UNDANG-UNDANG NO.19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA DAN UNDANG-UNDANG NO.15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK
B. Pengaturan Indikasi Geografis Dalam UUM 2001
1. Pemahaman Keliru Tentang Indikasi Geografis
Indikasi geografis dan merek sesungguhnya adalah dua rezim kekayaan intelektual yang berbeda.41 Dimulai dari sejarah yang berbeda, berkembang dibelahan dunia yang berbeda, dan memiliki beberapa elemen unik yang membuat keduanya dapat dibedakan secara jelas.
39Maryadi, Transformasi Budaya (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2000), 53.
40 M. Syamsudin, Nilai-Nilai Karya Cipta dan Problematika Hukumnya; ((http: // www.
iprcentre.org/artikel/NilaiNilai%20Karya%20Cipta%20dan%20Problematika%20Perlindungan%2 0Hukumnya.pdf., diakses tanggal 17 Februari 2008)
41 Miranda Risang Ayu, Memperbincangkan HaKI Indikasi Geografis (Bandung: P.T. Alumni, 2006), 36.
Kepemilikan merek bersifat privat, karena penetapan suatu tanda sebagai merek terjadi akibat kesengajaan oleh produsen produk tersebut dan bukan karena ditetapkan oleh masyarakat. Pemegang hak merek berkepentingan untuk mencegah mereknya ditiru atau dipalsu, karena produk peniru apalagi palsu tersebut dapat mengurangi pendapatannya atau mengerosi reputasinya. Dalam banyak sektor perdagangan, merek menjadi penting karena itulah yang menarik konsumen untuk membeli produk tersebut. Oleh karena itu, banyak perusahaan yang mau bersusah payah dan mengeluarkan uang banyak untuk membangun atau mempertahankan reputasi mereknya
Berbeda dengan merek, perlindungan indikasi geografis bersifat komunal dan bukan oleh perseorangan.42 Karena banyak sekali produk indikasi geografis yang dikelola secara kolektif, dari generasi ke generasi dan dikenal dengan nama tempat asal. Jika dibandingkan dengan merek, pengembangan indikasi geografis bersifat sangat menguntungkan bagi masyarakat tempat asal, karena dapat meningkatkan nilai tambah atau mendorong masyarakat tempat asal untuk meningkatkan produk unggulan mereka.
Indikasi geografis merupakan salah satu rezim kekayaan intelektual yang paling banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya setempat. Produk unggulan suatu daerah atau negara yang telah dilindungi oleh indikasi geografis, biasanya merupakan pencerminan langsung dari nilai budaya setempat yang dominan, contohnya seperti minuman anggur Champagne dari Perancis atau beras langsing Basmati dari India.
42 Direktorat Kerjasama dan Perdagangan Internasional, Peningkatan Nilai Tambah Komoditas Indonesia;(http://ditjenkpi.depdag.go.id/website_kpi/files/content/2/Indikasi_Geografis_Final2006 0106141403.doc, diakses tanggal 13 Februari 2008).
Nilai tradisional merupakan bagian yang menjadi pertimbangan dalam perlindungan indikasi geografis. Adanya hubungan kesejarahan yang jelas antara produk dan tempat asalnya, biasanya dibuktikan dengan adanya nilai-nilai tradisi yang tetap terjaga dalam proses pembuatan produk tersebut.43
Indikasi geografis lebih tepat digunakan untuk memberikan perlindungan terhadap pengetahuan tradisional. Indikasi geografis dapat dijadikan alternatif perlindungan hukum terhadap pengetahuan tradisional. Karena perlindungan indikasi geografis tidak mensyaratkan orisinalitas sekualitas hak Cipta atau tingkat invensi setinggi paten, yang hanya perlu dibuktikan adalah suatu nama yang disandang oleh barang atau karya material terkait punya karakter yang unik, yang berasal dari pengaruh faktor alam dan sejarah budaya setempat.
Pemberian perlindungan hukum indikasi geografis sangat ditentukan oleh adanya ciri khas daerah asal produk. Seperti nama tempat, unsur-unsur alam, lingkungan atau benda-benda tertentu yang bersifat unik dari daerah asalnya.
Aspek-aspek ini harus berpengaruh secara langsung terhadap kualitas dan menentukan reputasi dagang dari produk tersebut. 44
Pada umumnya produk yang mempunyai ciri khas dan kualitas dari faktor lokal yang spesifik seperti iklim dan tanah, adalah produk pertanian.45 Seperti Apel Malang yang diproduksi di daerah tertentu bernama Malang di Jawa Timur, dan Beras Cianjur yang diproduksi di daerah tertentu bernama Cianjur di Jawa Barat.
43 Miranda Risang Ayu, Memperbincangkan HaKI Indikasi Geografis, 52.
44Ibid., 2.
45 Miranda Risang Ayu, Perlindungan Hukum Indikasi Geografis, Media HKI, April 2004;
(http://www.dgip.go.id/ebhtml/hki/filecontent.php?fid=9119, diakses tanggal 13 Februari 2008)
Penggunaan indikasi geografis tidak hanya terbatas kepada produk pertanian, indikasi geografis juga dapat merupakan pertanda kualitas khusus produk yang disebabkan oleh faktor manusia. Ciri khas yang disebabkan oleh faktor manusia tersebut, dapat berkaitan dengan keahlian dan tradisi khusus dari tempat asal.46 Contohnya keahlian khusus masyarakat Palembang, Sumatera Selatan, dalam membuat Songket Palembang.
Terdapat beragam istilah yang dipakai untuk mendefenisikan indikasi geografis. Seperti istilah apelasi asal, indikasi sumber atau indikasi asal, dan penunjuk asal. Keberagaman istilah indikasi geografis ini disebabkan oleh tiga hal, yang pertama adalah adanya perbedaan batasan yang dikemukakan oleh konvensi internasional yang beragam.47 Kedua, adalah belum adanya kesepakatan ruang lingkup dan cara implementasi perlindungan indikasi geografis yang dapat menjembatani perbedaan di tingkat internasional. Dan yang ketiga, adalah pengaruh pilihan hukum negara-negara terkait.48 Namun dari berbagai istilah tersebut, terdapat satu kesamaan di dalamnya, yaitu harus adanya aspek tempat asal produk yang dapat dipergunakan sebagai tanda.49
Pengaturan internasional indikasi geografis pertama kali terdapat pada Konvensi Paris tahun 1883.50 Meskipun indikasi geografis tidak ditentukan sebagai rezim yang spesifik, dalam konvensi ini terdapat beberapa prinsip dasar yang berkaitan dengan penanganan atas indikasi yang salah atau false indications,
46 Direktorat Kerjasama dan Perdagangan Internasional, Peningkatan Nilai Tambah Komoditas Indonesia.
47 Miranda Risang Ayu, Memperbincangkan HaKI Indikasi Geografis, 39.
48 Ibid., 40.
49 Ibid., 42.
50 Ibid., 3.
termasuk indikasi tempat yang salah atau false indication to the source. Konvensi ini secara umum menentukan kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan cara penanganan barang-barang impor yang mengandung merek dagang maupun nama dagang yang melawan hukum, termasuk barang-barang yang menggunakan tanda asal tempat yang tidak tepat.
Pada Perjanjian Madrid 1891 tentang Represi terhadap Indikasi asal Barang yang Salah atau Menyesatkan (The Madrid Agreement for the Repression of False or Deceptive Indications of Source on Goods of 1891) tidak mempergunakan istilah indikasi geografis, tetapi indikasi asal atau Indication of Source dari produk barang.51 Perjanjian ini juga tidak menyatakan definisi Indikasi asal secara eksplisit. Meskipun demikian, dengan adanya keharusan untuk menyita setiap barang yang memakai indikasi asal yang salah atau menyesatkan, bisa ditafsirkan bahwa setiap indikasi asal harus secara jelas merepresentasikan tempat asal dari barang terkait.
Perjanjian Lisabon 1958 tentang Perlindungan Apelasi Asal dan Registrasi Internasionalnya memperkenalkan istilah yang mirip dengan Indikasi Geografis, yakni apelasi asal atau Appellations of Origin.52 Syarat utama dalam Apelasi Asal untuk menentukan dapat tidaknya suatu tempat menjadi apelasi asal biasanya adalah faktor lingkungan alamnya. Faktor manusia yang mempengaruhi dan menguatkan karakter khusus tersebut juga diperhitungkan, tetapi harus dikaitkan dengan faktor lingkungan alam sebagai faktor dominan.
51 Tantono Subagyo, Possibility of Using GI to Develop Market for Traditional Knowledge and Genetic Resources in Indonesia; (http://www.dgip.go.id/ebhtml/hki/filecontent.php?fid=9118., 25 Februari 2004).
52 Miranda Risang Ayu, Perlindungan Hukum Indikasi Geografis.
Hal yang menarik untuk dicatat adalah bahwa Perjanjian Lisabon 1958 memberikan ke-17 negara anggotanya perlindungan produk apelasi asal secara terus-menerus.53 Dalam Pasal 6 Perjanjian Lisabon, dinyatakan bahwa di dalam negara-negara anggota penandatangan perjanjian ini, setiap barang yang diproteksi menurut perjanjian ini tidak akan menjadi generik meskipun ia telah menjadi amat terkenal sehingga konsumen mulai menggeneralisasi barang-barang yang mirip sebagai barang tersebut.
Pengaturan indikasi geografis baru mendapatkan kesempatan yang lebih luas dalam Perjanjian TRIPs, ketika komunitas eropa memperkenalkan istilah indikasi geografis dan indikasi asal dalam perjanjian pembentukan WTO,54 dimana perjanjian ini mengikat mayoritas negara di dunia yang tergabung dalam keanggotaannya. Indikasi geografis diatur secara independen dalam bagian 3 Pasal 22 sampai dengan Pasal 24 Perjanjian TRIPs. Menurut Pasal 22 ayat 1 perjanjian ini, indikasi geografis adalah indikasi yang menandakan bahwa suatu barang berasal dari wilayah teritorial negara anggota, atau dari sebuah daerah atau daerah lokal didalam wilayah teritorial itu, yang membuat kualitas, reputasi, atau karakter-karakter khusus lain dari barang tersebut dapat dikaitkan secara esensial kepada asal geografis barang itu.55 Pasal 22 (2a) TRIPs menyebutkan bahwa tujuan utama dari perlindungan Indikasi Geografis ini, adalah untuk melindungi konsumen dari kesesatan atau kebingungan. Tujuan ini serupa dengan tujuan utama dari merek. Hanya saja, berbeda dengan merek, indikasi geografis selalu berkaitan dengan daerah asal barang.
53 Ibid
54 Miranda Risang Ayu, Memperbincangkan HaKI Indikasi Geografis, 4.
55 Ibid., 41.
TRIPs membuka kesempatan kepada negara-negara pesertanya, termasuk Indonesia, untuk memilih melindungi indikasi geografis menurut standar TRIPs saja, atau lebih. Namun dengan syarat, bahwa ketentuan-ketentuan yang termuat dalam TRIPs, adalah perlindungan minimal yang harus dipenuhi oleh setiap anggota (the minimum standard protection principle).
Indonesia sebagai salah satu negara penandatangan perjanjian TRIPs, merasa perlu untuk mengimplementasikan pengaturan indikasi geografis dalam perundang-undangannya. Karena Banyaknya produk unggulan daerah yang telah dihasilkan dan mendapatkan tempat di pasar internasional yang memerlukan perlindungan, seperti Kopi Mandailing, Lada Muntok, Batik Solo, Songket Palembang, Sarung Samarinda.56
Pengembangan indikasi geografis di Indonesia bersifat sangat menguntungkan. Karena disatu segi dapat memberikan perlindungan hukum bagi produk khas daerah di Indonesia yang dapat meningkatkan nilai tambah, dan mendorong daerah untuk meningkatkan produk unggulan mereka. Di segi lain perlindungan indikasi geografis yang bersifat komunal dan kolektif sejalan dengan nilai-nilai tradisi ketimuran dan ke Indonesian, yang lebih menghargai kepemilikan bersama daripada kepemilikan pribadi.57
Indonesia lebih memilih mengintergrasikan pengaturan indikasi geografis kedalam peraturan merek. Dalam hal ini ketentuan mengenai indikasi geografis terdapat dalam UUM 2001, yang pelaksanaannya diatur dalam Peraturan
56 Direktorat Kerjasama dan Perdagangan Internasional, Peningkatan Nilai Tambah Komoditas Indonesia.
57Miranda Risang Ayu, Memperbincangkan HaKI Indikasi Geografis, 9.
Pemerintah No.51 Tahun 2007 Tentang Indikasi Geografis (selanjutnya disebut PP No.51).
Menurut pasal 56 ayat 1 UUM 2001, indikasi geografis adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang. Yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut, memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan.
Selanjutnya pada penjelasan Pasal 56 ayat 1 UUM 2001, menegaskan bahwa indikasi geografis menunjuk pada adanya kualitas, reputasi, karakteristik dan juga meliputi barang-barang seperti kerajinan tangan.
Pengaturan indikasi geografis di dalam undang-undang merek di Indonesia, menimbulkan pemahaman yang keliru tentang indikasi geografis.
Permasalahannya terletak pada kemungkinan masyarakat yang mempunyai kepentingan langsung, atau tidak langsung akan memahami bahwa indikasi geografis dipersamakan dengan merek. Padahal apabila melihat pada substansinya, indikasi geografis dan merek merupakan dua hal yang berbeda.
Perbedaan substansial antara indikasi geografis dengan merek dapat dilihat dari apa yang disebutkan oleh WIPO. yaitu:
“ Trademark is a sign used by an enterprise to distinguish its goods and services from those of other enterprises. It gives its owner the right to exclude others from using the trademark. A geographical indication tells consumers that a product is produced in a certain place and has certain characteristics that are due to that place of production. It may be used by all producers who make their products in the place designated by a geographical indication and whose products share typical qualities.”58
58 WIPO, Geographical Indications; (http://www.wipo.int/about-ip/en/geographical_ind.html, diakses tanggal 20 Februari 2008).
Berdasarkan defenisi yang disebutkan oleh WIPO diatas, terlihat jelas perbedaan substansial antara merek dan indikasi geografis. Merek yang digunakan oleh produsen, berfungsi untuk membedakan produk dan jasa yang disediakannya dengan produk dari produsen lain. Sedangkan indikasi geografis berfungsi untuk menunjukkan kepada konsumen, bahwa suatu produk diproduksi di suatu tempat tertentu dan mempunyai ciri khas yang disebabkan atau berasal dari tempat produksi tersebut. Merek memberikan hak kepada pemiliknya untuk mengecualikan produsen lain dalam penggunaan merek yang sama. Indikasi geografis dapat digunakan oleh semua produsen, yang membuat produknya di tempat yang disebutkan oleh indikator geografisnya dan yang produknya mempunyai kualitas yang khusus.
Istilah tanda dalam konteks merek tidak sama dengan yang diatur dalam konteks indikasi geografis. Dalam konteks merek, tanda tersebut yang penting adalah harus memiliki daya pembeda. Berdasarkan doktrin spectrum of distinctiveness, kekuatan daya pembeda suatu merek dapat dikelompokkan menjadi lima, fanciful, arbitrary, suggestive, descriptive, dan generic.59 Dalam konteks indikasi geografis, tanda tersebut harus menunjukkan daerah asal dari suatu produk, sedangkan produknya itu sendiri harus menunjukkan ciri dan kualitas tertentu yang dihasilkan oleh faktor lingkungan geografis, yang meliputi faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut. Jika tanda dalam merek diberikan oleh produsen produk, maka tanda dalam indikasi geografis diberikan oleh masyarakat asal produk.
59 Direktorat Kerjasama dan Perdagangan Internasional, Peningkatan Nilai Tambah Komoditas Indonesia.
Pemahaman yang keliru juga dapat disebabkan oleh ketentuan yang mengatur mengenai indikasi geografis pada Pasal 56 sampai dengan Pasal 58 UUM 2001, dengan ketentuan Pasal 5 (d) UUM 2001 yang menyatakan, bahwa merek tidak dapat didaftar apabila merek tersebut mengandung keterangan atau berkaitan dengan barang atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya. Padahal, suatu tanda dalam indikasi geografis sudah pasti akan menyebut nama barang yang dihasilkan sebagai ciri khas hasil produksi dari daerah yang menghasilkan barang tersebut, contohnya seperti Markisa Ujung Pandang, Tembakau Deli, Apel Malang, Kopi Toraja.
Pemahaman yang keliru lainnya dapat disebabkan oleh adanya inkonsistensi dalam memberikan batasan perlindungan indikasi geografis. Dalam penjelasan Pasal 56 ayat 1 UUM 2001, dan juga disebutkan dalam Pasal 2 ayat 2 PP No.51, dimana dijelaskan bahwa salah satu perlindungan atas indikasi geografis meliputi barang yang dipengaruhi oleh faktor alam atau faktor manusia, seperti produk hasil pertanian atau kerajinan tangan. Namun dalam pelaksanaannya, Pasal 6 ayat 3 d PP No.51 menyebutkan permohonan indikasi geografis harus mencantumkan uraian mengenai faktor alam dan faktor manusia yang menjadi kesatuan dalam mempengaruhi produk indikasi geografis. Hal ini berarti hanya produk olahan saja yang mendapatkan perlindungan, karena mempunyai unsur dari faktor alam dan faktor manusia, Sedangkan produk hasil pertanian dan kerajinan tangan tidak mendapatkan perlindungan.
Hal lain yang dapat menyebabkan pemahaman yang keliru, adalah mengenai permohonan pendaftaran indikasi geografis oleh konsumen. Dalam
pasal 56 ayat 2 UUHM 2001, disebutkan bahwa pihak pemohon pendaftaran indikasi geografis dapat berupa kelompok konsumen dari barang terkait.
Kewenangan pendaftaran oleh konsumen tidak tepat, karena konsumen tidak berkepentingan untuk memproduksi dan memasarkan produk. Konsumen hanya berkepentingan terhadap adanya jaminan kualitas dari produk yang dibelinya.
Manfaat dari pendaftaran indikasi geografis selalu dipegang oleh produsen atau pedagang, tidak pernah dipegang oleh konsumen. Pendaftaran oleh konsumen ini dapat menimbulkan ketidakpastian hukum, mengenai siapa sebenarnya pemilik hak atas indikasi geografis suatu produk.
Demi menghindari timbulnya pemahaman-pemahaman keliru lainnya, perlu dibentuknya peraturan khusus mengenai indikasi geografis di Indonesia.
Pengaturan khusus ini dimaksudkan untuk memberikan jaminan perlindungan hukum bagi produk-produk indikasi geografis dari Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri. Sehingga di kemudian hari tidak ada lagi produk asal Indonesia yang didaftarkan mereknya oleh pihak asing, seperti kasus Kopi Toraja dan Kopi Gayo yang telah didaftarkan oleh perusahaan di Jepang dan Belanda.60