• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3.5 Definisi dan Batasan Operasional

3.5.2 Batasan Operasional

1. Daerah penelitian adalah Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan.

2. Sampel penelitian adalah petani salak pakkat.

3. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2021.

BAB IV

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN 4.1 Deskripsi Wilayah

4.1.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian

Desa Pakkat Hauagong merupakan salah satu desa dari 21 desa yang ada di Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan Provinsi Sumatera Utara, dan berada di ketinggian antara 300 - 1500 meter di atas permukaan laut, dengan luas 1700 Ha, serta memiliki penduduk sekitar 3.589 jiwa.

Gambar 4.1 Peta Wilayah Desa Pakkat Hauagong

Desa Pakkat Hauagong memiliki luas wilayah 9,17 km² dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara berbatasan dengan : Desa Hauagong dan Desa Lumban Tonga- Tonga

Sebelah Selatan berbatasan dengan : Desa Ambobi Paranginan Sebelah Timur berbatasan dengan : Desa Purba Bersatu

Sebelah Barat berbatasan dengan : Desa Tukka Dolok 4.1.2 Luas Wilayah Berdasarkan Penggunaan Lahan

Luas wilayah daerah penelitian berdasarkan penggunaan lahan di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut.

Tabel 4.1 Luas Wilayah Berdasarkan Penggunaan Lahan di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan

No Jenis Penggunaan

3 Bangunan Perkarangan 577

4 Lahan Perkebunan 106

5 Lainnya 3

Jumlah 1043

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Humbang Hasundutan, 2020

Berdasarkan Tabel 4.1 diketahui bahwa penggunaan lahan terbesar di wilayah Desa Pakkat Hauagong adalah untuk lahan bangunan pekarangan dengan luas 577 Ha.

4.2 Keadaan Penduduk

4.2.1 Distribusi Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan berjumlah penduduk sebanyak 3.589 jiwa, yang terdiri atas jumlah penduduk laki-laki sebanyak 1.721 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 1.868 jiwa Distribusi penduduk menurut jenis kelamin di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut :

Tabel 4.2 Distribusi Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2020

No Jenis Kelamin Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1 Laki-Laki 1.721 47,95

2 Perempuan 1.868 52,05

Jumlah 3.589 100,00

Sumber : Kantor Kepala Desa Pakkat Hauagong, 2021

Berdasarkan Tabel 4.1, dapat diketahui bahwa jumlah penduduk perempuan lebih dominan di Desa Pakkat Hauagong dengan persentase 52%

sedangkan penduduk laki-laki sebesar 48%.

4.2.2 Distribusi Penduduk Menurut Umur

Jumlah distribusi penduduk menurut umur pada tahun 2020 di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut :

Tabel 4.3 Distribusi Penduduk Menurut Umur di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2020 No Umur (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1 0-15 1.266 35,275

2 15-65 2.213 61,66

3 > 65 110 3,065

Jumlah 3.589 100,00

Sumber : Kantor Kepala Desa Pakkat Hauagong, 2021

Berdasarkan Tabel 4.3, diketahui bahwa jumlah distribusi penduduk menurut umur paling banyak adalah penduduk yang berusia 15-65 tahun berjumlah 2.213 orang dengan persentase sebesar 62% dari seluruh total penduduk. Sedangkan penduduk yang paling sedikit adalah penduduk berusia lebih dari 65 tahun berjumlah 110 dengan persentase sebesar 3% dari seluruh total penduduk di daerah penelitian.

4.2.3 Distribusi Penduduk Menurut Pekerjaan

Jumlah distribusi penduduk menurut pekerjaan pada tahun 2021 di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut.

Tabel 4.4 Distribusi Penduduk Menurut Pekerjaan di Desa Pakkat

Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan 2020

Sumber : Kantor Kepala Desa Pakkat Hauagong, 2021

Berdasarkan Tabel 4.4, diketahui bahwa jumlah distribusi penduduk menurut pekerjaan paling banyak adalah penduduk yang bekerja sebagai petani yaitu sebesar 725 jiwa dengan persentase sebesar 20,20 % dari seluruh total penduduk yang bekerja. Hal ini disebabkan karena di daerah penelitian mayoritas penduduk bergantung pada penggunaan lahan pertanian sebagai mata pencaharian masyarakat.

4.3 Sarana dan Prasarana Desa

Dengan tersedianya sarana dan prasarana sangat mempengaruhi perkembangan dan kemajuan suatu daerah. Ketersediaan sarana dan prasarana di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan sudah sangat baik jika dilihat dari jumlah ketersediaan bagi masyarakat. Sarana dan prasarana di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut.

Tabel 4.5 Sarana dan Prasarana di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan

No Sarana dan Prasarana Jumlah

1 PAUD/TK 3

Sumber : Kantor Kepala Desa Pakkat Hauagong, 2021

4.4 Karakteristik Petani Sampel Penelitian

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah petani yang memiliki lahan usatani salak sebanyak 32 orang. Karakteristik petani sampel penelitian meliputi :

4.4.1 Karakteristik Berdasarkan Umur

Umur merupakan hal yang penting untuk diketahui karena berpengaruh terhadap cara berpikir yang lebih matang dan berpengaruh terhadap kemampuan bekerja dan mengolah usahataninya dengan baik. Umumnya umur yang lebih muda akan lebih cepat menerima informasi-informasi yang dianjurkan, sedangkan umur yang lebih tua mempunyai pengalaman yang matang dalam mengelola usahataninya. Jumlah sampel petani berdasarkan umur di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan dapat dilihat pada Tabel 4.6

berikut :

Tabel 4.6 Jumlah Sampel Berdasarkan Umur di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan

No Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 20-40 6 18,75

2 41-60 16 50,00

3 > 60 10 31,25

Jumlah 32 100,00

Sumber : Data Primer (diolah), 2021

Berdasarkan Tabel 4.6, diketahui bahwa persentase umur petani sampel penelitian yang paling banyak adalah petani dengan kisaran umur 41-60, dengan jumlah persentase sebesar 50 % dari seluruh sampel penelitian. Sedangkan petani sampel penelitian yang paling sedikit adalah petani dalam kisaran umur 20-40 tahun dengan persentase sebesar 18,75 % dari seluruh sampel petani di daerah penelitian.

4.4.2 Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis kelamin dalam sampel penelitian juga berpengaruh terhadap kinerja seseorang dalam berusahatani. Petani dengan jenis kelamin perempuan cenderung kurang maksimal dalam melakukan kegiatan usahataninya karena kemampuan fisik perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Jumlah sampel berdasarkan jenis kelamin di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut :

Tabel 4.7 Jumlah Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan No Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 Perempuan 15 46,87

2 Laki-Laki 17 53,13

Jumlah 32 100,00

Sumber : Data Primer (diolah), 2021

Berdasarkan Tabel 4.7, dapat diketahui bahwa persentase petani sampel penelitian yang memiliki lahan usahatani berdasarkan jenis kelamin paling banyak adalah laki-laki dengan jumlah persentase sebesar 53,13 % dari seluruh jumlah sampel petani, dan selebihnya adalah perempuan dengan jumlah persentase sebesar 46,87 % dari seluruh sampel petani di daerah penelitian.

4.4.3 Karakteristik Berdasarkan Pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang merupakan salah satu faktor yang akan mempengaruhi kemampuan berusahatani petani. Semakin tinggi tingkat pendidikan petani, maka petani akan lebih cenderung memberikan respon positif terhadap materi penyuluhan dan lebih mudah mengadopsi materi yangtelah diterima dalam meningkatkan usahataninya. Jumlah petani sampel berdasarkan tingkat Pendidikan di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut :

Tabel 4.8 Jumlah Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan No Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 SD 2 6,25

Sumber : Data Primer (diolah), 2021

Berdasarkan Tabel 4.8, diketahui bahwa jumlah petani sampel penelitian berdasarkan tingkat Pendidikan pada umumnya petani lebih banyak menempuh pendidikan SMA/SMK yaitu sebanyak 16 orang dengan persentase sebesar 50 %.

4.4.4 Karakteristik Berdasarkan Lama Berusahatani

Pengalaman berusahatani merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pengembangan usahataninya. Semakin lama petani menekuni usahataninya, maka akan semakin banyak pengalaman yang dimilikinya dan cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik. Jumlah petani sampel berdasarkan lama berusahatani di Desa Pakkat Haugong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan dapat dilihat pada Tabel 4.9 berikut :

Tabel 4.9 Jumlah Sampel Berdasarkan Lama Berusahatani di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan No Lama Berusahatani (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 1-10 10 31,25

2 11-20 15 46,88

3 > 20 7 21,87

Jumlah 32 100,00

Sumber : Data Primer( diolah), 2021

Berdasarkan Tabel 4.9, diketahui bahwa pengalaman bertani sampel petani salak yang paling banyak adalah pada rentang 11-20 tahun yaitu sebanyak 15 orang dengan persentase sebesar 46,88 %. Sedangkan pengalaman bertani yang paling sedikit pada rentang lebih dari 20 tahun yaitu sebanyak 7 orang dengan persentase sebesar 21,87 % dari seluruh sampel petani di daerah penelitian.

4.4.5 Karakteristik Berdasarkan Luas Lahan

Luas Lahan merupakan salah satu faktor petani dalam mengambil keputusan, dimana besarnya biaya yang digunakan dalam melakukan usahatani salak dipengaruhi oleh luas lahan. Semakin luas lahan yang dimiliki oleh petani salak maka akan semakin banyak jumlah produksi yang diperoleh petani. Jumlah petani sampel berdasarkan luas lahan di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan dapat dilihat pada Tabel 4.10 berikut :

Tabel 4.10 Jumlah Sampel Berdasarkan Luas Lahan di Desa Pakkat

Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan No Luas Lahan (Ha) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 > 0,5 23 71,87

2 0,5 – 1 6 18,75

3 < 1 3 9,38

Jumlah 32 100,00

Sumber : Data Primer (diolah), 2021

Berdasarkan Tabel 4.10, diketahui bahwa luas lahan sampel petani salak yang paling banyak adalah kurang dari 0,5 Ha yaitu sebanyak 23 orang dengan persentase sebesar 71,87 %. Sedangkan yang paling sedikit adalah dengan luas lahan lebih dari 1 Ha sebanyak 3 orang dengan persentase sebesar 9,38 % dari seluruh sampel petani di daerah penelitian.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Uji Asumsi Klasik

Sebelum dilakukan uji regresi tehadap faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas usahatani salak pakkat di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan, maka terhadap data variabel yang digunakan, sebelumnya dilakukan uji asumsi klasik, yang mencakup Uji Multikolinieritas, Uji Normalitas, dan Uji Heteroskedastisitas.

5.1.1 Multikolinieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah ditemukan adanya korelasi atau hubungan antar variabel bebas dalam dalam suatu model regresi, dimana korelasi di antara variabel bebas seharusnya tidak terjadi dalam model regresi yang baik. Adapun kriteria nilai pengujiannya adalah sebagai berikut :

Jika nilai VIF < 10 atau nilai tolerance > 0,10, maka model tidak mengalami multikolinieritas.

Jika nilai VIF > 10 atau nilai tolerance < 0,10, maka model mengalami multikolinieritas.

Tabel 5.1 memperlihatkan nilai tolerance dan nilai VIF (Variance Inlavtion Factor) dari hasil uji multikolinieritas.

Tabel 5.1 Coefficients Produktivitas Salak Pakkat

,899 1,113 Tidak Terjadi Multikolinearitas Pupuk (Kg/Ha) ,462 2,163 Tidak Terjadi Multikolinearitas Tenaga Kerja

(HKP/Tahun)

,331 3,020 Tidak Terjadi Multikolinearitas Pestisida (Liter/Ha) ,273 3,662 Tidak Terjadi Multikolinearitas Sumber : Analisis Data Diolah dari Lampiran

Dari tabel 5.1 dapat dilihat hasil pengujian multikolinieritas yang telah dilakukan diperoleh nilai VIF (Variance Inflation Factor) pada variabel kerapatan tanaman (X1) sebesar 1,113, variabel pupuk (X2) sebesar 2,163, variabel tenaga kerja (X3) sebesar 3,020, dan variabel pestisida (X4) sebesar 3,662, dan seluruhnya berada di bawah angka 10. Sedangkan nilai tolerance yang diperoleh masing-masing variabel adalah variabel kerapatan tanaman (X1) sebesar 0,899, variabel pupuk (X2) sebesar 0,462, variabel tenaga kerja (X3) sebesar 0,331, dan variabel pestisida (X4) sebesar 0,273, dan seluruhnya berada di atas angka 0,1.

Berdasarkan nilai VIF dan tolerance dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas antara variabel yang digunakan dalam metode analisis.

5.1.2 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam suatu model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi yang normal.

Adapun kriteria pengujiannya adalah sebagai berikut :

Sig. Kolmogorov-Smirnov > 0,05 = artinya data berdistribusi normal Sig. Kolmogorov-Smirnov < 0,05 = artinya data tidak berdistribusi normal.

Tabel 5.2 memperlihatkan nilai siginifikansi dari Uji Kolmogorov-Smirnov yang telah dilakukan.

Tabel 5.2 One Sample Kolmogorov-Smirnov Test Produktivitas Salak Pakkat One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 32

Normal Parametersa,b Mean ,0000000

Std. Deviation 3762,948930

Asymp. Sig. (2-tailed) ,393

Sumber : Analisis Data Diolah dari Lampiran

Dari tabel 5.2 dapat dilihat bahwa hasil uji Kolmogorov-Smirnov menunjukkan hasil tingkat signifikansi KS adalah sebesar 0,393 (α > 0,05). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan antara distribusi residual dengan disitribusi normal, sehingga dapat dikatakan bahwa data residual berdistribusi normal.

5.1.3 Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji sebuah model dalam regresi, apakah terjadi perbedaan varian residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain, dan prasyarat yang harus dipenuhi dalam suatu model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas. Dengan menggunakan metode grafik, maka asumsi yang digunakan adalah apabila grafik tersebut tidak membentuk pola yang teratur seperti pola bergelombang, maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas.

Gambar 5.1 Grafik Scatterplot Uji Heteroskedastisitas Sumber : Analisis Data Diolah dari Lampiran

Dari gambar 5.1 dapat dilihat bahwa hasil uji heteroskedastisitas yang menggunakan metode grafik menunjukkan bahwa pada grafik tersebut tidak membentuk pola yang teratur seperti pola bergelombang, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas.

5.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Salak Pakkat

Faktor-faktor yang dimasukkan dalam model regresi dan dianggap dapat mempengaruhi produktivitas salak pakkat dalam penelitian ini adalah kerapatan tanaman, pupuk, tenaga kerja, dan pestisida. Seberapa besar pengaruh setiap variabel tersebut dapat mempengaruhi produktivitas salak pakkat ini, dilihat dari hasil Uji Kesesuaian Model (Test of Goodness of Fit) berikut, yakni Koefisien Determinasi (R2), Uji Pengaruh Variabel Secara Serempak (Uji-F) dan Uji Pengaruh Variabel Secara Parsial (Uji-t).

5.2.1 Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat (dependent).

Koefisien determinasi bertujuan untuk mengetahui kemampuan dari variabel bebas (independent) dalam menjelaskan variabel terikat (dependent). Adapun nilai koefisien determinasi (R²) yang paling besar adalah 1, nilai yang paling kecil adalah 0, dan apabila nilai koefisien determinasi (R²) sama dengan nol maka regresi tidak memiliki pengaruh terhadap variabel terikat (dependent) 0.

Pada tabel 5.3 ditampilkan nilai R, R2, Adjusted R2, dan Standardt Error.

Tabel 5.3 Model Summary Koefisien Determinasi Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 .798a .637 .583 4032,06281

Sumber : Analisis Data Diolah dari Lampiran

Pada tabel 5.3 dapat dilihat hasil estimasi menunjukkan nilai koefisien determinasi R2 (R Square) yang diperoleh adalah 0,702. Hal ini menunjukkan bahwa 63,7 % variasi variabel terikat produktivitas salak pakkat telah dapat dijelaskan oleh variabel bebas seperti : kerapatan tanaman, pupuk, tenaga kerja, dan pestisida. Sedangkan sisanya 36,3 % dipengaruhi oleh variabel bebas atau faktor lain yang belum dimasukkan ke dalam model.

5.2.2 Uji Pengaruh Variabel Secara Serempak (Uji F)

Uji pengaruh variabel secara serempak digunakan untuk menguji ketepatan sebuah model apakah nilai prediksi dapat menggambarkan kondisi yang sesungguhnya. Adapun kriteria pengujiannya adalah sebagai berikut :

H0 : b1,b2,b3,b4 = 0, artinya variabel X tidak berpengaruh terhadap variabel Y.

H1 : b1,b2,b3,b4 0, artinya variabel X berpengaruh terhadap variabel Y.

Adapun kriteria dalam pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut : Jika Sig. F > 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak.

Jika Sig. F ≤ 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima.

Tabel 5.4 Anova Produktivitas Salak Pakkat ANOVAa

ANOVAa

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1

Regression 771055475,9 4 192763869,0 11,857 ,000b Residual 438953324,1 27 16257530,52

Total 1210008800 31

Sumber : Analisis Data Diolah dari Lampiran

Pada tabel 5.4 dapat dilihat hasil estimasi menunjukkan tingkat signifikansi F sebesar 0,000 (< α 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti bahwa variabel bebas seperti kerapatan tanaman, pupuk, tenaga kerja, dan pestisida secara serempak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat produktivitas salak pakkat.

5.2.3 Uji Pengaruh Variabel Secara Parsial (Uji t)

Uji pengaruh variabel secara parsial digunakan menguji secara parsial pengaruh variabel bebas (independent) terhadap variabel terikat (dependent), sehingga dapat diketahui apakah variabel bebas (independent) secara parsial berpengaruh nyata terhadap variabel terikat (dependent). Taraf signifikansi (α) yang digunakan dalam ilmu sosial adalah 5 %.

Tabel 5.5 Coefficients Produktivitas Salak Pakkat Coefficientsa

Model Unstandardized

Kerapatan Tanaman (Batang/Ha) 8,561 3,731 ,608 4,975 ,000

Pupuk (Kg/Ha) 1,025 6,743 ,026 ,152 ,880

Tenaga Kerja (HKP/Ha) 2,041 6,069 ,068 ,336 ,739

Pestisida (Liter/Ha) 1,497 6,717 ,329 1,482 ,150

Sumber : Analisis Data Diolah dari Lampiran

Hasil estimasi pada kolom Unstandardized Coefficents dimasukkan ke dalam persamaan fungsi Cobb-Douglas berikut :

LnY = 1,407 + 8,561Ln + 1,025Ln + 2,041Ln – 1,497Ln + u Dalam bentuk non-linier dapat digambarkan sebagai berikut :

Y = 1,407 , , , , Dimana :

Y = Produktivitas Salak Pakkat (Kg/Ha) X1 = Kerapatan Tanaman (Batang/Ha)

X2 = Pupuk (Kg/Ha)

X3 = Tenaga Kerja (HKP/Ha) X4 = Pestisida (Liter/Ha)

Hasil regresi di atas menunjukkan pengaruh sebagai berikut :

a. Pengaruh variabel Kerapatan Tanaman (X1) terhadap Produktivitas Salak Pakkat (Y)

Angka 8,561 pada Unstandardized Coefficients (B) menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi (parameter) variabel kerapatan tanaman bertanda positif sebesar 8,561. Hal ini menunjukkan bahwa setiap pertambahan jumlah kerapatan sebesar 1 %, maka akan meningkatkan produktivitas salak pakkat sebesar 8,561

%. Nilai signifikansi jumlah tanaman adalah sebesar 0,000 < 0,05 dan hal ini menunjukkan bahwa kerapatan tanaman secara parsial berpengaruh nyata terhadap produktivitas salak pakkat. Di daerah penelitian, sebagian besar petani menggunakan jarak tanam 2 m x 2 m dalam menjalankan usahatani salak pakkat, dengan jumlah tanaman sekitar 1000 batang untuk luas lahan sebesar 1 Ha.

Menurut Widyaningsih (2013), dengan menggunakan jarak tanam 2 m x 2 m

dapat dihasilkan sekitar 1800 batang dalam 1 Ha. Dapat dikatakan bahwa walaupun petani di daerah penelitian menggunakan jarak tanam yang sama yaitu 2 m x 2 m, namun kepadatan tanamannya masih jauh di bawah standar. Seharusnya petani di daerah penelitian perlu meningkatkan kepadatan tanaman salaknya hingga mendekati 1800 batang per Ha, sehingga produktivitas tanaman salak pakkat juga dapat meningkat.

b. Pengaruh variabel Pupuk (X2) terhadap Produktivitas Salak Pakkat (Y)

Angka 1,025 pada Unstandardized Coefficients (B) menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi (parameter) variabel pupuk bertanda positif sebesar 1,025.

Hal ini menunjukkan bahwa setiap pertambahan pupuk sebesar 1 %, maka akan meningkatkan produktivitas salak pakkat sebesar 1,025 %. Nilai signifikansi pupuk adalah sebesar 0,880 > 0,05 dan hal ini menunjukkan bahwa pupuk secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas salak pakkat. Hal ini dikarenakan para petani salak di daerah penelitian tidak mengikuti anjuran pemupukan dari Direktorat Tanaman Buah. Para petani di daerah penelitian melakukan pemupukan rata-rata sebanyak 200 g/pohon untuk setiap jenis pupuk yang digunakan dan diberikan setiap 6 bulan sekali. Sedangkan berdasarkan anjuran pemupukan dari Direktorat Tanaman Buah, untuk tanaman salak adalah sebanyak 20 g/pohon dan diberikan setiap enam bulan sekali. Sehingga dapat dikatakan bahwa pemupukan yang dilakukan oleh petani di daerah penelitian kelebihan atau over dosis pemupukan.

c. Pengaruh variabel Tenaga Kerja (X3) terhadap Produktivitas Salak Pakkat (Y) Angka 2,041 pada Unstandardized Coefficients (B) menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi (parameter) variabel tenaga kerja bertanda positif sebesar

2,041. Hal ini menunjukkan bahwa setiap pertambahan tenaga kerja sebesar 1 %, maka akan meningkatkan produktivitas salak pakkat sebesar 2,041 %. Nilai signifikansi tenaga kerja adalah sebesar 0,739 > 0,05 dan hal ini menunjukkan bahwa tenaga kerja secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas salak pakkat. Hal ini dikarenakan tanaman salak tidak membutuhkan banyak perawatan, sehingga penggunaan tenaga kerja juga tidak terlalu banyak dibutuhkan. Sehingga dapat dikatakan bahwa tenaga kerja tidak banyak berpengaruh dalam meningkatkan produktivitas salak pakkat.

d. Pengaruh variabel Pestisida (X4) terhadap Produktivitas Salak Pakkat (Y) Angka 1,497 pada Unstandardized Coefficients (B) menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi (parameter) variabel pestisida bertanda positif sebesar 1,497. Hal ini menunjukkan bahwa setiap pertambahan pestisida sebesar 1 %, maka akan meningkatkan produktivitas salak pakkat sebesar 1,497 %. Nilai signifikansi pestisida adalah sebesar 0,150 > 0,05 dan hal ini menunjukkan bahwa pestisida secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas salak pakkat. Menurut Wiraatmaja dan Rai (2017), pestisida yang sering digunakan dalam membasmi hama dan penyakit pada tanaman salak adalah pestisida jenis Diazenon untuk membasmi kumbang penggerek batang, Zink Phospit untuk membasmi tikus, dan Furadan 3 G untuk membasmi tupai. Akan tetapi di daerah penelitian, para petani salak pakkat tidak terlalu banyak dalam menggunakan pestisida dan hanya menggunakan satu jenis pestisida yaitu roundup untuk membasmi gulma, karena petani merasa tanaman salak pakkat yang mereka usahakan cenderung tahan terhadap hama dan penyakit sehingga tidak terlalu membutuhkan pestisida dalam perawatannya.

Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa variabel kerapatan tanaman (X1) secara parsial berpengaruh nyata terhadap produktivitas salak pakkat (Y), sedangkan variabel lainnya seperti pupuk (X2), tenaga kerja (X3), dan pestisida (X4) secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas salak pakkat (Y).

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan

1. Secara serempak variabel kerapatan tanaman, pupuk, tenaga kerja, dan pestisida berpengaruh nyata terhadap produktivitas usahatani salak pakkat di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan.

Variabel-variabel tersebut mampu menjelaskan sebesar 63,7 % terhadap produktivitas usahatani salak pakkat, sedangkan sisanya sebesar 36,3 % merupakan variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model. Secara parsial variabel kerapatan tanaman berpengaruh nyata terhadap produktivitas usahatani salak pakkat, sedangkan variabel lainnya seperti pupuk, tenaga kerja, dan pestisida secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas salak pakkat.

6.2 Saran

1. Kepada pemerintah diharapkan untuk lebih meningkatkan penyuluhan mengenai penggunaan pupuk dan pestisida kepada petani agar penggunaannya sesuai anjuran atau standar yang ditetapkan.

2. Kepada petani diharapkan menerapkan teknik budidaya salak pakkat secara efektif dan efisien terutama dalam penggunaan pupuk dan pestisida, sehingga dapat meningkatkan produktivitas salak pakkat.

DAFTAR PUSTAKA

Anarsis, W. 2006. Agribisnis Komoditas Salak. Jakarta : Bumi Aksara.

Alam, 2006. Ekonomi. Jakarta : ESIS.

Astuti. 2007. Budidaya Salak. Jakarta : Agromedia Pustaka.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Humbang Hasundutan. Hortikultura. Produksi Buah-Buahan menurut Kecamatan. Diakses pada 14 Maret 2021 melalui https://humbanghasundutan.go.id/subject/hortikultura.

Badan Pusat Statistik Sumatera Utara. Hortikultura. Produksi Buah-Buahan Menurut Jenis Tanaman (ton) Provinsi Sumatera Utara Tahun 2015-2019.

Diakses pada tanggal 14 Maret 2021 melalui https://sumut.bps.go.id/subject/55/hortikultura.html#subjekViewTab3 Cahyono, Bambang. 2016. Panen Untung dari Budidaya Salak Intensif.

Yogyakarta : Lily Publisher.

Daryanto, dan Rahardjo, M. 2012. Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta : Gava Media

Djojosumarto, P. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. Jakarta : PT. Agromedia Pustaka.

Dwicaksono, M. R. B., Suharto, B., L. D. Susanawati. 2013. Pengaruh Penambahan Effective Microorganisme pada Limbah Cair Industri Perikanan terhadap Kualitas Pupuk Cair Organik. Malang : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya.

Ghozali, I. 2011. Aplikasi Analisis Multivariat Dengan Program SPSS. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Gustini, D., S. Fatonah, Sujarwati. 2012. Pengaruh Pupuk Rootone F dan Pupuk Bayfolan terhadap Pembentukan Akar dan Pertumbuhan Anakan Salak Pondoh (Salacca edulis Reinw). Biospecies. 5(1):8-13.

Hakim, L. dan Setiawan, B. H. 2014. “Pemanfaatan Salak Afkir sebagai Media Produksi Nata DE Salacca di Kabupaten Banjanegara”. Media Agrosain.

1(1), 1-4.

Hakim, T., Lubis, Z., dan Sibuea, M. B. 2018. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Salak Pondoh di Desa Tiga Juhar Kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Jurnal Padi.

3(2).

Handoko, T. Hani. 2012. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia.

Yogyakarta : BPFE.

Harahap, H. M. Y., Bayu, E. S., & Siregar, L. A. M. 2013. “Identifikasi Karakter Morfologis Salak Sumatera Utara (Salacca sumatrana Becc.) di Beberapa daerah kabupaten Tapanuli Selatan”. Agroekoteknolgi, 1(3).

Hardana, A. 2012. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Salak di Kota Padangsidimpuan. Masters Thesis. Medan : Universitas Negeri

Hardana, A. 2012. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Salak di Kota Padangsidimpuan. Masters Thesis. Medan : Universitas Negeri

Dokumen terkait