• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.10 Pembuatan Larutan Uji

Pembuatan larutan uji ekstrak etanol daun kecombrang dilakukan dengan menimbang 2 gram ekstrak kental yang dilarutkan dengan DMSO dicukupkan sampai 2 ml dan diperoleh ekstrak dengan konsentrasi 1000 mg/ml. Selanjutnya dilakukan pengenceran sampai diperoleh ekstrak dengan konsentrasi 300 mg/ml;

200 mg/ml; 100 mg/ml; 50 mg/ml; 10 mg/ml; 1 mg/ml; 0,50 mg/ml; dan 0,25 mg/ml.

3.11 Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kecombrang Terhadap Propionibacterium acnes

Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun kecombrang dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan cakram kertas yang diuji dalam 3 pengulangan. Inokulum diambil sebanyak 0,1 ml menggunakan pipet mikro

dicampur homogen dengan 15 ml Mueller Hinton Agar di cawan petri steril kemudian dibiarkan sampai media memadat. Pada media yang telah padat diletakkan cakram kertas yang sudah diteteskan masing-masing konsentrasi ekstrak etanol daun kecombrang, kontrol positif dan kontrol negatif sebesar 30μl.

Konsentrasi ekstrak yang dipakai adalah 300 mg/ml; 200 mg/ml; 100 mg/ml; 50 mg/ml; 10 mg/ml; 1 mg/ml; 0,50 mg/ml; 0,25 mg/ml. Kontrol positif yang digunakan merupakan klindamisin 10 mg/ml dan kontrol negatif yang digunakan adalah DMSO. Kemudian diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam. Selanjutnya diameter daerah hambat disekitar cakram kertas diukur menggunakan jangka sorong (NCCLS, 2003).

3.12 Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kecombrang Terhadap Staphylococcus epidermidis

Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun kecombrang dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan cakram kertas yang diuji dalam 3 pengulangan. Inokulum diambil sebanyak 0,1 ml menggunakan pipet mikro dicampur homogen dengan 15 ml Mueller Hinton Agar di cawan petri steril kemudian dibiarkan sampai media memadat. Pada media yang telah padat diletakkan cakram kertas yang sudah diteteskan masing-masing konsentrasi ekstrak etanol daun kecombrang, kontrol positif dan kontrol negatif sebesar 30μl.

Konsentrasi ekstrak yang dipakai adalah 300 mg/ml; 200 mg/ml; 100 mg/ml; 50 mg/ml; 10 mg/ml; 1 mg/ml; 0,50 mg/ml; 0,25 mg/ml. Kontrol positif yang digunakan merupakan klindamisin 10 mg/ml dan kontrol negatif yang digunakan adalah DMSO. Kemudian diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam. Selanjutnya diameter daerah hambat disekitar cakram kertas diukur menggunakan jangka

3.13 Penyiapan Larutan Uji Antibiotik

Ditimbang antibiotik klindamisin 150 mg secara seksama, serbuk klindamisin sebanyak 16,8 mg dilarutkan dengan dimetil sulfoksida (DMSO) sebanyak 1 ml aduk hingga homogen (Soemarie dkk., 2018). Selanjutnya dilakukan pengujian aktivitas antibiotik dengan metode difusi menggunakan cakram kertas yang diteteskan antibiotik sebanyak 30µl yang diuji dalam 3 pengulangan. Kemudian diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam. Selanjutnya diameter daerah hambat disekitar cakram kertas diukur menggunakan jangka sorong (NCCLS, 2003).

3.14 Analisis statistika

Data diameter zona hambat pada pertumbuhan bakteri disajikan dalam nilai rata-rata simpangan baku kemudian dilakukan uji distribusi normalitas data . Jika data tidak terdistribusi normal maka selanjutnya data dianalisis dengan uji Friedman. Analisa dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 22.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Identifikasi Tumbuhan

Identifikasi tumbuhan yang dilakukan di Herbarium Medanese (MEDA), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara, Medan No. 6439/MEDA/2021, menunjukkan bahwa tanaman yang diteliti adalah daun kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm) famili Zingiberaceae. Hasil identifikasi dapat dilihat pada Lampiran 1 halaman 52.

4.2 Hasil Ekstraksi

Hasil ekstraksi 500 gram serbuk simplisia daun kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) dengan maserasi menggunakan pelarut etanol 96%.

Sebanyak 5L didapatkan ekstrak kental sebanyak 103 g (rendemen 20,6%).

4.3 Hasil Pemeriksaan Karakterisasi 4.3.1 Pemeriksaan Makroskopik

Pemeriksaan makroskopik daun kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm) menunjukkan warna daun hijau dan memiliki panjang 26-47 cm dan lebar 10-15 cm. Daunnya tunggal, lanset, ujung dan pangkal runcing tetapi rata dan pertulangan daun menyirip. Pemeriksaan makroskopik simplisia daun kecombrang yaitu serbuk berwarna coklat kehijauan dan memiliki rasa pahit.

Gambar tanaman, daun kecombrang dan gambar simplisia daun kecombrang dapat dilihat pada Lampiran 2 Halaman 53.

4.3.2 Pemeriksaan Mikroskopik

Pemeriksaan mikroskopik terhadap daun kecombrang menunjukkan adanya epidermis atas, epidermis bawah, stomata tipe anomositik, trikoma dan serabut berkas pembuluh. Dapat dilihat pada Tabel 4.1 dibawah ini :

Tabel 4.1 Mikroskopis simplisia daun kecombrang

No Gambar Keterangan

1.

Stomata tipe anomositik Epidermis bawah

2.

Trikoma

3.

Epidermis atas

4.

Serbuk Berkas Pembuluh

4.3.3 Pemeriksaan Karakterisasi Serbuk Simplisia Daun Kecombrang Hasil karakterisasi daun kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm) dapat dilihat Tabel 4.2 dibawah ini :

Tabel 4.2 Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia daun kecombrang

No Karakterisasi Simplisia Hasil (%)

1. Kadar air 7,32%

2. Kadar sari larut dalam air 17,75%

3. Kadar sari larut dalam etanol 18,82%

4. Kadar abu total 8,72 %

5. Kadar abu tidak larut asam 3,28 %

Berdasarkan tabel 4.2 di atas bahwa simplisia daun kecombrang memiliki kadar air sebesar 7,32%, kadar sari larut air sebesar 17,75%, kadar sari larut etanol sebesar 18,82%, kadar abu total sebesar 8,72%, serta kadar abu tidak larut asam sebesar 3,28%.

Penetapan kadar air bertujuan untuk mengetahui batasan minimal dan rentang besarnya kandungan air dalam simplisia (Nurlatifah dkk., 2021). Kadar air simplisia daun kecombrang diperoleh pada penelitian adalah 7,32% dan memenuhi persyaratan kadar air simplisia yaitu lebih kecil dari 10%. Kadar air yang melebihi 10% dapat menjadi media yang baik dalam pertumbuhan mikroba, serta mempengaruhi mutu dari simplisia dikarenakan kadar air berkaitan dengan adanya pertumbuhan jamur/kapang (WHO, 1992).

Penetapan kadar sari larut dalam air bertujuan untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat polar. kadar sari larut dalam air pada simplisia daun kecombrang diperoleh 17,75%. Tujuan penetapan kadar sari larut dalam etanol untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat polar maupun non polar. kadar sari larut dalam etanol diperoleh sebesar 18,82% (Depkes RI, 2000). Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa senyawa dari daun kecombrang lebih banyak

larut dalam etanol dibanding air. Pelarut etanol diketahui sebagai pelarut universal yang memiliki gugus polar (-OH) dan gugus nonpolar (-CH3) sehingga dapat menarik analit-analit yang bersifat polar dan nonpolar (Astarina, 2013).

Senyawa-senyawa yang dapat larut dalam air adalah glikosida, tanin, gula, enzim, zat warna dan asam organik. Senyawa-senyawa yang dapat larut dalam etanol adalah steroid/triterpenoid, flavonoid, glikosida, karotenoid dan lain-lain (Depkes RI, 1989).

Penetapan kadar abu total bertujuan untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak (Depkes RI., 2000). Kadar abu total diperoleh 8,72%

Tingginya suatu kadar abu menunjukkan tingginya kandungan mineral internal didalam daun kecombrang itu sendiri. Semakin tinggi kadar abu yang diperoleh maka kandungan mineral dalam bahan juga semakin tinggi (Utami dkk., 2020).

Penetapan kadar abu tidak larut dalam asam bertujuan untuk mengetahui adanya kontaminasi mineral atau logam yang tidak larut asam dalam simplisia sebesar 3,28%. Tingginya kadar abu tidak larut asam menunjukkan adanya kandungan silikat yang berasal dari tanah atau pasir (Utami dkk., 2020). Hasil perhitungan karakterisasi simplisia daun kecombrang dapat dilihat pada Lampiran 12 halaman 65.

4.4 Hasil Skrining Simplisia dan Ekstrak Daun Kecombrang

Hasil skrining fitokimia dari simplisia dan ekstrak daun kecombrang bertujuan untuk mengetahui kandungan dari golongan metabolit sekunder yang terkandung di dalam daun kecombrang. Uji skrining fitokimia yang dilakukan

yaitu uji alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, tanin, dan triterpenoid/steroid, pada simplisia. Hasil skrining fitokimia dari simplisia daun kecombrang dapat dilihat pada Tabel 4.3 dibawah ini :

Tabel 4.3 Hasil Skrining Fitokimia Simplisia Daun Kecombrang No Senyawa Metabolit Sekunder Simplisia Daun

Kecombrang

Keterangan : (+) mengandung golongan senyawa : (-) tidak menganung golongan senyawa

Berdasarkan Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa simplisia dan ekstrak daun kecombrang memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder flavonoid, saponin, tannin, glikosida. dan triterpenoid/steroid. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Fitrianita dkk. (2018) ekstrak etanol daun kecombrang memiliki senyawa metabolit sekunder glikosida, saponin, tanin, flavonoid dan steroid.

Ekstrak etanol daun kecombrang tidak ditemukan adanya alkaloid hal ini sama dengan penelitian oleh Binugraheni dan Larasati (2020) dan Kusumawati dkk (2015) dalam pengujiaannya hanya 1 pereaksi saja yang positif, Berdasarkan literatur untuk uji alkaloid, alkaloid dianggap positif jika terjadi endapan atau paling sedikit 2 atau 3. dapat dinyatakan ekstrak daun kecombrang tidak mengandung senyawa alkaloid.

Adanya senyawa flavonoid dengan penambahan serbuk zink/asam klorida pekat yang memberikan warna merah, kuning dan jingga. Berdasarkan pengujian didapatkan warna jingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak positif mengandung

klorida memberikan warna hijau kehitaman. Berdasarkan literatur, jika terjadi warna biru atau hijau kehitaman menunjukkan adanya tanin. Kandungan senyawa kimia saponin juga terdapat dalam ekstrak etanol daun kecombrang, ini ditandai dengan terbentuknya buih selama kurang dari 10 menit dan tidak hilang pada penambahan asam klorida 2N. Dalam literatur disebutkan bahwa apabila buih tidak hilang pada penambahan 1 tetes asam klorida 2N menunjukkan adanya saponin (Kusumawati dkk, 2015). Glikosida positif dengan penambahan pereaksi Molisch dan asam sulfat pekat yang memberikan cincin ungu. Adanya senyawa steroid dengan penambahan pereaksi Lieberman Burchard berwarna hijau biru setelah dipanaskan.

4.5 Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kecombrang Terhadap Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis.

Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kecombrang dapat menghambat pertumbuhan Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis pada Tabel 4.4. Pengujian ekstrak etanol daun kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi yang digunakan semakin besar zona hambat yang terbentuk. Hal ini dikarenakan semakin tinggi konsentrasi semakin banyak kandungan bahan aktif antibakterinya. Keefektifan suatu zat antimikroba dalam menghambat pertumbuhan tergantung pada sifat mikroba uji, konsentrasi dan lamanya waktu kontak dapat meningkat dengan semakin tingginya konsentrasi yang ditambahkan (Kusumawati dkk., 2015).

Tabel 4.4 Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kecombrang

Kontrol positif = Klindamisin 10 mg/ml (1%) (*) = Hasil pengukuran tiga kali

(-) = Tidak terdapat daerah hambat pertumbuhan bakteri

Ekstrak etanol daun kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) dapat menghambat bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis.

Dilakukan dengan konsentrasi 0,25 mg/ml; 0,5mg/ml; 1 mg/ml; 10mg/ml;

50mg/ml ; 100 mg/ml; 200mg/ml; 300mg/ml metode difusi cakram kertas menggunakan media MHA (Mueller Hinton Agar). Aktivitas antibakteri tampak dengan terbentuknya zona hambat di sekitar cakram kertas yang diukur menggunakan jangka sorong. Pada penelitian ini digunakan media Mueller Hinton Agar, karena media ini telah direkomendasikan oleh FDA dan WHO untuk tes antibakteri (Kusumadewi dkk., 2015).

Konsentrasi terkecil dalam menghambat bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis terdapat pada konsentrasi 0,25 mg/ml dengan diameter 7,66 ± 0,40 mm pada Propionibacterium acnes dan 6,63 ± 0,11 mm pada Staphylococcus epidermidis. Pada kontrol negatif yang digunakan yaitu

DMSO tidak memberikan zona hambatan, sedangkan pada kontrol positif yaitu Klindamisin memberikan diameter zona hambat sebesar 31,23 ± 1,07 mm pada Propionibacterium acnes dan 29,63 ± 0,11 mm pada Staphylococcus epidermidis.

Hasil uji aktivitas ekstrak etanol daun kecombrang dapat dilihat pada Lampiran 17 halaman 74.

Konsentrasi ekstrak < 1 mg/ml dikategorikan memiliki respon hambatan sedang karena diameter zona hambat yang dihasilkan yaitu 5 – 10 mm. Sedangkan pada konsentrasi >10 mg/ml dikategorikan memiliki respon hambatan kuat karena diameter zona hambat yang dihasilkan antara 10-20 mm. Berdasarkan Farmakope Indonesia Edisi IV (1995) daya hambat efektif jika menghasilkan diameter dengan kisaran panjang 14 mm sampai dengan panjang 16 mm (Mierza dan Sudewi, 2020.). maka pada ekstrak etanol daun kecombrang konsentrasi 200 mg/ml memiliki aktivitas antibakteri yang efektif dengan hasil diameter zona hambat sebesar 15,10 ± 0,52 mm pada Propionibacterium acnes dan 15,00 ± 0,26 pada Staphylococcus epidermidis. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun kecombrang pada bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis termasuk antibakteri efektif.

Jika dibandingkan dengan Staphylococcus epidermidis, diameter zona hambat Propionibacterium acnes lebih besar. Perbedaan hasil antara bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis dikarenakan masing-masing bakteri mempunyai sifat dan ketahanan yang berbeda-beda terhadap suatu antibakteri meskipun bakteri tersebut termasuk dalam satu golongan yang sama yaitu golongan bakteri gram positif. Bakteri Propionibacterium acnes memiliki sifat pertumbuhan bakteri (fase lag) yang lambat, sedangkan bakteri

Staphylococcus epidermidis sebaliknya. Pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis yang ditanamkan di media lebih cepat dibandingkan dengan penetrasi senyawa antibakteri pada cakram kertas terhadap bakteri sehingga antibakteri ekstrak etanol agak sulit menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis. Bakteri Staphylococcus epidermidis tergolong galur yang tahan terhadap antimikroba, sehingga untuk menghambat pertumbuhannya diperlukan antimikroba terhadap bakteri tersebut yang lebih peka (Marbun dkk., 2021).

Kontrol positif yang digunakan yaitu Klindamisin karena antibiotik ini memiliki spektrum luas yang efektif bekerja menghambat bakteri gram positif dan gram negatif, selain itu pemilihan antibiotik klindamisin sebagai kontrol positif dikarenakan antibiotik ini dijadikan pilihan antibiotik untuk mengatasi jerawat.

Mekanisme kerjanya terjadi ikatan secara reversibel dengan subunit ribosomal 50S, mencegah terjadinya ikatan peptida sehingga akan menghambat sintesis protein bakteri (Saadah dkk., 2020).

Kontrol negatif yang digunakan yaitu DMSO. DMSO merupakan salah satu pelarut sampel yang dapat melarutkan hampir semua senyawa baik polar dan non-polar. Selain itu, DMSO tidak memberikan zona hambat terhadap pertumbuhan bakteri sehingga tidak mengganggu hasil pengamatan (Suryani dkk., 2019).

Kepolaran etanol membuat senyawa bioaktif pada ekstrak etanol daun E.

elatior dapat menembus dinding sel bakteri gram positif sehingga terlihat adanya diameter zona hambat pada bakteri. Asam teikoat sebagai penyusun dinding sel bakteri gram positif merupakan polimer larut dalam air yang berfungsi sebagai transport ion positif untuk keluar dan masuk. Sifat larut air menunjukkan bahwa dinding sel bakteri gram positif bersifat lebih polar, sehingga senyawa bioaktif

yang bersifat polar dengan mudah masuk ke dalam dinding sel dan merusak lapisan peptidoglikan yang bersifat polar dari pada lapisan lipid yang bersifat nonpolar (Suryani dkk., 2019).

Mekanisme kerja flavonoid sebagai antibakteri turunan fenol yang dapat menyebabkan denaturasi dan koagulasi protein sel bakteri.Senyawa flavonoid akan bereaksi dengan lipid dan asam amino sehingga merusak dinding sel bakteri dan mengalami penguraian dan penetrasi fenol ke dalam sel bakteri dan menyebabkan koagulasi protein sehingga membran sel bakteri mengalami lisis (Marbun dkk., 2019).

Senyawa antibakteri tanin juga mempunyai target pada polipeptida dinding sel sehingga pembentukan dinding sel menjadi kurang sempurna. Hal ini menyebabkan sel bakteri menjadi lisis karena osmotik maupun fisik sehingga sel bakteri akan mati. (Marbun dkk., 2019).

Saponin bersifat hidrofilik dan mampu menurunkan tegangan permukaan sehingga mengakibatkan naiknya permeabilitas atau kebocoran sel dan mengakibatkan senyawa intraseluler akan keluar yang akhirnya menyebabkan hancurnya bakteri (Binugraheni dan Larasati, 2020)

Berdasarkan hasil pengujian distribusi data (Shapiro-Wilk) menunjukkan nilai signifikan < 0.05 (data terdistribusi tidak normal). Dengan demikian dilakukan pengujian statistik dengan uji statistic non-parametrik yaitu uji friedman yang bertujuan untuk mengetahui apakah diameter daya hambat antibakteri yang dihasilkan oleh tiap konsentrasi ekstrak etanol daun kecombrang

(Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) dengan bakteri yang berbeda mempunyai perbedaan yang signifikan secara statistik menghambat pertumbuhan bakteri.

Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua bakteri yaitu Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis dengan konsentrasi ekstrak terhadap daya hambat dalam menghambat pertumbuhan bakteri dimana hasil signifikansi uji friedman yaitu 0,000 < 0,05. Bahwasannya pada Propionibacterium acnes memiliki daya hambat lebih besar daripada Staphylococcus epidermidis terhadap konsentrasi ekstrak etanol daun kecombrang.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan Pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut :

a. Golongan senyawa kimia yang terdapat pada simplisia dan ekstrak etanol daun kecombrang adalah flavonoid, saponin, tanin, glikosida dan triterpenoid/steroid.

b. Ekstrak etanol daun kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis.

5.2 Saran

Peneliti selanjutnya disarankan membuat sediaan topikal dari daun kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi infeksi kulit.

DAFTAR PUSTAKA

Adam, S. 1995. Dasar-dasar Mikrobiologi Patofisiologi untuk Perawat. Jakarta:

Penerbit Buku Kedokteran. Halaman 17-19.

Astarina, N. W. G., Astuti, K. W., Warditiani. 2013. Skrining Fitokimia Ekstrak Metanol Rimpang Bangle (Zingiber purpureum Roxb.). Jurnal Farmasi Udayana. Halaman 3.

Berman, A., Snyder, S. 2012. Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice.Edisi Kesembilan. New Jersey: Pearson.

Binugraheni, R., dan Larasati, N. T. 2020. Antibacterial Activity Test Of Leaves Kecombrang (Nicolaia Speciosa) Ethanolic Extracts Against Staphylococcus aureus. Journal of Health (JoH). 7(2). Halaman 54.

Chandra, R. A., Yunita, R., Wahyuni, D. D., dan Anggraini, D. R. 2018. Daya Antibakteri Ekstrak Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi Linn) Terhadap Methicillin Resistant Staphylococcus aureus. Essence of Scientific Medical Journal. Halaman 7, 854-855, 891.

Depkes RI. 1985. Cara Pembuatan Simplisia. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 40, 156.

Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 9 dan 33.

Dwikarya, M. 2003. Cara Tuntas Membasmi Jerawat. Jakarta: Kawan Pustaka.

Halaman 8.

Fitrianita, A., Yardi, Y., & Musir, A. (2018). Uji efek antihiperglikemik ekstrak etanol 70% daun kecombrang (Etlingera elatior) pada tikus sprague dawley dengan penginduksi aloksan. Jurnal Ilmiah Farmasi, 14(1).Halaman 12.

Fransworth, N. R. 1996. Biological and Phytochemical Screening of Plants.

Journal of Pharmaceutical Science. 55(3). Halaman 262-264.

Hidayat, R. S., dan Napitupulu.R. M. 2015. Kitab Tumbuhan Obat. Cetakan ke 1.

Jakarta: Agriflo. Halaman 190-191.

Himedia Laboratories. 2005. Technical Data. Pvt. Limited, 23 Vadhani Industrial Estate, LBS Marg, Mumbai-86, MS, India. www.himedialabs.com

Irianto, K. 2006. Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme. Jilid I. Bandung:

CV. Yrama Widya. Halaman 170.

Jawetz, E., Melnick, J. L., Adelberg, E. A. 2001. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 22. Diterjemahkan oleh Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Jakarta: Salemba Medika.

Jawetz, E., Melnick, J. L.,Adelberg, E. A. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20. Terjemahan Edi Nugroho & Maulany dari Medical Microbiology.

Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

Kusumawati, E. 2016. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kecombrang (Etlingera elatior (Jack) RM Smith) Terhadap Bakteri

Bacillus cereus dan Escherichia coli Menggunakan Metode Difusi Sumur. Polhasains: Jurnal sains dan terapan Politeknik Hasnur., 4(01):

Halaman 26.

Kusumawati, E., Supriningrum, R., dan Rozadi, R. 2015. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kecombrang Etlingera elatior (Jack) RM Sm Terhadap Salmonella typhi. Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(1): Halaman 1, 3-6.

Lay, B. W. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Halaman 109.

Lestari, R. T., Gifanda, L. Z., Kurniasari, E. L., Harwiningrum, R. P., Kelana, A.

P. I., Fauziyah.,. dkk. 2021. Perilaku Mahasiswa Terkait Cara Mengatasi Jerawat. Jurnal Farmasi Komunitas, 8(1): Halaman 16.

Lianah. 2020. Biodiversitas Zingiberaceae. Semarang: deepublish. Halaman 71.

Marbun, E. D., Sapitri, A., & Asfianti, V. Activity Ethanol Extract, Ethyle Acetate Fraction, N-Hexane Fraction Of Sofo-Sofo Leaves (Acmella Cf) Against Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis as Antibacteries. Jurnal Biosains, 7(1). Halaman 33.

Marjoni, R. 2016. Dasar-dasar Fitokimia Untuk Diploma III Farmasi.Jakarta Timur: CV. Trans Info Media. Halaman 153.

Mierza, V., Sudewi. 2020.Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan Obat Kumur Ekstrak Etanol Kapulaga (Amomum compactum Sol. Ex Maton) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans.

Journal of Pharmaceutical and Sciences (JPS). Vol 3 (1). Halaman 52.

Mitsui, T. 1997. New Cosmetic Science. Tokyo: Elsevier. Halaman 28 dan 32.

Nasyanka, A.L., Naimah,J., dan Aulia, R.2020. Pengantar FitokimiaDiploma III Farmasi. Jakarta: CV. Penerbit Qiara Media. Halaman 24.

NCCLS National Committee For Clinical Laboratory Standards.2003.

Performance Standards For Antimicrobial Disk Suseptibilly Test. 6th Ed M2-M8,Wayne, PA.

Nurhayati, L. S., Yahdiyani, N., dan Hidayatulloh, A. 2020. Perbandingan Pengujian Aktivitas Antibakteri Starter Yoghuort Dengan Metode Difusi Sumuran Dan Metode Difusi Cakram. Jurnal Teknologi Hasil Peternakan, 1(2): Halaman 42.

Nurlatifah,A. S., Alifiar dan Setawan, F.2021. Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Kecombrang (Etlingera Elatior (Jack) Rm Sm) Sebagai Pertumbuhan Rambut Terhadap Kelinci Putih Jantan. Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, 4(1): Halaman 81.

Ouchari, L., Boukeskasse, A., Bouizgarne, B., dan Ouhdouch, Y. 2019.

Antimicrobial potential of actinomycetes isolated from the unexplored hot Merzouga desert and their taxonomic diversity. Biology open, 8(2).

Prasetyorini., Utami, N. F., dan Syahri, A, S. (2019). Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Buah Dan Daun Mengkudu (Morinda citrifolia L.) Terhadap Bakteri Penyebab Jerawat (Staphylococcus epidermidis). Fitofarmaka Jurnal Ilmiah Farmasi 9 (2). Halaman 124.

Rachmawati, S., Oktima, W., dan Andareas, P. 2021. Uji Aktivitas Antimikroba Fraksi Daun Jeruk Lemon (Citrus limon (L.) Osbeck) terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Jurnal Pro-Life: Jurnal Pendidikan Biologi, Biologi, dan Ilmu Serumpun, 8(1): Halaman 77.

Rahmawati, D. 2019. Mikrobiologi Farmasi. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Halaman 89.

Retnaningsih, A., Primadiamanti, A., dan Febrianti, A. 2019. Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol Daun Ungu (Graptophyllum Pictum (L.) Griff) Terhadap Bakteri Staphylococcus Epidermidis dan Bakteri Propionibacterium acnes penyebab Jerawat dengan Metode Cakram. Jurnal Analis Farmasi, 4(1):

Halaman 2.

Saadah, H., Supomo, S., dan Musaenah, M. 2020. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Air Kulit Bawang Merah (Allium Cepa L.) Terhadap Bakteri Propionibacterium Acnes. Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia, 2(2):

Halaman 85.

Saidi,N., Ginting, B., dan Mustanir. 2018. Analisis Metabolis Sekunder. Aceh : Syiah Kuala University Press. Halaman 31-36.

Sartini, S., dan Karim, A. (2018). Efektivitas beberapa produk pembersih wajah anti acne terhadap bakteri penyebab jerawat Propionibacterium acnes. BIOLINK (Jurnal Biologi Lingkungan Industri Kesehatan), 5(1) : Halaman 32.

Silalahi, S. Y. 2019. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Kecombrang (Etlingera Elatior) Terhadap Streptococcus mutans. Skripsi. Fakultas Biologi. Universitas Medan Area.

Soemarie, Y. B., Apriliana, A., Ansyori, A. K., dan Purnawati, P. 2019. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Bunga Kecombrang (Etlingera Elatior (Jack) Rm Sm.) Terhadap Bakteri Propionibacterium acnes. Al Ulum Jurnal Sains Dan Teknologi, 5(1): Halaman 13.

Soemarie, Y. B., Apriliana, A., dan Indriastuti, M. 2018. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Glodokan Tiang (Polyalthia longifolia S.) Terhadap Bakteri Propionibacterium acnes. JFL: Jurnal Farmasi Lampung, 7(1).

Halaman 17.

Sopwan, D. A., Sulastri, L., dan Nasel, F. A.2020. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Batang dan Daun Kecombrang (Etlingera Elatior (Jack) R.M.Sm) Terhadap Propionibacterium acnes. Skripsi. Fakultas Farmasi.Sekolah Tinggi Industri dan Farmasi. Bogor.

Sudjadi, B., dan Laila,S. 2006. Biologi Sains dalam Kehidupan. Jakarta:

Yudistira. Halaman 66-74.

Suryani, N., Devi, N., & Dimas, D. I. 2019. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Batang Kecombrang (Etlingera elatior (Jack) RM Sm) Terhadap Bakteri Plak Gigi Streptococcus mutans. Jurnal Kartika Kimia, 2(1).Halaman 27.

Syafriana, V. (2021). Antibacterial Activity of Kecombrang Flower (Etlingera elatior (Jack) RM Sm) Extract against Staphylococcus epidermidis and Propionibacterium acnes. Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology, 6(1): Halaman 1-2.

Turnip, H. 2015. Kajian Manfaat Tanaman Agroforestri Kecombrang (Etlingera elatior) Sebagai Obat dan Pangan Oleh Masyarakat Di Kecamatan Kabanjahe, Kanupaten Karo. Skrispsi. Fakultas kehutanan. Universitas Sumatra Utara. Halaman 9.

Utami, Y. P. 2020. Pengukuran Parameter Simplisia Dan Ekstrak Etanol Daun Patikala (Etlingera Elatior (Jack) Rm.Sm.) Asal Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan. Jurnal Farmasi dan Farmakologi, 24(1): Halaman 7.

Wardani, A. K., Malfadinata, S., dan Fitriana, Y. 2020. Uji Aktivitas Antibakteri Penyebab Jerawat Staphylococcus epidermidis Menggunakan Ekstrak Daun Ashitaba (Angelica keiskei). Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian, 1(1): Halaman 15.

Wasitaatmadja, S. M. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: Universitas

Wasitaatmadja, S. M. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: Universitas