BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Landasan Teori
2.2.3. Fungsi Produksi
Fungsi produksi merupakan suatu persamaan yang menunjukkan jumlah maksimum output yang dihasilkan dengan kombinasi input tertentu. Fungsi produksi menunjukkan sifat hubungan di antara faktor-faktor produksi dan tingkat produksi yang dihasilkan (Soekartawi, 2003).
Fungsi produksi juga dapat dikatakan sebagai hubungan fisik antara variabel yang dijelaskan (Q) dan variabel yang menjelaskan (X). Variabel yang dijelaskan biasanya berupa output yang menjelaskan biasanya berupa input.
Secara matematis, hubungan ini dapat ditulis sebagai berikut :
Keterangan :
Y = Tingkat produksi (output) dipengaruhi oleh faktor X ๐ = ๐(๐ฟ๐๐ฟ๐๐ฟ๐,..โฆ๐ฟ๐)
X = Input yang digunakan atau variabel yang mempengaruhi Q (Soekartawi, 2003).
Dalam teori ekonomi diambil pula satu asumsi dasar mengenai sifat dari fungsi produksi. Fungsi produksi dari semua produksi dimana semua produsen dianggap tunduk pada suatu hukum yang disebut : The Law Of Diminishing Returns. Kondisi ini menjelaskan bahwa apabila faktor input ditambah secara
terus menerus sebanyak satu unit, maka produk total akan terus mengalami pertambahan yang proporsional. Pada suatu pertambahan unit input, pertambahan outputnya menjadi akan semakin berkurang hingga akhirnya tidak terjadi pertambahan atau terjadi penurunan produk total ketika input terus dilakukan pertambahan (Nicholson, 2002).
Produksi Rata-Rata
Produksi rata-rata adalah total produksi dibagi dengan jumlah faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan produksi tersebut. Konsep ini menyatakan mengenai perubahan produk total karena terjadinya penambahan (atau pengurangan) satu satuan input variabel (Rosyidi, 2008).
(Wijayanti, 2009)
Gambar 2.1 Kurva Produksi Rata-Rata
Produksi Marjinal
Produktivitas marginal atau Marginal Physical Product (MPP) adalah tambahan kuantitas output yang dihasilkan dengan menambah satu unit input itu, dengan menganggap konstan seluruh input lainnya (Nicholson, 2002).
(Wijayanti, 2009)
Gambar 2.2 Kurva Produksi Marjinal
Produktivitas fisik marginal yang semakin menurun (Diminishing Marginal Physical Productivity), produktifitas fisik marjinal suatu input
tergantung pada beberapa banyak input ini digunakan. Misalnya tenaga kerja (sementara itu jumlah peralatan, pakan, dan lain-lain dipertahankan tetap). Pada akhirnya menunjukkan suatu kerusakan pada produktifitasnya, sehingga akibatnya output yang di dapat justru akan turun. Gambaran di atas menunjukkan berlakunya Law of Diminishing Marginal Productivity yaitu apabila salah satu input ditambah penggunaannya sedang input-input lainnya tetap maka tambahan yang dihasilkan dari setiap tambahan output yang dihasilkan dari setiap tambahan satu unit yang ditambahkan mula-mula meningkat, tetapi kemudian akan menurun apabila input tersebut terus di tambah. Hukum ini berlaku pada fungsi produksi jangka pendek, karena pada fungsi yang berjangka pendek paling tidak salah satu inputnya adalah tetap. Adanya input yang tetap jumlahnya ini akan membatasi
kemampuan tambahan output bila ada tambahan input variabel untuk menambah output adalah terbatas.
2.2.4 Teori Produktvitas
Produktivitas merupakan sebuah konsep yang menggambarkan hubungan antara hasil (jumlah barang dan atau jasa yang diproduksi) dengan sumber (jumlah tenaga kerja, modal, tanah, energi, dan sebagainya) untuk menghasilkan hasil produksi tersebut (Daryanto, 2012).
Produktivitas juga dapat diartikan sebagai hubungan antara masukan-masukan dan keluaran-keluaran suatu sistem produktif. Dalam teori, hubungan ini diukur sebagai rasio keluaran dibagi masukan (Handoko, 2012).
2.2.5 Faktor-Faktor Produktivitas
Faktor produktvitas adalah segala sesuatu yang dibutuhkan produsen sebagai input untuk memproduksi barang yang siap pakai, untuk memproduksi suatu barang jadi produsen membutuhkan lahan sebagai tempat berproduksi, modal dan kemampuan untuk mengeloa semua yang disebut kewirausahaan (Alam, 2006).
Dalam menjalankan usahatani salak pakkat, tentunya petani didorong oleh beberapa faktor yang pada akhirnya mempengaruhi produktivitas usahatani salak pakkat. Berdasarkan uraian sebelumnya, maka penulis merangkum beberapa faktor-faktor yang diduga mempengaruhi produktivitas usahatani salak pakkat yang diantaranya adalah kerapatan tanaman, pupuk, tenaga kerja, luas lahan, dan pestisida.
1. Kerapatan Tanaman
Pembibitan salak terdiri dari 2 cara, yaitu: generatif yaitu bibit salak diperoleh dari biji yang dibenihkan dan cara vegetatif yaitu bibit tanaman salak diperoleh dari bibit cangkokan. Jumlah bibit perbanyakan dari biji, maka di tiap lubang tanam diberi 2 rumpun. Jika bibit tanaman salak berasal dari cangkok, maka untuk setiap lubang tanam hanya diberi satu rumpun bibit tanaman salak (Ratih, et al., 2017).
Jarak tanam yang biasa dipakai untuk menanam salak adalah 2 x 2 meter.
Setelah menentukan jarak tanam, selanjutnya dilakukan pembuatan lubang tanam yang berkisar 50 x 50 x 50 cm atau 75 x 75 x 75 cm. Pada umumnya jumlah tanaman salak mencapai 1.800 rumpun/hektar (Widyaningsih, et al., 2013).
2. Pupuk
Pupuk merupakan salah satu kunci dari kesuburan tanah karena berisi satu atau lebih unsur untuk menggantikan unsur yang habis terisap tanaman. Jadi, memupuk berarti menambah unsur hara kedalam tanah dan tanaman. Pupuk merupakan meterial yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mecukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik (Dwicaksono, et al., 2013).
Secara umum pupuk hanya dibagi dalam dua kelompok berdasarkan asalnya, yaitu pupuk organik seperti urea (pupuk N), TSP atau SP-36 (pupuk P), KCL (pupuk K) dan pupuk organik seperti pupuk kandang, kompos, humus, dan pupuk hijau (Lingga dan Marsono, 2013).
Dalam pemupukan tanaman salak, biasanya pupuk yang digunakan adalah pupuk KCL dan NPK mutiara, namun terkadang petani juga memanfaatkan
pelepah-pelepah daun salak yang telah dipangkas sebagai sumber pupuk organik.
Hal ini dilakukan dengan cara meletakkan pelepah-pelepah daun tersebut disekitar tajuk tanaman dan menimbunnya dengan tanah (Tama, et al., 2014).
Pemupukan pada tanaman salak biasanya menggunakan 2 jenis pupuk, yaitu pupuk organik (pupuk alami) dan pupuk-organik (pupuk buatan). Pupuk organik yang sering digunakan adalah pupuk kandang sedangkan pupuk an-organik yang sering dipergunakan adalah pupuk Urea, SP-36, dan KCL. Dosis pupuk pertanaman berdasarkan umur tanaman adalah: (a) tanaman umur 0-12 bulan diberi pupuk dengan dosis: pupuk kandang 1000 g, Urea 5 g, SP-36 5 g, KCl 5 g diberikan sebulan sekali; (b) tanaman umur 12-24 bulan diberi pupuk dengan dosis: pupuk kandang 1000 g, Urea 10 g, SP-36 10 g, KCl 10 g diberikan dua bulan sekali; (c) tanaman umur 24-36 bulan diberi pupuk dengan dosis: pupuk kandang 1000 g, Urea 15 g, SP-36 15 g, KCl 15 g diberikan tiga bulan sekali; (d) tanaman umur 36 bulan dan seterusnya diberi pupuk dengan dosis: pupuk kandang 1000 g, Urea 20 g, SP-36 20 g, KCl 20 g diberikan setiap enam bulan sekali (Direktorat Tanaman Buah, 2004).
3. Tenaga Kerja
Menurut Undang-Undang No. 13 tahun 2003, yang termasuk tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan atau melaksanakan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa untuk memenuhi kebutuhan pribadi ataupun masyarakat. Sedangkan menurut Simanjuntak (2001), tenaga kerja merupakan penduduk yang sudah atau sedang bekerja, yang sedang mencari pekerjaan, dan yang melaksanakan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga.
Dalam usahatani sebagian besar tenaga kerja berasal dari keluarga petani sendiri yang terdiri dari ayah sebagai kepala keluarga, isteri, dan anak-anak petani. Tenaga kerja yang berasal dari keluarga petani ini merupakan sumbangan keluarga pada produksi pertanian secara keseluruhan dan tidak pernah dinilai dengan uang. Ukuran tenaga kerja dapat dinyatakan dalam hari kerja pria (HKP) (Soekartawi, 2003).
Satuan tenaga kerja dalam usahatani dibedakan atas :
a. Hari kerja pria (HKP) tenaga yang dikeluarkan satu pria dewasa per hari dalam kegiatan usahatani.
b. Hari kerja wanita (HKW) adalah tenaga yang dikeluarkan oleh satu wanita dewasa per hari dalam kegiatan usahatani yang nilainya setara dengan 0,8 HKP.
c. Hari kerja anak (HKA) adalah tenaga yang dikeluarkan oleh seorang anak per hari yang nilainya setara dengan 0,5 HKP.
d. Hari kerja ternak (HKT) adalah tenaga kerja yang dikeluarkan oleh satu ekor hewan ternak (kerbau,lembu, atau sapi) per hari yang nilainya setara dengan 5 HKP.
e. Hari kerja mesin (HKM) adalah tenaga kerja yang dikeluarkan oleh satu unit mesin yang setara dengan 25 HKP per hari penggunaannya dalam kegiatan usahatani.
4. Pestisida
Pestisida merupakan merupakan bahan kimia atau campuran bahan kimia serta bahan-bahan lain seperti ekstrak tumbuhan, mikroorganisme, dan lain sebagainya. Senyawa pestisida bersifat bioaktif, artinya pestisida dengan satu atau
beberapa cara dapat mempengaruhi kehidupan, seperti menghentikan pertumbuhan, membunuh hama/penyakit, membunuh/menekan gulma, mengusir
hama, mempengaruhi/mengatur pertumbuhan tanaman,
mengeringkan/merontokan daun, dan sebagainya (Djojosumarto, 2000).
Pestisida yang digunakan di bidang pertanian secara spesifik sering disebut sebagai produk perlindungan tanaman (crop protection products) atau pestisida tanaman. Penyebutan ini dimaksudkan untuk membedakannya dari jenis pestisida yang digunakan di bidang lain ( Djojosumarto, 2008).
2.3 Penelitian Terdahulu
Adapun penelitian-penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut.
Penelitian Prajoko, et al., (2019), yang berjudul โAnalisis Optimalisasi Faktor-Faktor Produksi Salak Pondoh di Kelompok Tani โSi Cantikโ di Kecamatan Turi, Kabupaten Slemanโ yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh luas lahan, populasi tanaman, pupuk organik dan curahan waktu tenaga kerja terhadap produksi salak pondoh dan menganalisis optimalisasi penggunaan faktor produksi pada kelompok tani โSi Cantikโ. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Metode pelaksanaan penelitian menggunakan metode survei.
Metode penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive. Metode pengambilan responden menggunakan metode sampel jenuh (sensus). Macam data yang digunakan berupa data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yaitu melalui observasi, wawancara, dan kuisioner. Teknik analisis yang digunakan adalah Cobb-Douglas untuk analisis faktor produksi, untuk menghitung penggunaan input yang optimal dengan cara menghitung rasio
antara Marginal Value Product (MVP) dengan harga input (Px). Hasil penelitian diperoleh bahwa : 1) luas lahan, populasi tanaman, pupuk organik dan curahan waktu tenaga kerja berpengaruh terhadap produksi salak pondoh di kelompok tani
โSi Cantikโ. 2) faktor produksi yang meliputi luas lahan, populasi tanaman dan pupuk organik belum optimal, sedangkan curahan waktu tenaga kerja tidak optimal.
Penelitan Hakim, et al., (2018) yang berjudul โAnalisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Salak Pondoh di Desa Tiga Juhar Kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utaraโ dengan tujuan penelitian yaitu menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi salak pondoh seperti luas lahan, tenaga kerja, bibit, dan modal, serta menganalisis faktor produksi yang memberikan pengaruh besar di daerah penelitian. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode judgment sampling (purposive sampling) yakni teknik penentuan sampel penelitian terhadap beberapa
karakteristik anggota sampel yang disesuaikan dengan maksud peneliti dan sampel yang digunakan adalah sebanyak 70 petani dari total jumlah petani salak pondoh 243 orang di desa. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode analisis regresi linier berganda, metode tersebut digunakan untuk meramalkan pengaruh dari suatu variabel terikat berdasarkan variabel bebas dengan menggunakan alat bantu aplikasi software SPSS 2017. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa secara keseluruhan model produksi salak pondoh yang diestimasikan memberikan hasil yang positif karena semua variabel independen yang diamati terlihat bahwa variabel luas lahan, tenaga kerja, bibit
dan pupuk berpengaruh signifikan terhadap hasil produksi salak pondoh dan variabel modal berpengaruh tidak nyata terhadap hasil produksi.
Penelitian Pratomo (2018), yang berjudul โAnalisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Usaha Salak Pondoh di Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Slemanโ yang bertujuan untuk untuk mengetahui faktor-faktor yang mengetahui produksi usaha salak pondoh di daerah penelitian. Alat analisis yang digunakan adalah regresi liner berganda. Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa menyatakan bahwa keempat variabel mempengaruhi jumlah produksi buah salak. Variabel modal usaha, luas lahan, populasi tanaman, frekuensi pemupukan secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan jumlah produksi buah salak pondoh.
Penelitian Hardana (2012) , yang berjudul โAnalisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Salak di Kota Padangsidimpuanโ yang bertujuan untuk menganalisis dan melihat faktor-faktor yang mempengaruhi produksi salak di Kota Padangsidimpuan. Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari data primer yang bersumber dari beberapa petani salak yang ada di Kota Padangsidimpuan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Petani responden yang ditentukan melalui cluster random sampling berdasarkan kategori tertentu dengan metode pengambilan data
secara kuisioner sebanyak 73 orang dari 270 Petani Salak di Kota Padangsidimpuan. Teknik analisis yang digunakan melalui model analisis regresi berganda berganda dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS), dimana model yang analisis mempergunakan fungsi respon produksi usahatani salak dengan menggunakan fungsi Cobb-Douglas. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa : 1) keseluruhan model produksi salak yang diestimasikan memberikan hasil yang positif karena semua variabel independen yang diamati terlihat bahwa variansi Luas Lahan (A), Tenaga kerja (L), Harga (P), dan variabel Modal berpengaruh secara signifikan terhadap hasil produksi salak (Q). Berdasarkan analisis tabel 4.10 nampak bahwa F hitung sebesar = 106,665 dan probability 0,0000 adalah signifikan, karena probability < 0,05. 2) Dari hasil analisis statistik pada tabel estimasi 4.10 uji t parsial ternyata variabel luas lahan (A) merupakan variabel dominan yang berpengaruh terhadap hasil produksi salak di Kota Padangsidimpuan.
2.4 Kerangka Pemikiran
Salak pakkat merupakan salah satu komoditas utama yang banyak diusahakan oleh petani di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan. Hal ini sesuai dengan jumlah produksi salak pakkat yang lebih tinggi dibandingkan komoditas lainnya yang diusahakan oleh para petani.
Produktivitas yang tinggi merupakan salah satu tujuan utama dalam usahatani salak pakkat yang kemudian dapat meningkatkan pendapatan petani salak pakkat di Desa Pakkat Hauagong.
Dalam melakukan usahatani salak pakkat, petani tentunya didorong oleh beberapa faktor dalam melaksanakan proses produksi. Dalam hal ini, penulis telah merangkum beberapa faktor yang diduga mempengaruhi produktivitas usahatani salak pakkat, diantaranya adalah kerapatan tanaman, pupuk, tenaga kerja, dan pestisida.
Keterangan :
= menyatakan adanya hubungan
= menyatakan adanya pengaruh
Gambar 2.3 Skema Kerangka Pemikiran Usahatani
Salak Pakkat
Kerapatan Tanaman
Hasil Produksi Usahatani Salak Pakkat
Pupuk Tenaga
Kerja Pestisida
2.5 Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
H0 : tidak terdapat pengaruh yang nyata antara variabel X (kerapatan tanaman, pupuk, tenaga kerja, dan pestisida) terhadap variabel Y (produktivitas salak pakkat).
H1 : terdapat pengaruh yang nyata antara variabel X (kerapatan tanaman, pupuk, tenaga kerja, dan pestisida) terhadap variabel Y (produktivitas salak pakkat).
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan. Penentuan daerah penelitian dilakukan dengan metode purposive yang artinya dilakukan secara sengaja. Hal ini didasari oleh pertimbangan karena Desa Pakkat Hauagong, Kecamatan Pakkat merupakan salah satu sentra produksi salak pakkat terbesar di Kabupaten Humbang Hasundutan.
Tabel 3.1 Produksi dan Luas Lahan Tanaman Salak Menurut Desa yang Terdapat di Kecamatan Pakkat Tahun 2017
Pakkat Hauagong 146,16 52
Purba Bersatu 322,77 53
Ambobi Paranginan 73,08 12
Purba Sianjur 347,13 57
Sumber : PPL Kecamatan Pakkat, 2018
Pada tabel 3.1 di atas, dapat dilihat bahwa produksi salak di Desa Pakkat Hauagong pada tahun 2017 mencapai 146,16 ton. Walaupun tidak menempati urutan tertinggi, angka produksi tersebut cukup besar dibandingkan dengan desa-desa lainnya di Kecamatan Pakkat dan berkontribusi besar dalam menghasilkan komoditi salak di Kecamatan Pakkat dan Kabupaten Humbang Hasundutan.
Selain itu, di Desa Pakkat Hauagong terdapat pasar yang merupakan pusat pemasaran salak di Kecamatan Pakkat, dimana pemasaran salak dilakukan ke berbagai luar daerah seperti ke daerah Dolok Sanggul, Barus, dan Aceh. Hal tersebut menjadi pertimbangan penulis memilih Desa Pakkat Hauagong sebagai daerah penelitian.
3.2 Metode Penentuan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas, obyek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011). Populasi dalam penelitian ini adalah petani salak pakkat di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan sebanyak 110 orang.
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah probability sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang/kesempatan
yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simple random sampling. Besar sampel ditentukan dengan Rumus Slovin yaitu :
๐ = ๐ต
๐ + ๐ต (๐)ยฒ
Keterangan : n = jumlah sampel
N = jumlah/ukuran populasi
e = taraf kesalahan ( dalam penelitian ini digunakan ฮฑ = 0,15)
Berdasarkan rumus Slovin dengan taraf kesalahan sebesar 15% maka dapat dihitung banyaknya sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Sehingga, dapat ditentukan bahwa jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sebanyak 32 petani salak pakkat.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh dengan melakukan pengamatan dan wawancara langsung dengan petani (responden) dengan membuat daftar pertanyaan yang dibuat dalam bentuk kuisioner yang berisi pertanyaan mengenai identitas petani, penggunaan jumlah tanaman, penggunaan pupuk, curahan tenaga kerja, penggunaan pestisida, dan total produksi. Dalam hal ini, yang menjadi responden adalah petani salak pakkat di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan.
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari berbagai instansi terkait, seperti Badan Pusat Statistik, BPP Kecamatan Pakkat, jurnal, buku, literatur, internet, dan hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini. Data
๐ = ๐๐๐
๐ + ๐๐๐ (๐, ๐๐)ยฒ= ๐๐, ๐๐
yang diperlukan diantaranya adalah produksi, luas panen, dan produktivitas tanaman salak baik itu di tingkat provinsi, kabupaten, kecamatan, dan desa.
3.4 Metode Analisis Data
Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas usahatani salak pakkat di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan digunakan uji regresi Cobb-Douglas yang dapat dirumuskan sebagai berikut :
Keterangan :
Y = Produktivitas Salak Pakkat (Kg/Ha) X1 = Kerapatan Tanaman (Batang/Ha)
X2 = Pupuk (Kg/Ha)
X3 = Tenaga Kerja (HKP/Ha) X4 = Pestisida (Liter/Ha)
e = Bilangan natural (E = 2,7182) u = Unsur sisa (Galat)
b1,b2,b3,b4 = Koefisien Regresi masing-masing Variabel
Hasil yang telah diperoleh dari uji regresi Cobb-Douglas kemudian akan dilakukan Uji Kesesuaian Model (Test of Goodness of Fit) dan Uji Penyimpangan Asumsi Klasik.
Uji Kesesuaian Model (Test of Goodness of Fit) 1. Uji Koefisien Determinasi (Rยฒ)
๐ = ๐
๐๐ฟ
๐๐๐๐ฟ
๐๐๐๐ฟ
๐๐๐๐ฟ
๐๐๐๐
๐Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat (dependent).
Koefisien determinasi bertujuan untuk mengetahui kemampuan dari variabel bebas (independent) dalam menjelaskan variabel terikat (dependent). Adapun nilai koefisien determinasi (Rยฒ) yang paling besar adalah 1, nilai yang paling kecil adalah 0, dan apabila nilai koefisien determinasi (Rยฒ) sama dengan nol maka regresi tidak memiliki pengaruh terhadap variabel terikat (dependent) 0.
2. Uji Pengaruh Variabel Secara Serempak (Uji F)
Uji pengaruh variabel secara serempak digunakan untuk menguji ketepatan sebuah model apakah nilai prediksi dapat menggambarkan kondisi yang sesungguhnya. Adapun kriteria pengujiannya adalah sebagai berikut :
H0 : b1,b2,b3,b4 = 0, artinya variabel X tidak berpengaruh terhadap variabel Y.
H1 : b1,b2,b3,b4 0, artinya variabel X berpengaruh terhadap variabel Y.
Adapun kriteria dalam pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut : Jika Sig. F > 0,05 , maka H0 diterima dan H1 ditolak, sehingga artinya bahwa variabel X tidak berpengaruh terhadap variabel Y.
Jika Sig. F < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga artinya bahwa variabel X berpengaruh terhadap variabel Y.
3. Uji Pengaruh Variabel Secara Parsial (Uji t)
Uji pengaruh variabel secara parsial digunakan menguji secara parsial pengaruh variabel bebas (independent) terhadap variabel terikat (dependent), sehingga dapat diketahui apakah variabel bebas (independent) secara parsial berpengaruh nyata terhadap variabel terikat (dependent). Menurut Firdaus (2015),
taraf signifikansi (๏ก) yang digunakan dalam ilmu sosial adalah sebesar 5%.
Adapun kriteria pengujiannya adalah sebagai berikut :
H0 : b1,b2,b3,b4 = 0, artinya variabel X tidak berpengaruh terhadap variabel Y.
H1 : b1,b2,b3,b4 0, artinya variabel X berpengaruh terhadap variabel Y.
Adapun kriteria dalam pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut :
Jika Sig. t โค 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga artinya bahwa variabel X berpengaruh terhadap variabel Y.
Jika Sig. t > 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak, sehingga artinya bahwa variabel X tidak berpengaruh terhadap variabel Y.
Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Untuk menguji apakah data berdistribusi normal atau tidak, dilakukan uji statistik Kolmogorov-Smirnov Test (Ghozali, 2011).
Adapun kriteria nilai pengujiannya adalah sebagai berikut : Sig. Kolmogorov-Smirnov > 0,05 = artinya data berdistribusi normal Sig. Kolmogorov-Smirnov < 0,05 = artinya data tidak berdistribusi normal.
2. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji sebuah model dalam regresi, apakah terjadi perbedaan varian residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varian residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain adalah tetap maka disebut homoskedastisitas, dan sebaliknya jika varian residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain adalah berbeda, maka
disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah jika tidak terjadi heteroskedastisitas.
3. Uji Multikolinieritas
Uji Multikolinieritas merupakan suatu keadaan dimana variabel-variabel bebas (independent) saling berkolerasi antara satu dengan lainnya dan model regresi yang baik adalah tidak terjadi korelasi di antara variabel-variabel bebas (independent). Menurut Supriana (2013), ada atau tidak adanya multikolinieritas pada model regresi dapat dilihat dari tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor).
Adapun kriteria nilai pengujiannya adalah sebagai berikut :
Jika nilai VIF < 10 atau nilai tolerance > 0,10, maka model tidak mengalami multikolinieritas.
Jika nilai VIF > 10 atau nilai tolerance < 0,10, maka model mengalami multikolinieritas.
3.5 Definisi dan Batasan Operasional 3.5.1 Definisi
1. Salak pakkat merupakan varietas salak yang berasal dan berkembang di Kecamatan Pakkat dan banyak dibudidayakan oleh petani di daerah tersebut.
2. Produktivitas salak pakkat merupakan hasil dari usahatani salak pakkat dibagi dengan luas lahan yang diusahakan yang dinyatakan dalam satuan kilogram per hektar (Kg/Ha).
3. Faktor produktivitas merupakan segala sesuatu (input) yang digunakan dalam menghasilkan produksi salak pakkat (output), dalam hal ini adalah kerapatan tanaman, pupuk, tenaga kerja, dan pestisida.
4. Kerapatan tanaman merupakan banyaknya tanaman salak yang ditanam pada suatu lahan dan dinyatakan dalam satuan batang.
5. Pupuk merupakan material yang ditambahkan pada tanah untuk menambah kesuburan tanaman dan dinyatakan dalam satuan kilogram (Kg).
6. Tenaga kerja merupakan orang yang bekerja dalam usahatani salak pakkat dan dinyatakan dalam satuan hari kerja pria dewasa (HKP).
7. Pestisida merupakan bahan kimia yang digunakan untuk membasmi hama dan penyakit pada tanaman dan dinyatakan dalam satuan liter (L).
7. Pestisida merupakan bahan kimia yang digunakan untuk membasmi hama dan penyakit pada tanaman dan dinyatakan dalam satuan liter (L).