PENTINGNYA PENDOKUMENTASIAN PENGETAHUAN TRADISIONAL DI INDONESIA
B. Basis Data Nasional Pengetahuan Tradisional di Indonesia
Saat ini terdapat 2 (dua) macam sistem pendaftaran HaKI di Indonesia, yaitu pasif (deklaratif) dan aktif (konstitutif). Sistem pendaftaran pasif adalah sistem perlindungan HaKI yang bersifat otomatis saat ekspresi nyata terwujud, pendaftaran bukanlah merupakan syarat utama,99 contohnya seperti yang terdapat dalam sistem perlindungan hak cipta, seorang pencipta yang tidak mendaftarkan ciptaannya juga mendapatkan perlindungan, asalkan ia benar-benar sebagai pencipta dari suatu ciptaan tertentu. Sedangkan sistem pendaftaran aktif adalah sistem perlindungan HaKI yang mengutamakan pendaftaran, yang tidak terdaftar tidak memperoleh perlindungan hukum. Sistem perlindungan ini menggunakan azas first to file, yaitu pemegang hak adalah pihak yang mendaftarkan karya intelektualnya untuk pertama kali, contohnya seperti yang terdapat dalam sistem perlindungan hak paten, desain industri dan merek.100
Sistem pendaftaran aktif lebih memberikan kepastian hukum. Karena di dalam sistem perlindungan aktif, seorang pemegang hak akan memiliki sertifikat hak milik suatu karya intelektual yang diberikan oleh pihak yang berwenang,
98 Ibid.
99 Kenny Winston, Dilema Cross Rezim Penegakan Hak Desain Industri dan Hak Cipta;
(http://www.kennywiston.com/crossrezim.doc., diakses tanggal 3 Maret 2007).
100 Ibid.
dalam hal ini di Indonesia adalah Direktorat Jenderal HaKI. Dengan sertifikat hak milik tersebut, pemegang hak yang terdaftar dapat mengajukan gugatan terhadap pihak lain yang secara sengaja atau tidak sengaja telah menyalahgunakan karya intelektualnya. Apabila terdapat pihak lain yang membantah hak karya intelektualnya, maka pihak lain tersebut harus membuktikannya di pengadilan.
Karena beban pembuktian kepemilikan hak dalam sistem aktif berada pada pihak lain, bukan pada pihak yang telah mendaftarkannya secara resmi sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Dalam sistem pendaftaran pasif, beban pembuktian berada pada pihak yang merasa terlebih dahulu memiliki hak atas suatu karya intelektual.
Pembuktian dalam perlindungan sistem pasif harus benar-benar meyakinkan, oleh karena itu pihak yang merasa terlebih dahulu memiliki hak harus dapat menunjukkan bukti yang dapat menjelaskan asal-usul karya intelektualnya, seperti adanya dokumentasi yang dapat membuktikan bahwa karya intelektualnya benar-benar berasal dari perwujudan idenya.
Dalam sistem perlindungan HaKI di Indonesia, permasalahan timbul dari pembuktian suatu karya intelektual yang terkait dengan pengetahuan tradisional.
Permasalahan pembuktian ini berkaitan dengan adanya dokumentasi atas suatu pengetahuan tradisional. Hal ini disebabkan karena pada umumnya suatu pengetahuan tradisional di Indonesia diberikan secara lisan dan turun-temurun, dari generasi ke generasi. Ditambah lagi kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendaftaran HaKI untuk melindungi produk atau karya
intelektualnya, membuat semakin sulitnya mencari alat pembuktian atas kepemilikan suatu pengetahuan tradisional di Indonesia.
Industri-industri di negara maju saat ini seringkali mengangkat hal-hal yang bersifat tradisional ke dunia komersial, hal serupa terjadi juga pada sumber daya hayati. Komersialisasi pengetahuan tradisonal dan sumberdaya hayati menjadi masalah, karena diperoleh tanpa ijin dari negara atau masyarakat pemilikinya. Untuk mengantisipasinya diperoleh solusi bahwa jalan tercepat untuk melindungi pengetahuan tradisional dan sumber daya hayati adalah dengan mendokumentasikannya ke dalam sistem basis data agar Indonesia dapat mengetahui persis kekayaan yang dimilikinya.
Adanya dokumentasi yang memadai atas pengetahuan tradisional Indonesia dapat berfungsi sebagai mekanisme perlindungan defensif. Untuk menanggulangi penyalahgunaan instrumen HaKI terhadap pengetahuan tradisional Indonesia di luar negeri. Dokumentasi ini dapat dimanfaatkan oleh advokat-advokat Indonesia sebagai dasar pembuktian bahwa suatu pengetahuan tradisional Indonesia yang didaftarkan atau dimanfaarkan oleh pihak asing di luar negeri adalah tidak orisinil atau bukan berasal dari daerah asal pihak asing tersebut.
Dokumentasi sangat penting dalam kaitannya dengan perlindungan pengetahuan tradisional yang terkait dengan komoditas-komoditas asli Indonesia.
Seperti dalam kasus Kopi Toraja yang telah didaftarkan mereknya oleh beberapa perusahaan asing di Jepang, sebenarnya dapat dibatalkan pendaftarannya.
Sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 22 TRIPs, bahwa setiap pihak yang mendaftarkan suatu merek harus membatalkan merek barang yang telah didaftarkannya apabila merek tersebut mengandung indikasi geografis dan terbukti barang tersebut bukan berasal dari daerah si pendaftar.101 Namun permasalahannya harus ada alat bukti berupa dokumentasi yang dapat dijadikan dasar dalam kaitannya dengan indikasi geografis, yang dapat membuktikan bahwa Kopi Toraja itu benar-benar asli Indonesia.
Pentingnya membangun basis data nasional dalam rangka memanfaatkan pengetahuan tradisional dalam kehidupan modern. Dengan membentuk suatu sistem dokumentasi dan jaringan informasi yang bersifat nasional dapat memberikan informasi yang seluas mungkin kepada masyarakat mengenai pengetahuan tradisional dan sumber daya hayati yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia. Selain itu basis data juga dapat sangat berguna, ketika ada pihak lain yang secara tidak adil dan curang menggunakan pengetahuan tradisional dan sumber daya hayati yang berasal dari Indonesia.
Basis data dapat berfungsi untuk mengatasi kesulitan dalam menemukan dokumentasi yang akan digunakan sebagai alat bukti, untuk menyelesaikan pertikaian atas suatu pengetahuan tradisional. Contohnya seperti sengketa antara Indonesia dan Malaysia dalam kasus lagu Rasa Sayange, pada awalnya pemerintah Indonesia menemui kesulitan dalam membuktikan bahwa lagu Rasa
101 Syafnijal Datuk Sinaro, Komoditas Kopi Harus di Lindungi.
Sayange adalah warisan budaya bangsa Indonesia.102 Sampai pada akhirnya ditemukannya arsip pita rekaman lagu Rasa Sayange yang diproduksi pada tahun 1962. Kesulitan dalam menemukan pembuktian ini tidak perlu terjadi seandainya Indonesia sudah memiliki basis data yang memadai. Dengan adanya basis data ini, Indonesia dapat mempunyai bukti dan data kekayaan sumber daya genetik, pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisionalnya. Apabila ada negara lain yang telah menggunakan atau mendaftarkan materi dari sumber daya genetik, pengetahuan tradisional atau ekspresi budaya tradisional Indonesia, basis data ini dapat membatalkan penggunaan atau pendaftaran negara tersebut.
Adanya pendokumentasian yang baik terhadap pengetahuan tradisional dapat mencegah penyalahgunaannya oleh pihak tertentu. Contohnya seperti di India, Pemerintah India telah mendokumentasikan secara lengkap resep-resep pengobatan tradisionalnya di dalam basis data.103 Strategi ini berhasil menjadi dasar untuk melarang permohonan paten yang menggunakan resep-resep tradisional India dan telah berhasil juga digunakan untuk membatalkan beberapa pendaftaran paten yang telah dilakukan oleh inventor dari negara lain. Selain resep pengobatan tradisionalnya, basis data di India yang setebal 30 juta halaman tersebut juga berisi daftar 100.000 jenis jamu, beribu tanaman dan posisi yoga, jenis masakan, pola arsitektur, cara bertani, beras Basmati dan teh Darjeeling.104
102 M. Hanafi Holle, Tak Dapat di Sangkal Rasa Sayange Asli Maluku.
103 Syafnijal Datuk Sinaro, Komoditas Kopi Harus di Lindungi.
104 T. Jacob, Hak Milik Akal Tradisional, Harian Kedaulatan Rakyat; (http:// batikindonesia.
info/2005/12/29/prof-dr-t-jacob-hak-milik-akal-tradisional/, 29 Desember 2005).
Tindakan aktif dalam mendata, mempublikasikan, melestarikan, dan mengembangkan karya tradisional perlu dilakukan, karena berguna untuk memperkenalkan dan menginformasikan tradisi ke dunia luar. Cara pemerintah China mungkin bisa digunakan sebagai inspirasi dalam melestarikan, mengembangkan, dan mempublikasi karya-karya masyarakat tradisionalnya.
Pemerintah China aktif melakukan penelitian atas karya-karya tradisionalnya, dan hasilnya dimasukkan kedalam basis data dan dipublikasikan secara luas. Festival kesenian tradisional maupun donasi bagi pengembang pengetahuan tradisional juga menjadi perhatian pemerintah China. Tidak hanya itu, pemerintah China juga secara khusus menetapkan hari kebudayaan tradisional.105
105 Ibid.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian dan pembahasan yang telah penulis lakukan, maka penulis sampai pada kesimpulan sebagai berikut:
1. Pengaturan mengenai hak cipta dan hak merek dalam UUHC 2002 dan UUM 2001, belum dapat sepenuhnya melindungi pengetahuan tradisional di Indonesia. Tradisi sastra lisan seperti dongeng, legenda atau pantun, yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, tidak dapat dilindungi oleh peraturan hak cipta yang ada. Karena bertentangan dengan sifat perwujudan ide dan keaslian yang terdapat didalam hak cipta. Tumpang tindih antara pengaturan merek dan indikasi geografis menyebabkan produk lokal yang mengandung nilai-nilai tradisi daerah asal tidak dapat dilindungi.
Adanya ketentuan mengenai penolakan pendaftaran terhadap merek yang hanya mengandung keterangan atau berkaitan dengan barang atau jasa, merupakan salah satu faktor penyebabnya.
2. Pembuatan dokumentasi dan basis data merupakan salah satu upaya untuk melindungi pengetahuan tradisional Indonesia dari penyalahgunaan pihak asing. Basis data dan dokumentasi ini dapat sangat berguna bagi para praktisi
hukum dalam menemukan alat bukti, saat akan mengajukan gugatan terhadap pihak asing yang telah menyalahgunakan pengetahuan tradisional Indonesia.
B. Saran
Penulis mencoba untuk mengemukakan saran-saran yang diantaranya sebagai berikut:
1. Dalam memanfaatkan pengetahuan tradisional secara berdayaguna, pemerintah perlu segera memprioritaskan penyusunan aturan perlindungan khusus mengenai pengetahuan tradisional atau indikasi geografis yang memihak pada komunitas lokal yang memiliki dan menguasai pengetahuan tradisional tersebut. Sistem perundang-undangan tersebut harus memperhatikan dan melindungi bagaimana sumber daya manusia sebagai pelaku dalam tradisi yang memproses, menumbuhkan, mengembangkan, dan memelihara, sehingga produk ekspresi budaya tradisional itu menjadi ada.
2. Pemerintah perlu segera membuat basis data pengetahuan tradisional yang bersifat nasional. Selain berguna sebagai sarana informasi, adanya basis data ini dapat mengatasi kesulitan dalam menemukan dokumentasi yang akan digunakan sebagai alat bukti. Pemerintah sebagai ujung tombak dari bangsa Indonesia memang sudah sewajarnya menanggung beban untuk membawa bangsa ini keluar dari permasalahan. Namun tanpa adanya bantuan dari masyarakat, tidak akan mungkin dapat dicapai suatu hasil yang maksimal.
Pendaftaran karya intelektual oleh masyarakat, tentunya akan sangat
membantu pemerintah dalam membuat pendokumentasian karya intelektual.
Kelalaian dalam mempublikasikan dan mendokumentasikan mempersulit upaya hukum, karena akan menyebabkan sulitnya mencari alat bukti yang dapat menunjukkan kepemilikan suatu kekayaan tradisional indonesia yang disalahgunakan oleh pihak asing.