• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5 Batas Maksimum Residu Herbisida

Hasil analisis residu herbisida yang dilakukan menunjukkan kandungan residu sodium bispiribak pada beberapa sampel yang diuji antara lain adalah pada sampel tanah kisaran kandungan residu yang dihasilkan adalah 0.09-0.18 mg/kg, pada sampel jerami kisaran kandungan residu adalah 1.50-9.88 mg/kg sedangkan pada sampel hasil panen (beras) kandungan residu yang dihasilkan berkisar antara 0.05-0.53 mg/kg. Baku mutu pembanding untuk residu yang berbahan aktif sodium bispiribak pada komoditas hasil pertanian khususnya beras belum ditetapkan oleh instansi yang berwenang, oleh karena itu baku mutu atau batas maksimum residu sodium bispiribak pada komoditas beras dihitung berdasarkan bobot tubuh rata-rata orang Indonesia dewasa, asumsi konsumsi beras per orang per hari dan nilai Acceptable Daily Intake (ADI). Bobot tubuh rata-rata penduduk Indonesia dewasa diasumsikan sebesar 60 kg, asumsi konsumsi beras rata-rata penduduk Indonesia menurut Indrasari et al (2008) adalah sebesar 300 g/kapita/hari atau 0.3 kg/kapita/hari, sedangkan untuk nilai Acceptable Daily Intake (ADI) untuk sodium bispiribak menurut European Food Safety Authority(EFSA) (2010) adalah sebesar 0.01 mg/kg. Batas Maksimum Residu sodium bispiribak dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut :

BMR = ஽ூ ௫ ି ௞ ூ

ି ௞ ூ

Dari perhitungan tersebut didapat nilai Batas Maksimum Residu (BMR) untuk sodium bispiribak sebesar 2 mg/kg. Nilai konsentrasi residu sodium bispiribak untuk sampel beras jika dibandingkan dengan nilai Batas Maksimum Residu (BMR) menunjukkan nilai yang lebih rendah, hal ini berarti bahwa residu herbisida yang terkandung didalam beras masih dalam batas aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan efek akut maupun kronis terhadap manusia.

Menurut European Food Safety Authority (EFSA) (2010), Acceptable Daily Intake(ADI) merupakan jumlah asupan bahan kimia yang dapat dicerna setiap hari seumur hidup tanpa menyebabkan resiko yang besar bagi kesehatan yang dinyatakan

dalam mg/kg bb. Konsep pendekatan nilai ambang batas dengan menggunakan nilai Acceptable Daily Intake (ADI) menurut Department of Health and Ageing of Australian Government(2012) adalah untuk memperkirakan nilai asupan harian dari suatu senyawa kimia yang dapat diterima oleh tubuh dan tanpa menyebabkan resiko yang besar bagi kesehatan. NilaiAcceptable Daily Intake (ADI) dari suatu senyawa kimia didefinisikan sebagai dosis yang diperkirakan tidak menimbulkan resiko jangka panjang apabila senyawa tersebut dikonsumsi atau masuk ke dalam tubuh tiap hari, namun nilai Acceptable Daily Intake (ADI) ini bukanlah merupakan garansi keamanan secara mutlak, dan juga bukan merupakan suatu perkiraan resiko (Marsidi dan Said, 2005).

Batas Maksimum Residu (BMR) pestisida merupakan konsentrasi maksimum residu pestida yang secara hukum diizinkan atau diketahui sebagai konsentrasi yang dapat diterima pada hasil pertanian yang dinyatakan dalam miligram residu pestisida per kilogram hasil pertanian (BSN, 2008). Penetapan BMR untuk herbisida sodium bispiribak ini belum ada secara hukum belum dilakukan karena jenis bahan aktif ini termasuk bahan aktif baru untuk herbisida.

4.6 Analisis Biaya Budidaya Padi

Analisis biaya budidaya padi pada penelitian ini dilakukan dengan melakukan analisis usahatani. Analisis usahatani ini bertujuan untuk mengetahui alokasi sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuk memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Alokasi sumberdaya dapat dikatakan efektif bila petani mengalokasikan sumberdaya yang mereka miliki sebaik-baiknya, dan dikatakan efisien jika pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran (output) yang lebih besar dibandingkan masukan (input). Efisiensi usahatani dapat diukur dengan cara menghitung efisiensi teknis, efisiensi harga dan efisiensi ekonomis.

Analisis usahatani yang dilakukan menunjukkan bahwa perhitungan R/C Ratio dilakukan untuk mengetahui apakah budidaya padi tersebut memberikan

keuntungan atau tidak. R/C Ratio dihitung dengan membandingkan antara jumlah penerimaan dan biaya. Berdasarkan hasil analisis ragam data rata-rata bobot gabah tiap perlakuan kemudian dilakukan perbandingan masing-masing analisis ekonomi budidaya padi sawah dari tiap perlakuan tersebut. Perbandingan tersebut dilakukan dengan melihat analisis ekonomi budidaya padi sawah manakah yang lebih efektif dan memberikan keuntungan paling tinggi. Perbandingan analisis biaya dari masing-masing perlakuan ditunjukkan pada Tabel 14.

Tabel 14. Perbandingan Analisis Biaya Budidaya Padi Sawah dari Masing-masing Perlakuan

Komponen Perlakuan

Kontrol Manual 0.5 l/ha 1 l/ha 2 l/ha 3 l/ha Pendapatan 25,336,110 23,907,590 28,806,810 22,700,390 22,916,680 27,398,410 Pengeluaran 12,111,000 18,205,000 13,365,000 13,365,000 13,365,00 13,365,000 Keuntungan 13,225,110 5,702,590 15,441,810 9,335,390 9,551,680 14,033,410

R/C Ratio 1.92 1.31 2.16 1.70 1.71 2.05

Berdasarkan perbandingan analisis biaya dari masing-masing perlakuan pada Tabel 14, dapat diketahui bahwa perlakuan sodium bispiribak 0.5 l/ha memiliki nilai R/C Ratio tertinggi yaitu sebesar 2.16 dan keuntungan yang tertinggi pula yaitu sebesar Rp 15,441,810. Hal tersebut menunjukkan bahwa dengan perlakuan sodium bispiribak 0.5 l/ha sangat menguntungkan bagi petani dalam melakukan budidaya padi sawah karena selain hasil produksi padi yang dihasilkan paling banyak, dosis herbisida yang dilakukan untuk pengendalian gulma dalam dosis rendah sehingga dampak residu yang ditimbulkan terhadap lingkungan juga rendah. Jika hasil dari budidaya padi sawah dengan perlakuan sodium bispiribak 0.5 l/ha dibandingkan dengan budidaya padi sawah dengan perlakuan kontrol keuntungan yang dihasilkan tidak berbeda jauh, namun apabila dibandingkan dengan budidaya padi sawah dengan perlakuan manual sangat terlihat jelas bahwa budidaya padi sawah dengan perlakuan sodium bispiribak 0.5 l/ha lebih menguntungkan secara ekonomi karena dilihat dari nilai R/C Ratio dan keuntungan yang dihasilkan lebih besar. Selain menguntungkan secara ekonomi, budidaya padi sawah dengan perlakuan sodium bispiribak 0.5 l/ha juga lebih efektif karena tenaga kerja yang dibutuhkan dapat ditekan dan lebih sedikit dibandingkan dengan budidaya padi sawah dengan perlakuan manual, selain itu

pengaplikasian herbisida dalam satu kali musim tanam juga hanya dilakukan dua kali, sehingga tenaga kerja yang dibutuhkan juga lebih efektif. Biaya tenaga kerja dan herbisida yang dibutuhkan juga lebih rendah karena pengaplikasian herbisida tidak dilakukan setiap minggu. Sedangkan pada budidaya padi sawah dengan perlakuan manual, tenaga kerja yang diperlukan lebih banyak terutama untuk penyiangan gulma karena dengan tidak menggunakan herbisida maka pengendalian gulma yang dilakukan juga harus lebih sering dan teratur. Hal tersebut juga menyebabkan biaya tenaga kerja yang dibutuhkan menjadi lebih besar.

Berdasarkan analisis usahatani budidaya padi sawah dengan perlakuan sodium bispiribak 0.5 l/ha dan perlakuan manual menunjukkan hasil bahwa budidaya padi sawah dengan perlakuan sodium bispiribak 0.5 l/ha lebih menguntungkan secara ekonomi dan lebih menunjukkan keefektifan dari segi komponen tenaga kerja dan biaya yang dikeluarkan dibandingakan budidaya padi sawah dengan perlakuan manual.

KESIMPULAN DAN SARAN