• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III AKIBAT HUKUM ATAS PERUBAHAN BADAN HUKUM

C. Akibat Hukum Atas Perubahan Badan Hukum Bank

2. Bank pembangunan Daerah Sumatera Utara (BPDSU)

tentang Perseroan Terbatas

a. Pengertian Perseroan Terbatas

Menurut Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Yang dimaksud dengan Perseroan Terbatas adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta Peraturan Pelaksanaannya.

Sebagai Badan Hukum PT. Bank Sumut telah memenuhi unsur-unsur Badan Hukum seperti ditentukan dalam UUPT, yang diuraikan berikut ini:105

1). Badan Hukum

PT. Bank Sumut adalah Badan Hukum, artinya badan yang memenuhi syarat keilmuan sebagai pendukung kewajiban dan hak yang telah diuraikan sebelumnya, antara lain memiliki harta kekayaan sendiri terpisah dari harta kekayaan pendiri atau penguasanya.

105

Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Zaidan, Pimpinan Bidang Devisi Teknologi Informasi dan Akuntansi pada Tanggal 9 September 2013

2). Didirikan Berdasarkan Perjanjian

PT. Bank Sumut didirikan berdasarkan perjanjian, artinya telah beberapa orang yang bersepakat mendirikan Perseroan Terbatas yang dibuktikan secara tertulis yang tersusun dalam bentuk Anggaran Dasar, kemudian dimuat dalam Akta Pendirian yang dibuat dimuka Notaris.

3). Melakukan Kegiatan Usaha

PT. Bank Sumut melakukan kegiatan usaha, yaitu kegiatan dalam bidang perekonomian perbankan yang bertujuan mendapat keuntungan dan atau laba.Melakukan kegiatan usaha artinya menjalankan perusahaan.Kegiatan usaha PT. Bank Sumut sah dan telah mendapat izin usaha dari pihak yang berwenang dan telah didaftarkan dalam daftar perusahaan menurut Undang-Undang yang berlaku.

4). Modal Dasar

PT. Bank Sumut telah mempunyai modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham. Modal Dasar disebut juga modal statute, dalam bahasa inggris disebut

authorized capital.Modal Dasar merupakan harta kekayaan perseroan sebagai badan hukum, yang terpisah dari harta kekayaan pribadi pendiri, organ perseroan, pemegang saham. Menurut ketentuan Pasal 32 UUPT, modal dasar perseroan sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) Juta Rupiah.

PT. Bank Sumut telah memenuhi persyaratan Undang-Undang Perseroan dan peraturan pelaksanaannya. Unsur ini menujukkan bahwa PT. Bank Sumut menganut system-sistem tertutup (dosed system).106

Sutantya R.T. Hadikusuma mengemukakan karakteristik suatu PT sebagai berikut:107

a. sebagai asosiasi modal

b. kekayaan dan hutang PT terpisah dari kekayaan dan utang pemegang saham c. pemegang saham

3) bertanggung jawab hanya pada apa yang disetorkan atau tanggung jawab terbatas (limited liability);

4) tidak bertanggung jawab atas kerugian perseroan (PT) melebihi saham yang telah diambilnya;

5) tidak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama perseroan;

6) adanya pemisahan fungsi antara pemegang saham dan pengurus atau direksi; 7) memiliki komisaris yang bergfungsi sebagai pengawas;

8) kekuasaan tertinggi berada pada rapat Umum Pemegang Saham atau RUPS.

106

Berdsarkan hasil wawancara dengan Bapak Zulkarnaen, Pimpinan Bidang Devisi Umum Bank Sumut Pusat Kota Medan Jalan Imam Bonjol pada tanggal 19 Juli 2013

107

R.T. Hadikusuma Sutantya, Pengertian Pokok Hukum Perusahaan,Cetakan Pertama, CV Rajawali, Jakarta, 1991

Sebagai badan hukum yang melakukan kegiatan usaha, PT. Bank Sumut mempunyai tujuan sendiri.Tujuan tersebut tertera didalam Anggaran Dasarnya yang disesuaikan berdasarkan Pasal 12, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007.108

b. Tujuan Perseroan Terbatas

Tujuan Perseroan Terbatas itu bukanlah tujuan atau kepentingan pribadi dari satu atau beberapa orang perseronya dan perjuangan untuk mencapai tujuan itu dilakukan oleh organ Perseroan Terbatas yang disebut Direksi.Karena perseroan menjalankan perusahaan, maka tujuan utama Perseroan Terbatas adalah mencari keuntungan dan atau laba.

PT. Bank Sumut setelah berubah bentuk badan hukum, memiliki tujuan yaitu:109

1. Menghasilkan laba dan pertumbuhan daerah diberbagai sektor. 2. Meningkatkan taraf hidup rakyat.

3. Memenuhi fungsi sosial dengan penyediaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. 4. Menyediakan produk dan layanan yang kompetitif.

Dengan berubahnya bentuk Badan Hukum dari Perusahaan Daerah Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara (BPDSU) menjadi Perseroan Terbatas,

108

Berdsarkan hasil wawancara dengan Bapak Zulkarnaen, Pimpinan Bidang Devisi Umum Bank Sumut Pusat Kota Medan Jalan Imam Bonjol pada tanggal 19 Juli 2013

109

Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Zaidan, Pimpinan Bidang Devisi Teknologi Informasi dan Akuntansi pada tanggal 9 September 2013

mengakibatkan tujuan dari pada Bank Sumut mengutamakan mencari keuntungan dan laba yang lebih besar karena membuka investor-investor luar selain pemerintah.

c. Syarat Mendirikan Perseroan Terbatas (PT)

Untuk mendirikan suatu Perseroan perlu dipenuhi syarat-syarat dan prosedur yang telah ditentukan oleh Undang-Undang Perseroan Nomor 40 Tahun 2007.

Syarat-syarat Pendirian Perseroan Terbatas

Ada tiga syarat utama yang harus dipenuhi oleh pendiri Perseroan. Ketiga syarat tersebut telah dipenuhi Bank Sumut dalam pendirian badan hukumnya sebagai Perseroan Terbatas adalah sebagai berikut:

(1) Didirikan dua orang atau lebih

Menurut ketentuan Pasal 7 ayat (1) UUPT, Perseroan didirikan oleh dua orang atau lebih.Yang dimaksud dengan “orang” adalah orang perseorangan atau badan hukum.Ketentuan sekurang-kurangnya dua orang menegaskan prinsip yang dianut oleh Undang-Undang bahwa Perseroan sebagai badan hukum dibentuk berdasarkan perjanjian, oleh karena itu harus mempunyai lebih dari satu orang pemegang saham sebagai pendiri.Ketentuan dua orang pendiri atau lebih tidak berlaku bagi Perseroan Badan Usaha Milik Negara (Pasal 7 ayat (5) UUPT). (2) Didirikan dengan Akta Otentik

Menurut ketentuan Pasal 7 ayat (1) UUPT, perjanjian pendirian perseroan harus dibuat dengan akta otentik di muka Notaris mengingat Perseroan adalah badan

hukum.Akta Otentik tersebut merupakan akta pendirian yang memuat Anggaran Dasar Perseroan.

(3) Modal Dasar Perseroan

Dalam Pasal 32 ayat (1) UUPT ditentukan bahwa modal dasar Perseroan paling sedikit 50 (lima puluh) Juta Rupiah. Tetapi Undang-Undang atau peraturan pelaksanaan yang mengatur bidang usaha tertentu dapat menentukan jumlah minimum modal dasar Perseroan yang melebihi 50 (lima puluh) Juta Rupiah. Bidang Usaha tertentu itu antara lain perbankan, perasuransian. Menurut ketentuan Pasal 33 UUPT, pada saat pendirian Perseroan, paling sedikit 25% dari modal dasar harus telah ditempatkan, dan modal dasar tersebut harus ditempatkan dan disetor penuh.

b. Prosedur Pendirian Perseroan Terbatas

Setelah syarat-syarat dipenuhi, maka pendirian Perseroan harus mengikuti langkah-langkah yang ditentukan oleh UUPT seperti diuraikan berikut ini:110

1) Pembuatan Akta Pendirian di Muka Notaris

Langkah pertama pendirian Perseroan adalah pembuatan akta pendirian di muka Notaris.Akta pendirian tersebut merupakan perjanjian yang dibuat secara otentik yang memuat Anggaran Dasar Perseroan sesuai dengan ketentuan UUPT (Pasal 7 ayat (1) UUPT). Pada Bank Sumut akta pendiriannya dibuat dengan Notaris Alina

110

Berdsarkan hasil wawancara dengan Bapak Zulkarnaen, Pimpinan Bidang Devisi Umum Bank Sumut Pusat Kota Medan Jalan Imam Bonjol pada tanggal 21 Juli 2013

Hannum Nasution SH dengan SK. Menteri Kehakiman Nomor: M-04-HT.03.01- Tahun 1985.

2) Pengesahan Oleh Menteri Kehakiman

Langkah kerja adalah permohonan pengesahan akta pendirian Perseroan yang dibuat di muka Notaris dimohonkan secara tertulis pengesahannya oleh Menteri Kehakiman. Pengesahan tersebut penting karena status badan hukum Perseroan diperoleh setelah akta pendirian disahkan oleh Menteri Kehakiman (Pasal 7 ayat (4) UUPT).

3) Pendaftaran Perseroan

Langkah ketiga adalah Pendaftaran Perseroan menurut Pasal 29 ayat (1) daftar Perseroan diselenggarakan oleh Menteri, Direksi Perseroan wajib mendaftarkan dalam Daftar Perusahaan akta pendiri beserta Surat Pengesahan Menteri Kehakiman. Pendaftaran wajib dilakukan dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah pengesahan atau persetujuan diberikan.Yang dimaksud dengan Daftar Perusahaan adalah Daftar Perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang wajib daftar perusahaan.

4) Pengumuman dalam Tambahan Berita Negara

Langkah keempat adalah pengumuman dalam Tambahan Berita Negara.Menurut ketentuan Pasal 30 UUPT, Perseroan yang telah didaftar diumumkan dalam

Tambahan Berita Negara.Pengumuman dilakukan oleh Menteri dalam waktu paling lambat 14 hari terhitung sejak tanggal diterbitkannya Keputusan Menteri.

d. Modal Perseroan Terbatas

Pada saat pengesahan Perseroan, seluruh saham yang telah dikeluarkan harus sudah disetor penuh dengan bukti penyetoran yang sah, hal ini dimaksudkan agar setelah pengesahan Perseroan sudah dapat menjalankannya usahanya dengan modal dasar secara penuh telah disetor oleh para pendirinya.

Modal dasar PT. Bank Sumut berjumlah Rp. 400.000.000.000,- (empat ratus milyar Rupiah yang terbagi atas Rp. 20.400.000 (dua puluh juta empat ratus ribu) lembar saham Seri A dengan nominal sebesar Rp. 10.000 (sepuluh ribu) dan Rp. 19.600.000 (Sembilan belas juta enam ratus ribu) lembar saham Seri B dengan nominal Rp. 10.000 (sepuluh ribu).111

Jika dilihat dari jenis-jenis Perseroan Terbatas yang diatur dalam Undang- Undang Perseroan Terbatas maka Bank Sumut adalah Bank Perseroan Terbatas Persero.

Persero atau Perusahaan Perseroan adalah bentuk badan usaha Negara yang timbul kemudian sebagai upaya Pemerintah untuk mengatur usaha-usaha Negara yang semula berbentuk Perusahaan Negara (PN) berdasarkan pada Undang-Undang

111

Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Zaidan, Pimpinan Bidang Devisi Teknologi Informasi dan Akuntansi pada tanggal 1 Agustus 2013

Nomor 19 Prp Tahun 1960. Namun kemudian Perusahan-Perusahaan Negara tersebut dirasakan tidak efisien sehingga Pemerintah melakukan penerbitan.

Menurut Pasal 2 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1969, Perseroan Terbatas Persero adalah Perusahaan dalam bentuk Perseroan Terbatas yang pada waktu itu diatur dalam ketentuan (KUHD), yang saham-sahamnya untuk sebahagian maupun seluruhnya dimiliki oleh Negara Perseroan Terbatas. Persero ini dapat diartikan dari kata “Persero” yaitu Perusahaan yang merupakan salah satu bentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN).Untuk pertama kalinya Perseroan Terbatas ini dikenal sejak terbitnya Instruksi Presiden Nomor 17 Tahun 1967 dan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1969.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1969 LN 1969-21 ditetapkan bahwa pada hakekatnya fungsi utama dari Persero adalah memupuk dana bagi Negara ataupun sebagai alat untuk mencapai sumber Keuangan Negara. Oleh karena itu penyertaan modal oleh Negara baru dilakukan apabila diperkirakan Persero tersebut dapat memberikan keuntungan bagi kas umum Negara.Penanaman modal atau kekayaan Negara didalam Persero erat kaitannya dengan kebijakan Keuangan Negara.Selain itu karena Persero adalah suatu Perseroan Terbatas, maka ketentuan- ketentuan yang berlaku terhadap PT umumnya juga berlaku untuk PT Persero.Mengenai pendiri Persero, jika modal Persero seluruhnya dimiliki oleh Negara, maka yang bertindak selaku pendiri adalah Negara.Untuk itu ditunjuk seorang Pejabat Negara untuk ikut serta mendirikan PT Persero.Jika modal Persero dimiliki bersama-sama oleh Negara dan Swasta, maka pendiri adalah Negara dengan

swasta tersebut.Ketentuan-ketentuan khusus atau ciri-ciri pokok Persero dimuat dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tanggal 28 Desember 1967 sebagai berikut:112

a. Makna usahanya adalah untuk menumpuk keuntungan (keuntungan dalam arti, karena baiknya pelayanan dan pembinaan organisasi yang baik, efektif, efisien, dan ekonomis secara business zakelijk, cost accounting priciples, management effectiveness dan pelayanan umum yang baik dan memuaskan memperoleh surplus atau laba)

b. Status hukumnya sebagai badan hukum perdata, yang berbentuk Perseroan Terbatas.

c. Hubungan-hubungan usahanya diatur menurut hukum perdata.

d. Modal seluruhnya atau sebahagian merupaka milik Negara dari kekayaan Negara yang dipisahkan, dengan demikian dimungkinkan adanya joint atau

mixedenterprise dengan swasta (nasional dan atau asing), dan adanya penjualan saham-saham Perusahaan Milik Negara.

e. Tidak memiliki fasilitas-fasilitas milik Negara. f. Dipimpin oleh suatu Direksi.

g. Pegawainya berstatus sebagai pegawai Perusahaan Swasta biasa.

h. Peranan Pemerintah adalah sebagai pemegang saham dalam Perusahaan. Intensitas “medezeggenschap” terhadap perusahaan tergantung dari besarnya jumlah saham

112

(modal) yang dimiliki atau berdasarkan perjanjian tersendiri antar pihak Pemerintah dan pihak pemiliki lainnya.

e. Organ Perseroan

Sesuai ketentuan Pasal 1 UUPT, Organ Perseroan dalam PT. Bank Sumut adalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Direksi, dan Komisaris. RUPS adalah organ Perseroan yang memgang kekuasaan tertinggi dalam Perseroan dan memegang segala wewenang yang tidak diserahkan kepada Direksi atau Komisaris.Direksi adalah organ Perseroan yang bertanggung jawab penuh pengurusan Perseroan untuk kepentingan dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan, Baik didalam maupun diluar Pengadilan sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar.Komisaris adalah organ Perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan atau khusus serta memberikan nasihat kepada Direksi dalam menjalankan Perseroan.

BAB IV

KEWAJIBAN PT. BANK SUMUT TERHADAP ASET PERUSAHAN

A. Kewajiban Bank Sumut Terhadap Aset Perseroan Terbatas

Pada saat Bank Sumut masih berbentuk Perusahaan Daerah maka seluruh asset Bank Sumut yang merupakan sebahagian milik Pemerintah Daerah harus dipertanggungjawabkan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan setiap laporan perubahan laporan mengenai pengeluaran ataupun pemasukan aset dibahas dalam rapat DPRD Tingkat I Sumatera Utara, setelah perubahan badan hukum menjadi Pereseroan Terbatas maka mengenai laporan pemasukan maupun pengeluaran aset tidak lagi dilaporkan ke Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan dibahas dalam rapat DPRD Tingkat I Sumatera Utara tetapi dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Sahan. Dengan berubah badan hukum Bank Sumut menjadi Perseroan Terbatas secara otomatis Bank Sumut merujuk patuh pada Undang-Undang PT Nomor 40 Tahun 2007, tetapi tetap dibawah naungan Undang-Undang Bank Indonesia dalam mengambil segala tindakannya. Hal ini disebabkan karena Bank Sumut sebagai badan hukum Perseroan Terbatas tetapi pemilik sahamnya masih dimiliki oleh Pemerintah.113

Keputusan yang diambil dalam RUPS pada PT. Bank Sumut didasari pada kepentingan usaha Perusahaan jangka panjang, RUPS dan atau pemegang saham

113

Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Bapak Erwin Zaini, Pimpinan Bidang Devisi Penyelamatan Kredit Bank Sumut Pusat Kota Medan Jalan Imam Bonjol pada tanggal 1 Agustus 2013

tidak melakukan intervensi terhadap tugas, fungsi dan wewenang Dewan Komisaris dan Direksi dengan tidak mengurangi wewenang RUPS untuk menjalankan hak sesuai dengan Anggaran Dasar dan peraturan Perundang-undangan. Pengambilan keputusan RUPS dilakukan secara wajar dan transparan.

Dalam penyelenggaraan RUPS upaya yang dapat dilakukan Bank SUMUT adalah sebagai berikut:114

1) Pemegang saham diberikan kesempatan untuk mengajukan usul untuk mengadakan acara RUPS sesuai dengan peraturan Perundang-undangan. Panggilan RUPS telah mencakup informasi mengenai mata acara, tanggal, waktu dan tempat RUPS.

2) Bahan mengenai setiap mata acara yang tecantum dalam panggilan RUPS tersedia dikantor Bank SUMUT sejak tanggal panggilan RUPS, sehingga memungkinkan pemegang saham berpartisipasi aktif dalam RUPS dan memberikan suara secara bertanggung jawab. Jika bahan tersebut belum tersedia saat dilakukan panggilan untuk RUPS, maka bahan itu disediakan sebelum RUPS diselenggarakan.

3) Risalah RUPS tersedia di Kantor Bank SUMUT, dan Bank SUMUT menyediakan fasilitas agar pemegang saham dapat membaca risalah tersebut.

Dewan Komisaris adalah organ perusahaan yang bertugas dan bertanggung jawab secara kolektif untuk melakukan pengawasan dan memberikan nasehat kepada

114

Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Bapak Erwin Zaini, Pimpinan Bidang Devisi Penyelamatan Kredit Bank Sumut Pusat Kota Medan Jalan Imam Bonjol pada tanggal 1 Agustus 2013

direksi serta memastikan bahwa Bank SUMUT melaksanakan pengawasan pada seluruh tingkatan atau jenjang organisasi.Dalam rangka mendukung efektivitas pelaksanaan dan tanggung jawabnya, Dewan Komisaris telah membentuk Komite Pemantau Resiko.Dalam memenuhi tugas dan tanggung jawab itu, Dewan Komisaris wajib bertindak secara Independen.115

1. Kewajiban Bank Sumut Terhadap Modal Perseroan Terbatas

Dalam hal pengolahan dan pelaporan mengenai saham dan modal di Bank Sumut merupakan tanggung jawab Komite Audit yaitu Melakukan pemantauan dan evaluasi atas perencanaan dan pelaksanaan audit serta pemantauan atas tindak lanut hasil audit dalam rangka menilai kecukupan pengendalian intern termasuk kecukupan proses pelaporan keuangan, memberikan rekomendasi mengenai penunjukan Kantor Akuntan Publik kepada Dewan Komisaris untuk disampaikan kepada RUPS dan memastikan bahwa telah terdapat prosedur review yang memuaskan terhadap informasi yang dikeluarkan perusahaan, termasuk brosur, laporan keuangan berkala, proyeksi/forecast dan informasi lain-lain yang disampaikan kepada pemegang saham.116

a. Struktur Modal

115

Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Bapak Erwin Zaini, Pimpinan Bidang Devisi Penyelamatan Kredit Bank Sumut Pusat Kota Medan Jalan Imam Bonjol pada tanggal 1 Agustus 2013

116

Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Bapak Zaidan, Pimpinan Bidang Devisi Teknologi Informasi Akuntansi Bank Sumut Pusat Kota Medan Jalan Imam Bonjol pada tanggal 27 Juli 2013

Modal Perseroan adalah kekayaan baik berupa uang maupun benda yang digunakan oleh Perseroan untuk menjalankan usahanya.Undng-Undang Perseroan mengatur struktur modal yang tedriri atas modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor.117

Menurut Abdul Kadir Muhammad :

Modal dasar (authorized capital) adalah kekayaan berupa uang yang telah ditentukan jumlahnya yang dijadikan dasar berdirinya Perseroan.Modal ditempatkan (place capital) adalah kekayaan berupa uang yang telah ditentukan persentasenya dari modal dasar yang disanggupi oleh para pendiri pada saat berdirinya Perseroan. Modal disetor (paid up capital) adalah kekayaan berupa uang yang telah ditentukan persentasenya dari modal ditempatkan yang harus dibayar tunai oleh para pendirinya pada saat berdirinya Perseroan Terbatas, mengenai struktur modal ini harus dicantumkan dalam Anggaran Dasar Perseroan.118

b. Jumlah Modal

Menurut ketentuan Pasal 32 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007, modal dasar Perseroan paling sedikit Rp. 50.000.000,- (lima puluh Juta Rupiah) dan jumlah modal dasar Perseroan Bank SUMUT sejumlah Rp. 400.000.000.000,- (empat ratus milyar Rupiah) yang terbagi atas Rp. 20.400.000 (dua puluh juta empat ratus ribu Rupiah) lembar saham Seri A dan Rp. 19.600.000

117

Ibid hal 29

118

(Sembilan belas juta enam ratus ribu Rupiah) lembar saham Seri B dengan nominal Rp. 10.000 (sepuluh ribu Rupiah).119

Menurut ketentuan Pasal 33 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 disebutkan bahwa pada saat pendirian Perseroan, paling sedikit 25% (dua puluh lima persen) dari modal dasar harus telah ditempatkan dan harus sudah disetor Perusahaan paling sedikit 50% (lima puluh persen) dari nilai nominal saham yang disetorkan.

Sedangkan penyetoran penuh atas seluruh saham yang telah dikeluarkan dilakukan paling lambat pada saat pengesahan Perseroan dengan bukti penyetoran yang sah dan pengeluaran saham selanjutnya setiap kali harus disetor penuh.

c. Bentuk Setoran Modal

Menurut Pasal 34 ayat (1), (2), (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 atas saham adalah dalam bentuk uang, namun tidak tertutup kemungkinan penyetoran atas saham dalam bentuk lain ini dapat berupa benda berwujud atau benda tidak berwujud yang dapat dinilai dengan uang dan penilaian harga ditetapkan oleh ahli yang tidak terikat pada Perseroan.

Pemegang saham yang mempunyai tagihan terhadap Perseroan tidak dapat mengumpulkan hak tagihannya sebagai kompensasi kewajiban penyetoran atas harga sahamnya sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1999 tanggal 25 Februari 1999 disebutkan bentuk-bentuk “tagihan tertentu” antara

119

Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Bapak Zaidan, Pimpinan Bidang Devisi Teknologi Informasi Akuntansi Bank Sumut Pusat Kota Medan Jalan Imam Bonjol pada tanggal 1 Agustus 2013

lain “convertible bonds” dapat dikompensasikan sebagai setoran saham sesuai dengan perkembangan dunia usaha. Dalam hal penyetoran modal saham dilakukan dalam bentuk lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penilaian setoran modal saham ditentukan berdasarkan nilai wajar yang ditetapkan sesuai denga harga pasar atau oleh ahli yang tidak terafiliasi dengan Perseroan.120

Dari modal dasar tersebut telah ditempatkan oleh para pendiri sebesar 100 milyar Rupiah dan dari modal yang ditempatkan telah disetor penuh oleh pendiri yaitu:121

a. Provinsi daerah Tingkat I Sumatera Utara sebanyak Rp.1.468.989 (satu juta empat ratus enam puluh delapan ribu Sembilan ratus delapan puluh Sembilan Rupiah) lembar saham dari Seri A. Dengan nilai nominal sebesar Rp. 14.689.890.000 (empat belas milyar enam ratus delapan puluh Sembilan juta delapan ratus Sembilan puluh Rupiah).

b. Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II sebanyak 3.799.879 (tiga juta tujuh ratus sembilan puluh Sembilan ribu delapan ratus tujuh puluh Sembilan Rupiah) sembilan lembar saham dari Seri A, dengan nilai nominal sebesar Rp. 37.998.790.000 (tiga puluh tujuh milyar sembilan ratus sembilan puluh delapan juta tujuh ratus sembilan puluh ribu Rupiah) terdiri dari :

1. Kota madya Tingkat II Medan sebanyak 641.299 (enam ratus empat puluh satu ribu dua ratus Sembilan puluh Sembilan ribu Rupiah) lembar saham dengan

120

Berdasarkan Hasil Wawancara dengan Bapak Zaidan, Pimpinan Bidang Devisi Teknologi Informasi Akuntansi Bank Sumut Pusat Kota Medan Jalan Imam Bonjol pada tanggal 27 Juli 2013

121

nalai nominal sebesar Rp. 6.412.999.000 (enam milyar empat ratus dua belas juta Sembilan ratus Sembilan puluh ribu Rupiah).

2. Kota madya Daerah Tingkat II Binjai sebanyak Rp. 57.359 (lima puluh tujuh ribu tiga ratus lima puluh Sembilan Rupiah) lembar saham dengan nilai nominal sebesar Rp. 573.590.000 (lima ratus tujuh puluh tiga juta lima ratus Sembilan puluh ribu Rupiah).

3. Kota madya Daerah Tingkat II Tebing Tinggi sebanyak Rp. 30.060 (tiga puluh ribu enam puluh Rupiah) lembar saham, dengan nilai nominal sebesar Rp. 300.600.000 (tiga ratus juta enam ratus ribu rupiah).

4. Kota madya Daerah Tingkat II Sibolga sebanyak 34.761 (tiga puluh empat ribu tujuh ratus enam puluh satu Rupiah) lembar saham, dengan nilai nominal sebesar Rp. 347.610.000 (tiga ratus empat puluh tujuh juta enam ratus sepuluh ribu Rupiah).

5. Kabupaten Daerah Tingkat II Deli Serdang sebanyak RP. 476.847 (empat ratus tujuh puluh enam ribu delapan ratus empat puluh tujuh Rupiah) lembar saham dengan nilai nominal sebesar Rp. 4.768.470.000 (empat milyar tujuh ratus enam puluh delapan juta empat ratus tujuh puluh ribu Rupiah).

6. Kabupaten Daerah Tingkat II Langkat sebanyak Rp. 447.429 (empat ratus empat puluh ribu tujuh ribu empat ratus dua puluh Sembilan) lembar saham, dengan nilai nominal sebesar Rp. 4.474.290.000 (empat milyar empat ratus tujuh puluh empat juta dua ratus Sembilan puluh ribu Rupiah).

7. Kabupaten Daerah Tingkat II Tapanuli Utara sebanyak Rp.135.368 (seratus tiga

Dokumen terkait