Lampiran1. Bagan Penelitian
Keterangan:
P0 : Kontrol
P1 : Umbi gadung (Dioscorea hispida L.) P2 : Daun tembakau (Nicotiana tabacum L. ) P3 : Biji jarak (Jathropha curcas L.)
P4 : Daun babadotan ( Ageratum conyzoides L.)
I II III IV
P0
P0
P3
P4
P2
P1
P4
P0
P4
P3
P1
P1
P0
P1
P2
P2
P3
P2
P4
P3
28-Apr-16 28,7 75
29-Apr-16 28,2 75
30-Apr-16 28 78
01-Mei-16 29,1 71
02-Mei-16 28 77
03-Mei-16 29 73
04-Mei-16 29,1 75
Kisaran suhu laboratorium selama penelitian : 26,4-30,5 0C
Suhu rata-rata (T) : 28, 21 0C
Lampiran3. Bobot Badan Tikus 1HSA (gr)
Perlakuan Ulangan Total
Rata-rata Bobot Badan Tikus 6HSA (gr)
Lampiran 4. Tingkat Konsumsi Pakan Umpan 1HSA (gr)
Perlakuan Ulangan Total
Rata-Rata
DMRT 0,05 5,448 5,713 5,89 5,943
Tingkat Konsumsi Pakan Umpan 2 HSA (gr)
Perlakuan Ulangan Total Rata-rata
1 2 3 4
DMRT 0,05 6,386 6,698 6,905 6,967
Tingkat Konsumsi Pakan Umpan 3 HSA (gr)
DMRT 0,05 8,598 9,017 9,296 9,380
P Rataan Notasi Pembanding
Perlakuan Ulangan Total Rata-rata
Tingkat Konsumsi Pakan Umpan 4 HSA (gr)
Perlakuan Ulangan Total Rata-rata
1 2 3 4
DMRT 0,05 11,854 12,431 12,816 12,931
Tingkat Konsumsi Pakan Umpan 5 HSA (gr)
Perlakuan Ulangan Total Rata-rata
1 2 3 4
DMRT 0,05 5,988 6,280 6,474 6,533
Tingkat Konsumsi Pakan Umpan 6 HSA (gr)
Perlakuan Ulangan Total Rata-rata
1 2 3 4
DMRT 0,05 5,383 5,645 5,820 5,872
IV 0 1 1 1 1 4 0,8
Total 8 36 31 18 25 118
Lampiran 6. Persentase Mortalitas tikussawah 1HSA (%)
Perlakuan Ulangan Total
Rata-rata
Persentase Mortalitas tikus sawah 2 HSA (%)
Perlakuan Ulangan Total
Rata-rata
Persentase Mortalitas tikus sawah 3 HSA (%)
Perlakuan Ulangan Total
Persentase Mortalitas tikus sawah 4-5 HSA (%)
Perlakuan Ulangan Total Rata-rata
1 2 3 4
Persentase Mortalitas tikus sawah 6 HSA (%)
Perlakuan Ulangan Total Rata-rata
Transformasi ArcSin
Persentase Mortalitas tikus sawah 7 HSA (%)
Perlakuan Ulangan Total Rata-rata
Transformasi ArcSin
Persentase Mortalitas tikus sawah 8-9 HSA (%)
Perlakuan Ulangan Total Rata-rata
Persentase Mortalitas tikus sawah 10 HSA (%)
Perlakuan Ulangan Total Rata-rata
Uji Jarak Duncan
p 2 3 4 5
rp 3,08 3,23 3,33 3,36
DMRT 0,05 34,35 36,03 37,14 37,48
P Rataan Notasi Pembanding
Persentase Mortalitas tikus sawah 11 HSA (%)
Perlakuan Ulangan Total Rata-rata
Daftar Sidik Ragam
Persentase Mortalitas tikus sawah 12 HSA (%)
Perlakuan Ulangan Total Rata-rata
Persentase Mortalitas tikus sawah 13-14 HSA (%)
Perlakuan Ulangan Total Rata-rata
Lampiran 7. Dokumentasi Penelitian
Kandang uji yang digunakan dalam Tikus yang berada didalam bumbung
Penelitian (pipa paralon)
Tikus yang sedang berada didalam Proses menimbang tikus uji Kandang uji
Umpan P2 (daun tembakau) Umpan P3 (biji jarak)
Tikus pada perlakuan P2 yang sudah Tikus pada perlakuan P1 yang sudah mati ditimbang mati ditimbang
DAFTAR PUSTAKA
Anggriani D, Sumarmin R, dan Widiana R, 2013. Pengaruh AntifeedantKulit Batang Ekstraksi Angsana (Pterocarpus indicus Willd.) terhadapFeeding StrategyWereng Coklat (Nilaparvata lugens Steal.). (Diakses secara online melalui http:// ejournals1.stkip-pgri-sumbar.ac.id pada tanggal 8 November 2015).
Aplin, K,P., Peter R., Jens Jacob., Charles J., Krebs and Grant R. S. 2003. Field For
MethodsRodent Studies in Asia and Indo-Pacific. ACIAR Monograph. No. 100. 223p.
Baco. 2011. Pengendalian Tikus Pada Tanaman Padi Melalui Pendekatan Ekologi. Unpad. Bandung.
Badan Pusat Statistik. 2015. Data Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai Provinsi Lampung tahun 2014. Berita Resmi Statistik.
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. 2011. Mengenal Tikus Sawah. Badan Litbang
Pertanian Ed. 17-23
BALITRO. 2008. Babadotan (Ageratum conyzoides) Tanaman Multifungsi.
Begon, M. 2003. Disease : Health effects on humans Population effect on Rodent. In
G.R. Singleton (ed) Rat Mice and people, Rodent Biology and Management. ACIAR Canberra. P 13-19.
Brown, P,R,. Grant R. S., and Sudarmaji 2001. Habitat Use and Movement of the rice
field rat, Rattus argentiventer in West Java. Indonesia. Mammalia, 65 (2):151-166.
Djojosumarto, P,. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. Agromedia Pustaka. Jakarta Endah, S. dan Heri, K,. 2000. Manfaat Ekstrak Daun Pare Cegah Demam
Berdarah. (Diakses secara online melalui tanggal 5 Oktober 2015).
Gloria. 2008. Rokok dan Bahaya Merokok. Diakses dari www.gloria.com. Pada tanggal 14 Desember 2015.
Hafsah, S,. 2013. Efek Alelopati Ageratum conyzoides (babadotan) pada Pertumbuhan Tanaman Sawi. Unsiyah. Aceh
Hasanah M, Tangkas I dan Sakung J, 2012. Daya Insektisida Alami Perasan Umbi Gadung (Discorea hispida Dennst) dan Ekstrak Tembakau (Nicotiana tabacum L) ISSN 2302-6030. J. Akad. Kim. 1(4): 166-173. Palu: University of Tadulako. (Diakses secara online melalui http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php pada tanggal 18 Februari 2014). Indrarosa D, 2013. Pestisida Nabati Ramah Lingkungan. (Diakses secara online
melalui http://bbppbatu.bppsdmp.deptan.go.id pada tanggal 20 November 2015).
Istriyati dan Febri,S. 2008. Pengaruh Ekstrak Etanol Biji Jarak (Jatropha curcas L.)Terhadap Struktur Histologis Testis Tikus Sawah (Ratus ArgentiventerRobinson & Kloss). Fakultas Biologi UGM. Yogyakarta.
Jumar dan Helda, O. R. 2003. Efikasi beberapa tingkat dosis larutan akar tegari (Dianella sp.) terhadap mortalitas tikus sawah (Rattus argentiventer). Agrosscientiae. 10: 107- 113.
Junar. 2000. Entomologi Pertanian. Jakarta: Rineka Cipta.
Kardinan, A. 2005. Pestisida Nabati : Ramuan dan Aplikasi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Koswara, S,. 2011. Teknologi Pengolahan Umbi-umbian Bagian 3 : PengolahanUmbi gadung. Dalam http://seafast.ipb.ac.id. Diakses pada 13 Desember 2015
Lisdianita. 2010. Pengaruh Insektisida Minyak Biji Jarak Pagar terhadap Mortalitaslarva Helicoverpa armigeraHubner. Skripsi Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Fakultas Biologi FMIPA
Manurung, S, O,. dan Ismunadji. 1998. Morfologi dan Fisiologi Padi. Badan Penelitian dan Penegmbangan Pertanian. Bogor. 167-105p
Matsumura F, 1975. Toxicology of Insecticides. New York: Plenum Press.
Mayanti T, Hermawan W, Nurlelasari dan Harneti D, 2006. Senyawa AntifeedantdariBiji Kokossan (Lansium domesticum Corr Var Kokossan), Hubungan Struktur Kimia dengan AktivitasAntifeedant (Tahap II).
(Diakses secara online melalui http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2010/12 pada tanggal 7 Mei
2014).Murakami, O. 1992. Tikus Sawah : Laporan Akhir Kerja Sama Indonesia-Jepang Bidang Perlindungan Tanaman Pangan (ATA-162). Direktorat Bina Tanaman. Jakarta.
Laporan Akhir Kerja Sama Indonesia-Jepang bidang Perlindungan Tanaman Pangan (ATA-162). Direktorat Bina Perlindungan Tanaman. Jakarta. 101p.
Mutiarani, M. 2009. Perancangan dan Pengujian Perangkap. Skripsi. IPB. Bogor. Nuryanti. 2015. Penyakit pada Tanaman Tembakau. BBPPTP. Surabaya
Pakki, T,. M, Taufik dan A.M. Adnan. 2009. Studi Potensi Rodentisida Nabati Biji Jengkol untuk Pengendalian Hama Tikus pada Tanaman Jagung. Balai Penelitian Serealia. Sulawesi Tenggara
Plantus. 2008. Anekaplantasia. Plant Clipping in Formations From All Over Media In Indonesia.
Posmaningsih,D.A.A., Nyoman, I., dan Wayan, S. 2014. Efektifitas Pemanfaatan Umbi Gadung Dioscorea hispidaDennust Pada Umpan sebagai Rodentisida Nabati dalam Pengendalian Tikus. Jurnal Skala Husada Volume 11. No. 1 hal. 79-85.
Priyambodo, S. 1995. Pengendalian Hama Tikus Terpadu. Penebar Swadaya, Jakarta.hal. 24.
Purwanto. 2009. Pengujian Tiga Jenis Rempah-Rempah Sebagai Repelent TerhadapTikus Rumah (Rattus DiardiiLinn.) dan Tikus Pohon (Rattus Tiomanicus Mill.). Skripsi Jurusan HPT. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian. Bogor.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. 2012.Pestisida Nabati. BadanPenelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.
Putranto. A. F,. 2012. Efektivitas Pemanfaatan Umbi Gadung (Discorea hispida) terhadap Hama Tikus. Hama dan Penyakit Tumbuhan Universitas Jember. Jember.
Rachmawati A, 2013. Pengendalian Hama dan Penyakit Dengan Pestisida
Nabati. (Diakses secara online melalui
dengan.html pada tanggal 25 November 2013).
Rochman. 1992. Biologi dan Ekologi Tikus sebagai dasar Pengendalian Hama Tikus. Seminar pengendalian Hama Tikus Terpadu. Bogor.
Roder, E. and H, Wiedenfeld. 1991. Pyrrolizidine alkaloids from Ageratum conyzoides(babadotan) leaves in Rats. Penyakit Hewan 25 (48) : 61-65. Rudiyanti S, 2010. Toksisitas Ekstrak Daun T.
Rusdy, A,. dan Irvandra. F. 2008. Preferensi Tikus Rattus argentiventer Terhadap Jenis Umpan pada Tanaman Padi Sawah. J. Floratek 3:68-73.
Sandhyakumari, K. , R. G . Bobby, and M.Indira.2003. Antifertility effect ofRicinus communisL. on rats.Phytoterapy Research. John Wiley and Sons. pp.508-51l.
Sani, Y,. and D, R,. Stoltz. 1993. A Preliminary Study On The Toxicity of Ageratum conyzoides (babadotan) Leaves In Rats. Penyakit Hewan 25 (45) : 61-65.
Sani, Y,. S, Bustami, dan A, Girindra. 1998. Hepatotoksisitas Ekstrak Daun Babadotan (Ageratum conyzoides) pada Tikus Percobaan. J. Ilmu Ternak dan Veteriner 3 (1) : 63-70.
Sari, S, E,. 2015. Karakteristik Maltodekstrin Hasil Hidrolisis Pati Gadung (Dioscorea hispida Dennst.) secara Enzimatis. Universitas Sumatera Utara. Medan
Singleton, G,R,. Sudarmaji and P. Brown. 2003. Coparison of Different size of Physical Barriers for Controlling the Impact Of Rice Field Rat. Argentiventer in Rice Crops in Indonesia. Crop Protectetion. 22: 7-13.
Sitorus, P,. 2011. Pembuatan Biodiesel dari Minyak Jarak Pagar (Jatropha curcas L.)Universitas Sumatera Utara. Medan.
Sudarmaji, Singleton, G, R., and P. Brown. 2007. Karakteristik Perkembangbiakan Tikus Sawah Irigasi danImplikasinya untuk Pengendalian. Penelitian Pertanian tanaman Pangan. 26(2) : 93-99.
Sudarmaji dan A.W. Anggara. 2006. Pengendalian Tikus Sawah dengan Sistem Bubu Perangkap Di Ekosistem Irigasi. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan, 25 (1):57-64
Sudarmaji. 2004. Dinamika Populasi Tikus Sawah Rattus argentiventer (Robb and Kloss) pada ekosistem sawah irigasi teknis Dengan Pola Tanam Padi Bera-bera. Disertasi Sekolah Pasca Sarjana. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. 169p.
Sudarmaji dan Rahmini. 2002. Daya Jelajah dan Preferensi Penggunaan HabitatTikus Sawah (Rattus argentiventer) di Ekosistem Padi Sawah. Prosiding Seminar Nasional Biologi XVI. PBI Cabang Bandung. Hal. 184-187.
Yong. 2000. Racun Ricin, diakses dari http://waynesword.palomar.edu./plmar99.htm, pada 29 oktober 2015
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengendalian Hama Vertebrata (LPHV), Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (B2P2TP) Medan dengan ketinggian 25 meterdiatas permukaan laut dari bulan Maret sampai Mei 2016.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah tikus sawah jantan dewasa 40 ekor, umbi gadung (Dioscorea hispida), daun tembakau (Nicotiana tabacum), bijijarak(Jathrophacurcas),babadotan(Ageratum conyzoides), tepung gandum, gula merah, parafin wax, gula pasir, tepung ikan,
telur, minyak goreng, tepung kemiri, monosodium glutamate, calsium propionate, sodium benzoate, air aquadest, hand soup, sabun cuci piring, alkohol 70%,
pengharum ruangan, dan vitamin E.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang tikus uji dan kandang sementara,pipa paralon, alu dan lumpang, kulkas, baskom besar dan kecil, mangkok, batang pengaduk, blender, gelas piala 100ml, gelas ukur 100 ml, talenan, kompor gas, kuali, pisau, stopwatch, timbangan kasar, timbangan analitik, stoples, termometer, cawan petri, wadah cetakan umpan, nampan, plastik bening, gunting,solasi ban, palu, masker dan sarung tangan serta baju laboratorium.
Metode Penelitian
Faktor jenis umpan disimbolkan “P” P0 : Kontrol
P1 : Umbi gadung (Dioscorea hispida L.) P2 : Daun tembakau (Nicotiana tabacum L.) P3 : Biji jarak (Jathropha curcas L.)
P4 : Daun babadotan (Ageratum conyzoides L.) t (r-1) ≥ 15
5 (r-1) ≥ 15 5r-5 ≥ 15 5r ≥ 20 r = 4
Jumlah ulangan : 4 ulangan
Jumlah tikus perkotak : 2 ekor tikus jantan dewasa Jumlah seluruh tikus : 40 ekor
Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam berdasarkan model linier berikut:
Yij = μ + Ti + Bj + εijk
i = 1, 2, j = 1, 2 Keterangan :
Yij = Respon atau nilai pengamatan dari perlakuan ke-i dan ulangan ke-j μ = Nilai tengah umum
Ti = Pengaruh perlakuan ke-i Bj = Pengaruh blok ke-j
Analisis Data
Hasil penelitian yang diperoleh kemudian diuji dengan sidik ragam, apabila hasil sidik ragam berpengaruh nyata maka akan dilanjutkan dengan Uji Duncan pada taraf 5%.
Pelaksanaan Penelitian Penyediaan Tikus Yang Diuji
Hewan percobaan yang digunakan adalah Tikus sawah (R. argentiventer) yang diperoleh langsung dengan cara melakukan penangkapan didaerah persawahan Lubuk Pakam. Tikus sawah yang digunakan adalah tikus jantan dewasa dan sehat dengan kisaran berat badan 100-200 gram sebanyak 40 ekor. Tikus sawah yang diperoleh dari lapang diadaptasikan terlebih dahulu selama 7 hari dalam kurungan di Laboratorium Vertebrata Hama.
Penyediaan Kurungan Percobaan
Kurungan yang digunakan pada percobaan ini terbuat dari kayu sebagai dinding dan alas serta bagian atas dari kawat ram berukuran 80 cm x 70 cm x 40 cm. Pada masing-masing kurungan dilengkapi dengan tempat minum, tempat pakan, dan pipa paralon serta jerami padi untuk tempat bersembunyi.
Penyediaan Umpan
Persiapan bahannabati umbi gadung
Persiapan bahan nabati daun tembakau
Tembakau segar disortir terlebih dahulu sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan (berdasarkan tingkat kematangan dan bebas kapang). Selanjutnya daun tembakau diiris kecil-kecil untuk dihaluskan dengan alat alu dan lumpang untuk persiapan pembuatan umpan racun nabati.
Persiapan bahannabati biji jarak
Biji jarak segar disortir terlebih dahulu sesuai spesifikasi yang diharapkan yaitu tingkat kematangan dan warna kulit jarak yang sudah coklat kehitaman. Selanjutnya biji jarak dipecah serta bungkil jarak dipisahkan kemudian dihaluskan dengan menggunakan blender untuk persiapan pembuatan racun nabati.
Persiapan bahan nabati daun babadotan
Babadotan yang segar disortir terlebih dahulu sesuai spesifikasi yang diharapkan yaitu babadotan yang sudah berbunga serta menghindarkan bagian-bagian yang sudah layu dan busuk. Selanjutnya babadotan diiris kecil-kecil dan ditumbuk halus menggunakan alu atau lumpang untuk persiapan pembuatan racun nabati.
Pembuatan Umpan Racun Nabati
kemiri, monosodium glutamate, sodium benzoate, calcium propionate, dan vitamin E.
Ditentukan masing masing konsentrasi perlakuan kosentrasi bahan aktif (racun) umbi gadung, daun tembakau, biji jarak dan babadotansebanyak 30%, maka tepung gandumsebanyak 30% dan bahan aditif (tambahan) sebanyak 40% hingga total menjadi 100%.
Dicampur tepung gandum sebanyak 150 gr , tepung ikan 20 gr,monosodium glutamate 15 gr, tepung kemiri 5 gr,sodium benzoate 2,5 gr, calcium propionate 2,5 gr, dan tepung kemiri 5 gr terlebih dahulu dalam baskom plastik dan diadon secara merata dengan menggunakan sarung tangan, kemudian ditambahkan telur 15 gr kemudian diadon kembali. Ditambahkan bahan aktif (racun) nabati sebanyak 150 gr yang telah dihaluskanlalu diadon kembali secara merata dan kemudian ke dalam adonan tersebut ditambahkan minyak goreng 5 gr dan vitamin E 1,5 grdan kembali diadon hingga semua bahan menyatu sempurna. Dipanaskan air sebanyak 100 ml dimasukkan gula merah dan gula pasir dipanaskan diatas kompor hingga mengental membentuk karamel, selanjutnya ditambahkan parafin wax dan kembali dipanaskan hingga mencair sempurna, lalu api kompor dikecilkan atau dipadamkan kemudian diukur suhu cairan karamel parafin mencapai 600C.
dilepaskan dari cetakan dan siap digunakan untuk pengujian.Umpan racun nabati yang dihasilkan memiliki bobot yang seragam, tiap blok persegi umpan racun nabati memiliki bobot antara 5 - 12 gr, dengan bobot rata-rata tiap blok umpan sebesar 8,68 gr.
Peubah Amatan
Perubahan Bobot badan tikus
Pengambilan data bobot badan tikus uji dilakukan pada saat awal dan akhir pengujian setiap ulangan. Data bobot badan ini dapat dijadikan acuan dalam menghitung perubahan bobot badan dan jumlah umpanyang dikonsumsi dan konversi umpan selama pengujian.Menurut Martin et al., (1990) perhitungan bobot tikus sawah dilakukan dengan rumus:
Bobot tikus sawah (gr) = Berat awal – Berat akhir Tingkat konsumsi pakan umpan
Jumlah umpan yang dikonsumsi dihitung berdasarkan pengurangan jumlah umpan racun nabati yang diberikan dengan sisa umpan racun nabati dalam petak kandang unit pengujian.
Tingkat Konsumsi Pakan (gr) = Bobot umpan awal – Bobot umpan akhir (Martin et al., 1990).
Perubahan tingkah laku tikus
minum, air seni kuning kemerahan, kelopak mata menurun, kurang nafsu makan, menggigil dan tidak aktif bergerak. Pencatatan pengamatan dengan menggunakan metoda pencatatan one-zero, jika tikus uji melakukan suatu aktivitas diberi nilai 1, tetapi jika tidak melakukan aktivitas diberi nilai 0.
Frekuensi Tingkah Laku = X
� x 100%
Keterangan : X : jumlah suatu tingkah laku selama pengamatan Y : jumlah seluruh tingkah laku selama pengamatan (Martin dan Bateson, 1999)
Mortalitas
Mortalitas merupakan tingkat angka kematian yang diamati dan dicatat setiap hari selama pengujian dengan estimasi waktu tertentu.
Persentase tikus sawah yang mati dihitung dengan rumus :
M = a
a+ bx 100% Keterangan :
M : Mortalitas
HASIL DAN PEMBAHASAN Bobot Badan Tikus Sawah (gr)
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran3.) menunjukkan bahwa pengaruh
pengujian beberapa rodentisida nabati terhadap penurunan bobot badan tikus (Rattus argentiventer Robb & Kloss.) disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh pengujian beberapa rodentisida nabati terhadap perubahan bobot badan tikus (Rattusargentiventer) (gr)
Perlakuan 1HSA 6HSA Penurunan bobot tikus (gr)
Keterangan: Angka yang tertera diatas pada tabel tidak berbeda nyata pada uji jarak duncan taraf 5 %.P0 (Kontrol); P1 (Umbi gadung); P2 (Daun tembakau); P3 (Biji jarak); P4 (Babadotan).
Tabel 1. menunjukkan bahwa pemberian beberapa jenis rodentisida nabati tidak berpengaruh nyata terhadap perubahan bobot badan tikus sawah.Tabel 1. menunjukkan bahwa bobot tikus pada perlakuan P0(Kontrol)mengalami kenaikan, sedangkan pada perlakuan P1 (Umbi gadung) tidak konstan, pada perlakuan P2 (Daun tembakau) dan P3 (Biji jarak) bobot badan tikus mengalami penurunan, sedangkan pada perlakuan P4 (Babadotan) bobot tikus tidak konstan (Lampiran 3).
kronis bekerja dalam tubuh tikus dengan lambat sehingga tikus tidak langsung mati ditempat melainkan secara pelan sehingga berat tubuh tikus dipengaruhi.
Pada perlakuan P2(Daun tembakau) dalam beberapa pengamatan dapat diketahui bahwa bobot badan tikus selalu mengalami penurunan. Potensi tembakau sebagai rodentisida nabati yang menyebabkan penurunan bobot tubuh tikus karena senyawa kimia dan aroma yang dihasilkan daun tembakau sangat khas menyebabkan daya konsumsi tikus terhadap umpan sangat rendah sehingga bobot tikus terus menurun. Menurut Anggrianiet al. (2013) dan Mayantiet al.(2006) tembakau memiliki senyawa terpenoid memiliki rasa yang pahit dan
bersifat antifeedant yang dapat menghambat aktivitas makan, terpenoid juga bersifat sebagai penolak (repellent) karena ada aroma menyengat yang tidak disukai oleh tikus.
Pada perlakuan P3(Biji jarak) (Lampiran 3)bobot tikus semakin menurun hal itu disebabkan biji jarak mengandung senyawa racun dan mengandung 40-50% minyak jarak yang berpotensi sebagai racun pencernaan. Dalam literatur Djojosumarto (2008) dijelaskan bahwa biji jarak memiliki mekanisme kerja sebagai racun perut yang mengganggu proses pencernaan tikus sehingga proses penyerapan makanan didalamtubuh tikus terganggu.
makan bahkan memblokir kemampuan makan. Tingkat Konsumsi Pakan Umpan (gr)
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran4.) menunjukkan bahwa pengaruh pengujian beberapa rodentisida nabati terhadap tingkat konsumsi pakan umpanRattus argentiventer Robb & Kloss dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Pengaruh pengujian beberapa rodentisida nabati terhadap tingkat konsumsi pakan umpan (gr)
Perlakuan Tingkat Konsumsi Pakan (gr)
1HSA 2HSA 3HSA 4HSA 5HSA 6HSA Keterangan: Angka yang tertera diatas yang diikuti oleh notasi yang
berbedamenunjukkan berbeda nyata pada uji jarak duncan taraf 5 %.P0 (Kontrol); P1 (Umbi gadung); P2 (Daun tembakau); P3 (Biji jarak); P4 (Babadotan).
Tabel 2. menunjukkan bahwa tingkat konsumsi pakan umpan dengan beberapa rodentisida nabati berbeda nyatadengan perlakuan P0(kontrol)dengan perlakuan P1 (Umbi gadung), P2(Daun tembakau), P3(Biji jarak) dan P4(Babadotan). Hal ini disebabkan pada perlakuan kontrol, komposisi umpan tidak diberikan tambahan racun, sehingga tingkat konsumsi tikus pada umpan tidak mempengaruhi nafsu makan tikus.
Tabel 2. menunjukkanbahwa tingkat konsumsi tertinggi pada umpan yang telah diberi racun nabati terdapat pada perlakuan P1 (Umbi gadung) yaitu 8,82 pada 1 HSA dan terendah 1,53 pada 6 HSA. Daya makan umpan yang tinggi pada perlakuan P1 (Umbi gadung) yaitu disebabkan bentuk dan warna umpan yang tidak membuat tikus curiga akan racun pada makanan, selain itu komposisi pada umpan menyebabkan ketertarikan tikus untuk memakan umpan tersebut. Hasil penelitian Posmaningsih, et al (2014) bahwa bahan tambahan yang digunakan pada umpan dapat berasal dari olahan hewan atau tumbuhan. Bahan baku penyedap atau penarik pada umpan harus mudah didapat dan bahan penyedap dalam umpan dapat meningkatkan kesempatan tikus menemukan umpan dan makan banyak.
Tabel 2. dapat dilihat bahwa tingkat konsumsi umpan yang paling rendah yaitu pada perlakuan P2 (daun tembakau) karenaaroma pada umpan tembakau yang sangat khas. Selain itu perilaku makan tikus yang mencium makanan terlebih dahulu sebelum memakannya. Tembakau memiliki potensi sebagai repellent karena aroma pada tembakau tersebut. PUSLITBANGBUN(2012)
menyatakan bahwa nikotin pada tembakau dapat bersifat repellent. Grunberg (2007) menyatakan bahwa nikotin memiliki dampak negatif yaitu dapat menekan konsumsi pakan umpan atau nafsu makan berkurang.
Perubahan Tingkah Laku Tikus
Gambar 6. Diagram pengamatan perubahan tingkah laku tikus sawah
Keterangan : A (masuk kedalam bumbung); B (kurang nafsu makan); C (tidak aktif bergerak); D (kelopak mata menurun); E (berjalan sempoyongan); F (mengigit kandang dan tempat makan/minum); G (air seni kuning kemerahan); H (menggigil); I (sukar bernafas)
Berdasarkan hasil pengamatan perilaku tikus sawah (Lampiran5) menunjukkan bahwa tikus sawah pada umumnya tidak langsung mengkonsumsi umpan yang diberikan. Masing-masing perlakuan rodentisida nabati yang dicampurkan kedalam umpan terlebih dulu diamati, dicium lalu kemudian dicicipi. Hal ini membuktikan bahwa tikus sawah bersikap hati-hati terhadap benda atau makanan yang asing baginya (sifat neofobia). Dari pengamatan juga diketahui bahwa segala aktifitas tikus dilakukan pada malam hari. Hal ini sesuai dengan literatur Widjanarko et al(2009) yang mengatakan bahwa tikus sawah merupakan hewan nokturnal (beraktivitas pada malam hari). Aktivitas rutin harian dimulai senja hari hingga menjelang fajar. Selain itu tikus sawah mempunyai sifat neofobia yaitu takut akan hal-hal baru. Sifat ini menyebabkan tikus sawah jera umpan bila tidak didahului umpan pendahuluan.
Berdasarkan diagram diatas perubahan tingkah laku tikus yang paling
tinggi adalah masuk kedalam bumbung dan menggigit kandang serta tempat makan/minum. Hal itu disebabkan kandungan senyawa kimia yang terdapat pada rodentisida nabati yang diaplikasi sudah bekerja didalam tubuh tikus. Masing- masing bahan nabati memiliki senyawa yang bersifat antifeedant sehingga menurunkan nafsu makan tikus dan berpengaruh pada pergerakan tikus. Selain itu kandungan alkaloida dalam umbi gadung seperti dioscin juga berpengaruh terhadap mortalitas tikus yang menampakkan gelaja perubahan tingkah laku sebelum kematian tikus.Posmaningsih et al. (2014) menyatakan bahwa perubahan perilaku tikus dimulai dari kurang lincah, malas sampai diam tidak bergerak. Perubahan ini diakibatkan umbi gadung bersifat antifeedant sehingga menurunkan nafsu makan tikus dan membuat tikus tidak dapat bergerak lincah. Selain itu menurut Koswara (2011) menyatakan bahwa dalam umbi gadung terkandung senyawa alkaloid yang bersifat racun berupa dioscin yang dapat membunuh tikus padakonsentrasi tertentu dan disertai dengan gejala tertentu.
Berdasarkan diagram diatas dapat dilihat bahwa perubahan tingkah laku tikus yang paling rendah yaitu menggigil. Perubahan tingkah laku menggigil yang tampak selama berlangsungnya pengamatan hanya terdapat pada perlakuan P1 (umbi gadung) seperti pada Lampiran 5. Sesuai dengan penelitian Posmaningsih et al. (2014) bahan aktif dari rodentisida kronis bekerja dalam tubuh tikus dengan
Mortalitas
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran6.) menunjukkan bahwa pengaruh pengujian beberapa rodentisida nabati terhadap tingkat mortalitas Rattus. argentiventer Robb & Kloss dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Pengaruh pengujian beberapa rodentisida nabati terhadapmortalitas tikus sawah %
Keterangan: Angka yang tertera diatas yang diikuti oleh notasi yang berbedamenunjukkan berbeda nyata pada uji jarak duncan taraf 5 %.P0 (Kontrol); P1 (Umbi gadung); P2 (Daun tembakau); P3 (Biji jarak); P4 (Babadotan).
Tabel 3.menunjukkan bahwa adanya pengaruh rodentisida nabati terhadap persentase mortalitas tikus sawah pada perlakuan P1 (Umbi gadung), P2 (Daun tembakau), P3 (Biji jarak), P4 (Babadotan). Tabel 3. menunjukkan bahwa rodentisida nabati pada perlakuan P1 (Umbi gadung) berbeda nyata dengan P2 (Daun tembakau), P3 (Biji jarak), P4 (Babadotan) pada 8 sampai 14 HSA dengan kisaran mortalitas terendah 0-12,5% dan kisaran mortalitas tertinggi 25-100%. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan P1 (Umbi gadung) merupakan rodentisida nabati terbaik.
Tabel 3.Menunjukkan persentase mortalitas tertinggi terdapat pada perlakuan P1 (umbi gadung) pada 13-14 HSAyaitu 100 %. Dari tabel dapat disimpulkan bahwa tingkat efektivitas umbi gadung sebagai rodentisida nabati efektif. Tingkat efektivitas umbi gadung sebagai rodentisida nabati karena
Perlakuan % Mortalitas Tikus Sawah setelah aplikasi (HSA)
kandungan bahan kimia yang terdapat didalam umbi gadung berupa senyawa sianida yang sangat beracun. Koswara (2011) menyatakan bahwa dari umbi gadung segar bisa menghasilkan sekitar 400 mg sianida per kilogram. Sianida didalam tubuh tikus menyerang sistem pernapasan dan sistem susunan saraf pusat, keracunan tersebut ditandai dengan peningkatan frekuensi pernapasan, nyeri kepala, sesak napas, perubahan perilaku seperti cemas, tanda akhir sebagai ciri adanya penekanan terhadap susunan saraf pusat, kejang-kejang dan kematian. Selain itu Posmanigsih et al (2014) menyebutkan dalam literaturnya bahwa hasil rodentisida kadar 30% adalah yang paling efektif. Dhamayanti (2010) menyatakan bahwa kandungan kimia berupa dioscorine pada umbi gadung berpotensi mengakibatkan muntah darah, sukar bernafas dan kematian.
Tabel 3. menunjukkan persentase mortalitas yang paling rendah terdapat pada perlakuan P3(biji jarak) yaitu 25%.Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa perlakuan penambahan biji jarak tidak efektif untuk membunuh tikus. Hal ini disebabkan kandungan racun pada biji jarakberupa ricin lebih berpotensi sebagai anfertilitas. Hal ini sesuai dengan literatur Istriyati dan Febri (2008) yang menyatakan bahwa terdapat banyak sumber nabati yang bersifat anfertilitas diantaranya adalah biji jarak. Selain itu menurut Sandhyakumari et al (2003) menyatakan bahwa biji jarak adapat menyebabkan penurunana jumlah spermatozoa tikus, kelainan gerak, dan morfologi spermatozoa serta penurunan hormon testosteron.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Perubahan bobot badan tikus selama 6 HSA pada perlakuan P0 (kontrol) tidak berbeda nyata pada masing-masing perlakuan.
2. Tingkat konsumsi pakan umpan berbeda nyata pada perlakuan P0 (kontrol), P1 (umbi gadung), P2 (daun tembakau), P3 (biji jarak), P4 (babadotan).
3. Perubahan tingkah laku tikus selama 6 HSA tidak berbeda nyata pada masing-masing perlakuan.
4. Persentase mortalitas tikus berbeda nyata pada masing-masing perlakuanpada 8-14 HSA dan mortalitas paling tinggi yaitu pada perlakuan P1 (umbi gadung) 100 % dan terendah pada perlakuan P3 (biji jarak) 25%. Saran
TINJAUAN PUSTAKA
Morfologi dan Taksonomi Tikus Sawah (Rattus argentiventer)
Kedudukan tikus sawah dalam klasifikasi binatang menurut Murakami,et al. (1992) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Kelas : Mammalia Ordo : Rodentia famili : Muridae Genus : Rattus
Spesies : Rattus argentiventer (Robb and Kloss).
Biologi dan Ekologi Tikus Sawah
Tikus betina mempunyai puting susu berjumlah dua belas buah. Ukuran dan berat badan tikus jantan dan betina tidak terdapat perbedaan yang mencolok. Tikus jantan dewasa lebih mudah dikenali dengan melihat perkembangan testisnya. Tikus dapat menjadi dewasa dan siap kawin setelah mencapai umur 5-9 minggu (Sudarmaji, et al. 2007). Tikus betina bunting selama 21 hari, tikus mampu bunting dan menyusui dalam waktu bersamaan dan tikus tersebut kawin lagi dalam waktu 48 jam setelah melahirkan (Sudarmaji, 2004).
Gambar 1. Siklus hidup tikus sawah (Rattus argentiventer) Sumber : B2PTP, 2011
Bagian punggung tikus sawah berwarna cokelat muda bercak hitam, perut dan dada berwarna putih, panjang kepala dengan badan 130-210 mm, panjang ekor 120-200 mm dan tungkai 34-43 mm. Jumlah puting susu betina 12 buah, 3pasang di dada dan 3 pasang diperut. Kepadatan populasi tikus berkaitan
banyak pada setiap kebuntingan. Masa umur R.argentiventerpada saatdewasa adalah 68 hari, dan bagi betina masa bunting selama 20-22 hari.
Jumlah embrio yang dihasilkan oleh induk tikus betina bervariasi pada setiap periode kebuntingan. Terdapat kecenderungan menurunnya jumlah embrio setelah periode kebuntingan pertama. Jumlah embrio tertinggi dihasilkan oleh induk betina yang bunting pada periode stadium awal padi bunting sampai pengisian malai (bunting pertama) dengan rata-rata jumlah embrio 12,83 ± 0,8 embrio, pada kebuntingan kedua (padi matang) 11,49±1,1 embrio dan pada kebuntingan ketiga (panen/bera awal) 7,80±1,0 embrio (Sudarmajiet al.,2007).
Habitat merupakan salah satu faktor lingkungan yang menjadi daya dukung perkembangan populasi tikus sawah. Tersedianya habitat yang memadai akan menguntungkan tikus untuk mendapatkan tempat hidup dan tempat berkembangbiak dengan baik (Singleton et al., 2003). Tikus sawah termasuk binatang yang aktif pada malam hari (nokturnal). Pada siang hari tikus berlindung didalam sarang dengan membuat liang didalam tanah atau disemak-semak. Pada siang hari tikus lebih banyak berada diluar daerah pertanaman padi yaitu ditanggul irigasi dan daerah dekat perkampungan (Sudarmaji dan Rahmini, 2002). Hadi (2006) melaporkan, tikus sawah pada siang hari 82% tinggal didaerah pematang dan sebaliknya pada malam hari 95% aktif ditengah pertanaman padi. (Brown et al., 2001) juga melaporkan tidak terdapat perbedaan nyata daya jelajah tikus sawah dihabitatnya antara tikus jantan dan betina. Rata-rata daya jelajah tikus jantan adalah 3,01 ha dan tikus betina 1,97 ha.
tadah hujan/lahan kering, maupun lahan rawa (Begon, 2003). Tikus memilih sarang terutama pada habitat yang memberikan perlindungan dan aman dari gangguan predator serta dekat dengan sumber pakan dan air. Sarang tikus berfungsi sebagai tempat berlindung, memelihara anak dan untuk menimbun pakan.Murakami et al. (1992) setelah pertumbuhan tanaman padi mencapai stadium generatif, konstruksi sarang tikus menjadi lebih dalam, panjang dan bercabang-cabang seta mempunyai pintu keluar lebih dari satu pintu. Pada kondisi tersebut tikus mempersiapkan diri untuk melahirkan anak-anaknya.
Tanggul irigasi di ekosistem sawah irigasi merupakan habitat penting tikus sawah dan merupakan habitat utama untuk berkembangbiak. Habitat tanggul irigasi dipilih tikus sawah karena apabila terjadi banjir, sarang tikus pada tanggul irigasi tersebut tidak terendam air. Pada umumnya pada umumnya tanggul irigasi dibangun dari tanah berukuran lebar 1-2 meter dengan tinggi lebih dari satu meter (Sudarmaji, et al. 2007).
Gejala Serangan
Kehadiran tikus di daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way), kotoran/feses, lubang aktif, dan gejala serangan.Kehilangan hasil produksi akibat serangan tikus cukup besar, karena menyerang tanaman sejak di persemaian hingga menjelang panen. Potensi perkembangbiakan tikus sangat dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas makanan yang tersedia (Manurung dan Ismunadji, 1998).
merusak titik tumbuh atau memotong pangkal batang serta memakan bulir gabah. Pada kategori serangan berat semua rumpun padi bisa habis dikonsumsi. Hal ini disebabkan pada fase padi bunting, tanaman padi mengeluarkan aroma dan bulir padi belum mengalami proses pengerasan kulit (proses pengerasan fisik) sehingga lebih mudah untuk dikonsumsi, selain itu kandungan karbohidrat yang ada pada padi sedang mengalami fase transisi dari substansi cairan ke bentuk padat, kondisi ini yang paling disukai oleh tikus.
Kerusakan yang ditimbulkan oleh tikus sawah pada tanaman padi terjadi mulai dari persemaian hingga padi menjelang panen. Pada persemaian padi berumur dua hari, satu ekor tikus mampu merusak rata-rata 283 bibit padi dalam satu malam. Pada stadium padi anakan (vegetatif) merusak anakan padi rata-rata 79 batang, dan pada stadium padi bunting 103 batang, serta pada stadium padi bermalai 12 batang per malam (Rochman, 1992). Tikus sawah diketahui lebih suka menyerang tanaman padi yang sedang bunting, sehingga pada umumnya padi stadium bunting akan mengalami kerusakan yang paling besar. Kebutuhan pakan tikus setiap hari hanya seberat kurang lebih 10% dari bobot tubuhnya, sedangkan daya rusaknya terhadap malai padi lima kali lebih besar dari bobot malai padi yang dikonsumsi (Sudarmaji dan Anggara, 2006).
Pengendalian Tikus Sawah (Rattus argentiventer Robb and Kloss)
Berbagai teknik pengendalian telah dilakukan oleh masyarakat petani seperti kultur teknis, sanitasi, maupun secara fisik dan biologis. Namun teknik-teknik pengendalian tersebut tidak selalu memberikan pengaruh yang besar terhadap menurunnya populasi dari hama tersebut. Begitu pula halnya dengan pengendalian kimiawi yang menggunakan bahan-bahan kimia baik berupa umpan beracun, bahan fumigan, penolak dan penarik maupun pemandul (Pakki et al., 2009).
Sanitasi dan manipulasi habitat bertujuan untuk menjadikan lingkungan sawah menjadi tidak menguntungkan bagi kehidupan dan perkembangbiakan tikus. Kegiatan sanitasi antara lain melakukan pembersihan tanaman perdu dan gulma pada sekitar pematang sawah, tanggul saluran irigasi dan jalan sawah, karena tikus tidak akan nyaman pada kondisi yang bersih. Tikus sawah pada umumnya menyukai habitat pematang dan tanggul sawah yang tinggi dan lebar, maka dari itu pematang sawah dianjurkan dibuat rendah dengan tinggi kurang dari 30cm (Sudarmaji, 2004).
Pengemposan sarang tikus hanya berpengaruh sebagian saja karena hanya tikus yang masih tinggal disarangnya saja yang mati. Pengemposan tidak hanya akan membunuh tikus dewasa tetapi juga anak-anak tikus (Baco, 2011).
Penggunaan perangkap merupakan metode pengendalian fisik mekanis terhadap tikus yang paling tua digunakan. Dalam aplikasinya, metode ini merupakan cara yang efektif, aman, dan ekonomis karena perangkap dapat digunakan beberapa kali dan pemasangan umpan pada perangkap dapat mengintensifkan jumlah tenaga kerja. Perangkap dapat dikelompokkan menjadi empat jenis yaitu live-trap (perangkap hidup), snap-trap (perangkap yang dapat membunuh tikus), sticky board-trap (perangkap berperekat), dan pit fall-trap (perangkap jatuhan) (Mutiarani, 2009).
Pengendalian secara biologis yaitu pengendalian dengan memanfaatkan musuh alami tikus. Musuh alami tikus yang paling dikenal adalah kucing, anjing, ular, dan burung hantu. Predator ini sangat membantu usaha menjaga tetap rendahnya tingkat populasi tikus. Sayangnya predator berkembang biak jauh lebih lambat dibandingkan tikus. Oleh karena itu predator tidak dapat mengurangi populasi tikus yang tinggi dalam jumlah besar. Predator akan membantu petani menjaga populasi tikus agar tetap rendah. Predator juga mungkin memakan tikus yang keracunan, oleh karena itu diperlukan perhatian besar untuk memusnahkan bangkai tikus dari sawah sesudah pengumpanan guna menghindari keracunan pada predator dan hewan pemakan bangkai (Syamsuddin, 2007).
akan mengganggu metabolisme tikus sehingga menyebabkan tikus keracunan dan mati. Rodentisida dibagi menjadi dua jenis yaitu rodentisida kronis dan akut. Rodentisida kronis atau antikoagulan merupakan racun yang bekerja lambat, gejala keracunan pada hewan sasaran akan terlihat dalam waktu yang cukup lama yaitu 24 jam atau lebih. Rodentisida akut merupakan racun yang bekerja dengan cepat dan dapat menyebabkan kematian tikus lebih cepat dibandingkan rodentisida kronis. Gejala keracunan hewan sasaran akan terlihat dalam waktuyang relatif singkat yaitu kurang dari 24 jam bahkan dalam waktu beberapa jam saja (Syamsuddin, 2007).
Alternatif pengendalian
Dalam upaya mengurangi dampak negatif dari penggunaan bahan kimiawi untuk mengendalikan tikus, maka perlu dicari alternatif-alternatif pengendalian yang lainnya. Penggunaan bahan-bahan yang tidak disukai oleh tikus atau penggunaan bahan-bahan yang bersifat toksik bagi tubuh racunmerupakan salah satu cara pengendalian tikus yang relatif lebih aman.
Terdapat beberapa jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan dasar rodentisida seperti serai (Cymbopogon nardus), cengkeh (Syzygium aromaticum), akar tuba (Deris eliptica), gadung (Dioscorea hispida), tembakau
(Nicotiana tabacum), Sirsak (Annona muricata), jengkol (Archidendron pauciflorum), mengkudu (Morinda citrifolia), biji jarak (Jathropha curcas),
babadotan (Ageratum conyzoides) dan lainnya (PUSLITBANGBUN, 2012). Umbi Gadung (Dioscorea hispida L.)
Gadung (Dioscorea hispida) merupakan tumbuhan perambat, berumur menahun (perenial), panjang bisa mencapai 10 m. Batang berkayu, silindris, membelit, warna hijau, bagian dalam solid, permukaan halus, berduri. Daun majemuk, bertangkai, beranak daun tiga (trifoliolatus), warna hijau, panjang 20 – 25cm, lebar 1 - 12 cm, helaian daun tipis lemas, bentuk lonjong, ujung meruncing (acuminatus), pangkal tumpul (obtusus), tepi rata, pertulangan melengkung (dichotomous), permukaan kasap (scaber). Bunga majemuk, bentuk bulir (spica),muncul dari ketiak daun (axillaris). Buah lonjong, panjang kira-kira 1 cm. Akar serabut.
Umbi gadung mengandung bahan yang mempunyai efek penekan kelahiran (aborsi atau kontrasepsi) yang mengandung steroid dan efek penekan populasi yang mengandung alkaloid. Posmaningsih, et al (2014) mendapatkan hasil bahwa rodentisida kadar 30 % adalah yang paling efektif. Selain itu umbi gadung bersifat antifeedant sehingga menurunkan nafsu makan tikus dan membuat tikus tidak dapat bergerak lincah.
Dengan penggunaan umpan gadung dengan dosis yang kurang atau kebal dosis (sub-lethal) meskipun tidak sampai membunuh tetapi dapat menyebabkan kemandulan, sehingga secara tidak langsung dapat menekan populasi tikus. Keunggulan rodentisida nabati yaitu murah dan mudah dalam proses pembuatan, aman terhadap lingkungan, serta sulit menimbulkan resistensi pada tikus, namun memiliki kelemahan juga yaitu daya kerja relatif lambat, kurang praktis serta tidak tahan simpan. Bahan aktif dari rodentisida kronis bekerja dalam tubuh tikus dengan lambat sehingga tikus tidak langsung mati ditempat. Bahan tambahan yang digunakan pada umpan dapat berasal dari olahan hewan atau tumbuhan. Bahan baku penyedap atau penarik pada umpan harus mudah didapat dan mudah dibuat. Bahan penyedap dalam umpan dapat meningkatkan kesempatan tikus menemukan umpan dan makan banyak (Posmaningsihet al., 2014).
Tembakau (Nicotiana tabacum)
Tembakau merupakan tanaman semusim yang berbentuk perdu, merupakan anggota dari famili Solanaceae. Tingginya dapat mencapai 2 m. Batangnya berkayu, bulat berbulu dengan diameter sekitar 2 cm dan berwarna hijau. Daunnya tunggal, berbulu, bulat telur, tepinya rata, ujung runcing, pangkalnya tumpul. Panjang daun antara 20-50 cm dan lebarnya 5-30 cm. Bunganya majemuk dan tumbuh di ujung batang. Kelopak bunga berbulu, pangkal berlekatan dan ujungnya terbagi lima. Buah bulat telur, bewarna hijau ketika masih muda dan bewarna coklat dan memiliki akar tunggang. Bagian tumbuhan yang digunakan adalah daun dan batangnya. Batang dan sisa-sisa daun yang tidak terpakai mengandung bahan aktif yangsangat tinggi, yaitu nikotin senyawa organik yang sangat spesifik(PUSLITBANGBUN, 2012).
Nikotin pada tembakau dapat bersifat repelent (penolak serangga), fungisida, akarisida, dan rodentisida(PUSLITBANGBUN, 2012).Bagian tanaman pada tembakau yang dapat digunakan yaitu bunga, buah, biji, kulit batang, daun dan akar (Rachmawati, 2013). Mekanisme kerja pestisida dengan bahan aktif tembakau antara lain sebagai repellent, sebagai antifeedant, dapat mengganggu proses pencernaan dan mengakibatkan kemandulan(Indrarosa, 2013).
sangat cepat. Alkaloid nikotin, sulfat nikotin dan kandungan nikotin lainnya dapat digunakan sebagai racun kontak, fumigan dan racun perut (Hasanah, et al, 2012).
Kardinan (2012) menambahkan bahwa nikotin bekerja sebagai fumigan yang akan menguap dan menembus secara langsung ke integumen. Secara umum gejala-gejala keracunan nikotin yaitu rangsangan, kejang-kejang, cacat dan kematian (Matsumura, 1975). Filtrat daun tembakau mengandung senyawa aktif seperti terpenoid yang bersifat antifeedantyang dapat menghambat aktivitas makan serta bersifat sebagai repellent (Anggriani, et al (2013) ; Mayanti, et al (2006). Senyawa ini berperan sebagai racun saraf dan racun perut yang dapat mematikan jika masuk ke dalam saluran pencernaan melalui makanan yang mereka makan, kemudian diserap oleh saluran pencernaan tengah (Junar, 2000); Endah dan Heri (2000).
Pestisida nabati yang dihasilkan dari tanaman tembakau dilaporkan yang paling toksik dibanding dari jenis tanaman lainnya dan memiliki nilai LD-50antara 50 dan 60 ppm. Pestisida nabati ini merupakan racun saraf yang bekerja cepat dan bekerja secara kontak.
Biji jarak (Jathropha curcas)
Jarak pagar termasuk kedalam famili Euphorbiaceae, satu famili dengan karet dan ubi kayu, sehingga tanaman ini dapat setinggi ubi kayu (+ 2 m). Batang berkayu, silindris dan bila terluka mengeluarkan getah, percabangan tidak teratur. Daunnya tunggal berlekuk bersudut 3-5, tulang menjari dengan 5-7 tulang utama. Permukaan daun bagian atas dan bawah bewarna hijau, tapi bagian bawah lebih pucat. Bunga tersusun dalam rangkaian (influorescen), biasanya terdiri atas 100 bunga atau lebih. Buah sedikit berdaging bewarna hijau muda, kemudian kuning lalu mengering dan pecah (PUSLITBANGBUN, 2012).
Selain daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan, tikus sawah memiliki kemampuan reproduksi yang tinggi dalam waktu singkat, sehingga populasi tikus sawah dapat meningkat dengan cepat Untuk mengatasi hal ini, diperlukan suatu teknik pengendalian, dengan mempengaruhi tingkat fertilitasnya. Biji jarak (Jathropha curcasL.) diduga mempunyai efek antifertilitas yang diharapkan dapat mengurangi jumlah populasi tikus sawah.
Biji jarak mengandung senyawa yang bersifat racun. Pengaruh racun tersebut perlu diuji untuk rnengetahui daya bunuh dan antifertilitas terhadap tikus sawah. Menurut Yong (2000), senyawa ricin yang dicampur dalam umpan terbukti untuk menanggulangi hama tikus. Berdasarkan hal tersebut dan dari hasil penelitian Istriyati dan Febri (2008), maka diuji efek biji jarak terhadap struktur histologis testis tikus.
Biji jarak mengandung 40-50% minyak jarak dan juga mengandung alkaloida risinin sementara daunnya mengandung saponin dan senyawa-senyawa flavonoida. Keracunan ricin dapat melalui pernapasan, pencernaan dan injeksi. Risin merupakan suatu protein enzim yang memiliki 2 rantai yaitu rantai A dan rantai B. Rantai A yang bersifat toksik akan menginaktivasi ribosom yang mengakibatkan kematian pada sel (Hadi, 2006).
Biji jarak memiliki mekanisme kerja sebagai racun perut pada tikus melalui proses memakan hingga masuk kedalam organ pencernaan hingga disebarkan oleh tubuh tikus ataupun serangga ke sistem saraf ( Djojosumarto, 2008). Sedangkan Lisdianita (2010) menyatakan bahwa Ekstrak biji dan daun jarak efektif mengendalikan tikus.
Gambar 4. Tanaman jarak (Jathropha curcas)
Babadotan (Ageratum conyzoidesL.)
Ageratum conyzoides (babadotan) adalah sejenistanaman perdu yang
tumbuh di daerah basah danberawa. Tanaman ini termasuk ke dalam famili Asteraceae dan banyak dijumpai tumbuh di berbagaidaerah di Indonesia. Secara umum tanaman inimemiliki rasa yang pahit dan mengeluarkan aromayang kurang sedap sehingga kurang diminati olehternak sebagai pakan hijauan .
Sekelompok tikusWistar diberi diet yang mengandung tanamanbabadotan sebesar 10-30% setiap hari secara laboratorikmenunjukkan perubahan pada jaringan hatinya secara konsisten (Sani andStoltz, 1993). Perubahanhistopatologis umumnya terlihat berupa anisokariosissel hati, megalositosis dan proliferasi sel saluranempedu. Analisis yang dilakukan Sani et al., (1998) mencoba untuk mengidentifikasisenyawa toksik daun babadotan secara kimiawi danmelaporkan, bahwa tanaman tersebut mengandungsenyawa pirolizidin alkaloida dengan struktur kimiaberupa lycopsamin dan echinatin.
Semua kegunaan atau khasiat dari babadotan dikarenakan kandungan senyawa aktif yang terdapat dibagian tubuhnya. A. conyzoides mengandung banyak komposisi senyawa aktif diantaranya flavonoid, fenolik, alkaloid, kumarin, minyak esensial krom, benzofuran, saponin, steroid, terpenoid dan tanin (Roder and Wiedenfeld, 1991).
PENDAHULUAN Latar Belakang
Tikus merupakan salah satu hama penting pada tanaman padi. Tikus sawah dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman padi mulai dari saat persemaian padi hingga padi siap dipanen, dan bahkan menyerang padi di dalam gudang penyimpanan. Menurut data Badan Pusat Statistik (2015) produksi padi tahun 2014 sebanyak 70,83 juta ton gabah kering giling atau mengalami penurunan sebesar 0,45 juta ton (0,63%) dibandingkan tahun 2013. Penurunan produksi padi tahun 2014 terjadi di Pulau Jawa sebesar 0,83 juta ton, sedangkan produksi padi di luar Pulau Jawa mengalami kenaikan sebanyak 0,39 juta ton dengan intensitas serangan 18-20 % . Pengendalian hama tikus pada tanaman padi sampai saat ini keberhasilannya masih belum konsisten, dan belum semua petani di berbagai Provinsi di Indonesia memahami cara pengendalian tikus yang benar (B2PTP, 2011).
Tikus merupakan hama yang relatif sulit dikendalikan karena memiliki kemampuan adaptasi, mobilitas, dan kemampuan berkembang biak yang pesat serta daya rusak yang tinggi. Potensi perkembangbiakan tikus sangat dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas makanan yang tersedia (Priyambodo 1995).
sasaran. Penggunaan insektisida kimia yang berlebihan dan tidak bijak akan menimbulkan kerusakan yang signifikan pada lingkungan Oleh karena itu pemanfaatan tumbuhan sebagai pengendali hama merupakan alternatif pengendalian hama yang bijak dan senantiasa memperhatikan aspek ekologi (Jumar dan Helda, 2003)
Penggunaan bahan-bahan nabati yang banyak tersedia di alam, mudah didapat dan bersifat tidak merusak alam menjadi faktor pendukung utama penggunaan pestisida nabati. Pestisida nabati bersifat mudah terdegradasi di alam sehingga residunya pada tanaman dan lingkungan tidak signifikan. Bahan tanaman yang disukai atau tidak disukai oleh tikus, baik yang mempengaruhi indera penciuman ataupun yang bersifat toksik bagi tubuh tikus. Penggunaan bahan yang tidak disukai tikus dapat mengurangi daya bertahan tikus karena aktivitas makan, minum, mencari pasangan, serta reproduksi terganggu (Priyambodo, 1995). Selain itu bahan yang bersifat toksik bagi tubuh tikus Secara langsung dapat mengganggu kemampuan bertahan hidup tikus dan menyebabkan kematian. Beberapa jenis tumbuhan yang memiliki potensi untuk menjadi pestisida nabati diantaranya seperti umbi gadung (Dioscorea hispida), Tembakau (Nicotiana tabacum ), biji jarak (Jathropha curcas) dan babadotan (Ageratum conyzoides) ( Purwanto, 2009).
menggunakan gadung racun yang dapat menyebabkan tikus mandul. Putranto (2012) menyatakan bahwa Umbi gadung berpotensi cukup besar untuk menjadi rodentisida nabati, karena umbi gadung memiliki kandungan senyawa kimia yang dapat membunuh tikus.
Pada tanaman tembakau (Nicotiana tabacum) nikotin terutama terdapat didalam daunnya (Gloria, 2008). Nikotin murni termasuk senyawa yang berbahaya bagi manusia dan binatang, karna dapat mematikan hewan-hewan kecil seperti ulat, serangga dan juga tikus.
Biji jarak (Jathropha curcas) sumber nabati yang bersifat anfertilitas yang mengandung bahan aktif risin. Biji jarak dapat menyebabkan penurunan jumlah spermatozoa tikus, kelainan gerakan dan morfologi serta penurunan testosteron,
dengan demikian daat digunakan untuk penurunan populasi tikus (Istriyati dan Febri, 2008).
Tujuan Penelitian
Untuk menguji pengaruh pemberian beberapa rodentisida nabati terhadap tikus sawah (Rattus argentiventer Robb and Kloss) di laboratorium.
Hipotesis Penelitian
Ada pengaruh pemberian rodentisida nabati Umbi gadung (Dioscorea hispida), tembakau (Nicotiana tabacum), biji jarak (Jathropha curcas ), babadotan (Ageratum conyzoides ) terhadap mortalitas tikus
sawah (Rattus argentiventer Robb and Kloss) di laboratorium. Kegunaan Penelitian
- Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
ABSTRACT
WELISARI PURBA : Efektivity some Plants Rodenticides to Rat(Rattus argentiventerRobb and Kloss) at Laboratory, supervised by Suzanna Fitriany Sitepu and Lahmuddin Lubis. Rat (Rattus argentiventer Robb and Kloss) is one of the important plant pests in rice fields. Damage caused by rats attack on rice crops in Indonesia reached a loss of 15-20% every year. This research was conducted to testing there is influence addition some plants rodenticides to mortality of rat(R.argentiventer) at Laboratory.The experiment was conducted at Laboratory of Vertebrate Pest Control Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan, Medan from March to May 2016. This research was designed by non-factorial randomized block with 5 treatments is control, Dioscorea hispida, Nicotiana tabacum, Jatropha curcas, Ageratum conyzoides in 30%and each of which in repeated four times.Observations included the weight of rat, consumed of bait,change of behaviour and persentage of mortality. The results showed that the highest reduction weight of rat was at Nicotiana tabacum (3,37gr) and the lowest was at Ageratum conyzoides (0,37gr). The highest consumed level of bait was at Dioscorea hispida (8,22gr) dan the lowest was atNicotiana tabacum (1,07gr). The highest change of behaviour was Dioscorea hispida (36) and the lowest was Jatropha curcas (18). The highest mortality was at Dioscorea hispida (100%) dan lowest was at Jatropha curcas (25%).
ABSTRAK
WELISARI PURBA : Efektivitas Beberapa Rodentisida Nabati terhadap Tikus
Sawah (Rattus argentiventer Robb and Kloss)di
LaboratoriumdibimbingolehSuzanna Fitriany SitepudanLahmuddin Lubis.Tikus sawah(Rattus argentiventerRobb and Kloss)merupakan salah satu hama penting pada tanaman padi. Kerusakan akibatserangan tikus pada tanaman padi di Indonesia mencapai kerugian sebesar 15-20%setiap tahunnya.Tujuan penelitian ini untuk menguji adanya pengaruh pemberian beberapa rodentisida nabati terhadap mortalitas tikus sawah (Rattus argentiventerRobb and Kloss) di laboratorium.Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengendalian Hama Vertebrata (LPHV)Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (B2P2TP), Medan dari bulan Maret sampai Mei 2016.Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan AcakKelompok (RAK) non faktorial dengan 5 perlakuan yaitu perlakuankontrol,Dioscorea hispida, Nicotiana tabacum, Jatropha curcas, Ageratum conyzoides dengan konsentrasi 30% yang masing-masing diulang sebanyak empat kali.Pengamatan meliputi bobot badan tikus, tingkat konsumsi pakan umpan, perubahan tingkah laku tikus dan persentase mortalitas tikus. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa penurunan bobot tubuh tertinggi teerdapat pada Nicotiana tabacum (3,37gr) dan terendah Ageratum conyzoides (0,37gr). Tingkat konsumsi umpan tertinggi terdapat pada Dioscorea hispida (8,22gr) dan terendah Nicotiana tabacum (1,07gr). Perubahan tingkah laku tertinggi terdapat pada Dioscorea hispida (36) dan terendah Jatropha curcas (18). Persentase mortalitas tertinggi terdapat pada Dioscorea hispida (100%) dan terendah Jatropha curcas (25%).
EFEKTIVITAS BEBERAPA RODENTISIDA NABATI TERHADAP TIKUS SAWAH (Rattus argentiventer Robb and Kloss)
DI LABORATORIUM
SKRIPSI
OLEH : WELISARI PURBA
110301105
AGROEKOTEKNOLOGI
HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
EFEKTIVITAS BEBERAPA RODENTISIDA NABATI TERHADAP TIKUS SAWAH (Rattus argentiventer Robb and Kloss)
DI LABORATORIUM
SKRIPSI
OLEH : WELISARI PURBA
110301105
AGROEKOTEKNOLOGI
HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utara, Medan
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
Judul Penelitian : Efektivitas Beberapa Rodentisida Nabati terhadap Tikus Sawah (Rattus argentiventer Robb and Kloss) di Laboratorium Nama : Welisari Purba
NIM : 110301105 Program Studi : Agroekoteknologi
Minat : Hama dan Penyakit Tumbuhan
Disetujui Oleh Komisi Pembimbing
( Ir. Suzanna F. Sitepu, M.Si) (Ir. Lahmuddin Lubis, M.P.
Ketua Anggota
)
Mengetahui,
(Prof. Dr. Ir.T Sabrina.M. Agr. Sc. Ketua Program studi Agroekoteknologi
ABSTRACT
WELISARI PURBA : Efektivity some Plants Rodenticides to Rat(Rattus argentiventerRobb and Kloss) at Laboratory, supervised by Suzanna Fitriany Sitepu and Lahmuddin Lubis. Rat (Rattus argentiventer Robb and Kloss) is one of the important plant pests in rice fields. Damage caused by rats attack on rice crops in Indonesia reached a loss of 15-20% every year. This research was conducted to testing there is influence addition some plants rodenticides to mortality of rat(R.argentiventer) at Laboratory.The experiment was conducted at Laboratory of Vertebrate Pest Control Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan, Medan from March to May 2016. This research was designed by non-factorial randomized block with 5 treatments is control, Dioscorea hispida, Nicotiana tabacum, Jatropha curcas, Ageratum conyzoides in 30%and each of which in repeated four times.Observations included the weight of rat, consumed of bait,change of behaviour and persentage of mortality. The results showed that the highest reduction weight of rat was at Nicotiana tabacum (3,37gr) and the lowest was at Ageratum conyzoides (0,37gr). The highest consumed level of bait was at Dioscorea hispida (8,22gr) dan the lowest was atNicotiana tabacum (1,07gr). The highest change of behaviour was Dioscorea hispida (36) and the lowest was Jatropha curcas (18). The highest mortality was at Dioscorea hispida (100%) dan lowest was at Jatropha curcas (25%).
ABSTRAK
WELISARI PURBA : Efektivitas Beberapa Rodentisida Nabati terhadap Tikus
Sawah (Rattus argentiventer Robb and Kloss)di
LaboratoriumdibimbingolehSuzanna Fitriany SitepudanLahmuddin Lubis.Tikus sawah(Rattus argentiventerRobb and Kloss)merupakan salah satu hama penting pada tanaman padi. Kerusakan akibatserangan tikus pada tanaman padi di Indonesia mencapai kerugian sebesar 15-20%setiap tahunnya.Tujuan penelitian ini untuk menguji adanya pengaruh pemberian beberapa rodentisida nabati terhadap mortalitas tikus sawah (Rattus argentiventerRobb and Kloss) di laboratorium.Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengendalian Hama Vertebrata (LPHV)Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (B2P2TP), Medan dari bulan Maret sampai Mei 2016.Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan AcakKelompok (RAK) non faktorial dengan 5 perlakuan yaitu perlakuankontrol,Dioscorea hispida, Nicotiana tabacum, Jatropha curcas, Ageratum conyzoides dengan konsentrasi 30% yang masing-masing diulang sebanyak empat kali.Pengamatan meliputi bobot badan tikus, tingkat konsumsi pakan umpan, perubahan tingkah laku tikus dan persentase mortalitas tikus. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa penurunan bobot tubuh tertinggi teerdapat pada Nicotiana tabacum (3,37gr) dan terendah Ageratum conyzoides (0,37gr). Tingkat konsumsi umpan tertinggi terdapat pada Dioscorea hispida (8,22gr) dan terendah Nicotiana tabacum (1,07gr). Perubahan tingkah laku tertinggi terdapat pada Dioscorea hispida (36) dan terendah Jatropha curcas (18). Persentase mortalitas tertinggi terdapat pada Dioscorea hispida (100%) dan terendah Jatropha curcas (25%).
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Onanhandis, Kecamatan Andam Dewi Kabupaten Tapanuli Tengah pada tanggal 04 Oktober 1993 dari Ayah Johor Purba dan Ibu Esdelina Hutapea. Penulis merupakan anak kelima dari lima bersaudara.
Pada tahun 2005 penulis lulus dari SD Negeri 153036 Bondar Sihudon II. Pada tahun 2008 penulis lulus dari SMP Negeri 1 Andam Dewi. Pada tahun 2011 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Andam Dewi dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jurusan Agroekoteknologi, minat Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Agroekoteknologi (HIMAGROTEK), pernah menjadi pengurus dibidang Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) Himpunan Mahasiswa Agroekoteknologi (HIMAGROTEK) T.A 2013/2014, pernah menjadi pengurus pada acara Agroekoteknologi Expo and Student Gathering 2014, pernah menjadi Asisten Dasar Perlindungan Tanaman Sub-Gulma T.A 2014/2015.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karenaatas berkat rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Efektivitas Beberapa Rodentisida Nabati terhadap Tikus Sawah(Rattus argentiventer Robb and Kloss) di Laboratorium”.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtua saya (+) Johor Purba dan Esdelina Hutapea yang telah merawat dan membesarkan saya hingga sampai saat ini, memberikan kasih sayang, semangat dan dorongan moral maupun materiil. Penulis juga mengucapkan terima kasihkepadakomisi pembimbingIr. Suzanna Fitriany Sitepu, M.Si selaku KetuadanIr. Lahmuddin Lubis, M.Pselaku Anggota yang telah memberikan bimbingan, kritik dan masukan berharga dalam penyelesaian skripsi ini.Terima kasih juga kepada bapak Khomeni Abdillah selaku pembimbingdi laboratorium LPHV selama berlangsungnya penelitian.
Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabat saya Ananda Laviendi, Nita Rentina, Sondang Sitanggang,Jonatan Pandiangan, Monica Angela, Weldi Ginting, Arga Malona, Monica Dameyanti,Leslina Purba, Ferdinan Kho, Andre Leo, Susianti dan Anugerah yang tetap setia memberikan waktu dan tenaga dalam penyempurnaan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurnaoleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.
Medan,Januari 2017
DAFTAR ISI
Hal
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 4
Hipotesa Penelitian ... 4
Kegunaan Penelitian ... 4
TINJAUAN PUSTAKA Morfologi dan Taksonomi Tikus ... 5
Biologi dan Ekologi Tikus ... 6
Gejala Serangan ... 8
Pengendalian Tikus ... 10
Alternatif Pengendalian ... 12
Umbi Gadung (Dioscorea hispida L)... 13
Tembakau (Nicotiana tabacum L.) ... 15
Biji jarak (Jathropha curcas L.) ... 17
Babadotan (Ageratum conyzoides L.) ... 19
METODOLOGI PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ... 20
Bahan dan Alat Penelitian. ... 20
Metode Penelitian ... 20
Analisis Data ... 22
Pelaksanaan Penelitian... 22
Penyediaan Tikus Yang Diuji ... 22
Penyediaan Kurungan Percobaan ... 22
Penyediaan Umpan ... 22
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bobot Badan Tikus (gr) ... 27
Tingkat Konsumsi Pakan Umpan(gr)... 29
Perubahan Tingkah Laku Tikus ... 31
Mortalitas Tikus (%) ... 33
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 36
Saran ... 36
DAFTAR TABEL
No Keterangan Hlm
1 Pengaruh pengujian beberapa rodentisida nabati terhadap 26 2
Perubahan bobot badan tikus (R.argentiventer) (gr)
Pengaruh pengujian beberapa rodentisida nabati terhadap 28 3
Tingkat konsumsi pakan umpan (gr)
DAFTAR GAMBAR
No Keterangan Hlm
1 Siklus hidup tikus sawah (Rattus argentiventer) 6 2 Tanaman umbi gadung (Dioscorea hispida L.) 14 3 Tanaman Tembakau(Nicotiana tabacum) 16
4 Tanaman jarak (Jathropha curcas) 18
5 Babadotan (Ageratum conyzoidesL.) 19
DAFTAR LAMPIRAN
No Keterangan Hlm
1 Bagan Penelitian 42
2 Data Suhu dan Kelembaban Laboratorium 43
3 Bobot Badan Tikus (gr) 45
4 Tingkat Konsumsi Pakan umpan (gr) 46
5 Perubahan Tingkah Laku Tikus 52
6 Persentase Mortalitas Tikus (%) 54