Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengendalian Hama Vertebrata (LPHV), Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (B2P2TP) Medan dengan ketinggian 25 meterdiatas permukaan laut dari bulan Maret sampai Mei 2016.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah tikus sawah jantan dewasa 40 ekor, umbi gadung (Dioscorea hispida), daun tembakau (Nicotiana tabacum), bijijarak(Jathrophacurcas),babadotan(Ageratum conyzoides), tepung gandum, gula merah, parafin wax, gula pasir, tepung ikan, telur, minyak goreng, tepung kemiri, monosodium glutamate, calsium propionate, sodium benzoate, air aquadest, hand soup, sabun cuci piring, alkohol 70%, pengharum ruangan, dan vitamin E.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang tikus uji dan kandang sementara,pipa paralon, alu dan lumpang, kulkas, baskom besar dan kecil, mangkok, batang pengaduk, blender, gelas piala 100ml, gelas ukur 100 ml, talenan, kompor gas, kuali, pisau, stopwatch, timbangan kasar, timbangan analitik, stoples, termometer, cawan petri, wadah cetakan umpan, nampan, plastik bening, gunting,solasi ban, palu, masker dan sarung tangan serta baju laboratorium.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) non faktorial dengan 5perlakuan :
Faktor jenis umpan disimbolkan “P” P0 : Kontrol
P1 : Umbi gadung (Dioscorea hispida L.) P2 : Daun tembakau (Nicotiana tabacum L.) P3 : Biji jarak (Jathropha curcas L.)
P4 : Daun babadotan (Ageratum conyzoides L.) t (r-1) ≥ 15
5 (r-1) ≥ 15 5r-5 ≥ 15 5r ≥ 20 r = 4
Jumlah ulangan : 4 ulangan
Jumlah tikus perkotak : 2 ekor tikus jantan dewasa Jumlah seluruh tikus : 40 ekor
Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam berdasarkan model linier berikut:
Yij = μ + Ti + Bj + εijk
i = 1, 2, j = 1, 2 Keterangan :
Yij = Respon atau nilai pengamatan dari perlakuan ke-i dan ulangan ke-j μ = Nilai tengah umum
Ti = Pengaruh perlakuan ke-i Bj = Pengaruh blok ke-j
Analisis Data
Hasil penelitian yang diperoleh kemudian diuji dengan sidik ragam, apabila hasil sidik ragam berpengaruh nyata maka akan dilanjutkan dengan Uji Duncan pada taraf 5%.
Pelaksanaan Penelitian Penyediaan Tikus Yang Diuji
Hewan percobaan yang digunakan adalah Tikus sawah (R. argentiventer) yang diperoleh langsung dengan cara melakukan penangkapan didaerah persawahan Lubuk Pakam. Tikus sawah yang digunakan adalah tikus jantan dewasa dan sehat dengan kisaran berat badan 100-200 gram sebanyak 40 ekor. Tikus sawah yang diperoleh dari lapang diadaptasikan terlebih dahulu selama 7 hari dalam kurungan di Laboratorium Vertebrata Hama.
Penyediaan Kurungan Percobaan
Kurungan yang digunakan pada percobaan ini terbuat dari kayu sebagai dinding dan alas serta bagian atas dari kawat ram berukuran 80 cm x 70 cm x 40 cm. Pada masing-masing kurungan dilengkapi dengan tempat minum, tempat pakan, dan pipa paralon serta jerami padi untuk tempat bersembunyi.
Penyediaan Umpan
Persiapan bahannabati umbi gadung
Umbi gadung segar dicuci terlebih dahulu dengan air bersih mengalir lalu ditiriskan. Kemudian disortir sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan (berdasarkan besar, warna kulit dan bulu rambut), lalu dilakukan pengupasan kulit untuk mendapatkan daging umbi gadung. Selanjutnya daging umbi gadung diiris kecil-kecil kemudian dihaluskan dengan menggunakan blender untuk persiapan pembuatan umpan racun nabati.
Persiapan bahan nabati daun tembakau
Tembakau segar disortir terlebih dahulu sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan (berdasarkan tingkat kematangan dan bebas kapang). Selanjutnya daun tembakau diiris kecil-kecil untuk dihaluskan dengan alat alu dan lumpang untuk persiapan pembuatan umpan racun nabati.
Persiapan bahannabati biji jarak
Biji jarak segar disortir terlebih dahulu sesuai spesifikasi yang diharapkan yaitu tingkat kematangan dan warna kulit jarak yang sudah coklat kehitaman. Selanjutnya biji jarak dipecah serta bungkil jarak dipisahkan kemudian dihaluskan dengan menggunakan blender untuk persiapan pembuatan racun nabati.
Persiapan bahan nabati daun babadotan
Babadotan yang segar disortir terlebih dahulu sesuai spesifikasi yang diharapkan yaitu babadotan yang sudah berbunga serta menghindarkan bagian- bagian yang sudah layu dan busuk. Selanjutnya babadotan diiris kecil-kecil dan ditumbuk halus menggunakan alu atau lumpang untuk persiapan pembuatan racun nabati.
Pembuatan Umpan Racun Nabati
Bahan-bahan pembuatan umpan racun nabati terdiri atas 3 (tiga) jenis bahan, yaitu : bahan pokok, bahan aktif (racun) dan bahan aditif (tambahan). Ketiga jenis bahan tersebut dicampur dan diadon menjadi satu dengan tahapan sebagai berikut : yaitu dipersiapkan semua bahan, diantaranya : tepung gandum sebagai bahan pokok, umbi gadung, tembakau, biji jarak, dan babadotan yang telah dihaluskan sebagai bahan aktif (racun); serta bahan aditif (tambahan) yaitu parafin wax, gula merah, gula pasir, tepung ikan, telur, minyak goreng, tepung
kemiri, monosodium glutamate, sodium benzoate, calcium propionate, dan vitamin E.
Ditentukan masing masing konsentrasi perlakuan kosentrasi bahan aktif (racun) umbi gadung, daun tembakau, biji jarak dan babadotansebanyak 30%, maka tepung gandumsebanyak 30% dan bahan aditif (tambahan) sebanyak 40% hingga total menjadi 100%.
Dicampur tepung gandum sebanyak 150 gr , tepung ikan 20 gr,monosodium glutamate 15 gr, tepung kemiri 5 gr,sodium benzoate 2,5 gr, calcium propionate 2,5 gr, dan tepung kemiri 5 gr terlebih dahulu dalam baskom plastik dan diadon secara merata dengan menggunakan sarung tangan, kemudian ditambahkan telur 15 gr kemudian diadon kembali. Ditambahkan bahan aktif (racun) nabati sebanyak 150 gr yang telah dihaluskanlalu diadon kembali secara merata dan kemudian ke dalam adonan tersebut ditambahkan minyak goreng 5 gr dan vitamin E 1,5 grdan kembali diadon hingga semua bahan menyatu sempurna. Dipanaskan air sebanyak 100 ml dimasukkan gula merah dan gula pasir dipanaskan diatas kompor hingga mengental membentuk karamel, selanjutnya ditambahkan parafin wax dan kembali dipanaskan hingga mencair sempurna, lalu api kompor dikecilkan atau dipadamkan kemudian diukur suhu cairan karamel parafin mencapai 600C.
Dimasukkan ke dalam kuali yang berisi cairan karamel parafin dan diaduk secara perlahan dan merata selama 15 menit, dengan tetap menjaga suhu pemanasan 600C, setelah suhu tersebut di atas tercapai, adonan umpan dimasukkan ke dalam cetakan blok persegi ukuran 3 x 2 x 2 cm, dan didinginkan selama 1 jam hingga mengeras dan padat, Kemudian umpan padat yang terbentuk
dilepaskan dari cetakan dan siap digunakan untuk pengujian.Umpan racun nabati yang dihasilkan memiliki bobot yang seragam, tiap blok persegi umpan racun nabati memiliki bobot antara 5 - 12 gr, dengan bobot rata-rata tiap blok umpan sebesar 8,68 gr.
Peubah Amatan
Perubahan Bobot badan tikus
Pengambilan data bobot badan tikus uji dilakukan pada saat awal dan akhir pengujian setiap ulangan. Data bobot badan ini dapat dijadikan acuan dalam menghitung perubahan bobot badan dan jumlah umpanyang dikonsumsi dan konversi umpan selama pengujian.Menurut Martin et al., (1990) perhitungan bobot tikus sawah dilakukan dengan rumus:
Bobot tikus sawah (gr) = Berat awal – Berat akhir Tingkat konsumsi pakan umpan
Jumlah umpan yang dikonsumsi dihitung berdasarkan pengurangan jumlah umpan racun nabati yang diberikan dengan sisa umpan racun nabati dalam petak kandang unit pengujian.
Tingkat Konsumsi Pakan (gr) = Bobot umpan awal – Bobot umpan akhir (Martin et al., 1990).
Perubahan tingkah laku tikus
Data perubahan tingkah laku dianalisis secara deskriptif. Perilaku tikus sawah diamati dengan melihat gejala-gejala kematian yang terjadi pada tikus sehari setelah aplikasi. Tingkahlaku harian yang diamati meliputi tingkahlaku berjalan sempoyongan,kejang-kejang, air liur keluar,keluar darah pada hidung/mata dan menggigit kandang, menggigit tempat makan dan tempat
minum, air seni kuning kemerahan, kelopak mata menurun, kurang nafsu makan, menggigil dan tidak aktif bergerak. Pencatatan pengamatan dengan menggunakan metoda pencatatan one-zero, jika tikus uji melakukan suatu aktivitas diberi nilai 1, tetapi jika tidak melakukan aktivitas diberi nilai 0.
Frekuensi Tingkah Laku = X
� x 100%
Keterangan : X : jumlah suatu tingkah laku selama pengamatan Y : jumlah seluruh tingkah laku selama pengamatan (Martin dan Bateson, 1999)
Mortalitas
Mortalitas merupakan tingkat angka kematian yang diamati dan dicatat setiap hari selama pengujian dengan estimasi waktu tertentu.
Persentase tikus sawah yang mati dihitung dengan rumus :
M = a
a+ bx 100% Keterangan :
M : Mortalitas
a :Jumlah tikus sawah yang mati b : Jumlah tikus sawah yang hidup (Martin dan Bateson, 1999)
HASIL DAN PEMBAHASAN