BAB V PENUTUP
B. Saran
Sesuai dengan kesimpulan yang sudah didapatkan, maka penulis dapat memberikan sejumlah saran yakni :
1. Masyarakat yang merasa memiliki lahan yang berada di wilayah BKSDA Kabupaten Sintang sebaiknya melakukan pendataan lahan secara resmi dengan melibatkan notaris, agar kepemilikan lahan menjadi jelas sebelum dilakukan transaksi jual beli sehingga obyek yang diperjualbelikan juga dapat memenuhi unsur sahnya jual beli menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah.
2. Sebaiknya, masyarakat melibatkan notaris di dalam transaksi jual beli yang dilakukan agar menghindari terjadinya sengketa di kemudian hari.
76
DAFTAR PUSTAKA
Abdul, Hidayat. 2012. Konsep Akad Dalam Islam. Yogyakarta : Lentera Pustaka.
Ahmad, Munandar. 2010. Hak-Hak Atas Tanah dan Perkembangannya. Bandung : Mandar Maju.
Amiruddin. 2006. Pengantar Metode Penelitian Hukum. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Arum, Meilasari. 2020. Hak Pakai Tanah Atas Dasar Kepemilikan Dalam Perspektif Hukum Ekonomi Syariah (Studi Kasus di Desa Tatakarya RT. 01 RW. 06 Kecamatan Abung Surakarta Kabupaten Lampung Utara. Skripsi Institut Akademi Islam Negeri, Surakarta.
Bachtiar. 1993. Hukum Pokok Agraria. Yogyakarta : Lentera Pustaka.
Bashir, Ahmad. 2015. Asas-Asas Hukum Muamalat (Hukum Perdata Islam).
Jakarta : Sinar Grafika.
Boedi, Sutandi. 2003. Prosedur Pendaftaran Sertifikat Hak Milik. Jakarta : Rineka Cipta.
Chairuman, Pasaribu. 2009.Hukum Perjanjian Dalam Islam. Jakarta : Sinar Grafika.
Chomzah, Ahmad. 2001. Hukum Agraria Pertanahan Indonesia. Jakarta : Prestasi Pustaka.
Dewi, Gemala. 2005. Hukum Perikatan Islam di Indonsia. Jakarta : Kencana Prenada Media.
Faizatul, Khayati. 2020. Jual Beli Atas Tanah Sengketa Dalam Perspektif Hukum Ekonomi Syariah (Studi Kasus di Desa Babakan Kec. Karanglewas Kab.
Banyumas). Skripsi State Islamic University, Purwokerto.
Hiroyoshi. 1997. Tanah dan Pajak, Hak Milik dan Sengketa Agraria. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Lukman, Muhammad. 2013. Jual Beli Menurut Syariat Islam. Yogyakarta : Genta Publishing.
Mappire, Andi. 2009. Dasar-Dasar Metodologi Riset Kualitatif. Malang : Jenggala.
Moleong, Lexy. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Nababan. 2013. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta : Gramedia Pustaka.
Nunuk, Kursini. 2019. Analisis Hukum Islam Terhadap Jual-Beli Tanah Tanpa Sertifikat di Simo Jawar Kecamatan Sikomanunggal Kota Surabaya.
Skripsi Universitas Islam Negeri, Surabaya.
Priyatna, Abdurassyid. 2012. Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Suatu Pengantar. Jakarta : Fikahati Aneska.
Rachmat, Hendriawan. 2005. Akad Transaksi Jual Beli Islam. Jakarta : Rineka Cipta.
Rahmat, Hidayatullah. 2011. Prinsip Jual Beli. Jakarta : Pustaka Utama.
Ridwan, Nurdin. 2019. Fiqh Muamalah Sejarah Hukum dan Perkembangannya, Banda Aceh : PENA.
Rohimah, Diyah. 2015. Fiqh Muamalah Kontemporer. Bandung : Alfabeta.
Sodikin, Mirwanto. 2019. Implementasi Akad Wakalah Dalam Jual Beli Tanah Perspektif Hukum Ekonomi Syariah (Studi Kasus di Desa Restu Baru IV Kecamatan Rumbia Kabupaten Lampung Tengah). Skripsi Institut Agama Islam Negeri, Surakarta.
Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung : Alfabeta.
Sugiyono. 2007. Metodologi Penelitian Bisnis. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Edisi Revisi. Bandung : Alfabeta.
Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Edisi Revisi.
Bandung : Alfabeta.
Suryanto, Arsyad. 2011. Konservasi Tanah dan Air, Edisi Kedua. Bogor : IPB Press.
Suwarso. 2009. Hukum Pemerintahan dan Administrasi Negara. Yogyakarta : Genta Publishing.
Sutedi, Adrian. 2011. Hukum Perizinan Dalam Sektor Pelayanan Publik. Jakarta : Sinar Grafika.
Syamsul, Munandar. 2010. Ekonomi Syariah. Jakarta : Gema Insani.
Urip, Yuasa. 2005. Prosedur Pendaftaran Tanah Suatu Pengantar. Jakarta : Genta Aditama.
Wahyu, Hidayat. 2010. Konservasi Sumber Daya Alam. Bandung : Pustaka Setia.
LAMPIRAN
Lampiran 1-Surat Izin Penelitian di Kantor BKSDA Sintang.
Lampiran 2-Pedoman Wawancara.
PEDOMAN WAWANCARA
I. Wawancara dengan Kepala Resot BKSDA .
1. Apakah lahan tanah diarea bukit kelam dekat bukit termasuk dalam lahan tanah BKSDA ?
2. Berapakah luas tanah BKSDA yang berada di area bukit kelam ?
3. Pada tahun berapa bksda ini melakuakan pembentukan lahan tanah BKSDA di area Bukit Kelam ?
4. Setelah dibentuk tentunya akan dilakukan pemasangan tiang disetiap tempat, pada tahun berapakah itu dilakukan ?
5. Lalu Sejak tahun berapa lahan tanah BKSDA yang ditetapkan oleh pemerintah di area bukit kelam ?
6. Menurut bapak/ibu selaku angota BKSDA, bagaimana tangapan anda tentang Praktek Jual Beli Tanah Di Kawasan Milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (Bksda) Tanpa Surat Kepemilikan ?
II. Wawancara Kepada Masyarakat Desa Samak Bukit Kelam.
1. Apakah anda mempunyai tanah di area bukit kelam ?
2. Apakah anda sudah mengetahui bahwa tanah yang anda miliki sebenarnya kawasan milik BKSDA?
3. Bagaimana tanggapan anda mengenai tanah yang ada di bukit kelam masuk dalam kawasan BKSDA?
4. Apakah anda memiliki bukti kepemilikan atas tanah yang ada di daerah bukit kelam?
5. Apakah anda pernah menjual belikan tanah di area bukit kelam yang merupakan wilayah BKSDA?
6. Mengapa anda mau memperjual beli kan tanah BKSDA tersebut ? 7. Sejak kapan anda memperjual belikan tanah tersebut?
8. Bagaimana terjadinya jual beli tanah tersebut?
9. Kendala apa saja yang ada pada saat anda memperjual beli kan tanah tersebut?
10. keuntungan apa saja yang anda dapatkan dari penjualan tanah BKSDA tersebut?
Lampiran 3-Hasil Wawancara.
I. Wawancara dengan Kepala Resot BKSDA .
HASIL WAWANCARA KEPALA RESOT BKSDA SINTANG Hari/Tanggal : Kamis, 10 February 2022
Tempat : Kantor BKSDA
Informan : Rasto BUGTORO
Jabatan : Kepala Resot BKSDA Sintang Jenis Kelamin : Laki-laki
NO Pertanyaan Jawaban
1. Apakah lahan tanah diarea bukit kelam dekat bukit termasuk dalam lahan tanah BKSDA ?
Ya, itu sudah termasuk karena twa bukit kelam ini meliputi kebong, samak, kelam sejahtera, merpak dan ajak.
2. Berapakah luas tanah BKSDA yang berada di area bukit kelam ?
Jumlah Luas Tanah BKSDA sebesar 1,121 Hektar. Namun yang digunakan untuk area bukit kelam hanya 5.20 Hektar.
3. Pada tahun berapa BKSDA ini melakuakan pembentukan lahan tanah BKSDA di area Bukit Kelam ?
Pada tahun 1990 itu adalah pertama kali penunjuk gabungan yang dikatakan penunjuk pertama dari pemerintah untuk penetapan bahwasannya ada wilayah BKSDA yang ada di bukit kelam. Lahan tanah itu seluas 5,20 hektar
4. Setelah dibentuk tentunya akan dilakukan pemasangan tiang disetiap tempat, pada tahun berapakah itu dilakukan ?
Pada tahun 1993 mulailah BKSDA ini masuk ke wilayah bukit kelam untuk pemasangan patok-patok pertama.
5. Lalu Sejak tahun berapa lahan tanah BKSDA yang ditetapkan oleh pemerintah di area bukit kelam ?
Pada tahun 1999 terjadilah penetapan atas patok-patok yang telah dipasang tersebut yang dikelurakan SK dari Pemerintah.
6. Menurut bapak/ibu selaku angota BKSDA, bagaimana tangapan anda tentang Praktek Jual Beli Tanah Di Kawasan Milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (Bksda) Tanpa Surat Kepemilikan ?
Dulu kasus tersebut memang pernah kami mendengarkan nya sampai saat ini, namun hal tersebut tidak akan mungkin di sahkan melalui notaris dikarenakan mereka tidak bisa menerbitkan atau meminta sertifikat tanah asli nya. Dikarenakan lahan tanah tersebut adalah milik BKSDA.
Lahan tersebut memang kami izin kan kepada masyarakat untuk mempergunakan seperti bercocok tanam, berkebun dan bertani.
II. Wawancara Kepada Masyarakat Desa Samak Bukit Kelam.
NARASUMBER 1
1. Hasil Wawancara bersama Bapak Tio Pilus Derasah selaku menjual tanah.
No PERTANYAAN JAWABAN
1. Apakah anda mempunyai “’aok, kami isek tanah di bukit kelam
tanah di area bukit kelam ? taun 2013, melanyutkan empu keluargo aku, yang di empu kakek keriyo akek buyut kami taun 1920 yang luas yok 1 itar dan kami terus hampai kini taok aku sampai kini taok karno aku ucauk yang ngulah tanah yok, kami tau ngau tanah yok ulih kesepekat dari kepalok adat tanah yok kami tanam karit, derin dan kelutuk”
( ia, kami memiliki tanah di area bukit kelam, sejak tahun 2010 melanjutkan milik keluarga saya yang telah dimiliki Kriyo kakek buyut kami pada tahun 1920 yang luas nya 1 hektar dan diteruskan sampai saat ini kepada saya sendiri selaku cucuknya yang mengelola tanah tersebut serta tanah tersebut dapat kami miliki atas dasar pengakuan dari kepala adat.
Tanah tersebut saya tanami dengan karet, durian, jengkol dan rambutan.
2. Apakah anda sudah “aku tekejut karno ulih di pedah dari
mengetahui bahwa tanah yang anda miliki sebenarnya kawasan milik BKSDA?
BKSDA karno tanah yang kami empu di pulah tanah konservasi dari yoklah aku kerau tanah kami ne satu itar yok masuk kawasan, dekok dari titik kordinat tene di empu BKSDA, yang di pedah waktu rapat di desa samak “
(saya terkejut karna mendapatkan informasi dari pihak BKSDA atas tanah yang saya miliki ini diakui oleh pihak Balai konservasi. Dari situlah saya mengetahui bahwasannya tanah saya yang 1 hektar tersebut adalah milik Kawasan konservasi, berdasarkan titik koordinat yang dimilik oleh pihak BKSDA yang disampaikan pada saat acara rapat yang diselengarakan di desa Samak.
3. Bagaimana tanggapan anda mengenai tanah yang ada di bukit kelam masuk dalam kawasan BKSDA?
“aku jaho benar-benar ento setuju dengan tanah 1 itar yok tene masuk kawasan konservasi, dan kami hajo sepakat apaipun yang di pulah dari BKSDA dengan tanah kami, kami akan
terus ngalang hidok, dan kami ugok ento setuju danda tangan persetujuan tanah tersebut akan masuk dalam kawasan BKSDA.“
Saya benar-benar tidak setuju tanah yang 1 hektar milik saya masuk dalam kawasan konservasi , dan kami sepakat apapun yang diselengarakan oleh pihak bksda kepada tanah kami . kami akan berupaya untuk menghalangi serta kami tidak akan menandatanggani persetujuan tanah tersebut masuk dalam kawasan BKSDA
4. Apakah anda memiliki bukti kepemilikan atas tanah yang ada di daerah bukit kelam?
“ atek untuk bukti surat skt dengan sertifikat aku hajo ento isek, aku kalo ngurus surat taok ke bpn, tapi hidok medah nado tau di pulah sertifikat, upayo aku ngau ngenok ke tanah yok, isek pengakauk dari kepalok adat sebagai saksi ngau tanah yok, udah di empu kakek kriyo pado taun 1920 jauh seempan BKSDA isek di pada taun 1993, sebenarnyok BKSDA yang ngamek tanah
kami ”
( Untuk bukti surat skt atau sertifikat saya memang tidak memiliki, bahkan saya pernah mengurusi tanah tersebut kepada pihak BPN, namun pihak BPN mengatakan tidak bisa menjadi hak milik, upaya saya untuk membukytikan bahwa tanah itu milik saya adanya Pengakuan dari kepala adat sebagai saksi mengenai tanah tersebut yang merupakan sudah kami kelola dari kakek kriyo pada tahun 1920 jauh sebelum BKSDA hadir pada tahun 1993. Dari dasar itu pihak BKSDA sebenarnya telah menggambil tanah kami tanpa sepengetahuan kami.) 5. Apakah anda pernah
menjual belikan tanah di area bukit kelam yang merupakan wilayah BKSDA?
“kalok, kami nyual tanah yok sebesai 20x 30 miter persegi rego yok 20 juta yok terjadi pado taun 2015”
( Pernah, saya mejual tanah tersbut seleuas 20x30 meter persegi seharga 20 juta rupiah pada tahun 2015.)
6. Mengapa anda mau memperjual beli kan tanah
“awal yok kami isek tanah satu itar, namun isek yang enak ngegok tanah di
BKSDA tersebut ? area bukit kelam dari yok aku isek kepikir enak ngau jual tanah yok, dengan ukuran 20x 30 dengan rego 20 juta rupiah, di karno saat yok ugok, suah pedih, dengan ekonomi aku kurang baik, jadi isek niat ngau nyual tanah yok untuk memenuhi kebutuan”
( Karena awalnya saya memiliki tanah 1 hektar, namun ada orang yang mau mencari tanah di area bukit kelam jadi saya berkeingginan menjual tanah seluas 20x30 senilai 20 juta rupiah, dikarenakan pada saat itu saya juga sering sakit- sakitan dan perekonomian saya juga sulit . Jadi saya berniat menjual tanah tersebut untuk memenuhi kebutuhan saya dan keluarga.
7. Sejak kapan anda memperjual belikan tanah tersebut?
“aku nyual tanah yok taun 2015, lalu aku nyampaikan dengan orang akhir tanh yok terjual dengan bapak untal yang berumur 30 tahun, pado saat yok, kami langsung datang kelokasi tanh tersebut ukuran 20 x 30 dengan rego 20 juta“
( saya menjual tanah tersebut pada tahun 2015, lalu saya menyampaikan kepada perorangan akhirnya tanah tersebut terjual kepada bapak untal yang berumur 30 tahun. Pada saat itu kami langusung datang kelokasi tanah tersebut dengan ukuran 20x30 dengan seharga 20 juta.
8. Bagaimana terjadinya jual “kami saling sepakat hajo jual tanah beli tanah tersebut? tauk ento dengan surat menyurat saling
suka, teleh sepakat kami langsung ke tanah yang enak di jual diok kami melakukan pengukuran tanah seluas 20 x 30. Setelah kami melakukan [engukuran pada saat itu kami langsung pulang lalu di rumah saya terjadinya pembayaranoleh bapak untal yok pun jual bei hanya di lakukan kami beo hanya di selembar kertas gelik”
( Kami saling sepakat bahwa jual beli tanah tersebut tanpa surat-menyurat, atau saling suka. Setelah kami sepakat kami kelokasi tanah yang akan kami jual, serta melakukan pengukuran berdasarkan
patok tanah ukuran seluas 20x30.
Setelah kami melakukan pengukuran maka kami langung ke rumah saya untuk melakukan Pembayaran atas tanah yang akan dibelinya oleh bapak untal. Proses pembayaran itu hanya dilakukan pada pejual dan pembeli yang hanya berdasarkan pada kertas putih yang di tanda tanggani oleh saya dan bapak untal.
9. Kendala apa saja yang ada pada saat anda memperjual beli kan tanah tersebut?
“ kendala yok hajo ento isek surat menyurat berupo sertifikat atau skt ats tanah yok, jading hanya kertas putih yang di tulis biaso lalu kami duo hamo- hamo tanda tangan dy di pulah sesuai kesepakatan“
( Kendala yang terjadi pada saat itu adalah tidak adanya surat menyurat berupa sertifikat tanah dan SKT tanah atas kepemilikan tanah tersebut. Jadi hanya berdasarkan pada kertas putih yang di tanda tanggani oleh saya dan
bapak untal yang dibuat sesuai dengan kesepakatan.)
10. keuntungan apa saja yang anda dapatkan dari penjualan tanah BKSDA tersebut?
“kami ulih untung isek penamah biaya untuk nambah ekonomi di rumah, dengan kami ento perlu lepo gau ngurus tanah yok agek ”
( Kami mendapatkan keuntungan adanya penambahan biaya untuk meningkatkan ekonomi di rumah kami.
NARASUMBER 2
2. Hasil Wawancara bersama Bapak Pitrus Ab selaku Penjual tanah.
No PERTANYAAN JAWABAN
1. Apakah anda mempunyai tanah di area bukit kelam ?
“aok, kami isek tanah di bukit kelam tahun 2001, aku merawat tanah taok yang waktu yok di empu kakek kami yang benamo aris sekitar tahun 1924, yang luas 100 x 140 miter persegi, awla yok di gunakan kakek betanam banyak yang udah tumuh kaba jering,derian dan kelengkeng
yang usia pony ok udah sekitar 100 taun”
( ia saya memiliki tanah di bukti kelam sejak tahun 2001, saya juga merawat tanah ini yang sebelumnya di miliki oleh kakek saya yang bernama aris sekitar pada tahun 1924, yang seluas tanahnya 100 x 140 meter persegi, yang awalnya di pergunakan kakek saya untuk bercocok tanam, hasil dari tanaman beliau yang masih ada sampai sekarang seperti jengkol,durian dan kelengkeng hutan yang usianya sudah seratus tahunan.
2. Apakah anda sudah mengetahui bahwa tanah yang anda miliki sebenarnya kawasan milik BKSDA?
“aku nado ketau samil tekejut bahkan aku nulak pado saat bksda mengunang kami selaku yang memiliki tanah di area bukit kelam, yok akan di jadikan kawasan konservasi, atek yok jadi
maka tanah kmainyang kami rawat pelamat taok menjadi empu bksda”
( saya tidak mengetahui dan saya terkejut bahkan saya menolaknya pada saat BKSDA mengundang kami selaku yang memiliki tanah di area bukit kelam, yang akan di jadikan kawasan konservasi, apabila hal itu terjadi maka tanah yang kami rawat dan kami jaga selama ini akan menjadi milik BKSDA.
3. Bagaimana tanggapan anda mengenai tanah yang ada di bukit kelam masuk dalam kawasan BKSDA?
“aku hajo ento setuju, karno kakek aku yang empu sebelum yok pada taun 1924 kakek kami udah bumo dan nanam di tempat yok, bukti hajo dari tanaman diok yang usia tanaman yok ampir 100 taun, kakek udah ngulah tanah yok seempan bksda isek di taok tibo kini taok bksda medah atek tanah
yok empu hidok, kerno taok kami berubaya bksda kami hentikan padon saat hidok ngurus tanah kami bahkan kami akan menghalang kegiatan hidok “ ( saya tidak setuju, karena kakek saya yang memiliki sebelumnya pada tahun 1924 kakek saya sudah berladang, sudah bercocok tanam di sana, buktinya dari tanaman yang beliau tanam yang sudah berusia hampir mencapai 100 tahun, kakek saya mengolah tanah tersebut jauh sebelum BKSDA datang ke tempat kami, tiba sekarang pihak BKSDA mengatakan bahwa tanah itu miliki mereka, kami akan berupaya menghentikan BKSDA mengurusi tanah kami bahkan menghalangi kegiatan mereka.
4. Apakah anda memiliki bukti kepemilikan atas tanah yang ada di
“saya isek bukti dari pengakauk dari kepalok adat bahwa atek
daerah bukit kelam? benar tanah yok empu kakek kami yang melaeok, dah yok bukti berikut dari tumbuhan yang idup di sekitar yok, atek keba bukti surat menyurat yang sah memang kami ento isek, kami kiro ento isek yang berani ngamek tanah pangan”
(Saya memiliki bukti dari pengakuan kepala adat bahwa di tanah tersebut memang benar milik kakek saya terdahulu, bahkan bukti berikutnya dari tanaman beliau yang sudah ratusan tahun tadi, karena itu bukti di tanah tumbuhnya contoh bukti tanaman yang di tanami kakek kami adalah ada 2 poko durian yang sanggat besar hingga saat ini masih selalu kami panen buah nya dan kelengkeng hutan serta jengkol. tapi apabila bukti surat menyurat yang sah secara hukum
kami tidak ada karena kami tau tidak akan ada yang bisa ambil tanah itu dari kami.
5. Apakah anda pernah menjual belikan tanah di area bukit kelam yang merupakan wilayah BKSDA?
“aok, aku kalok nyual tanah yok pado taun 2009, pado saat yok aku nyual tanah ukuran 50x 40 mitir persegi, hajo ampir setengah dari tanah aku”
( ia saya pernah menjual tanah tersebut pada tahun 2009, pada saat itu saya menjual tanah dengan ukuran 50 x 40 meter persegi, hampir setengah dari tanah yang kami miliki.
6. Mengapa anda mau memperjual beli kan tanah BKSDA tersebut ?
“karno aku empu tanah yok, aku pun ento kalok ngakuk atek tanah yok empu bksda, jadi aku aso kami lah yang empu tanah yok penuh, yok pun anak kami yang pertamo isek pedih yang memang arus secepat di operasi saat yok lah isek niat ngau nyual tanah kami dengan rego 20 juta krno
butuh biaya”
( karena saya memiliki tanah tersebut dan kami tidak pernah mengakui bahwa tanah milik BKSDA, jadi kami memiliki hak dengan tanah tersebut, pada saat itu anak saya yang pertama memiliki sakit yang harus segera di operasi, jadi saya menjual tanah tersebut dengan senilai 20 juta saja, karena saya butuh uang cepat.
7. Sejak kapan anda memperjual belikan tanah tersebut?
“ pado taun 2009, pado taun yok anak aku isek pedih di usu yang ngasok arus cepat di operasi, jadi ento isek pemikir aku langsung jual tanah yok dengan ukuran 50 x40 mitir pesegi“
( pada tahun 2009, pada tahun itu anak saya mengalami sakit di
bagian usus, yang
mengharuskanya untuk
melakukan operasi secepatnya, jadi padaa saat itu saya berkeinginan untuk menjual tanah tersebut dengan ukuran 50x40 meter persegi.
8. Bagaimana terjadinya jual beli “tejadi jual beli aku menawarkan tanah tersebut? kepado teman aku yang bernamo widodo pado sat yok iyo agek ngegok tanah yok di bukit bgau yo namam kelengkeng, kelegkekng memang paling tau di tanam di bukit, sampai sat yok aku bedapat dengan widodo dan aku hajo langsung nawar dengan yo, yo pun langsung setuju akhir kami datang ke lokasi tanah yok yng enak aku jual, berapo ari kemudian merek duit sebesai 20 juta dan sampai kini taok 50 x40 di sepiak tanah aku kini taok jadi empu widodo”
(terjadinya jual beli saya menawarkan kepada teman saya
yang bernama widodo yang kebetulan beliau mencari tanah unntuk beliau tanami kelengkeng, sedangkan kelengkeng paling tepat di tanam hanya di daerah pengunungan, sehingga pada saat bertemu dengan widodo dan saya menjelaskan ingin menjual tanah saya beliau langsung setuju, akhirnya kami datang ke lokasi tanah yang mau saya jual, pada saat itu widodo sepakat ingin membeli tanah saya, beberapa hari
kemudian pak widodo
memberikan uang kepada saya 20 juta, dan sampai sekrang tanah 50x 40 di sebelah tanah saya menjadi milik widodo.
9. Kendala apa saja yang ada pada saat anda memperjual beli kan tanah tersebut?
“ kepedih yok dalam nyual tanah di bukit kelam masalah sertifikat banyak urang engai tanah yok karno ento ise empu dan gelak sengketa dengan pangan, krno
hajo ento isek kejelasan dari tanh yok“
(kesulitan dalam menjual tanah di area bukit kelam yakni masalah sertifikat, banyak orang yang saya tawarkan menolak apabila tanah yang saya jual tidak memiliki kepemilikan yang sah hawatirnya takut sengketa dengan orang lain, karena tidak ada kejelasan mengenai tanah tersebut)
10. keuntungan apa saja yang anda dapatkan dari penjualan tanah BKSDA tersebut?
”keuntungan aku nyual tanah yok, aku aku isek ulih biaya ngau pengobati anak aku nepedih bhkan sampai operasi ngauduit yok bahkan sampai kini taok anak aku udh semuh hajo bersyukur”
Keuntungan saya menjual tanah tersebut, saya dapat biaya untuk mengobati anak saya yang sakit bahkan sampai operasi menggunakan uang hasil
penjualan tersebut, sekrang anak saya sudah pulih kembali bahkan saya sangat bersyukur pada saat itu ada orang yang ingin
membelinya.
NARASUMBER 3
2. Hasil Wawancara bersama Bapak Siandi selaku Penjual tanah.
No PERTANYAAN JAWABAN
1. Apakah anda mempunyai tanah di area bukit kelam ?
“aok, aku empu tanah di area bukit kelam pada taun 2000, yang luas setengah itar lebih, tanah yok arah bawah bukit kelam, aku pun hanya nerus tanah yok yang empu kakek kami yang bbenamo berdai sekitar taun 1963.tanah yok ngau kakek kami betanam kaba derian,kelutuk jering kelengkek dan langsat”
( ia, saya memiliki tanah di area