• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian

Universitas Teuku Umar Meulaboh , Aceh Barat mulai dari bulan Desember 2012

sampai dengan Pebruari 2013.

3.2. Bahan dan Alat

1. Bahan

a. Benih ; Benih yang digunakan adalah benih kacang panjang unggul Bintang

Asia Pecut Putih yang diproduksi oleh PT. Benih Citra Asia (BCA) Jember

-Indonesia.

b. Pupuk ; Pupuk yang digunakan yaitu pupuk NPK 16-16-16 Cap Tawon yang

diproduksi oleh CV. Kertopaten Trading Coy Surabaya - Indonesia.

c. Mulsa :

1) Mulsa plastik hitam perak (MPHP) Jasa Tani yang diproduksi oleh PT.

Jasa Plastik nusantara.

2) Mulsa serbuk sabut kelapa (Cocopeat) yang diperoleh dari Gampong

Keude Aron Kecamatan Kaway XVI Kabupaten Aceh Barat.

d. Kayu lanjaran ; Kayu lanjaran yang digunakan yaitu anak kayu kecil-kecil

yang tumbuh disekitar lahan penelitian untuk dipancangkan pada setiap

tanaman agar tidak menjalar di tanah dan juga memudahkan melakukan

penelitian.

e. Kapur ; Kapur yang digunakan untuk pengapuran lahan yaitu kapur Agrosol

Dolomite yang diproduksi oleh UD. Maju Putra Sejahtera Medan - Sumut.

2. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : cangkul, sekrub,

parang, ember, meteran, timbangan analitik, gembor, tali rafia, kalkulator, jangka

sorong dan alat-alat tulis.

3.3. Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 3 x 4 dengan 3 ulangan. Faktor

yang diteliti meliputi pemberian jenis mulsa dan pupuk NPK.

Faktor Mulsa (M) terdiri dari 3 taraf :

M

0

: Tanpa Mulsa

M

1

: Mulsa Plastik Hitam Perak

M

2

: Mulsa Serbuk Sabut Kelapa

Faktor Pupuk NPK (P) terdiri dari 4 taraf :

P

0

: 0 kg/ha (0 gr/tanaman)

P

1

: 200 kg/ha (5 gr/tanaman)

P

2

: 400 kg/ha (10 gr/tanaman)

P

3

: 600 kg/ha (15 gr/tanaman)

Dengan demikian terdapat 12 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan, maka

didapat 36 unit susunan kombinasi perlakuan antara jenis mulsa dan pupuk NPK.

Perhatikan tabel 1 berikut ini :

Tabel 1. Susunan Kombinasi Perlakuan Antara Jenis Mulsa dan Dosis Pupuk

NPK.

No Kombinasi

Perlakuan Jenis Mulsa Dosis Pupuk NPK

1 M

0

P

0

Tanpa Mulsa 0 kg/ha (0 gr/tanaman)

2 M

0

P

1

Tanpa Mulsa 200 kg/ha (5 gr/tanaman)

3 M

0

P

2

Tanpa Mulsa 400 kg/ha (10 gr/tanaman)

4 M

0

P

3

Tanpa Mulsa 600 kg/ha (15 gr/tanaman)

5 M

1

P

0

Plastik Hitam Perak 0 kg/ha (0 gr/tanaman)

6 M

1

P

1

Plastik Hitam Perak 200 kg/ha (5 gr/tanaman)

7 M

1

P

2

Plastik Hitam Perak 400 kg/ha (10 gr/tanaman)

8 M

1

P

3

Plastik Hitam Perak 600 kg/ha (15 gr/tanaman)

9 M

2

P

0

Serbuk Sabut Kelapa 0 kg/ha (0 gr/tanaman)

10 M

2

P

1

Serbuk Sabut Kelapa 200 kg/ha (5 gr/tanaman)

11 M

2

P

2

Serbuk Sabut Kelapa 400 kg/ha (10 gr/tanaman)

12 M

2

P

3

Serbuk Sabut Kelapa 600 kg/ha (15 gr/tanaman)

Model matematis yang digunakan adalah :

Y

ijk =

µ + β

i

+ M

j

+ P

k

+ (MP)

jk

+ ε

ijk

Keterangan :

Y

ijk

: Nilai pengamatan untuk faktor mulsa taraf j, faktor pupuk taraf

ke-k, dan ulangan ke-k

µ : Nilai tengah umum

β

i

: Pengaruh ulangan ke-i (i = 1, 2 dan 3)

M

j

: Pengaruh faktor mulsa ke-j (j = 1, 2 dan 3)

P

k

: Pengaruh faktor pupuk NPK ke-k (k = 1, 2, 3 dan 4)

(MP)

jk

: Interaksi jenis mulsa pada taraf mulsa ke-j, taraf pupuk NPK ke-k.

ε

ijk

: Galat percobaan untuk ulangan ke-i, faktor jenis mulsa taraf ke-j,

faktor pupuk NPK taraf ke-k.

Apabila uji F menunjukkan pengaruh yang nyata maka akan dilanjutkan

dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5 %, dengan rumus sebagai

berikut :

BNT

0,05

= t

0,05

db

g

x 2 KTg

r

Dimana :

BNT

0,05

: Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5 %

t

0,05

db

g

: Nilai baku t pada taraf 5 % derajat bebas galat

KTg : Kuadrat Tengah galat

r : Jumlah ulangan

3.4. Pelaksanaan Penelitian

1. Pengolahan tanah

Lahan dibersihkan dari rumput, gulma, dan sisa-sisa tanaman lain hingga

bersih. Setelah bersih pengolahan tanah dilakukan dengan mencangkul sedalam

20 cm. Tanah yang telah dicangkul digemburkan hingga halus, setelah itu tanah

diratakan dan dibuat plot dengan ukuran panjang 150 cm dan lebar 100 cm. Untuk

mengurangi keasaman tanah dilakukan pengapuran dengan dosis 2 ton/ha (300

gr/plot).

2. Pemberian mulsa

Pemberian mulsa dilakukan sesuai dengan perlakuan yaitu tanpa mulsa,

mulsa plastik hitam perak dan mulsa serbuk sabut kelapa. Pemberian mulsa

plastik hitam perak sesuai dengan panjang dan lebar plot sedangkan mulsa serbuk

sabut kelapa tebalnya diberikan sekitar 3–5 cm.

3. Penanaman

Benih kacang panjang langsung ditanam dilahan yang sudah dibuatkan plot.

Sebelum dilakukan penanaman benih direndam terlebih dahulu untuk

mempercepat proses perkecambahan. Penanaman dilakukan dengan membuat

lubang tanam menggunakan tugal. Benih dimasukkan kedalam lubang tanam

sebanyak 2 biji/lubang dengan jarak tanam 50 X 50 cm dan ditutup tipis-tipis

dengan tanah.

4. Pemupukan

Pemberian pupuk NPK diberikan dua kali, pemberian pertama pada saat

tanam 50 % dari dosis dan sisanya diberikan pada umur tanaman 15 hari setelah

tanam (HST). Pemberian pupuk NPK dilakukan dengan membuat lubang didekat

tanaman dengan cara menugal yang berjarak 8-11 cm dari pangkal batang. Pupuk

dimasukkan kedalam lubang-lubang tersebut dan ditutup tipis-tipis dengan tanah.

5. Pemeliharaan tanaman

Pemeliharaan tanaman meliputi :

a. Penyiraman ; Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari dengan

menggunakan gembor atau disesuaikan dengan cuaca setempat.

b. Penyiangan ; Penyiangan dilakukan secara manual yaitu dengan cara

mencabutnya gulma-gulma yang tumbuh disekitar tanaman yang berada

didalam plot sebanyak empat kali selama penelitian.

c. Pemasangan turus atau lanjaran ; Pemasangan turus atau lanjaran dilakukan

pada setiap tanaman kira-kira tanaman telah mencapai tinggi 30 cm dengan

model berbentuk palang segitiga.

d. Pengendalian hama ; Pengendalian hama dilakukan dengan cara manual

yaitu mengambilnya hama yang menyerang semua bagian tanaman dan

membuangnya dari lokasi tanaman tersebut agar tidak terserang terus oleh

hama. Hama yang menyerang tanaman yaitu ulat penggulung daun dan ulat

polong.

6. Panen

Pemanenan dilakukan pada saat tanaman telah berumur 45 HST. Polong

yang sudah layak dipanen yaitu warna polong telah merata sampai hijau

keputih-putihan, biji dalam polong belum tampak menonjol sekali, mudah dipatahkan dan

ukuran panjang polong telah maksimal. Pemanenan dilakukan dengan cara

memetik polong bagian tangkainya dekat pangkal polong dengan hati-hati tanpa

ada yang menyisakan polong yang membuat pembentukan polong baru terhambat.

3.5. Pengamatan

Adapun peubah-peubah yang diamati pada penelitian ini antara lain :

1. Panjang Tanaman (cm)

Panjang tanaman diukur pada umur 14, 21 dan 28 HST dengan

menggunakan meteran. Pengukuran dilakukan mulai dari pangkal batang

sampai titik tumbuh tertinggi.

2. Diameter Pangkal Batang (mm)

Diameter pangkal batang diukur pada umur 14, 21 dan 28 HST dengan

menggunakan jangka sorong.

3. Jumlah Buah

4. Panjang Buah (cm)

Panjang buah diukur pada saat pemanenan I, II, III dan IV dengan

menggunakan meteran.

5. Berat Buah Per Tanaman (gr)

Berat buah per tanaman dihitung pada saat pemanenan I, II, III dan IV

dengan menggunakan timbangan analitik.

6. Berat Buah Per Ha (ton)

Berat buah per ha dihitung berdasarkan berat buah per tanaman yang

dikonversikan dengan jumlah tanaman per ha.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dokumen terkait