• Tidak ada hasil yang ditemukan

Waktu dan Tempat

Penelitian dilaksanakan di lahan penelitian Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Nastari di Desa Pinangsari, Kecamatan Ciasem, Subang, Jawa Barat. Untuk pengujian laboratorium dilakukan di Laboratorium Balai Besar Peramalan Hama dan Penyakit Tanaman Pangan dan Hortikultura Jatisari, Karawang, Jawa Barat. Penelitian dimulai dari bulan Februari 2006 hingga April 2006.

Metode

Persiapan Lahan

Lahan yang digunakan adalah lahan sawah yang diberakan terlebih dahulu selama 2 bulan. Luas lahan tanaman tomat yang diusahakan adalah ± 1.000 m2. Pengolahan lahan meliputi pembersihan lahan, pencangkulan, dan pembuatan bedengan. Pembersihan lahan bertujuan untuk menghilangkan gulma atau tanaman lain yang berada di lahan, pencangkulan dilakukan satu minggu setelah pembersihan lahan, hal ini dimaksudkan untuk menggemburkan tanah dan pembalikan tanah.

Kemudian dua minggu setelah pencangkulan dilakukan pembuatan petakan sebanyak 28 petak. Untuk setiap perlakuan dibuat masing-masing satu petak ( 5m x 5m), antar petak yang satu dengan petak lainnya dibuat parit dengan lebar 45 cm sebagai aliran air. Di dalam petak dibuat bedengan-bedengan. Lebar setiap bedengan adalah 60 cm. Tinggi bedengan antara 30-50 cm, jarak tanam yang digunakan adalah 50 cm, sehingga dalam satu petak terdapat 5 bedengan dengan 10 tanaman contoh per bedengan. Jumlah tanaman dalam satu petak adalah 50 tanaman, dan total tanaman seluruhnya yaitu 1.400 tanaman tomat. Pupuk bokashi diberikan 3 hari sebelum tanam. Pupuk bokashi ini diberikan langsung ke dalam lubang tanam dengan dosis 250 g per lubang tanam atau sekitar 350 kw/1.000 m2 .

9

Pembuatan Suspensi Bahan Alami

Suspensi Tepung Cangkang Rajungan

Suspensi tepung cangkang rajungan yang digunakan adalah konsentrasi 0,04%, 0,2% dan 1% (w/v). Suspensi ini dibuat dari cangkang rajungan yang dibersihkan terlebih dahulu dan dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering dihaluska n dengan menggunakan blender, ditumbuk dengan mortar kemudian disaring hingga menjadi tepung cangkang rajungan.

Konsentrasi 0,04%; 0,2 % dan 1% masing-masing dibuat dengan menambahkan 0,5 g, 2,5 g dan 12,5 g tepung cangkang rajungan dengan 1,25 L air dan larutan Tween 80 0,2%.

Suspensi Tepung Jamur Merang

Suspensi tepung jamur merang dibuat dari jamur merang yang telah dikeringkan dibawah sinar matahari kemudian diblender dan ditumbuk dengan mortar hingga halus kemudian disaring. Konsentrasi yang digunakan sama dengan konsentrasi suspensi tepung cangkang rajungan yaitu 0,04%; 0,2% dan 1%, dibuat dengan mencampurkan masing-masing 0,5 g; 2,5 g dan 12,5 g tepung jamur merang dengan 1,25 L air dan larutan Tween 80 0,2%.

Pembibitan

Benih yang digunakan adalah varietas Kirana. Pembibitan dilakukan dengan menggunakan wadah plastik yang berukuran 40 cm x 20 cm, polibag ukuran 15 cm x 10 cm, plastik transparant ukuran 5 cm x 10 cm, dan daun pisang dengan diameter 5 cm. Media tanam untuk pembibitan adalah tanah dan pupuk Bokashi dengan perbandingan 2:1.

Setelah berumur 2 MSS maka bibit yang berada dalam wadah plastik dipindahkan ke dalam polibag ukuran 15 cm x 10 cm yang berisi media yang sama sebanyak 0,5 kg. Bibit tomat yang dipindahkan ke lahan pertanaman berumur 3 MSS (minggu setelah semai).

10

Sumber Inokulum

Sumber inokulum diperoleh dari inokulasi suspensi A. solani pada tanaman tomat yang berada di dalam polibag. Sebanyak 2 g daun yang menunjukan gejala bercak daun dicampur dengan 1 l air, kemudian dikocok hingga rata. Suspensi ini diinokulasi pada tanaman tomat yang berumur 4 MSS (minggu setelah semai) yang berada dalam polibag berukuran 2 Kg media (tanah dan pupuk bokashi 2:1). Volume semprot adalah 50 ml / tanaman. Penyemprotan dilakukan pada sore hari. Tanaman yang telah diinokulasi disungkup dengan kantung plastik transparan selama 16 jam untuk menjaga kelembaban dan merangsang petogen agar berpenetrasi. Tanama n ini dipindahkan ke lapang setelah umur 6 MST.

Pengujian di Lapang

Pengujian di lapang dilakukan pada lahan pertanaman tomat yang berumur 3 dan 4 MST atau 6 dan 7 MSS dengan disemprot bahan alami (suspensi tepung cangkang rajungan dan tepung jamur merang dengan konsentrasi 1%, 0,2% dan 0,04% (w/v)) dengan 4 ulangan dan air sebagai kontrol, aplikasi penyemprotan dilakukan dua kali yaitu pada umur 3 MST dan 4 MST. Pada umur 5 MST dilakukan Inokulasi A. solani dengan cara meletakan sumber inokulum (tanaman yang terserang A. solani) di tengah petak pada setiap perlakuan masing-masing satu tanaman.

Penyemprotan suspensi tepung cangkang rajungan dan tepung jamur merang dilakukan dengan menggunakan knapsack handsprayer dengan volume semprot 500 l/ha atau 1,25 l / 25 m2. Pengamatan dimulai 1 minggu setelah aplikasi kedua selama 3 minggu berturut-turut dengan menghitung keparahan penyakit bercak coklat, dengan rumus:

KP = ∑ ni x vi x 100% N x V

KP = keparahan penyakit

ni = jumlah contoh dengan nilai numerik kategori ke-i vi = nilai numerik kategori serangan ke-i

N = jumlah contoh yang diamati V = nilai numerik kategori tertinggi

11

Nilai numerik (v) kategori serangan ditentukan berdasarkn persentase bercak (x) pada daun yaitu v=0 bila x=0 (tidak bergejala); v=1 bila 0 < x = 5%; v=2 bila 5 < x = 20%; v=3 bila 20 < x =50% dan v=4 bila x = 50%. Untuk mengetahui besarnya keparahan penyakit selam 3 minggu periode pengamtan maka dihitung juga nilai AUDPC (Area Under Progress Disease Curve) yang dinyatakan dengan % minggu dengan rumus :

AUDPC =

[S

Dsi x (t i - t i-1 )

]

/ 2 Keterangan :

Dsi

=

keparahan penyakit pada pengamatan ke-i (%) t i

=

pengamatan ke-i

t i-1 = pengamatan terakhir sebelum pengamatan ke-i.

Isolasi Mikroorganisme Filoplan

Isolasi mikroorganisme filoplan dari daun pada setiap perlakuan dilakukan untuk mengetahui jumlah dan jenis mikroorganisme tersebut pada setiap perlakuan. Daun yang akan diisolasi diambil saat pengamatan intensitas penyakit pada minggu pertama dan kedua setelah aplikasi (1MSA dan 2 MSA). Sebanyak 0,1 g potongan daun dari setiap perlakuan dimasukan ke dalam 10 ml air steril (pengenceran 10-2 ) dan dikocok dengan menggunakan shaker (pengocok) 109 rpm selama 1 jam pengenceran dilakukan hingga konsentrasi 10-4. Suspensi dengan konsentrasi 10-2 , 10-3 dan 10-4 masing-masing diambil sebanyak 0,1 ml lalu disebar rata dengan menggunakan perata gelas masing-masing pada permukaan medium Martin Agar (pengenceran 10-2 ), King’s B (pengenceran 10-3 ) dan Nutrien Agar (pengenceran 10-4 ). Kemudian diinkubasikan selama 24 - 36 jam, lalu jumlah koloni tunggal yang tumbuh pada permukaan masing-masing medium dihitung untuk mengetahui jumlah total mikroorganisme pada setiap perlakuan. Untuk mengetahui jenis dari setiap koloni yang tumbuh, dilakukan pengamatan terhadap bentuk, tepian, elevasi dan warna dari setiap koloni. Kepadatan populasi koloni yang tumbuh dihitung dengan rumus jumlah koloni (Hadioetomo 1990).

koloni = 1/ faktor pengenceran x

koloni tunggal yang tumbuh volume yang disebar (ml)

12

Perawatan Tanaman

Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk tunggal ZA, SP36 dan KCL, dan dilakukan dengan 4 kali pemupukan (Tabel 2).

Dosis : ZA = 200 hg/ha SP36 = 170 kg/ha KCl = 120 kg/ha

Table 2 Dosis dan waktu pemupukan tanaman tomat. Jenis Pupuk Pemupukan I 2 MST Pemupukan II 4 MST Pemupukan III 7 MST Pemupukan IV 10 MST ZA 25% 125 g/25 m2 25% 125 g/25 m2 25% 125 g/25 m2 25% 125 g/25 m2 SP36 50% 212,5 g/25 m2 50% 212,5 g/25 m2 - - KCL 50% 150 g/25 m2 50% 150 g/25 m2 - - Cara aplikasi :

Semua jenis pupuk (ZA, SP36 dan KCl ) dicampur rata, kemudian diberikan masing- masing 10 g per tanaman. Pupuk diberikan pada lubang pupuk sedalam 5 cm dengan jarak 5 cm dari tanaman. Lubang pupuk dibuat dengan menggunakan tugal. Aplikasi pemupukan dilakukan pada pagi hari.

Pemangkasan

Pemangkasan bertujuan untuk pembentukan tanaman tomat, agar pertumbuhan tanaman optimum. Pemangkasan dilakukan pada tunas air yang tumbuh pada ketiak cabang tanaman. Pemangkasan dilakukan pada semua tunas air kecuali tunas yang tumbuh di bawah tandan bunga pertama. Pemangkasan berpengaruh terhadap pembentukan tandan yang dapat meningkatkan jumlah bunga sehingga pembentukan buah tomat pun dapat meningkat.

Pemasangan Tiang Penguat

Pemasangan tiang penguat bertujuan untuk membantu menegakkan tanaman, mencegah tanaman roboh karena beban tanaman dan oleh tiupan angin,

13

mengoptimalkan sinar matahari yang diperlukan tanaman, membantu penyebaran daun dan mengatur pertumbuhan tunas dan ranting. Pemasangan tiang dilakukan pada tanaman tomat berumur 6 MST dengan menggunakan turus bambu setinggi 150 cm. Tiang penguat dipasang 10-15 cm dari tanaman dengan sistem tunggal (satu tiang untuk satu tanaman).

Pengairan / Penyiraman

Pengairan dilakukan dengan sistem perendaman, yaitu mengalirkan air melalui parit-parit diantara bedengan. Tinggi air untuk setiap bedengan tidak lebih dari setengah dari tinggi bedengan. Jika terjadi kekeringan pada permukaan bedengan maka dilakukan penyiraman terhadap tanaman selama 2 hari sekali. Namun jika turun hujan, penyiraman tidak dilakukan.

Penyiangan

Penyiangan dilakukan apabila gulma telah tumbuh tinggi. Penyiangan dilakukan secara manual dengan mencabut gulma yang tumbuh dekat tanaman tomat, karena gulma dapat menjadi inang dari hama atau penyakit tanaman.

Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan disusun dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 7 perlakuan yaitu perlakuan tepung cangkang rajungan dengan konsentrasi 0,04%, 0,2% dan 1%, perlakuan tepung jamur merang konsentrasi 0,04%, 0,2%, 1% dan air sebagai kontrol. masing-masing perlakuan dibuat 4 ulangan. Analisis data diuji dengan analisis ragam (ANOVA) dengan menggunakan program Statistical Analisis System (SAS) for Windows kemudian setiap perlakuan yang berpengaruh nyata dilakukan uji Duncan Multiple Rang Test (DMRT) pada taraf nyata 5%.

14

Dokumen terkait