Tip Perlindungan Konsumen
E. Pengembangan Perbankan Syariah
1. Tinjauan Umum Perbankan Syariah
Kondisi perekonomian yang masih belum sebaik kondisi pada tahun sebelumnya menimbulkan adanya sedikit ketidakpastian/uncertainty dalam berbisnis yang turut mempengaruhi pertumbuhan perbankan syariah, karena industri perbankan syariah adalah real sector driven dimana penurunan kinerja sektor riil akan berdampak secara langsung kepada kinerja dan pertumbuhan perbankan syariah, termasuk berpengaruh terhadap pertumbuhan aset dan pembiayaan perbankan syariah. Lebih jauh lagi, dengan adanya proses konsolidasi internal yang terjadi pada bank syariah besar turut mempengaruhi perkembangan perbankan syariah, disamping kendala dari faktor internal perbankan syariah lainnya seperti kapasitas SDM, jaringan kantor dan infrastruktur lain. Sampai dengan saat ini perbankan syariah masih didominasi (±98%) oleh BUS dan UUS, dengan share ±4,9 %.
2. Pelaksanaan Kebijakan Perbankan Syariah
Selama tahun 2014, pelaksanaan kebijakan terkait dengan ketentuan perbankan syariah adalah telah dikeluarkannya beberapa ketentuan yaitu: (i) POJK Nomor 8/POJK.03/2014 dan SEOJK Nomor 10/SEOJK.03/2014 tanggal 11 Juni 2014 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan BUS dan UUS, (ii) POJK Nomor 16/POJK.03/2014 tanggal 18 November 2014 tentang Penilaian Kualitas Aset BUS dan UUS, (iii) POJK Nomor 21/POJK.03/2014 tanggal 18 November 2014 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum BUS.
56
Booklet Perbankan Indonesia 2015
Sementara terkait dengan kegiatan pengawasan perbankan syariah, sesuai dengan mandat kepada OJK di dalam UU dilaksanakan secara kontinyu dengan mekanisme off-site dan on-site supervision. Berdasarkan POJK Nomor 8/POJK.03/2014 dan SEOJK Nomor 10/SEOJK.03/2014 tanggal 11 Juni 2014 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan BUS dan UUS, metode penilaian Tingkat Kesehatan Bank BUS dan UUS diubah menggunakan metode RBBR. Aspek penilaian meliputi penilaian Profil Risiko, Penerapan GCG, Rentabilitas dan Pemodalan. Berdasarkan assessment hasil pengawasan, profil risiko industri perbankan syariah secara umum tergolong moderat dengan kecenderungan terdapat peningkatan Non Perform Financing (NPF). Dalam hal ini, bank diminta agar selalu meningkatkan kualitas manajemen risiko dan sistem pengendalian internal serta memperhatikan prinsip kehati-hatian maupun prinsip syariah dalam menjalankan kegiatan operasional bank, senantiasa menjaga kondisi likuiditas dan memperbaiki ketahanan modal. Sedangkan fokus pengawasan on-site yang dilakukan pada umumnya meliputi aspek risiko operasional, risiko kredit, risiko kepatuhan termasuk kepatuhan terhadap penerapan Prinsip Syariah dan pelaksanaan tata kelola usaha yang baik. Fokus pemeriksaan diarahkan antara lain terhadap risiko hukum dan risiko reputasi, pemantauan perkembangan kualitas pembiayaan dan langkah-langkah perbaikan selain memonitor pencapaian realisasi Rencana Bisnis Bank (RBB) dengan memperhatikan business model bank,
sustainability dan prinsip kehati-hatian. Sedangkan
terkait dengan pengembangan pengawasan, telah dilakukan implementasi Laporan Stabilitas Sistem Moneter dan Sistem Keuangan (LSMK) Bulanan BUS dan UUS secara penuh, sejak pelaporan data bulan Mei 2014 yang disampaikan pada bulan Juni 2014 yang merupakan sumber utama aplikasi Sistem Informasi Perbankan (SIP) Syariah dalam mendukung kegiatan pembinaan dan pengawasan BUS dan UUS, termasuk untuk penilaian TKS RBBR Syariah. Dimana format
pelaporan bank sebelumnya melalui laporan bulanan bank (LBUS) telah dikembangkan menjadi aplikasi pertama pada LSMK dan pilot project pelaporan perbankan nasional yang mempergunakan format
eXtensible Business Reporting Language (XBRL), yaitu
dengan diubahnya pendekatan form based menjadi pendekatan data centris, sehingga BUS dan UUS tidak lagi menyampaikan informasi dalam bentuk formulir, namun berubah menjadi bentuk data. Agar implementasi LSMK berjalan baik dan untuk menjaga akurasi serta kualitas data LSMK BUS dan UUS, dilakukan evaluasi, dimana hasilnya sebagian besar data LSMK yang disampaikan bank telah konsisten dengan data LBUS 2003t dan telah dipresentasikan kepada industri perbankan syariah pada akhir tahun 2014. Selanjutnya, telah disusun pula draft kebutuhan informasi untuk pengembangan laporan LSMK-BPRS, pedoman laporan RBB untuk BPRS dan kajian penyempurnaan EWS-BPRS.
Dalam rangka mendukung perumusan kebijakan pengembangan perbankan syariah, pada tahun 2014 telah diselesaikan dua penelitian yaitu interkoneksi sistem keuangan syariah dan microbanking model dalam rangka memperluas outreach perbankan syariah. Penelitian pertama menghasilkan initial
map mengenai interkoneksi antara bank dengan
lembaga dan instrumen keuangan syariah. Dengan menggunakan pendekatan balance sheet analysis, diperkirakan secara agregat interkoneksi antar bank syariah dengan IKNB syariah (di luar koperasi), dan terlebih dengan pasar modal syariah masih relatif terbatas, sehingga potensi shock dalam sistem keuangan syariah lebih banyak bersumber dari
real sector, dibandingkan dari pasar keuangan atau
interkoneksi dalam sistem (di luar interbank), dan direkomendasikan pengembangan produk berbasis ekuitas yang dapat melibatkan IKNB maupun Pasar Modal Syariah, serta melakukan penelitian lebih lanjut mengenai model asesmen risiko sistemik dari aktivitas interkoneksi dalam sistem keuangan syariah. Sedangkan penelitian kedua menghasilkan
58
Booklet Perbankan Indonesia 2015
model pembiayaan usaha mikro perbankan syariah dengan dua pola, direct expansion pattern (DEP) dan linkage yang melibatkan pemerintah, lembaga pendukung lembaga keuangan mikro (LKM) syariaht dan komunitas sosial masyarakat yang memiliki community development program. Selain itu penelitian merekomendasikan beberapa
requirements yang perlu dipenuhi untuk mendukung
ekspansi pembiayaan mikro bank syariah, antara lain komitmen tinggi manajemen bank, value proposition produk yang tepat, keterlibatan aktif pemerintah melalui program pengembangan usaha mikro, dan kolaborasi bank syariah dengan umbrella body/ penjamin pembiayaan, institusi pendukung LKM syariah, dan komunitas/institusi sosial pemberdayaan usaha (microbankable).
Sedangkan terkait pengembangan produk perbankan syariah, telah dilakukan Review Standart Produk Musyarakah (termasuk Musyarakah Mutanaqisah). Penyusunan hasil review berasal dari
berbagai sumber diantaranya data yang dikirimkan oleh bank-bank syariah terkait Standard Operating
Procedure (SOP) Produk Musyarakah dan Musyarakah Mutanaqishah, ketentuan dan standar syariah yang
dikeluarkan oleh berbagai lembaga seperti Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) oleh Mahkamah Agung, AAOIFI Bahrain dan Bank Negara Malaysia serta analisis yang diperlukan secara kuantitatif dan kualitatif.
Berkenaan dengan kerjasama domestik dan internasional terkait perbankan syariah, telah dibentuk Komite Pengembangan Jasa Keuangan Syariah (KPJKS) sebagai langkah pengembangan dari Komite Perbankan Syariah (KPS) yang sebelumnya ada di BI, dan telah dilaksanakan dua kali rapat KPJKS di tahun 2014 yang menghasilkan beberapa rekomendasi strategis terkait Pengembangan Keuangan Syariah. Selain anggota KPJKS telah berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan perbankan syariah seperti edukasi dan pembahasan
outlook perbankan syariah 2015. Selain itu, untuk mendukung kerjasama pengembangan keuangan syariah pada tahun 2014 telah dilakukan pula MOU antara OJK dengan DSN-MUI
3. Arah Pengembangan Perbankan Syariah 2015 Menyikapi perkembangan ekonomi dan keuangan
serta arah kebijakan di tahun 2015, beberapa kondisi yang diharapkan terjadi pada tahun 2015 yang akan berpengaruh positif terhadap perkembangan perbankan syariah antara lain keberlanjutan dan dimulainya implementasi berbagai upaya sistematis pengembangan keuangan syariah seperti Master
Plan Jasa Keuangan Syariah (antara lain roadmap/ master plan perbankan syariah) oleh OJK, Task force pendalaman pasar keuangan syariah dan Islamic social sector oleh BI, Arsitektur Keuangan
Syariah Indonesia yang dikoordinasikan BAPPENAS bekerjasama dengan Islamic Development Bank (IDB). Selain semakin diintensifkannya gagasan bank syariah besar khususnya milik pemerintah/BUMN.
Selanjutnya telah disusun arah kebijakan pengembangan perbankan syariah tahun 2015 dengan mempertimbangkan arah perkembangan ekonomi, kebijakan pemerintah, masukan industri/
stakeholders lain dan fokus pengembangan keuangan
syariah secara OJK wide, yang difokuskan kepada hal-hal sebagai berikut :
a) Pengembangan produk, aktivitas usaha dan kelembagaan yang lebih terintegrasi dan sinergis; b) Pengembangan pembiayaan dan layanan yang
mendukung sektor ekonomi prioritas, financial
inclusion dan pembiayaan produktif;
c) Penguatan kolaborasi antar otoritas dalam mendukung pengembangan perbankan syariah; d) Penguatan harmonisasi pengaturan dan kebijakan sesama perbankan maupun antar jasa keuangan yang tetap memperhatikan karakteristik syariah; dan
e) Promosi dan edukasi perbankan syariah yang lebih terstruktur, terintegrasi dan sinergis.
60
Booklet Perbankan Indonesia 2015