• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bakteri Propionibacterium acnes

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.7 Uraian Bakteri

2.7.1 Bakteri Propionibacterium acnes

Propionibacterium acnes adalah bakteri anaerob positif penyebab peradangan kulit. P.acnes adalah flora normal kulit penghasil lipase yang pecah membentuk trigliserida, salah satu komponennya yaitu sebum menjadi asam lemak bebas yang mendorong pertumbuhan Propionibacterium acnes, kemudian bakteri tersebut akan menumpuk sehingga menyebabkan peradangan membentuk jerawat (Sartini dan Karim., 2018).

Propionibacterium acnes adalah organisme utama yang pada umumnya memberi kontribusi terhadap terjadinya jerawat. Sistematika bakteri Propionibacterium acnes menurut Berman (2012) adalah sebagai berikut :

Divisi : Protophyta Kelas : Schizomycetes Bangsa : Eubacteriales

Suku : Propionibacteriaceae

Marga : Propionibacterium Jenis : Propionibacterium acnes

2.9.2 Bakteri Staphylococcus Epidermidis

Staphylococcus termasuk ke dalam bakteri gram positif dengan bentuk bulat dan biasanya tersusun dalam bentuk kluster yang tidak teratur seperti anggur. Staphylococcus epidermidis membentuk koloni berupa warna abu-abu sampai putih, non patogen, tidak memfermentasi manitol, dapat bersifat aerob maupun anaerob. Staphylococcus epidermidis sendiri merupakan flora normal pada kulit manusia. Infeksi stafilokokus lokal tampak sebagai jerawat dan infeksi folikel rambut atau abses (Irianto, 2006).

Sistematika bakteri Staphylococcus epidermidis menurut Irianto (2006) : Divisi : Protophyta

Kelas : Schizomycetes Bangsa : Eubacteriales Suku : Micrococcaceae Marga : Staphylococcus

Jenis : Staphylococcus epidermidis.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimental. Tahap penelitian meliputi penyimpanan bahan, pembuatan ekstrak. Selanjutnya pengujian aktivitas antimikroba dengan metode difusi agar menggunakan cakram kertas. Parameter yang dilihat adalah besarnya diameter hambat pertumbuhan bakteri. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas, aluminium foil, autoklaf (Express), blender (Philips), botol ekstrak, bunsen, cawan datar, cawan petri, cawan penguap, hotplate, inkubator (Memmert), jangka sorong, jarum ose, kaca objek, kassa steril, kertas saring, kompor (Sharp), kurs porselen, Laminar Air Flow Cabinet (Astec HLF I200 L), lemari pengering, lumpang dan alu, mikroskop (Primo star), mikro pipet (Eppendorf), neraca analitik (Mettler Toledo), oven (Memmert), pencadang kertas, penangas air, pinset, pipet tetes, rotary evaporator (heidolph), spatula, tabung reaksi, tisu, vial dan vortex.

3.1.2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah air suling, amil alkohol, asam asetat glasial, asam sulfat, asam klorida pekat, asam klorida 2 N, asam asetat anhidrida, asam nitrat, asam sulfat pekat, besi (III) klorida, bismuth (III) nitrat, etanol 96%, eter, iodium, isopropanol, kalium iodida, kloralhidrat, kloroform, klindamisin 150 mg, natrium hidroksida, natrium klorida, natrium sulfat anhidrat,

Nutrient agar (Himedia), Nutrient broth (Himedia), Mueller hinton agar (Himedia), n-heksan, raksa (II) klorida, serbuk magnesium, serbuk zinkum, simplisia daun kecombrang, timbal (II) asetat dan toluena. Bakteri yang digunakan adalah Propionibacterium acnes ATCC 6919 dan Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 yang diperoleh dari Laboratorium Biologi Fakultas Farmasi USU.

3.2 Pengambilan dan Pengolahan Sampel 3.2.1 Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan secara purposif tanpa membandingkan dengan tanaman yang sama dari daerah lain. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) pada helai 5-6 sebelum pucuk daun yang masih segar diambil dari Desa Sukaraya Kecamatan Pancur batu, Kabupaten Deli Serdang, Kota Medan.

3.2.2 Identifikasi Tumbuhan

Identifikasi tanaman daun kecombrang dilakukan di Herbarium Medanense (MEDA) Universitas Sumatera Utara.

3.2.3 Pengolahan sampel

Pengumpulan daun kecombrang kemudian dilakukan sortasi basah, pencucian, perajangan, pengeringan dalam mengeringkan daun kecombrang didalam lemari pengering dengan suhu 40-50°C hingga daun kering dan timbang berat kering sampel, Selanjutnya sampel dihaluskan atau diserbukkan menggunakan blender, kemudian serbuk disimpan dalam wadah tertutup pada suhu kamar.

3.3 Pemeriksaan Karakteristik Simplisia

Pemeriksaan karakteristik simplisia meliputi pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, penetapan kadar air, penetapan kadar sari larut air, penetapan kadar sari larut etanol, penetapan kadar abu total dan penetapan kadar abu tidak larut asam (Ditjen POM RI, 1995).

3.3.1 Pemeriksaan Makroskopik

Pemeriksaan makroskopik simplisia dilakukan dengan mengamati bentuk luar, ukuran, warna, bau dan rasa dari rajangan simplisia daun kecombrang (Ditjen POM RI, 1995)

3.3.2 Pemeriksaan Mikroskopik

Pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap simplisia daun kecombrang dengan mengamati fragmen-fragmen simplisia untuk melihat ciri-ciri anatominya terutama ciri khasnya.

3.3.3 Penetapan Kadar Air

Penetapan kadar air simplisia dilakukan dengan metode Azeotropi (destilasi toluen).

a. Penjenuhan Toluen

Sebanyak 200 ml toluena dan 2 ml air suling dimasukkan ke dalam labu alas bulat, dipasang alat penampung dan pendingin, kemudian didestilasi selama 2 jam. Destilasi dihentikan dan dibiarkan dingin selama 30 menit, kemudian volume air dalam tabung penerima dibaca dengan ketelitian 0,05 ml (WHO, 1992).

b. Penetapan kadar air simplisia

Dimasukkan 5 g serbuk simplisia yang telah ditimbang seksama ke dalam labu alas bulat yang berisi toluen yang telah dijenuhkan, kemudian dipanaskan dengan hati-hati selama 15 menit. Setelah toluena mendidih, kecepatan tetesan

diatur 2 tetes untuk tiap detik sampai sebagian besar air terdistilasi, kemudian kecepatan destilasi dinaikkan 4 tetes tiap detik. Setelah semua air terdistilasi, bagian dalam pendingin dibilas dengan toluen. Destilasi dapat dilanjutkan selama 5 menit, kemudian tabung penerima dibiarkan mendingin pada suhu kamar.

Setelah air dan toluen memisah dengan sempurna, volume air dapat dibaca dengan ketelitian 0,05 ml. Selisih kedua volume air yang dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa. Kadar air dihitung (WHO, 1992).

3.3.4 Penetapan kadar sari larut air

Sebanyak 5 g serbuk simplisia dimaserasi selama 24 jam dalam 100 ml air-kloroform (2,5 ml kloroform dalam aquades sampai 1L) dengan menggunakan botol tersumbat sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam dan disaring. Sebanyak 20 ml filtrat diuapkan hingga kering dalam cawan yang berdasar rata yang telah dipanaskan dan ditara. Residu dipanaskan dalam oven pada suhu 105ºC sampai diperoleh bobot tetap. Kadar sari yang larut dalam air dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan (Ditjen POM RI, 1995)

3.3.5 Penetapan kadar sari larut etanol

Sebanyak 5 g serbuk simplisia dimaserasi selama 24 jam dalam 100 ml etanol dengan menggunakan botol tersumbat sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam dan disaring. Sebanyak 20 ml

filtrat diuapkan hingga kering dalam cawan yang berdasar rata yang telah dipanaskan dan ditara. Residu dipanaskan dalam oven pada suhu 105ºC sampai diperoleh bobot tetap. Kadar sari yang larut dalam etanol dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan (Depkes RI, 1995).

3.3.6 Penetapan kadar abu total

Sebanyak 2 g serbuk simplisia yang telah digerus dan ditimbang seksama, dimasukkan kedalam kurs porselen yang telah dipijar dan ditara, kemudian diratakan. Kurs porselen bersama isinya dipijarkan perlahan hingga arang habis, didinginkan, ditimbang sampai diperoleh bobot yang tetap. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI, 1995).

3.3.7 Penetapan kadar abu tidak larut asam

Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu total dididihkan dengan 25 ml asam klorida encer selama 5 menit, bagian yang tidak larut asam dikumpulkan, disaring dengan kertas saring, lalu dicuci dengan air panas residu kertas saring dipijarkan sampai diperoleh bobot yang tetap, didinginkan, dan ditimbang beratnya. Kadar abu yang tidak larut asam dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI, 1995).

3.4 Pembuatan Larutan Pereaksi 3.4.1 Pereaksi Asam Nitrat 0,5 N

Dilakukan dengan cara mengencerkan sebanyak 3,4ml asam nitrat pekat dengan aquades hingga 100ml (Ditjen POM, 1995).

3.4.2 Pereaksi Asam Sulfat 2 N

Diencerkan sebanyak 5,5ml asam sulfat pekat dengan aquades secukupnya hingga volume 100ml (Ditjen POM, 1995).

3.4.3 Pereaksi Besi (III) Klorida 1%

Ditimbang 10 g besi (III) klorida 10% lalu kemudian dilarutkan dalam labu tentukur yang berisi aquades sehingga diperoleh larutan 100ml (Ditjen POM, 1995),

3.4.4 Pereaksi Dragendorff

Ditimbang 8g bismuth (III) nitrat kemudian dilarutkan dalam 20 ml asam nitrat pekat. Dilarutkan 27,2g kalium iodida dalam 50ml aquades pada wadah lain.

Kedua larutan dicampurkan dan didiamkan sampai memisah. Larutan yang jernih diambil dan diencerkan dengan aquades hingga volume larutan 100ml (Ditjen POM, 1995).

3.4.5 Pereaksi Bouchardat

Ditimbang 4g kalium iodide dan dilarutkan dalam aquades, kemudian 2g iodium dilarutkan dalam larutan kalium iodide dan dicukupkan dengan aquades hingga 100ml (Ditjen POM, 1995).

3.4.6 Pereaksi Liebermann-Burchard

Dicampurkan secara perlahan 5 ml asam asetat anhidrida dengan 5 ml asam sulfat pekat tambahan etanol hingga 50ml (Ditjen POM, 1995).

3.4.7 Pereaksi Mayer

Dilarutkan 1,359g raksa (II) klorida dalam akuades hingga 60ml.

Sebanyak 5g kalium iodide pada wadah lain dilarutkan dalam 10 ml aquades kemudian keduanya dicampur dan ditambahkan aquades hingga 100ml (Ditjen POM, 1995).

3.4.8 Pereaksi Molisch

Ditimbang 3 g α-naftol dan dilarutkan dalam asam nitrat 0,5 N hingga diperoleh larutan 100 ml (Ditjen POM, 1995).

3.4.9 Pereaksi Natrium Hidroksida 2 N

Ditimbang 8g kristal natrium hidroksida kemudian dilarutkan dalam aquades hingga diperoleh larutan 100 ml (Ditjen POM, 1995),

3.4.10 Pereaksi Timbal (II) Asetat 0,4 M

Dilarutkan 15,17 g timbal (II) asetat dalam aquades bebas CO2 hingga 100 ml (Ditjen POM, 1995).

3.4.11 Pereaksi Asam Klorida 2 N

Sebanyak 6,18 ml asam klorida pekat ditambahkan dengan aquades hingga diperoleh 100 ml (Ditjen POM, 1995).

3.5 Skrining Fitokimia

Skrining fitokimia serbuk simplisia dan ekstrak meliputi pemeriksaan senyawa golongan alkaloid, flavonoid, tanin, glikosida, saponin, dan steroid/

triterpenoid.

3.5.1 Pemeriksaan Alkaloida

Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia dan ekstrak ditimbang kemudian ditambahkan 1 ml asam klorida 2N dan 9 ml air suling, dipanaskan diatas penangas air selama 2 menit, didinginkan lalu disaring. Filtrat dipakai untuk percobaan berikut:

a. filtrat sebanyak 3 tetes ditambahkan 2 tetes larutan pereaksi Mayer akan terbentuk endapan berwarna putih atau kuning.

b. filtrat sebanyak 3 tetes ditambahkan 2 tetes larutan pereaksi Bouchardat akan terbentuk endapan berwarna coklat dan hitam.

c. filtrat sebanyak 3 tetes ditambahkan 2 tetes larutan pereaksi Dragendorff akan terbentuk endapan berwarna merah atau jingga. Alkaloid dinyatakan positif jika terjadi endapan atau paling sedikit dua atau tiga dari percobaan (Ditjen POM, 1995).

3.5.2 Pemeriksaan Flavonoida

Sebanyak 10 gram serbuk simplisia kemudian ditambahkan 10 ml air panas, didihkan selama 5 menit dan disaring dalam keadaan panas, filtrat yang diperoleh kemudian diambil 5 ml lalu ditambahkan 0,1 gram serbuk Mg dan 1 ml asam klorida pekat dan 2 ml amil alkohol, dikocok dan dibiarkan memisah.

Flavonoid positif jika terjadi warna merah kuning, jingga pada lapisan amyl alcohol (Farnsworth, 1966).

3.5.3 Pemeriksaan Tanin

Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia dan ekstrak disari dengan 10 ml air suling, disaring lalu filtratnya diencerkan dengan air suling sampai tidak berwarna. Diambil 2 ml larutan lalu ditambahkan 1 sampai 2 tetes pereaksi besi (III) klorida. Terjadi warna biru atau hijau kehitaman menunjukkan adanya tanin (Fransworth, 1966).

3.5.4 Pemeriksaan Glikosida

Serbuk simplisia ditimbang sebanyak 3 gram kemudian disari 30 ml campuran 7 bagian volume etanol 96% dan 3 bagian volume air suling ditambahkan dengan 10 ml asam klorida 2 N. Direfluks selama 30 menit, didinginkan dan disaring. Diambil 20 ml filtrat, ditambahkan 25 ml air suling dan 25 ml timbal (II) asetat 0,4 M lalu dikocok selama 5 menit dan disaring. Filtrat disari dengan 20 ml campuran 3 bagian kloroform dan 2 bagian isopropanol dilakukan berulang sebanyak 3 kali. Kumpulan sari air diuapkan pada temperature tidak lebih dari 500C. sisanya dilarutkan dalam 2 ml methanol. Larutan sisa digunakan untuk percobaan berikut, yaitu 0,1 ml larutan percobaan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, diuapkan di penangas air. Sisa filtrat dilarutkan dalam 2 ml air suling dan 5 tetes pereaksi Molisch kemudian secara perlahan ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat. Glikosida pada tumbuhan dikatakan positif jika terbentuk cincin ungu (Depkes RI, 1995).

3.5.5 Pemeriksaan Saponin

Sebanyak 0,5 g simplisia dan ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 10 ml air suling panas, didinginkan kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik, timbul busa yang mantap tidak kurang dari 10 menit setinggi 1-

10 cm. Ditambahkan 1 tetes larutan asam klorida 2N, bila buih tidak hilang menunjukkan adanya saponin (Depkes RI, 1995).

3.5.6 Pemeriksaan Steroida/Triterpenoida

Sebanyak 1 g simplisia dan ekstrak dimaserasi dengan 20 ml n-heksana selama 2 jam, lalu disaring. Filtrat diuapkan dalam cawan penguap. Pada sisa dalam cawan penguap ditambahkan 2 tetes asam asetat anhidrida dan 1 tetes asam sulfat pekat. Timbul warna ungu atau merah kemudian berubah menjadi hijau biru menunjukkan adanya steroida/triterpenoida (Farnsworth, 1966).

3.6 Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) secara maserasi

Serbuk simplisia diekstraksi dengan cara maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96% sebanyak 5 liter. Sebanyak 500 g serbuk simplisia daun kecombrang dimasukkan ke dalam wadah kaca, lalu ditambahkan 75 bagian pelarut etanol 96% (3,75 liter) sampai serbuk terendam, ditutup, dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering diaduk, saring, cuci ampas dengan penyari sebanyak 25 bagian (1,25 liter) hingga diperoleh 100 bagian (5 liter).

Dibiarkan selama 2 hari terlindung dari cahaya, disaring. Ekstrak cair yang didapatkan lalu dipekatkan dengan menggunakan alat rotary evaporator pada suhu  50°C sampai sebagian besar pelarut menguap dan dilanjutkan proses penguapan di atas penangas sampai diperoleh ekstrak kental (Ditjen POM, 1979).

3.7 Sterilisasi Alat

Alat-alat yang digunakan dalam uji aktivitas antibakteri disterilkan terlebih

pertumbuhan bakteri disterilkan di autoklaf pada suhu 121° C selama 15 menit dan alat-alat gelas lainnya disterilkan didalam oven pada suhu 170 °C selama 1 jam. Jarum ose dan pinset disterilkan dengan lampu bunsen (Ditjen POM, 1995).

3.8 Pembuatan Media 3.8.1 Nutrient agar (NA)

Komposisi: Peptone 5 g Sodium chloride 5 g HM peptone 1,5 g Yeast extract 1,5 g

Agar 15 g

Cara pembuatan:

Sebanyak 28 g serbuk Nutrient Agar (NA) dilarutkan dalam air suling sedikit demi sedikit kemudian volumenya dicukupkan hingga 1 L dengan bantuan pemanasan sampai semua bahan larut sempurna kemudian disterilkan di autoklaf pada suhu 121 °C selama 15 menit (Himedia, 2005).

3.8.2 Nutrient Broth (NB)

Komposisi: Peptone 5 g Sodium chloride 5 g Beef extract 1,5 g Yeast extract 1,5 g Cara pembuatan:

Sebanyak 13,0 g serbuk Nutrient Broth (NB) dilarutkan dalam air suling steril sedikit demi sedikit kemudian volumenya dicukupkan hingga 1 L. Dipanaskan jika perlu bantuan untuk melarutkan sampai semua bahan larut sempurna

kemudian disterilkan di autoklaf pada suhu 121 °C selama 15 menit (Himedia, 2005).

3.8.3 Mueller Hinton Agar (MHA)

Komposisi: Beef Infusion from 300 g Casein acid hydrolysate 17,5 g

Starch 1,5 g

Agar 17 g

Cara pembuatan:

Sebanyak 38,0 g serbuk Mueller Hinton Agar (MHA) dilarutkan dalam air suling steril sedikit demi sedikit kemudian volumenya dicukupkan hingga 1 L dengan bantuan pemanasan sampai semua bahan larut sempurna kemudian disterilkan di autoklaf pada suhu 121 °C selama 15 menit (Himedia, 2005).

3.8.4 Pembuatan Agar Miring

Sebanyak 3 ml media Nutrient Agar steril dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang steril, didiamkan pada temperatur kamar sampai nutrient agar membeku pada posisi miring membentuk sudut 30-45° , kemudian disimpan dalam lemari pendingin (Lay, 1994).

3.9 Pembiakan Bakteri

3.9.1 Pembuatan Stok Kultur Bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis

Biakan Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis dari biakan murni diambil dengan jarum ose yang sudah disterilkan di api bunsen lalu

menggores, kemudian diinkubasikan di inkubator pada suhu 37ºC selama 24 jam (Chandra dkk., 2018).

3.9.2 Pembuatan inokulum Bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis

Koloni bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis diambil dari stok kultur dengan jarum ose steril, lalu disuspensikan dalam tabung reaksi yang berisi 10 ml media Nutrient Broth. Diukur transmitan pada panjang gelombang 580nm menggunakan spektrofotometer Visibel.Target nilai transmitan lebih kurang 25% pada panjang gelombang 580 nm (Depkes RI., 2020).

3.10 Pembuatan Larutan Uji Ekstrak Etanol Daun Kecombrang dengan Berbagai Konsentrasi

Pembuatan larutan uji ekstrak etanol daun kecombrang dilakukan dengan menimbang 2 gram ekstrak kental yang dilarutkan dengan DMSO dicukupkan sampai 2 ml dan diperoleh ekstrak dengan konsentrasi 1000 mg/ml. Selanjutnya dilakukan pengenceran sampai diperoleh ekstrak dengan konsentrasi 300 mg/ml;

200 mg/ml; 100 mg/ml; 50 mg/ml; 10 mg/ml; 1 mg/ml; 0,50 mg/ml; dan 0,25 mg/ml.

3.11 Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kecombrang Terhadap Propionibacterium acnes

Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun kecombrang dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan cakram kertas yang diuji dalam 3 pengulangan. Inokulum diambil sebanyak 0,1 ml menggunakan pipet mikro

dicampur homogen dengan 15 ml Mueller Hinton Agar di cawan petri steril kemudian dibiarkan sampai media memadat. Pada media yang telah padat diletakkan cakram kertas yang sudah diteteskan masing-masing konsentrasi ekstrak etanol daun kecombrang, kontrol positif dan kontrol negatif sebesar 30μl.

Konsentrasi ekstrak yang dipakai adalah 300 mg/ml; 200 mg/ml; 100 mg/ml; 50 mg/ml; 10 mg/ml; 1 mg/ml; 0,50 mg/ml; 0,25 mg/ml. Kontrol positif yang digunakan merupakan klindamisin 10 mg/ml dan kontrol negatif yang digunakan adalah DMSO. Kemudian diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam. Selanjutnya diameter daerah hambat disekitar cakram kertas diukur menggunakan jangka sorong (NCCLS, 2003).

3.12 Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kecombrang Terhadap Staphylococcus epidermidis

Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun kecombrang dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan cakram kertas yang diuji dalam 3 pengulangan. Inokulum diambil sebanyak 0,1 ml menggunakan pipet mikro dicampur homogen dengan 15 ml Mueller Hinton Agar di cawan petri steril kemudian dibiarkan sampai media memadat. Pada media yang telah padat diletakkan cakram kertas yang sudah diteteskan masing-masing konsentrasi ekstrak etanol daun kecombrang, kontrol positif dan kontrol negatif sebesar 30μl.

Konsentrasi ekstrak yang dipakai adalah 300 mg/ml; 200 mg/ml; 100 mg/ml; 50 mg/ml; 10 mg/ml; 1 mg/ml; 0,50 mg/ml; 0,25 mg/ml. Kontrol positif yang digunakan merupakan klindamisin 10 mg/ml dan kontrol negatif yang digunakan adalah DMSO. Kemudian diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam. Selanjutnya diameter daerah hambat disekitar cakram kertas diukur menggunakan jangka

3.13 Penyiapan Larutan Uji Antibiotik

Ditimbang antibiotik klindamisin 150 mg secara seksama, serbuk klindamisin sebanyak 16,8 mg dilarutkan dengan dimetil sulfoksida (DMSO) sebanyak 1 ml aduk hingga homogen (Soemarie dkk., 2018). Selanjutnya dilakukan pengujian aktivitas antibiotik dengan metode difusi menggunakan cakram kertas yang diteteskan antibiotik sebanyak 30µl yang diuji dalam 3 pengulangan. Kemudian diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam. Selanjutnya diameter daerah hambat disekitar cakram kertas diukur menggunakan jangka sorong (NCCLS, 2003).

3.14 Analisis statistika

Data diameter zona hambat pada pertumbuhan bakteri disajikan dalam nilai rata-rata simpangan baku kemudian dilakukan uji distribusi normalitas data . Jika data tidak terdistribusi normal maka selanjutnya data dianalisis dengan uji Friedman. Analisa dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 22.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Identifikasi Tumbuhan

Identifikasi tumbuhan yang dilakukan di Herbarium Medanese (MEDA), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara, Medan No. 6439/MEDA/2021, menunjukkan bahwa tanaman yang diteliti adalah daun kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm) famili Zingiberaceae. Hasil identifikasi dapat dilihat pada Lampiran 1 halaman 52.

4.2 Hasil Ekstraksi

Hasil ekstraksi 500 gram serbuk simplisia daun kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) dengan maserasi menggunakan pelarut etanol 96%.

Sebanyak 5L didapatkan ekstrak kental sebanyak 103 g (rendemen 20,6%).

4.3 Hasil Pemeriksaan Karakterisasi 4.3.1 Pemeriksaan Makroskopik

Pemeriksaan makroskopik daun kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm) menunjukkan warna daun hijau dan memiliki panjang 26-47 cm dan lebar 10-15 cm. Daunnya tunggal, lanset, ujung dan pangkal runcing tetapi rata dan pertulangan daun menyirip. Pemeriksaan makroskopik simplisia daun kecombrang yaitu serbuk berwarna coklat kehijauan dan memiliki rasa pahit.

Gambar tanaman, daun kecombrang dan gambar simplisia daun kecombrang dapat dilihat pada Lampiran 2 Halaman 53.

4.3.2 Pemeriksaan Mikroskopik

Pemeriksaan mikroskopik terhadap daun kecombrang menunjukkan adanya epidermis atas, epidermis bawah, stomata tipe anomositik, trikoma dan serabut berkas pembuluh. Dapat dilihat pada Tabel 4.1 dibawah ini :

Tabel 4.1 Mikroskopis simplisia daun kecombrang

No Gambar Keterangan

1.

Stomata tipe anomositik Epidermis bawah

2.

Trikoma

3.

Epidermis atas

4.

Serbuk Berkas Pembuluh

4.3.3 Pemeriksaan Karakterisasi Serbuk Simplisia Daun Kecombrang Hasil karakterisasi daun kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm) dapat dilihat Tabel 4.2 dibawah ini :

Tabel 4.2 Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia daun kecombrang

No Karakterisasi Simplisia Hasil (%)

1. Kadar air 7,32%

2. Kadar sari larut dalam air 17,75%

3. Kadar sari larut dalam etanol 18,82%

4. Kadar abu total 8,72 %

5. Kadar abu tidak larut asam 3,28 %

Berdasarkan tabel 4.2 di atas bahwa simplisia daun kecombrang memiliki kadar air sebesar 7,32%, kadar sari larut air sebesar 17,75%, kadar sari larut etanol sebesar 18,82%, kadar abu total sebesar 8,72%, serta kadar abu tidak larut asam sebesar 3,28%.

Penetapan kadar air bertujuan untuk mengetahui batasan minimal dan rentang besarnya kandungan air dalam simplisia (Nurlatifah dkk., 2021). Kadar air simplisia daun kecombrang diperoleh pada penelitian adalah 7,32% dan memenuhi persyaratan kadar air simplisia yaitu lebih kecil dari 10%. Kadar air yang melebihi 10% dapat menjadi media yang baik dalam pertumbuhan mikroba, serta mempengaruhi mutu dari simplisia dikarenakan kadar air berkaitan dengan adanya pertumbuhan jamur/kapang (WHO, 1992).

Penetapan kadar sari larut dalam air bertujuan untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat polar. kadar sari larut dalam air pada simplisia daun kecombrang diperoleh 17,75%. Tujuan penetapan kadar sari larut dalam etanol untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat polar maupun non polar. kadar sari larut dalam etanol diperoleh sebesar 18,82% (Depkes RI, 2000). Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa senyawa dari daun kecombrang lebih banyak

larut dalam etanol dibanding air. Pelarut etanol diketahui sebagai pelarut universal yang memiliki gugus polar (-OH) dan gugus nonpolar (-CH3) sehingga dapat menarik analit-analit yang bersifat polar dan nonpolar (Astarina, 2013).

Senyawa-senyawa yang dapat larut dalam air adalah glikosida, tanin, gula, enzim, zat warna dan asam organik. Senyawa-senyawa yang dapat larut dalam etanol adalah steroid/triterpenoid, flavonoid, glikosida, karotenoid dan lain-lain (Depkes RI, 1989).

Penetapan kadar abu total bertujuan untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak (Depkes RI., 2000). Kadar abu total diperoleh 8,72%

Tingginya suatu kadar abu menunjukkan tingginya kandungan mineral internal didalam daun kecombrang itu sendiri. Semakin tinggi kadar abu yang diperoleh maka kandungan mineral dalam bahan juga semakin tinggi (Utami dkk., 2020).

Penetapan kadar abu tidak larut dalam asam bertujuan untuk mengetahui adanya kontaminasi mineral atau logam yang tidak larut asam dalam simplisia sebesar 3,28%. Tingginya kadar abu tidak larut asam menunjukkan adanya kandungan silikat yang berasal dari tanah atau pasir (Utami dkk., 2020). Hasil perhitungan karakterisasi simplisia daun kecombrang dapat dilihat pada Lampiran 12 halaman 65.

4.4 Hasil Skrining Simplisia dan Ekstrak Daun Kecombrang

Hasil skrining fitokimia dari simplisia dan ekstrak daun kecombrang bertujuan untuk mengetahui kandungan dari golongan metabolit sekunder yang terkandung di dalam daun kecombrang. Uji skrining fitokimia yang dilakukan

yaitu uji alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, tanin, dan triterpenoid/steroid,

yaitu uji alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, tanin, dan triterpenoid/steroid,