Tip Perlindungan Konsumen
F. Pengembangan Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
Perkembangan industri jasa keuangan yang cepat berdampak pada perubahan peta persaingan antar lembaga keuangan di Indonesia, termasuk di pasar keuangan mikro. Kondisi persaingan yang semakin tinggi menuntut pelaku bisnis untuk lebih berkreasi menawarkan produk dan layanan sesuai dengan kebutuhan konsumen. BPR sebagai salah satu pelaku dalam pasar keuangan mikro harus siap menghadapi kompetisi tersebut dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip pengelolaan bank yang sehat dan patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Upaya dimaksud harus tetap diwujudkan untuk mencapai visi pengembangan BPR yaitu “Industri BPR yang berdaya saing dalam melayani Usaha Mikro dan Kecil (UMK) dan masyarakat setempat, serta berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi daerah”. Lebih lanjut dalam rangka upaya pencapaian visi
pengembangan BPR tersebut, maka strategi umum pengembangan BPR dijabarkan dalam 3 aspek yaitu: 1. Aspek Posisi BPR
BPR diarahkan untuk tetap merupakan jenis bank yang terbatas dibandingkan dengan BU dalam hal cakupan kegiatan usaha (produk dan aktivitas), wilayah operasional (penyebaran jaringan kantor dan penyaluran kredit). Dalam hal ini, sebesar apapun skala usaha BPR tetap akan berbeda dengan BU dan tidak diarahkan untuk menjadi BU; 2. Aspek Pasar BPR
BPR didorong untuk terus meningkatkan kapasitas usahanya dengan tetap fokus pada penyediaan produk dan jasa perbankan kepada UMK, utamanya pembiayaan kepada usaha produktif UMK dan masyarakat setempat serta berperan dalam program Keuangan Inklusi di daerah; dan 3. Aspek Pengawasan Terhadap BPR
Kebijakan pengawasan BPR diarahkan pada penyempurnaan metode pengawasan berdasarkan risiko yang penerapannya disesuaikan dengan skala modal dan kompleksitas usaha BPR. Oleh karena itu, penerapan prinsip tata kelola yang baik GCG dan manajemen risiko bagi BPR sudah menjadi kebutuhan dan akan segera diimplementasikan.
Perubahan kebijakan pengawasan juga akan diikuti dengan perubahan paradigma pengaturan terhadap BPR antara lain pengaturan yang terkait dengan cakupan kegiatan usaha, pembukaan jaringan kantor dan wilayah penyaluran kredit. BPR yang memiliki kapasitas permodalan yang lebih besar dapat melakukan kegiatan usaha yang lebih luas, dan pada saat yang sama dikenakan regulasi yang lebih lengkap.
Pada tahun 2015 kebijakan pengembangan BPR difokuskan pada upaya untuk memperkuat ketahanan industri dan peningkatan tata kelola guna meningkatkan daya saing melalui kebijakan penguatan permodalan, penerapan prinsip GCG dan penerapan Manajemen Risiko
1. Kebijakan Penguatan Permodalan BPR
Sebagaimana diketahui pada tanggal 19 November 2014 telah diterbitkan POJK Nomor 20/POJK.03/2014 tentang Bank Perkreditan Rakyat yang mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2015. POJK dimaksud mengatur tentang kelembagaan BPR antara lain mengatur mengenai aspek perizinan, persyaratan permodalan, kepengurusan dan kegiatan usaha BPR. Khusus terkait dengan persyaratan permodalan disetor pendirian BPR, POJK dimaksud telah mewajibkan peningkatan jumlah modal disetor minimum pendirian BPR menjadi paling sedikit:
a. Rp14 miliar untuk pendirian BPR di zona 1; b. Rp8 miliar untuk pendirian BPR di zona 2; c. Rp6 miliar untuk pendirian BPR di zona 3; dan d. Rp4 miliar untuk pendirian BPR di zona 4. Persyaratan modal disetor dimaksud tidak wajib
dipenuhi bagi BPR yang telah beroperasi pada saat POJK berlaku atau biasa disebut BPR existing. Mengenai hal tersebut, telah dilakukan kajian guna merumuskan kebijakan penguatan permodalan bagi BPR existing untuk meningkatkan ketahanan dan daya saing BPR ke depan.
Implementasi kebijakan dimaksud dilakukan dengan menetapkan dua threshold modal inti yaitu Rp3 milyar dan Rp6 milyar yang harus dipenuhi oleh BPR selama
62
Booklet Perbankan Indonesia 2015
periode waktu tertentu dengan penjelasan sebagai berikut:
a. Threshold modal inti minimum Rp3 milyar wajib
dipenuhi oleh BPR yang pada saat kebijakan diberlakukan memiliki modal inti kurang dari Rp3 milyar, batas waktu pemenuhan adalah 5 tahun dari tahun 2014; dan
b. Threshold modal inti minimum Rp6 milyar wajib
dipenuhi oleh BPR yang pada saat kebijakan diberlakukan memiliki modal inti Rp3 milyar atau lebih, batas waktu pemenuhan adalah 5 tahun dari tahun 2014.
2. Kebijakan Penerapan Prinsip GCG BPR
Meskipun belum terdapat aturan yang spesifik mengenai GCG BPR, namun dalam berbagai aturan yang berlaku bagi BPR saat ini sudah terkandung semangat penerapan prinsip GCG bagi BPR. Antara lain aturan mengenai larangan rangkap jabatan bagi Direksi dan Komisaris, aturan BMPK, persyaratan lulus Fit and Proper Test (FPT) bagi calon Direksi dan Komisaris, serta aturan-aturan BPR lainnya yang mengandung semangat untuk penerapan prinsip GCG.
Guna meningkatkan efektifitas aturan yang ada saat ini sedang disusun POJK terkait yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Penerapan GCG di BPR meliputi prinsip-prinsip keterbukaan (transparency), akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (responsibility), independensi (independency),
dan kewajaran (fairness).
b. Secara umum penerapan kebijakan GCG bagi BPR akan disesuaikan dengan modal inti BPR yang dibagi dalam 3 kategori yaitu BPR Besar, BPR Menengah dan BPR Kecil:
1) BPR Besar harus menerapkan prinsip GCG secara penuh meliputi pemenuhan jumlah minimum Direksi dan Komisaris, pembentukan komite audit dan komite pemantau risiko, pembentukan satuan kerja audit internal, satuan kerja kepatuhan dan satuan kerja manajemen risiko;
2) BPR Menengah harus menerapkan prinsip GCG sebagaimana BPR Besar, namun tidak harus membentuk komite audit dan komite pemantau risiko; dan
3) BPR Kecil harus menerapkan prinsip GCG secara terbatas yaitu berupa pelaksanaan fungsi dan tidak harus membentuk satuan kerja terkait pelaksanaan prinsip GCG. 3. Kebijakan Penerapan Manajemen Risiko BPR
Dengan semakin berkembangnya skala bisnis BPR maka semakin besar pula potensi risiko kerugian yang dihadapi oleh pengelola BPR. Oleh karena itu, guna mengantisipasi potensi kerugian di kemudian hari perlu diterapkan Manajemen Risiko di BPR yaitu serangkaian metodologi dan prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan risiko yang timbul dari seluruh kegiatan usaha BPR.
Dalam rangka menyusun kebijakan Manajemen Risiko bagi BPR telah dilakukan kajian awal dengan rekomendasi berupa kerangka umum penerapan Manajemen Risiko bagi BPR, termasuk Manajemen Risiko TI di BPR sebagai berikut:
a. Konsep Manajemen Risiko bagi BPR meliputi antara lain jenis risiko yang relevan, penerapan jenis risiko dan proses manajemen risiko (identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko) yang sesuai dengan karakteristik usaha BPR.
b. Secara teknis, penerapan Manajemen Risiko BPR akan disesuaikan dengan skala bisnis BPR yang tercermin dari besaran modal inti BPR yang dibagi dalam 3 kategori yaitu BPR Besar, BPR Menengah dan BPR Kecil:
1) BPR Besar harus menerapkan Manajemen Risiko secara penuh yaitu menerapkan seluruh risiko yang relevan, membentuk satuan kerja Manajemen Risiko dan membentuk komite Manajemen Risiko; 2) BPR Menengah harus menerapkan
Manajemen Risiko sebagaimana BPR Besar, namun tidak harus membentuk komite
64
Booklet Perbankan Indonesia 2015
Manajemen Risiko; dan
3) BPR Kecil harus menerapkan Manajemen Risiko secara terbatas yaitu menerapkan sebagian risiko yang relevan, menunjuk pejabat untuk melaksanakan fungsi Manajemen Risiko dan tidak harus membentuk komite Manajemen Risiko. Manajemen Risiko BPR juga mencakup aspek
TI mengingat penggunaan TI dalam bisnis BPR sudah semakin tinggi dan dapat mempengaruhi profil risiko BPR. Aspek TI menjadi penting karena menyangkut keberlangsungan operasional bank.