• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNDANG-UNDANG NO.19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA DAN UNDANG-UNDANG NO.15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK

A. Perlindungan Hukum Tradisi Sastera lisan Di Indonesia

1. Konsep Tradisi Sastera Lisan di Indonesia

Pengetahuan tradisional dan ekspresi folklor sebagai gejala warisan budaya dapat tercermin dalam berbagai bentuk ekspresi budaya yang perlu memperoleh prioritas dalam perlindungannya. Hal itu meliputi keragaman yang luas dari mulai kebiasaan, adat-istiadat, bentuk ekspresi artistik, pengetahuan, kepercayaan, proses dari suatu produksi dan ruang yang berasal dari banyak komunitas.

Istilah folklor dan pengetahuan tradisional dapat dipahami sebagai dua istilah yang memiliki pengertian yang sama. Walaupun dalam dunia folklor hingga saat ini masih terjadi pertentangan yang sengit dalam melakukan identifikasi kebudayaan,17 dimana folklor hanya dipahami dalam arti kebudayaan

17 Kusnaka Adhimiharja, Jenis Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Folkfor, Media HKI, Februari 2007; (http://www.dgip.go.id/ebhtml/hki/filecontent.php?fid=9907., diakses tanggal 17 Februari 2008).

yang lebih khusus, yaitu bagian kebudayaan yang diwariskan secara lisan saja (oral tradition).18

Secara umum folkfor dapat dipahami sebagai tradisi dari suatu masyarakat atau bangsa yang diwariskan secara berkesinambungan dan disampaikan secara lisan atau bukan lisan.19 Berdasarkan defenisi tersebut, folklor terbagi dalam dua jenis, yaitu tulisan (keberaksaraan) dan lisan.20 Folklor tulisan di antaranya meliputi arsitektur rakyat, kerajinan tangan, tenun tradisional, dan musik tradisional. Sedangkan folklor lisan yang juga dikenal dengan istilah sastera lisan meliputi, cerita rakyat, legenda, mite, dongeng, hukum tak tertulis, dan mantra-mantra pengobatan.21 Kecuali rerasan masyarakat atau gosip, tidak termasuk dalam tradisi sastera lisan, karena meskipun lisan tetapi tidak diturunkan dari satu generasi ke generasi yang lain.

Sama seperti dokumen dalam masyarakat yang sudah mengenal tulisan, tradisi sastera lisan merupakan sumber sejarah yang merekam masa lampau.22 Sastra lisan adalah salah satu gejala kebudayaan yang terdapat pada masyarakat, yang isinya berkaitan dengan berbagai peristiwa yang terjadi di dalam masyarakat pemilik sastra tersebut. Sastera lisan merupakan gambaran tentang rakyat yang diungkapkan dan diproyeksikan sepanjang waktu.

22 Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah (Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 2003), 25.

Sastera lisan dihasilkan oleh suatu budaya masyarakat yang tertutup, yang tidak banyak berhubungan dengan masyarakat lain dan masih kuat berpegang kepada budaya yang bercorak lama atau tradisional. Masyarakat ini adalah masyarakat kolektif bukannya individu, hasil sastera masyarakat tradisional ini merupakan sastera lisan yang diturunkan dari satu generasi kepada generasi yang lain.23 Dalam tradisi sastera lisan, semangat keindividualan tidak diutamakan kerena sikap ini sangat berlawanan dengan semangat masyarakat pemilik tradisi sastera lisan tersebut.

Pada umumnya tradisi sastera lisan mempunyai beberapa sifat yang khusus, antara lain yang pertama dan paling utama adalah berhubungan dengan cara ia disampaikan, yaitu hampir keseluruhan cerita itu disampaikan dengan menggunakan teknologi pengucapan. Selain itu, tradisi lisan itu dilahirkan dalam masyarakat sederhana yang memaparkan ciri-ciri budaya asal masyarakat yang melahirkannya dan dianggap sebagai milik bersama atau merupakan hak kolektif, bukannya hak perseorangan.

Dalam perkembangannya di Indonesia, tradisi sastera lisan baik yang berbentuk syair maupun prosa, merupakan corak kekhasan tersendiri yang terbangun melalui relasi lajur sejarah yang panjang. Satu tradisi dari bangsa Yunan (China) yang diyakini sebagai nenek moyang bangsa Indonesia, dan satu tradisi dari ranah India ketika ajaran Hindu dan Buddha menjadi sistem kepercayaan utama masyarakat.24 Ditambah oleh tradisi Arab Islam yang

23 Nasir Hamid, Hikayat Raja Pasai; (http://www.karyanet.com.my/ net/ebook /preview/ previu_

Hikayat_Raja_Pasai.pdf, diakses tanggal 17 Februari 2008)

24 Muhammad Ali Fakih, Tradisi Sastra Lisan Yang Terlupakan; (http://www.lampungpost.com/

cetak/berita.php?id=2008021615381028, 17 Februari 2008)

disebarkan oleh para musafir Timur Tengah, menjadi unsur sejarah teramunya corak kekhasan tradisi sastra lisan bangsa Indonesia.25

Tradisi sastra lisan di Indonesia bukan hanya berupa narasi, legenda, anekdot, pantun, atau dongeng saja, namun mempunyai cakupan yang lebih luas.

Mulai dari visualisasi sastra dengan gerakan dalam tari, seperti seni tradisi Saman dari Aceh, hingga penyajian cerita melalui aktualisasi adegan-adegan oleh pemeran didalam drama, seperti seni tradisi ketoprak dan ludruk dari daerah jawa.

Pancaindera yang digunakan untuk menerima hasil sastera lisan bukan hanya telinga, tetapi juga menggunakan mata. Karena si penutur cerita lisan mungkin menggerakkan badan, tangan, kaki atau kepala untuk menonjolkan ceritanya dalam suatu pementasan. Suatu pementasan bukan hanya sebuah seni pertunjukan, tetapi juga merupakan suatu alat komunikasi dalam masyarakat yang sifatnya kontekstual, karena gerakan didalam suatu pementasan atau seni pertunjukkan mempunyai makna dan berbicara. 26

Penciptaan sebuah sastera lisan di Indonesia, dibatasi oleh kaedah penciptaan yang ketat. Penciptaannya terikat oleh estetika persamaan yang menetapkan bahawa dasar keindahan terletak pada persamaan dan perulangan, bukannya pembaharuan.27 Keterikatan inilah yang menyebabkan penutur cerita sastera lisan dapat mempersembahkan ceritanya secara utuh dan berkesinambungan.

25 Ibid.

26 Ibid.

27Nasir Hamid, Hikayat Raja Pasai.

Tradisi sastera lisan tidak hanya sekedar penuturan, melainkan sebuah konsep pewarisan budaya dan bagian manusia itu sendiri sebagai makhluk sosial.

Proses pewarisan yang telah berjalan secara turun-temurun dan adanya interaksi langsung antara penutur dan masyarakat atau penontonnya, merupakan dua hal pokok dalam proses penciptaan tradisi lisan.28

Tradisi sastra lisan mempunyai corak kekhasan tersendiri di tiap-tiap daerah dalam ruang etnis dan suku yang mengusung budaya dan adat yang berbeda-beda. Tradisi sastra lisan tidak hanya mengandung unsur-unsur keindahan (estetik), tetapi juga mengandung berbagai informasi tentang nilai-nilai tradisi daerah yang bersangkutan.

Tradisi sastra lisan memerlukan perlindungan hukum, untuk mencegahnya dari pemanfaatan pihak asing demi keuntungan pribadi semata. Contohnya seperti cerita I La Galigo yang berasal dari budaya lisan masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan.29 Cerita ini sudah sering dipentaskan dibeberapa negara di dunia, diantaranya Siangapura dan Amerika Serikat.30 Jangan sampai hak cipta cerita I La Galigo ini, lebih dahulu dimiliki oleh pihak asing.

Dokumen terkait