• Tidak ada hasil yang ditemukan

Waktu dan Tempat

Penelitian dilaksanakan mulai bulan Desember 2004 - Juli 2005. Pelepasan parasitoid telur T. pretiosum dilakukan pada pertanaman kedelai di kebun percobaan IPB Cikabayan, Dramaga, Bogor. Pemeliharaan parasitoid telur

T. pretiosum dan identifikasi parasitoid lain yang tertangkap dari hasil pengambilan contoh dilakukan di Laboratorium Bioekologi Parasitoid dan Predator, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Bahan dan Alat

Parasitoid yang digunakan adalah T. pretiosum yang berasal dari populasi Jambi. T. pretiosum yang digunakan berasal dari telur H. armigera pada tanaman kapas dan merupakan generasi ± ke - 94. Asumsi nisbah kelamin T. pretiosum

yang dilepas betina:jantan adalah 2:1. T. pretiosum dibiakkan pada inang alternatif telur C. cephalonica. Serangga inang C. cephalonica dibiakkan pada media campuran pakan ayam dan jagung. Kotak pemeliharaan larva serangga inang C. cephalonica berukuran 34 cm x 26 cm x 7 cm, berisi campuran pakan ayam dan dedak dengan perbandingan 1:2. Kotak peneluran berbentuk silinder terbuat dari karton dengan diameter 8 cm dan tinggi 20 cm, dengan bagian atas dan bawah kotak peneluran terbuat dari kawat kassa 25 mesh, dan ditutupi dengan kertas buram. Kertas karton manila berukuran 2 cm x 2 cm, yang memuat ± 1000 butir telur C. cephalonica atau disebut juga pias telur. Gum arabic yang berfungsi untuk menempelkan telur C. cephalonica pada pias. Madu sebagai pakan parasitoid T. pretiosum. Bahan-bahan yang diperlukan saat pelepasan antara lain pita yang digunakan sebagai perekat pias dan tabung reaksi pada bambu ajir di lapangan, kertas buram berfungsi sebagai alas penyimpanan telur C. cephalonica, tisu sebagai penutup tabung reaksi, kertas label yang digunakan sebagai keterangan perlakuan dan data yang diambil di lapangan, serta minyak gemuk untuk melindungi telur dari serangan predator.

Peralatan yang digunakan dalam penelitian adalah bambu ajir sebagai penanda tanaman kedelai yang akan ditempelkan pias dan titik pelepasan parasitoid. Tabung reaksi ukuran 30 mm x 200 mm yang berguna sebagai tempat pemeliharaan parasitoid dan penyimpanan telur dan larva yang diambil dari lapangan. Cawan petri sebagai tempat penyimpanan pias yang disterilkan dan pias yang dibawa ke lapangan. Gunting digunakan untuk memotong kertas karton manila sesuai dengan yang diinginkan dan untuk memotong pita. Kuas berfungsi untuk mengambil parasitoid saat membedakan antara parasitoid betina dan jantan dan membersihkan tabung reaksi sebelum dicuci. Pinset digunakan untuk memasukkan pias dalam tabung reaksi dan mengambil pias yang telah berada dalam tabung reaksi selama 24 jam. Lemari pendingin (freezer) sebagai tempat mensterilkan telur C. cephalonica. Mikroskop untuk mengamati telur-telur yang terparasit. Jarum digunakan untuk menusuk telur yang tidak terparasit. Lampu duduk berfungsi sebagai penerangan saat pengamatan. Oven berfungsi untuk mensterilkan media hidup C. cephalonica.

Metode Pemeliharaan Serangga Inang C. cephalonica

Media campuran pakan ayam dan dedak disterilkan dengan oven untuk mematikan organisme kontaminan yang terbawa dalam media. Media dengan

ketebalan ± 3 cm kemudian dimasukkan dalam kotak pemeliharaan larva

C. cephalonica. Telur atau larva C. cephalonica dimasukkan ke dalam kotak pemeliharaan yang telah berisi media dengan kepadatan 2 - 3 telur atau ulat per cm². Kotak pemeliharaan ditutup dan disimpan pada rak penyimpanan dengan

suhu kamar sampai imago C. cephalonica muncul. Kemunculan imago

C. cephalonica memerlukan waktu selama 5 - 7 minggu. Imago yang muncul diambil dengan menggunakan tabung reaksi, lalu dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam kotak peneluran. Kotak peneluran disimpan pada posisi tegak dan

dialasi dengan kertas buram. Selama dalam kotak peneluran, imago

C. cephalonica tidak memerlukan makanan. Telur-telur C. cephalonica akan

diletakkan pada bagian atas dan dasar kotak peneluran. Telur-telur

kassa disikat dengan kuas dan ditampung sementara di atas kertas buram. Setelah terkumpul, telur-telur tersebut dibersihkan dari sisa-sisa kotoran dan imago yang mati dengan cara mengalirkan telur-telur tersebut pada selembar kertas buram dan ditampung pada kertas buram lain. Hal tersebut dilakukan berulang kali hingga kotoran dan sisa-sisa imago tidak ada lagi. Telur-telur yang telah bersih dimasukkan dalam cawan petri, kemudian digunakan untuk pembiakan parasitoid dan sebagian lagi untuk pembiakkan C. cephalonica.

Perbanyakan Parasitoid Telur Trichogramma pretiosum

Telur C. cephalonica direkatkan pada pias dengan cara menaburkan telur secara merata pada pias yang telah diberi gum arabic. Pias berukuran 2 cm x 2 cm dan dapat menampung ± 1000 butir telur. Telur C. cephalonica pada pias dimasukkan dalam lemari pendingin (freezer) selama ± 120 menit untuk mematikan telur tersebut. Bila telur tidak dimatikan, telur akan menetas dan larva dapat memakan telur-telur yang terparasit. Pias dengan telur steril dimasukkan dalam tabung reaksi (satu pias untuk satu tabung) yang di dalamnya telah dimasukkan imago parasitoid. Jumlah imago parasitoid ya ng berada pada tabung reaksi berjumlah ± 500 ekor. Tabung reaksi ditutup dengan tisu dan diikat dengan karet. Tabung reaksi disimpan pada rak dengan posisi mulut tabung menjauhi arah datangnya sinar. Setelah ± 24 jam, pias telur yang berada dalam tabung reaksi diambil dan dipindahkan ke tabung reaksi lain. Telur pada pias yang terparasit akan berubah warna menjadi hitam pada hari ke-3. Imago parasitoid akan muncul 8 - 10 hari setelah telur C. cephalonica terparasit. Setiap hari, imago parasitoid diberikan pakan madu pada sisi tabung reaksi dengan menggunakan jarum (cukup dengan sedikit olesan saja).

Persiapan Lahan Kedelai

Persiapan lahan dilakukan selama satu bulan. Persiapan lahan meliputi pengolahan tanah, pembersihan gulma, pemupukan, dan penana man kedelai. Pengolahan tanah dan pembersihan gulma dilakukan secara manual dengan menggunakan cangkul. Pupuk kandang disebarkan secara merata di lahan. Pemberian kapur dan pupuk kandang dilakukan secara bersamaan setelah

pengolahan tanah, dengan dosis kapur dan pupuk kandang masing- masing sebesar 2.000 kg/ha dan 20.000 kg/ha.

Dua benih dimasukkan dalam satu lubang. Benih kedelai yang ditanam adalah varietas Willis yang berasal dari Balitro. Kedelai ditanam dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm. Pemupukan pertama (urea, TSP, dan KCl) dilaksanakan secara bersamaan di sekitar lubang benih, dengan dosis berturut-turut 83,33 kg/ha, 150 kg/ha, dan 150 kg/ha. Aplikasi kedua dengan urea dilakukan menjelang tanaman berbunga (6 MST - 8 MST). Setelah seminggu, penyulaman dilakukan terhadap tanaman yang mati. Pengairan dilakukan secara manual. Penyiangan dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada saat tanaman berumur 2 - 3 MST dan tanaman mulai berbunga (6 MST - 8 MST). Lahan pertanaman kedelai yang luasnya 600 m², dibagi menjadi tiga petak percobaan yang masing- masing berukuran 10 m x 20 m.

Studi Tanggap Fungsional T. pretiosum

Studi tanggap fungsional T. pretiosum dilakukan dengan memasang pias-pias yang berisi berbagai tingkat kepadatan telur C. cephalonica pada pertanaman kedelai, kemudian mengamati tingkat parasitisasi telur pada pias-pias tersebut oleh T. pretiosum. Untuk menambahkan populasi T. pretiosum di pertanaman kedelai, maka dilepaskan imago parasitoid pada setiap pemasangan pias.

Pemasangan pias-pias telur dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 06:30 WIB. Pias dengan berbagai kepadatan telur yang berbeda dipasang pada tanaman kedelai yang dipilih secara melingkar dengan jarak 1 m dari titik pelepasan. Titik pelepasan parasitoid terletak pada bagian tengah setiap petak percobaan. Sebanyak 18 tanaman pada masing- masing petak yang terpilih ditandai dengan bambu ajir (Gambar lampiran 1). Pemilihan tanaman dilakukan saat tanaman berumur ± 2 MST.

Alur pemasangan telur berlawanan dengan arah jarum jam. Pias-pias dengan berbagai kepadatan telur yang berbeda (20, 40, 80, 160, 320, 640 butir) ditempelkan pada permukaan bawah daun kedelai (Gambar lampiran 2). Setelah penempelan pias, batang terdekat dengan pias diolesi dengan minyak gemuk.

Koleksi pias-pias telur perangkap dilakukan ± 8 jam setelah pelepasan parasitoid. Koleksi tersebut dibawa ke laboratorium dan disimpan dalam tabung reaksi pada suhu ruang. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat apakah ada telur yang terparasit atau telur ya ng menetas sebagai larva.

Pelepasan parasitoid dilaksanakan sejak tanaman berumur 3 MST. Pelepasan dilakukan sebanyak lima kali dengan selang waktu satu minggu. Jumlah parasitoid yang dilepas adalah 2.000 individu per petak. Tabung reaksi yang berisi parasitoid direkatkan pada bambu ajir dengan posisi tegak lurus (Gambar lampiran 3), lalu tutup tabung dibuka secara bersamaan antar petak. Pelepasan parasitoid dilaksanakan pada pagi hari sekitar pukul 07:00 WIB.

Kemapanan T. pretiosum dan Pengaruhnya pada Serangga Lain

Pelepasan parasitoid terakhir dilakukan ketika tanaman berumur 8 MST. Namun, pemasangan pias-pias perangkap tetap dilaksanakan untuk melihat apakah parasitoid yang dilepas mampu bertahan (mapan) atau tidak. Pemasangan pias-pias dilakukan sebanyak 4 kali dengan interval waktu satu minggu. Proses pemasangan pias dan pemaparannya di lapangan sama dengan proses saat pelepasan parasitoid.

Pengaruh pelepasan parasitoid telur T. pretiosum pada serangga lain pada pertanaman kedelai diamati dengan melakukan pengambilan contoh telur-telur serangga hama yang berada pada pertanaman kedelai secara diagonal. Telur-telur yang terambil selanjutnya dimasukkan dalam tabung reaksi dan disimpan di laboratorium pada suhu ruang. Telur-telur yang terparasit dipelihara dan diamati setiap hari sampai parasitoid muncul. Parasitoid yang muncul selanjutnya diidentifikasi.

Rancangan Percobaan

Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK). Perlakuannya adalah kepadatan telur C. cephalonica yang berbeda (20, 40, 80, 160, 320, 640 butir) yang masing- masing terdiri dari tiga ulangan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan program SAS dan selanjutnya dilakukan uji Duncan pada taraf 5%. Analisis regresi sederhana digunakan untuk melihat hubungan antara jumlah telur terparasit dan kepadatan telur.

Dokumen terkait