• Tidak ada hasil yang ditemukan

BASIS MODAL NAFKAH RUMAHTANGGA NELAYAN DI DUA DESA

Pemanfaatan Modal Nafkah Rumahtangga Nelayan di Desa Muara Binuangeun

Pemanfaatan lima modal oleh rumahtangga nelayan di Desa Muara Binuangeun memiliki berbagai variasi. Pemanfaatan lima modal nafkah ini dilihat berdasarkan beberapa variabel. Variabel inilah yang kemudian menjadikan adanya perbedaan tingkat pemanfaatan modal nafkah antar lapisan ekonomi rumahtangga nelayan. Perbedaan ini menunjukan kecenderungan setiap lapisan ekonomi dalam memanfaatkan modal nafkah. Pemanfaatan modal nafkah ini juga menunjukan kemampuan nelayan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Semakin tinggi modal nafkah yang dimiliki rumahtangga nelayan maka kemampuan nelayan untuk bertahan hidup dan keluar dari kondisi kritis juga tinggi.

Pemanfaatan modal nafkah yang dilakukan oleh rumahtangga nelayan di Desa Muara Binuangeun memiliki perbedaan pada setiap lapisan. Hal ini karena lapisan ekonomi bawah dan lapisan atas memiliki karakteristik pemanfaatan modal yang berbeda. Lapisan ekonomi atas lebih mengandalkan modal finansial. Sedangkan lapisan bawah harus mencari bantuan pinjaman kesana-kemari untuk mampu bertahan ketika sedang musim paceklik. Selain itu, status taweu menjadi sangat penting karena dengan memiliki perahu, nelayan akan mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi. Tingkat pemanfaatan modal nafkah oleh rumahtangga nelayan dapat dilihat pada gambar di bawah.

Gambar 10 Pemanfaatan modal nafkah berdasarkan lapisan ekonomi rumahtangga nelayan Desa Muara Binuangeun tahun 2014-2015

Dari gambar diatas dapat kita lihat perbedaan pemanfaatan lima modal oleh setiap lapisan ekonomi di Desa Muara Binuangeun. Modal alam yang dimanfaatkan oleh setiap lapisan ekonomi bernilai sama. Keadaan ini karena nelayan memanfaatkan modal alam yang sama. Modal alam dalam masyarakat nelayan adalah sumberdaya laut dan tingkat pemanfaatannya dilihat dari akses wilayah tangkapan. Modal alam yang bernilai sedang pada semua lapisan karena nelayan memanfaatkan laut hanya di sekitar perairan desa, biaya resiko yang mereka perlukan tidak terlalu banyak. Akan tetapi jika mereka nga-es (sebutan lokal jika melaut lebih dari satu hari) maka biaya akan lebih mahal. Selain itu, pemanfaatan modal fisik kecenderungannya meningkat dari lapisan bawah hingga

ke atas. Hal ini dikarenakan nelayan bawah tidak memiliki aset fisik berupa perahu sedangkan semakin ke atas nelayan memiliki perahu. Selain aset perahu, modal fisik juga dilihat dari barang-barang berharga yang tidak langsung digunakan ke laut. Semakin tinggi lapisan ekonomi di Desa Muara Binuangeun semakin memiliki kesempatan untuk membeli barang-barang beharga tersebut. Rendahnya kepemilikan perahu bagi nelayan lapisan ekonomi bawah dan menengah adalah karena mahalnya harga perahu. Nelayan tersebut tidak memiliki modal awal untuk membeli perahu dan barang non produksi lainnya.

Modal sosial bernilai tinggi pada semua lapisan karena semua nelayan di desa ini memiliki kelompok yang mereka ikuti baik formal dan non formal. Ikatan kekerabatan antar lapisan juga masih sangat erat karena mereka memiliki hubungan saling membutuhkan. Hubungan tersebut dapat berupa patron client

atau langgan, atau hubungan lain.

Modal manusia bernilai rendah pada lapisan bawah dan menengah akan tetapi bernilai sedang pada lapisan atas. Hal ini dikarenakan pada lapisan bawah tingkat alokasi tenaga kerjanya masih rendah. Rendahnya tingkat alokasi tenaga kerja karena rumahtangga masih mengandalkan kemampuan suami dalam pemenuhan kebutuhan. Sedangkan pada lapisan atas memiliki alokasi tenaga kerja yang lebih tinggi. Hal ini karena keikutsertaan seorang istri dalam mencari nafkah. Mereka sadar bahwa semakin banyak orang yang bekerja maka semakin banyak penghasilan yang akan diperoleh. Dengan demikian, untuk menambah hasil maka mereka ikut bekerja di darat. Sedangkan modal finansial bernilai tinggi hanya pada lapisan atas. Hal ini sudah jelas karena lapisan atas diisi oleh nelayan pemilik perahu sehingga memiliki pendapatan lebih tinggi. Selain itu, mereka juga memiliki kemampuan untuk menabung meski hanya menabung di musim panen.

Modal Alam

Pada masyarakat nelayan, sumberdaya laut merupakan modal alam yang mereka gunakan untuk menjaga keberlangsungan hidup. Pemanfaatan modal alam diukur melalui kemampuan akses terhadap wilayah tangkapan serta kesiapan dalam hal bekal dan bahan bakar. Modal alam menunjukan nilai sedang pada semua lapisan. Artinya, sebagian besar nelayan hanya melaut di kawasan sekitar desa. Dalam hal ini, hanya sedikit nelayan yang beroperasi ke laut lepas. Menurut mereka, akses ke arah laut lepas tidak bisa dilakukan oleh setiap nelayan.

Kepemilikan perahu yang sederhana membatasi nelayan untuk melaut ke wilayah yang lebih jauh. Selain itu, perbekalan dan biaya resiko juga menjadi pertimbangan ketika pergi melaut. Nelayan dapat akses ke laut lepas apabila kelengkapannya mendukung. Selain itu, akses lapisan ekonomi bawah yang didominasi ABK terhadap laut lepas juga dipengaruhi oleh lapisan ekonomi menengah atau lapisan ekonomi atas yang menjadi taweunya. Keterbatasan akses ini dipengaruhi oleh kemampuan membeli bahan bakar dan bekal untuk berangkat ke laut serta kapasitas perahu. Semakin jauh jangkauan wilayah tangkapan maka bahan bakar dan bekal yang diperlukan akan semakin banyak. Namun, pada kenyataannya tidak semua nelayan mampu melakukan itu. Selain itu apabila nelayan mampu melaut ke arah laut lepas maka hasil yang diperoleh dapat lebih tinggi dan akan meningkatkan pendapatan. Berikut adalah penuturan Bapak DE (30):

39

Nelayan di sini mah perahunya kecil-kecil, jenis perahunya itu kebanyakan kincang. Perahu kayak gini gak bisa dipake ke laut yang jauh. Laut sini ombak sama anginnya gede banget, jadi takut juga bahaya ke diri sendiri. Laut lepas itu kalau sudah masuk lintang 7 dan 8, biasanya kita tahu itu dari GPS. Kalau kita sampai ke batas Samudera Indonesia di situ sudah banyak kapal-kapal besar. Kita harus hati-hati karena kita paling kecil sendiri. Mereka juga ngambil ikan kadang masuk wilayah kita, tapi sekarang sudah ada patroli laut jadi pencurian tidak terlalu sering. Kalau kapal-kapal besar itu lewat ya kita harus menjauh karena getaran airnya sangat besar. Selain itu, mereka juga gak bisa lihat perahu kita karena ukuran mereka yang besar dan perahu kita yang terlalu kecil. Jadi di laut lepas itu, kalau perahu kita ketabrak ya merekapun gak bisa disalahkan. Nelayan di sini juga jarang melaut ke wilayah yang jauh karena bahan bakar saat ini semakin mahal, kita gak punya banyak modal untuk berangkat. Jadi terpaksa kita melautnya hanya di sekitaran sini.

Mengenai kondisi laut, wilayah tangkapan yang biasa dijadikan tempat mencari nafkah dalam kondisi bersih dan tidak tercemar. Akan tetapi, dalam beberapa tahun ini, nelayan mengakui bahwa ikan sudah semakin sulit untuk dicari terlebih lagi dengan panjangnya musim paceklik yang bisa mencapai 6 bulan lebih. Pada laut di kedua desa ini terdapat aliran sungai besar yang membentuk sebuah muara. Muara inilah yang kemudian menjadi pembatas antara Desa Muara Binuangeun dan Desa Cikiruh Wetan. Selain itu, muara yang dekat dengan pemukiman ini digunakan nelayan untuk menjangkar perahu-perahunya ketika tidak digunakan untuk melaut. Adanya muara ini membuat daerah sekitar pantai yang dekat muara selalu berwarna cokelat. Selain itu, tempat pelelangan ikan yang berada di pinggir muara membuatnya selalu dalam kondisi yang tidak bersih. Hal ini sudah pasti karena pelelangan itu setiap hari beroperasi terlebih lagi tempat pelelangan ikan Desa Muara Binuangeun yang lebih besar dibanding desa sebelahnya.

Modal Manusia

Modal manusia yang ada pada masyarakat nelayan diukur melalui tiga aspek yaitu tingkat pendidikan, banyaknya anggota keluarga yang bekerja, serta banyaknya keterampilan yang terdapat dalam rumahtangga. Pada lapisan ekonomi bawah, menunjukan modal manusia yang dimiliki nelayan sangat rendah. Jika dilihat dari tingkat pendidikan, semua kepala keluarga yang ada hanya mampu sekolah hingga jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD). Bahkan tidak sedikit juga yang berhenti sebelum mereka lulus. Rendahnya tingkat pendidikan ini karena kondisi ekonomi orangtua. Kondisi ekonomi memaksa mereka putus sekolah dan pergi ke laut bersama orangtuanya sejak kecil. Hal ini masih terjadi hingga generasi berikutnya, anak laki-laki banyak yang tidak melanjutkan pendidikan hanya untuk bekerja menjadi nelayan.

Selain itu, pada lapisan ekonomi bawah ini yang bekerja hanya kepala keluarga. Sedangkan istri hanya menjadi ibu rumahtangga dan menunggu penghasilan dari suami. Jika dilihat dari keterampilan, nelayan pada lapisan ekonomi bawah juga menunjukan nilai yang rendah karena kemampuan bekerjanya hanya di bidang perikanan tangkap. Kemampuan yang dapat mereka lakukan adalah menaklukan besarnya bahaya dan resiko di tengah laut. Kemampuan melaut ini mereka peroleh dari orangtuanya secara turun temurun. Sejak kecil mereka sudah belajar mencari ikan di laut.

Pada lapisan ekonomi menengah, modal manusia juga bernilai rendah. Hal ini menunjukan bahwa dari ketiga kategori yaitu tingkat pendidikan, alokasi tenaga kerja, serta banyaknya keterampilan memiliki nilai rendah. Sebagian besar kepala keluarga hanya memiliki tingkat pendidikan hingga Sekolah Dasar. Hal ini dikarenakan sebagian besar mereka bekerja menjadi nelayan sejak kecil. Inilah yang kemudian membuat mereka putus sekolah. Keahlian melaut tersebut mereka miliki sebagai warisan dari orangtuanya. Jika dilihat dari alokasi tenaga kerja, masih banyak rumahtangga nelayan yang hanya menggantungkan pada keahlian melaut kepala keluarga. Selain itu, tidak adanya pekerjaan lain di luar melaut juga menjadikan keterampilan rumahtangga rendah.

Modal manusia pada lapisan atas menunjukan nilai sedang. Hal ini karena istri pada rumahtangga sudah ikut bekerja. Pekerjaan yang biasa dilakukan istri adalah menjadi seorang bakul (penjual ikan). Selain menjadi bakul, istri juga melakukan kegiatan industri pengolahan yang dikerjakan di rumah. Dari hasil inilah mereka menunjukan adanya keterampilan lain yang menyumbang pada pendapatan.

Modal Fisik

Modal fisik menunjukan kepemilikan aset oleh rumahtangga nelayan. Aset ini dapat berupa aset produksi seperti perahu dan alat tangkap, serta dapat pula berupa aset non-produksi atau barang-barang yang tidak digunakan untuk melaut. Aset produksi dilihat dari kepemilikan perahu sedangkan aset non-produksi dilihat dari jumlah nilai rupiah dari semua barang yang dimiliki. Penghitungan untuk aset non-produksi ini menggunakan standar deviasi.

Pada lapisan bawah, modal fisik yang dimiliki bernilai rendah. Rendahnya modal fisik ini sudah sangat jelas karena mereka tidak memiliki perahu untuk melaut. Mereka melaut ikut taweu dengan menjadi pandega. Nelayan lapisan bawah tidak memiliki perahu karena harga perahu yang mahal sehingga tidak ada kemampuan bagi mereka untuk membelinya. Harga perahu baru rata-rata berkisar pada harga 30 juta rupiah. Nilai ini bukanlah nilai yang kecil dan bukan nilai yang mudah untuk dikumpulkan. Kepemilikan aset non-produksi juga rendah karena pendapatan yang sedikit sehingga mereka tidak memiliki kemampuan untuk membeli barang berharga. Pada lapisan ekonomi menengah, modal fisik yang dimiliki menunjukan nilai sedang. Nilai modal fisik ini menujukan bahwa nelayan pada lapisan menengah memiliki perahu untuk melaut. Kepemilikan perahu ini membuat penghasilan mereka lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan bawah. Hal inilah yang membuat mereka mampu membeli barang-barang non-produksi seperti peralatan rumah bahkan hingga alat transportasi. Selain itu jika dilihat dari kondisi rumah, pada lapisan ini sudah menggunakan rumah permanen dan ukurannya lebih besar dari lapisan bawah.

Pada lapisan ekonomi atas, modal fisik menunjukan nilai tinggi. Modal fisik dilihat dari kepemilikan aset produksi seperti perahu dan alat tangkap serta kepemilikan aset non produksi. Jika dilihat dari aset produksi hampir sebagian besar rumahtangga nelayan lapisan atas adalah seorang taweu (pemilik perahu). Hal ini menyebabkan pendapatannya lebih tinggi jika dibandingkan rumahtangga anak buah kapal. Tingginya pendapatan membuat rumahtangga lapisan atas memiliki kemampuan untuk membeli aset-aset non produksi atau aset berharga.

41

Modal Sosial

Modal sosial pada penelitian ini diukur dari keterlibatan nelayan terhadap kelompok yang memberikan manfaat. Kelompok ini dapat berupa kelompok formal dan kelompok non formal. Kelompok non formal ini dapat berupa kerumunan, arisan, pengajian, dan kelompok masyarakat lainnya. Sedangkan untuk kelompok formal di desa ini terdapat beberapa kelompok yaitu kelompok yang diikuti oleh perempuan. Kelompok tersebut antara lain kelompok pembuat baso ikan, kelompok pembuat kerupuk ikan, dan kelompok pembuat ikan pindang dan ikan asin. Sedangkan kelompok yang diikuti oleh kepala keluarga nelayan adalah kelompok usaha bersama (KUB). KUB merupakan kelompok yang terprogram dari pemerintah pusat. Berdasarkan penuturan petugas UPTD PPI Binuangeun, terdapat syarat-syarat tertentu bagi nelayan untuk bergabung dengan KUB. Syarat tersebut antara lain:

1. Sebagai nelayan aktif; 2. Memiliki kartu nelayan;

3. Memiliki surat kapal bagi pemilik kapal;

4. Memiliki surat izin usaha perikanan (SIUP) serta surat izin penangkapan ikan (SIPI)

Nelayan di Desa Muara Binuangeun lebih banyak bergabung dengan KUB yaitu sebanyak 73% kepala keluarga. Satu KUB terdiri dari 10-12 orang. Manfaat yang mereka peroleh adalah bantuan baik berupa uang maupun kelengkapan melaut. Akan tetapi tidak semua KUB memeroleh bantuan. Terdapat beberapa KUB yang sama sekali belum pernah mendapatkan bantuan. Hal ini menimbulkan adanya kecemburuan sosial.

Pada tahun 2012 KUB di Desa Muara Binuangeun mendapatkan bantuan. Bantuan tersebut dalam bentuk fisik seperti perahu, alat tangkap, atau pun mesin. Selain itu, bentuk bantuan lainnya dapat berupa uang. Terdapat beberapa KUB yang mendapatkan bantuan di Desa Binuangeun ini. Namun sebelum mendapatkan bantuan masing-masing KUB harus membuat sebuah proposal yang kemudian proposal tersebut akan dipilah. Hasil pemilahan tersebut akan menentukan KUB yang dapat memeroleh bantuan dan KUB yang belum bisa memeroleh bantuan.

Berikut penutuan Bapak YY (42):

Kalau kita mau dapet bantuan kita harus punya kelompok dulu, kelompoknya harus tersusun dengan jelas mulai dari ketua kelompok, wakil, sekretaris, bendahara, sampai anggota. Awalnya untuk membentuk kelompok ya kita harus cari orang-orang yang berminat dulu. Setelah kelompoknya terbentuk baru kita mengajukan proposal. Kemudian proposal itu dipilah oleh petugas untuk ditentukan kelompok yang layak mendapatkan bantuan. Bendahara dalam kelompok juga bertugas ketika bantuan sudah turun. Meski bantuan sudah turun, kita tetap menjaga keutuhan dan kebermanfaatan kelompok. Dalam kelompok yang saya bina ada sistem menabung. Menabung ini dilakukan ketika kita ada penghasilan lebih. Uang tabungan ini diputer di antara anggota kelompok. Siapa saja yang membutuhkan maka mereka boleh pakai uang tabungan tersebut. Secara langsung, kelompok ini sangat bermanfaat bagi nelayan.

Selain kelompok nelayan seperti KUB, sebagian besar nelayan juga tergabung dalam kelompok-kelompok non formal seperti kelompok sosial pengajian, kerumunan, arisan, dan kelompok lainnya. Sedangkan ikatan kelompok yang banyak dimiliki rumahtangga nelayan dapat berupa ikatan patronase dan

langgan. Ikatan patronase atau patron client terjadi antara pemilik perahu (taweu) dengan ABK (pandega). Biasanya satu taweu memiliki sedikitnya dua orang

pandega. Ikatan patron client sangat bermanfaat bagi masyarakat nelayan. Berdasarkan penelitian Schulte et al. (2014) di Zanzibar menyebutkan bahwa sebanyak 59.6% nelayan tergabung dalam ikatan patron client. Dalam penelitian itu juga dijelaskan bahwa frekuensi yang paling banyak diterima oleh nelayan adalah dukungan sosial, penggunaan perahu, pekerjaan, serta akses terhadap pasar. Sedangkan ikatan langgan merupakan ikatan yang dibentuk antara seorang

langgan dengan taweu. Hampir semua taweu yang ada di kedua desa memiliki

langgan. Ikatan langgan ini memiliki khas tersendiri.

Seorang nelayan dapat memiliki perahu dengan bantuan langgan. Ketika nelayan hanya memiliki uang senilai setengah harga perahu namun ingin memiliki perahu maka nelayan tersebut dapat meminta bantuan kepada seseorang. Orang yang memberikan bantuan tersebut akan menjadi langgan bagi nelayan yang meminta bantuan. Tidak hanya menambah biaya pembelian perahu yang kurang, namun langgan juga dapat memberikan secara penuh perahu kepada seorang nelayan yang menginginkan. Namun, dalam hal ini seorang taweu memiliki kewajiban untuk memberikan 10% dari penghasilannya setiap pulang melaut. Dalam sistem langgan, tidak ada sistem lunas membayar perahu yang pernah dipinjam. Akan tetapi, ikatan langgan ini berlangsung terus-menerus dan hanya akan berakhir ketika perahu tidak dapat digunakan lagi. Satu orang langgan tidak hanya memiliki satu anak buah melainkan lebih dari satu anak buah yang dimilikinya.

Sistem pelelangan ikan dilakukan oleh seorang langgan. Ketika nelayan tiba setelah melaut maka langgan akan langsung melakukan tawar menawar hingga mendapatkan harga yang dirasanya sesuai. Setelah tawar menawar selesai dilakukan, dan uang sudah diperoleh serta telah dikurangi seluruh biaya kemudian diambil 10% oleh langgan dan 5% untuk TPI. Delapan puluh lima persen hasil penjualan ikan kemudian dibagi antara taweu dan pandega. Seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya, taweu atau pemilik perahu akan mendapatkan setengah bagian dari 85%. Setengah bagian tersebut kemudian akan dibagi sesuai jumlah ABK yang ikut melaut.

Ikatan langgan sangat membantu nelayan dalam kegiatan melautnya. Ketika nelayan tidak memiliki biaya untuk melaut maka mereka dapat meminjam terlebih dahulu kepada langgannya. Kedua jenis ikatan yang ada pada masyarakat nelayan ini baik langgan maupun patronase sangat membantu nelayan. Manfaat ini juga dirasakan oleh nelayan ketika musim paceklik tiba. Seorang pandega

yang mengalami kesulitan dapat meminta bantuan kepada taweu. Begitu juga seorang taweu yang kesulitan dapat meminta bantuan kepada langgan. Hal inilah yang kemudian menunjukan bahwa nelayan di desa ini memiliki tingkat modal sosial yang tinggi. Berikut adalah penuturan Bapak JK (40):

Langgan itu orang yang ngasih kita perahu, kalau kita misalnya kita mau beli perahu harga 10 juta tapi kita cuma lima juta maka kita bisa minta tolong langgan. Nanti orang yang jadi langgan itu akan memberi kita perahu tapi kita harus ngasih 10% penghasilan setiap pergi ke laut. Langgan itu gak harus ada di satu desa, dari desa luar juga bisa jadi langgan. Misalnya nelayan desa Cikiruh Wetan punya langgan orang Desa Muara Binuangeun. Langgan sama nelayan mah gak ada putusnya, kalau perahunya rusak baru ikatannya terputus dan nelayan boleh cari langgan yang lain atau tetep langgan yang lama. Sepulang dari laut, kita turunin ikan di pelelangan nanti langgan yang bagian

43

tawar-menawarnya. Abis itu kita bakal dapet karcis dari pengurus pelelangan bukti kalau kita sudah ngasih biaya 5%. Sisa uangnya nanti baru dibagi ABK. Kalau lagi musim paceklik, ya nelayan juga bisa pinjem ke tetangga.

Modal Finansial

Ketersediaan modal finansial pada rumahtangga nelayan lapisan ekonomi bawah dan menengah sama rendahnya. Hal ini menunjukan bahwa untuk bertahan hidup dalam masa paceklik mereka tidak dapat memanfaatkan modal finansial. Rendahnya modal finansial ini dikarenakan pendapatan yang rendah dari hasil menjadi seorang ABK untuk lapisan bawah. Pendapatan yang diperoleh setiap hari ini kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti pangan dan lainnya. Pada golongan bawah, mereka tidak mampu menyisihkan uang untuk tabungan dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-haripun terkadang mereka masih kurang sehingga harus pinjam ke warung atau tetangga. Sedangkan pada lapisan menengah yang diisi oleh pandega dan sebagian taweu menunjukan finansial yang rendah karena besarnya pendapatan hampir setara dengan besar pengeluaran. Sehingga dalam hal ini mereka juga memiliki sedikit kemampuan untuk menabung dalam bentuk uang.

Pada lapisan atas, modal finansial memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan bawah dan menengah. Lapisan atas di desa ini diisi oleh sebagian besar taweu. Hal ini yang membuat pendapatan mereka lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Pendapatan yang mereka peroleh juga tidak hanya dari hasil melaut namun ditunjang oleh sektor non-fishing economy. Pendapat dari sektor off-fishing economy ini membantu meningkatkan perekonomian keluarga sehingga nelayan pada lapisan atas memiliki kemampuan untuk menabung. Tabungan tersebut dapat mereka gunakan untuk keperluan pada saat musim paceklik.

Pemanfaatan Modal Nafkah Rumahtangga Nelayan di Cikiruh Wetan

Pemanfaatan modal nafkah pada rumahtangga nelayan Desa Cikiruh Wetan juga dibedakan menjadi tiga lapisan ekonomi. Lapisan ini dibedakan berdasarkan tingkat pendapatan. Berdasarkan hasil pengamatan, terdapat beberapa perbedaan antara desa pertama dengan desa kedua. Perbedaan tersebut terlihat dari jenis pekerjaan non-fishing economy serta jumlah taweu desa pertama yang lebih banyak dibanding desa kedua ini. Jenis pekerjaan non-fishing economy yang ada di desa ini berupa membuka warung, kerja ke kota, serta menjadi buruh cuci.

Gambar 11 Pemanfaatan modal nafkah berdasarkan lapisan ekonomi rumahtangga nelayan Desa Cikiruh Wetan tahun 2014-2015

Pada gambar 11 dapat dilihat terdapat perbedaan pemanfaatan modal nafkah yang dimiliki pada tiap lapisan ekonomi. Sama halnya dengan Desa