• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Plastik

2.3.1 Jenis Dan Sifat Plastik

Jenis – jenis plastik menurut Koswara dalam Sya‘diah (2014) adalah

sebagai berikut :

1. PET — Polyethylene Terephthalate

Biasanya, pada bagian bawah dari kemasan botol plastik, tertera logo daur

ulang dengan angka 1 di tengahnya dan tulisan PETE atau PET (polyethylene

terephthalate) di bawah segitiga. Pada dunia pertekstilan PET biasa disebut dengan polyester. Jenis PET ini biasa dipakai untuk botol plastik yang

jernih/transparan/tembus pandang seperti pada botol air mineral, botol jus, dan

hampir semua botol minuman lainnya. Tidak dipergunakan untuk air hangat

apalagi panas. Pada jenis ini, disarankan hanya untuk satu kali pemakaian dan

tidak digunakan untuk mewadahi pangan dengan suhu lebih besar dari 600 C,

sebab akan membuat lapisan polimer pada botol tersebut akan meleleh dan

Di dalam proses pembuatan PET, digunakan bahan yang disebut dengan

antimoni trioksida, yang dapat berbahaya bagi para pekerja yang berhubungan dengan pengolahan ataupun daur ulangnya, karena antimoni trioksida masuk ke

dalam tubuh melalui sistem pernafasan, yaitu akibat menghirup debu yang

mengandung senyawa tersebut. Terkontaminasi senyawa ini dalam periode

yang lama akan mengalami iritasi kulit dan saluran pernafasan.

2. HDPE — High Density Polyethylene

a. Pada umumnya, pada bagian bawah kemasan botol plastik, tertera logo daur

ulang dengan angka 2 di tengahnya, serta tulisan HDPE (high density

polyethylene) di bawah segitiga.

b. Sering dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu, galon air minum,

dan lain-lain.

c. HDPE adalah salah satu bahan plastik yang aman untuk digunakan karena

kemampuannya untuk mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik

berbahan HDPE dengan makanan/minuman yang dikemasnya.

d. HDPE memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras hingga semifleksibel,

buram dan lebih tahan terhadap bahan kimia dan kelembapan, melunak pada

suhu 750 Celcius.

3. V — Polyvinyl Chloride

Tertera logo daur ulang (terkadang berwarna merah) dengan angka 3 di

tengahnya, serta tulisan V — V itu berarti PVC (polyvinyl chloride), yaitu jenis

a. Plastik ini dapat ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol, sulit di daur ulang .

b. PVC mengandung DEHA yang bisa bereaksi dengan makanan yang bungkus dengan plastik berbahan PVC ini saat bersentuhan langsung dengan

makanan tersebut karena DEHA lumer pada suhu 150 Celcius.

c. Reaksi yang terjadi antara PVC dengan makanan yang dibungkus dengan

plastik ini memiliki potensi bahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.

d. Plastik jenis ini sebaiknya tidak dipakai untuk mewadahi pangan yang

mengandung lemak/minyak, alkohol dan dalam kondisi panas.

e. Dianjurkan mencari alternatif pembungkus makanan lain yang tidak

mengandung bahan pelembut, seperti plastik yang terbuat dari polietilena

atau bahan-bahan yang alami (sebagai contoh daun pisang ).

4. LDPE — Low Density Polyethylene

Tertera logo daur ulang dengan angka 4 di tengahnya, serta tulisan LDPE

(low density polyethylene) yaitu plastik tipe cokelat (thermoplastic/dibuat dari

minyak bumi), biasa jenis ini dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan

botol-botol yang lembek.

a. Memiliki sifat mekanis kuat, fleksibel, kedap air tetapi tembus cahaya, fleksibel dan permukaan agak berlemak. Jenis ini dapat melunak pada suhu

700 C.

b. Barang berbahan LDPE ini sulit untuk dihancurkan, akan tetapi baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan

5. PP — Polypropylene

a. Tertera logo daur ulang dengan angka 5 di tengahnya, dan tulisan PP

(polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik, terkhusus untuk

yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat

menyimpan makanan, botol minum dan botol minum untuk bayi.

b. Karakteristik jenis ini adalah botol transparan yang tidak jernih atau

berawan, keras tetapi fleksibel. Polipropilen lebih kuat dan ringan dengan

daya tembus uap rendah, tahan terhadap lemak, minyak, stabil terhadap suhu

tinggi dan cukup mengkilap. Melunak pada suhu 1500 derajat Celcius.

c. Dapat ditemukan dengan kode angka 5 pada barang berbahan plastik untuk

menyimpan kemasan berbagai makanan dan minuman.

6. PS — Polystyrene

a. Terdapat logo daur ulang dengan angka 6 di tengahnya, dan tulisan PS

(polystyrene) ditemukan tahun 1839, oleh Eduard Simon, seorang apoteker

dari Jerman, secara tidak sengaja.

b. Terdapat dua jenis PS, yaitu yang kaku dan lunak/berbentuk foam.

c. PS yang kaku biasanya jernih seperti kaca, kaku, getas, mudah terpengaruh

lemak dan pelarut (seperti alkohol), mudah dibentuk, melunak pada suhu

950C. Sebagai contoh : wadah plastik bening berbentuk kotak untuk wadah

makanan.

d. PS yang lunak memiliki bentuk seperti busa, biasanya berwarna putih,

lunak, mudah terpengaruh lemak dan pelarut lain (seperti alkohol). Bahan

styrofoam. Biasanya digunakan sebagai wadah makanan atau minuman sekali pakai.

e. Kemasan styrofoam sebaiknya tidak digunakan dalam microwave.

f. Kemasan styrofoam yang rusak/berubah bentuk sebaiknya tidak digunakan

untuk mewadahi makanan berlemak/berminyak terutama dalam keadaan

panas.

g. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang dapat mengeluarkan bahan

styrene ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan.

h. Selain tempat makanan, styrene juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap

kendaraan dan bahan konstruksi gedung.

i. Bahan jenis ini harus dihindari, sebab selain berbahaya bagi kesehatan otak,

dapat mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat pada

masalah reproduksi, dan pertumbuhan dan sistem syaraf, bahan ini juga sulit

didaur ulang. Apabila didaur ulang, bahan ini memerlukan proses panjang

dan waktu yang lama.

j. Dapat dikenali dengan kode angka 6, tetapi bila tidak tertera kode angka

tersebut pada kemasan plastik, bahan ini dapat dikenali dengan cara dibakar

(cara terakhir dan sebaiknya dihindari). Ketika dibakar, bahan ini akan

mengeluarkan api berwarna kuning-jingga, dan meninggalkan jelaga.

7. OTHER

a. Tertera logo daur ulang dengan angka 7 di tengahnya, serta tulisan OTHER

Other (SAN/styrene acrylonitrile, ABS - acrylonitrile butadiene styrene, PC-

b. Bisa ditemukan pada tempat makanan dan minuman seperti botol minum

olahraga, alat-alat rumah tangga, peralatan makan bayi dan juga pada plastik

kemasan.

c. PC - Polycarbonate ditemukan pada botol susu bayi, gelas anak batita (sippy

cup).

d. Dapat mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan

dan minuman yang berpotensi untuk merusak sistem hormon, kromosom

pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas.

e. Dianjurkan tidak dipergunakan untuk tempat makanan ataupun minuman

karena Bisphenol-A bisa berpindah ke dalam minuman atau makanan jika

suhunya dinaikkan karena pemanasan. Untuk mensterilkan botol susu,

sebaiknya direndam saja dalam air mendidih dan tidak direbus atau

dipanaskan dengan microwave. Botol yang sudah retak sebaiknya tidak

digunakan lagi.

f. SAN dan ABS mempunyai resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia dan

suhu, kekuatan, kekakuan, dan tingkat kekerasan yang telah ditingkatkan.

g. Terdapat pada mangkuk mixer, pembungkus termos, piring, alat makan, dan

penyaring kopi.

h. SAN dan ABS adalah salah satu bahan plastik yang sangat baik untuk

digunakan.

Menurut Saptono dalam Sya‘diah (2014) plastik dilihat dari sifatnya terbagi atas dua yaitu:

Pada jenis plastik ini mengalami perubahan yang bersifat irreversible.

Pada suhu tinggi plastik termoset dapat berubah menjadi arang. Hal ini karena

struktur kimianya bersifat 3 dimensi dan cukup kompleks. Pemakaian termoset

pada industri pangan terutama dalam pembuatan tutup botol. Plastik tidak akan

kontak langsung dengan produk karena tutup selalu diberi lapisan perapat yang

juga memiliki fungsi sebagai pelindung.

Sebagai contoh poliviniliden klorida, akrilik yang sering digunakan

untuk botol-botol minuman, politetra fluoroetilen (PTFE) yang terkandung

pada peralatan dapur seperti Teflon dan Ediblefilm dari amilosa pati jagung

untuk kemasan permen dan sosis yang dapat dimakan.

2. Plastik Termoplastik

Sebagian besar polimer yang dipakai untuk mengemas atau kontak

dengan bahan makanan adalah dari jenis termoplastik. Plastik ini dapat berubah

menjadi lunak apabila dipanaskan dan dapat mengeras lagi setelah dingin. Hal

ini dapat terjadi berulang - ulang tanpa ada perubahan khusus. Termoplastik

termasuk turunan etilena (CH2 = CH2). Diberi nama plastik vynil karena

mengandung gugus vynil (CHz=CHz) atau polyolefin. Salah satu contohnya

adalah plastik kresek.

Dokumen terkait