterisasi Biologi Molekuler Tomato Infectious Chlorosis Virus Penyebab Penyakit Kuning pada Tanaman Tomat di Indonesia. Jurnal Akta Agrosia Edisi Khusus2:139-146.
Hill D. 1987. Agriculture Insect Pests of the Tropics and Their Control. Cambrige: Cambridge University Press.
Hirota T, Natsuaki T, Murai T, Nishigawa H, Niibori K, Goto K, Hartono S, Suastika G, Okuda S. 2010. Yellowing disease of tomato caused by Tomato chlorosis virus newly recognized in Japan. J Gen Plant Pathology 76:168- 171.
Idris AM, Brown JK. 1998. Sinaloa tomato leaf curl geminivirus: biological and and moleculer evidence for a new subgroup III virus. Phytopathol 88:648- 657.
Jacquemond M, Verdin E, Dalmon A, Guilbaud L, Gognalons P. 2008. Serological and molecular detection of Tomato chlorosis virus and Tomato infectious chlorosis virusin tomato. Plant Pathology58:1365:3059.