• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perlindungan anak merupakan segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup tumbuh, berkembang, dan berpatisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta dapat melindungi dari kekerasan dan diskriminasi. Dalam pengertian ini tersirat bahwa anak terlindungi dari segala bentuk kekerasan, perlakuan salah, penelantaran dan eksploitasi. Isu pertama meningkatnya kualitas hidup manusia suatu negara adalah bagaimana negara tersebut mampu melakukan perlindungan anak yaitu mampu memahami nilai-nilai dari hak anak, mampu mengimplementasikannya dalam norma hukum positif agar mengikat, mampu menyediakan infrastruktur, dan mampu melakukan manajemen agar perlindungan anak di suatu negara tercapai27.

terdapat berbagai pengertian tentang anak di Indonesia pengertian tersebut tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang di kutif dengan penentuan batas usia perkawinan anak yang berbeda-beda, batas usia merupakan pengelompokan usia maksimum sebagai wujud

26 Abdurrahim Umran, Islam dan KB, (Jakarta, Lentera Batritama, 1997)h,18

27 J.Satrio, hukum keluarga tentang kedudukan anak dalam undang-undang,(Bandung,Citra Aditya Bakti,2015) h,2

19

kemampuan anak dalam status hukum, hal tersebut mengakibatkan beralihnya status usia anak menjadi status usia dewasa atau menjadi subjek hukum yang dapat bertanggung jawab secara mandiri terhadap perbuatan dan tindakan hukum yang di lakukannya, pada praktiknya usia calon mempelai yang mengajukan perkara penetapan permohonan dispensasi nikah di Pengadilan Agama berkisar antara umur 15 tahun hingga 18 tahun, usia calon mempelai tersebut, jelas jauh berbeda, bahkan lebih rendah di bandingkan dengan batas usia perkawinan yang di tetapkan di Indonesia28, beberapa pengertian batas usia perkawinan anak yang terdapat dalam berbagai peraturan perundang-undangan di Indonesia yaitu :

a. Batas usia perkawinan menurut undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan, tidak mengatur secara langsung tolak ukur kapan seseorang di golongkan sebagai anak, akan tetapi hal tersebut tersirat dalam pasal 6 ayat 2 yang memuat ketentuan syarat perkawinan bagi orang yang belum mencapai umur 21 tahun dapat izin ke dua orang tuanya, adapun dalam pasal 7 ayat 1 undang-undang tentang perkawinan memuat batasan usia perkawinan bagi perempuan dan laki-laki harus mencapai usia perkawinan 19 tahun. Dalam hal ini Undang-undang perkawinan tidak konsisten di satu sisi pasal 6 ayat (2) menegaskan bahwa untuk melangsungkan perkawinan, seseorang yang belum mencapai 21 tahun harus mendapatkan izin kedua orang tua, di sisi lain pasal 7 ayat (1) menyebutkan perkawinan hanya di izinkan jika pihak pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun. Bedanya jika kurang dari 21 tahun yang di perlukan izin orang tua dan jika kurang dari 19 tahun perlu izin Pengadilan29. Dan dalam ayat 2 “dalam penyimpangan terhadap ayat 1 pasal ini dapat meminta dispensasi nikah kepada Pengadilan Agama atau pejabat lain yang di tunjuk oleh kedua orang tua pihak pria atau pihak wanita dan pada ayat 3 “ketentuan-ketentuan mengenai keadaan salah seorang atau kedua orang tua tersebut dalam pasal 6 ayat 3 dan 4 undang-undang tentang

28 Mardi Candra, Aspek perlindungan anak di Indonesia Analisis anak Perkawinan di bawah umur (Jakarta, Prenada Media,2018) h,46

20

perkawinan, berlaku juga dalam hal permintaan dispensasi tersebut pada ayat 2 pasal 7 undang-undang no.16 tahun 2019 tentang perkawinan, ini dengan tidak mengurangi yang di maksud pada pasal 6 ayat 6 undang-undang no.1 tahun 1974 tentang perkawinan30. b. Batas usia menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada pasal 15

ayat 1 yaitu “untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga ini sejalan dengan prinsip yang di letakkan Undang-Undang perkawinan31, Bahwa calon suami dan calon istri harus telah matang jiwa dan raganya, agar dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir dengan perceraian, perkawinan hanya boleh di lakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang di tetapkan dalam pasal 7 undang-undang no.16 tahun 2019 tentang perkawinan yakni calon kedua mempelai harus berumur 19 tahun baik laki-laki maupun perempuan32, pada pasal 6 ayat 2 bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin sebagaimana yang diatur dalam undang-undang no.1 tahun 1974 tentang perkawinan33. Untuk itu harus di cegah adanya perkawinan antara calon suami istri yang masih di bawah umur

c. Batas usia perkawinan menurut kitab undang-undang hukum perdata di tegaskan dalam bab IV tentang perkawinan pada pasal 29 yakni bagi laki-laki yang belum mencapai umur 18 tahun penuh dan perempuan yang belum mencapai umur 15 tahun, tidak di perkenankan mengadakan perkawinan, namun jika ada alasan-alasan penting, pemerintah berkuasa menghapuskan larangan ini dengan memberikan dispensasi. Dalam kitab undang-undang hukum perdata pada pasal 330 disebutkan, bahwa anak adalah seseorang yang belum dewasa, yaitu mereka yang belum mencapai umur genap 21 tahun dan tidak lebih dahulu telah melakukan perkawinan,

30 Pasal 2 dan 3 undang-undang no.16 tahun 2019 tentang perkawinan,bahwasanya dalam hal penyimpangan pada ayat 1 dapat meminta dispensasi kepada pengadilan agama dan ketentuan yang mengenai keadaan kedua orang tua untuk meminta izin terdapat juga pada pasal 6 ayat 3 dan 4 undang-undang no.1 tahun 1974

31 Kompilasi Hukum Islam Pasal 15 ayat 1

32 Pasal 7 ayat 1 Undang-undang no.16 tahun 2019 tentang perkawinan bahwasanya perkawinan hanya di izinkan bila pihak laki-laki dan wanita berumur 19 tahun

33 Pasal 6 ayat 2 uu no.1 tahun1974 tentang perkawinan bahwasannya untuk melangsungkan perkawinan seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua kedua orangtua

21

apabila perkawinan itu di bubarkan sebelum umur mereka genap 21 tahun, maka mereka tidak kembali dalam kedudukan belum dewasa34

d. Menurut undang-undang no.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, pada pasal 1 angka 1 menerangkan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan, ini bertentangan dengan pasal 7 ayat 2 undang-undang perkawinan yang memberikan kelonggaran terhadap anak yang akan melangsungkan perkawinan, ini terkesan sangat di sayangkan terhadap perjalan undang-undang perlindungan anak yang sudah sejauh ini mendukung akan kurangnya perkawinan yang terjadi pada anak, sehingga laju dalam perkembangan anak semakin sempit dalam menuntaskan tumbuh kembangnya anak35.

e. Menurut hukum adat di sebutkan bahwa ukuran seseorang telah dewasa bukan dari umurnya, tetapi dari ukuran yang di pakai adalah dapat bekerja sendiri, cakap melakukan yang di isyaratkan dalam kehidupan masyarakat, dapat mengurus kekayaan sendiri.

Menurut wirjono prodjodikoro berpegang pada kronoligi kelahiran undang-undang no.1 tahun 1974, tampaknya sukar di bantah bahwa munculnya parameter usia 21 tahun di dalam undang-undang no.1 tahun 1974 merupakan pengadopsian dari pasal 330 KUH Perdata, KUH Perdata secara tegas menyatakan bahwa sebelum usia 21 tahun, maka seseorang belum dapat di katakan sebagai dewasa, meskipun KUH Perdata memperbolehkan perkawinan dalam usia 18 tahun untuk laki-laki, dan 15 tahun untuk wanita, namun tetap mereka belum di katakan dewasa sehingga memerlukan izin perkawinan dari orangtua36.

Menurut Abdul Rahim Umran, batasan usia perkawinan bisa dilihat dalam beberapa arti, sebagai berikut :

a. Biologis

34 Penghumpun Sholahuddin, kitab undang-undang hukum pidana,acara pidana, dan perdata,(Jakarta,Visimedia,2008) h,226

35 Pasal 1 undang-undang no.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak

22

Secara biologis hubungan suami dan istri yang terlalu muda ( yang belum dewasa secara fisik) dapat mengakibatkan penderitaan bagi istri dalam hubungan biologis, lebih-lebih ketika hamil dan melahirkan.

b. Sosiokultural

Secara sosiokultural pasangan suami istri harus mampu memenuhi tuntutan sosial, yakni mengurus rumah tangga dan mengurus anak-anak

c. Demografis (kependudukan )

Secara demografis perkawinan di bawah umur merupakan salah satu faktor timbulnya pertumbuhan penduduk yang lebih tinggi37

Terdapat beberapa pendapat laianya berkenaan dengan metode penentuan kedewasaan seseorang, sebagai berikut :

a. Yusuf Musa mengatakan bahwa usia dewasa itu setelah seseorang berumur 21 tahun. Hal ini di karenakan pada zaman modern ini orang memerlukan persiapan yang matang dari pendapat yang lain menunjukan bahwa berbagai faktor ikut menentukan cepat atau lambatnya seseorang mencapai usia kedewasaan terutama kedewasaan untuk keluarga, usia tidaklah cocok untuk setiap wilayah didunia ini, setiap wilayah dapat menentukan usia kedewasaan masing-masing sesuai dengan masa dan kondisi yang ada

b. Menurut Sarlito Wirawan Sarwono, bahwa usia kedewasaan untuk siapnya seseorang memasuki hidup berumah tangga harus di perpanjang menjadi 20 tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk laki-laki, hal ini di perlukan karna zaman modern ini menuntut untuk mewujudkan kemaslahatan dan menghindari kerusakan, baik dari segi kesehatan maupun tanggung jawab sosial.

Anak Indonesia merupakan 40 persen dari penduduk Indonesia yang harus di tingkatkan mutunya menjadi anak Indonesia yang sehat, cerdas ceria, akhlak mulia dan terlindungi, hal ini merupakan komitmen

23

bangsa bahwa menghormati, memenuhi, dan menjamin hak anak adalah tanggung jawab negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orangtua.Selama ini pembahasan tentang perlindungan anak lebih banyak dengan tendesi pidana, akan tetapi perlindungan anak dalam dimensi dispensasi nikah adalah dengan tendensi perdata yaitu menelaah ada atau tidak adanya perlakuan salah terhadap perkawinan anak di bawah umur yang di izinkan oleh pengadilan agama, dispensasi nikah tersebut juga di atur oleh peraturan perundangan yaitu undang-undang no.1 tahun 1974 tentang perkawinan38

Dari ketentuan yang terdapat dalam ketentuan isi undang-undang no.1 tahun1974 tentang perkawinan, bahwasannya belum sepenuhnya memberikan perlindungan hukum dan kepastian hukum terhadap dispensasi nikah dalam batasan usia perkawinan, maka benar bahwa undang-undang perkawinan hanya menjamin kekekalan hidup keluarga yang kuat serta keabadian dalam perkawinan, berdasarkan ketentuan pasal 1 undang-undang no.1 tahun 1974 tentang perkawinan 39 , penentuan batasan usia untuk melangsungkan perkawinan sangatlah penting, karena suatu ikatan perkawinan menghendaki kematengan psikologis dan biologis, maka dalam penjelasan umum undang-undang perkawinan di nyatakan, bahwa calon suami istri harus siap matang dari segi pisik,psikis dan mental yang telah siap jiwa raganya untuk melangsungkan perkawinan agar dapat mewujudkan perkawina secara baik bagi undang-undang serta agama Islam agar terhindar dari perceraian dan mendapat keturunan yang baik serta sehat, untuk itu di cegah adanya perkawinan antara calon suami dan istri yang masih di bawah umur, sehingga perlu adanya pembatasan umur yang konsisten agar mencegah dan terhindar dari perkawinan yang terlampau muda, seperti yang terjadi di berbagai daerah terpencil yang mempunyai dampak negatif, maka akibat yang akan terjadi dari adanya perkawinan di bawah umur bermacam-macam di antaranya, keluarga

38 Mardi Candra, aspek perlindungan anak Indonesia analisis tentan perkawinan di bawah umur 39 Pasal 1 no.1 tahun 1974 menyatakan, perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara suami dan istri, perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia kekal berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa.

24

mudah mengalami perceraian karena kurang siapnya mental bathin dari masing-masing pasangan, anak-anak menjadi korban karena kurang adanya perhatian, kasih sayang, keharmonisan karena keegoisan masih tinggi40

Undang-undang khusus perlindungan anak juga di harapkan mampu menjadi undang-undang yang memberikan perlindungn terhadap anak secara holistic, serta menjadi landasan yuridis untuk mengawasi pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab beberapa hal yang terkait dan yang telah di jelaskan sebelumnya, selain itu pertimbangan lain bahwa perlindungan anak merupakan bagian dari kegiatan pembangunan nasional dan khususnya dalam meningkatkan kehidupan berbangsa dan bernegara, orangtua, keluarga, masyarakat, dan negara bertanggung jawab untuk menjaga dan berperan serta untuk melindungi hak-hak anak sesuai dengan kewajiban yang di atur dalam peraturan perundang-undangan