• Tidak ada hasil yang ditemukan

BALI, PULAU PENUH KENANGAN Karya: Elaine

Jika berbicara tentang kenangan yang paling menarik saya, itu pasti pengalaman perjalananku di Pulau Bali. Karena kami memiliki banyak liburan semester ini. Pulau Bali adalah salah satu pulau wisata paling terkenal di Indonesia. Pulau ini pun belum pernah kami kunjungi sebelumnya. Jadi, setelah berdiskusi, saya dan temanku memutuskan untuk pergi ke Pulau Bali selama liburan ini.

Kami terbang pukul 12 pagi. Setelah menempuh dua jam penerbangan, kami tiba di Bali dengan sangat cepat. Kami merasakan antusiasme kami di Bali ketika kami turun dari pesawat. Meskipun berada di negara yang sama dengan Jakarta, suhu di Bali jauh lebih tinggi. Matahari yang terik pun menyambut kami di sana. Hal pertama yang harus kami lakukan setelah tiba di Bali adalah pergi ke hotel yang sudah kami pesan.

49

Kami memesan sebuah vila dengan dua kamar dan kolam renang. Rumah ini bergaya bambu dan dibalut dengan keindahan eksotis di setiap sudutnya. Vila ini adalah rumah bambu dengan dua lantai yang telah dirancang dengan cermat. Lantai pertama adalah area terbuka tanpa pintu dan jendela. Kamar tidur di lantai dua bisa ditutup, sehingga tidak perlu khawatir saat tidur. Tempat favorit saya adalah tempat tidur gantung putih di luar jendela kamar tidur. Ketika bangun di pagi hari, saya bisa melihat teras yang dipenuhi kabut. Kamar mandinya terbuka, tetapi tetap bersih dan nyaman. Ada dua kolam renang di seluruh area vila. Salah satunya adalah kolam renang di sebelah restoran dan yang lainnya terletak di luar ruangan. Ketika duduk di kolam renang, kami bisa menikmati pemandangan hutan yang sangat memanjakan mata. Saat melihat hutan, teman saya berkata kepada saya, "Sangat senang menjadi orang primitif." Saya sangat setuju dengan sudut pandangnya. Meskipun kami dengan

50

cepat menemukan kekurangan menjadi orang primitif, karena hutannya sangat lembab dan ruangan yang dipenuhi dengan uap air. Di malam hari, berbagai binatang kecil akan datang menghampiri kami melalui ambang jendela kami. Meski ada kekurangan, saya tetap sangat menyukainya, karena vila ini membuat saya merasa sangat dekat dengan alam. Ini adalah vila favorit saya di Bali. Itu adalah harta karun yang perlu dikunjungi, walaupun jaraknya yang relative jauh bagi wisatawan. Vila ini penuh dengan lampu gantung yang fantastis dan deretan lampu kecil. Ketika cahaya redup, rasanya seperti berada di negeri dongeng.

Setelah check-in di vila, kami tidak sabar untuk datang ke pantai dekat hotel. Pantai Ini adalah area yang tenang di Bali, karena minimnya keriuhan di area hotel kelas atas, hanya suara ombak yang keras. Kolam renang pribadi alami adalah pilihan terbaik bagi kami untuk menghilangkan penat

51

setelah perjalanan yang melelahkan. Segala permasalahan kami tenggelam dalam air ketika suara ombak dari kejauhan tiba-tiba datang menghampiri kami. Kedengarannya seperti lagu pengantar tidur yang indah sambil menikmati terbenamnya matahari. Kami berpikir bahwa ini adalah awal dari kebahagiaan kami dalam perjalanan ini.

Selain menikmati pemandangan alam yang indah, kami tidak lupa untuk mengalami adat istiadat lokal Bali. Pasar seni Ubud adalah pilihan pertama kami. Ini adalah pasar seni tertua di Bali. Jadi, keesokan paginya kami tiba di Bali, kami memutuskan untuk pergi ke sana. Karena berhadapan dengan Candi Ubud, kami langsung pergi ke pasar setelah mengunjungi Candi Ubud di pagi hari. Lokasinya sangat cocok untuk wisatawan. Pasar tradisional Ubud meliputi berbagai kios. Penjualnya menawarkan barang-barang perak, batik, ukiran kayu, barang-barang kulit dan cendera mata

52

tradisional Ubud. Tas kecil dari rotan dan penangkap mimpi putih murni menarik banyak wanita muda dan anak-anak. Barang-barang disusun dengan sangat artistik. Teman-teman dan saya menghabiskan pagi yang santai di sini dan membeli beberapa suvenir. Kami berharap hadiah kecil ini dapat dibawa kembali ke Tiongkok karena kami ingin memberikannya kepada keluarga dan teman-teman kami. Hadiah-hadiah ini tidak hanya mewakili pemandangan alam Bali yang indah, tetapi juga kenangan terbaik kami di Indonesia.

Pulau Penida benar-benar tempat yang paling direkomendasikan di Bali. Pulau yang tidak berpenghuni ini bukanlah pulau yang paling banyak dieksplorasi, melainkan pulau yang paling indah di Bali. Hanya dibutuhkan 30 menit dengan kapal cepat dari Bali ke pulau ini dan transportasi nya sangat nyaman. Kapal pertama berangkat pada pukul 7.30 dan kapal terakhir berangkat pada pukul 16.30. Jadi, kami memilih untuk bepergian ke pulau itu

53

pada hari ketiga perjalanan. Di pulau ini, hanya ada beberapa wisatawan Eropa dan Amerika dan kami hampir tidak dapat menemukan orang Asia. Ketika kami tiba di pulau ini, kami menemukan bahwa pulau itu tidak memiliki rute perjalanan komersial, dan bahkan tidak ada hotel. Hanya pemandangan alam yang murni dan pulau yang sederhana. Ada tebing dengan pagar pembatas di pulau itu dan pantai berbatu yang dikelilingi oleh desiran ombak. Ada juga tempat snorkeling di mana saya bisa berenang dengan ikan iblis. Pengalaman menakjubkan di Pulau Penida benar-benar sulit untuk dideskripsikan. Saya suka warna air laut Penida yang menyerupai batu safir. Selain itu, pemilik toko persewaan mobil juga baik, karena hari keempat kami mengambil foto terlalu lama, dan hampir ketinggalan kapal yang terakhir di Penida. Beliau terlihat sangat cemas. Bahkan , dia berinisiatif untuk bertanya pada penduduk setempat yang bisa segera membawa kami ke dermaga

54

dengan mengendarai sepeda motor. Ketika kami meninggalkan pulau dengan kapal cepat, dia berjabatan tangan dengan kami dan mengucapkan salam perpisahan dengan senyum hangat.

Rencana kami untuk hari terakhir di Bali adalah menikmati santapan yang lezat terakhir di tepi pantai. Kami memilih bar yang disebut Rock Bar dan berangkat ke bar tersebut sekitar pukul 4 sore. Jadi, kami mendapat kursi yang sangat bagus. Pelayan mengatur tempat duduk kami tepat di tepi pantai. Pada pukul tiga atau empat sore, matahari terlihat sangat besar dan kami merasa sedikit kepanasan. Jadi, pelayan menyediakan payung di setiap meja. Kami memesan steak, sup, dan nasi goreng untuk makan malam kami. Steak diasinkan untuk waktu yang lama sebelum dipanggang. Setelah dipanggang, steak itu dipotong-potong. Aroma saus barbeku sangatlah menggoda kami. Teman-teman dan saya sangat menyukainya. Di antara semua jenis saus, selai kacang mengejutkan

55

saya. Rasanya sangat istimewa. Kami juga memesan sup buntut. Pelayan mengatakan bahwa hidangan ini adalah kebanggaan orang Indonesia. Rasa sup ini sangat berbeda dari yang kami miliki di Tiongkok, tetapi kami masih menyukai rasa segar sup yang terbuat dari berbagai rempah. Kombinasi rempah-rempahnya sangat seimbang. Nasi goreng telur dan ayam goring adalah hidangan favorit saya. Teman saya memakan nasi goreng kambing yang direkomendasikan oleh staf restoran. Santapan itu sangat lezat. Pemilik restoran mengatakan bahwa nasi goreng daging kambing itu disediakan musiman, jadi mungkin tidak ada saat kami datang lagi. Penyesalan tiba-tiba muncul pada diri kami ketika kami mendengar ini.

Setelah makan malam, untuk menghabiskan malam yang terakhir di Bali, kami memesan dua koktail dan banyak bir. Bir di Bali enak sekali. Bir di sana disajkian dalam dua rasa yaitu lemon dan jeruk. Semuanya enak. Duduk di pantai, kami

56

mendengar suara ombak menghantam bebatuan, dan matahari terbenam pun muncul. Sinar matahari keemasan, langit merah muda, samudra biru tua dan pasir putih. Semuanya seperti tidak nyata. Kami mengambil beberapa foto dengan tergesa- gesa, tetapi foto- foto ini tidak dapat menggambarkan keindahan matahari terbenam. Matahari saat itu adalah memang matahari terbenam yang paling indah yang pernah saya lihat, dan situasi Indonesia yang paling indah yang pernah saya lihat.

57

DUA KOTA YANG TAK TERLUPAKAN