• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Setu Gede, Bogor. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Tanah dan Tanaman, SEAMEO BIOTROP. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan September 2009 – Februari 2010. Ketinggian tempat penelitian yaitu 200 mdpl.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah benih padi varietas Way Apoburu. Pupuk yang digunakan yaitu pupuk hayati majemuk cair yang diproduksi oleh CV Bangkit Jaya Abadi yang mengandung Rhizobium sp., Azospirillum sp., Azotobacter sp., dan bakteri pelarut fospat (Tabel 1), dengan kebutuhan pupuk hayati 2 liter/ha. Pupuk anorganik yang digunakan yaitu urea dengan dosis 100 kg/ha, SP-18 dengan dosis 200 kg/ha dan KCl dengan dosis 100 kg/ha. Bahan lain yang digunakan dalam pemeliharaan adalah pestisida secara terbatas. Alat yang digunakan terdiri dari seperangkat alat budidaya pertanian, timbangan analitik, meteran, kantong kertas, bagan warna daun (BWD), oven, dan blower separator.

Tabel 1. Komposisi Pupuk Hayati Majemuk Cair

Jenis Mikroba Satuan Jumlah Populasi

Rhizobium sp. Mpn/ml 1.65 x 107

Azospirillum sp. Cfu/ml 1.10 x 109

Azotobacter sp. Cfu/ml 3.00 x 106

Bakteri Pelarut Fospat Cfu/ml 1.08 x 107

Metode Percobaan

Penelitian ini menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan tujuh perlakuan dan tiga ulangan, sehingga terdapat 21 satuan percobaan (Lampiran 1). Adapun perlakuannya yaitu :

1. P0 = Tanpa pupuk hayati dan tanpa pupuk NPK 2. P1 = 1 dosis pupuk NPK

3. P2 = Pupuk hayati + 1 dosis NPK 4. P3 = Pupuk hayati + 0.75 dosis NPK 5. P4 = Pupuk hayati + 0.5 dosis NPK 6. P5 = Pupuk hayati + 0.25 dosis NPK 7. P6 = Pupuk hayati

Model linear yang digunakan untuk menganalisis data adalah : Model: Yij = µ + i + j + ij

Yij = Pengaruh perlakuan pupuk hayati ke-i dan ulangan ke-j

µ

=

Nilai rataan umum

i = Pengaruh perlakuan pupuk hayati ke-i (1, 2, 3, 4, 5) j = Pengaruh ulangan ke-j (1, 2, 3)

ij = Pengaruh galat percobaan perlakuan pupuk hayati ke-i dan

ulangan ke-j

Analisis data menggunakan analisis ragam (uji F). Jika hasilnya nyata dilakukan uji lanjut dengan metode Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%.

Pelaksanaan Percobaan Analisis Tanah

Analisis tanah dilakukan terhadap C-Organik, pH, N total, P tersedia, dan K tersedia, sebelum dan sesudah penelitian. Pengambilan sampel tanah sebelum aplikasi pupuk secara komposit, sedangkan pengambilan sampel tanah setelah percobaan sesuai perlakuan.

Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah dilaksanakan dua minggu sebelum penanaman. Sistem yang digunakan yaitu sistem olah tanah sempurna, tanah dibajak, digaru dan dilumpurkan sampai siap tanam. Petakan yang digunakan pada setiap percobaan berukuran 5 m x 5 m. Setiap petakan memiliki saluran masuk (irigasi) dan pembuangan (drainase).

Persemaian

Persemaian benih dilaksanakan dua minggu sebelum tanam. Benih sebelum disemai direndam dalam air garam untuk memisahkan benih yang bernas dan hampa. Benih direndam dalam air selama 24 jam, kemudian diinkubasikan pada karung basah selama 24 jam. Benih disebar pada bedeng semai setelah melentis (keluar ujung akar berwarna putih). Bedengan semai diolah tanahnya dan diratakan, sehingga benar-benar siap sebagai bedeng semai. Selanjutnya benih ditabur secara merata di atas bedeng semai.

Penanaman

Bibit siap tanam ke lahan sawah (tranplanting) pada umur 10 hari setelah sebar (HSS). Jarak tanam yang digunakan yaitu 25 cm x 25 cm. Tiap lubang ditanam satu bibit.

Penyulaman

Penyulaman dilakukan untuk mengganti bibit yang mati atau pertumbuhannya yang kurang baik di lahan sawah. Penyulaman dilaksanakan 1 minggu setelah tanam (MST) dengan bibit umur yang sama.

Pengairan

Pengairan berdasarkan prinsip hemat air yaitu dengan melakukan penggenangan berselang (intermitten). Pemberian air dilakukan dengan cara terputus-putus/berselang (kondisi tergenang dan kering secara bergantian). Pengairan diberikan saat menanam bibit, air sawah dalam kondisi macak-macak. Setelah tranplanting, lahan sawah dibiarkan mengering sendiri (kondisi lahan sawah terlihat agak retak-retak) sampai berumur 7 hari, kemudian sawah diairi sampai kondisi macak-macak. Selanjutnya sawah dibiarkan mengering selama sehari dan digenangi lagi setinggi 5 cm. Pengairan diulangi sampai tanaman masuk ke periode pembungaan. Lahan terus diairi setinggi 5 cm saat tanaman berbunga hingga 10 hari sebelum panen, kemudian lahan dikeringkan sampai panen.

Pemupukan

Pupuk hayati diberikan 3 hari sebelum tanam (pratanam) dan setiap 2 minggu sekali sampai pertumbuhan vegetatif maksimum dengan dosis 2 liter/ha (penyemprotan ke tanah). Urea diberikan tiga kali, 30 % dosis pada saat 1 MST, 40 % dosis pada saat 4 MST dan 30 % dosis pada saat 6 MST. Pupuk SP-18 dan KCl diberikan seluruhnya pada saat tanam. Dosis pupuk yang diberikan sesuai dengan perlakuan. Aplikasi pemupukan N, P dan K dilakukan secara sebar langsung.

Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT)

Pengendalian OPT dilakukan pada gulma dan hama penyakit. Pengendalian gulma dilakukan secara manual (pencabutan) sesuai dengan perkembangan gulma. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan apabila sudah terdapat gejala serangan pada tanaman dengan menggunakan pestisida secara terbatas.

Pemanenan

Pemanenan dilakukan setelah 30-35 hari berbunga atau melihat gejala kematangan gabah. Gejala kematangan gabah jika hampir 90-95 % gabah sudah menguning.

Pengamatan

Pengamatan pertumbuhan tanaman (vegetatif) dilakukan pada 5 tanaman contoh yang ditentukan secara acak pada saat tanaman berumur 2 MST. Pengamatan dilakukan mulai tanaman berumur 3 MST. Pengamatan meliputi :

Pengamatan vegetatif

1. Tinggi tanaman diamati setiap satu minggu sekali dari 3 MST sampai 8 MST.

2. Jumlah anakan/ rumpun diamati setiap satu minggu sekali dari 3 MST sampai 8 MST.

3. Warna daun diamati dengan BWD setiap satu minggu sekali dari 3 MST sampai 8 MST.

4. Panjang akar pada umur 8 MST 5. Volume akar pada umur 8 MST

6. Pengamatan bobot kering biomassa akar dan tajuk pada umur 8 MST.

Pengamatan komponen hasil

1. Jumlah anakan produktif dengan menghitung anakan yang menghasilkan malai pada satu rumpun saat panen.

2. Panjang malai diukur dari pangkal malai sampai ujung malai. 3. Jumlah gabah per malai dihitung dari jumlah gabah pada satu malai. 4. Hasil gabah per tanaman basah dan kering dengan menimbang gabah dari

masing-masing tanaman contoh.

5. Persentase gabah isi dan gabah hampa, dihitung dari persentase gabah sebanyak 100 gram yang diambil dari tiap tanaman contoh.

6. Bobot 1000 butir gabah dihitung dari jumlah 1000 butir gabah isi. 7. Hasil ubinan basah dan kering seluas 2.5 m x 2.5 m per petak.

8. Dugaan hasil per hektar dengan menghitung produktivitas ubinan yang dikonversikan ke hektar sehingga diperoleh hasil gabah kg per hektar atau ton per hektar.

Analisis tanah

Analisis tanah dilaksanakan sebelum perlakuan pupuk dan segera setelah panen. Parameter analisis tanah yaitu kadar C-Organik tanah, pH tanah, kandungan N, P dan K tanah. Sampel tanah diambil secara komposit dari masing- masing perlakuan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Kondisi Umum

Kondisi iklim di tempat penelitian yaitu antara lain: curah hujan dari bulan September sampai Desember berturut-turut 156.8, 415.8, 407, 258.2 mm/bulan dengan jumlah hari hujan 13, 24, 23, 20 hari/bulan, temperatur rata-rata bulanan 26 0C sampai 26.6 0C serta kelembaban nisbi rata-rata 75.2 % sampai 85.1 % (Lampiran 2). Kondisi curah hujan saat penelitian kurang sesuai untuk tanaman padi. Curah hujan dan jumlah hari hujan yang tinggi menyebabkan lahan sawah tergenang secara terus menerus sehingga pemakaian air dan pemupukan menjadi tidak efisien. Menurut Prasetiyo (2005), kebutuhan air untuk budidaya sawah ada dua tahap, yaitu pada saat pengolahan tanah dan pertumbuhan tanaman. Pemberian air pada tahap pertumbuhan tanaman secara terputus-putus (intermitten) dan mengatur ketinggian genangan. Pertumbuhan tanaman meliputi tahap awal pertumbuhan/ perkembangan akar, tahap pembentukan anakan, tahap pembentukan bulir, tahap pembungaan dan menjelang panen.

Kondisi curah hujan yang sesuai untuk tanaman padi menurut klasifikasi Oldeman adalah 200 mm/bulan (batas penentuan bulan basah). Padi sawah membutuhkan rata-rata air per bulan 145 mm dalam musim hujan (Handoko, 1994). Curah hujan dan jumlah hari hujan yang tinggi selama penelitian menyebabkan jumlah hari cerah berkurang, hal ini berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman padi. Menurut De Datta (1968) bahwa respon pemupukan pada tanaman padi akan menurun dengan menurunnya jumlah sinar matahari yang diterima selama 45 hari sebelum panen. Menurunnya respon tanaman padi terhadap pemupukan karena berkurangnya jumlah sinar matahari yang masuk, sehingga pertumbuhan tanaman tidak optimal. De Datta (1981) menyatakan bahwa padi membutuhkan suhu yang berbeda selama pertumbuhannya, pada fase perkecambahan membutuhkan suhu optimal antara 18 0C - 40 0C, fase anakan memerlukan suhu optimal antara 25 0C – 31 0C, dan fase antesis suhu optimal sekitar 30 0C – 33 0C.

Pemindahan bibit ke lahan sawah dilakukan pada umur 10 HSS dengan 1 bibit per lubang. Kondisi awal hampir semua tanaman mengalami stagnasi, layu dan warna daun agak menguning karena belum beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Tanaman yang pertumbuhannya kurang baik, rusak atau mati segera diganti dengan bibit yang baru (disulam). Penyulaman bertujuan untuk mengganti tanaman yang mati, mengisi sela ruangan dengan tanaman, memperjarang tanaman yang tumbuh bergerombol, serta memindahkan tanaman yang tumbuh tidak tepat pada tempatnya (Pitojo, 2003). Menurut Andoko (2002) penyulaman dapat dilakukan maksimal 2 MST, agar masaknya padi serentak. Namun Purwono dan Purnamawati (2007) menambahkan, penyulaman dapat dilakukan 7 hari setelah tanam (HST). Namun pada kenyataannya penyulaman dilakukan sampai umur padi 3 MST dengan bibit umur yang sama.

Tanaman padi saat berumur 1-3 MST diserang oleh hama keong mas (Pomacea canaliculata). Hama ini menyerang dengan memakan bagian tajuk tanaman sehingga menyebabkan bibit yang baru ditanam hilang dari pertanaman. Populasi hama ini cepat meningkat akibat kondisi air yang tergenang. Upaya pengendalian dilakukan sebelum penanaman bibit (transplanting) dan sesudah transplanting yaitu dengan mengeringkan lahan percobaan dan memungut keong dan telurnya dari lahan sawah (sampai 3 MST). Kondisi serangan ini mulai menurun pada umur 4 MST, karena laju pertumbuhan tanaman lebih tinggi dibandingkan tingkat kerusakan (Gambar 1). Intensitas serangan tersebut tidak lagi menyebabkan kerusakan terhadap tanaman karena tingkat kerusakan tersebut rendah (< 3 %).

Hama belalang (Valanga nigricornis) menyerang pada saat tranplanting sampai mulai panen. Hama ini dapat merusak daun padi. Gejala serangannya terdapat bekas gerigitan pada daun tanaman. Akibat serangan hama ini daun padi tidak optimal dalam proses fotosintesis sehingga anakan yang dihasilkan sedikit. Intensitas serangan mencapai 3 %. Upaya pengendalian hama ini dengan aplikasi insektisida secara terbatas. Aplikasi insektisida ini dilakukan satu minggu sekali dari mulai umur 6 MST sampai menjelang panen.

Hama lain yang menyerang yaitu burung. Hama ini menyerang pada saat bulir padi mulai masak susu (pengisian bulir). Intensitas kerusakan hama burung

mencapai 3 %. Namun kerusakan tersebut masih dapat ditanggulangi. Upaya penanggulannya yaitu dengan membuat orang-orangan sawah dan plastik-plastik yang ditarik oleh tali plastik dan bambu sehingga plastik tersebut tersibak angin dan dapat mengusir setiap pagi dan sore hari.

Adapun jenis gulma yang mengganggu pertanaman padi saat penelitian yaitu gulma rumput-rumputan (grasses), berdaun lebar (broad leaf) dan teki- tekian (sedges). Pengendalian gulma dilakukan secara manual dengan mencabut dan memendamkannya ke dalam lumpur sawah hingga tidak ada lagi gulma pada areal pertanaman padi sawah pada umur 4 MST dan 6 MST.

Pemanenan dilakukan pada saat tanaman padi berumur 16 MST atau 112 HST. Menurut Pitojo (2003), panen yang tepat yaitu jika gabah telah tua dan matang. Waktu panen berpengaruh terhadap jumlah produksi, mutu gabah dan mutu beras yang dihasilkan. Panen dilakukan pada waktu yang bersamaan tiap perlakuan.

Rekapitulasi Hasil Analisis Ragam

Sidik ragam dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap parameter yang diamati. Hasil sidik ragam ini menghasilkan nilai ketepatan suatu percobaan yaitu nilai koefisien keragaman (kk). Menurut Gomez dan Gomez (1995) nilai kk menunjukan tingkat ketepatan perlakuan dalam suatu percobaan dan menunjukkan pengaruh lingkungan dan faktor lain yang tidak dapat dikendalikan dalam suatu percobaan. Nilai kk hasil analisis sidik ragam secara umum masih dapat ditolerir yaitu dibawah 20 %.

Hasil rekapitulasi sidik ragam menunjukkan bahwa aplikasi pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap peubah pertumbuhan tanaman padi seperti tinggi tanaman pada umur 4-7 MST, jumlah anakan pada umur 4-5 MST dan warna daun pada umur 5 MST. Perlakuan pupuk hayati juga berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 3 MST dan 8 MST sedangkan jumlah anakan dan warna daun pada umur 8 MST. Namun demikian perlakuan pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap jumlah anakan pada umur 3 MST dan warna daun pada umur 3, 4, 6, dan 7 MST.

Aplikasi pupuk hayati berpengaruh sangat nyata terhadap bobot kering tajuk dan berat kering total tanaman. Aplikasi pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap bobot kering akar dan volume akar pada umur 8 MST, namun aplikasi pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap panjang akar pada umur 8 MST.

Aplikasi pupuk hayati pada umumnya tidak berpengaruh terhadap hasil dan komponen hasil yaitu jumlah gabah/malai, panjang malai, bobot 1000 butir gabah, hasil per tanaman kering, bobot basah ubinan, bobot kering ubinan. Namun aplikasi pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap hasil per tanaman basah dan berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah anakan produktif.

Aplikasi pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap dugaan hasil/ha yaitu gabah kering panen (GKP), gabah kering giling (GKG), bobot gabah isi dan hampa. Rekapitulasi sidik ragam efektivitas pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil padi sawah terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rekapitulasi Sidik Ragam Efektivitas Pupuk Hayati terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Sawah

Peubah Perlakuan Koefisien Keragaman (%) Pertumbuhan Tanaman Tinggi Tanaman 3 MST ** 3.733 4 MST * 5.034 5 MST * 6.169 6 MST * 6.442 7 MST * 5.144 8 MST ** 5.145 Jumlah Anakan 3 MST tn 18.122 4 MST * 17.888 5 MST * 18.143 6 MST * 16.122 7 MST * 17.122 8 MST ** 10.072 Warna Daun 3 MST tn 6.411 4 MST tn 5.461 5 MST * 4.811 6 MST tn 7.905 7 MST tn 5.728 8 MST ** 4.17 Panjang Akar (8 MST) tn 9.466 Volume Akar (8 MST) * 14.583#

Bobot Kering Akar (8 MST) * 21.352#

Bobot Kering Tajuk (8 MST) ** 17.138

Bobot Kering Total (8 MST) ** 11.450#

Hasil dan Komponen Hasil

Jumlah Anakan Produktif ** 6.858

Panjang Malai tn 4.984

Jumlah Gabah/Malai tn 10.408

Bobot 1000 Butir tn 3.602

Hasil per Tanaman Basah * 14.861

Hasil per Tanaman Kering tn 17.213

Bobot Gabah Isi (%) tn 9.165

Bobot Gabah Hampa (%) tn 10.374

Bobot Basah Ubinan tn 12.765

Boobot Kering Ubinan tn 13.601

Dugaan Hasil/ha

Gabah Kering Panen (GKP) tn 12.765

Gabah Kering Giling (GKG) tn 13.601

Analisis Kandungan Hara Tanah

Analisis kandungan hara tanah yaitu nilai C-Organik, pH, N total, P dan K tanah sebelum perlakuan tidak berpengaruh nyata antar semua perlakuan. Aplikasi pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap pH, H2O, N total, P, dan K pada akhir percobaan. Hasil analisis kandungan hara tanah awal dan akhir percobaan ditunjukan pada Tabel 3.

Tabel 3. Kandungan Hara Tanah pada Awal dan Akhir Percobaan Perlakuan Akhir Parameter Awal P0 P1 P2 P3 P4 P5 P6 pH 5.60 6.00g 6.40f 6.50d 6.40e 6.50c 6.60b 6.60a

N Total (%) 0.13 0.12e 0.11f 0.14d 0.15c 0.14d 0.16b 0.18a

P Bray I (ppm) 3.00 2.90f 3.20e 3.90d 4.20b 4.00c 4.50a 4.20b

K (me/100gram) 0.14 0.12f 0.15e 0.17d 0.19b 0.18c 0.20a 0.18c

Sumber: Hasil analisis dari Laboratorium Tanah dan Tanaman, SEAMEO BIOTROP pada tanggal 5 September 2009 dan 6 Januari 2010.

Keterangan : Nilai pada baris yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%.

P0 : Tanpa pupuk P4 : Pupuk hayati + 0.50 dosis NPK

P1 : 1 dosis NPK P5 : Pupuk hayati + 0.25 dosis NPK

P2 : Pupuk hayati + 1 dosis NPK P6 : Pupuk hayati

P3 : Pupuk hayati + 0.75 dosis NPK

Dari Tabel 3. terlihat bahwa hasil analisis kandungan hara tanah yaitu nilai pH, N total, P, dan K tanah meningkat setelah aplikasi pupuk hayati. Aplikasi pupuk hayati dengan pengurangan dosis pupuk NPK meningkatkan kandungan pH, N total, P, dan K tanah. Hasil analisis tanah akhir menunjukan bahwa aplikasi pupuk hayati saja menghasilkan nilai pH dan N total tanah yang nyata lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa pemupukan dan NPK saja, sedangkan aplikasi pupuk hayati ditambah dengan 0.25 dosis NPK menghasilkan kandungan P dan K tanah yang nyata lebih tinggi dibandingkan perlakuan pupuk lainnya.

Nilai C-Organik, pH, N total, P, dan K tanah awal percobaan pupuk hayati berturut-turut yaitu 2.14 %, 5.6, 0.13 %, 3 ppm, 0.14 me/100 gram. Menurut Hardjowigeno dan Widiatmaka (2001), nilai C-Organik tersebut tergolong sedang, pH bersifat agak asam, sedangkan kandungan N total dan K tanah tergolong rendah dan kandungan P tanah tergolong sangat rendah (Lampiran 3).

Sifat pH tanah setelah aplikasi pupuk hayati dengan penurunan dosis NPK menghasilkan sifat tanah yang agak asam sampai tergolong netral. Analisis kandungan N total dan K tanah akhir percobaan pupuk hayati dengan pengurangan dosis NPK atau perlakuan tanpa pemupukan dan perlakuan 1 dosis pupuk NPK tergolong rendah, sedangkan kandungan P tanah pada semua perlakuan tergolong sangat rendah.

Nilai pH, N total, P, dan K tanah pada akhir percobaan terlihat meningkat. Selisih peningkatan pH tanah berkisar antara 0.4 – 1, N total berkisar antara 0.01– 0.05 %, P berkisar antara 0.2 – 1.5 ppm, dan peningkatan K berkisar antara 0.01 – 0.06 me/100g (Tabel 4.)

Tabel 4. Selisih Kandungan Hara Tanah pada Awal dan Akhir Percobaan

Perlakuan pH H20 N Total (%) P Bray I (ppm) K (me/100g)

Tanpa Pemupukan 0.4 (+) 0.01 (-) 0.1 (-) 0.02 (-)

1 Dosis NPK 0.8 (+) 0.02 (-) 0.2 (+) 0.01 (+)

Pupuk Hayati + 1 Dosis

NPK 0.9 (+) 0.01 (+) 0.9 (+) 0.03 (+) Pupuk Hayati + 0.75 Dosis NPK 0.8 (+) 0.02 (+) 1.2 (+) 0.05 (+) Pupuk Hayati + 0.5 Dosis NPK 0.9 (+) 0.01 (+) 1 (+) 0.04 (+) Pupuk Hayati + 0.25 Dosis NPK 1 (+) 0.03 (+) 1.5 (+) 0.06 (+) Pupuk Hayati 1 (+) 0.05 (+) 1.2 (+) 0.04 (+)

Sumber: Hasil analisis dari Laboratorium Tanah dan Tanaman, SEAMEO BIOTROP pada tanggal 5 September 2009 dan 6 Januari 2010.

Keterangan : - : Pengurangan kandungan hara + : Penambahan kandungan hara

Pertumbuhan Tanaman Tinggi Tanaman

Perlakuan pupuk hayati terlihat berpengaruh terhadap tinggi tanaman pada saat berumur 3 MST - 8 MST. Pengamatan saat 8 MST, perlakuan pupuk hayati ditambah dengan 0.75 dosis pupuk NPK menghasilkan tinggi tanaman yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa pemupukan, tetapi tidak berbeda dengan perlakuan 1 dosis pupuk NPK, namun aplikasi pupuk hayati ditambah dengan pengurangan pupuk NPK lebih dari 25 % menghasilkan pertumbuhan tinggi tanaman yang lebih rendah dibandingkan perlakuan 1 dosis NPK. Hasil analisis statistik pengaruh pupuk hayati terhadap tinggi tanaman disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Pengaruh Pupuk Hayati terhadap Tinggi Tanaman Umur Tanaman (MST) Perlakuan 3 4 5 6 7 8 ……….……….………….…..cm….…..……....……….. Tanpa

Pemupukan 27.2bc 33.6abc 41.5abc 48.1abc 53.8bc 61.3bc

1 Dosis NPK 29.3a 35.9a 44.7a 52.3a 59.9a 69.1a

PH + 1 Dosis

NPK 26.1c 32.5bc 40.1abc 46.7abc 53.0bc 61.3bc

PH + 0.75

Dosis NPK 28.9ab 34.5ab 43.2ab 50.9ab 58.2ab 66.9ab

PH + 0.5 Dosis

NPK 27.6abc 31.3c 38.5bc 45.6bc 52.6c 59.7c

PH + 0.25

Dosis NPK 25.7c 30.4c 39.4bc 43.2c 50.8c 58.6c

Pupuk Hayati 25.7c 31.1c 37.1c 45.3bc 51.1c 57.8c

Keterangan : Nilai pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%.

Jumlah Anakan

Aplikasi pupuk hayati berpengaruh terhadap jumlah anakan setelah umur tanaman 3 MST. Pengamatan saat 8 MST, perlakuan pupuk hayati ditambah 0.5 sampai 1 dosis pupuk NPK menghasilkan jumlah anakan yang tidak berbeda dibandingkan dengan perlakuan NPK dosis penuh. Aplikasi pupuk hayati ditambah 0.75 sampai 1 dosis pupuk NPK menghasilkan jumlah anakan yang nyata lebih banyak dibandingkan perlakuan tanpa pemupukan. Pengaruh pupuk hayati terhadap jumlah anakan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Pengaruh Pupuk Hayati terhadap Jumlah Anakan per Rumpun

Umur Tanaman (MST) Perlakuan

3 4 5 6 7 8

Tanpa

Pemupukan 9.5 13.5abc 17.2abc 23.6b 32.1bc 34.3bc

1 Dosis NPK 9.8 13.8ab 20.8ab 32.0a 43.9a 46.9a

PH + 1 Dosis

NPK 7.4 10.3bcd 16.5abc 27.7ab 36.1abc 45.6a

PH + 0.75

Dosis NPK 9.5 14.5a 21.7a 31.8a 43.3ab 47.8a

PH + 0.5

Dosis NPK 7.5 10.0bcd 15.2bc 24.5ab 33.2abc 42.0ab

PH + 0.25

Dosis NPK 7.5 9.3d 14.1c 23.1b 29.1c 37.2bc

Pupuk Hayati 7.3 9.7dc 12.3c 20.8b 26.3c 33.6c

Keterangan : Nilai pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%.

Warna Daun

Pengukuran warna daun yaitu untuk mengetahui kecukupan tanaman terhadap unsur N. Titik kritis kecukupan unsur hara N pada tanaman padi yaitu skala 4, apabila skala kurang dari 4 menunjukan bahwa tanaman tersebut kekurangan unsur hara N (PPPTP, 2009). Kebutuhan N tanaman dapat diketahui dengan cara mengukur tingkat kehijauan warna daun padi menggunakan BWD. Hasil analisis pengaruh pupuk hayati terhadap warna daun secara rinci dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Pengaruh Pupuk Hayati terhadap Warna Daun

Umur Tanaman (MST) Perlakuan

3 4 5 6 7 8

Tanpa Pemupukan 3.1 3.1 3.0b 3.5 3.5b 3.3b

1 Dosis NPK 3.1 3.0 3.5a 4.0 3.9a 3.8a

PH + 1 Dosis NPK 3.0 3.0 3.3ab 3.8 3.9ab 3.8a

PH + 0.75 Dosis

NPK 3.0 3.1 3.1b 4.0 3.9a 3.7a

PH + 0.5 Dosis NPK 2.8 2.9 3.1b 3.7 3.8ab 3.7a

PH + 0.25 Dosis

NPK 2.9 2.9 3.1b 3.7 3.7ab 3.5ab

Pupuk Hayati 3.1 3.0 3.1b 3.7 3.7ab 3.3b

Keterangan : Nilai pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%.

Dari Tabel 7 diperoleh bahwa perlakuan pupuk hayati berpengaruh terhadap skala warna daun setelah tanaman berumur 4 MST. Aplikasi pupuk hayati dengan berbagai taraf dosis pupuk NPK menghasilkan skala warna daun yang tidak berbeda dengan perlakuan NPK dosis penuh. Aplikasi pupuk hayati tanpa pupuk NPK menghasilkan skala warna daun yang sama dengan perlakuan tanpa pemupukan.

Panjang Akar dan Volume Akar

Kombinasi perlakuan pupuk hayati dengan pupuk NPK terlihat tidak berpengaruh terhadap panjang akar. Namun aplikasi pupuk hayati dengan pupuk NPK berpengaruh terhadap volume akar saat tanaman berumur 8 MST. Pengaruh pupuk hayati dan pupuk NPK terhadap panjang dan volume akar pada umur tanaman 8 MST dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Pengaruh Pupuk Hayati terhadap Panjang Akar dan Volume Akar pada umur tanaman 8 MST

Perlakuan Panjang Akar Volume akar

………cm……...… ….……...ml.…..…..…… Tanpa Pemupukan 21.5 26.7c 1 Dosis NPK 22.1 51.7ab PH + 1 Dosis NPK 20.4 58.3a PH + 0.75 Dosis NPK 21.8 50.0ab PH + 0.50 Dosis NPK 23.2 35.0abc P5 + 0,25 Dosis 21.2 30.0bc PupukHayati 23.5 28.3c

Keterangan : Nilai pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%.

Dari Tabel 8 terlihat bahwa aplikasi pupuk hayati ditambah NPK dosis penuh cenderung dapat meningkatkan volume akar. Perlakuan pupuk hayati ditambah 1 dosis pupuk NPK terlihat menghasilkan volume akar yang lebih besar dibandingkan NPK dosis penuh dan nyata meningkatkan volume akar dibandingkan tanpa pemupukan. Aplikasi pupuk hayati dengan pengurangan dosis pupuk NPK menghasilkan volume akar yang tidak berbeda dengan pupuk NPK saja. Walaupun demikian aplikasi pupuk hayati saja terlihat menghasilkan volume akar yang sama dengan perlakuan tanpa pemupukan.

Bobot Biomassa

Bobot biomassa mencerminkan tingkat pertumbuhan tanaman yang ditentukan oleh kecukupan hara terutama nitrogen. Aplikasi pupuk hayati berpengaruh terhadap bobot kering biomassa. Analisis statistik pengaruh pupuk hayati terhadap bobot biomassa terlihat pada Tabel 9.

Dokumen terkait