G E R A K A N N A S I O N A L L I T E R A S I D I G I T A L
i
=========================================================
Sensitif Gender dalam
Bermedia Sosial
========================================================= Puji Rianto, Ali Minanto, Mutia Dewi, Puji Hariyanti,
ii
Sensitif Gender dalam Bermedia Sosial
Penulis:Puji Rianto, Ali Minanto, Mutia Dewi, Puji Hariyanti, Ratna Permata Sari, Ida Nuraini DKN
ISBN: 978-602-51425-9-8
Editor: Pujirianto
Tata Letak & Desain Sampul: Zarkoni
Diterbitkan oleh: Penerbit Komunikasi UII
Jalan Kaliurang Km 14,5, Besi, Sleman 55584
Daerah Istimewa Yogyakarta, Telepon: (0274) 898444 ext 3267 Email: [email protected]
Cetakan Pertama, September 2019 viii + 62; 17 x 24 cm
iii
DAFTAR ISI
Prakata Jaringan Pegiat Literasi Digital (JAPELIDI)_____________v Prakata Gerakan Nasional Literasi Digital SiBerkreasi___________vii
1. Pendahuluan ____________________________________________1 2. Mengenal Apa Media Sosial Itu?__________________________5 3. Memahami Gender______________________________________ 19 4. Bahasa dan Ojektivitasi Perempuan di Media Sosial________29 5. Membaca Gender dalam Visualitas di Media Sosial _________39 6. Menjadi Literate dan Sensitif Gender______________________51 Daftar Pustaka_________________________________________________60
v Prakata
Jaringan Pegiat Literasi Digital
(JAPELIDI)
Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) adalah komunitas yang sebagian besar terdiri dari akademisi dan pegiat literasi digital yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Komunitas yang mulai beraktivitas pada tahun 2017 peduli pada beragam upaya untuk meningkatkan kemampuan literasi digital masyarakat Indonesia. Beragam program literasi digital dilakukan baik secara kolaboratif atau di masing-masing perguruan tinggi untuk mengatasi beragam persoalan masyarakat digital.
Salah satu pekerjaan kolaboratif Japelidi yang dilakukan tahun 2017 adalah penelitian peta gerakan literasi digital di Indonesia. Penelitian yang dikoordinatori oleh Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini memetakan 342 kegiatan literasi digital dengan melibatkan 56 peneliti dari 26 perguruan tinggi. Salah satu temuan yang menarik dari penelitian ini adalah bahwa ragam yang sering dilakukan dalam kegiatan sosialisasi digital adalah sosialisasi. Sedangkan kelompok sasaran yang paling sering menjadi target beragam gerakan literasi digital adalah kaum muda.
Untuk mendiskusikan hasil penelitian Japelidi sekaligus memetakan berbagai isu terkini terkait literasi digital di Indonesia, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menyelenggarakan Konferensi Nasional Literasi Digital pada tanggal 12 September 2017. Konferensi ini diikuti oleh 30 pemakalah dan 200 peserta. Lebih separuh dari makalah yang disampaikan dalam konferensi ini sudah dan akan diterbitkan di Jurnal Informasi UNY.
vi
Berbeda dengan kegiatan pada tahun 2017 yang memfokuskan pada kegiatan penelitian dan konferensi, pada tahun 2018 Japelidi melakukan program penerbitan serial buku panduan literasi digital. Untuk itu, selain mengadakan serial rapat pra-workshop di Yogyakarta pada tanggal 21 dan 22 Maret 2018, Japelidi menyelenggarakan
workshop penulisan pedoman buku literasi digital pada tanggal 27 dan 28 April 2018. Workshop yang dijamu oleh Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) ini diikuti oleh 30 peserta dari 13 perguruan tinggi di Indonesia dari 9 kota. Salah satu hasil workshop ini adalah perumusan 23 proposal buku panduan literasi digital yang direncanakan akan disusun dan diproduksi oleh 23 perguruan tinggi dari 11 kota dalam kurun waktu 2018-2019.
Tujuan dari penerbitan serial buku panduan Japelidi ini adalah untuk menyediakan pustaka yang memadai sekaligus aplikatif sehingga bisa diterapkan secara langsung oleh kelompok sasaran yang dituju. Dengan begitu, buku-buku tersebut bisa dimanfaatkan untuk baik akademisi, pegiat maupun kelompok sasaran kegiatan literasi digital.
Atas terbitnya serial buku panduan literasi digital Japelidi, kami mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya atas bantuan seluruh pihak yang terlibat. Semoga buku-buku ini berhasil menjadi bagian dari meningkatan kemampuan literasi digital masyakarat Indonesia.
Koordinator Japelidi
vii Prakata
Gerakan Nasional Literasi Digital
SiBerkreasi
Kemajuan teknologi menciptakan disrupsi pada kehidupan sehari-hari, mulai dari otomatisasi yang mengancam ragam mata pencaharian, hingga bagaimana masyarakat mencerna dan mengabarkan informasi. Dewasa ini, lebih dari setengah populasi di Indonesia sudah terhubung Internet. Angka penetrasi Internet makin tinggi dari tahun ke tahun. Eric Schmidt, insinyur dari Google, bahkan memprediksikan bahwa tahun 2020 nanti seluruh manusia didunia akan
online.
Sayangnya, kemajuan inovasi digital dan kemudahan mengakses Internet masih belum diiringi dengan kualitas sumber daya manusia yang memadai. Bak air maupun api, teknologi juga bisa dilihat sebagai anugerah sekaligus ancaman. Jika tidak dikelola dengan baik dan tidak dimanfaatkan dengan bijaksana, ia bisa jadi sangat berbahaya. Maka dari itulah, Seri Buku Literasi Digital hasil kolaborasi para pemangku kepentingan multisektoral ini kami anggap perlu kembali diluncurkan ke publik.
Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi berterima kasih pada para mitra kami yang tanpa lelah mencurahkan waktu dan tenaganya untuk mengedukasi masyarakat. Kedewasaan, kecakapan, dan keamanan dalam menggunakan media digital sangat perlu diperjuangkan. Di balik jutaan kesempatan bagi masyarakat Indonesia pada era transformasi digital, terdapat masalah serius yang sama banyaknya, mulai dari: penyebaran konten negatif, seperti perundungan siber, ujaran kebencian, radikalisme daring, ketergantungan pada gawai, eksploitasi seksual dan pornografi; hingga keterbatasan kompetensi dasar menuju revolusi industri 4.0. Kami percaya bahwa pendidikan adalah pilar paling penting untuk mencegah dan
viii
menanggulangi potensi ancaman yang ditimbulkan oleh penyimpangan pemanfaatan teknologi.
Literasi digital telah menjadi keharusan yang mendesak dilakukan dalam skala nasional secara masif, komprehensif, dan sistematis. Presiden Joko Widodo dalam pidato pada Sidang Tahunan MPR RI 2018 telah secara khusus mendorong institusi pendidikan untuk lekas beradaptasi di era revolusi industri 4.0, salah satunya dengan memantapkan kemampuan literasi digital. Sembari mengawal proses tersebut, SiBerkreasi merasa perlu menyatukan pegiat literasi digital dari berbagai disiplin ilmu dan sektor untuk menyediakan sumber ilmu yang berkualitas, mudah dijangkau, serta bebas biaya.
Sasaran literasi digital perlu diperluas, sehingga dalam Seri Buku Literasi Digital kali ini kami dengan bangga mempersembahkan terbitan dari pelbagai kontributor dari bidang keahlian yang majemuk. Tema-tema literasi digital, antara lain: tata kelola digital, pola asuh digital, ekonomi digital, gaya hidup digital, dan kecakapan digital; dapat ditemui untuk dipelajari serta disebarluaskan ke khalayak ramai. Kami harap, para orang tua, siswa, anak-anak, hingga pemerintah daerah, dapat mengambil manfaat penuh dari rangkaian terbitan ini.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih pada seluruh pihak yang telah mendukung dan berkontribusi dalam peluncuran Seri Buku Literasi Digital yang kedua. Untuk para pembaca, kami sampaikan selamat menjumpai ilmu baru dan jangan segan menjadi duta literasi digital bagi sekitar.
Ketua Umum SiBerkreasi
1
PENDAHULUAN:
PENGANTAR KE GENDER
DAN LITERASI MEDIA SOSIAL
Seorang pria, yang disinyalir sebagai pemain bola lokal, menulis pesan pendek di akun instagram artis terkenal Via Fallen, "I want u sing
for me in my bedroom, wearing sexy clothes...". Terjemahan bebasnya
kira-kira: “Aku ingin bercinta denganmu di kamar tidurku dengan menggunakan pakaian yang seksi.” Pesan tak sopan ini tentu saja membuat Sang diva meradang. Via Fallen pun melawan upaya pelecehan melalui media sosial atas dirinya tersebut.
Apa yang menimpa Via Fallen membuka mata akan bekerjanya “niatan busuk” sebagian pengguna media sosial yang menjadikannya sebagai alat pelepas hasrat seksual. Sayangnya, niatan busuk itu sering kali tidak kita sadari. Bahkan, tidak jarang, pihak yang dilecehkan hanya diam saja, tidak bersuara karena beragam alasan. Lebih parah, secara tak sadar, kita menyediakan diri sebagai ‘objek pelecehan’ seksual melalui posting gambar yang kita lakukan. Maka, media sosial telah menjadi sarana baru pelecehan seksual. Pelecehan ini mengambil berbagai macam bentuk seperti pernah dipublikasikan Komisi Nasional Perempuan, diantaranya cyber harrasment (20 kasus), cyber violence (14 kasus), cyber grooming (1 kasus), illegal content (16 kasus), malicious
2
Ada beberapa jenis pelecehan seksual di media daring yang sangat meresahkan. Pertama, spamming. Spamming terjadi ketika seseorang memberikan komentar tidak pantas. Pelecehan ini dapat dilihat dalam kolom komentar untuk merespons suatu unggahan foto atau video. Komentar biasanya bernada cabul, menggoda, dan mengarah pada hal-hal yang berbau porno. Namun, spamming sebenarnya tidak hanya itu. Komentar-komentar yang dianggap biasa-biasa saja seperti:"wah cantiknya", "wow seksinya", wuih badannya" sudah dikategorikan sebagai spamming yang mengarah pada pelecehan seksual. Kedua, pelecehan visual dengan cara mengirimkan foto-foto yang tidak pantas berkait dengan privasi atau sesuatu yang bersifat pribadi dari seseorang. Tidak hanya melalui gambar yang vulgar, pelecehan seksual juga dapat dilakukan melalui gambar lucu yang sering disebut sebagai meme. Ketiga, pelecehan verbal. Pelecehan ini seperti dialami Via Fallen dan Gita Safitri. Keempat, Doxing. Doxing adalah tindakan menyebarluaskan informasi privasi seseorang tanpa izin. Data pribadi seseorang disebarkan demi meraup keuntungan pribadi. Kelima, akun palsu (fake account). Aku palsu biasanya digunakan untuk melakukan aksi kriminal.
Bagi masyarakat Indonesia, media digital seperti internet telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Survei oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) merilis lebih dari setengah penduduk Indonesia saat ini telah terhubung dengan jaringan internet. Dalam kurun 2016, ada 132,7 juta orang Indonesia menjadi pengguna aktif internet dari total jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 256,2 juta. Pada 2017, angka tersebut meningkat menjadi 143, 26 juta jiwa atau 54,7%.1
__________________________
3
Media sosial merupakan fitur berbasis website yang membangun hubungan secara global yang meniscayakan setiap orang dapat berinteraksi secara daring (online) melalui internet. Melalui media sosial, orang dapat melakukan transaksi, pertukaran informasi, dan bekerja sama dalam beragam bentuk: tulisan, visual, maupun audiovisual seperti Twitter, Facebook, Blog, Forsquare, Path, dll. Pendeknya, media sosial menjadi ruang berkumpul dimana orang-orang berbagi informasi, pengetahuan, dan percakapan secara virtual (Safko dan Brake, 2009).
Pendeknya, media sosial bagaimanapun telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Bahkan, seringkali, kita terbangun tengah malam hanya untuk mengecek akun instagram atau grup percakapan WhattAps. Saat ini, mengecek apa yang terjadi di telepon pintar menjadi kebiasaan wajib begitu kita membuka mata. Pendeknya, kita hampir tidak bisa lepas dari yang namanya smartphone karena melalui media itulah kita terhubung dengan media sosial. Namun, dalam penggunaan media sosial itu, kita sering kali terlibat dalam ‘melecehkan’ perempuan. Sebagian besar, pelecehan bersifat seksual, tapi sebenarnya hal itu tidak semata secara seksual. Oleh karena itu, adalah penting bagi kita untuk memahami media sosial itu secara utuh, dan terutama terkait dengan hubungan-hubungan laki-laki dan perempuan atau yang sering disebut gender. Dalam dunia yang dikuasai laki-laki, perempuan seringkali menjadi objek. Ini terjadi tidak hanya di kehidupan nyata, tapi juga media. Media sosial karena sifatnya yang mudah digunakan, terbuka bagi siapa saja, tidak hanya dalam mencari informasi, tapi juga membuatnya sangat populer. Sekaligus, membuka peluang bagi kejahatan-kejahatan (seksual).
Atas alasan di atas, buku ini ingin memberikan panduan bagi pengguna media sosial untuk lebih cerdas, sensitif terhadap hubungan laki-laki dan perempuan untuk khalayak anak-anak remaja. Sebagai sebuah panduan, buku ini tentu saja tidak hanya ditujukan kepada laki-laki, tapi lebih-lebih anak-anak remaja perempuan. Dengan mengenal gender, diharapkan para remaja laki-laki dan perempuan lebih bijak
4
dalam menggunakan media sosial. Bagi laki-laki, harapannya, akan lebih menghormati hak-hak teman mereka sesama remaja, sedangkan bagi perempuan harapannya mereka lebih kritis dalam melakukan posting dan menanggapi komentar-komentar atas diri mereka.
Sebagai buku panduan literasi digital bertema gender, tulisan dalam buku ini akan dibagi ke dalam enam bab. Bab pertama adalah pendahuluan. Bab ini akan memaparkan alasan-alasan pentingnya literasi media sosial berdasarkan gender. Bab kedua dan ketiga akan memaparkan apa media sosial dan gender itu? Ini merupakan upaya yang bersifat teori. Maksudnya, dua bab ini ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada para remaja mengenai media sosial dan gender. Bab keempat dan kelima akan mengajarkan kepada anak-anak remaja dalam membaca pesan-pesan di media sosial yang berhubungan dengan gender. Bab keempat akan mengajarkan bagaimana membaca secara kritis pesan-pesan verbal dalam bentuk bahasa, sedangkan bab kelima pesan yang bersifat visual. Dua bab ini merupakan kecakapan yang bersifat teknis jika seseorang ingin paham beroperasinya gender di media sosial, baik melalui bahasa maupun gambar. Bab terakhir, bab keenam, akan memberikan tip-tip bagaimana seharusnya menggunakan media yang bijak dengan menggunakan prinsip-prinsip kecakapan yang dirumuskan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi).
5
MENGENAL APA
MEDIA SOSIAL ITU?
Pada umumnya, media sosial dan aplikasi percakapan (chatting) dianggap berbeda. Media sosial mencakup berbagai medium di internet yang memungkinkan pengguna merepresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama, berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lain, dan membentuk ikatan sosial secara virtual (Nasrullah, 2015:11). Medium adalah bentuk tunggal dari media yang berarti perantara. Ketika kita menuliskan pesan di Facebook maka Facebook kita anggap sebagai medium karena ia memperantarai pesan kita (Grossberg dkk, 2006).
Media sosial mempunyai jenis yang beragam. Ada yang lebih mengandalkan visual (gambar), sedangkan lainnya mengandalkan tulisan. Dari beragam karakter media sosial tersebut, media sosial dibagi atau dikategorikasikan ke dalam beragam bentuk. Uraian berikut akan didasarkan pada pembagian media sosial yang ditulis oleh Nasrullah (2015).
1. Media jejaring sosial (social networking)
Media sosial ini paling popular karena memungkinkan anggota untuk berinteraksi satu sama lain dengan mengirimkan pesan berupa tulisan, foto, dan video yang bersifat saat itu (real time) sehingga memungkinkan berbagi informasi tentang kejadian saat itu. Karakter media jejaring sosial memungkinkan terbentuk jaringan pertemanan
6
sehingga bisa digunakan untuk melakukan hubungan sosial seperti
Facebook, LinkedIn.com
2. Jurnal Daring (online) (blog)
Media sosial kategori ini memungkinkan penggunanya untuk mengunggah aktivitas keseharian, saling mengomentari, dan berbagi, baik tautan web lain, informasi, dan sebagainya. Blog menawarkan alamat web pribadi, ruang web gratis, dan sistem manajemen isi (content) yang memungkinkan anggota untuk membuat, menerbitkan, dan berbagi isi pesan yang secara harfiah bebas dari biaya. Secara mekanis, ada 2 jenis blog. Jenis pertama adalah personal homepages, pemilik menggunakan nama domain sendiri, seperti .com atau .net. Jenis kedua menggunakan fasilitas penyedia halaman weblog gratis, seperti Wordpress (www.wordpress.com) atau Blogspot
(www.blogspot.com).
3. Jurnal Online Sederhana atau Microblog (micro-blogging) Jurnal online sederhana adalah media sosial yang memfasilitasi pengguna untuk menulis dan memublikasikan aktivitas serta pendapatnya. Jenis media sosial ini merujuk pada munculnya Twitter yang hanya menyediakan ruang tertentu atau maksimal 140 karakter. Pengguna bisa menjalin jaringan dengan pengguna lain, menyebarkan informasi, mempromosikan pendapat/pandangan pengguna lain, hingga membahas isu terhangat yang sedang terjadi.
4. Media Berbagi (media sharing)
Jenis media sosial ini memfasilitasi penggunanya untuk berbagi media, mulai dari dokumen, video, audio, gambar, dan sebagainya secara daring. Kebanyakan media ini “gratis,” tapi ada juga yang dipungut biaya keanggotaan, berdasarkan fitur dan layanan yang mereka berikan.
7
Contoh media jenis ini adalah YouTube, Flickr, Photobucket, atau
Snapfish.
5. Penanda Sosial (social bookmarking)
Media sosial yang bekerja untuk mengorganisasi, menyimpan, mengelola, dan mencari informasi atau berita tertentu secara online atau daring. Pada perkembangannya, media sosial ini juga memuat informasi berapa banyak web yang memuat konten tersebut yang sudah diakses, komentar-komentar terkait konten. Contoh media sosial jenis ini adalah
Delicious.com, Digg.com, LintasMe
6. Media Konten Bersama atau Wiki
Media atau situs web yang secara program memungkinkan para penggunanya berkolaborasi untuk membangun konten secara bersama oleh semua pengunjung situs ini. Situs wiki menyediakan perangkat lunak yang bisa dimasuki oleh siapa saja untuk mengisi, menyunting, bahkan mengomentari sebuah tema yang dijelaskan. Wiki menghadirkan kepada pengguna, pengertian, sejarah, hingga rujukan buku atau tautan tentang satu kata.
Karakteristik Media Sosial
Media sosial memiliki karakteristik yang berbeda dibanding medium lainnya, yaitu jaringan (network), informasi (information), arsip (archive), interaksi (interactivity), simulasi sosial(simulation of society), konten oleh pengguna (user-generated content), dan penyebaran (share/sharing) (Nasrullah, 2015). Karakteristik ini perlu dipahami karena memberikan akibat-akibat bagi penggunanya, sisalnya, arsip. Kemampuan media sosial itu mengarsip setiap pesan atau dokumen membuatnya menjadi tempat penyimpanan abadi yang baik meski tidak dikehendaki.
8
Jaringan
Karakter media sosial adalah membentuk jaringan di antara penggunanya. Tidak peduli apakah di dunia nyata (offline) antarpengguna itu saling kenal atau tidak, tapi kehadiran media sosial menghubungkan para pengguna. Jaringan yang terbentuk antarpengguna ini pada akhirnya membentuk komunitas atau masyarakat. Komunitas itu akan memunculkan nilai-nilai baru baik disadari maupun tidak disadari.
Karakteristik media sosial ini bisa dirasakan secara langsung saat kita ingin menambahkan teman atau menerima permintaan teman. Pada hakikatnya, ketika kita bergabung dalam dunia media sosial, kita dihadapkan pada teknologi yang memudahkan kita untuk berinteraksi dengan orang lain. Hal itu terlihat dari penataan antarmuka (interface) di media sosial jenis apapun yang sangat mudah ditemukan yang digunakan untuk menambahkan teman atau permintaan teman, tinggal klik tombol tambah atau add friend tanpa harus mengisi keterangan apapun. Bukan itu saja, adanya pemberitahuan mengenai suggestion
friends atau teman yang sama juga memudahkan untuk menambahkan
mereka dalam daftar teman di media sosial. Kemudahan-kemudahan itu memudahkan kita mencari teman atau kolega yang kita kenal, tapi, di sisi lain, juga menimbulkan ketidaknyamanan jika kita justru di
add/ditambahkan teman oleh orang-orang yang tidak kita kenal.
Namun, pada akhirnya, semua tergantung pada pemilik akun media sosial tersebut, akankah menerima permintaan pertemanan tersebut atau tidak?
9
sumber: https://www.quantamagazine.org/how-network-math-can-help-you-make-friends-20180820/
Setelah adanya kemudahan menambahkan teman di dunia media sosial, kemudahan membentuk jaringan/komunitas juga menjadi hal yang menarik ketika memasuki dunia maya ini. Jaringan komunitas biasanya diawali dari kesamaan minat bisa berupa olahraga, memasak,
fashion, forum jual beli, forum travelling dan lain sebagainya.
Kemudahan kita dalam menemukan komunitas di media sosial bukan saja karena kita sengaja mencarinya, tapi juga bisa karena teman kita posting atau berkomentar di komunitas tersebut yang kemudian membuat postingan tersebut masuk dalam timeline media sosial kita. Jika kita tertarik komunitas tersebut, kita juga bisa me-like-nya. Komunitas ada yang sifatnya terbuka dimana tanpa bergabung dalam forum kita sudah bisa melihat informasi dalam forum tersebut, tapi juga ada komunitas yang sifatnya tertutup di mana sebelum bergabung dalam forum itu kita harus terlebih dahulu disetujui oleh admin forum tersebut. Jika sudah disetujui barulah kita berinteraksi dengan teman-teman dalam forum komunitas tersebut.
10
Informasi
Informasi menjadi sesuatu yang penting di media sosial. Pengguna media sosial membangun identitasnya, memproduksi konten, dan berhubungan dengan pihak lain berdasarkan informasi. Di media sosial, informasi tak lain adalah konten yang dibagikan oleh pengguna. Media sosial sendiri apapun bentuknya adalah sekadar ruang kosong. Isinya bisa beragam atau seragam berdasarkan siapa saja yang kita ajak menjadi teman, dan akun yang kita follow. Jika di media Youtube, konten apa yang ingin kita lihat dapat dilakukan dengan menuliskan di kolom pencarian (search) kata kunci dari konten yang ingin kita tonton.
Sumber: https://www.shutterstock.com/image-photo/interact- interaction-interactive-interacting-group-concept-400888582
Sebagai contoh, jika kita berminat dalam hal dunia sepak bola, di media sosial biasanya kita mengikuti sebuah komunitas tentang salah satu klub sepakbola. Di komunitas/grup tersebut, tak jarang ada pertanyaan dan akhirnya timbullah hubungan saling memberikan informasi terbaru.
11
Arsip
Karakter media sosial yang satu ini menjelaskan bahwa informasi telah tersimpan dan bisa diakses kapanpun dan melalui perangkat apapun. Setiap informasi yang diunggah di media sosial tidak akan hilang dan mudah digunakan. Ketika seseorang menggunakan media sosial dan memiliki akun di media sosial maka secara otomatis pengguna telah membangun ruang atau gudang data.
Sumber: https://hackernoon.com/guide-to-handling-internet-archives-cdx-server-api-response-c469df5b81f4
Sekali kita mengunggah atau memposting apapun di media sosial (bisa berupa tulisan, foto, video atau lainnya), selamanya berkas tersebut akan terarsip di storage (penyimpanan) dari akun media sosial tersebut. Di satu sisi, hal tersebut memudahkan kita sebagai pengguna untuk menggunakan media sosial sebagai gudang penyimpanan arsip foto/video dimana bisa diakses di sarana apapun asalkan terkoneksi internet dan ada aplikasi media sosial tersebut. Namun di sisi lain, jika kita dapat menghapus postingan tersebut. Namun sebenarnya, hal itu masih menjadi perdebatan apakah arsip yang kita unggah benar-benar sudah terhapus selama-lamanya apa belum. Apalagi jika hal itu terkait dengan postingan yang cukup viral sehingga orang lain sudah
12
mengarsipkannya dengan cara screenshot layar, dan menyimpan postingan tersebut.
Interaksi
Interaksi atau tindakan dua belah pihak bisa kita amati dari begitu banyaknya fitur di media sosial mulai dari kemudahan kita menemukan akun orang lain, menambahkan dia sebagai teman, menyukai postingan mereka (tombol like atau love), menuliskan komentar di kolom komentar hingga jumlah kata yang cukup banyak, menyukai komentar orang lain, menandai teman kita dalam postingan/komentar kita dan lain sebagainya. Begitu banyaknya kemudahan berinteraksi di media sosial ini membuat kita mudah menambahkan teman, dan menerima pertemanan serta tak sungkan membalas komentar di media sosial.
Sumber: http://www.brandba.se/blog/2016/4/25/why-do-people-engage-with-brands-on-social-media
Simulasi (Proses Peniruan) Sosial
Media sosial adalah medium berlangsungnya masyarakat di dunia virtual. Interaksi di media sosial bisa jadi mirip dengan interaksi di dunia nyata atau bahkan berbeda sama sekali. Perangkat di media sosial memungkinkan siapapun menjadi siapa saja, bahkan bisa menjadi
13
pengguna yang berbeda sama sekali dengan aslinya, seperti pertukaran identitas jenis kelamin, hubungan perkawinan, sampai pada foto profil.
Munculnya media sosial ini ibaratnya dunia baru. Kita seakan masuk dalam sebuah ruang dimana kita “sebenarnya” bisa bebas menuliskan identitas atau profil kita sebagai pengguna akun media sosial tersebut. Kita bisa menuliskan identitas asli mulai dari nama, foto profil, alamat, pekerjaan dan lain sebagainya. Namun, di media sosial, kita juga bisa saja membuat akun dengan nama samaran dengan foto apapun plus dengan profil akun yang kita buat sesuka hati yang berbeda dengan aslinya.
Peniruan atau simulasi sosial ini awalnya menjadi unik jika niatnya hanya sekadar main-main. Namun, menjadi serius jika berkaitan dengan kriminalitas. Contohnya, banyak sekali akun bodong yang profil foto dan identitasnya sama persis dengan akun resmi seseorang (biasanya public figure atau orang terpandang) yang kemudian mem-follow dan menambahkan teman-teman yang sama dari akun yang asli, lalu akun bodong itu mengirimkan pesan ke teman tersebut yang isinya permintaan peminjaman uang atau dikirimkan pulsa telepon sejumlah uang. Oleh karenanya, kita mesti hati-hati.
Konten oleh Pengguna (user generated content)
Konten media sosial sepenuhnya milik dan berdasarkan kontribusi pengguna atau pemilik akun. Di era serba internet saat ini, konten adalah segalanya. Konten yang diposting oleh seseorang itu perlahan membentuk gambaran orang tersebut (personal branding) tersebut di internet. Jika dia sering posting foto tentang pemandangan dan benda-benda yang dipotret dengan cukup baik, maka dia akan dikenal sebagai fotografer. Begitu juga, bagi orang yang sering mengunggah tulisan dan foto tentang dunia politik, dia juga akan lebih dikenal sebagai pengamat politik. Mudahnya, apa yang diunggah di media sosial, hal itulah yang dimaknai oleh para followers dan
teman-14
teman mereka di media sosial yang akhirnya membentuk siapa diri kita di media sosial.
Penyebaran
Media sosial tidak hanya menghasilkan konten yang dibangun dari dan dikonsumsi oleh penggunanya, tetapi juga dibagikan sekaligus dikembangkan oleh penggunanya. Hal yang menarik dan menjadi ramai di media sosial adalah adanya unsur interaksi yang membuat alur komunikasi di media lama (radio, tv, dan koran) ketinggalan zaman. Sejak ada media sosial, kata viral atau trending topic menjadi kata yang dikenal luas. Sebagai contoh, opening ceremony Asian Games 2018 pada 18 Agustus 2018 yang berlangsung di Gelora Bung Karno Jakarta, menjadi trending topic dunia. Hal itu berasal dari begitu banyaknya postingan terkait acara tersebut. Banyaknya postingan tersebut yang diikuti tagar #openingceremonyasiangames2018 sehingga banyak orang saling like dan menuliskan komentar.
Sumber: https://www.digitalinformationworld.com/2014/06/how-
15
Sifat Patologis Media Sosial
Selain hal-hal positif yang telah dipaparkan di atas, media sosial juga mempunyai dampak kurang bagus. Ia menjadi patologis, dalam media sosial dapat menjadi penyakit terutama jika dikonsumsi berlebihan. Beberapa kisah ini memberikan ilustrasi bahwa media sosial dapat menimbulkan kerusakan parah, bahkan berujung pada kematian.
Goswani, seorang remaja perempuan, memilih mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Peristiwa itu terjadi setelah ia ditegur orang tuanya karena terlalu sibuk bermain Facebook. Deng Senshan, seorang remaja asal Cina, meninggal lantaran dipersekusi dan dipukuli teman-temannya di pusat rehabilitasi (kecanduan internet) karena terlalu masyuk bermain media sosial di komputernya. Tallulah Wilson, remaja Inggris, menabrakkan diri ke kereta api di Stasiun Pancras setelah ponsel dan laptopnya diambil sang ibu karena kuatir anaknya semakin kecanduan media sosial. Danny Bowman, seorang remaja Inggris, nyaris overdosis karena frustasi setelah gagal menghasilkan foto selfie yang diinginkan. Danny menghabiskan waktu 10 jam untuk ber-selfie setiap harinya2 (liputan6.com).
Kisah-kisah di atas memberikan gambaran bahwa media sosial tidak hanya punya sisi baik, tapi juga buruk. Singkatnya, media sosial juga mempunyai sifat patologis (pembawa penyakit) yang berbahaya. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui sifat patologis atau penyakit media sosial itu sehingga kita mempunyai sifat kehati-hatian yang tinggi. Uraian berikut akan memaparkan sifat-sifat patologis media sosial.
________________
2 “Danny Bowman Kecanduan Selfie, Sehari 10 Jam Berfoto-foto”, 26 Maret 2014. Artikel diunduh
dari https://www.liputan6.com/health/read/2027146/danny-bowman-kecanduan-selfie-sehari-10-jam-berfoto-foto
16
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
ADHD membuat pengidapnya mengalami gangguan dalam konsentrasi dan mengalami kegelisahan yang berlebihan. Gangguan ini tidak hanya menyerang kelompok muda, terutama anak-anak, tapi juga dapat dialami siapa saja yang terlalu sering berinteraksi di media sosial. Gangguan konsentrasi, gelisah, menyebabkan gangguan psikologis yang akut dan berdampak pada produktivitas belajar maupun kerja.
Obsesive Compulsive Dissorder (OCD)
Penderita OCD mudah dirundung cemas berlebihan atas berbagai hal. Mereka dapat melampiaskannya dengan melakukan aktivitas yang tidak jelas secara berulang-ulang. Perilaku yang membuat penderitanya sangat tersiksa.
Narcissistic Personality Disorder (NPD)
NPD membuat penderitanya selalu ingin dilimpahi pujian dari orang lain. Kelainan ini berbahaya karena menstimulasi pengidapnya menjadi egois, arogan, dan tidak memiliki sifat empati. Narsisisme (Bahasa Inggris) atau narsisme (Bahasa Belanda) adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri secara berlebihan. Pelaku narsisisme disebut narsisis (narcissist). Sigmund Freud adalah psikolog yang pertama kali menggunakan istilah ini dari mitologi Yunani, Narkissos (dalam Bahasa Yunani: Narcissus). Narkissos dikutuk oleh dewa untuk mencintai bayangannya sendiri di dalam kolam. Kekaguman atas diri menyebabkan Narkissos jatuh dan tenggelam ke dalam kolam hingga akhirnya muncul bunga yang disebut bunga Narsis. Dalam batas wajar, narsisisme sebenarnya perlu dimiliki seseorang untuk mendorong rasa percaya diri, dan tidak mengalami ketergantungan terhadap orang lain. Namun, narsisisme akan menjelma menjadi penyakit atau patologi ketika rasa percaya diri terlalu kuat sehingga menyebabkan gigantisme dan perasaan meremehkan orang lain. Dalam batas tertentu, seorang
17
narsistis dapat menyingkirkan orang lain demi kepentingannya. Psikologi sejauh ini menyatakan bahwa gangguan narsisisme dipicu oleh faktor biologis dan genetis, faktor sosial, dan psikologis seseorang. Perkembangan media baru, terutama media sosial menjadi faktor pemicu yang tak kalah ganas.
Instagramxiety
Instagramxiety adalah kelainan yang dipicu oleh rasa iri saat
melihat unggahan foto pengguna lain. Instagram memiliki fitur yang memungkinkan setiap orang dapat mengunggah foto atau video. Seorang penderita Instagramxiety dapat merasakan cemburu yang dipicu unggahan orang lain. Selain menandaskan waktu demi melihat dan mengikuti unggahan foto atau video orang lain, sang penderita juga akan mengalami resah, marah, dan rasa tidak percaya diri karena mencoba membandingkan. Instagramxiety percaya bahwa sebingkai foto atau video mewakili dunia (realitas) yang sesungguhnya. Sebuah uanggahan foto, bagi seorang penderita instagramxiety, dapat memicu kegalauan yang panjang. Jenny Stallard mengemukakan, "hanya satu gambar, satu uanggahan, bisa membuat wajahku tidak tersenyum dan mengerutkan kening."
Voyeurisme
Voyeurisme terhadap media sosial menyebabkan seseorang menjadi stalker yang obsesif. Stalker secara sederhana didefinisikan sebagai orang yang suka mengikuti akun orang lain. Dalam dunia seksologi, voyeurisme dikenal sebagai kebiasaan suka mengintip. Dalam konteks media sosial, perilaku ini merujuk pada kebiasaan yang dipicu rasa penasaran yang berlebihan terhadap orang lain sehingga melakukan stalking secara mendalam, dan menciptakan obsesi yang tak wajar. Voyeurisme dalam dunia psikologi sering dikaitkan dengan perilaku seksual yang menyimpang. Tidak hanya mengintip, tapi bahkan sampai membunuh objeknya. Dalam sejarah, kita mengenal lima
18
perilaku tukang intip yang cukup menghebohkan. Dr. Stanley Dobrowolski, seorang pengajar di Western University, Ontario, Kanada yang dituduh telah melakukan serangan seksual kepada para mahasiswi. Ketika polisi menggeledah komputernya, ternyata Dobrowolski menyimpan video-video pornografi anak bahkan ada video perilaku seksualnya. Di London, ada seorang keturunan India bernama George Thomas yang digelari sebagai tukang intip terburuk dalam sejarah kota itu. Selama enam tahun, Thomas merekam setidaknya 3.500 orang secara diam-diam. Bahkan, dia memasang alat sadap di kamar tidur, kamar mandi rumah sendiri hingga kamar mandi umum yang hasilnya dia gunakan sebagai pemuas dorongan seksual. Kegemaran mengintip juga dilakukan tokoh agama seperti Rabbi Barry Freundel dari Sinagoga Kesher yang terletak di sekitar kampus Georgetown di Washington DC. Ia dituduh telah menaruh alat perekam di kamar ganti wanita di ruang pemandian Yahudi. Dalam konteks media sosial, perilaku suka ngintip disebut sebagai mediated vouyerism (Pin Ju, 2012). Praktik mediated voyeurism ini digerakkan oleh kebutuhan sosial dan motivasi tertentu.
19
MEMAHAMI GENDER
Seringkali dalam perbincangan sehari-hari, kita menggunakan istilah gender dan jenis kelamin sebagai istilah yang seolah-olah sama. Seringkali, gender dipahami hanya sekadar perbedaan jenis kelamin. Padahal, gender dan jenis kelamin sesungguhnya dua istilah yang serupa, tetapi tidak sama meski selama ini sebagian masyarakat menganggapnya sama.
Gayle Rubin menyebutkan bahwa gender dan jenis kelamin itu dua hal yang berbeda. Sederhananya, gender merupakan pembedaan peran perempuan dan laki-laki dimana yang membentuknya adalah bentukan sosial dan kebudayaan, bukan yang dibawa sejak lahir. Jika jenis kelamin merupakan sesuatu yang dibawa sejak lahir, maka gender adalah sesuatu yang dibentuk karena pemahaman yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat kita.
20
Banyak orang menyebutkan bahwa ciri paling pokok perempuan adalah keterikatan mereka dengan rumah dan keluarga. Perempuan dianggap sosok utama yang bertugas membesarkan dan mengasuh anak, sedangkan laki-laki yang bekerja dan mencari nafkah. Pembedaan ini merupakan pembedaan yang bersifat “gender”. Sebaliknya, pembedaan berdasarkan fungsi biologis atau jenis kelamin didasarkan kenyataan bahwa laki-laki membuahi dan perempuan yang mengandung, melahirkan, dan menyusui.
Kini, semakin jelas bahwa membicarakan gender bukan berarti kita membicarakan salah satu jenis kelamin saja. Oleh karena itu, kita harus dapat membedakan antara kata gender dengan jenis kelamin (seks). Jenis kelamin merupakan pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu (Fakih, 1999:8). Definisi ini menunjukkan bahwa ada manusia dengan jenis kelamin laki-laki dengan membawa ciri-ciri tertentu (memiliki penis dan memproduksi sperma), dan ada pula manusia dengan jenis kelamin perempuan dengan ciri dan karakter yang dimilikinya pula, seperti memiliki alat reproduksi rahim dan saluran untuk melahirkan, memproduksi sel telur, memiliki vagina serta mempunyai alat untuk menyusui. Secara biologis, alat-alat tersebut tidak dapat dipertukarkan. Keduanya berlaku ajeg, tidak berubah, dan merupakan ketentuan atau kodrat tuhan (Fakih, 1999:8).
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mendefinisikan gender sebagai “pembedaan peran, atribut, sifat, dan perilaku yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.” Peran gender ini terbagi menjadi peran produktif, peran reproduksi, serta peran sosial kemasyarakatan. Gender juga diartikan sebagai peran yang dibentuk oleh masyarakat serta perilaku yang tertanam melalui proses sosialisasi yang berhubungan dengan jenis kelamin perempuan dan laki-laki. Ada perbedaan secara biologis antara perempuan dan laki-laki, tapi kebudayaan menerjemahkan perbedaan biologis ini menjadi seperangkat tuntutan sosial tentang kepantasan dalam berperilaku, dan pada gilirannya hak-hak, sumber daya, dan lainnya. Kendati tuntutan
21
ini beragam di setiap masyarakat, tapi terdapat beberapa kemiripan yang mencolok. Misalnya, hampir semua kelompok masyarakat menyerahkan tanggung jawab perawatan anak pada perempuan, sedangkan tugas kemiliteran diberikan pada laki-laki.
Mansour Fakih mengemukakan bahwa gender merupakan suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dibentuk secara sosial ataupun budaya. Misalnya, perempuan dikenal lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan, sedangkan laki-laki dianggap rasional, kuat, dan perkasa. Ciri sifat itu merupakan sifat-sifat yang dapat dipertukarkan sehingga dikatakan dibentuk secara sosial. Artinya, ada laki-laki yang emosional, lemah lembut, keibuan, sementara juga ada perempuan yang kuat, rasional dan perkasa. Hal ini membuktikan bahwa gender merupakan peran yang dapat dipertukarkan sementara jenis kelamin sesuatu yang dibawa sejak lahir, dan dengan alasan apapun tidak bisa dipertukarkan. Dari sini, dapat juga dikatakan bahwa jenis kelamin (laki-laki atau perempuan) tidak secara otomatis menelurkan sifat-sifat tertentu (lemah lembut, keibuan) dan peran-peran tertentu dalam keluarga (pencari nafkah, pemimpin keluarga) karena pada kenyataannya banyak perempuan menjadi pemimpin keluarga dan pencari nafkah, begitu sebaliknya.
Beragam definisi di atas mengantarkan kita pada sebuah kesimpulan bahwa gender berbeda dengan jenis kelamin. Jenis kelamin biologis merupakan anugerah dari Tuhan apakah kita akan terlahir sebagai perempuan ataupun laki-laki. Sebaliknya, budaya dan masyarakat menentukan peran-peran kita sebagai perempuan atau laki-laki (feminin atau maskulin) (Mosse, 2007: 2).
22
Mengapa ada Ketidakadilan Gender?
Jika masalah gender sesederhana itu, mengapa kemudian gender menjadi masalah? Di sini, masalah yang muncul biasanya ketidakadilan. Perempuan mendapatkan sesuatu yang tidak adil karena masyarakat menempatkannya demikian. Uraian berikut akan membahas hal itu.
23
Dalam sejarah dunia (umat manusia), derajat kaum perempuan selalu diungkapkan berada di bawah derajat kaum laki-laki. Perempuan boleh berkarir, asal rumah tangganya tidak tercecer, boleh berpolitik asal tidak menjadi pemimpin, bahkan yang paling ekstrim ketika perempuan boleh bersekolah asal kembali ke rumah. Pembedaan sering kali untuk hal-hal yang sangat sepele. Seperti pembedaan pemilihan warna, permainan bagi anak laki-laki maupun perempuan. Akibat persepsi yang demikian membuat perempuan berada pada posisi sulit. Selain itu, pembedaan perempuan dan laki-laki seperti ini secara tidak langsung menumbuhkan hubungan tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan-perbedaan yang diciptakan oleh manusia akhirnya mau tidak mau membuat terjadi ketidakseimbangan.
Munculnya perbincangan ketidakadilan gender juga disebabkan oleh cara pandang yang menunjukkan bahwa perbedaan jenis kelamin dapat menimbulkan perbedaan gender. Sebenarnya, perbedaan gender ini tidak akan menjadi masalah sepanjang tidak menimbulkan ketidakadilan gender (Gender inequalities). Namun kenyataannya, perbedaaan gender justru telah menimbulkan berbagai ketidakadilan baik bagi kaum laki-laki maupun perempuan. Secara biologis, kodrat perempuan yang memiliki organ reproduksi, hamil dan melahirkan memunculkan peran gender (gender role) sebagai perawat dan pendidik anak. Uraian berikut akan memaparkan bentuk-bentuk ketidakadilan gender.
Peminggiran
Peminggiran adalah usaha meminggirkan peran kaum perempuan karena adanya anggapan perempuan adalah warga kelas dua. Ini banyak terjadi di negara berkembang. Proses peminggiran ini erat kaitannya dengan proses kemiskinan. Sebagai contoh, banyak pekerja perempuan tersingkir dan menjadi miskin akibat program pembangunan. Perempuan dipinggirkan dari berbagai jenis kegiatan pertanian dan industri yang lebih memerlukan keterampilan yang biasanya lebih banyak dimiliki laki-laki.
24
Bentuk peminggiran terhadap kaum perempuan juga terjadi dalam rumah tangga, masyarakat dan bahkan negara. Jadi, peminggiran tidak hanya terjadi di tempat atau lokasi pekerjaan saja. Di rumah, peminggiran terhadap perempuan sudah terjadi dalam bentuk diskriminasi atas anggota keluarga yang laki-laki dan perempuan. peminggiran juga diperkuat oleh tafsir keagamaan maupun adat istiadat. Misalnya, pemberian hak waris di dalam sebagian tafsir keagamaan porsi untuk laki-laki dan perempuan berbeda, di mana pembagian hak waris untuk laki-laki lebih besar dari perempuan.
Subordinasi
Subordinasi adalah sebuah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih unggul dibanding jenis kelamin lainnya. Kenyataan ini diperkuat dan bahkan seringkali mendapat pembenaran baik secara teologis (agama), yaitu melalui tafsiran ajaran agama maupun dalam aturan birokrasi yang meletakkan perempuan di bawah laki-laki. Kenyataan ini dapat dilihat dari masih adanya nilai-nilai masyarakat yang membatasi ruang gerak perempuan dalam kehidupan. Sebagai contoh, peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah dimana jika suami akan pergi belajar (jauh dari keluarga) dapat mengambil keputusan sendiri, sedangkan bagi istri harus mendapat izin suami. Kemudian, dalam rumah tangga, dalam kondisi keuangan rumah tangga yang terbatas, masih sering ditemukan fakta bahwa laki-laki lebih mendapatkan prioritas dibanding perempuan. Ini karena adanya anggapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, toh pada akhirnya nanti akan ke dapur juga.
25
Stereotipe terhadap Perempuan
Stereotipe adalah pelabelan atau citra baku negatif yang
diberikan masyarakat kepada jenis kelamin tertentu, umumnya terhadap perempuan. Stereotipe diberlakukan secara umum tanpa melihat perbedaan setiap orang. Misalnya, orang Jawa disetereotipkan sebagai lemah lembut, sebaliknya orang Batak sebagai cenderung keras. Padahal, tidak sedikit orang Jawa yang keras, dan tidak sedikit pula orang Batak yang lembut. Setereotipe memukul rata sifat-sifat itu tanpa mempertimbangkan perbedaan.
Dalam kerangka gender, pelabelan negatif secara umum selalu melahirkan ketidakadilan yang merugikan kaum perempuan. Perbedaan standar nilai terhadap perilaku perempuan dan laki-laki lebih banyak menghakimi dan merugikan perempuan. Bentuk stereotipe contohnya adalah label yang disandang perempuan sebagai “ibu rumah tangga”. Pelabelan ini merugikan perempuan karena ketika perempuan bekerja, seberat apapun itu, selalu dianggap sebagai kegiatan untuk “membantu suami” karena laki-laki adalah pencari nafkah utama
(breadwinner).
26
Kekerasan
Pasal 1 Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan (1993) mendefinisikan kekerasan terhadap perempuan sebagai: “Setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi”. Kata kekerasan sendiri merupakan terjemahan dari kata violence, artinya suatu serangan terhadap fisik maupun mental psikologis seseorang. Oleh karena itu, kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisik saja seperti perkosaan, pemukulan dan penyiksaan, tetapi juga yang bersifat non fisik, seperti pelecehan seksual yang mengakibatkan korban mengalami ketidaknyamanan.
27
Beban Ganda
Dalam anggapan masyarakat, peran utama perempuan adalah mengelola rumah tangga sehingga banyak perempuan yang menanggung beban kerja keluarga lebih banyak dan lebih lama dibanding laki-laki. Pandangan mengenai kaum perempuan yang memiliki sifat memelihara dan rajin, serta tidak cocok menjadi kepala rumah tangga, berakibat bahwa semua pekerjaan rumah tangga menjadi tanggung jawab perempuan. Inilah yang kemudian menjadi bentuk lain ketidakadilan gender, yaitu beban ganda. Perempuan melakukan pekerjaan lebih banyak dibanding laki-laki. Pada umumnya, dalam suatu rumah tangga, beberapa jenis kegiatan dilakukan laki-laki dan beberapa dilakukan oleh perempuan. Namun, perempuan mengerjakan hampir 90% pekerjaan rumah tangga sehingga bagi perempuan yang bekerja, ia masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa wujud ketidakadilan gender ini telah mengakar dalam masyarakat. Semua wujud ketidakadilan gender ini saling mempengaruhi dan saling terkait. Wujud ketidakadilan itu disosialisasikan kepada kaum laki-laki dan perempuan, yang pada akhirnya menjadi sebuah keyakinan bahwa peran gender itu seolah-olah merupakan suatu kodrat. Akibatnya, lambat laun, ketidakadilan itu diterima sebagai sebuah kewajaran.
29
BAHASA DAN OBJEKTIVIKASI
PEREMPUAN DI MEDIA SOSIAL
Bab ini akan diarahkan untuk memberikan pelajaran dalam dua hal, yakni menemukan bentuk-bentuk ketidakadilan gender dalam bahasa yang digunakan di media sosial, dan bagaimana menjadi komunikator yang memiliki kepekaan gender. Dalam pengertian umum, kepekaan gender dapat berarti kepekaan terhadap perempuan ataupun laki-laki. Namun, dalam bab ini dan keseluruhan buku ini, kepekaan berarti adalah kepekaan terhadap keadilan perempuan. Tujuannya agar kita bisa menghindarkan diri dari penggunaan bahasa yang bias gender ketika berhubungan dengan pihak lain, terutama perempuan, di media sosial.
Bahasa dan Penghadiran Kembali Dunia
Media sosial telah kita gunakan secara terus-menerus untuk menghadirkan diri kita secara seksual, baik secara laki-laki dan perempuan sebagai identitas seksual (Barbovschi, Jereissati, dan Castello, 2017)3 Penghadiran diri itu (representasi) dapat dilakukan
melalui bahasa dan gambar. Keduanya mempunyai peran yang sangat penting dalam usaha kita untuk menghadirkan diri dalam media sosial.
_____________________
30
Dalam Kamus Bahasa Besar Bahasa Indonesia (KBBI Online), representasi artinya perbuatan mewakili, keadaan diwakili, apa yang mewakili atau perwakilan. Dalam dunia ilmu komunikasi, representasi berarti “menggunakan bahasa untuk mengatakan sesuatu yang bermakna atau menghadirkan, dunia yang penuh makna, kepada orang lain.” (Hall, 1997: 15). Pendeknya, representasi adalah bagaimana kita mengatakan sesuatu dengan menggunakan bahasa. Kita menghadirkan orang, benda, pikiran atau gagasan dengan menggunakan bahasa. Ketika kita mengatakan si Alia adalah perempuan gendut yang menyebalkan maka sebenarnya kita sedang memberikan makna atas perempuan yang bernama Alia. Kita menghadirkan–dengan menggunakan bahasa–perempuan bernama Alia sebagai gendut yang tidak menyenangkan. Padahal, kita juga bisa mengatakan si Alia sebagai perempuan yang cantik, baik, dan rendah hati. Di sinilah, bahasa itu menjadi sangat penting karena ketika kita menggunakan bahasa berarti bahwa kita sedang menghadirkan orang, pikiran, atau barang sesuatu, dan karenanya kita memberikan makna atasnya. Bagaimana kita menghadirkan semua itu (orang, benda, atau pikiran)– berarti kita sedang memberikan makna atasnya. Seluruh bahasa yang kita gunakan untuk menghadirkan sesuatu itu mempengaruhi cara kita dan orang-orang melihat apa yang kita hadirkan melalui bahasa itu.
Dalam kehidupan sehari-hari, representasi atau usaha penghadiran kembali (suatu objek/subjek) hampir sebagian besar dilakukan dengan menggunakan bahasa. Sebagai contoh, ketika kita mengungkapkan pikiran maka sebenarnya kita sedang mengungkapkan apa yang hendak kita representasikan, dan itu semua menggunakan bahasa. Ketika kita mengatakan “cantik” maka sebenarnya kita sedang mengungkapkan sosok perempuan atau hal lainnya yang berasosiasi dengan kata ‘cantik.’. Dalam pemahaman umum, kita sering menangkap kata “cantik” sebagai representasi atas seorang perempuan yang (mempunyai wajah) elok atau molek, seorang perempuan yang rupawan. Perempuan cantik tadi terwakilkan atau terepresentasikan melalui bahasa.
31
Secara singkat, bahasa dipahami sebagai “sebuah sistem simbol-tulisan dan lisan yang digunakan oleh anggota suatu kelompok masyarakat dengan cara yang teratur untuk memperoleh suatu arti.” (Blake dan Haroldsen, 2005: 6). Blake dan Haroldsen lebih jauh mengemukakan bahwa simbol itu sendiri dipahami sebagai “sesuatu yang secara sengaja digunakan untuk menunjukkan sebuah benda lainnya. (Benda) yang ditunjuk oleh simbol itu adalah apa yang dimaksudkan oleh suatu kelompok sosial.” Dalam pengertian ini, secara sederhana, dapat dipahami bahwa simbol selalu merujuk sesuatu yang lain. Misalnya, simbol untuk merujuk pada manusia berjenis kelamin laki-laki. Kata “laki-laki”, di sisi lain, merujuk pada jenis kelamin manusia dengan salah satu ciri khasnya mempunyai penis untuk membedakannya dengan wanita (pemilik vagina).
Suatu simbol hampir pasti merujuk pada objek tertentu, dan anggota masyarakat biasanya memandang hubungan diantara simbol dengan objek yang dirujuknya tidak bisa dipisahkan (Blake dan Haroldsen, 2005: 7). Dengan demikian, kata apapun baik dalam bentuk simbol, tulisan ataupun isyarat akan merujuk pada suatu jenis objek atau subjek tertentu seperti kata dan simbol laki-laki.
Simbol-simbol diciptakan manusia secara sosial. Artinya, kehadiran simbol selalu terikat pada kehidupan sosial manusia sehingga simbol berarti adalah kesepakatan-kesepakatan bersama. Oleh karena itu, sangat mungkin terjadi, setiap masyarakat mempunyai kesepakatan-kesepakatan yang berbeda atas suatu simbol dengan benda yang dirujuknya meskipun mungkin tidak sama sekali berbeda. Sebagai contoh, isyarat menggelengkan kepala berarti tidak dalam sebagian masyarakat, tapi iya bagi sebagian masyarakat yang lain. Ini menunjukkan bahwa isyarat-isyarat simbolik bersifat konsensual (disepakati bersama).
32
Ada beberapa bentuk simbol yang harus kita pahami, yakni kata-kata verbal, seperti dalam ucapan dan tulisan; ataupun lambang-lambang seperti pada bendera, pusaka, dan lain-lainnya. Semuanya merujuk pada sesuatu yang lain, dan media sosial kiranya penuh dengan simbol-simbol semacam ini.
Mengidentifikasi Bias Gender Melalui Bahasa
Dalam menggunakan media sosial, kita tidak akan pernah bisa dilepaskan dari hubungan-hubungan yang bersifat gender. Status seseorang, komentar seseorang atas suatu peristiwa atau kejadian banyak terkait erat dengan perempuan. Diantara status dan komentar itu, tidak kita sadari mengandung bias gender. Di sini, bias gender dipahami sebagai situasi yang tidak adil bagi perempuan karena status, komentar ataupun tulisan viral yang muncul di media sosial. Oleh karena itu, sebagai pengguna media sosial yang bijak, adalah baik jika kita memahami bias gender yang terjadi di media sosial.
Pertama-tama, kita harus mampu mengidentifikasi bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang sering muncul di media sosial. Ini bisa dilihat dari bagaimana perempuan diposisikan melalui komentar, tulisan status, ataupun sebuah tulisan panjang yang viral ke kita. Bias gender terjadi ketika perempuan ditempatkan sebagai ‘objek’ dan bukannya subjek. Objek dalam hal ini dipahami sebagai “pihak yang menjadi sasaran pembicaraan” atau lebih mudahnya sebagai pihak pasif yang menerima segala yang dibicarakan atas dirinya. Tentunya, si pembicara adalah laki-laki, dan berbicara dengan sudut pandang laki. Di media sosial, bias gender itu bisa dikenali dengan mudah melalui stereotipe, metafora, dan derogasi semantik.
33
Stereotipe
Suatu waktu mungkin Anda dikirimi gambar seorang teman dalam sebuah grup percakapan WhatsApp atau menemukan gambar di Instagram dengan sebuah captions. Namun, sering kali, komentar atau tulisan ini dipenuhi oleh suatu pandangan yang didasarkan atas prasangka-prasangka tertentu terhadap perempuan. Misalnya, jika perempuan merokok, maka muncul kesimpulan bahwa perempuan itu nakal. Padahal, tidak demikian. Bisa juga, seperti komentar di bawah, perempuan yang berjoget dianggap sebagai ‘mak-mak’ yang tidak pantas, dan mesti pulang ke rumah mengurusi anak-anak mereka.
Gambar di atas merupakan aksi Nia Ramadhani di Instagram dan muncul dalam sebuah berita daring. Dalam aksi itu, banyak yang memberi komentar. Salah satunya utabali102030. Komentarnya, “Ya ampun lama2 u ketabrak motor. Anak2 u siapa yang ngurusi? Otaknya udah kegilaan bule nih.” Komentar ini meneguhkan pandangan domestik tentang perempuan sebagai pengasuh anak-anak, sedangkan laki-laki tidak. Komentar ini sangat dipengaruhi oleh gambaran mengenai dunia yang dikuasai laki-laki. Dalam gambaran dunia itu, laki-laki berhak berbuat apapun, tapi tidak bagi perempuan karena harus mengurusi anaknya di rumah. Laki-laki tidak mempunyai beban atas itu.
34
Komentar lainnya memberi predikat Nia atas apa yang dilakukannya sebagai kelakuan ‘mak-mak’ yang tak pantas. Ini bisa ditemukan dalam komentar Afraturengga, “Tahun depan kita harus gini jangan kalah dengan emak2.” Komentar lainnya, “gila dah ni emak emak”.
Emak-emak dipilih untuk memberikan sebutan kepada Nia Ramadani, artis yang telah mempunyai tiga orang anak. Oleh karena sudah mempunyai anak ketiga dan bertingkah laku seperti dalam video itu, maka dikomentari sebagai “emak-emak.” Kata “emak-emak” digunakan dengan nada merendahkan. Padahal, “mak” makna denotatifnya (makna sesuai kamus) adalah perempuan yang patut disebut ibu atau dianggap sepadan dengan ibu. Namun, dalam komentar itu, “mak” mempunyai konotasi negatif sebagai perempuan beranak yang tidak boleh bertingkah aneh-aneh. Di sini, ada setereotip yang dilekatkan terhadap kata emak-emak, yakni perempuan yang telah mempunyai anak, dan selalu tinggal di rumah untuk mengurusi anak-anak mereka. Padahal, pada kenyataannya, di dunia modern, ‘emak-emak’ banyak berkiprah sebagai guru, dokter, pilot, dan bahkan sebagai satpam.
35
Metafora
Metafora adalah penggunaan kata atau kelompok kata, tapi tidak dalam arti yang sebenarnya, melainkan sebuah lukisan yang menggambarkan persamaan atau perbandingan (KBBI online). Metafora adalah sebuah perbandingan baik secara eksplisit (terang-terangan) atau secara implisit (tersembunyi) (Thwaites, David, Mules, 2009). Webster’s Third New International Dictionary mendefinisikan metafora adalah “sebuah kiasan yang menggunakan sepatah kata atau frase yang mengacu kepada objek atau tindakan tertentu untuk menggantikan kata atau frase yang lain sehingga tersarankan suatu kesimpulan atau analogi diantara keduanya (dikutip dari Budiman, 2005: 71). Sebagai contoh, kita sering menyebut para koruptor, orang yang maling uang rakyat, dengan tikus-tikus kantor. Tikus dalam frase tikus-tikus kantor tidak merujuk pada tikus–sejenis hewan pengerat–yang hidup di kantor, tapi pada orang yang suka mencuri sesuatu yang bukan haknya (maling). Tikus suka sekali ‘mencuri’ bahkan makanan kita, begitu juga koruptor. Di sini, ada perbandingan yang mirip.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menggunakan bahasa-bahasa metafor semacam itu untuk menggambarkan orang-orang, tidak terkecuali teman-teman kita. Tentu saja, tidak semua metafor adalah buruk. Kecantikan perempuan itu laksana bidadari adalah suatu bentuk metafor. Sebaliknya, ketika kita mengatakan si gemuk itu jalannya seperti babi ngepet, kita sedang menggunakan metafor dalam pengertian yang negatif. Metafora-metafora bahasa banyak kita temukan dalam media sosial ketika membaca status teman-teman kita, komentar, atau bahkan tulisan yang viral di media sosial. Tentu saja, metafora tidak hanya dalam bentuk bahasa. Ia juga bisa mewujud dalam bentuk gambar atau visual. Namun, pada bagian ini, kita hanya fokus pada metafora bahasa, dan bagaimana metafora itu sering kali digunakan untuk ‘merendahkan’ perempuan atau mengukuhkan dunia yang dikuasi laki-laki (dunia patriarkhal).
36
Pada bagian sebelumnya, kita telah membahas komentar netizen mengenai aksi Nia Ramadani yang diolok-olok sebagai ‘emak-emak’. Dijelaskan bahwa kata emak-emak adalah sebuah stereotip karena secara serampangan menyamakan perempuan yang sudah beranak sebagai ‘emak-emak’ dalam konotasi yang negatif. Padahal, setiap individu mempunyai keunikannya masing-masing.
Metafora, di sisi lain, bekerja berdasarkan logika perbandingan. Suatu metafora adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan seseorang atau objek dengan cara menggantikan sesuatu yang dianggap mempunyai karakteristik yang mirip. Maka, komentar “emak-emak” di atas, bukan hanya tentang perempuan yang sudah mempunyai anak, tapi juga–dalam makna konotatifnya–seseorang yang tidak lagi diizinkan bertingkah “aneh-aneh,” terutama layaknya gadis belia. Maka, emak-emak pun bukan hanya menjadi bahan rujukan, tapi sekaligus perbandingan. Dalam konteks ini, emak-emak adalah metafor.
Derogasi Semantik
Derogasi semantik terjadi ketika kata yang digunakan untuk merujuk pada wanita mendapatkan makna yang negatif atau mendapatkan makna konotasi seksual (Wareing, 2007: 113). Di sini, semantik dipahami sebagai “makna”, dan derogasi diartikan sebagai “membuat sesuatu tampak lebih rendah.” Derogasi semantik ini banyak terjadi di media sosial ketika membaca judul, komentar, dan sebagainya.
Kata “emak’ sebagaimana dikemukakan di atas mempunyai makna yang merendahkan. Dalam suatu budaya masyarakat, anak-anak sering memanggil ‘emak’ untuk ibu mereka. Dengan demikian, panggilan ‘emak’ setara dengan panggilan “ibu” ataupun “bunda”. Namun, dalam komentar di atas, “emak” mempunyai makna yang merendahkan. Maka, di sini, terjadi yang namanya derogatif semantik. Derogasi semantik juga terjadi pada kata ‘semok’ yang disematkan dalam komentar gambar berikut.
37
Sumber gambar: http://solo.tribunnews.com/2016/04/26/meme-meme-pelajar- sma-pakai-seragam-ketat-dan-rok-nanggung-viral-di-sosial-media
Kata montok pada kalimat “sisain yang paling montok untuk teman kamu” adalah suatu bentuk derogasi semantik lainnya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata montok mempunyai arti netral. Montok artinya kembung atau gembung (tentang pipi orang gemuk). Namun, dalam kalimat itu, montok dikonotasikan dengan hal-hal yang bersifat seksual, yakni wanita yang montok (secara seksual).
Derogasi semantik juga terjadi pada kata ‘papa’ dalam kalimat pada gambar di bawah. Dalam gambar tersebut, kata “papa” mempunyai konotasi seksual karena–dengan melihat tampilan gambar–makna yang diacu bukan pada ‘papa’ dalam pengertian biologis (ayah kandung), tapi papa dalam pengertian lain (om-om genit). Maka, papa yang dimaksud di sana ditujukan pada papa bukan ayah biologis, tapi papa (ayah anak lain di luar foto itu) yang menaruh minat seksual. Di sini, terjadi derogasi semantik karena makna papa cenderung direndahkan dan berbau seksual.
38
Sumber gambar: https://www.liputan6.com/citizen6/read/3025551/meme-hari-pertama-masuk-sekolah-bikin-warganet-gagal-fokus
Dari keseluruhan paparan pada bab ini, ini kita menjadi sadar bahwa bahasa yang kita gunakan seringkali menjadikan perempuan sebagai objek seksual dan cenderung merendahkan. Oleh karena itu, adalah penting bagi para pengguna media sosial di kalangan remaja untuk berhati-hati dalam menggunakan bahasa ketika mengomentari gambar-gambar yang menampilkan perempuan. Ini karena bisa jadi bahwa secara sadar kata-kata itu merendahkan atau berasosiasi seksual yang menciptakan wanita semata sebagai objek bagi laki-laki. Jika ini terjadi maka kita telah melakukan pelanggaran terhadap hak-hak perempuan.
39
MEMBACA GENDER DALAM
VISUALITAS DI MEDIA SOSIAL
Tren foto selfie mendorong Oxford Dictionaries memasukan genre foto ini sebagai entri yang diartikan sebagai foto yang dibuat oleh diri sendiri secara khas dengan ponsel atau webcam untuk kemudian diunggah ke media social (Wijaya, 2018:31). Dalam sejarah fotografi, swafoto pernah dilakukan oleh beberapa fotografer pada tahun 1920. Jumlah foto yang diunggah ke laman media sosial cukup fantastis. Lebih dari 350 juta foto diunggah ke Facebook dan lebih dari 60 juta foto ditautkan ke Instagram setiap hari. Angka itu semakin bertambah seiring dengan dinamika dan popularitas media sosial.
Para pengguna media sosial sering tidak menyadari jika unggahannya dapat memicu beragam akibat, baik unggahan tulisan maupun visual. Sebuah foto selfie, misalnya, tidaklah hadir tanpa makna. Sebagai potret diri, selfie memunculkan makna yang beragam sebagaimana diungkapkan Imam Hardiman & Mursal (2016): a). potret diri sebagai tanda tangan; b) potret diri sebagai proyeksi diri; c). potret diri sebagai studi diri, d). potret diri sebagai fantasi, e). potret diri sebagai narasi, f). potret diri sebagai kiasan, dan g). potret diri sebagai refleksi masalah kemanusiaan. Melalui pembacaan semiotis, kita bisa mencoba menyingkap isyarat dan makna yang hendak disampaikan sebuah foto selfie.
Foto selfie menguatkan eksistensi, mengokohkan status, dan mengikis jarak antara yang privat dan yang publik (Wijaya, 2018:31). Hasrat narsisistik masih dominan dalam bentuk foto diri dengan format
40
sebagai foto profil yang menginformasikan identitas si pemillik akun maupun dalam foto aktivitas lain. Foto portraiture mengedepankan detail objek foto. Ekspresi menjadi kekuatan penting dalam foto jenis ini (Smith, 2018:15). Ekspresi wajah mengungkap karakter, kepribadian, dan perasaan seseorang. Tatapan subjek foto portrait menjadi jembatan yang menghubungkan foto (objek) dengan sang pembuatnya (kreator foto) maupun pembacanya (viewer/ spektator). Ada beberapa ragam foto diri (swafoto, selfie) yang sangat khas dalam unggahan di media sosial:
Foto selfie biasa (ordinary photo) yang tidak menggunakan banyak trik dan permainan komposisi, seperti pilihan angle atau sudut pengambilan gambar, dan menampakkan ekspresi yang biasa. Foto biasa ini hanya menyampaikan informasi eksistensial tentang subjek melalui ekspresi wajah.
Silly Face Selfie, gaya foto selfie yang berusaha tampil lucu, seperti menjulingkan mata, menjulurkan lidah, memonyongkan bibir, dan berbagai ekspresi konyol lainnya. Foto semacam ini sangat digandrungi remaja meskipun kadang juga dilakukan oleh mereka yang sudah tidak muda lagi.
Mirror selfie, foto yang diambil dengan merefleksikan diri pada cermin sehingga imaji diri terekam dalam cermin. Foto semacam ini dapat dilakukan di berbagai tempat seperti cermin di kamar tidur, kamar pas di mall, kamar mandi, kaca spion mobil dsb;
No Make Up Look, selfie dengan wajah tanpa polesan make up (polosan, bare face); foto selfie ini pernah trend di kalangan pesohor yang menampikan wajah mereka apa adanya, tanpa riasan make up seperti foto yang diambil saat kali pertama mereka bangun tidur.
Duck Face Selfie, pose yang menghasilkan kesan cute dan lucu. Pose ini sekarang tergeser oleh gaya fish gape. Gaya ini sempat menjadi trend di kalangan remaja caranya dengan membuka mulut sedikit dan disorongkan ke depan seperti bibir seekor bebek atau ikan. Selanjutnya, ada cute selfie, couple selfie, wefie,
41
Mencoba Membaca Unggahan Foto
Pada bagian ini, kita akan mencoba membaca berbagai bentuk unggahan foto di media sosial. Dengan membaca berbagai foto yang beredar di media sosial, diharapkan kita akan menjadi semakin paham dan kritis mengenai bagaimana gambar-gambar foto itu tidak hanya mempunyai ciri khas, tapi juga memiliki makna yang terkandung di dalamnya. Dari sudut pandang gender, kemampuan membaca unggahan foto-foto di media sosial diharapkan akan memberikan kita kepekaan akan gender dan relasinya. Tidak menjadi paham dalam pembacaan, sikap kritis juga menuntun kita untuk bijak dalam memproduksi, mengunggah, dan menyebarluaskan foto di media sosial.
Narsisisme sebagai proyeksi Diri
Narsisisme bisa dianggap sebagai bentuk gangguan jiwa jika dilakukan secara berlebihan. Dalam psikologi, kondisi itu dikenal dengan istilah
narcissistic personality disorder (NPD).4 Dalam situasi yang ekstrim,
gangguan ini menyebabkan pelakunya menjadi terganggu aktivitas hidupnya, kehilangan nafsu dan selera makan, tidak produktif, dan hanya menghabiskan waktu untuk bersolek melalui selfie. Penderita NPD cenderung menjadi pribadi yang emosional, pemarah, sombong, ingin dikagumi, dan anti sosial.5
Hasrat narsisistik menemukan ruangnya ketika media sosial semakin popular di kalangan generasi milenial. Sampai saat ini, seperti dirilis LendEDU, Instagram menjadi media sosial yang paling laris sebagai media unggah foto selfie dibanding media lain: Snapchatt,
Twitter dan Facebook. Sebanyak 64 % partisipan dalam riset tersebut
memilih Instagram sebagai platform untuk narsis. Berikutnya Facebook (10%), Snapchatt (15%), dan Twitter (11%).
______________________
4
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150107143051-255-22962/mengenal-narsisme-gangguan-jiwa-karena-selfie-berlebihan
5