• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM PENELITIAN

B. Kajian Teori

2. Rukun dan Syarat Jual Beli Menurut Syariat Islam

janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”

(QS. At-Taubah: 111, Terjemahan Resmi dari Kemenag)

Menurut Rahmat (2011), “Dalam transaksi jual beli, Allah SWT memberikan rambu-rambu agar berjalan sesuai dengan prinsip syari‟ah yaitu menghindari perselisihan diantara kedua belah pihak, perbuatan yang dilarang. Diantara ketentuan tersebut yaitu anjuran agar setiap transaksi dalam muamalah dilakukan secara suka sama suka,” (p.21).

mempunyai rukun al-bai‟ juga mempunyai syarat;

Syarat dari jual beli akan dikatakan sah jika memenuhi persyaratan di bawah ini;

a. Pertama mengenai subjek, yakni kedua belah pihak yang mengadakan perjanjian jual beli syaratnya adalah:

1) Mempunyai akal yang sehat, maksudnya sehat secara jasmani dan rohani atau tidak gila.

2) Kemauan sendiri tanpa ada unsur paksaan, artinya jika dalam mengadakan jual beli salah satu pihak tidak memaksa ataupun menekan pihak lainnya. Jadi pihak lain yang dimaksud melakukan proses jual beli bukan dari keinginannya sendiri karena terdapat unsur paksaan. Jual beli yang dilaksanakan karena ada unsur paksaan adalah jual beli yang tidak sah.

3) Tidak mubadzir, artinya pihak yang mengadakan perjanjian bukan seorang manusia yang boros. Karena menurut hukum, manusia yang boros dikatakan sebagai seseorang yang tidak terampil dalam bertindak.

4) Baligh, artinya jika laki-laki yang usianya sudah beranjak 15 tahun ataupun sudah pernah mimpi basah dan bagi wanita adalah sudah pernah menstruasi.

b. Kedua mengenai objeknya. Oobjek jual beli dalam hal ini yaitu benda yang menjadi penyebab terjadinya jual beli. Syarat-syarat dari benda tersebut meliputi;

1) Barangnya suci, artinya barang yang diperdagangkan bukan benda yang termasuk dalam kategori benda yang najis ataupun termasuk dalam benda yang menurut hukum diharamkan.

Sehingga tidak segala macam benda bisa diperjual belikan.

2) Mempunyai nilai manfaat artinya, barang yang bisa dimanfaatkan tentu saja sangat relative, karena semua barang yang menjadi objek dalam jual beli pada hakikatnya addalah barang yang bisa dimanfaatkan, misalnya untuk dikonsumsi, dinikmati keindahannya dan digunakan untuk kepentingan yang berguna.

3) Milik pribadi orang yang berakad, artinya jika seseorang yang melaksanakan perjanjian jual beli merupakan pemilik sah barangnya atau sudah mendapatkan izin dari pemilik barangnya yang sah. Jual beli barang yang dilaksanakan oleh seseorang yang tidak mempunyai hak atas barang tersebut dinyatakan tidak sah.

4) Dapat menyerahkan artinya penjual baik selaku pemilik ataupun sebagai kuasa bisa memberikan barang yang sudah disepakati sesuai dengan bentuk dan jumlah yang disepakati ketika menyerahkan barang kepada pembelinya

5) Mengetahui artinya melihat sendiri kondisi barangnya baik terkait dengan hitungan, takaran, timbangan ataupun kualitas.

Jika dalam sebuah transaksi jual beli kondisi barang dan jumlah harganya tidak diketahui, maka perjanjiannya tidak sah. Karena dimungkinkan perjanjiannya tersebut terdapat unsur penipuan.

6) Barang yang diakadkan di tangan maksudnya terkait dengan akad jual beli atas sebuah barang yang belum ditangan (tidak dalam penguasaan penjualnya) tidak boleh karena

dimungkinkan barangnya rusak ataupun tidak bisa diserahkan sesuai dengan perjanjian.

c. Ketiga ijab qabul. Ijab merupakan pernyataan pihak pertama terkait dengan isi perjanjian yang diharapkan. Kemudian qobul adalah pernyataan dari pihak kedua untuk menerimanya. Ijab qobul tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memperlihatkan terdapatnya kesukaan timbal balik terhadap perjanjian yang dilaksanakan oleh kedua pihak yang mengadakan perjanjian (Bashir, 2015, p.65).

3. Undang-Undang Pokok Agraria

Sebelum adanya UU No. 5 Tahun 1960 mengenai Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria hukum tanah di negara Indonesia sifatnya adalah

“dualistik” maksudnya mengadopsi dari Hukum Eropa dan Hukum Adat.

Sejumlah tanah yang dikuasai oleh Hukum Eropa dapat juga dinamakan

dengan tanah hak barat sebagai contoh adalah tanah hak eigendom, tanah hak erpach, dan sebagainya. Selain itu ada sejumlah tanah yang dikuasai oleh hukum adat sebagai contoh adalah tanah ulayat, tanah milik, tanah usaha, tanah golongan. Menurut penjelasan hukum tanah di atas, diketahui jika hukum tanah adat mempunyai sejumlah kelemahan sebab berbentuk tidak tertulis, jadi masyarakat khususnya pemerintah dan aparat penegak hukum akan merasa kesulitan dalam memberi kepastian hukum terhadap hakatas tanahnya.

Pengesahan UU No. 5 Tahun 1960 mengenai Peraturan Dasar Pokok- Pokok Agraria dilakukan pada tanggal 24 September tahun 1960. UU tersebut bersifat nasional dan lebih popular dengan nama UUPA.

Pembuatan UUPA bertujuan antara lain;

a. Sebagai dasar dalam menyusun Hukum Agraria Nasional

b. Sebagai dasar dalam mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam hukum pertanahan

c. Sebagai dasar dalam memberi kepastian hukum tentang hak-hak atas tanah bagi rakyat sepenuhnya.

Bagi negara Indonesia, karunia yang sudah Tuhan YME berikan kepada manusia yang terdiri dari ekonomi, corak agrarian, bumi, air, dan ruang angkasa memiliki fungsi yang sangat penting untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur sebagaimana yang banyak didamba- dambakan. Kemudian hukum agrarian yang berlaku saat ini semestinya adalah sebagai salah satu instrument utama dalam upaya menciptakan masyarakat yang adil dan makmur tersebut dalam prakteknya tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya bahkan yang terjadi adalah sebaliknya. Di

dalam prakteknya hal tersebut justru menjadi faktor penghambat dalam rangka pencapaian cita-cita tersebut. Hal tersebut dikarenakan khususnya;

a. Hukum agraria yang diterapkan saat ini beberapa bagian tersusun menurut tujuan dan sendi-sendi dari pemerintah kolonial dan sebagian lagi dipengaruhi olehnya, sampai bertolakbelakang dengan kepentingan rakyat dan negara di dalam melakukan pembangunan semesta dalam upaya penyelesaian revolusi nasional saat ini.

b. Merupakan akibat dari politik hukum pemerintah kolonial tersebut hukum agrariannya bersifat “dualistik” yakni dengan diberlakukannya berbagai peraturan dari hukum addat selain peraturan dari dan yang berdasarkan hukum barat, terkait dengan nama selain menyebabkan munculnya banyak masalah antar golongan yang cukup kompleks, juga tidak relevan dengan semangat persatuan bangsa.

c. Bagi rakyat asli hukum agraria kolonial itu tidak memberikan jaminan kepastian hukum.

4. Hak Penguasaan Atas Tanah

Secara umum hubungan masyarakat hukum adat dengan SDA, lingkungan ataupun wilayah kehidupannya lebih tepatnya digolongkan menjadi hubungan kewajiban dibandingkan hak. Hubungan tersebut baru digolongkan menjadi hak jika mereka berinteraksi dengan pihak luar, baik itu komunitas lain, pengusaha atau pemerintah. Pada saat berinteraksi dengan pihak luar, maka hal selanjutnya menjadi sebuah hal yang mengandung muatan politik yang banyak direbutkan sekaligus menjadi obyek peraturan di dalam hukum.

Dari banyaknya kategori hak yang berhubungan dengan masyarakat

hukum adat, paling tidak ada empat hak masyarakat hukum adat yang banyak dikemukakan, diantaranya;

a. Hak untuk menguasai dan mengelola tanah dan SDA di wilayah adatnya.

b. Hak untuk mengatur dirinya sendiri menurut hukum adat dan aturan adat yang sudah disetujui secara bersama oleh masyarakat hukum adat.

c. Hak untuk mengurus dirinya sendiri sesuai dengan sistem organisasi atau kelembagaan adat/hukum.

d. Hak atas identitas, budaya, sistem kepercayaan, sistem pengetahuan dan bahasa asli (Nababan, 2013, p.46).

Hak atas tanah merupakan hak atas beberapa bagian dari permukaan bumi, yang mempunyai batas, mempunyai dua dimensi dengan ukuran panjang dan lebar. Terkait dengan kategori penguasaan tanah, dapat dibagi menjadi dua kelompok utama yakni bidang tanah yang sudah ada ataupun dilekati hak dan bidang tanah yang belum ada yang mempunyai hak. Secara garis besar hak di atas bisa dikategorikan menjadi tiga yakni;

a. Diatur sesuai dengan ketentuan UUPA

b. Diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan sektoral

c. Diatur oleh masyarakat secara lokal (Priyatna, 2012, p.31)

Dari penjelasan di atas, keberadaan masyarakat hukum adat beserta hak tradisonalnya dinilai harus sesuai dengan kemajuan masyarakat jika keberadaannya sudah diakui sesuai dengan UU yang berlaku sebagai gambaran perkembangan nilai yang dipandang ideal dalam kehidupan masyarakat sekarang ini, baik UU yang bersifat umum atau sektoral dan substansi hak tradisional tersebut diakui dan dihormati oleh masyarakat yang bersangkutan dan masyarakat yang lebih luas serta harus sesuai dengan hak asasi manusia. Begitu juga dengan penguasaan hak atas

tanah

Menurut Sutedi (2011), “Pada dasarnya penguasaan hak atas tanah dilakukan atau diurus langsung oleh pihak yang bersangkutan untuk mendapatkan haknya. Pengurusan hak atas tanah itu sendiri adalah suatu proses yang dilakukan oleh pemegang atau calon pemegang hak untuk memperoleh hak-haknya atas tanah sesuai hak-hak atas tanah yang diatur dalam Undang-Undang Pokok Agraria,” (p.55).

Hak atas tanah adalah memberi kewenangan kepada seseorang yang mempunyai hak untuk menggunakan ataupun mengambil kemanfaatan atas tanah. Sehingga ciri khusus hak atas tanah yaitu seseorang yang memiliki hak atas tanah mempunyai kewenangan untuk menggunakan ataupun mengambil kemanfaatan atas tanah yang sudah menjadi haknya.

Di bawah ini adalah berbagai macam hak atas tanah yaitu :

a. Hak milik, yaitu hak turun temurun terkuat dan terpenuh yang dapat dimiliki orang atas tanah.

b. Hak guna usaha, yaitu hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara dalam kurun waktu maksimal 25 tahun.

c. Hak pakai, yaitu hak untuk menggunakan ataupun mengambil hasil dari tanah yang dikuasai langsung atau tanah milik orang lain dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya.

d. Hak sewa, yaitu hak untuk menggunakan tanah milik orang lain untuk kepentingan bangunan, dengan membayar sejumlah uang sewa kepada pemilik tanah (Ahmad, 2010, p.19)

Dokumen terkait