• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Paparan Data Hasil Wawancara Kepada Masyarakat Desa

Tabel di atas memperlihatkan jika status perkawinan mayoritas penduduk Desa Samak Kecamatan Dedai Kabupaten Sintang memiliki status belum kawin yaitu berjumlah 164 orang.

B. Paparan Data Hasil Wawancara Kepada Masyarakat Desa Samak

Narasumber 2 :

“aok, kami isek tanah di bukit kelam tahun 2001, aku merawat tanah taok yang waktu yok di empu kakek kami yang benamo aris sekitar tahun 1924, yang luas 100 x 140 miter persegi, awla yok di gunakan kakek betanam banyak yang udah tumuh kaba jering,derian dan kelengkeng yang usia pony ok udah sekitar 100 taun”

Jika diterjemahkan Narasumber 2 menuturkan bahwa :

“Ia saya memiliki tanah di bukti kelam sejak tahun 2001, saya juga merawat tanah ini yang sebelumnya di miliki oleh kakek saya yang bernama aris sekitar pada tahun 1924, yang seluas tanahnya 100 x 140 meter persegi, yang awalnya di pergunakan kakek saya untuk bercocok tanam, hasil dari tanaman beliau yang masih ada sampai sekarang seperti jengkol,durian dan kelengkeng hutan yang usianya sudah seratus tahunan”.

Narasumber 3 :

“aok, aku empu tanah di area bukit kelam pada taun 2000, yang luas setengah itar lebih, tanah yok arah bawah bukit kelam, aku pun hanya nerus tanah yok yang empu kakek kami yang bbenamo berdai sekitar taun 1963.tanah yok ngau kakek kami betanam kaba derian,kelutuk jering kelengkek dan langsat”

Jika diterjemahkan Narasumber 3 menuturkan bahwa :

“Ia, saya memiliki tanah di area bukit kelam, sejak tahun 2000. yang luasnya setengah hektar lebih. Letak tanah tersebut berada di area tengah- tengah arah bawah bukit kelam. Saya hanya meneruskan kepemilkan dan

merawat tanah tersebut yang mulanya dimiliki kakek kami yang bernama Berdai, sekitar tahun 1963. Tanah tersebut kakek kami gunakan untuk bercocok tanam dan ditanami dengan Durian, rambutan, kelengkeng, jengkol dan langsat”.

Dari hasil jawaban ketiga narasumber di atas, dapat disimpulkan jika tanah yang mereka miliki merupakan tanah warisan turun temurun. Mereka hanya meneruskan kepemilikan tanah tersebut dan menggunakannya untuk bercocok tanam.

Namun, kemudian muncul permasalahan ketika tanah tersebut di berikan batasan patok sebagai wilayah yang masuk ke dalam kawasan milik BKSDA Kabupaten Sintang. Akan tetapi, kemudian muncul pertanyaan baru apakah masyarakat sudah mengetahui tentang tanah mereka yang berada di kawasan milik BKSDA tersebut.

Narasumber 1 :

“aku tekejut karno ulih di pedah dari BKSDA karno tanah yang kami empu di pulah tanah konservasi dari yoklah aku kerau tanah kami ne satu itar yok masuk kawasan, dekok dari titik kordinat tene di empu BKSDA, yang di pedah waktu rapat di desa samak”.

Jika diterjemahkan Narasumber 1 menuturkan bahwa :

“Saya terkejut karna mendapatkan informasi dari pihak BKSDA atas tanah yang saya miliki ini diakui oleh pihak Balai konservasi. Dari situlah saya mengetahui bahwasannya tanah saya yang 1 hektar tersebut adalah milik Kawasan konservasi, berdasarkan titik koordinat yang dimilik oleh pihak

BKSDA yang disampaikan pada saat acara rapat yang diselengarakan di desa Samak”

Narasumber 2 :

“aku nado ketau samil tekejut bahkan aku nulak pado saat bksda mengunang kami selaku yang memiliki tanah di area bukit kelam, yok akan di jadikan kawasan konservasi, atek yok jadi maka tanah kmainyang kami rawat pelamat taok menjadi empu bksda”

Jika diterjemahkan Narasumber 2 menuturkan bahwa :

“Saya tidak mengetahui dan saya terkejut bahkan saya menolaknya pada saat BKSDA mengundang kami selaku yang memiliki tanah di area bukit kelam, yang akan di jadikan kawasan konservasi, apabila hal itu terjadi maka tanah yang kami rawat dan kami jaga selama ini akan menjadi milik BKSDA”.

Narasumber 3 :

“Meleo aku hajo nado ketau atek tabah yok empu bksda, barauk taun 2013 aku ketau bahwa tanah yok empu hidok , aku ketau dari tamu-tamu undangan pado saat yok aku hadir di undang rapat di desa ytang di pulah hidok desa dan di tamah agek taun 2020 di tamah agek dengan bksda ke desa samk yang medah atek tanah di desa samak di area nukti masuk wilayah konservasil“

Jika diterjemahkan Narasumber 3 menuturkan bahwa :

“Dulu saya masih belum mengetahui bahwa tanah tersebut adalah milik BKSDA. Baru di tahun 2013 saya mengetahui tanah tersebut adalah milik

BKSDA, saya mengetahuinya dari tamu-tamu undangan pada saat saya menghadri pertemuan rapat didesa yang di adakan oleh pihak desa dan ditambah lagi pada tahun 2020, BKSDA masuk ke desa kami untuk mengadakan rapat langusung yang akan mebahas kembali mengenai tanah yang berada di daerah bukit kelam masuk dalam kawasan konservasi berdasarkan titik koordinat yang ada”.

Dari hasil wawancara tersebut diketahui bahwa masyarakat terkejut mengetahui bahwa tanah tersebut adalah milik BKSDA. Mereka mengetahuinya setelah diundang pertemuan rapat didesa yang di adakan oleh pihak desa. Dari situlah mereka mengetahui bahwasannya tanah mereka adalah milik Kawasan konservasi, berdasarkan titik koordinat yang dimilik oleh pihak BKSDA.

Setelah mengetahui bahwa tanah mereka berada dalam kawasan milik BKSDA, merekapun memberikan beberapa tanggapan.

Narasumber 1 :

“aku jaho benar-benar ento setuju dengan tanah 1 itar yok tene masuk kawasan konservasi, dan kami hajo sepakat apaipun yang di pulah dari BKSDA dengan tanah kami, kami akan terus ngalang hidok, dan kami ugok ento setuju danda tangan persetujuan tanah tersebut akan masuk dalam kawasan BKSDA.“

Jika diterjemahkan Narasumber 1 menuturkan bahwa :

“Saya benar-benar tidak setuju tanah yang 1 hektar milik saya masuk dalam kawasan konservasi , dan kami sepakat apapun yang diselengarakan

oleh pihak bksda kepada tanah kami . kami akan berupaya untuk menghalangi serta kami tidak akan menandatanggani persetujuan tanah tersebut masuk dalam kawasan BKSDA”

5Narasumber 2 :

“aku hajo ento setuju, karno kakek aku yang empu sebelum yok pada taun 1924 kakek kami udah bumo dan nanam di tempat yok, bukti hajo dari tanaman diok yang usia tanaman yok ampir 100 taun, kakek udah ngulah tanah yok seempan bksda isek di taok tibo kini taok bksda medah atek tanah yok empu hidok, kerno taok kami berubaya bksda kami hentikan padon saat hidok ngurus tanah kami bahkan kami akan menghalang kegiatan hidok”

Jika diterjemahkan Narasumber 2 menuturkan bahwa :

“saya tidak setuju, karena kakek saya yang memiliki sebelumnya pada tahun 1924 kakek saya sudah berladang, sudah bercocok tanam di sana, buktinya dari tanaman yang beliau tanam yang sudah berusia hampir mencapai 100 tahun, kakek saya mengolah tanah tersebut jauh sebelum BKSDA datang ke tempat kami, tiba sekarang pihak BKSDA mengatakan bahwa tanah itu miliki mereka, kami akan berupaya menghentikan BKSDA mengurusi tanah kami bahkan menghalangi kegiatan mereka”

Narasumber 3 :

“ aku hajo nado setuju, tanah yok udah di empu kakekkami yang bernamo berdai pado gtaun 1963 yok udh betanam dan mullah rumah diok bahkan jauh sebelum di jadikan wilaha konservasi, bksda yang ento isek hak di tanah kami“

Jika diterjemahkan Narasumber 3 menuturkan bahwa :

“Saya tidak setuju, karena tanah itu dimiliki kakek kami terdahulu yang bernama Berdai, sekitar tahun 1963, kami sudah bercocok tanam serta membuat rumah di tanah tersebut, bahkan jauh sebelum di tetapkan kawasan konservasi. Seharusnya BKSDA tidak ada hak mnegenai tanah yang kami miliki”

Berdasarkan hasil wawancara dari ketiga narasumber tersebut, mereka tidak setuju tanah mereka diklaim sebagai milik kawasan BKSDA, karena mereka merasa telah memiliki tanah tersebut sejak jaman kakek nenek mereka dulu.

Dengan mengklaim bahwa tanah tersebut adalah milik mereka, maka kemudian dipertanyakan tentang bukti kepemiliki atas tanah tersebut.

Narasumber 1 :

“ atek untuk bukti surat skt dengan sertifikat aku hajo ento isek, aku kalo ngurus surat taok ke bpn, tapi hidok medah nado tau di pulah sertifikat, upayo aku ngau ngenok ke tanah yok, isek pengakauk dari kepalok adat sebagai saksi ngau tanah yok, udah di empu kakek kriyo pado taun 1920 jauh seempan BKSDA isek di pada taun 1993, sebenarnyok BKSDA yang ngamek tanah kami ”

Jika diterjemahkan Narasumber 1 menuturkan bahwa :

“Untuk bukti surat skt atau sertifikat saya memang tidak memiliki, bahkan saya pernah mengurusi tanah tersebut kepada pihak BPN, namun pihak BPN mengatakan tidak bisa menjadi hak milik, upaya saya untuk membukytikan

bahwa tanah itu milik saya adanya Pengakuan dari kepala adat sebagai saksi mengenai tanah tersebut yang merupakan sudah kami kelola dari kakek kriyo pada tahun 1920 jauh sebelum BKSDA hadir pada tahun 1993. Dari dasar itu pihak BKSDA sebenarnya telah menggambil tanah kami tanpa sepengetahuan kami”.

Narasumber 2 :

“saya isek bukti dari pengakauk dari kepalok adat bahwa atek benar tanah yok empu kakek kami yang melaeok, dah yok bukti berikut dari tumbuhan yang idup di sekitar yok, atek keba bukti surat menyurat yang sah memang kami ento isek, kami kiro ento isek yang berani ngamek tanah pangan”

Jika diterjemahkan Narasumber 2 menuturkan bahwa :

“Saya memiliki bukti dari pengakuan kepala adat bahwa di tanah tersebut memang benar milik kakek saya terdahulu, bahkan bukti berikutnya dari tanaman beliau yang sudah ratusan tahun tadi, karena itu bukti di tanah tumbuhnya contoh bukti tanaman yang di tanami kakek kami adalah ada 2 poko durian yang sanggat besar hingga saat ini masih selalu kami panen buah nya dan kelengkeng hutan serta jengkol. tapi apabila bukti surat menyurat yang sah secara hukum kami tidak ada karena kami tau tidak akan ada yang bisa ambil tanah itu dari kami”

Narasumber 3 :

“bukti kebe surat, upo sertifikat dan skt kami hajo ento isek, dengan membutikan atek tanah yok empu kami isek pengakuan dari palok adatyang

membernarkan empu tanah yok hajo kakek kami bernamo berdai dari tahun 1963, bukti kedok kebe pon yang di tanam yangkaba durian,rambuta, kelengkeng jengkol dan lensat, yang di pekiro udh umor 59 taun”

Jika diterjemahkan Narasumber 3 menuturkan bahwa :

“Bukti berupa surat menyurat, seperti sertifikat dan SKT kami tidak memilikinya, namun upaya saya membuktikan bahwa tanah tersebut milik kami dengan pengakuan kepala adat yang membernarkan bahwa kakek berdai kami memiliki tanah tersebut tahun 1963, yang memiliki bukti pohon Durian, rambutan, kelengkeng, jengkol dan langsat yang perkiraan usianya yang hampir 59 tahun”

Dari hasil wawancara yang sudah dilakukan tersebut, terlihat jika masyarakat tidak memiliki bukti kepemilikan dalam bentuk surat menyurat seperti SKT ataupun sertifikat. Mereka hanya memiliki pengakuan kepala adat yang membenarnkan bahwa tana tersebut merupakan milik mereka.

Setelah mengklaim bahwa tanah tersebut adalah milik mereka, kemudian muncul pertanyaan apakah mereka pernah memperjual belikan tanah yang saat ini sudah menjadi kawasan milik BKSDA Kabupaten Sintang tersebut.

Narasumber 1 :

“kalok, kami nyual tanah yok sebesai 20x 30 miter persegi rego yok 20 juta yok terjadi pado taun 2015”

Jika diterjemahkan Narasumber 1 menuturkan bahwa :

“Pernah, saya mejual tanah tersbut seleuas 20x30 meter persegi seharga 20 juta rupiah pada tahun 2015”

Narasumber 2 :

“aok, aku kalok nyual tanah yok pado taun 2009, pado saat yok aku nyual tanah ukuran 50x 40 mitir persegi, hajo ampir setengah dari tanah aku”

Jika diterjemahkan Narasumber 2 menuturkan bahwa :

“ia saya pernah menjual tanah tersebut pada tahun 2009, pada saat itu saya menjual tanah dengan ukuran 50 x 40 meter persegi, hampir setengah dari tanah yang kami miliki”

Narasumber 3 :

“aok aku kalo nyual tanah diok ukuran 25x 25 itar persegu denga rego 23 juta rupiah, yang arah petengah bukit lalu aku nyual tanah yok pado taun 2016”

Jika diterjemahkan Narasumber 3 menuturkan bahwa :

“iya saya pernah memperjual belikan tanah tersebut seluas 25x25 hektar persegi dengan seharga 23 juta rupiah.yang arah nya pertengahan bukit. lalu saya menjual tanah tersebut pada tahun 2016”.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut, diketahui bahwa mereka pernah memperjual belikan tanah tersebut yang saat ini sudah berada di kawasan BKSDA Kabupaten Sintang. Kemudian, muncul pertanyaan mengapa mereka memperjualbelikan tanah tersebut meski tanpa memiliki surat kepemilikan.

Narasumber 1 :

“awal yok kami isek tanah satu itar, namun isek yang enak ngegok tanah di area bukit kelam dari yok aku isek kepikir enak ngau jual tanah yok, dengan ukuran 20x 30 dengan rego 20 juta rupiah, di karno saat yok ugok,

suah pedih, dengan ekonomi aku kurang baik, jadi isek niat ngau nyual tanah yok untuk memenuhi kebutuan”

Jika diterjemahkan Narasumber 1 menuturkan bahwa :

“Karena awalnya saya memiliki tanah 1 hektar, namun ada orang yang mau mencari tanah di area bukit kelam jadi saya berkeingginan menjual tanah seluas 20x30 senilai 20 juta rupiah, dikarenakan pada saat itu saya juga sering sakit-sakitan dan perekonomian saya juga sulit . Jadi saya berniat menjual tanah tersebut untuk memenuhi kebutuhan saya dan keluarga”

Narasumber 2 :

“karno aku empu tanah yok, aku pun ento kalok ngakuk atek tanah yok empu bksda, jadi aku aso kami lah yang empu tanah yok penuh, yok pun anak kami yang pertamo isek pedih yang memang arus secepat di operasi saat yok lah isek niat ngau nyual tanah kami dengan rego 20 juta krno butuh biaya”

Jika diterjemahkan Narasumber 2 menuturkan bahwa :

“karena saya memiliki tanah tersebut dan kami tidak pernah mengakui bahwa tanah milik BKSDA, jadi kami memiliki hak dengan tanah tersebut, pada saat itu anak saya yang pertama memiliki sakit yang harus segera di operasi, jadi saya menjual tanah tersebut dengan senilai 20 juta saja, karena saya butuh uang cepat”.

Narasumber 3 :

“dari awal aku memang ento setuju dengan tanah yok atek tanah yok empu bksda jadi aku akauk tanah yok memang empu kamu selaku pemilik awal, jadi tanah yok empu aku jadi aku isek keinginan enak nyual tanah yok

karnio anak aku enak amsuk perguruan tinggi s1 di kuto pontianak akhirnya aku nyual tanah yok ngau memenuhi kebutuan yok dien”

Jika diterjemahkan Narasumber 3 menuturkan bahwa :

“Dari awal memang saya tidak menyetujui bahwa tanah tersebut adalah milik BKSDA, jadi saya mengakui tanah tersebut adalah milik kami jauh sebelum BKSDA itu hadir. Sehingga saya mempunyai keingginan untuk menjual tanah tersebut. Karna awalnya saya tidak mau menjual tanah tersebut, namun anak saya ingin masuk keperguruan tinggi atau ingin melanjutkan sekolah S1 di kota Pontianak akhirnya saya menjual tanah tersebut untuk memenuhui biaya perkuliahan anak saya”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut diketahui bahwa mereka memang tidak terima dengan diakuinya tanah milik mereka sebagai kawasan milik BKSDA Kabupaten Sintang. Namun, alasan utama mereka menjual tanah tersebut karena kebutuhan ekonomi yang mendesak. Kemudian muncul pertanyaan sejak kapan mereka terbiasa memperjualbelikan tanah tersebut.

Narasumber 1 :

“aku nyual tanah yok taun 2015, lalu aku nyampaikan dengan orang akhir tanh yok terjual dengan bapak untal yang berumur 30 tahun, pado saat yok, kami langsung datang kelokasi tanh tersebut ukuran 20 x 30 dengan rego 20 juta”

Jika diterjemahkan Narasumber 1 menuturkan bahwa :

“saya menjual tanah tersebut pada tahun 2015, lalu saya menyampaikan kepada perorangan akhirnya tanah tersebut terjual kepada bapak untal yang

berumur 30 tahun. Pada saat itu kami langusung datang kelokasi tanah tersebut dengan ukuran 20x30 dengan seharga 20 juta”

Narasumber 2 :

“pado taun 2009, pado taun yok anak aku isek pedih di usu yang ngasok arus cepat di operasi, jadi ento isek pemikir aku langsung jual tanah yok dengan ukuran 50 x40 mitir pesegi”

Jika diterjemahkan Narasumber 2 menuturkan bahwa :

“pada tahun 2009, pada tahun itu anak saya mengalami sakit di bagian usus, yang mengharuskanya untuk melakukan operasi secepatnya, jadi padaa saat itu saya berkeinginan untuk menjual tanah tersebut dengan ukuran 50x40 meter persegi”

Narasumber 3 :

“pada tahun 2016 aku nyual tanah yok,ngau anak aku kuliah di perguruan tinggi di pontianak, dari yok aku enak nyual tanah aku diok, aku nyual ngau hidok di desa samak”

Jika diterjemahkan Narasumber 3 menuturkan bahwa :

“Pada tahun 2016, pada saat itu anak saya yang pertama ingin melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi negeri di kota Pontianak, sehingga saya memiliki keinginan untuk menjual tanah tersebut kepada orang lain yang berada di sekitar Desa samak”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut, diketahui bahwa mereka memperjualbelikan tanah tersebut pada kisaran tahun 2015 dan 2016 silam.

Kemudian muncul pertanyaan baru, bagaimana terjadinya jual beli tanah tersebut.

Narasumber 1 :

“kami saling sepakat hajo jual tanah tauk ento dengan surat menyurat saling suka, teleh sepakat kami langsung ke tanah yang enak di jual diok kami melakukan pengukuran tanah seluas 20 x 30. Setelah kami melakukan [engukuran pada saat itu kami langsung pulang lalu di rumah saya terjadinya pembayaranoleh bapak untal yok pun jual bei hanya di lakukan kami beo hanya di selembar kertas gelik”

Jika diterjemahkan Narasumber 1 menuturkan bahwa :

“Kami saling sepakat bahwa jual beli tanah tersebut tanpa surat-menyurat, atau saling suka. Setelah kami sepakat kami kelokasi tanah yang akan kami jual, serta melakukan pengukuran berdasarkan patok tanah ukuran seluas 20x30. Setelah kami melakukan pengukuran maka kami langung ke rumah saya untuk melakukan Pembayaran atas tanah yang akan dibelinya oleh bapak untal. Proses pembayaran itu hanya dilakukan pada pejual dan pembeli yang hanya berdasarkan pada kertas putih yang di tanda tanggani oleh saya dan bapak untal”

Narasumber 2 :

“tejadi jual beli aku menawarkan kepado teman aku yang bernamo widodo pado sat yok iyo agek ngegok tanah yok di bukit bgau yo namam kelengkeng, kelegkekng memang paling tau di tanam di bukit, sampai sat yok aku bedapat dengan widodo dan aku hajo langsung nawar dengan yo, yo pun

langsung setuju akhir kami datang ke lokasi tanah yok yng enak aku jual, berapo ari kemudian merek duit sebesai 20 juta dan sampai kini taok 50 x40 di sepiak tanah aku kini taok jadi empu widodo”

Jika diterjemahkan Narasumber 2 menuturkan bahwa :

“terjadinya jual beli saya menawarkan kepada teman saya yang bernama widodo yang kebetulan beliau mencari tanah unntuk beliau tanami kelengkeng, sedangkan kelengkeng paling tepat di tanam hanya di daerah pengunungan, sehingga pada saat bertemu dengan widodo dan saya menjelaskan ingin menjual tanah saya beliau langsung setuju, akhirnya kami datang ke lokasi tanah yang mau saya jual, pada saat itu widodo sepakat ingin membeli tanah saya, bebrapa hari kemudian pak widodo memberikan uang kepada saya 20 juta, dan sampai sekrang tanah 50x 40 di sebelah tanah saya menjadi milik widodo”

Narasumber 3 :

“awal aku nawar kepado keluargo yang ngenek, aku pun udh kerumah semua hidok engai, akhir aku nawar dengan urang lain, pado sat yok aku bedapat dengan salim, aku tawar dengan salim akhirnya salim enak dengan tawaran aku tadek, aku langsung ngemaik salim ke tanah yang enak aku jual tadek ngau ukur tanah ukuran 25x 25 dengan rego 23 juta lalu 2 kemudia, salim merek duit yok yang sesuia ne udah kami sepakat sebelumnya”

Jika diterjemahkan Narasumber 3 menuturkan bahwa :

“Awalnya saya menawarkan kepada keluarga terdekat, saya datangi setiap rumahnya namun belum ada yang berminat, sehingga saya mulai

menawarkan kepada orang lain, pada saat itu saya bertemu dengan salim, saya langsung menawarkan kepada salim, akhirnya salim mulai berminat dengan tanah saya tersebut, saya langsung membawa salim ke tanah saya sekaligus mengukur tanah yang sekitar 25x25 meter persegi dengan seharga 23 juta, lalu 2 hari kemudian salim ke rumah saya membawa uang 23 juta yang kami sepakati untuk harga tanah sebelumnya, sehingga tanah tersebut sampai sekrang milik salim”

Berdasarkan hasil wawanara tersebut diketahui bahwa mereka melakukan jual beli tanah tersebut dengan kenalan ataupun keluarga. Mereka hanya menunjukkan letak lokasi tanah dan batas patoknya kemudian setelah sepakat dengan harga yang ditawarkan, pembeli langsung membayar harga tanah tersebut dan tanah tersebut menjadi hak milik pembeli tanpa adanya surat menyurat kepemilikan. Namun, apakah mereka mendapatkan kendala ketika melakukan jual beli tanah tersebut.

Narasumber 1 :

“kendala yok hajo ento isek surat menyurat berupo sertifikat atau skt ats tanah yok, jading hanya kertas putih yang di tulis biaso lalu kami duo hamo- hamo tanda tangan dy di pulah sesuai kesepakatan”

Jika diterjemahkan Narasumber 1 menuturkan bahwa :

“Kendala yang terjadi pada saat itu adalah tidak adanya surat menyurat berupa sertifikat tanah dan SKT tanah atas kepemilikan tanah tersebut. Jadi hanya berdasarkan pada kertas putih yang di tanda tanggani oleh saya dan bapak untal yang dibuat sesuai dengan kesepakatan

Narasumber 2 :

“kepedih yok dalam nyual tanah di bukit kelam masalah sertifikat banyak

Dokumen terkait