Bab ini akan diarahkan untuk memberikan pelajaran dalam dua hal, yakni menemukan bentuk-bentuk ketidakadilan gender dalam bahasa yang digunakan di media sosial, dan bagaimana menjadi komunikator yang memiliki kepekaan gender. Dalam pengertian umum, kepekaan gender dapat berarti kepekaan terhadap perempuan ataupun laki-laki. Namun, dalam bab ini dan keseluruhan buku ini, kepekaan berarti adalah kepekaan terhadap keadilan perempuan. Tujuannya agar kita bisa menghindarkan diri dari penggunaan bahasa yang bias gender ketika berhubungan dengan pihak lain, terutama perempuan, di media sosial.
Bahasa dan Penghadiran Kembali Dunia
Media sosial telah kita gunakan secara terus-menerus untuk menghadirkan diri kita secara seksual, baik secara laki-laki dan perempuan sebagai identitas seksual (Barbovschi, Jereissati, dan Castello, 2017)3 Penghadiran diri itu (representasi) dapat dilakukan melalui bahasa dan gambar. Keduanya mempunyai peran yang sangat penting dalam usaha kita untuk menghadirkan diri dalam media sosial.
_____________________
30
Dalam Kamus Bahasa Besar Bahasa Indonesia (KBBI Online), representasi artinya perbuatan mewakili, keadaan diwakili, apa yang mewakili atau perwakilan. Dalam dunia ilmu komunikasi, representasi berarti “menggunakan bahasa untuk mengatakan sesuatu yang bermakna atau menghadirkan, dunia yang penuh makna, kepada orang lain.” (Hall, 1997: 15). Pendeknya, representasi adalah bagaimana kita mengatakan sesuatu dengan menggunakan bahasa. Kita menghadirkan orang, benda, pikiran atau gagasan dengan menggunakan bahasa. Ketika kita mengatakan si Alia adalah perempuan gendut yang menyebalkan maka sebenarnya kita sedang memberikan makna atas perempuan yang bernama Alia. Kita menghadirkan–dengan menggunakan bahasa–perempuan bernama Alia sebagai gendut yang tidak menyenangkan. Padahal, kita juga bisa mengatakan si Alia sebagai perempuan yang cantik, baik, dan rendah hati. Di sinilah, bahasa itu menjadi sangat penting karena ketika kita menggunakan bahasa berarti bahwa kita sedang menghadirkan orang, pikiran, atau barang sesuatu, dan karenanya kita memberikan makna atasnya. Bagaimana kita menghadirkan semua itu (orang, benda, atau pikiran)– berarti kita sedang memberikan makna atasnya. Seluruh bahasa yang kita gunakan untuk menghadirkan sesuatu itu mempengaruhi cara kita dan orang-orang melihat apa yang kita hadirkan melalui bahasa itu.
Dalam kehidupan sehari-hari, representasi atau usaha penghadiran kembali (suatu objek/subjek) hampir sebagian besar dilakukan dengan menggunakan bahasa. Sebagai contoh, ketika kita mengungkapkan pikiran maka sebenarnya kita sedang mengungkapkan apa yang hendak kita representasikan, dan itu semua menggunakan bahasa. Ketika kita mengatakan “cantik” maka sebenarnya kita sedang mengungkapkan sosok perempuan atau hal lainnya yang berasosiasi dengan kata ‘cantik.’. Dalam pemahaman umum, kita sering menangkap kata “cantik” sebagai representasi atas seorang perempuan yang (mempunyai wajah) elok atau molek, seorang perempuan yang rupawan. Perempuan cantik tadi terwakilkan atau terepresentasikan melalui bahasa.
31
Secara singkat, bahasa dipahami sebagai “sebuah sistem simbol-tulisan dan lisan yang digunakan oleh anggota suatu kelompok masyarakat dengan cara yang teratur untuk memperoleh suatu arti.” (Blake dan Haroldsen, 2005: 6). Blake dan Haroldsen lebih jauh mengemukakan bahwa simbol itu sendiri dipahami sebagai “sesuatu yang secara sengaja digunakan untuk menunjukkan sebuah benda lainnya. (Benda) yang ditunjuk oleh simbol itu adalah apa yang dimaksudkan oleh suatu kelompok sosial.” Dalam pengertian ini, secara sederhana, dapat dipahami bahwa simbol selalu merujuk sesuatu yang lain. Misalnya, simbol untuk merujuk pada manusia berjenis kelamin laki-laki. Kata “laki-laki”, di sisi lain, merujuk pada jenis kelamin manusia dengan salah satu ciri khasnya mempunyai penis untuk membedakannya dengan wanita (pemilik vagina).
Suatu simbol hampir pasti merujuk pada objek tertentu, dan anggota masyarakat biasanya memandang hubungan diantara simbol dengan objek yang dirujuknya tidak bisa dipisahkan (Blake dan Haroldsen, 2005: 7). Dengan demikian, kata apapun baik dalam bentuk simbol, tulisan ataupun isyarat akan merujuk pada suatu jenis objek atau subjek tertentu seperti kata dan simbol laki-laki.
Simbol-simbol diciptakan manusia secara sosial. Artinya, kehadiran simbol selalu terikat pada kehidupan sosial manusia sehingga simbol berarti adalah kesepakatan-kesepakatan bersama. Oleh karena itu, sangat mungkin terjadi, setiap masyarakat mempunyai kesepakatan-kesepakatan yang berbeda atas suatu simbol dengan benda yang dirujuknya meskipun mungkin tidak sama sekali berbeda. Sebagai contoh, isyarat menggelengkan kepala berarti tidak dalam sebagian masyarakat, tapi iya bagi sebagian masyarakat yang lain. Ini menunjukkan bahwa isyarat-isyarat simbolik bersifat konsensual (disepakati bersama).
32
Ada beberapa bentuk simbol yang harus kita pahami, yakni kata-kata verbal, seperti dalam ucapan dan tulisan; ataupun lambang-lambang seperti pada bendera, pusaka, dan lain-lainnya. Semuanya merujuk pada sesuatu yang lain, dan media sosial kiranya penuh dengan simbol-simbol semacam ini.
Mengidentifikasi Bias Gender Melalui Bahasa
Dalam menggunakan media sosial, kita tidak akan pernah bisa dilepaskan dari hubungan-hubungan yang bersifat gender. Status seseorang, komentar seseorang atas suatu peristiwa atau kejadian banyak terkait erat dengan perempuan. Diantara status dan komentar itu, tidak kita sadari mengandung bias gender. Di sini, bias gender dipahami sebagai situasi yang tidak adil bagi perempuan karena status, komentar ataupun tulisan viral yang muncul di media sosial. Oleh karena itu, sebagai pengguna media sosial yang bijak, adalah baik jika kita memahami bias gender yang terjadi di media sosial.
Pertama-tama, kita harus mampu mengidentifikasi bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang sering muncul di media sosial. Ini bisa dilihat dari bagaimana perempuan diposisikan melalui komentar, tulisan status, ataupun sebuah tulisan panjang yang viral ke kita. Bias gender terjadi ketika perempuan ditempatkan sebagai ‘objek’ dan bukannya subjek. Objek dalam hal ini dipahami sebagai “pihak yang menjadi sasaran pembicaraan” atau lebih mudahnya sebagai pihak pasif yang menerima segala yang dibicarakan atas dirinya. Tentunya, si pembicara adalah laki-laki, dan berbicara dengan sudut pandang laki. Di media sosial, bias gender itu bisa dikenali dengan mudah melalui stereotipe, metafora, dan derogasi semantik.
33
Stereotipe
Suatu waktu mungkin Anda dikirimi gambar seorang teman dalam sebuah grup percakapan WhatsApp atau menemukan gambar di Instagram dengan sebuah captions. Namun, sering kali, komentar atau tulisan ini dipenuhi oleh suatu pandangan yang didasarkan atas prasangka-prasangka tertentu terhadap perempuan. Misalnya, jika perempuan merokok, maka muncul kesimpulan bahwa perempuan itu nakal. Padahal, tidak demikian. Bisa juga, seperti komentar di bawah, perempuan yang berjoget dianggap sebagai ‘mak-mak’ yang tidak pantas, dan mesti pulang ke rumah mengurusi anak-anak mereka.
Gambar di atas merupakan aksi Nia Ramadhani di Instagram dan muncul dalam sebuah berita daring. Dalam aksi itu, banyak yang memberi komentar. Salah satunya utabali102030. Komentarnya, “Ya ampun lama2 u ketabrak motor. Anak2 u siapa yang ngurusi? Otaknya udah kegilaan bule nih.” Komentar ini meneguhkan pandangan domestik tentang perempuan sebagai pengasuh anak-anak, sedangkan laki-laki tidak. Komentar ini sangat dipengaruhi oleh gambaran mengenai dunia yang dikuasai laki-laki. Dalam gambaran dunia itu, laki-laki berhak berbuat apapun, tapi tidak bagi perempuan karena harus mengurusi anaknya di rumah. Laki-laki tidak mempunyai beban atas itu.
34
Komentar lainnya memberi predikat Nia atas apa yang dilakukannya sebagai kelakuan ‘mak-mak’ yang tak pantas. Ini bisa ditemukan dalam komentar Afraturengga, “Tahun depan kita harus gini jangan kalah dengan emak2.” Komentar lainnya, “gila dah ni emak emak”.
Emak-emak dipilih untuk memberikan sebutan kepada Nia Ramadani, artis yang telah mempunyai tiga orang anak. Oleh karena sudah mempunyai anak ketiga dan bertingkah laku seperti dalam video itu, maka dikomentari sebagai “emak-emak.” Kata “emak-emak” digunakan dengan nada merendahkan. Padahal, “mak” makna denotatifnya (makna sesuai kamus) adalah perempuan yang patut disebut ibu atau dianggap sepadan dengan ibu. Namun, dalam komentar itu, “mak” mempunyai konotasi negatif sebagai perempuan beranak yang tidak boleh bertingkah aneh-aneh. Di sini, ada setereotip yang dilekatkan terhadap kata emak-emak, yakni perempuan yang telah mempunyai anak, dan selalu tinggal di rumah untuk mengurusi anak-anak mereka. Padahal, pada kenyataannya, di dunia modern, ‘emak-emak’ banyak berkiprah sebagai guru, dokter, pilot, dan bahkan sebagai satpam.
35
Metafora
Metafora adalah penggunaan kata atau kelompok kata, tapi tidak dalam arti yang sebenarnya, melainkan sebuah lukisan yang menggambarkan persamaan atau perbandingan (KBBI online). Metafora adalah sebuah perbandingan baik secara eksplisit (terang-terangan) atau secara implisit (tersembunyi) (Thwaites, David, Mules, 2009). Webster’s Third New International Dictionary mendefinisikan metafora adalah “sebuah kiasan yang menggunakan sepatah kata atau frase yang mengacu kepada objek atau tindakan tertentu untuk menggantikan kata atau frase yang lain sehingga tersarankan suatu kesimpulan atau analogi diantara keduanya (dikutip dari Budiman, 2005: 71). Sebagai contoh, kita sering menyebut para koruptor, orang yang maling uang rakyat, dengan tikus-tikus kantor. Tikus dalam frase tikus-tikus kantor tidak merujuk pada tikus–sejenis hewan pengerat–yang hidup di kantor, tapi pada orang yang suka mencuri sesuatu yang bukan haknya (maling). Tikus suka sekali ‘mencuri’ bahkan makanan kita, begitu juga koruptor. Di sini, ada perbandingan yang mirip.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menggunakan bahasa-bahasa metafor semacam itu untuk menggambarkan orang-orang, tidak terkecuali teman-teman kita. Tentu saja, tidak semua metafor adalah buruk. Kecantikan perempuan itu laksana bidadari adalah suatu bentuk metafor. Sebaliknya, ketika kita mengatakan si gemuk itu jalannya seperti babi ngepet, kita sedang menggunakan metafor dalam pengertian yang negatif. Metafora-metafora bahasa banyak kita temukan dalam media sosial ketika membaca status teman-teman kita, komentar, atau bahkan tulisan yang viral di media sosial. Tentu saja, metafora tidak hanya dalam bentuk bahasa. Ia juga bisa mewujud dalam bentuk gambar atau visual. Namun, pada bagian ini, kita hanya fokus pada metafora bahasa, dan bagaimana metafora itu sering kali digunakan untuk ‘merendahkan’ perempuan atau mengukuhkan dunia yang dikuasi laki-laki (dunia patriarkhal).
36
Pada bagian sebelumnya, kita telah membahas komentar netizen mengenai aksi Nia Ramadani yang diolok-olok sebagai ‘emak-emak’. Dijelaskan bahwa kata emak-emak adalah sebuah stereotip karena secara serampangan menyamakan perempuan yang sudah beranak sebagai ‘emak-emak’ dalam konotasi yang negatif. Padahal, setiap individu mempunyai keunikannya masing-masing.
Metafora, di sisi lain, bekerja berdasarkan logika perbandingan. Suatu metafora adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan seseorang atau objek dengan cara menggantikan sesuatu yang dianggap mempunyai karakteristik yang mirip. Maka, komentar “emak-emak” di atas, bukan hanya tentang perempuan yang sudah mempunyai anak, tapi juga–dalam makna konotatifnya–seseorang yang tidak lagi diizinkan bertingkah “aneh-aneh,” terutama layaknya gadis belia. Maka, emak-emak pun bukan hanya menjadi bahan rujukan, tapi sekaligus perbandingan. Dalam konteks ini, emak-emak adalah metafor.
Derogasi Semantik
Derogasi semantik terjadi ketika kata yang digunakan untuk merujuk pada wanita mendapatkan makna yang negatif atau mendapatkan makna konotasi seksual (Wareing, 2007: 113). Di sini, semantik dipahami sebagai “makna”, dan derogasi diartikan sebagai “membuat sesuatu tampak lebih rendah.” Derogasi semantik ini banyak terjadi di media sosial ketika membaca judul, komentar, dan sebagainya.
Kata “emak’ sebagaimana dikemukakan di atas mempunyai makna yang merendahkan. Dalam suatu budaya masyarakat, anak-anak sering memanggil ‘emak’ untuk ibu mereka. Dengan demikian, panggilan ‘emak’ setara dengan panggilan “ibu” ataupun “bunda”. Namun, dalam komentar di atas, “emak” mempunyai makna yang merendahkan. Maka, di sini, terjadi yang namanya derogatif semantik. Derogasi semantik juga terjadi pada kata ‘semok’ yang disematkan dalam komentar gambar berikut.
37
Sumber gambar: http://solo.tribunnews.com/2016/04/26/meme-meme-pelajar- sma-pakai-seragam-ketat-dan-rok-nanggung-viral-di-sosial-media
Kata montok pada kalimat “sisain yang paling montok untuk teman kamu” adalah suatu bentuk derogasi semantik lainnya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata montok mempunyai arti netral. Montok artinya kembung atau gembung (tentang pipi orang gemuk). Namun, dalam kalimat itu, montok dikonotasikan dengan hal-hal yang bersifat seksual, yakni wanita yang montok (secara seksual).
Derogasi semantik juga terjadi pada kata ‘papa’ dalam kalimat pada gambar di bawah. Dalam gambar tersebut, kata “papa” mempunyai konotasi seksual karena–dengan melihat tampilan gambar–makna yang diacu bukan pada ‘papa’ dalam pengertian biologis (ayah kandung), tapi papa dalam pengertian lain (om-om genit). Maka, papa yang dimaksud di sana ditujukan pada papa bukan ayah biologis, tapi papa (ayah anak lain di luar foto itu) yang menaruh minat seksual. Di sini, terjadi derogasi semantik karena makna papa cenderung direndahkan dan berbau seksual.
38
Sumber gambar: https://www.liputan6.com/citizen6/read/3025551/meme-hari-pertama-masuk-sekolah-bikin-warganet-gagal-fokus
Dari keseluruhan paparan pada bab ini, ini kita menjadi sadar bahwa bahasa yang kita gunakan seringkali menjadikan perempuan sebagai objek seksual dan cenderung merendahkan. Oleh karena itu, adalah penting bagi para pengguna media sosial di kalangan remaja untuk berhati-hati dalam menggunakan bahasa ketika mengomentari gambar-gambar yang menampilkan perempuan. Ini karena bisa jadi bahwa secara sadar kata-kata itu merendahkan atau berasosiasi seksual yang menciptakan wanita semata sebagai objek bagi laki-laki. Jika ini terjadi maka kita telah melakukan pelanggaran terhadap hak-hak perempuan.