Pengaturan mengenai batas usia minimal perkawinan adalah salah satu pilar penting dalam usaha perlindungan hukum terhadap perempuan di Indonesia. Hal ini disebabkan, dengan adanya batas usia minimal perkawinan dapat menjamin kesehatan mental dan fisik, serta kesejahteraan perempuan Indonesia.60 Undang-undang Perkawinan sudah berumur 45 tahun lamanya sehingga wajar saja telah ada berbagai perombakan yang terjadi. Sebenarnya dengan adanya Undang-Undang Perkawinan ini telah menyelesaikan beberapa masalah perkawinan di Indonesia, tetapi dengan perkembangan zaman yang semakin pesat dan pengaruh teknologi sehingga mempengaruhi pola pikir masyarakat mengenai perkawinan. Seperti yang kita ketahui bahwa Undang-Undang Perkawinan telah banyak diajukan kepada Mahkamah Konstitusi (MK), untuk dilakukan yudisial review terhadap beberapa pasal yang dianggap sudah tidak layak atau dianggap telah melanggar hak konstitusional sesorang atau suatu lembaga.61 Sebelum direvisinya pasal 7 Undang-undang No 1 tahun 1974 tentang perkawinan yang menjelaskan bahwasannya perkawinan hanya di perbolehkan jika pihak laki-laki sudah berusia 19 tahun dan dari pihak perempuan sudah berusia 16 tahun62. Ini merupakan polemik yang sudah berkepanjangan karena dalam usia tersebut menyebabkan remaja banyak yang melakukan perkawinan dini, hal ini membuat sekolompok warga Negara mengajukan revisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) karena kelompok warga Negara sangat merasa dirugikan dengan undang-undang perkawinan sebelumnya.63
Dalam penjelasan Pasal 7 Undang-undang 1974 tentang perkawinan di nyatakan bahwa tujuan dari pasal tersebut adalah untuk menjaga kesehatan suami-istri dan keturunan. Pada faktanya, berdasarkan penelitian yang berkembang
60 wahyudi setiawan, Dasar yuridis sosiologis pengesahan RUU no.16 tahun 2019 tentang batas usai menikah bagi laki-laki dan perempuan. Jurnal ilmiah Hukum keluarga Islam vol.2 nomor 3 tahun 2020
61Sumber https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt54efe7a624603/limahal-krusial-dalam-revisi-uu-perkawinan/ dikutif pukul 00:37 14 oktober 2020
62 Pasal 7 uu nomor 1 tahun 1974 mengatakan “bahwa perkawinan hanya diperbolehkan jika pihak laki-laki sudah berumur 19 tahun dan dari pihak perempuan sudah mencapai usia 16 tahun”
63 Wahyudi setiawan, Dasar yuridis sosiologis pengesahan RUU no.16 tahun 2019 tentang batas usai menikah bagi laki-laki dan perempuan. Jurnal ilmiah Hukum keluarga Islam vol.2 nomor 3 tahun 2020
37
dewasa ini, perkawinan pada usia 16 tahun bagi perempuan memiliki berbagai dampak di bidang kesehatan. Hal ini menyebabkan, perempuan di bawah usia 18 tahun lima kali lebih rentan mengalami komplikasi akibat perkawinan dan kehamilan diusia dini, didukung oleh suatu penelitian yang menunjukan bahwa keluaran negatif sosial jangka panjang yang tak terhindarkan, ibu yang mengandung diusia dini akan mengalami trauma berkepanjangan, selain itu juga mengalami krisis kepercayaan diri, dibanding perempuan usia 20 tahun ke atas. Bahkan, anak-anak yang terlahir dari ibu remaja berusia kurang dari 19 tahun memiliki peningkatan resiko stunting (kegagalan pertumbuhan) hingga 40% dalam 2 tahun kehidupan pertamanya. Risiko kematian bayi sebelum genap berusia 1 tahun juga meningkat hingga 60% dibandingkan dengan anak yang lahir dari ibu berusia dua puluh tahunan.64
Selain terkait kesehatan, penetapan batas usia minimal perkawinan sejatinya juga merupakan upaya dalam memberikan perlindungan hukum terkait hak mengenyam pendidikan. Program wajib belajar tersebut dewasa ini menjadi 12 tahun yang kini dilaksanakan oleh pemerintah berdasarkan Pasal 2 huruf a Peraturan Menteri Pendidikan dan Budaya No. 19 tahun 2016 tentang Program Indonesia Pintar.65 Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional pada tahun 2015 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik, sebesar 91,12% anak perempuan yang melangsungkan perkawinan sebelum usia 18 tahun tidak dapat menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang SMA. Sedangkan 45,38% anak perempuan yang melangsungkan perkawinan setelah usia 18 tahun dapat menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang SMA. Padahal, jika ditafsirkan secara sistematis, ini artinya hak mengenyam pendidikan yang dijamin oleh konstitusi, jika di aktualisasikan dengan kondisi sekarang adalah hak untuk mengenyam pendidikan selama 12 tahun.66 Apabilah seorang siswi melakukan perkawinan pada masa pendidikan SMA hal itu kemungkinan dapat
64 Xavier Nugraha, Annida Aqiila Putri, Risdiana Izzaty. Rekonstruksi Batas Usia Minimal Perkawinan Sebagai Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Perempuan (Analisa Putusan MK No. 22/Puu-Xv/2017), Lex Scientia Law Review, Vol 3 Nomor 1, 2019, hal,44
65 Pasal 2 huruf a Peraturan Menteri Pendidikan dan Budaya No. 19 tahun 2016 tentang Program Indonesia Pintar menyatakan, “meningkatkan akses bagi anak usia 6 sampai 21 tahun untuk mendapatkan layanan pendidikan sampai tamat satuan pendidikan menengah dalam rangkan mendukung pelaksanaan pendidikan menengah universal/ rntisan wajib belajar 12 tahun”
66 Xavier Nugraha, Annida Aqiila Putri, Risdiana Izzaty. Rekonstruksi Batas Usia Minimal Perkawinan Sebagai Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Perempuan (Analisa Putusan MK No. 22/Puu-Xv/2017), Lex Scientia Law Review, Vol 3 Nomor 1, 2019, hal, 44-45
38
mengakibatkan menggagu dalam hal pembelajaran serta interaksi dengan masyarakat. Karena siswi tersebut telah memiliki tanggung jawab untuk melayanin suami dan mengurus rumah tangga. Oleh sebab itu mulai dipandang aneh perkawinan yang dilakukan oleh anak di tingkat pendidikan SMA67
Selain itu, perkawinan anak juga memengaruhi kondisi psikologis anak perempuan, di mana psikologis anak usia di bawah 18 (delapan belas) tahun masih belum berkembang secara optimal. Anak perempuan sering kali mengalami stress dalam pengasuhan anak dikarenakan ibu pada usia muda masih kurang memahami bagaimana cara merawat anak sehingga akan berpengaruh terhadap tanggung jawab orang tua dalam merawat anaknya, Selain itu, perkawinan anak juga membawa dampak buruk bagi anak perempuan seperti Kondisi psikologis yang kurang matang dan ini juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tercatat oleh Komnas Perempuan, KDRT adalah tindak kekerasan terhadap perempuan yang paling umum dialami oleh perempuan diIndonesia. 68 Indonesia sendiri telah membuat instrumen hukum untuk menghapus tindakan KDRT melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.69 Selain itu, perkawinan anak juga lebih rentan mengalami perceraian.70
Secara psikologis pun, perempuan yang berusia dibawah 18 (delapan belas) tahun, merupakan entitas yang rentan dan cenderung taat pada orang yang usianya di atas 18 (delapan belas) tahun. Hal ini secara yuridis dapat dilihat dalam Penjelasan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, pada Pasal 5 ayat (3) dijelaskan bahwa anak (dibawah usia 18 tahun) termaksud
67 Sahuri Lasmadi, Kebijakan perbaikan norma dalam menjangkau batasan minimal umur perkawinan,Jurnal law riview vol 3 nomor.1 2020
68 Djamil, Reni Kartikawan, Dampak Perkawinan anak di Indonesia, Jurnal Studi pemuda, Vol 3 nomor 1 2014
69 pasal 1 ayat 1-2 uu nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga menyatakan: pasal 1 : kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dana tau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan atau perampasan, kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Pasal 2 penghapusan dalam kekerasan rumah tangga adalah jaminan yang diberikan oleh nengara untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, menindak pelaku dalam kekeraan rumah tangga, dan melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga.
70 Mubasyaroh,analisis penyebab faktor pernikahan dini dan dampak bagi pelakuknya, Jurnal Pemikiran dan penelitian sosial keagamaan
39
dalam kelompok masyarakat yang rentan.71 Bahwa Berdasarkan sifat kerentanan dan ketergantungan yang besar terhadap orang dewasa disekitarnya, menjadi pertanyaan apakah seorang anak dapat memberikan persetujuan yang bebas dan penuh terbebas dari tekanan pihak manapun termasuk orang tuanya.72 Jangan sampai perkawinan tersebut tidak mencerminkan persetujuan para pihak secara substansial yang dijamin dalam Pasal 6 ayat 1 Undang-undang no.1 tahun 1974.73
Bahwa yang terdapat dalam pasal 7 ayat 1 Undang-undang 197474 tersebut bertentangan dengan undang undang nomor 35 tahun 2014 juncto undang-undang nomor 23 tahun 2002 yang menyatakan bahwa “anak merupakan seseorang yang belum berusia 18 tahun dan belum menikah”75 kemuadian, dalam undang-undang Kesejahteraan Anak menyatakan bahwa anak adalah seorang yang belum berusia mencapai umur 21 tahun. 76 Di dalam penjelasan revisi undang-undang perkawinan, perbedaan peraturan dalam batas usia minimal perkawinan yang berbeda antara pria dan wanita tidak saja menimbulkan diskriminasi dalam konteks pelaksanaan hak untuk membentuk keluarga sebagaimana dijamin dalam pasal 28B ayat 1 dan 2 undang-undang Negara republik Indonesia tahun 1945 yang isinya bawah setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah serta Negara menjamin hak anak atas melangsungkan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.77