Santi Stanislausia Liem
Alumnus Kagoshima University The Japan Foundation, Jakarta
Kita boleh berbangga karena presiden baru kita adalah salah satu penerima penghargaan sebagai pengguna bahasa Indonesia terbaik. Saya yakin bahwa Bapak Presiden tidak hanya pengguna yang baik secara lisan, tetapi juga secara tulisan. Jika kita perhatikan dengan baik, penggunaan bahasa Indonesia resmi baik lisan maupun tulisan mengalami pengeroposan di mana-mana. Bukan hanya media masa (termasuk iklan), bahkan petunjuk lalu-lintas yang seharusnya mencerminkan bahasa Indonesia yang baik pun ternyata turut andil dalam menggerogoti kemantapan tatabahasa bahasa nasional kita.
Pernah suatu ketika, salah satu menteri kita, dengan alasan nasionalisme, melarang semua yang berbahasa asing dalam nama-nama toko, pusat perbelanjaan yang menyebabkan bahasa Indonesia semakin ringkih. Ketika Anda melihat tulisan “Mal Apik Indah”, bagaimana Anda melafalkan bunyi “mal”? Apakah [mol] atau [mal]? Apakah dalam pelajaran bahasa Indonesia kita diajari bahwa [a] dibaca [o]? Mengapa sampai sekarang “sanksi” dan “bank” yang berasal dari bahasa Inggris tidak diubah ejaannya? Kita sering menertawakan bahasa Melayu Malaysia, namun sebagai bahasa, bahasa Malay lebih konsisten dan kokoh dibandingkan bahasa Indonesia yang semakin lama semakin kedengaran “keren” dengan menggunakan sederetan bahasa impor. Quo vadis bahasa Indonesia, sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian lebih kepada pertumbuhan bahasa nasional kita yang tersendat.
1. Tata Bahasa Baku BI dan Penegakan Hukum Bahasa
Bahasa, baik lisan maupun tulisan, merupakan salah satu alat untuk menyampaikan buah pikiran. Namun, tampaknya orang Indonesia lebih suka dan lebih ahli dalam memakai cara lisan, daripada dengan tulisan. Bahasa lisan bahasa Indonesia yang baik yang setiap hari kita dengar mungkin terbatas pada berita-berita formal di televisi. Selain itu, kita lebih banyak berbicara dan mendengarkan
bahasa/dialek daerah, atau bahkan bahasa asing, mengingat banyaknya orangtua yang menginginkan anaknya multilingual sejak dini untuk menghadapi era globalisasi.
Lalu, apa yang terjadi ketika kita diminta untuk menuangkan pikiran ke dalam tulisan? Setidaknya ada dua masalah yang akan kita hadapi. Pertama, perumusan bahasa yang sulit dimengerti. Kedua, aturan penulisan dan pemakaian tanda baca yang tidak baku.
Mengapa demikian? Kemungkinan pertama, karena kita tidak terbiasa menulis atau menuangkan buah pikiran dengan menggunakan bahasa Indonesia. Kedua, karena keterbatasan kosakata dalam bahasa Indonesia. Ketiga, pemerintah sendiri tidak memberikan contoh yang baik dalam penegakan hukum bahasa. Coba Anda perhatikan pengumuman berikut, “Anda memasuki di kawasan three-in-one”, “Jangan membuang sampah disembarang tempat!”, “Mohon masukan formulir yang telah di isi didalam kotak ini.”ii. Di mana letak kesalahan kedua pengumuman di atas? Saya yakin Anda tahu karena telah mendapat pelajaran bahasa Indonesia sejak bangku SD sampai perguruan tinggi.
Kemungkinan keempat, mungkin bahasa Indonesia sudah dianggap tidak sepenting bahasa asing, sehingga “Yang penting artinya nyambung!”. Semoga kemungkinan keempat ini hanya sebatas asumsi belaka.
2. Pemertahanan Ba hasa Daerah
Pada waktu negara Jepang baru berdiri, pemerintahnya dengan gencar memasyarakatkan penggunaan bahasa Jepang standar (bahasa Jepang yang digunakan di ibukota Tokyo), salah satunya dengan melarang penggunaan bahasa daerah. Barangsiapa yang diketahui berbahasa daerah di sekolah akan dikenakan hukuman hougen fuda, yaitu mengenakan kalung papan bertuliskan “Saya telah berbahasa daerah (hougen)”. Hukuman yang memalukan ini membuat orang kapok berbahasa daerah, setidaknya di sekolah.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk
53
Ketika suatu negara sibuk membangun,hal-hal yang tidak mendatangkan uang umumnya tidak mendapatkan perhatian. Namun, ketika negara tersebut sudah maju, barulah ilmu-ilmu sosial dan humaniora mendapatkan kasih sayang. Sejak beberapa tahun yang lalu, pemerintah Jepang mulai mengkodifikasi tatabahasa menyusun kamus dialek-dialek, suatu kekayaan bangsa ini sedang menuju kepunahan.
Biaya untuk mempertahankan eksistensi suatu bahasa, khususnya bahasa minoritas memang tidak sedikit. Sekalipun demikian, tidak sedikit negara di dunia yang pemerintah yang memberi perhatian khusus kepada bahasa minoritas, seperti bahasa Perancis di Kanada, bahasa Retro Roman di Swiss, dan bahasa suku-suku minoritas di RRT.
Kita perlu bersyukur karena bahasa-bahasa daerah masih digunakan sampai sekarang, dan tidak ada yang malu dengan logat daerahnya sekalipun sering dijadikan bahan candaan. Selain itu, pemerintah kita mempunyai Pusat Bahasa yang salah satu divisinya bertugas meneliti bahasa-bahasa daerah, selain itu pemerintah juga memasukkan bahasa daerah dalam kurikulum pendidikan sekolah. Namun, alangkah lebih baiknya jika bahasa-bahasa daerah tersebut tidak hanya terbatas pada bahasa yang mempunyai aksara, dan/atau yang mempunyai tatabahasa yang sudah dibukukan. Dan, sayangnya gebrakan Pusat Bahasa dan homepage-nya dengan penampilannya yang sudah keren kurang terdengar, atau kita saja yang tidak mau mencondongkan telinga kepada seruannya?
3. Nasionalisme dan Bahasa
Apakah Anda tahu berapa jumlah bahasa nasional di India? Bukan satu, atau tiga seperti di Singapura, melainkan empat belas. Kita semua mengetahui bahwa bahasa nasional kita, bahasa Indonesia, sekaligus berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan. Diangkatnya lingua franca, bahasa Melayu, sebagai `akar` bahasa Indonesia pada tahun 1928 merupakan salah satu cara untuk menggalang kesatuan guna mengusir penjajah pada saat itu. Setelah itu, dengan giat kita berusaha menggiatkan penggunaan bahasa Indonesia, dan mengurangi atau bahkan melarang pengunaan bahasa asing. Lagi-lagi, karena “nasionalisme”.
Bahasa Inggris tidak terdaftar sebagai bahasa nasional di India. Namun, menyadari bahwa “bahasa penjajah” itu penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan, dan pembangunan negara, maka pemerintah India menyelenggarakan pendidikan (dari tahapan tertentu) dalam bahasa Inggris. Hal yang serupa dilakukan juga oleh pemerintah Malaysia dan Filipina.
Berbeda namun serupa dengan India, pemerintah Singapura menjadikan bahasa Melayu, bahasa Inggris, dan bahasa Mandarin sebagai bahasa resmi negara. Mengapa demikian? Singapura dikelilingi oleh negara-negara yang berbahasa Melayu, Sigapura merupakan negara persinggahan, Singapura mempunyai hubungan ekonomi dengan Hong Kong dan menyadari geliat ekonomi RRT.
Apakah bahasa nasional harus selalu sama dengan bahasa resmi atau bahasa pengantar di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, media, dsb.? Apakah dengan mengangkat salah satu bahasa daerah yang bukan lingua franca menjadi bahasa nasional akan menjadikan rakyat negara itu tidak nasionalis?
4. Penutup
Menentukan suatu bahasa menjadi bahasa nasional atau bahasa resmi, kemudian menyebarluaskan penggunaannya bukanlah pekerjaan yang mudah. Hampir sepuluh windu umur bahasa Indonesia, tetapi mengapa kita masih sibuk menata penggunaannya? Ketika tidak mengetahui makna atau ejaan kata yang benar, panduan yang paling tepat dan paling dekat adalah kamus. Dalam hal bahasa Indonesia, kita memiliki Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Apakah semua kosakata yang terdaftar di dalam KBBI telah dianggap resmi dan dapat digunakan sebagai bahasa Indonesia? Misalnya, kata “dahar”, “mangan”, “makan”, ketiganya terdapat di dalam KBBI. Lalu, kata apakah yang akan kita gunakan? Apakah standar yang digunakan untuk memasukkan suatu kata ke dalam KBBI? Lalu bagaimana dengan kehadiran bahasa asing yang semakin memojokkan kosakata bahasa Indonesia yang sudah ada (yang memang berasal dari bahasa-bahasa daerah dan bahasa asing juga)?
Jika memang bahasa Indonesia yang ada sekarang ini tidak dapat menjalankan
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk
54
tugasnya dengan baik, sehingga pemerintahsendiri harus menggunakan bahasa asing, seperti busway, three-in-one, say no to drugs, dan masih banyak lagi, mungkin kita perlu mempertimbangkan bahasa lain yang mempunyai tatabahasa yang mantap dan kosakata lebih kaya untuk menggantikan sebagian tugasnya? Entah itu bahasa asing,
atau salah satu bahasa daerah karena kita mempunyai banyak bahasa daerah yang mempunyai aturan yang jelas.
Atau, mungkin kita perlu menegakkan hukum bahasa dengan mengadakan sanksi (baca: sangsi) berupa denda untuk setiap kesalahan?
i Dengan keterbatasan bahasa Indonesia saya, saya berharap dapat menyumbangkan sesuatu kepada
bangsa dan negara tercinta.
ii 1) “Anda memasuki di kawasan three-in-one”, kesalahan pada frase `memasuki di kawasan`, seharusnya `memasuki kawasan` tanpa kata depan `di`. Persoalan di luar tatacara penulisan adalah penggunaan istilah asing, `three-in-one`, yang bertentangan dengan promosi “nasionalisme”.
2) “Jangan membuang sampah disembarang tempat!”, masalah klasik dalam bahasa Indonesia, yaitu kata depan `di` dan awalan `di`.
3) “Mohon masukan formulir yang telah di isi kedalam kotak ini.”, kesalahan pertama ada pada kata kerja perintah `masukan`, yang berasal dari kata dasar `masuk` + akhiran `kan`, yang seharusnya menjadi `masukkan`. Hal ini sering terjadi pada kata kerja yang berakhiran dengan huruf `k`, seperti `duduk, tunjuk, letak, dll`. Kesalahan kedua dan ketiga, sama dengan permasalahan di atas, yaitu penulisan kata depan dan awalan yang tidak tepat.