• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontribusi Penting Menyelamatkan Persalinan Sehat dan Buku KIA

Dalam dokumen Inovasi Vol (Halaman 67-70)

Elsi Dwi Hapsari

Afiliasi: Departement of Maternity Nursing, Faculty of Health Sciences, Kobe University School of Medicine

E-mail: [email protected]

1. Pendahuluan

Sampai saat ini, kematian ibu masih merupakan salah satu masalah prioritas di bidang kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Setiap satu jam dua orang ibu di Indonesia meninggal saat melahirkan karena berbagai penyebab. Jika seorang ibu meninggal, maka anak-anak yang ditinggalkannya mempunyai kemungkinan tiga hingga sepuluh kali lebih besar untuk meninggal dalam waktu 2 tahun bila dibandingkan dengan mereka yang masih mempunyai kedua orang tua. Hal ini tentu hanya salah satu akibat yang sangat memprihatinkan. Pengalaman secara global menunjukkan bahwa kematian ibu dapat dicegah dan berbagai penelitian dan strategi untuk mengurangi kematian ibu telah dihasilkan.

Strategi Menyelamatkan Persalinan Sehat (MPS) telah dimulai pada 2000 dengan bantuan negara donor sedangkan buku KIA telah diperkenalkan sejak tahun 1994 dengan bantuan Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA). Tulisan ini mencoba untuk mengulas secara singkat kontribusi penting MPS dan buku KIA bagi tim kesehatan sendiri dan pemerintah, di samping bagi masyarakat yang merupakan tujuan utama upaya ini. Diharapankan tulisan ini dapat memberikan setitik sumbang pikir baik bagi tim perawatan kesehatan maupun bagai pemerintah dalam penentuan kebijakan di bidang kesehatan dalam pemerintahan yang baru ini.

2. Strategi Menyelamatkan Persalinan Sehat

Strategi Menyelamatkan Persalinan Sehat (Making Pregnancy Safer) adalah sebuah inisiatif yang dicanangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2000. Ini merupakan komitmen untuk mengurangi beban global akibat kematian, kesakitan, dan kecacatan yang tidak perlu terjadi, yang berhubungan dengan komplikasi kehamilan,

persalinan, dan selama nifas. MPS mengharapkan agar ibu hamil, melahirkan dan dalam masa setelah persalinan (post natal) mempunyai akses terhadap tenaga kesehatan yang terlatih, yaitu profesi kesehatan yang terakreditasi - seperti bidan, dokter, atau perawat – yang telah menempuh pendidikan dan dilatih untuk menguasai ketrampilan-ketrampilan yang dibutuhkan dalam mengelola kehamilan normal (tanpa komplikasi), persalinan dan periode segera setelah melahirkan dan dalam pengidentifikasian, pengelolaan dan rujukan atas komplikasi yang diderita oleh ibu dan anak.

Pernyataan bersama antara WHO, ICM, dan FIGO (2004) menegaskan pentingnya peran tenaga kesehatan yang terlatih tersebut, yaitu bahwa tenaga kesehatan yang terlatih merupakan pusat keberlangsungan perawatan. Pada tingkat perawatan kesehatan primer, mereka akan bekerja dengan penyedia perawatan kesehatan yang lain, seperti dukun bayi dan pekerja sosial. Mereka juga harus mempunyai hubungan kerja yang kuat dengan pemberi perawatan kesehatan di tingkat sekunder dan tersier dalam sistem perawatan kesehatan. Strategi MPS meliputi tiga pesan kunci, yakni setiap persalinan harus ditolong tenaga medis, setiap komplikasi persalinan harus ditangani tenaga dekuat (dokter ahli) dan setiap wanita usia subur harus mempunyai akses pencegahan kehamilan dan penanganan komplikasi keguguran. Pada pelaksanaannya, strategi ini terbentur pada keterbatasan jumlah tenaga yang berkualitas dan berbagai kendala lainnya.

Menyadari pentingnya peran ini, maka tenaga kesehatan di Indonesia perlu untuk segera mengaplikasikan langkah-langkah yang mendukung terwujudnya tenaga kesehatan yang berkualitas. Hal-hal dasar yang harus dilakukan adalah kemauan dan kemampuan untuk memberikan perawatan

yang terbaik bagi pasien. Maraknya kasus dugaan malpraktek belakangan ini, khususnya di bidang perawatan ibu dan anak, menjadi peringatan dan sekaligus sebagai dorongan untuk lebih memperbaiki kualitas pelayanan. Melaksanakan tugas dengan berpegang pada janji profesi dan tekad untuk selalu meningkatkan kualitas diri perlu untuk selalu dipelihara. Kerja sama yang melibatkan segenap tim pelayanan kesehatan perlu dieratkan dengan kejelasan dalam wewenang dan fungsinya. Pemahaman terhadap keanekaragaman suku dan budaya di Indonesia juga harus dikuasai agar dapat memberikan pelayanan yang lintas budaya.

Pemerintah harus mendukung upaya-upaya tersebut secara nyata dengan antara lain terus melibatkan organisasi-organisasi profesi dalam penentuan kebijakan di bidang kesehatan, memfasilitasi pelatihan dan penelitian yang dibutuhkan untuk peningkatan pelayanan di bidang perawatan ibu dan anak, dan mempertimbangkan masukan saran dari setiap organisasi profesi yang ada.

3. Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

Apabila Strategi Menyelamatkan Persalinan Sehat saat ini lebih berfokus pada upaya ketersediaan tenaga kesehatan yang dapat dikatakan berkualitas, maka buku Kesehatan Ibu dan Anak lebih ke arah membantu masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan ibu dan anak, sehingga diharapkan dapat meningkatkan partisipasi mereka dalam mengontrol kesehatan ibu, selain sebagai buku catatan kesehatan ibu dan anak, alat monitor kesehatan oleh tenaga kesehatan dan alat komunikasi antara tenaga kesehatan dengan pasien. Buku ini selalu disimpan dan dibawa oleh ibu kemanapun ia memeriksakan kesehatannya ataupun kesehatan anaknya.

Di Jepang, buku KIA yang digunakan sejak tahun 1948 mampu menurunkan secara signifikan Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu(AKI). Buku ini dapat diperoleh secara gratis melalui kantor pemerintah di kota atau desa tempat ibu hamil tinggal setelah dia menginformasikan kehamilannya melalui surat keterangan dari dokter. Selama pemeriksaan antenatal, ibu hamil diharapkan selalu membawa buku KIA

tersebut. Perawat atau bidan akan mendokumentasikan hasil pemeriksaan fisik ibu yang antara lain meliputi tekanan darah, berat badan, pemeriksaan air kemih (urine), tinggi fundus uteri, dan lingkar perut (abdomen). Setelah pemeriksaan lanjutan dan penjelasan dari dokter kebidanan, perawat atau bidan akan mendiskusikan beberapa topik penting yang berkaitan dengan kehamilan dengan ibu dan pasangannya. Informasi ini diberikan secara individual dan didukung dengan leaflet-leaflet yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit. Program kelas prenatal dan latihan-latihan selama hamil (maternity exercise) ditawarkan pada ibu hamil untuk diikuti.

Di Indonesia, meskipun buku KIA belum diterapkan di seluruh propinsi namun sambutan yang diterima sangat positif. Menurut Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Prof Dr dr Azrul Azwar MPH, sampai dengan Agustus, 2003, buku ini telah digunakan di 140 kabupaten/kota di 24 provinsi, meskipun belum pada semua fasilitas kesehatan. Sementara itu, lebih dari 50.000 kader kesehatan dan 10.000 bidan telah dilatih mengenai buku KIA. Tak kurang dari lima juta buku KIA dicetak dan dibagikan. Sampai saat ini pelatihan terhadap tenaga kesehatan tentang buku KIA yang diselenggarakan oleh JICA masih terus berlangsung.

Beberapa hal yang perlu menjadi agenda selanjutnya baik bagi pemerintah maupun tim kesehatan meliputi pelaksanaan di lingkup pelayanan dan di lingkup pendidikan. Di lingkup pelayanan, perluasan jangkauan pelatihan pada segenap tim kesehatan yang terkait dengan kesehatan ibu dan anak diperlukan agar masing-masing profesi kesehatan mengetahui pentingnya peranan masing-masing dan turut berperan aktif. Ketersediaan buku KIA di setiap fasilitas kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit dengan kemudahan dalam akses untuk memperolehnya sangat diperlukan. Di lingkup pendidikan, sosialisasi tentang buku KIA perlu dilakukan sejak para calon pemberi pelayanan kesehatan menuntut ilmu, agar selama proses pendidikan mereka sudah memperoleh gambaran tentang tugas yang harus mereka lakukan dan dengan anggota tim kesehatan mana saja mereka akan bekerja sama. Diharapkan setelah lulus mereka sudah memahami dan dapat ikut

serta dalam proses ini sesuai dengan wewenang dan fungsinya masing-masing.

4. Kesimpulan

Tidak ada intervensi tunggal yang mampu menyelesaikan masalah kematian ibu. Oleh karena itu, upaya untuk mengatasi hal ini baik melalui penggunaan Buku KIA maupun Strategi Menyelamatkan Persalinan Sehat, meskipun dalam pelaksanaannya masih menemui beberapa kendala, perlu untuk didukung. Kesehatan ibu adalah hal yang vital bagi keberlangsungan hidup manusia dan hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memelihara dan meningkatkannya.

5. Daftar Pustaka

[1] A joint statement by WHO, ICM, and FIGO. Making Pregnancy Safer: the critical role of the skilled attendant (05.11.04). Website URL http://www.who.int/reproductive -health/pu blications/2004/skilled_attendant.pdf

[2] Buku KIA untuk Turunkan Kematian Ibu dan Bayi (05.11.04). Website URL http://www.kompas.com/kompas-cetak/0 308/08/iptek/481686.htm

[3] Dua Ibu Melahirkan Meninggal Setiap Jam di Indonesia (05.11.04) Website URL http://situs.kesrepro.info/kia/mei/2004/kia 05.htm

[4] Hapsari, E. D. MCH System in Japan: From the View Point of Indonesian Student. Dipresentasikan dalam Simposium “Maternal and Child Health in Indonesia”, Kobe, 11 September 2004. [5] Keselamatan Ibu: Keberhasilan dan

Tantangan. Website URL http://www.path.org/files/Indonesian_16-s pecial.pdf

[6] Mother’s & Children’s Health & Welfare Association, 2003, Maternal and Child Health Statistics of Japan. Tokyo, Toshihide Ei.

[7] Turunkan AKI melalui pelayanan

kebidanan (05.11.04). URL

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0 010/13/iptek/turu10.htm

Tafakkur Menjelang Mudik

Dalam dokumen Inovasi Vol (Halaman 67-70)