• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL

A. Landasan Teoritis

5. Unsur-unsur Desain Ornamen

5. Unsur-Unsur Desain Ornamen

Ornamen atau ragam hias memiliki unsur-unsur rupa yang menjadi dasar dalam pembuatannya. Sebuah desain ragam hias terdiri dari kumpulan elemen-elemen rupa yang membentuk suatu kesatuan, dan kemudian disebut dengan unsur-unsur desain. Unsur-unsur desain ornamen meliputi:

a. Garis

Menurut Francis D. K. Ching (2000 : 15), garis adalah sebuah titik yang diperpanjang akan menjadi sebuah garis. Selain itu Francis juga menyebutkan bahwa garis memiliki panjang, arah dan posisi.

Garis adalah hasil goresan benda keras ataupun tinta/cat pada permukaan benda yang memanjang bentuknya. Garis juga merupakan kumpulan titik-titik yang berhubungan satu sama lain secara memanjang. Dalam aplikasinya garis dapat berbentuk; garis lurus dan garis lengkung, yang dapat dirinci lagi menjadi garis patah-patah, garis bergelombang, garis putus-putus, garis zig zag, garis tebal dan garis tipis.

Penggunaan garis dalam sebuah desain ragam hias harus tetap memperhatikan prinsip desain, sehingga memunculkan motif ragam hias yang indah. (Nawawi. 2005, “Analisis Penerapan Estetika” Jurnal Seni Rupa FBS UNIMED Vol. 2 No. 2 Desember. Hal 155-156).

b. Bidang

Menurut Francis D. K. Ching (2000 : 15), bidang merupakan sebuah garis yang diperluas akan menjadi senuah bidang. Selain itu, Francis D.K. Ching juga menambahkan bahwa sebuah bidang akan memiliki panjang dan lebar, wujud, permukaan, orientasi dan posisi. Dan sebuah Bidang yang dikembangkan akan menjadi sebuah ruang.

Sebuah garis yang bertemu ujung pangkalnya akan membentuk sebuah bidang. Demikian juga beberapa garis yang saling berpotongan satu sama lain akan membentuk beberapa bidang. Seperti halnya garis, bidang atau unsur bidang

juga mempunyai sifat atau watak yang berbeda-beda. Bidang rata yang lebar akan menimbulkan kesan lapang, bidang datar mengesankan lantai dan bidang tegak mengesankan dinding.

Bidang bergelombang secara mendatar mengesankan berkesan ‘labil’, dan bidang bergelombang tegak menimbulkan kesan menyempit. Pemanfaatan unsur bidang secara bervariasi dan proporsional dapat menimbulkan suasana menarik dan indah. (Nawawi. 2005, “Analisis Penerapan Estetika” Jurnal Seni Rupa FBS UNIMED Vol. 2 No. 2 Desember. Hal 155-156).

c. Bentuk

Menurut Francis D. K. Ching (2000 : 14) dalam bukunya Arsitekur bentuk ruang dan tatanan, mengatakan bahwa bentuk merupakan sebuah istilah inklusif yang memiliki beberapa pengertian. Bentuk dapat dihubungkan pada penampilan luar yang dapat dikenali seperti sebuah kursi atau tubuh seseorang yang mendudukinya. Dalam seni dan perancangan, seringkali dipergunakan istilah ini untuk menggambarkan struktur formal sebuah pekerjaan-cara dalam menyusun dan mengkoordinasi unsur-unsur dan bagian-bagian dari suatu komposisi untuk menghasilkan suatu gambar nyata.

Setiap benda mempunyai bentuk. Istilah “bentuk” dalam bahasa Indonesia dapat berarti bangun (shape), atau benda plastis (form). Setiap benda mempunyai bangun dan bentuk plastis. Bangun adalah bentuk benda yang polos seperti yang terlihat oleh mata, sekedar untuk menyebutkan sifatnya yang bulat, persegi, segitiga, ornamental, tak teratur dan sebagainya.

Bentuk plastis ialah bentuk benda sebagaimana terlihat dan terasa karena adanya unsur nilai (value) gelap-terang, hingga kehadiran benda itu tampak dan terasa lebih hidup. (Nawawi. 2005, “Analisis Penerapan Estetika” Jurnal Seni Rupa FBS UNIMED Vol. 2 No. 2 Desember. Hal 155-156).

Menurut Sembiring (2008 : 27-28), bentuk adalah gambar (figure) dapat berupa dua dimensi atau tiga dimensi. Semua benda alam atau buatan manusia memiliki bentuk seperti bulat, persegi, segitiga, ornamental, atau tak teratur. Sebuah bentuk akan berbeda sifatnya apabila diberi warna gelap atau terang.

d. Warna

Menurut Francis D. K. Ching (2000 : 14) dalam bukunya Arsitekur bentuk ruang dan tatanan, mengatakan bahwa : warna merupakan sebuah fenomena pencahayaan dan persepsi visual yang menjelaskan persepsi individu dalam corak, intensitas dan nada. Selain itu Francis D.K. Ching menyebutkan bahwa warna adalah atribut yang paling menyolok membedakan suatu bentuk dari lingkungannya. Warna juga mempengaruhi bobot visual suatu bentuk.

Kehadiran warna menjadikan benda dapat dilihat, dan melalui unsur warna orang dapat mengungkapkan suasana perasaa, atau watak benda yang dirancangnya. Warna juga menunjukkan sifat dan watak yang berbeda-beda. Berdasarkan sifatnya kita dapat menyebutkan warna muda, warna tua, warna tua, warna gelap, warna redup dan warna cemerlang.

Dilihat dari macamnya, warna terdiri dari warna merah, kuning, biru dan sebagainya, sedangkan dari segi karakternya orang dapat menyebutkan warna

panas, warna dingin, warna lembut, warna mencolok, warna ringan, warna berat, warna sedih, warna gembira.

Penataan warna dalam desain ornament mempunyai peranan penting, karena karakternya yang akan mempengaruhi si pengamat, yang berdampak kepada minat untuk memilikinya. (Nawawi. 2005, “Analisis Penerapan Estetika Ragam Hias pada Kriya Keramik Mahasiswa Jurusan Seni Rupa FBS-UNIMED” Jurnal Seni Rupa FBS UNIMED Vol. 2 No. 2 Desember. Hal 155-156).

Setiap warna mampu memberikan kesan dan identitas tertentu sesuai kondisi sosial pengamatnya. Misalnya warna putih akan memberi kesan suci dan dingin di daerah Barat karena berasosiasi dengan salju. Sementara di kebanyakan Negara Timur, warna putih memberi kesan kematian dan sangat menakutkan karena berasosiasi dengan kain kafan (meskipun secara teoritis putih bukanlah sebuah warna).

Di dalam ilmu warna, hitam dianggap sebagai ketidakhadiran seluruh jenis gelombang warna. Sementara warna putih, dianggap sebagai representasi pada kehadiran seluruh gelombang warna dengan posisi seimbang.

(http://part1.blogspot.com/pengertian-warna.html). Diakses 3 Maret 2013, pukul 19:21 WIB).

Misalnya, warna merah dan putih dalam bendera kebangsaan Indonesia masing-masing melambangkan keberanian dan kesucian. (Azmi. 2008, “Memahami Karya Seni Rupa Kontemporer Melalui Karya Semiotika” Jurnal Seni Rupa FBS UNIMED Vol. 5 No. 2 Desember. Hal 2-3).

Dalam hal ini, pada dasarnya ornamen Melayu menggunakan dua warna, yaitu warna hijau dan warna kuning. Namun pada saat ini ornamen Melayu juga mengadopsi warna-warna lain, misalnya warna putih, warna coklat, warna keemasan dan warna lain sebagainya. Warna ini pada umumnya sering digunakan sebagai warna ornamen Melayu. Warna kuning ornamen Melayu pada bangunan Istana, Mesjid maupun rumah penduduk di kota Medan ini melambangkan kemegahan dan kesuburan dan kemakmuran dalam hidup.

Warna ini pada umumnya sering digunakan pada latar ornamen. Warna hijau melambangkan warna identik agama Islam. Sehingga warna hijau selalu digunakan pada bangunan bernuansa Islam. Seperti contoh pada Mesjid Al-Osmani di Belawan, maupun pada Istana Maimoon di Kota Medan.

e. Tekstur

Menurut Francis D. K. Ching (2000 : 14) dalam bukunya Arsitekur bentuk ruang dan tatanan, mengatakan bahwa : tekstur adalah kualitas yang dapat diraba dan dapat dilihat yang diberikan ke permukaan oleh ukuran, bentuk, pengaturan dan proporsi bagian benda. Selain itu Francis D.K. Ching juga mengatakan bahwa tekstur juga menentukan sampai dimana permukaan suatu bentuk memantulkan atau menyerap cahaya datang.

Tekstur merupakan kesan permukaan (halus-kasar, tinggi-rendah, timbul-dalam) dari sebuah benda. Tekstur ada yang bersifat nyata halus-kasarnya, dan ada pula tekstur semu. Tekstur semu hanya dapat dilihat dan dirasakan melalui perasaan dari dalam. Tekstur nyata dalam sebuah ragam hias dapat berupa hasil pahatan atau goresan, dan tekstur tidak nyata dapat dimunculkan dengan penataan

garis dan warna yang menghasilkan bidang-bidang datar bergelombang dan tegak, seperti pada ornamen Melayu di langit-langit mesjid Al-Osmani.

f. Ukuran

Ukuran (size) merupakan unsur yang perlu diperhitungkan dalam sebuah desai, karena besar kecilnya sebuah benda erat hubungannya dengan ruang. Dalam merancang desain ragam hias, biasanya keterbatasan ruang untuk menampilkan motif menjadi salah satu tolak ukur dalam pemilihan motif yang akan diterapkan.

Ruang yang sempit akan dihiasi dengan motif-motif yang minimal, sehingga akan terasa lebih longgar dan tetap indah. Sementara ruang yang lebar dapat diisi dengan motif-motif ornamen yang lebih rumit dan agak besar. (Muhammad Nawawi. 2005, “Analisis Penerapan Estetika” Jurnal Seni Rupa FBS UNIMED Vol. 2 No. 2 Desember. Hal 155-156).

g. Nada Gelap- Terang

Benda dapat dilihat karena adanya cahaya. Kemampuan mata untuk mengamati sebuah benda juga dipengaruhi oleh gelap atau terangnya cahaya yang menimpa benda tersebut, sehingga timbul nuansa warna nada gelap- terang pada permukaan benda itu. Nada gelap- terang juga akan mempengaruhi penampilan sebuah benda terlihat indah.

Sebuah desain ragam hias, gelap terang dapat dimunculkan dengan menggunakan variasi warna, dan dapat juga dengan menggunakan tekstur pada permukaan sebuah benda. (Muhammad Nawawi. 2005, “Analisis Penerapan Estetika” Jurnal Seni Rupa FBS UNIMED Vol. 2 No. 2 Desember. Hal 155-156).

Dokumen terkait