• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL

A. Landasan Teoritis

9. Bangunan Bernuansa Melayu yang Menjadi

wisatawan dari berbagai daerah, tempat maupun mancanegara antara lain :

a. Istana Maimun

Istana Maimun merupakan salah satu istana yang paling indah dan masih ada di Indonesia. Arsitektur yang unik dan desain interior istana yang unik, memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia ini memberikan karakter yang khas. Istana Maimun ini

dibangun oleh Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah. Istana Maimun dibangun dengan desain dari seorang arsitek Italia pada tahun 1888. Sebagai warisan Kesultanan Melayu-Deli, Istana Maimun didominasi dengan warna kuning, khas Melayu.

Istana Maimun dibangun di atas tanah seluas 2.772 m2 dan menjadi pusat kerajaan Deli, sekarang jalan Brigjen Katamso, Medan. Istana Maimun terdiri dari dua lantai yang dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bangunan utama, sayap kiri, dan sayap kanan. Di ruang tamu (balairung) Anda akan menghadapi tahta yang didominasi oleh warna kuning.

(http://www.indonesia.travel/id/destination/676/istana-maimun/review, diakses 1 maret 2013, pukul 13:55 WIB).

Menarik jika kita mengamati desain arsitektur Istana Maimoon. Perpaduan antara tradisi Islam dan kebudayaan Eropa berani dilaksanakan. Selain balairung itu, dasar bangunan juga menunjukkan pengaruh Eropa. Beberapa bahan bangunan yang di impor dari Eropa, seperti ubin lantai, marmer, dan teraso.

Pola arsitektur Belanda dengan pintu dan jendela lebar dan tinggi, serta pintu bergaya Spanyol menjadi bagian dari Istana Maimun. Pengaruh gaya Belanda juga terlihat pada prasasti marmer di depan tangga marmer yang ditulis dengan huruf Latin dalam bahasa Belanda. Pengaruh Islam terlihat dalam bentuk kurva atau arcade di beberapa bagian atap istana. Kurva yang berbentuk kapal terbalik yang dikenal dengan Persia Curve sering dijumpai pada bangunan di kawasan Timur Tengah, Turki, dan India.

Gambar 2. 38. Istana Maimon Medan (Foto, Ayu Kartini, 16 September 2012, 18:29 wib)

b. Mesjid Al- Osmani (Al-Osman)

Menurut Yulianto Sumalyo (2006 : 489), di Labuhan Deli sebuah kota kecil diantara Medan dan Belawan, tidak lebih dari 20 Km di Utara Medan, ada Mesjid kuno yaitu Mesjid Al Osmani. Mesjid ini adalah monumen kerajaan Melayu Deli, nama pendirinya Sultan Osman (1854-1858) diabadikan untuk nama mesjid.

Mulanya Sultan memerintahkan membangun mesjid dari kayu, setelah meninggal beliau dimakamkan di halaman mesjid. Waktu itu ibu kota Kesultanan Deli berada di Labuhan Deli, istana (sekarang sudah tidak ada bekasnya) berada di seberang mesjid dan kemudian untuk makam tersebut. Pada tahun 1854, Deli jatuh ke tangan Aceh dan Sultan dijadikan Wakil Sultan Aceh.

Pada 1870, Sultan Mahmud putera Sultan Osmani merombak mesjid dari konstruksi kayu menjadi konstruksi batu bata. Mesjid hasil renovasi berarsitektur dalam kategori ke dua, dimana pengaruh dari luar lebih dominan, bahkan unsur setempat dapat dikatakan tidak ada. Dalam hal ini pengaruh arsitektur dari luar

seperti Arab, Persia dan Mesir sangat besar dibandingkan dengan aspek lokalnya yang hampir tidak ada.

Gambar 2. 39. Mesjid Raya Al-Osmani(Al-Osman) (Foto, Ayu Kartini, 16 September 2012, 18:29 wib)

c. Cindai (Arsitektur Rumah Melayu)

Menurut Julaihi Wahid dan Bhakti Alamsyah (2013 : 18), arsitektur Melayu merupakan bangunan yang dirancang berbentuk rumah tempat kediaman atau rumah tinggal. Rumah merupakan hasil cara hidup masyarakat Melayu yang berpegang pada nilai keluarga, adat, agama dan masyarakat banyak. Karena itu konsep bangunan Melayu harus dirujukkan kepada rancang bangun yang diamalkan oleh masyarakat penggunanya.

Secara umum rumah Melayu menggambarkan seni pertukangan kayu yang handal dalam olah lantai, panggung, tiang dan tangga. Rupa, bentuk ,besaran dan kekayaan penghuni dilambangkan dalam tatanan rumah yang didirikan. Bangunan rumah adat Melayu juga didirikan dengan menggunakan berbagai jenis kayu

Begitu juga dengan Cindai, yang merupakan salah satu rumah berarsitektur adat Melayu. Karna terdiri dari ruang induk yang terdiri atas ruang anjungan, serambi. Ruang tengah terbagi oleh ruang peralihan yang berupa selasar. Selain itu Cindai juga menerapkan beberapa ornamen Melayu pada setiap sisi-sisi bangunan.

d. Mesjid Raya Al Mashun (Mesjid Agung Medan)

Mesjid Raya Medan atau Mesjid Raya Al Mashun merupakan sebuah mesjid yang megah dan indah terletak di Medan, Sumatera Utara. Mesjid ini dibangun pada 21 Agustus 1906 dan selesai pada 10 September 1909. Pada awal pendiriannya, mesjid ini menyatu dengan kompleks istana. Gaya arsitekturnya khas Timur Tengah, India dan Spanyol. Mesjid ini berbentuk segi delapan dan memiliki sayap di bagian selatan, timur, utara dan barat.

Sultan Ma’mum Al Rasyid Perkasa Alam sebagai pemimpin Kesultanan Deli memulai pembangunan Mesjid Raya Al Mashun pada tanggal 21 Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H). Keseluruhan pembangunan rampung pada tanggal 10 September 1909 (25 Sya‘ban 1329 H), sekaligus digunakan ditandai dengan pelaksanaan sholat Jum’at pertama di masjid ini.

Pada awalnya Mesjid Raya Al Mashun di rancang oleh Arsitek Belanda Van Erp yang juga merancang Istana Maimun, namun kemudian proses-nya dikerjakan oleh JA Tingdeman. JA Tingdeman, sang arsitek merancang masjid ini dengan denah simetris segi delapan dalam corak bangunan campuran Maroko, Eropa dan Melayu dan Timur Tengah.

Mesjid terletak dalam halaman luas terbuka sekitar satu hektar, terdiri dari: bangunan utama untuk ruang sembahyang utama, gerbang dan tempat wudu. Unit utama berdenah segi delapan tidak sama sisi, pada sisi-sisi saling berhadapan lebih kecil, terdapat porch, yaitu unit menempel menjorok keluar untuk masuk termasuk didepannya ada tangga (kecuali pada dinding kiblat, untuk mihrab).

Pada porch depan atau timur, pada ujung tangga sebelum masuk terdapat pelengkung majemuk, mirip dengan mesjid-mesjid di Andalusia termasuk mesjid Kordoba.

Gambar 2. 40. Mesjid Raya Al-Mashun (Foto, Ayu Kartini, 16 September 2012, 18:29 wib)

Selain Istana Maimun dan Mesjid Raya yang ada di pusat Kota, masih banyak lagi bangunan Melayu yang menarik diantaranya adalah Rumah Cindai di Perumahan Komplek Cemara Asri, Bandar Udara Polonia di Medan, Mesjid Raya AL- Osmani di Belawan, Pasar Buku di Lapangan Merdeka, Kantor Pos Indonesia

di Medan, Graha Bunda Maria Annai Velangkanni di Tanjung Selamat Tuntungan, Mesjid Al- Abrar di Titi Papan, dan Perusahaan Daerah Pasar di Titi Papan.

Dokumen terkait