Tip Perlindungan Konsumen
E- Licensing Perbankan
A.6. Bank Perkreditan Rakyat
Berdasarkan POJK No.20/POJK.03/2014 tanggal 21–11- 2014 tentang Bank Perkreditan Rakyat
Latar Belakang
Misi keberadaan BPR sebagai salah satu jenis bank sebagaimana amanat UU Perbankan adalah untuk melayani usaha-usaha mikro kecil dan masyarakat di daerah pedesaan. Amanat tersebut terus dilekatkan pada BPR hingga saat ini sebagai bank yang fokus pada pembiayaan dan pelayanan kepada usaha skala mikro kecil yang mendominasi porsi unit usaha di Indonesia dan masyarakat di remote area. Dalam rangka meningkatkan kontribusi BPR terhadap pembiayan sektor usaha mikro kecil yang saat ini hanya mencapai 4,2% dari total kredit UMKM perbankan nasional, diperlukan upaya penguatan kelembagaan BPR agar BPR semakin dirasakan peran dan keberadaannya oleh masyarakat luas, serta berdaya saing tinggi.
Untuk mendukung upaya penguatan kelembagaan BPR, disusun Peraturan OJK (RPOJK) tentang Bank Perkreditan Rakyat yang merupakan penyempurnaan atas PBI No.8/26/PBI/2006 yang telah berlaku sejak tahun 2006.
Pokok-Pokok Pengaturan
Secara umum terdapat 7 (tujuh) hal yang menjadi besaran perubahan POJK tentang BPR dibandingkan dengan PBI tentang BPR, meliputi:
1. Perizinan Pendirian BPR
Dalam rangka mendorong penguatan permodalan BPR agar dapat beroperasi secara optimal sejak awal pendirian BPR sekaligus mendukung kebijakan financial inclusion dengan mendorong pendirian BPR di pedesaan dan kawasan timur Indonesia, ditetapkan persyaratan modal disetor minimal dalam rangka pendirian BPR baru. Selain penyesuaian persyaratan modal disetor, ditetapkan pula pengelompokkan wilayah (zonasi) berdasarkan potensi wilayah dan tingkat persaingan pada setiap kabupaten/kota di Indonesia. Persyaratan modal disetor dalam rangka pendirian BPR dikelompokkan dalam 4 zona
masing-masing sebagai berikut:
a. Zona 1 sebesar Rp 14 miliar, terdiri dari 13 kabupaten atau kota;
b. Zona 2 sebesar Rp 8 miliar, terdiri dari 94 kabupaten atau kota;
c. Zona 3 sebesar Rp 6 miliar, terdiri dari 51 kabupaten atau kota;
d. Zona 4 sebesar Rp 4 miliar, terdiri dari 339 kabupaten atau kota.
Meskipun berdasarkan perhitungan kecukupan modal disetor diperlukan modal minimal sebesar Rp 6 miliar untuk memulai bisnis BPR, namun dalam rangka mendorong minat investor untuk mendirikan BPR di remote area, ditetapkan persyaratan modal disetor sebesar Rp 4 miliar bagi pendirian BPR di zona 4. Zona ini merupakan wilayah kabupaten dan kota di daerah yang sedang berkembang di luar Pulau Jawa dan Bali serta kabupaten dan kota di kawasan timur Indonesia (Sulawesi, Ambon dan Papua), sehingga layanan perbankan oleh BPR dapat dinikmati oleh masyarakat di seluruh wilayah tanah air. Penguatan permodalan BPR dapat mendorong peningkatkan kualitas pelayanan, perluasan jangkauan pelayanan dan penurunan suku bunga kredit BPR. Rincian mengenai kabupaten/kota yang masuk dalam setiap zona akan diatur lebih lanjut dalam Surat Edaran OJK.
Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dalam proses perizinan pendirian BPR, jangka waktu persetujuan atau penolakan persetujuan prinsip dan izin usaha yang sebelumnya adalah selama 60 hari berubah menjadi 40 hari kerja. Selain itu untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi, proses perizinan pendirian BPR ditangani oleh Satuan Kerja yang secara khusus menangani setiap tahapan pendirian BPR, sehingga mendukung upaya percepatan dan transparansi proses perizinan. Perbaikan mekanisme perizinan tersebut diharapkan dapat memudahkan calon
94
Booklet Perbankan Indonesia 2015
investor yang akan mendirikan BPR dalam rangka memperluas layanan perbankan kepada seluruh lapisan masyarakat.
2. Upaya Penguatan Modal bagi BPR Eksisting Untuk menjamin komitmen Pemegang Saham dalam penanganan kesulitan keuangan BPR, diatur mengenai kewajiban bagi setiap BPR memiliki paling sedikit 1 (satu) pemegang saham dengan persentase kepemilikan saham paling sedikit 25% sesuai dengan kriteria mengenai PSP yang diatur dalam ketentuan mengenai uji kemampuan dan kepatutan BPR.
Sedangkan untuk mendorong penguatan permodalan bagi BPR eksisting, terdapat kemudahan bagi pemegang saham untuk melakukan penambahan modal disetor dalam rangka penguatan permodalan BPR. Kemudahan tersebut tertuang dalam ketentuan yang memperbolehkan penambahan modal disetor yang bersumber dari dividen BPR yang bersangkutan untuk dipindahbukukan menjadi Dana Setoran Modal, tanpa perlu di-escrow account dalam bentuk deposito di bank lain.
Dalam rangka penambahan modal disetor, terdapat pilihan bagi pemegang saham (eksisting) BPR untuk dapat menempatkan tambahan modal disetor tersebut dalam bentuk deposito pada bank umum dan/atau BPR yang bersangkutan.
Dalam ketentuan ini, juga dibuka ruang bagi BPR untuk melakukan pembelian aset tetap dan infrastruktur yang menunjang kegiatan operasional yang perhitungannya tidak lagi dibatasi berdasarkan prosentase tertentu dari modal disetor.
3. Persyaratan bagi Direksi dan Dewan Komisaris BPR, serta Larangan Perangkapan Jabatan
Dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya Pengurus BPR, dalam ketentuan kelembagaan BPR ini ditambahkan persyaratan kompetensi yang harus dimiliki oleh Direksi dan Dewan Komisaris BPR agar dapat mengelola BPR dengan semakin
baik dan prudent. Persyaratan kompetensi tersebut berupa pengetahuan di bidang perbankan yang memadai dan relevan dengan jabatannya; dan pengalaman di bidang perbankan dan/atau lembaga jasa keuangan non perbankan. Khusus untuk Direksi, harus pula memiliki kemampuan untuk melakukan pengelolaan strategis dalam rangka pengembangan BPR yang sehat.
Untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan pengawasan BPR oleh Dewan Komisaris, setiap anggota Dewan Komisaris diwajibkan memiliki sertifikat kelulusan yang masih berlaku dari Lembaga Sertifikasi Profesi. Untuk memenuhi ketentuan tersebut diberikan waktu selama 3 tahun hingga 31 Desember 2017.
Selain itu, untuk menjamin penerapan governance terjaga dengan baik, terdapat larangan yang tegas kepada Direksi dan Dewan Komisaris untuk melakukan perangkapan jabatan dan membatasi hubungan keluarga di antara anggota Direksi dan Dewan Komisaris BPR untuk menjaga independensi terhadap kepentingan publik dan menghindari terjadinya conflict of interest terhadap kepentingan pribadi atau kelompok (keluarga) tertentu yang merugikan kepentingan masyarakat yang dilayani BPR.
Untuk meningkatkan fokus pelaksanaan tugas bagi Direksi dan Dewan Komisaris, terdapat ketentuan baru yang mengatur mengenai tempat tinggal seluruh anggota Direksi di kota/kabupaten yang sama atau kota/kabupaten yang berbeda pada provinsi yang sama atau kota/kabupaten di provinsi lain yang berbatasan langsung dengan kota/kabupaten pada provinsi lokasi KP BPR. Sedangkan bagi Dewan Komisaris, minimal 1 (satu) orang anggota Dewan Komisaris bertempat tinggal di provinsi yang sama atau di kota/kabupaten pada provinsi lain yang berbatasan langsung dengan provinsi lokasi KP BPR.
4. Pembukaan Jaringan Kantor BPR
96
Booklet Perbankan Indonesia 2015
feasible, tidak terdapat pembatasan jumlah KC yang
dapat dibuka oleh BPR dalam 1 tahun sepanjang memenuhi persyaratan terkait permohonan pembukaan jaringan kantor oleh BPR, mencakup pemenuhan tingkat kesehatan BPR, termasuk pencapaian rasio efisiensi BPR, kelengkapan TI yang memadai, pemenuhan persyaratan kecukupan modal inti dan tidak adanya pelanggaran ketentuan tentang BPR.
Jenis jaringan kantor BPR meliputi KC, Kantor Kas dan Kegiatan Pelayanan Kas (yang terdiri dari Kas Keliling, Payment Point, dan Perangkat Perbankan Elektronis berupa Automated Teller Machine/ATM,
Automated Deposit Machine/ADM dan Electronic Data Capture/EDC).
Dalam hal BPR merencanakan melakukan kegiatan layanan dengan menggunakan kartu ATM dan/atau kartu debet, BPR wajib mengajukan permohonan izin sebagai penerbit kartu ATM dan/atau kartu debet kepada BI setelah mendapat persetujuan dari OJK dengan memenuhi persyaratan tertentu. Berkaitan dengan kebijakan pada beberapa Pemerintah Daerah mengenai pemekaran wilayah, diatur bahwa dalam hal terjadi pemekaran wilayah yang menyebabkan KC dan KP berada di wilayah porvinsi yang berbeda, BPR wajib menutup atau memindahkan KC BPR; atau memindahkan KP BPR, ke dalam wilayah provinsi yang sama.
5. Pencabutan Izin Usaha atas Permintaan Pemegang Saham
Pencabutan izin usaha atas permintaan pemilik (self liquidation) merupakan alternatif mekanisme
exit policy bagi BPR selain mekanisme pencabutan
izin usaha melalui LPS.
Pemegang Saham BPR dapat mengajukan permintaan pencabutan izin usaha BPR sepanjang BPR dimaksud tidak sedang ditempatkan Bank Dalam Pengawasan Khusus (BDPK) oleh OJK. Selain itu, OJK melakukan pencabutan izin usaha BPR atas permintaan pemegang saham BPR apabila BPR telah menyelesaikan seluruh kewajibannya
kepada nasabah dan kreditur lainnya.
6. Penerapan Sanksi atas Pelanggaran Ketentuan Terhadap pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam POJK ini, dapat dikenakan sanksi berupa: a. Kepada BPR;
1) teguran tertulis 2) kewajiban membayar
3) penurunan tingkat kesehatan BPR satu predikat hingga penurunan predikat tingkat kesehatan menjadi tidak sehat 4) penghentian sementara sebagian kegiatan
operasional BPR dan/atau
5) larangan pembukaan jaringan kantor dan kegiatan PVA
b. Kepada Pemegang Saham, berupa penundaan hak menerima dividen.
7. Masa Transisi
Terhadap penerapan beberapa kewajiban, ditetapkan masa transisi hingga 31 Desember 2017 untuk memenuhi kewajiban yang diatur dalam POJK ini.
A.7.Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank