• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENJADI LITERATE DAN SENSITIF GENDER

Dalam dokumen Sensitif Gender dalam Bermedia Sosial (Halaman 60-72)

MEMBACA GENDER DALAM VISUALITAS DI MEDIA SOSIAL

MENJADI LITERATE DAN SENSITIF GENDER

Kita telah mendiskusikan media sosial dan bagaimana bias gender terjadi baik melalui bahasa dan gambar. Pada bagian keenam ini, kita akan berusaha menguasai sepuluh kecakapan yang harus dimiliki oleh seseorang ketika menggunakan media sosial, sekaligus mempunyai kepekaan terhadap gender. Untuk kebutuhan ini, kita akan menggunakan 10 kecakapan (kompetensi) Literasi Digital yang digunakan Japelidi (Jaringan Peduli Literasi Digital) dapat membantu kita dalam membaca pesan (gambar dan tulisan) secara kritis, memilah-milah pesan mana yang dibaca dan mana yang dibuang, meneruskan atau tidak meneruskan sebuah pesan di media sosial, ataupun memproduksi pesan di media sosial yang mempunyai kepekaan gender.

1. Mengakses

Mengakses merupakan kecakapan pertama yang disyaratkan. Ini awal untuk kecakapan lainnya. Anda tidak mungkin cakap dalam menggunakan media digital jika Anda tidak mampu mengaksesnya. Maka, kemampuan mengakses adalah kecakapan dasar sebelum cakap ke hal-hal lainnya.

Kecakapan mengakses ini merujuk pada bagaimana seorang mampu menggunakan media digital secara teknis. Kemampuan ini akan terlihat pada bagaimana seseorang paham dan mengetahui tools yang digunakan untuk mengakses sesuatu melalui perangkat digital seperti

smartphone, tablet, pad, komputer ataupun laptop yang terhubung

52

2. Menyeleksi

Kecakapan literasi digital kedua adalah melakukan seleksi. Dalam kecakapan ini, para user atau pengguna media digital diharapkan mampu memilah dan benar-benar menyeleksi informasi baik dalam bentuk suara, visual, ataupun teks yang ia peroleh dari media digital atau media baru. Pada bagian ini, seleksi tidak hanya menyangkut konten positif atau negatif, baik atau buruk, tapi juga memilah konten-konten yang sensitif akan gender. Melalui kecakapan ini, diharapkan para pengguna tidak menyalahgunakan informasi yang tersedia secara bebas di media baru, dan dapat melihat secara kritis bias gender yang ada dalam teks media sosial. Pada kecakapan ini, yang sangat dibutuhkan adalah kemampuan untuk mengontrol informasi. Oleh karena itu, jika kita ingin berseluncur di media baru (surfing/browsing) dan ingin membuka akun Facebook akan memilah-milah informasi yang benar-benar dibutuhkannya, dan menghindari sedapat mungkin pesan yang tidak sensitif gender.

Gambar di bawah adalah contoh bagaimana kita harus memilih pesan-pesan dalam media sosial yang kita akses atau gunakan. Status yang dituliskan pada gambar di bawah terkesan lucu dan mengundang tawa, tapi mengandung derogasi semantik dan melecehkan perempuan. Jika kita sensitif gender, kita tidak akan terbawa ketika membaca status ini, dan lebih-lebih menyebarkannya. Kemampuan “menyeleksi” menemui gambar dan teks seperti gambar di bawah, membawa kita pada kemampuan untuk membuang informasi tersebut atau tidak meneruskan informasi tersebut.

53

Sumber: https://www.hargakata.com/status-facebook-lucu-terbaru/

.

3. Memahami

Kecakapan selanjutnya adalah pemahaman. Kemampuan ini mengharapkan seseorang untuk memiliki pemahaman terhadap konten informasi yang disuguhkan media baru. Seperti telah dibahas pada kompetensi kedua, pada kompetensi ketiga ini, setelah penyeleksian, seorang pengguna harus memahami konten baik itu gambar, suara, teks atau jenis informasi lain yang pada akhirnya dapat digunakannya pada kehidupan sehari-harinya

Gambar di atas jika digunakan sebagai lanjutan contoh dalam kompetensi ketiga ini. Di sini, kita memahami konten status tersebut sebagai informasi yang kurang baik dan juga bias gender karena memosisikan wanita sebagai objek lelucon. Oleh karena itu, kita tidak perlu menyebarluaskannya. Singkatnya, dengan memahami gender dan ketidakadilan perempuan, kita menjadi paham bahwa sesuatu yang tampaknya lucu dan menghibur pada dasarnya mengandung pelecehan terhadap perempuan.

54

4. Menganalisis

Menganalisis adalah tahapan kecakapan keempat yang merupakan kemampuan pengguna dalam hal pendekonstruksian pesan. Pengguna diharapkan mampu melakukan kegiatan mengolah informasi (secara kognitif) yang ia dapat dari media baru sebagai hasil dari proses subjektif atau produksi dari seseorang lain yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya pembuatnya.

Pada tahapan “menganalisis” ini, paling tidak, kita harus memahami bahwa konten-konten yang tersebar bebas di media baru merupakan hasil dari tangan-tangan seseorang dengan kepentingan-kepentingan dan niatan-niatan tertentu. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam mengkonsumsi dan menyebarkannya.

5. Memverifikasi

Kecakapan selanjutnya adalah berhubungan dengan proses memverifikasi atas informasi yang didapatkan oleh seorang pengguna media baru. Termasuk dalam kemampuan ini adalah pemprosesan makna atas konten yang ia dapatkan yang kemudian dilihat dari berbagai sudut pandang. Dalam konteks sensitif gender, dapat diilustrasikan seperti seorang remaja putra atau putri yang ingin mencari informasi tentang pandangan bahwa “pendidikan bagi kaum hawa itu tidak perlu terlalu tinggi”. Dalam hal ini, kita harus melakukan verifikasi atas informasi yang kita dapatkan. Pertama, jika kita melakukan pengaksesan terhadap informasi tersebut pada search engine tertentu, maka kita akan melakukan keempat tahapan kompetensi sebelumnya sampai pada kemampuan analisis. Selanjutnya, kita akan melakukan pengecekan keterpercayaan sumber informasi yang kita konsumsi, dan menghindari sumber-sumber anonim yang tidak jelas penulis atau pembuatnya. Pada langkah selanjutnya, kita harus mencari sumber-sumber lain terkait dengan topik seputar pendidikan kaum perempuan dari berbagai sudut pandang, misalnya, kita akan mencari berbagai informasi terkait topik tersebut dari segi agama, pendapat ahli

55

sampai pada bahan-bahan rujukan terpercaya lainnya. Baru kemudian, kita akan memverivikasi pada tahap akhir dengan mengintegrasikan keseluruhan informasi yang kita dapatkan.

6. Mengevaluasi

Pada kecakapan ini, mengevaluasi adalah kecakapan yang dilakukan untuk menentukan pengambilan keputusan. Ini berkaitan dengan kegiatan mengulas konten yang didapatkan pada media baru. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut.

a. Mempertanyakan kembali keabsahan konten.

b. Memikirkan secara kritis isu-isu yang terkait di balik konten tersebut seperti nilai-nilai dari pembuat atau pemroduksi pesan, motif, dan kepentingan dari sumber informasi. Jika kita mampu mengajukan kritik atas konten yang ada, maka dapat dianggap berada pada kecakapan ini.

c. Setelah memikirkan secara kritis, kita dapat melakukan pengambilan keputusan atau penyimpulan. Misalnya, setelah melihat pesan atau gambar, kita dapat menyimpulkan bahwa pesan (tulisan atau gambar) itu melecehkan atau meminggirkan perempuan ataukah tidak.

7. Mendistribusikan

Mendistribusikan merupakan kecakapan pada tingkat selanjutnya yang tidak hanya membutuhkan kemampuan secara teknis untuk berbagi atau membagikan konten, tetapi juga dalam hal selektivitas dan penyaringan. Di sini, seseorang yang sudah paham dan sensitif gender diharapkan untuk mampu melakukan hal-hal berikut.

a. Bersikap jujur atas identitas yang ia miliki. Ketika membuat akun suatu media sosial kita akan menggunakan identitas sesungguhnya. Dengan begitu, kita akan dapat membentengi

56

diri terutama dalam hal seleksi dan berbagi konten di media baru.

b. Melindungi privasi diri. Dengan kepemilikan akun sesuai identitas, kita akan berusaha terus melindungi privasi, contohnya dengan tidak menyebarkan atau mendistribusikan hal-hal yang terkait privasi seperti nomor telepon, alamat rumah dan kegiatan atau hal-hal domestik terkait dengan keluarga, kekerabatan atau perlindungan terhadap identitas diri lainnya yang bersifat pribadi atau privasi serta legal/ hukum.

c. Menyeleksi dan memikirkan konten yang akan didistribusikan. Dalam hal ini, kita tidak begitu saja menyebarkan isi pesan tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Jika pesan itu berkaitan dengan perempuan, maka jika pesan itu meminggirkan atau melecehkan perempuan, maka tidak akan kita distribusikan lebih lanjut.

d. Asas manfaat dan peduli akan hak konsumsi orang lain. Dalam hal ini, kita harus mampu mempertimbangkan aspek manfaat dari konten yang akan kita distribusikan atau kita bagikan, dan menyadari bahwa hal tersebut tidak mengusik hak konsumsi orang lain. Sebagai contoh, jika kita sedang dalam keadaan patah hati, maka selayaknya tidak memposting foto mantan kita di instagram dengan caption yang tidak beraturan atau “memaki-maki” sang mantan. Tanpa disadari, hal ini telah mengumbar privasinya dan memposting hal yang kurang bermanfaat serta dapat mengganggu hak konsumsi pengguna lain akun instragam yang mem-follow kita. Selain itu, posting tersebut juga akan menempatkan posisi gender tertentu (dalam hal ini perempuan) dalam kondisi yang disalahkan.

57

8. Memproduksi

Kecakapan memproduksi dikaitkan dengan kemampuan seseorang untuk menghasilkan atau menduplikasikan informasi baik gambar, suara atau video melalui media baru. Dalam hal ini, kita dikatakan sudah pada tahap kecakapan ini jika mampu melakukan hal-hal berikut.

a. Memahami tujuan pemroduksian atau penduplikasian konten. Tujuan konten diharapkan jelas sehingga dalam pembuatan konten pun akan terarah, dan sesuai dengan maksud kita.

b. Isi dan jenis konten (audio, visual, teks) atau informasi yang diproduksi tidak bias gender. Informasi yang terkandung dalam konten yang dibuat atau diproduksi diharapkan tidak menyinggung gender tertentu.

c. Mempertimbangkan sasaran dari konten yang akan kita sampaikan. Hal ini akan terkait dengan usia, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial ekonomi/pendidikan dan lain sebagainya.

d. Mempertimbangkan media yang akan digunakan sebagai penyebarluasan konten saat diproduksi. Hal ini juga akan berkaitan dengan isi informasi yang diproduksi.

9. Berpartisipasi

Kecakapan ini berhubungan dengan kemampuan untuk keterlibatan secara aktif dan kritis terkait dengan penggunaan dan pengkonsumsian informasi. Seorang pengguna diharapkan mampu berpartisipasi secara aktif dan positif melalui media sosial yang telah kita pilih sebagai media komunikasinya. Di sini, kita diharapkan mampu berkontribusi dalam: (a) percakapan (b) feedback (c) kritik (d) saran (e) postingan kembali melalui media baru yang positif dan sesuai.

58

Sumber:

https://www.instagram.com/p/BjPV6ZOH5IN/?hl=id&taken-by=mulanjameela1

Gambar di atas adalah salah satu contoh partisipasi dari

pengguna yang dinilai kurang positif. Pertentangan komentar antarpara netizen di akun salah satu selebriti tanah air ini menjadi contoh bentuk

tentang bagaimana kita berpartisipasi sehingga dapat mendorong adanya partisipasi publik yang lebih manfaat dan positif.

10. Berkolaborasi

Kecakapan terakhir adalah bagaimana kita mampu membuat konten di media sosial yang berasas pada kecakapan kreativitas, mengacu pada kesesuaian nilai-nilai-nilai sosial budaya sehingga mampu menghasilkan dan memicu kemampuan bersama atau kecakapan sosial setelah mengkonsumsinya. Ini merupakan harapan untuk pengguna media sosial yang pada akhirnya mampu mengkreasi dan memproduksi dan berpartisipasi dalam konten yang bermanfaat dan

59

sesuai untuk diri tanpa bias gender. Sebagai contoh, pergerakan kaum muda dalam menggerakkan kegiatan jurnalisme warga dimana melalui kegiatan ini para pemuda atau remaja diharapkan mau dan mampu berbagi informasi tentang topik dan keadaan di sekitar mereka untuk dapat dibagikan dan bermanfaat bagi pengkonsumsi media.

Dalam kegiatan ini, kita paling tidak mampu melakukan tahapan sebagai berikut.

a. Sadar akan adanya informasi atau topik tertentu yang bermanfaat ketika dibagikan

b. Mempertimbangkan topik yang akan diangkat sehingga jauh dari kesan bias gender

c. Mengumpulan ata-data yang diperlukan dari berbagai sumber informasi dan pustaka

d. Merumuskan informasi tersebut dalam konsep basic

journalism (5W+1 H)

e. Menyebarluasan melalui media sosial yang disesuaikan dengan tujuan

Dengan kecakapan sebagaimana dipaparkan di atas, diharapkan kita akan mampu membaca, menyebarkan, dan memproduksi konten media sosial yang lebih positif. Utamanya, kemampuan untuk mengidentifikasi bias gender dalam suatu teks, dan memproduksi teks yang benar-benar menjamin kesetaraan dan keadilan perempuan. Sementara bagi kaum perempuan, kemampuan ini dapat membuatnya lebih kritis dalam memposting tulisan atau gambar yang membuatnya tidak lagi menjadi objek bagi laki-laki. Dengan cara demikian, kita akan menjadi warga net pengguna media sosial yang benar-benar sensitif gender dan memberikan sumbangan bagi usaha menciptakan masyarakat yang sehat.

60

Daftar Pustaka

Barbovschi, Monica; Tatiana Jereissati & Graziela Castello “Representations of Gender on Social Media among Brazilian Young People Between Reinforcing and Challenging the Stereotypes” artikel diunduh dari https://nordicom.gu.se/sites/ default/files/kapitel-pdf/14_barbovschi_et_al.pdf

Blake, Reed H dan Edwin O. Haroldsen (2005). Taksonomi Konsep

Komunikasi, terjemahan Hasan Bahanan. Surabaya: Penerbit

Papyrus

Budiman, Kris (2005). Ikonisitas: Semiotika Sastra dan Seni Visual. Yogyakarta: Penerbit Buku Baik

Nasrullah, Rulli (2017). Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya,

dan Sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media

Wareing, Shân (2007). “Bahasa dan Gender”. Dalam Linda Thomas dan Shân Wareing (eds.). Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan. terjemahan Sunoto dkk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Thwaites, Tony; Lloyd Davis, Warwick Mules (2009). Introducing

Cultural and Media Studies: Sebuah Pendekatan Semiotik.

Terjemahan Saleh Rahmana, Yogyakarta: Jalasutra

“Danny Bowman Kecanduan Selfie, Sehari 10 Jam Berfoto-foto”, 26

Maret 2014. Artikel diunduh dari

https://www.liputan6.com/health/read/2027146/danny-bowman-kecanduan-selfie-sehari-10-jam-berfoto-foto http://solo.tribunnews.com/2016/04/26/meme-meme-pelajar-sma-pakai-seragam-ketat-dan-rok-nanggung-viral-di-sosial-media https://www.liputan6.com/citizen6/read/3025551/meme-hari-pertama-masuk-sekolah-bikin-warganet-gagal-fokus https://apjii.or.id/downfile/file/BULETINAPJIIEDISI22Maret2018.pdf

61

https://www.quantamagazine.org/how-network-math-can-help-you-make-friends-20180820/ https://www.shutterstock.com/image-photo/interact-interaction-interactive-interacting-group-concept-400888582 https://hackernoon.com/guide-to-handling-internet-archives-cdx-server-api-response-c469df5b81f4 http://www.brandba.se/blog/2016/4/25/why-do-people-engage-with-brands-on-social-media https://www.digitalinformationworld.com/2014/06/how-social-media-spreads-news-and-go-viral-infographic.html

9 7 8 6 0 2 5 1 4 2 5 9 8

Dalam dokumen Sensitif Gender dalam Bermedia Sosial (Halaman 60-72)

Dokumen terkait