• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Plastik

2.3.2 Bahaya Kemasan Plastik

Dalam memilih jenis kemasan, perlu diperhatikan faktor kemananan.

Penggunaan plastik sebagai pengemas pangan banyak dipergunakan karena

keunggulannya seperti bentuknya yang fleksibel sehingga mudah dibentuk

transparan atau tembus pandang, mudah diberi label, dapat dikreasikan dalam

beraneka warna, bisa diproduksi secara massal, harganya relatif lebih murah

dan terdapat berbagai jenis pilihan bahan dasar plastik. Dalam dua dasawarsa

terakhir, kemasan plastik mengungguli kemasan kaleng dan gelas dan

mendominasi industri makanan di Indonesia. Jumlah plastik yang digunakan

untuk mengemas, menyimpan dan membungkus makanan mencapai 53%

khusus untuk kemasan luwes, sedangkan untuk kemasan kaku mulai digunakan

untuk minuman.

Bahan kemasan plastik tersusun dari polimer-polimer, yaitu dari bahan

mentah berupa monomer, juga mengandung bahan aditif yang diperlukan untuk

memperbaiki sifat fisiko kimia plastik tersebut, dan disebut komponen non

plastik. Kemasan plastik memiliki kelebihan karena sifatnya yang kuat, ringan

inert, tidak berkarat, bersifat termoplastik (heat seal) serta dapat diberi warna.

Aspek negatif kemasan plastik adalah apabila monomer-monomer bermigrasi

kedalam bahan makanan yang dikemas, akan bersifat karsinogenik sehingga

makan yang dikonsumsi tidak memenuhi kaidah kemanan pangan atau food

safety.

Jenis plastik tertentu (misalnya PE,PP,PVC) tidak tahan terhadap panas,

berpotensi melepaskan migran berbahaya yang berasal dari sisa monomer dari

polimer sehingga ini merupakan kelemahan dalam pemilihan kemasan plastik

apabila tidak mempertimbangkan aspek keamanan pangan, dan plastik juga

Pada penjual makanan jajanan (street food), penggunaan kantung kresek

seringkali dengan tidak tepat, hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dari

para penjual makanan jajanan bahwa bahan dasarnya berasal dari daur ulang

berbagai jenis plastik, sehingga penggunaannya untuk pembungkus makanan

dalam keadaan panas, seperti untuk bakso,bakmi,bubur,gorengan, akan

membantu migrasi bahan kimia plastik ke dalam makanan.

Penggunaan microwave, wadah plastik untuk memanaskan lauk, apabila

tidak memenuhi syarat food grade, maka monomer-monomer plastik akan ikut

bermigrasi dan bercampur dengan makanan dan memberikan efek

karsinogenik. Migrasi ini dipengaruhi oleh luas permukaan yang kontak dengan

makanan, kecepatan migrasi, jenis bahan plastik dan suhu serta lamanya

kontak. Semakin panas bahan makanan yang dikemas, semakin tinggi peluang

terjadinya migrasi zat-zat plastik kedalam makanan. Salah satu contoh dari zat

aditif adalah diotil ptalat (DOP). DOP menyimpan zat benzen suatu larutan

kimia yang sulit dicerna dalam saluran pencernaan manusia.

Benzen tidak bisa dikeluarkan melalui feses atau urin. Akibatnya zat ini semakin lama semakin menumpuk dan terbalut oleh lemak tubuh, memicu

munculnya penyakit kanker. Menurut hasil penelitian aditif platik dibutil ptalat

(DBP) dan DOP pada PVC termigrasi cukup banyak ke dalam minyak zaitun,

minyak jagung, minyak biji kapas dan minyak kedelai. DOP adalah zat aditif

populer yang digunakan dalam proses plastisasi. Konsumsi DOP pada industri

PVC mencapai 50-60% dari total produksi plasticizer. DOP memberikan

yang paling murah diantara sekitar 300 plasticizer yang dikembangkan, karena

prosesnya yang sederhana.

Selain plastik, styrofoam atau plastik busa juga banyak digunakan untuk

mengemas makanan terutama untuk makanan cepat saji. Kelebihan styrofoam

yaitu tahan lama, praktis dan mampu mencegah kebocoran, mampu

mempertahankan panas dan dingin tetapi tetap nyaman dipegang, serta

mempertahankan kesegaran.Hasil kajian Divisi Keamanan Pangan Jepang pada

Juli 2001 menyatakan bahwa residu styrofoam dalam makanan sangat

berbahaya, dapat menyebabkan endokrin disrupter (EDC), yaitu penyakit yang

terjadi akibat adanya gangguan pada sistem endokrinologi dan reproduksi

manusia akibat bahan karsinogen dalam makanan. Hasil berbagai penelitian

yang telah dilakukan sejak tahun 1930-an, diketahui bahwa stiren, bahan dasar

styrofoam, bersifat mutagenik (mampu mengubah gen) dan potensial karsinogen yang sifatnya akumulatif sehingga dampaknya akan terasa setelah

waktu yang panjang. Semakin lama waktu pengemasan dengan styrofoam dan

semakin tinggi suhu, semakin besar pula migrasi bahan-bahan yang bersifat

toksik tersebut kedalam makanan.

Semakin tinggi suhu makanan, semakin banyak komponen yang

mengalami migrasi, masuk dan bercampur dengan makanan. Semakin lama

produk disimpan, batas maksimum komponen-komponen yang bermigrasi

semakin terlampaui, sehingga informasi batas ambang waktu kadaluwarsa bagi

produk yang dikemas plastik perlu diinformasikan secara jelas dan lengkap

(AMDK) berbahan baku polivinil khlorida dan kopolimer akrilonitril perlu

disimpan di tempat yang bebas dari panas matahari, untuk mencegah lepasnya

monomer-monomer plastik. Penjaja AMDK dijalanan menjajakannya dibawah

terik matahari yang mengakibatkan suhu semakin tinggi dan memperbesar

peluang terjadinya migrasi zat-zat berbahaya plastik kedalam bahan yang

dikemas. Demikian juga apabila menyimpan AMDK terlalu lama didalam

mobil pada siang hari yang terik sebaiknya tidak diminum lagi (Surono,2014).

Bahan kimia yang dapat bermigrasi dari kemasan plastik ke dalam

pangan dan berpotensi menimbulkan efek terhadap kesehatan antara lain

adalah:

1. Polyvinyl Chloride (PVC)

Dalam jangka panjang dapat menyebabkan kanker, cacat lahir,

perubahan genetik, bronkitis kronik, ulcer, penyakit kulit, tuli, gangguan

penglihatan, gangguan pencernaan dan disfungsi hati.

2. Phthalates

Merupakan bahan yang memberikan sifat lembut dan fleksibel pada

polimer PVC. Efek kesehatan jangka panjang yang ditimbulkan adalah

endocrine disruption, terkait dengan asma, efek terhadap perkembangan dan reproduktif. Limbah medis yang mengandung PVC dan phthalates yang

dibakar dapat melepaskan dioksin dan merkuri sehingga bisa mempengaruhi

kesehatan masyarakat yang berada disekitarnya dalam jangka waktu yang lama,

termasuk kanker, cacat lahir, perubahan hormon, penurunan jumlah sperma,

3. Polycarbonate yang mengandung Bisphenol A

Paparan Bisphenol A dalam kadar rendah dan jangka waktu yang

panjang dapat menyebabkan kanker, gangguan fungsi imunitas, pubertas yang

muncul dini, obesitas, diabetes, dan hiperaktivitas.

4. Polystyrene

Secara akut dapat mengiritasi mata, hidung, tenggorokan, menyebabkan

pusing dan ketidaksadaran. Jika bermigrasi ke dalam pangan akan terakumulasi

dalam jaringan lemak. Studi menunjukkan adanya peningkatan kanker limfatik

dan hematopoietik bagi pekerja yang terpapar.

5. Polyethylene

Dicurigai karsinogen pada manusia.

6. Polyester

Bahan ini secara akut dapat menyebabkan iritasi pada mata dan saluran

pernafasan serta ruam kulit akut.

7. Urea-Formaldehyde

Biasanya melamin palsu terbuat dari urea yang mengandung formalin

dengan kadar tinggi. Bahan urea tidak tahan panas dan dapat melepaskan

formalin yang menjadi kontaminan pangan saat terkena panas. Formalin

dicurigai sebagai karsinogen. Formalin dapat menyebabkan cacat lahir dan juga

perubahan genetik. Menghirup formalin dapat menyebabkan batuk,

pembengkakan tenggorokan, mata berair, gangguan pernafasan, sakit kepala,

8. Polyurethane Foam

Dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan bronkitis, batuk,

gangguan kulit dan mata. Polyurethane Foam juga dapat melepas toluen

diisosianat yang menyebabkan gangguan paru berat. 9. Acrylic

Secara akut dapat menyebabkan gangguan pernafasan, diare, mual,

lemah, dan sakit kepala

10. Tetrafluoroethylene

Secara akut dapat mengiritasi mata, hidung, tenggorokan, serta dapat

menyebabkan gangguan pernafasan (POM,2012)

2.4 Konsep Minimasi Penggunaan Plastik dengan Prinsip 3R (Reduse, Reuse

Dokumen terkait