Hasil analisis sidik ragam (Lampiran3.) menunjukkan bahwa pengaruh
pengujian beberapa rodentisida nabati terhadap penurunan bobot badan tikus (Rattus argentiventer Robb & Kloss.) disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh pengujian beberapa rodentisida nabati terhadap perubahan bobot badan tikus (Rattusargentiventer) (gr)
Perlakuan 1HSA 6HSA Penurunan bobot tikus (gr) P0 128,87 132,37 +3,5 P1 149,37 148,75 0,62 P2 151,62 148,25 3,37 P3 148,25 146,5 1,75 P4 140,12 139,75 0,37
Keterangan: Angka yang tertera diatas pada tabel tidak berbeda nyata pada uji jarak duncan taraf 5 %.P0 (Kontrol); P1 (Umbi gadung); P2 (Daun tembakau); P3 (Biji jarak); P4 (Babadotan).
Tabel 1. menunjukkan bahwa pemberian beberapa jenis rodentisida nabati tidak berpengaruh nyata terhadap perubahan bobot badan tikus sawah.Tabel 1. menunjukkan bahwa bobot tikus pada perlakuan P0(Kontrol)mengalami kenaikan, sedangkan pada perlakuan P1 (Umbi gadung) tidak konstan, pada perlakuan P2 (Daun tembakau) dan P3 (Biji jarak) bobot badan tikus mengalami penurunan, sedangkan pada perlakuan P4 (Babadotan) bobot tikus tidak konstan (Lampiran 3).
Pada perlakuan P1(umbi gadung) daya konsumsi tikus tidak tetap dilihat dari perubahan bobot badan tikus (Lampiran 3). Hal ini disebabkan umbi gadung memiliki senyawa kimia yang bersifat mengurangi nafsu makan. Hal ini sesuai dari hasil penelitian Posmaningsihet al., (2014) yang menyatakan bahwa umbi gadung bersifat antifeedant sehingga menurunkan nafsu makan tikus dan membuat tikus tidak dapat bergerak lincah. Selain itu bahan aktif dari rodentisida
kronis bekerja dalam tubuh tikus dengan lambat sehingga tikus tidak langsung mati ditempat melainkan secara pelan sehingga berat tubuh tikus dipengaruhi.
Pada perlakuan P2(Daun tembakau) dalam beberapa pengamatan dapat diketahui bahwa bobot badan tikus selalu mengalami penurunan. Potensi tembakau sebagai rodentisida nabati yang menyebabkan penurunan bobot tubuh tikus karena senyawa kimia dan aroma yang dihasilkan daun tembakau sangat khas menyebabkan daya konsumsi tikus terhadap umpan sangat rendah sehingga bobot tikus terus menurun. Menurut Anggrianiet al. (2013) dan Mayantiet al.(2006) tembakau memiliki senyawa terpenoid memiliki rasa yang pahit dan bersifat antifeedant yang dapat menghambat aktivitas makan, terpenoid juga bersifat sebagai penolak (repellent) karena ada aroma menyengat yang tidak disukai oleh tikus.
Pada perlakuan P3(Biji jarak) (Lampiran 3)bobot tikus semakin menurun hal itu disebabkan biji jarak mengandung senyawa racun dan mengandung 40- 50% minyak jarak yang berpotensi sebagai racun pencernaan. Dalam literatur Djojosumarto (2008) dijelaskan bahwa biji jarak memiliki mekanisme kerja sebagai racun perut yang mengganggu proses pencernaan tikus sehingga proses penyerapan makanan didalamtubuh tikus terganggu.
Pada perlakuan P4(Babadotan) (Lampiran 3)bobot badan tikus menurun, hal itu disebabkan pada perlakuan P4(Babadotan)daya makan tikus terganggu karena pada daun babadotan terdapat kandungan senyawa antifeedant yang bersifat mengurangi nafsu makan tikus. Plantus (2008) dijelaskan bahwa daun babadotan mengandung saponin, flavanoid, polifenol, dan senyawa antifeedant yang mampu menyebabkan gangguan aktivitas makan dengan mengurangi nafsu
makan bahkan memblokir kemampuan makan. Tingkat Konsumsi Pakan Umpan (gr)
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran4.) menunjukkan bahwa pengaruh pengujian beberapa rodentisida nabati terhadap tingkat konsumsi pakan umpanRattus argentiventer Robb & Kloss dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Pengaruh pengujian beberapa rodentisida nabati terhadap tingkat konsumsi pakan umpan (gr)
Perlakuan Tingkat Konsumsi Pakan (gr)
1HSA 2HSA 3HSA 4HSA 5HSA 6HSA P0 18,19e 16,63e 29,91e 24,91e 14,41e 16,33e P1 8,22d 7,96d 3,98b 4,4a 2,26a 1,53b P2 4,61b 2,41a 3,32a 4,97c 3,19c 1,07a P3 4,22a 6,92c 5,9d 4,87b 2,93b 2,47c P4 6,68c 6,16b 5,05c 6,63d 3,35d 3,05d Keterangan: Angka yang tertera diatas yang diikuti oleh notasi yang
berbedamenunjukkan berbeda nyata pada uji jarak duncan taraf 5 %.P0 (Kontrol); P1 (Umbi gadung); P2 (Daun tembakau); P3 (Biji jarak); P4 (Babadotan).
Tabel 2. menunjukkan bahwa tingkat konsumsi pakan umpan dengan beberapa rodentisida nabati berbeda nyatadengan perlakuan P0(kontrol)dengan perlakuan P1 (Umbi gadung), P2(Daun tembakau), P3(Biji jarak) dan P4(Babadotan). Hal ini disebabkan pada perlakuan kontrol, komposisi umpan tidak diberikan tambahan racun, sehingga tingkat konsumsi tikus pada umpan tidak mempengaruhi nafsu makan tikus.
Tabel 2. menunjukkan adanya pengaruh rodentisida nabati terhadap konsumsi pakan umpan baik pada perlakuan P0 (kontrol) dengan perlakuan P1 (Umbi gadung), P2 (Daun tembakau), P3(Biji jarak) maupun P4(Babadotan). Tabel 2. menunjukkan bahwa pada perlakuan P1 (Umbi gadung) berbeda nyata dengan P2 (Daun tembakau), P3(Biji jarak) maupun P4(Babadotan).
Tabel 2. menunjukkanbahwa tingkat konsumsi tertinggi pada umpan yang telah diberi racun nabati terdapat pada perlakuan P1 (Umbi gadung) yaitu 8,82 pada 1 HSA dan terendah 1,53 pada 6 HSA. Daya makan umpan yang tinggi pada perlakuan P1 (Umbi gadung) yaitu disebabkan bentuk dan warna umpan yang tidak membuat tikus curiga akan racun pada makanan, selain itu komposisi pada umpan menyebabkan ketertarikan tikus untuk memakan umpan tersebut. Hasil penelitian Posmaningsih, et al (2014) bahwa bahan tambahan yang digunakan pada umpan dapat berasal dari olahan hewan atau tumbuhan. Bahan baku penyedap atau penarik pada umpan harus mudah didapat dan bahan penyedap dalam umpan dapat meningkatkan kesempatan tikus menemukan umpan dan makan banyak.
Tabel 2. dapat dilihat bahwa tingkat konsumsi umpan yang paling rendah yaitu pada perlakuan P2 (daun tembakau) karenaaroma pada umpan tembakau yang sangat khas. Selain itu perilaku makan tikus yang mencium makanan terlebih dahulu sebelum memakannya. Tembakau memiliki potensi sebagai repellent karena aroma pada tembakau tersebut. PUSLITBANGBUN(2012) menyatakan bahwa nikotin pada tembakau dapat bersifat repellent. Grunberg (2007) menyatakan bahwa nikotin memiliki dampak negatif yaitu dapat menekan konsumsi pakan umpan atau nafsu makan berkurang.
Perubahan Tingkah Laku Tikus
Hasil pengamatan (Lampiran 5.) menunjukkan bahwa pengaruh pengujian beberapa rodentisida nabati terhadap perubahan tingkah laku Rattus argentiventer Robb & Kloss dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 6. Diagram pengamatan perubahan tingkah laku tikus sawah
Keterangan : A (masuk kedalam bumbung); B (kurang nafsu makan); C (tidak aktif bergerak); D (kelopak mata menurun); E (berjalan sempoyongan); F (mengigit kandang dan tempat makan/minum); G (air seni kuning kemerahan); H (menggigil); I (sukar bernafas)
Berdasarkan hasil pengamatan perilaku tikus sawah (Lampiran5) menunjukkan bahwa tikus sawah pada umumnya tidak langsung mengkonsumsi umpan yang diberikan. Masing-masing perlakuan rodentisida nabati yang dicampurkan kedalam umpan terlebih dulu diamati, dicium lalu kemudian dicicipi. Hal ini membuktikan bahwa tikus sawah bersikap hati-hati terhadap benda atau makanan yang asing baginya (sifat neofobia). Dari pengamatan juga diketahui bahwa segala aktifitas tikus dilakukan pada malam hari. Hal ini sesuai dengan literatur Widjanarko et al(2009) yang mengatakan bahwa tikus sawah merupakan hewan nokturnal (beraktivitas pada malam hari). Aktivitas rutin harian dimulai senja hari hingga menjelang fajar. Selain itu tikus sawah mempunyai sifat neofobia yaitu takut akan hal-hal baru. Sifat ini menyebabkan tikus sawah jera umpan bila tidak didahului umpan pendahuluan.
Berdasarkan diagram diatas perubahan tingkah laku tikus yang paling
16,94% 13,55% 10,16% 9,32% 6,77% 16,94% 9,32% 3,38% 13,55% 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 A B C D E F G H I
tinggi adalah masuk kedalam bumbung dan menggigit kandang serta tempat makan/minum. Hal itu disebabkan kandungan senyawa kimia yang terdapat pada rodentisida nabati yang diaplikasi sudah bekerja didalam tubuh tikus. Masing- masing bahan nabati memiliki senyawa yang bersifat antifeedant sehingga menurunkan nafsu makan tikus dan berpengaruh pada pergerakan tikus. Selain itu kandungan alkaloida dalam umbi gadung seperti dioscin juga berpengaruh terhadap mortalitas tikus yang menampakkan gelaja perubahan tingkah laku sebelum kematian tikus.Posmaningsih et al. (2014) menyatakan bahwa perubahan perilaku tikus dimulai dari kurang lincah, malas sampai diam tidak bergerak. Perubahan ini diakibatkan umbi gadung bersifat antifeedant sehingga menurunkan nafsu makan tikus dan membuat tikus tidak dapat bergerak lincah. Selain itu menurut Koswara (2011) menyatakan bahwa dalam umbi gadung terkandung senyawa alkaloid yang bersifat racun berupa dioscin yang dapat membunuh tikus padakonsentrasi tertentu dan disertai dengan gejala tertentu.
Berdasarkan diagram diatas dapat dilihat bahwa perubahan tingkah laku tikus yang paling rendah yaitu menggigil. Perubahan tingkah laku menggigil yang tampak selama berlangsungnya pengamatan hanya terdapat pada perlakuan P1 (umbi gadung) seperti pada Lampiran 5. Sesuai dengan penelitian Posmaningsih et al. (2014) bahan aktif dari rodentisida kronis bekerja dalam tubuh tikus dengan lambat sehingga tikus tidak langsung mati ditempat tetapi mengalami beberapa gejala kematian. Koswara (2011) menjelaskan dalam umbi gadung terkandung saponin berupa dioscin yang bersifat racun yang dapat mematikan tikus dengan beberapa gejala tertentu.
Mortalitas
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran6.) menunjukkan bahwa pengaruh pengujian beberapa rodentisida nabati terhadap tingkat mortalitas Rattus. argentiventer Robb & Kloss dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Pengaruh pengujian beberapa rodentisida nabati terhadapmortalitas tikus sawah %
Keterangan: Angka yang tertera diatas yang diikuti oleh notasi yang berbedamenunjukkan berbeda nyata pada uji jarak duncan taraf 5 %.P0 (Kontrol); P1 (Umbi gadung); P2 (Daun tembakau); P3 (Biji jarak); P4 (Babadotan).
Tabel 3.menunjukkan bahwa adanya pengaruh rodentisida nabati terhadap persentase mortalitas tikus sawah pada perlakuan P1 (Umbi gadung), P2 (Daun tembakau), P3 (Biji jarak), P4 (Babadotan). Tabel 3. menunjukkan bahwa rodentisida nabati pada perlakuan P1 (Umbi gadung) berbeda nyata dengan P2 (Daun tembakau), P3 (Biji jarak), P4 (Babadotan) pada 8 sampai 14 HSA dengan kisaran mortalitas terendah 0-12,5% dan kisaran mortalitas tertinggi 25-100%. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan P1 (Umbi gadung) merupakan rodentisida nabati terbaik.
Tabel 3.Menunjukkan persentase mortalitas tertinggi terdapat pada perlakuan P1 (umbi gadung) pada 13-14 HSAyaitu 100 %. Dari tabel dapat disimpulkan bahwa tingkat efektivitas umbi gadung sebagai rodentisida nabati efektif. Tingkat efektivitas umbi gadung sebagai rodentisida nabati karena
Perlakuan % Mortalitas Tikus Sawah setelah aplikasi (HSA)
1-3HSA 4-5HSA 6HSA 7HSA 8-9HSA 10HSA 11HSA 12HSA 13-14HSA
P0 0 0 0 0 0a 0a 0a 0a 0a
P1 0 25,0 62,5 62,5 87,5e 87,5e 100e 100e 100e
P2 0 12,5 25,0 25,0 25,0c 37,5c 37,5c 37,5c 50,0c
P3 0 12,5 12,5 12,5 12,5b 25,0b 25,0b 25,0b 25,0b
kandungan bahan kimia yang terdapat didalam umbi gadung berupa senyawa sianida yang sangat beracun. Koswara (2011) menyatakan bahwa dari umbi gadung segar bisa menghasilkan sekitar 400 mg sianida per kilogram. Sianida didalam tubuh tikus menyerang sistem pernapasan dan sistem susunan saraf pusat, keracunan tersebut ditandai dengan peningkatan frekuensi pernapasan, nyeri kepala, sesak napas, perubahan perilaku seperti cemas, tanda akhir sebagai ciri adanya penekanan terhadap susunan saraf pusat, kejang-kejang dan kematian. Selain itu Posmanigsih et al (2014) menyebutkan dalam literaturnya bahwa hasil rodentisida kadar 30% adalah yang paling efektif. Dhamayanti (2010) menyatakan bahwa kandungan kimia berupa dioscorine pada umbi gadung berpotensi mengakibatkan muntah darah, sukar bernafas dan kematian.
Tabel 3. menunjukkan persentase mortalitas yang paling rendah terdapat pada perlakuan P3(biji jarak) yaitu 25%.Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa perlakuan penambahan biji jarak tidak efektif untuk membunuh tikus. Hal ini disebabkan kandungan racun pada biji jarakberupa ricin lebih berpotensi sebagai anfertilitas. Hal ini sesuai dengan literatur Istriyati dan Febri (2008) yang menyatakan bahwa terdapat banyak sumber nabati yang bersifat anfertilitas diantaranya adalah biji jarak. Selain itu menurut Sandhyakumari et al (2003) menyatakan bahwa biji jarak adapat menyebabkan penurunana jumlah spermatozoa tikus, kelainan gerak, dan morfologi spermatozoa serta penurunan hormon testosteron.
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam (Lampiran 6) diketahui bahwa tingkat mortalitas yang paling tinggi terjadi pada 13 HSA. Hal ini disebabkan daya kerja dan racun rodentisida nabati bersifat lambat meresap kedalam tubuh
tikus sehingga gejala kematian akan terlihat lebih lama. Seperti dalam literatur Syamsudin (2007) menyatakanrodentisida merupakan racun yang bekerja lambat, gejala keracunan pada hewan sasaran akan terlihat dalam waktu yang cukup lama yaitu 24 jam atau lebih.Posmaningsihet al. (2014)dijelaskan bahan aktif dari rodentisida kronis bekerja dalam tubuh tikus dengan lambat sehingga tikus tidak langsung mati ditempat.