DAFTAR GAMBAR
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di rumah kasa Balai Besar Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB BIOGEN), Cimanggu, Bogor. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni hingga Agustus 2005.
Bahan dan Alat
Bahan tanaman yang digunakan adalah 41 galur padi gogo generasi F6 yang berdaya hasil tinggi hasil seleksi di Cikeumeuh pada generasi F4 (galur-galur F4 : 6), tujuh tetua, dan dua varietas pembanding yaitu Kencana Bali dan Asahan sebagai pembanding peka dan tahan. Galur-galur tersebut berasal dari 21 populasi bersegregasi hasil persilangan half dialel dari tujuh tetua terpilih, yaitu Krowal, B8503E-TB-9-0-3, CT6510-24-1-3, Situgintung, Jatiluhur, IR 64 dan Gajah Mungkur. Bahan lain yang digunakan adalah isolat blas ras 033 yang mewakili ras dengan skala wilayah serangan yang luas tapi tidak begitu virulen, dan ras 173, yang mewakili ras dengan skala wilayah serangan yang sempit tapi sangat virulen. Media tanam menggunakan tanah dan pupuk N, P, dan K dengan dosis 5 gram Urea, 1.5 gram TSP, dan 1.2 gram KCl per 10 kg tanah kering.
Alat yang digunakan antara lain bak tanam, erlenmeyer, cawan petri, inkubator, kamar lembab, karung goni, kain blacu, inokulum aplikator, sprinkler
embun, mikroskop, haemacytometer, rumah kaca, dan rumah kasa.
Metode Penelitian
Penelitian dilakukan di rumah kasa menggunakan rancangan petak terbagi dengan dua faktor. Faktor isolat bla s ras 033 dan 173 sebagai petak utama, dan 50 tanaman padi gogo sebagai anak petak dengan tiga ulangan, sehingga terdapat 300 satuan percobaan. Benih padi gogo ditanam pada bak percobaan yang berukuran 40 x 28 x 7 cm3. Setiap bak terdiri dari 10 baris tana man untuk delapan galur dan dua pembanding. Masing- masing galur ditanam sebanyak 10 tanaman dengan satu benih per lubang tanam.
Yijk = µ +α i +βj +δi j + γk + (βγ)j k + εijk
i = Ulangan (i = 1,2,3)
j = Isolat Pyricularia oryzae (j =1,2) k = Galur padi gogo (k = 1,2,3,...,50)
Yijk = Nilai pengamatan pada isolat ke-j dari nomor galur ke-k dan ulangan ke- i
µ = Nilai rataan umum
αi = Pengaruh aditif ulangan ke- i
βj = Pengaruh aditif perlakuan ke-j faktor isolat
δij = Pengaruh galat yang muncul pada taraf ke-j faktor isolat dan ulangan ke- i
γk = Pengaruh aditif dari taraf ke-k faktor galur padi gogo
(βγ)jk = Pengaruh interaksi taraf ke-j faktor isolat dan taraf ke-k faktor galur
εijk = Pengaruh galat dari ula ngan ke- i yang memperoleh taraf ke-j faktor isolat dan taraf ke- k faktor galur padi gogo
Pelaksanaan Penelitian
Penelitian diawali dengan persiapan bibit. Benih yang terpilih dipisahkan dan dioven dengan suhu 30°C selama lima hari. Selanjutnya benih ditanam dalam bak plastik berukuran 40 x 28 x 7 cm3 dengan 10 baris untuk delapan galur dan dua pembanding. Setiap galur ditanam 10 tanaman dengan satu benih per lubang tanam. Media tanam menggunakan tanah dan pupuk N, P, K. Pemupukan dilakukan sehari sebelum tanam dengan dosis pupuk 5 g Urea, 1.5 g TSP, dan 1.2 g KCl tiap 10 kg tanah kering.
Metode inokulasi yang digunakan adalah metode semprot. Tanaman yang sudah berumur 18 hari disemprot dengan inokulum blas sebanyak 50 ml/bak. Cara inokulasi adalah dengan menyemprotkan inokulum menggunakan labu erlenmeyer yang diberi glass automizer dan disambungkan dengan kompressor. Kerapatan spora yang digunakan ± 3 x 106 spora/ liter.
Tanaman yang telah diinokulasi disimpan selama 48 jam di kamar lembab. Kelembaban kamar lembab dipertahankan dengan cara mengalirkan air pada
dinding ruangan. Selanjutnya tanaman dipindahkan ke dalam rumah kasa yang dindingnya dilapisi kain blacu dan bawahnya dialasi karung goni. Suhu rumah kasa antara 25-28oC dan kelembaban dipertahankan diatas 90% dengan cara penyiraman menggunakan sprinkler embun.
Pengamatan Pengamatan dilakukan pada :
1. Periode laten
Periode laten adalah rentang waktu antara inokulasi hingga munculnya bercak blas. Periode laten dihitung sejak tanaman dikeluarkan dari kamar lembab. Daun telah bergejala bila telah muncul bercak walaupun sebesar ujung jarum. Bila salah satu tanaman telah bergejala maka itu disebut periode laten.
2. Jumlah daun terserang
Daun dianggap diserang apabila telah muncul bercak walaupun sebesar ujung jarum. Jumlah daun terserang dihitung mulai hari ketiga setelah inokulasi. Pengamatan selanjutnya dilakukan pada hari keenam, kesembilan dan 15 hari setelah inokulasi.
3. Jumlah bercak berspora
Bercak berspora adalah bercak yang berdiameter paling kecil 3 mm dan dikelilingi warna abu-abu dibagian luar. Jumlah bercak berspora dihitung pada tiga daun teratas untuk setiap rumpun padi. Tanaman diamati pada hari kesembilan dan kelimabelas setelah inokulasi.
4. Jumlah bercak tidak berspora
Bercak tidak berspora ditandai dengan bercak berwarna coklat, berdiameter kurang dari 3 mm dan tidak terdapat warna abu-abu dibagian luar. Jumlah bercak tidak berspora dihitung pada hari kesembilan dan kelimabelas setelah inokulasi.
5. Tingkat serangan penyakit
Tingkat serangan penyakit adalah kondisi yang disebabkan oleh aktifitas cendawan yang ditandai oleh jumlah bercak. Tingkat serangan penyakit ditentukan dengan menggunakan skala ketahanan terhadap serangan blas. Tingkat serangan penyakit diamati pada daun mulai pada hari ketiga setelah
inokulasi. Pengamatan selanjutnya dilakukan pada hari keenam, kesembilan dan kelimabelas setelah inokulasi. Skor ketahanan untuk penyakit blas daun terdapat pada Tabel 2.
Gambar 1. Penampakan gejala serangan blas daun
Tabel 2. Klasifikasi serangan P. oryzae berdasarkan IRRI (1996).
Skor Kerusakan Daun Klasifikasi
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Tidak ada bercak
Bercak sebesar ujung jarum
Bercak lebih besar dari ujung jarum
Bercak nekrotik, abu-abu, bundar, sedikit me manjang 1-2 mm, tepi berwarna cokelat
Bercak khas blas (belah ketupat), panjang 1-2 mm dan luas daun terserang kurang dari 2 %
Bercak khas blas, luas daun terserang 2-10 % Bercak khas blas, luas daun terserang 11-25 % Bercak khas blas, luas daun terserrang 26- 50 %
Bercak khas blas, luas daun terserang 51-75 % dan beberapa daun mulai mati
Semua daun mati
Tahan Tahan Tahan Tahan Moderat Moderat Moderat Peka Peka Peka 6. Intensitas serangan
Berdasarkan nilai skor ketahanan dapat dihitung nilai intensitas serangan (IS), yaitu kemampuan patogen menyerang dalam suatu populasi tanaman. IS dapat dihitung berdasarkan rumus dari IRRI (1996).
IS = S nxv X 100 % NxV
Keterangan : IS = intensitas serangan
n = jumlah rumpun yang terserang v = nilai skor serangan tiap rumpun
N = jumlah rumpun yang diamati V = skor serangan yang tertinggi
Tanaman tergolong tahan jika persentase serangan 0-25%, 25-75% tergolong moderat, dan rentan bila diatas 75%.