BAB II TINJAUAN TEORITIS
D. Baitul Maal Wattamwil
Baitul Maal Wa at-Tamwil (BMT) adalah lembaga swadaya masyarakat, dalam artinya, didirikan dan dikembangkan oleh masyarakat.
24
Terutama sekali pada awal pendiriannya, biasanya dilakukan dengan menggunakan sumber daya, termasuk dana atau modal, dari masyarakat setempat itu sendiri. 25 Pendirian BMT memang cukup banyak yang dibantu oleh pihak luar masyarakat lokal. Tetapi hal itu lebih bersifat bantuan teknis. Bantuan dari pihak luar sering bersifat konsepsional atau stimulant, umumnya dari lembaga atau asosiasi yang peduli BMT atau masalah pemberdayaan ekonomi rakyat.
Baitul Maal Wattamwil (BMT) merupakan suatu lembaga yang terdiri dari dua istilah, yaitu Baitul maal dan baitul tamwil. Baitul maal lebih mengarah pada usaha-usaha pengumpulan dan penyaluran dana yang nonprofit, seperti; zakat, infaq, dan sedekah. Adapun baitul tamwil sebagai usaha pengumpulan dan penyaluran dana komersial. Usaha-usaha tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari BMT sebagai lembaga pendukung kegiatan ekonomi masyarakat kecil dengan berlandaskan islam. Lembaga ini didirikan dengan maksud untuk memfasilitasi masyarakat bawah yang tidak terjangkau oleh pelayanan bank islam atau BPR islam, prinsip operasinya didasarkan atas prinsip bagi hasil, jual beli (ijarah), dan titipan (wadiah). Karena itu, meskipun mirip dengan bank islam, bahkan boleh dikata menjadi cikal bakal dari bank islam, BMT memiliki pangsa pasar tersendiri, yaitu masyarakat kecil yang tidak terjangkau layanan perbankan serta pelaku usaha kecil yang mengalami hambatan “psikologis” bila berhubungan dengan pihak bank. 26
25
M. Amin Azis, Pedoman Pendirian BMI (Jakarta: PINBUK, 2004), hlm. xii. Lihat juga M. Amin Azis, Kegigihan Sang Perintis (Jakarta: MAA Institute, 2007), hlm. 4
26
Nurul Huda & Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Islam Tinjauan Teoretis dan Praktis, (Jakarta: Kencana, 2010) hlm. 363
2. Fungsi dan Peranan BMT
Baitul Maal Wat Tamwil memiliki beberapa fungsi yaitu :
a. Penghimpun dan penyalur dana, dengan menyimpan uang di BMT, uang tersebut dapat ditingkatkan utilitasnya, sehingga timbul unit surplus (pihak yang memiliki dana berlebih) dan unit deficit (pihak yang kekurangan dana).
b. Pencipta dan pemberi likuidita, dapat menciptakan alat pembayaran yang sah yang mampu meberikan kemampuan untuk mememnuhi kewajiban suatu lembaga/perorangan.
c. Sumber pendapatan, BMT dapat menciptakan lapangan kerja dan memberi pendapatan kepada para pegawainya.
d. Pemberi informasi, memberi informasi kepada massyarakat mengenai resiko keuntungan dan peluang yang ada pada lembaga tersebut.
e. Sebagai suatu lembaga keuangan mikro islam yang dapat memberikan pembiayaan bagi usaha kecil, mikro, menengah dan juga koperasi dengan kelebihan tidak meminta jaminan yang memberatkan bagi UMKM tersebut.
Adapun fungsi BMT dimasyarakat, adalah :
a. Meningkatkan kualitas SDM anggota, pengurus dan pengelola, menjadi lebih professional, salaam (selamat, damai, dan sejahtera), dan amanah sehingga semakin utuh dan tangguh dalam berjuang dan berusaha (beribadah) menghadapi tantangan global.
b. Mengorganisasi dan memobilisasi dana sehingga dana yang dimiliki oleh masyarakat dapat termanfaatkan secara optimal didalam dan diluar organisasi untuk kepentingan rakyat banyak.
c. Mengembangkan kesempatan kerja.
d. Mengukuhkan dan meningkatkan kualitas usaha dan pasar produk-produk anggota. Memperkuat dan meningkatkan kualitas lembaga-lembaga ekonomi dan sosial masyarakat banyak.
Selain itu BMT juga memiliki beberapa peranan, diantaranya adalah : a. Menjauhkan masyarakat dari praktik ekonomi yang bersifat non
islam. Aktif melakukan sosialisasi ditengah masyarakat tentang arti penting system ekonomi islami.
b. Melakukan pembinaan dan pendanaan usaha kecil. BMT harus bersikap aktif mejalankan fungsi sebagai lembaga keuangan mikro. c. Melepaskan ketergantungan kepada rentenir, masyarakat yang masih
tergantung pada rentenir disebabkan rentenir mampu memeuhi keinginan masyarakat dalam memenuhi dana dengan segera.
d. Menjaga keadilan ekonomi masyarakat dengan distribusi yang merata. Fungsi BMT langsung berhadapan dengan masyarakat yang kompleks dituntut harus pandai bersikap.
Selain itu peran BMT dimasyarakat adalah :
a. Motor penggerak ekonomi dan social masyarakat banyak. b. Unjung tombak pelaksanaan ekonomi islam.
d. Sarana pendidikan informal untuk mewujudkan prinsip hidup yang barakah, ahsanu ‘amala, dan salaam melalui spiritual communication dengan dzikir qalbiyah ilahiah.27
3. Badan Hukum BMT
BMT dapat didirikan dalam bentuk Kelompok Swadaya Masyarakat atau Koperasi.
a. KSM adalah kelompok Swadaya Masyarakat dengan mendapat Surat Keterangan Operasional dan PINBUK (Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil)
b. Koperasi serba usaha atau koperasi syariah c. Koperasi simpan pinjam syariah (KSP-S)28
BMT dapat didirikan dan dikembangkan dengan suatu proses legalitas hukum yang bertahap ; pertama dapat dimulai sebagai KSMS/LKMS, dan jika telah mencapai nilai asset tertentu segera menyiapkan diri ke dalam badan hukum koperasi syariah;
a. KSMS/LKMS : kelompok swadaya masyarakat syariah/lembaga keuangan mikro syariah dengan mendapat sertifikat operasional/kemitraan pemberdayaan dari LAZNAS BMT.
b. Jika mencapai keadaan dimana para anggota dan pengurus telah siap, maka BMT dapat dikembangkan menjadi badan hukum koperasi jasa
27
Nurul Huda & Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Islam Tinjauan Teoretis dan Praktis, hlm. 364-365.
28
Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah Deskripsi dan Ilustrasi. (Yogyakarta: EKONISIA, 2008) Edisi ke 3, hlm. 112
keuangan syariah (KJKS) sesuai keputusan Menteri No. 91/Kep/M.KUKM/IX/2004.
c. BMT yang telah memiliki kekayaan Rp. 75 juta atau lebih dimintakan, dan diharuskan untuk mempersiapkan proses administrasi untuk menjadi koperasi syariah yang sehat dilihat dari segi pengelolaan koperasi dan baik, thayyiban, dianalisa dari segi ibadah, ‘amalan shlihah’, yang harus mempertanggungjawabkan kinerjanya tidak saja pada anggota dan masyarakat, tetapi juga kepada allah SWT. Karena seharusnya BMT berbadan hukum koperasi ini dikelola secara syariat islam yang sarat dengan nilai-nilai etika dan islami. Sesuai dengan surat edaran direktur jendral pembinaan koperasi perkotaan nomor 538/PPK/IV/1997 tanggal 14 April 1997, maka BMT, baik diperkotaan maupun dipedesaan dapat mengajukan badan hukum koperasi kepada kadinas koperasi dan PKM kabupaten/kota setempat dengan alternative sebagai berikut : 1) Koperasi jasa keuangan syariah (KJKS), misalnya disebut dengan
“brand name”
Koperasi jasa keuangan syariah BMT “……….” Badan hukum No. ……….., tanggal ……….. 2) Koperasi serba usaha syariah, misalnya disebut
Koperasi serba usaha syariah BMT “……….” Badan hukum No. ………., tanggal ……….
d. BMT yang telah berkembang sehingga memenuhi syarat sebagai BPR syariah dapat diajukan ijin kepada bank Indonesia menjadi BPR syariah juga dapat berbadan hukum perseroan terbatas.29
4. Produk BMT
Dalam menjalankan usahanya, berbagai akad yang ada pada BMT mirip dengan akad yang ada pada bank pembiayaan masyarakat islam. Adapun akad-akad tersebut adalah : system operasional BMT, pemilik dana menanamkan uangnya di BMT tidak dengan motif mendapatkan bunga, tetapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Produk penghimpunan dana lembaga keuangan islam adalah (Himpunan Fatwa DSN-MUI, 2003) :
a. Giro Waidah, adalah produk simpanan yang bisa ditarik kapan saja. Dana nasabah dititipkan di BMT dan boleh dikelola. Setiap saat nasabah berhak mengambilnya dan berhak mendapatkan bonus dari keuntungan pemanfaatan dana giro oleh BMT. Besarnya bonus tidak ditetapkan dimuka tetapi benar-benar merupakan kebijaksanaan BMT. Sungguhpun demikian nominalnya diupayakan sedemikian rupa untuk senantiasa kompetitif (Fatwa DSN-MUI No. 01/DSN-MUI/IV/2000).
b. Tabungan mudharabah, dana yang disimpan nasabah akan dikelola BMT, untuk memperoleh keuntungan. Keuntungan akan diberikan kepada nasabah berdasarkan kesepakatan nasabah. Nasabah
29
Baihaqi Abdul Madjid, Pedoman Pendirian, Pembinaan dan Pengawasan LKM BMT (Lembaga Keuangan Mikro Baitul Maal Wat Tamwil), Jakarta: LAZNAs BMT, 2007. Cet. Ke 3, hlm 13-14
bertindak sebagai shahibul mal dan lembaga keuangan islam bertindak sebagai mudharib (fatwa DSN-MUI No. 02/DSN-MUI/IV/2000).
c. Deposito mudharabah, BMT bebas melakukan berbagai usaha yang tidak bertentangan dengan islam dan mengembangkanya. BMT bebas mengelola dana (mudharabah mutaqah). BMT berfungsi sebagai mudharib sedangkan nasabah juga shahibul maal. Ada juga dana nasabah yang dititipkan untuk usaha tertentu nasabah memberi batasan pengguna dana untuk jenis dan tempat tertentu. Jenis ini disebut mudarabah muqayyadah.30