• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK

HERLIE ARIFEBRIAWAN,Bemisia tabaciGennadius (Hemiptera: Aleyrodidae) pada Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentumMill.): Panjang Rostrum dan Sayap pada Beberapa Ketinggian Tempat serta Periode Retensi Tomato chlorosis virus (ToCV). Dibimbing olehDEWI SARTIAMIdanGEDE SUASTIKA.

Bemisia tabacidigolongkan ke dalam ordo Hemiptera, subordo Sternorrhyncha, superfamili Aleyrodoidea, dan termasuk ke dalam famili Aleyrodidae. Faktor lingkungan dapat mempengaruhi ukuran panjang tubuh kutukebul ini. Serangga yang berada di dataran tinggi memiliki ukuran lebih besar, bobot tubuh lebih berat, dan warna lebih gelap dibandingkan dengan spesies serangga yang sama yang berada di dataran rendah. Sepanjang abad ke-20, B. tabaci telah menjadi vektor patogen- patogen tertentu baik di rumah kaca maupun di lahan terbuka di wilayah beriklim hangat. Penyakit Tomato chlorosis virus (ToCV) adalah salah satu penyakit yang ditularkan olehB. tabaci.Penyakit ToCV ini termasuk baru yang dikategorikan “new emerging disease” akibat pengaruh pemanasan global. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui variasi panjang rostrum dan sayap B. tabaciberdasarkan ketinggian tempat hidupnya dan (2) mengukur periode retensi ToCV yang ditularkanB. tabaci. Penelitian ini dilakukan dengan pengukuran panjang rostrum dan panjang sayap B. tabacidari beberapa tempat dengan ketinggian berbeda. SampelB. tabaciberasal dari Ciawi (Bogor) ketinggian 573 m dpl (di atas permukaan laut), Pacet (Cianjur) ketinggian 1225 m dpl, Batu (Batu) ketinggian 675 m dpl dan Cikole (Sukabumi) ketinggian 1022 m dpl. Hasil penelitian menunjukkan bahwaB. tabaciyang memiki panjang rostrum dan panjang sayap yang berbeda-beda di setiap tempat. Panjang rostrum dari daerah Pacet 226.06±21.72 µm, Cikole 213.03±21.84 µm, Batu 211.21±18.60 µm, Ciawi 201.52±17.06 µm. Panjang sayap dari daerah Pacet 1031.33±95.66 µm, Cikole 1023.33±60.13 µm, Batu 928.67±67.40 µm, Ciawi 916.67±53.57 µm. Penelitian yang lain adalah mengakuisisi B. tabaci ke dalam kurungan serangga yang berisi tanaman tomat yang positif virus ToCV dan sebagian lagi dimasukkan ke dalam kurungan serangga yang berisi tanaman tomat yang sehat. Periode makan akuisisi selama 48 jam. Seekor imagoB. tabaciyang telah di akuisisi dipindahkan ke tanaman uji. Setiap 24 jamB. tabacitersebut dipindahkan ke tamanan uji berikutnya secara berseri selama tujuh hari. Percobaan dilakukan dengan 10 ulangan dari B. tabaci yang di-akuisisi ke tanaman tomat bervirus ToCV dan 10 ulangan dari B. tabaci yang di-akuisisi ke tanaman tomat sehat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa B. tabaci viruliferus dalam seri inokulasi ke tanaman tomat mampu menularkan virus hingga hari ke-4, hal ini dilihat dari timbulnya gejala ToCV pada tanaman tomat tersebut. Untuk konfirmasi bahwa gejala klorosis yang muncul pada tanaman tomat uji disebabkan oleh infeksi ToCV dilakukan dengan RT-PCR.

Kata kunci:periode retensi,Tomato chlorosis virus, ToCV,Bemisia tabaci, panjang rostrum, panjang sayap.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Bemisia tabaci digolongkan ke dalam ordo Hemiptera, subordo Sternorrhyncha, superfamili Aleyrodoidea, dan termasuk ke dalam famili Aleyrodidae (Borror et al. 1992). Spesies B. tabaci merupakan kutukebul yang memiliki kisaran inang luas. Kalshoven (1981), mengelompokkan tanaman inang dari serangga ini meliputi beberapa famili, yaitu famili Compositae, Cucurbitaceae, Cruciferae, dan Solanaceae. Menurut Hill (1987), tanaman inang utama B. tabaci adalah kapas, tembakau, tomat, ubi jalar, ubi kayu, beberapa jenis gulma, serta tanaman lain yang dapat menjadi inang alternatif. Hal ini menyebabkan banyaknya nama umum B. tabaci yang dikenal luas, diantaranya adalah kutukebul kapas (cotton whitefly), kutukebul tembakau (tobacco whitefly), dan kutukebul ubi jalar (sweetpotato whitefly) (Kalshoven 1981).

Imago B. tabaciberwarna kuning dengan panjang tubuh 1-1.5 mm dan sayap yang tertutup oleh tepung berwarna putih. Lama hidup imago bervariasi tergantung faktor lingkungan. Lama hidup imago betina hingga 16 hari, sedangkan imago jantan umurnya lebih singkat dibandingkan imago betina, yaitu sekitar 9-15 hari (CABI 2005).

Suhu tubuh serangga sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan tempat serangga tersebut hidup. Serangga beradaptasi dengan suhu lingkungan untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Salah satu bentuk adaptasi serangga adalah dengan adanya perbedaan ukuran tubuh (Kingsolver 2008). Serangga yang hidup pada suhu rendah memerlukan nutrisi yang lebih banyak dan memiliki metabolisme yang lebih lambat dibandingkan serangga yang hidup pada suhu tinggi. Serangga yang memiliki metabolisme rendah mempunyai ukuran tubuh lebih panjang (Prado 2010). Menurut Oliveira et al. (2004) serangga yang berada di dataran tinggi memiliki ukuran lebih besar, bobot tubuh lebih berat, dan warna lebih gelap dibandingkan dengan spesies serangga yang sama yang berada di dataran rendah. Data mengenai variasi morfologi B. tabaci berdasarkan ketinggian tempat belum ada, sehingga diperlukan penelitian mengenai pengetahuan variasi morfologi B. tabacidari beberapa ketinggian tempat berbeda.

Beberapa tahun belakangan,B. tabacitelah menjadi masalah utama bagi para petani di seluruh dunia. WalaupunB. tabacidianggap sebagai grup serangga tropis, spesies berbahaya ini banyak sekali ditemukan di seluruh belahan lain dunia, terutama di daerah beriklim subtropis. Sepanjang abad ke-20, B. tabaci telah menjadi vektor patogen-patogen tertentu baik di rumah kaca maupun di lahan terbuka di wilayah beriklim hangat (Martin et al. 2000). Stadia nimfa dan imago kutukebul merupakan stadia yang menyebabkan kerusakan tanaman (Morales 2001).

Tomato chlorosis virus (ToCV) adalah salah satu virus tanaman yang ditularkan oleh B. tabaci. ToCV diketahui tidak dapat ditularkan melalui cairan perasan tanaman sakit ataupun melalui benih. ToCV ditularkan ke dalam jaringan tanaman oleh kutukebul Bemisia tabaci biotipe A dan B, Trialeurodes abutilonea (Wisler et al. 1998b), dan T. vaporariorum (Wintermantel & Wisler 2006). Menurut Wisler & Duffus (2001) B. tabaci merupakan kutukebul yang memiliki efisiensi menularkan ToCV lebih baik dibanding kutukebul yang lainnya.

ToCV ini termasuk baru yang dikategorikan “new emerging disease” akibat pengaruh pemanasan global (Segev et al. 2004). ToCV pertama kali tersebar di negara bagian Florida, USA sejak tahun 1989. Virus ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia dan sampai saat ini keberadaannya telah dilaporkan di banyak negara seperti di Perancis (Masseet al. 2008), Spanyol (Navas-Castilloet al. 2000; Lozano et al.2006), Taiwan (Tsaiet al.2004), dan Yunani (Katanyaet al.2008). Menurut Hartono & Wijonarko (2007), penyakit ini pada tanaman tomat telah menyebar di sentra pertanaman tomat di Magelang, Jawa Tengah dan Purwakarta, Jawa Barat.

Penyakit ToCV ini mempunyai gejala menguning pada bagian interval daun (Duffuset al. 1996, Hirotaet al. 2010), bintik-bintik nekrotik kecil (Wintermantel & Wisler 2006), mengeriting (Hirota et al. 2010), dan gejala lanjutan akan menyebabkan daun tampak berwarna merah kecoklatan (Wisler et al. 1998a). Menurut Wintermantel et al. (2005), ToCV adalah virus yang berbentuk panjang lentur (flexuous filamentous) dengan ukuran diameter 12 nm dan panjang rata-rata 800-850 nm.

Data lebih terperinci mengenai keefektifanB. tabacidalam menularkan ToCV pada tanaman tomat belum tersedia di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini

perlu dilakukan untuk mengetahui lama waktu retensi virus ToCV dalam tubuh serangga vektorB. tabaci.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui variasi panjang rostrum dan sayapB. tabaciberdasarkan ketinggian tempat hidupnya dan (2) mengukur periode retensi ToCV yang ditularkannya.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi dasar mengenai perbandingan morfologi yang mencakup panjang rostrum dan sayap kutukebul B. tabaci pada beberapa ketinggian tempat yang berbeda dan lama periode retensi kutukebul B. tabaci yang berperan sebagai vektor ToCV dalam tanaman tomat.

Dokumen terkait