BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN
4.3 Sarana dan Prasarana Desa
Dengan tersedianya sarana dan prasarana sangat mempengaruhi perkembangan dan kemajuan suatu daerah. Ketersediaan sarana dan prasarana di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan sudah sangat baik jika dilihat dari jumlah ketersediaan bagi masyarakat. Sarana dan prasarana di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut.
Tabel 4.5 Sarana dan Prasarana di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan
No Sarana dan Prasarana Jumlah
1 PAUD/TK 3
Sumber : Kantor Kepala Desa Pakkat Hauagong, 2021
4.4 Karakteristik Petani Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah petani yang memiliki lahan usatani salak sebanyak 32 orang. Karakteristik petani sampel penelitian meliputi :
4.4.1 Karakteristik Berdasarkan Umur
Umur merupakan hal yang penting untuk diketahui karena berpengaruh terhadap cara berpikir yang lebih matang dan berpengaruh terhadap kemampuan bekerja dan mengolah usahataninya dengan baik. Umumnya umur yang lebih muda akan lebih cepat menerima informasi-informasi yang dianjurkan, sedangkan umur yang lebih tua mempunyai pengalaman yang matang dalam mengelola usahataninya. Jumlah sampel petani berdasarkan umur di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan dapat dilihat pada Tabel 4.6
berikut :
Tabel 4.6 Jumlah Sampel Berdasarkan Umur di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan
No Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 20-40 6 18,75
2 41-60 16 50,00
3 > 60 10 31,25
Jumlah 32 100,00
Sumber : Data Primer (diolah), 2021
Berdasarkan Tabel 4.6, diketahui bahwa persentase umur petani sampel penelitian yang paling banyak adalah petani dengan kisaran umur 41-60, dengan jumlah persentase sebesar 50 % dari seluruh sampel penelitian. Sedangkan petani sampel penelitian yang paling sedikit adalah petani dalam kisaran umur 20-40 tahun dengan persentase sebesar 18,75 % dari seluruh sampel petani di daerah penelitian.
4.4.2 Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis kelamin dalam sampel penelitian juga berpengaruh terhadap kinerja seseorang dalam berusahatani. Petani dengan jenis kelamin perempuan cenderung kurang maksimal dalam melakukan kegiatan usahataninya karena kemampuan fisik perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Jumlah sampel berdasarkan jenis kelamin di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut :
Tabel 4.7 Jumlah Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan No Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 Perempuan 15 46,87
2 Laki-Laki 17 53,13
Jumlah 32 100,00
Sumber : Data Primer (diolah), 2021
Berdasarkan Tabel 4.7, dapat diketahui bahwa persentase petani sampel penelitian yang memiliki lahan usahatani berdasarkan jenis kelamin paling banyak adalah laki-laki dengan jumlah persentase sebesar 53,13 % dari seluruh jumlah sampel petani, dan selebihnya adalah perempuan dengan jumlah persentase sebesar 46,87 % dari seluruh sampel petani di daerah penelitian.
4.4.3 Karakteristik Berdasarkan Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang merupakan salah satu faktor yang akan mempengaruhi kemampuan berusahatani petani. Semakin tinggi tingkat pendidikan petani, maka petani akan lebih cenderung memberikan respon positif terhadap materi penyuluhan dan lebih mudah mengadopsi materi yangtelah diterima dalam meningkatkan usahataninya. Jumlah petani sampel berdasarkan tingkat Pendidikan di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut :
Tabel 4.8 Jumlah Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan No Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 SD 2 6,25
Sumber : Data Primer (diolah), 2021
Berdasarkan Tabel 4.8, diketahui bahwa jumlah petani sampel penelitian berdasarkan tingkat Pendidikan pada umumnya petani lebih banyak menempuh pendidikan SMA/SMK yaitu sebanyak 16 orang dengan persentase sebesar 50 %.
4.4.4 Karakteristik Berdasarkan Lama Berusahatani
Pengalaman berusahatani merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pengembangan usahataninya. Semakin lama petani menekuni usahataninya, maka akan semakin banyak pengalaman yang dimilikinya dan cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik. Jumlah petani sampel berdasarkan lama berusahatani di Desa Pakkat Haugong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan dapat dilihat pada Tabel 4.9 berikut :
Tabel 4.9 Jumlah Sampel Berdasarkan Lama Berusahatani di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan No Lama Berusahatani (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 1-10 10 31,25
2 11-20 15 46,88
3 > 20 7 21,87
Jumlah 32 100,00
Sumber : Data Primer( diolah), 2021
Berdasarkan Tabel 4.9, diketahui bahwa pengalaman bertani sampel petani salak yang paling banyak adalah pada rentang 11-20 tahun yaitu sebanyak 15 orang dengan persentase sebesar 46,88 %. Sedangkan pengalaman bertani yang paling sedikit pada rentang lebih dari 20 tahun yaitu sebanyak 7 orang dengan persentase sebesar 21,87 % dari seluruh sampel petani di daerah penelitian.
4.4.5 Karakteristik Berdasarkan Luas Lahan
Luas Lahan merupakan salah satu faktor petani dalam mengambil keputusan, dimana besarnya biaya yang digunakan dalam melakukan usahatani salak dipengaruhi oleh luas lahan. Semakin luas lahan yang dimiliki oleh petani salak maka akan semakin banyak jumlah produksi yang diperoleh petani. Jumlah petani sampel berdasarkan luas lahan di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan dapat dilihat pada Tabel 4.10 berikut :
Tabel 4.10 Jumlah Sampel Berdasarkan Luas Lahan di Desa Pakkat
Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan No Luas Lahan (Ha) Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 > 0,5 23 71,87
2 0,5 – 1 6 18,75
3 < 1 3 9,38
Jumlah 32 100,00
Sumber : Data Primer (diolah), 2021
Berdasarkan Tabel 4.10, diketahui bahwa luas lahan sampel petani salak yang paling banyak adalah kurang dari 0,5 Ha yaitu sebanyak 23 orang dengan persentase sebesar 71,87 %. Sedangkan yang paling sedikit adalah dengan luas lahan lebih dari 1 Ha sebanyak 3 orang dengan persentase sebesar 9,38 % dari seluruh sampel petani di daerah penelitian.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Uji Asumsi Klasik
Sebelum dilakukan uji regresi tehadap faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas usahatani salak pakkat di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan, maka terhadap data variabel yang digunakan, sebelumnya dilakukan uji asumsi klasik, yang mencakup Uji Multikolinieritas, Uji Normalitas, dan Uji Heteroskedastisitas.
5.1.1 Multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah ditemukan adanya korelasi atau hubungan antar variabel bebas dalam dalam suatu model regresi, dimana korelasi di antara variabel bebas seharusnya tidak terjadi dalam model regresi yang baik. Adapun kriteria nilai pengujiannya adalah sebagai berikut :
Jika nilai VIF < 10 atau nilai tolerance > 0,10, maka model tidak mengalami multikolinieritas.
Jika nilai VIF > 10 atau nilai tolerance < 0,10, maka model mengalami multikolinieritas.
Tabel 5.1 memperlihatkan nilai tolerance dan nilai VIF (Variance Inlavtion Factor) dari hasil uji multikolinieritas.
Tabel 5.1 Coefficients Produktivitas Salak Pakkat
,899 1,113 Tidak Terjadi Multikolinearitas Pupuk (Kg/Ha) ,462 2,163 Tidak Terjadi Multikolinearitas Tenaga Kerja
(HKP/Tahun)
,331 3,020 Tidak Terjadi Multikolinearitas Pestisida (Liter/Ha) ,273 3,662 Tidak Terjadi Multikolinearitas Sumber : Analisis Data Diolah dari Lampiran
Dari tabel 5.1 dapat dilihat hasil pengujian multikolinieritas yang telah dilakukan diperoleh nilai VIF (Variance Inflation Factor) pada variabel kerapatan tanaman (X1) sebesar 1,113, variabel pupuk (X2) sebesar 2,163, variabel tenaga kerja (X3) sebesar 3,020, dan variabel pestisida (X4) sebesar 3,662, dan seluruhnya berada di bawah angka 10. Sedangkan nilai tolerance yang diperoleh masing-masing variabel adalah variabel kerapatan tanaman (X1) sebesar 0,899, variabel pupuk (X2) sebesar 0,462, variabel tenaga kerja (X3) sebesar 0,331, dan variabel pestisida (X4) sebesar 0,273, dan seluruhnya berada di atas angka 0,1.
Berdasarkan nilai VIF dan tolerance dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas antara variabel yang digunakan dalam metode analisis.
5.1.2 Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam suatu model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi yang normal.
Adapun kriteria pengujiannya adalah sebagai berikut :
Sig. Kolmogorov-Smirnov > 0,05 = artinya data berdistribusi normal Sig. Kolmogorov-Smirnov < 0,05 = artinya data tidak berdistribusi normal.
Tabel 5.2 memperlihatkan nilai siginifikansi dari Uji Kolmogorov-Smirnov yang telah dilakukan.
Tabel 5.2 One Sample Kolmogorov-Smirnov Test Produktivitas Salak Pakkat One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 32
Normal Parametersa,b Mean ,0000000
Std. Deviation 3762,948930
Asymp. Sig. (2-tailed) ,393
Sumber : Analisis Data Diolah dari Lampiran
Dari tabel 5.2 dapat dilihat bahwa hasil uji Kolmogorov-Smirnov menunjukkan hasil tingkat signifikansi KS adalah sebesar 0,393 (α > 0,05). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan antara distribusi residual dengan disitribusi normal, sehingga dapat dikatakan bahwa data residual berdistribusi normal.
5.1.3 Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji sebuah model dalam regresi, apakah terjadi perbedaan varian residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain, dan prasyarat yang harus dipenuhi dalam suatu model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas. Dengan menggunakan metode grafik, maka asumsi yang digunakan adalah apabila grafik tersebut tidak membentuk pola yang teratur seperti pola bergelombang, maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas.
Gambar 5.1 Grafik Scatterplot Uji Heteroskedastisitas Sumber : Analisis Data Diolah dari Lampiran
Dari gambar 5.1 dapat dilihat bahwa hasil uji heteroskedastisitas yang menggunakan metode grafik menunjukkan bahwa pada grafik tersebut tidak membentuk pola yang teratur seperti pola bergelombang, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas.
5.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Salak Pakkat
Faktor-faktor yang dimasukkan dalam model regresi dan dianggap dapat mempengaruhi produktivitas salak pakkat dalam penelitian ini adalah kerapatan tanaman, pupuk, tenaga kerja, dan pestisida. Seberapa besar pengaruh setiap variabel tersebut dapat mempengaruhi produktivitas salak pakkat ini, dilihat dari hasil Uji Kesesuaian Model (Test of Goodness of Fit) berikut, yakni Koefisien Determinasi (R2), Uji Pengaruh Variabel Secara Serempak (Uji-F) dan Uji Pengaruh Variabel Secara Parsial (Uji-t).
5.2.1 Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat (dependent).
Koefisien determinasi bertujuan untuk mengetahui kemampuan dari variabel bebas (independent) dalam menjelaskan variabel terikat (dependent). Adapun nilai koefisien determinasi (R²) yang paling besar adalah 1, nilai yang paling kecil adalah 0, dan apabila nilai koefisien determinasi (R²) sama dengan nol maka regresi tidak memiliki pengaruh terhadap variabel terikat (dependent) 0.
Pada tabel 5.3 ditampilkan nilai R, R2, Adjusted R2, dan Standardt Error.
Tabel 5.3 Model Summary Koefisien Determinasi Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .798a .637 .583 4032,06281
Sumber : Analisis Data Diolah dari Lampiran
Pada tabel 5.3 dapat dilihat hasil estimasi menunjukkan nilai koefisien determinasi R2 (R Square) yang diperoleh adalah 0,702. Hal ini menunjukkan bahwa 63,7 % variasi variabel terikat produktivitas salak pakkat telah dapat dijelaskan oleh variabel bebas seperti : kerapatan tanaman, pupuk, tenaga kerja, dan pestisida. Sedangkan sisanya 36,3 % dipengaruhi oleh variabel bebas atau faktor lain yang belum dimasukkan ke dalam model.
5.2.2 Uji Pengaruh Variabel Secara Serempak (Uji F)
Uji pengaruh variabel secara serempak digunakan untuk menguji ketepatan sebuah model apakah nilai prediksi dapat menggambarkan kondisi yang sesungguhnya. Adapun kriteria pengujiannya adalah sebagai berikut :
H0 : b1,b2,b3,b4 = 0, artinya variabel X tidak berpengaruh terhadap variabel Y.
H1 : b1,b2,b3,b4 0, artinya variabel X berpengaruh terhadap variabel Y.
Adapun kriteria dalam pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut : Jika Sig. F > 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak.
Jika Sig. F ≤ 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima.
Tabel 5.4 Anova Produktivitas Salak Pakkat ANOVAa
ANOVAa
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1
Regression 771055475,9 4 192763869,0 11,857 ,000b Residual 438953324,1 27 16257530,52
Total 1210008800 31
Sumber : Analisis Data Diolah dari Lampiran
Pada tabel 5.4 dapat dilihat hasil estimasi menunjukkan tingkat signifikansi F sebesar 0,000 (< α 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti bahwa variabel bebas seperti kerapatan tanaman, pupuk, tenaga kerja, dan pestisida secara serempak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat produktivitas salak pakkat.
5.2.3 Uji Pengaruh Variabel Secara Parsial (Uji t)
Uji pengaruh variabel secara parsial digunakan menguji secara parsial pengaruh variabel bebas (independent) terhadap variabel terikat (dependent), sehingga dapat diketahui apakah variabel bebas (independent) secara parsial berpengaruh nyata terhadap variabel terikat (dependent). Taraf signifikansi (α) yang digunakan dalam ilmu sosial adalah 5 %.
Tabel 5.5 Coefficients Produktivitas Salak Pakkat Coefficientsa
Model Unstandardized
Kerapatan Tanaman (Batang/Ha) 8,561 3,731 ,608 4,975 ,000
Pupuk (Kg/Ha) 1,025 6,743 ,026 ,152 ,880
Tenaga Kerja (HKP/Ha) 2,041 6,069 ,068 ,336 ,739
Pestisida (Liter/Ha) 1,497 6,717 ,329 1,482 ,150
Sumber : Analisis Data Diolah dari Lampiran
Hasil estimasi pada kolom Unstandardized Coefficents dimasukkan ke dalam persamaan fungsi Cobb-Douglas berikut :
LnY = 1,407 + 8,561Ln + 1,025Ln + 2,041Ln – 1,497Ln + u Dalam bentuk non-linier dapat digambarkan sebagai berikut :
Y = 1,407 , , , , Dimana :
Y = Produktivitas Salak Pakkat (Kg/Ha) X1 = Kerapatan Tanaman (Batang/Ha)
X2 = Pupuk (Kg/Ha)
X3 = Tenaga Kerja (HKP/Ha) X4 = Pestisida (Liter/Ha)
Hasil regresi di atas menunjukkan pengaruh sebagai berikut :
a. Pengaruh variabel Kerapatan Tanaman (X1) terhadap Produktivitas Salak Pakkat (Y)
Angka 8,561 pada Unstandardized Coefficients (B) menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi (parameter) variabel kerapatan tanaman bertanda positif sebesar 8,561. Hal ini menunjukkan bahwa setiap pertambahan jumlah kerapatan sebesar 1 %, maka akan meningkatkan produktivitas salak pakkat sebesar 8,561
%. Nilai signifikansi jumlah tanaman adalah sebesar 0,000 < 0,05 dan hal ini menunjukkan bahwa kerapatan tanaman secara parsial berpengaruh nyata terhadap produktivitas salak pakkat. Di daerah penelitian, sebagian besar petani menggunakan jarak tanam 2 m x 2 m dalam menjalankan usahatani salak pakkat, dengan jumlah tanaman sekitar 1000 batang untuk luas lahan sebesar 1 Ha.
Menurut Widyaningsih (2013), dengan menggunakan jarak tanam 2 m x 2 m
dapat dihasilkan sekitar 1800 batang dalam 1 Ha. Dapat dikatakan bahwa walaupun petani di daerah penelitian menggunakan jarak tanam yang sama yaitu 2 m x 2 m, namun kepadatan tanamannya masih jauh di bawah standar. Seharusnya petani di daerah penelitian perlu meningkatkan kepadatan tanaman salaknya hingga mendekati 1800 batang per Ha, sehingga produktivitas tanaman salak pakkat juga dapat meningkat.
b. Pengaruh variabel Pupuk (X2) terhadap Produktivitas Salak Pakkat (Y)
Angka 1,025 pada Unstandardized Coefficients (B) menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi (parameter) variabel pupuk bertanda positif sebesar 1,025.
Hal ini menunjukkan bahwa setiap pertambahan pupuk sebesar 1 %, maka akan meningkatkan produktivitas salak pakkat sebesar 1,025 %. Nilai signifikansi pupuk adalah sebesar 0,880 > 0,05 dan hal ini menunjukkan bahwa pupuk secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas salak pakkat. Hal ini dikarenakan para petani salak di daerah penelitian tidak mengikuti anjuran pemupukan dari Direktorat Tanaman Buah. Para petani di daerah penelitian melakukan pemupukan rata-rata sebanyak 200 g/pohon untuk setiap jenis pupuk yang digunakan dan diberikan setiap 6 bulan sekali. Sedangkan berdasarkan anjuran pemupukan dari Direktorat Tanaman Buah, untuk tanaman salak adalah sebanyak 20 g/pohon dan diberikan setiap enam bulan sekali. Sehingga dapat dikatakan bahwa pemupukan yang dilakukan oleh petani di daerah penelitian kelebihan atau over dosis pemupukan.
c. Pengaruh variabel Tenaga Kerja (X3) terhadap Produktivitas Salak Pakkat (Y) Angka 2,041 pada Unstandardized Coefficients (B) menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi (parameter) variabel tenaga kerja bertanda positif sebesar
2,041. Hal ini menunjukkan bahwa setiap pertambahan tenaga kerja sebesar 1 %, maka akan meningkatkan produktivitas salak pakkat sebesar 2,041 %. Nilai signifikansi tenaga kerja adalah sebesar 0,739 > 0,05 dan hal ini menunjukkan bahwa tenaga kerja secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas salak pakkat. Hal ini dikarenakan tanaman salak tidak membutuhkan banyak perawatan, sehingga penggunaan tenaga kerja juga tidak terlalu banyak dibutuhkan. Sehingga dapat dikatakan bahwa tenaga kerja tidak banyak berpengaruh dalam meningkatkan produktivitas salak pakkat.
d. Pengaruh variabel Pestisida (X4) terhadap Produktivitas Salak Pakkat (Y) Angka 1,497 pada Unstandardized Coefficients (B) menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi (parameter) variabel pestisida bertanda positif sebesar 1,497. Hal ini menunjukkan bahwa setiap pertambahan pestisida sebesar 1 %, maka akan meningkatkan produktivitas salak pakkat sebesar 1,497 %. Nilai signifikansi pestisida adalah sebesar 0,150 > 0,05 dan hal ini menunjukkan bahwa pestisida secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas salak pakkat. Menurut Wiraatmaja dan Rai (2017), pestisida yang sering digunakan dalam membasmi hama dan penyakit pada tanaman salak adalah pestisida jenis Diazenon untuk membasmi kumbang penggerek batang, Zink Phospit untuk membasmi tikus, dan Furadan 3 G untuk membasmi tupai. Akan tetapi di daerah penelitian, para petani salak pakkat tidak terlalu banyak dalam menggunakan pestisida dan hanya menggunakan satu jenis pestisida yaitu roundup untuk membasmi gulma, karena petani merasa tanaman salak pakkat yang mereka usahakan cenderung tahan terhadap hama dan penyakit sehingga tidak terlalu membutuhkan pestisida dalam perawatannya.
Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa variabel kerapatan tanaman (X1) secara parsial berpengaruh nyata terhadap produktivitas salak pakkat (Y), sedangkan variabel lainnya seperti pupuk (X2), tenaga kerja (X3), dan pestisida (X4) secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas salak pakkat (Y).
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan
1. Secara serempak variabel kerapatan tanaman, pupuk, tenaga kerja, dan pestisida berpengaruh nyata terhadap produktivitas usahatani salak pakkat di Desa Pakkat Hauagong Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan.
Variabel-variabel tersebut mampu menjelaskan sebesar 63,7 % terhadap produktivitas usahatani salak pakkat, sedangkan sisanya sebesar 36,3 % merupakan variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model. Secara parsial variabel kerapatan tanaman berpengaruh nyata terhadap produktivitas usahatani salak pakkat, sedangkan variabel lainnya seperti pupuk, tenaga kerja, dan pestisida secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas salak pakkat.
6.2 Saran
1. Kepada pemerintah diharapkan untuk lebih meningkatkan penyuluhan mengenai penggunaan pupuk dan pestisida kepada petani agar penggunaannya sesuai anjuran atau standar yang ditetapkan.
2. Kepada petani diharapkan menerapkan teknik budidaya salak pakkat secara efektif dan efisien terutama dalam penggunaan pupuk dan pestisida, sehingga dapat meningkatkan produktivitas salak pakkat.
DAFTAR PUSTAKA
Anarsis, W. 2006. Agribisnis Komoditas Salak. Jakarta : Bumi Aksara.
Alam, 2006. Ekonomi. Jakarta : ESIS.
Astuti. 2007. Budidaya Salak. Jakarta : Agromedia Pustaka.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Humbang Hasundutan. Hortikultura. Produksi Buah-Buahan menurut Kecamatan. Diakses pada 14 Maret 2021 melalui https://humbanghasundutan.go.id/subject/hortikultura.
Badan Pusat Statistik Sumatera Utara. Hortikultura. Produksi Buah-Buahan Menurut Jenis Tanaman (ton) Provinsi Sumatera Utara Tahun 2015-2019.
Diakses pada tanggal 14 Maret 2021 melalui https://sumut.bps.go.id/subject/55/hortikultura.html#subjekViewTab3 Cahyono, Bambang. 2016. Panen Untung dari Budidaya Salak Intensif.
Yogyakarta : Lily Publisher.
Daryanto, dan Rahardjo, M. 2012. Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta : Gava Media
Djojosumarto, P. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. Jakarta : PT. Agromedia Pustaka.
Dwicaksono, M. R. B., Suharto, B., L. D. Susanawati. 2013. Pengaruh Penambahan Effective Microorganisme pada Limbah Cair Industri Perikanan terhadap Kualitas Pupuk Cair Organik. Malang : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya.
Ghozali, I. 2011. Aplikasi Analisis Multivariat Dengan Program SPSS. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Gustini, D., S. Fatonah, Sujarwati. 2012. Pengaruh Pupuk Rootone F dan Pupuk Bayfolan terhadap Pembentukan Akar dan Pertumbuhan Anakan Salak Pondoh (Salacca edulis Reinw). Biospecies. 5(1):8-13.
Hakim, L. dan Setiawan, B. H. 2014. “Pemanfaatan Salak Afkir sebagai Media Produksi Nata DE Salacca di Kabupaten Banjanegara”. Media Agrosain.
1(1), 1-4.
Hakim, T., Lubis, Z., dan Sibuea, M. B. 2018. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Salak Pondoh di Desa Tiga Juhar Kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Jurnal Padi.
3(2).
Handoko, T. Hani. 2012. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia.
Yogyakarta : BPFE.
Harahap, H. M. Y., Bayu, E. S., & Siregar, L. A. M. 2013. “Identifikasi Karakter Morfologis Salak Sumatera Utara (Salacca sumatrana Becc.) di Beberapa daerah kabupaten Tapanuli Selatan”. Agroekoteknolgi, 1(3).
Hardana, A. 2012. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Salak di Kota Padangsidimpuan. Masters Thesis. Medan : Universitas Negeri Medan.
Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2013. Sistem Informasi Pertanian.
http://pusdatin. deptan.go.id//. Diakses pada 15 Maret 2021.
Lingga, P., Marsono. 2013. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Edisi Revisi. Jakarta : Penebar Swadaya.
Neni, W., Hidayat, M.I., Musair, M. 2013. Analisis Pendapatan Usaha Tani Salak Bali (Sallacca Edulis Reinw) Di Desa Batu Nindan Kecamatan Basarang. Jurnal ZIRAA’AH, 38(3).
Nixon, M. T. 2009. Buku Pintar Budi Daya Tanaman Buah Unggul Indonesia.
Jakarta : Agromedia Pustaka.
Novriani, 2014. Respon Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) Terhadap Pemberian Pupuk Organik Cair Asal Sampah Organik. Klorofil. 9(2). 57-61.
Ong dan Law, 2009. Kandungan Salak dan Teknik Persemaian Benih Salak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Purwobinangun. Yogyakarta.
Prajoko, M. A., Santosa, A., dan Juarini. 2019. Analisis Optimalisasi Faktor-Faktor Produksi Salak Pondoh di Kelompok Tani “Si Cantik” di Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Jurnal Dinamika Sosial Ekonomi.
20(2).
Pratomo, Y. S. 2018. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Usaha Salak Pondoh di Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Yogyakarta : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Runia, Y. 2008. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keracunan Pestisida Organofosfat, Karbamat, dan Kejadian Anemia pada Petani Hortikultura di Desa Tejosari Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang. Semarang : Program Studi Magister Kesehatan Lingkungan Universitas Diponegoro.
Salikin, K.A. 2003. Sistem Pertanian Berkelanjutan. Yogyakarta : Kanisius.
Simanjuntak, P. J. 2001. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta :
Soeharno, 2009. Teori Ekonomi Mikro. Yogyakarta : CV. Andi Offset.
Soekartawi, 2003. Teori Ekonomi Produksi : Dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglas. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung : Alfabeta.
Supriana, T. 2013. Metode Penelitian Sosial Ekonomi. Medan : USU Press.
Suratiyah, Ken. 2006. Ilmu Usahatani. Jakarta : Penebar Swadaya.
Tama, Y. F., Jumantri, dan Cepriadi. 2014. Analisis Usahatani dan Pemasaran Salak Pondoh (Salacca edulis Reinw) di Desa Rumah Baru Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu. Jurnal Online Mahasiswa Pertanian. 1(2).
Tim Karya Tani Mandiri. 2010. Pedoman Budi Daya Buah Salak. Bandung: CV Nuansa Aulia.
Widyaningsih, Neni. 2013. Potensi Komoditas Pangan Sumber Karbohidrat dalamMendukung Ketahanan Pangan di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas Tahun 2005-2010. Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Saintek. 2(1). Purwokerto : LPPM Unsoed.
Wiraatmaja, I. W., dan Rai, I. N. 2017. Teknologi Budidaya Tanaman Buah Buahan. Bahan Ajar. Badung : Fakultas Pertanian Universitas Udayana.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Karakteristik Petani Salak Pakkat
20 Julince Debataraja 53 Perempuan S1 11 0,25 5
21 Aslamiah Silaban 54 Perempuan SD 10 0,2 6
22 Sortalia Tobing 66 Laki-Laki SMA 20 1,5 15
23 Putri Pakpahan 69 Perempuan SMA 5 0,2 3
24 Masito 56 Laki-Laki S1 30 0,25 20
25 Agus Manulang 54 Laki-Laki SMP 10 0,5 8
26 Juarni Sitmorang 78 Perempuan S1 45 0,25 20
27 Eva Panjaitan 29 Perempuan SMA 5 0,4 5
28 Rajinan Manalu 53 Laki-Laki SMP 20 0,4 10
29 Hotamauli Sitorus 45 Laki-Laki SMP 20 0,2 15
30 Dahlan Simanjuntak 53 Laki-Laki SMA 10 0,25 6
31 Midi Purba 69 Laki-Laki SMP 10 0,25 8
32 Jojor Sihite 52 Laki-Laki SMA 20 0,2 12
Lampiran 2. Kerapatan Tanaman (Batang/Ha)
Lampiran 3. Jumlah Pupuk Per Tahun (Kg/Ha)
20 0,25 40 150 190 760,00
21 0,2 25 10 20 55 275,00
22 1,5 175 175 350 233,33
23 0,2 50 50 100 500,00
24 0,25 50 50 100 400,00
25 0,5 50 150 80 280 560,00
26 0,25 50 50 100 400,00
27 0,4 40 30 30 100 250,00
28 0,4 50 50 100 250,00
29 0,2 25 7 32 160,00
30 0,25 25 25 50 200,00
31 0,25 50 50 100 400,00
32 0,2 50 50 10 110 550,00
Jumlah 14,2 425 995 1719 50 71 250 80 3.590 10.102,31
Rata-Rata 315,697
Lampiran 4. Curahan Tenaga Kerja Pengolahan Tanah No.
Sampel
Luas Lahan
Dalam Keluarga Luar Keluarga
HK JK HOK
22 1,5 0 0 4 2 7 8 28 11,2 39,2
23 0,2 0 0 2 1 7 8 14 5,6 19,6
24 0,25 1 1 0 0 7 8 7 5,6 12,6
25 0,5 1 2 0 0 7 8 7 11,2 18,2
26 0,25 0 0 2 0 7 8 14 0 14
27 0,4 1 1 0 0 7 8 7 5,6 12,6
28 0,4 1 1 0 0 7 8 7 5,6 12,6
29 0,2 1 1 0 0 7 8 7 5,6 12,6
30 0,25 1 1 0 0 7 8 7 5,6 12,6
31 0,25 0 0 2 2 7 8 14 11,2 25,2
32 0,2 1 1 0 0 7 8 7 5,6 12,6
Jumlah 14,2 25 22 33 17 224 256 406 218,4 624,4
Lampiran 5. Curahan Tenaga Kerja Penanaman
22 1,5 0 0 2 1 4 4 4 1,6 5,6
23 0,2 0 0 1 1 2 4 1 0,8 1,8
24 0,25 1 1 0 0 2 4 1 0,8 1,8
25 0,5 1 2 0 0 3 4 1,5 2,4 3,9
26 0,25 0 0 1 1 2 4 1 0,8 1,8
27 0,4 1 1 0 0 2 4 1 0,8 1,8
28 0,4 1 1 0 0 2 4 1 0,8 1,8
29 0,2 1 1 0 0 2 4 1 0,8 1,8
30 0,25 1 1 0 0 2 4 1 0,8 1,8
31 0,25 0 0 1 1 2 4 1 0,8 1,8
32 0,2 1 1 0 0 2 4 1 0,8 1,8
Jumlah 14,2 23 22 14 11 70 128 42 29,2 71,2
Lampiran 6. Curahan Tenaga Kerja Penyiangan
Frekuensi Penyiangan (12 kali dalam 1 tahun) No.
Sampel
Luas Lahan
Dalam Keluarga Luar Keluarga
HK JK HOK
22 1,5 0 0 2 1 4 4 4 1,6 5,6 67,2
23 0,2 0 0 1 1 1 4 0,5 0,4 0,9 10,8
24 0,25 1 1 0 0 1 4 0,5 0,4 0,9 10,8
25 0,5 1 2 0 0 2 4 1 1,6 2,6 31,2
26 0,25 0 0 1 1 1 4 0,5 0,4 0,9 10,8
27 0,4 1 1 0 0 1 4 0,5 0,4 0,9 10,8
28 0,4 1 1 0 0 1 4 0,5 0,4 0,9 10,8
29 0,2 1 1 0 0 1 4 0,5 0,4 0,9 10,8
30 0,25 1 1 0 0 1 4 0,5 0,4 0,9 10,8
31 0,25 0 0 1 1 1 4 0,5 0,4 0,9 10,8
32 0,2 1 1 0 0 1 4 0,5 0,4 0,9 10,8
Jumlah 14,2 23 22 14 11 43 128 28,5 18 46,5 558
Lampiran 7. Curahan Tenaga Kerja Pengendalian Hama
Frekuensi Pengendalian Hama (12 kali dalam 1 tahun) No.
Sampel
Luas Lahan
Dalam Keluarga Luar Keluarga
HK JK HOK
22 1,5 0 0 2 1 4 4 4 1,6 5,6 67,2
23 0,2 0 0 1 0 1 4 0,5 0 0,5 6
24 0,25 1 0 0 0 1 4 0,5 0 0,5 6
25 0,5 2 0 0 0 2 4 2 0 2 24
26 0,25 0 0 1 0 1 4 0,5 0 0,5 6
27 0,4 1 0 0 0 1 4 0,5 0 0,5 6
28 0,4 1 0 0 0 1 4 0,5 0 0,5 6
29 0,2 1 0 0 0 1 4 0,5 0 0,5 6
30 0,25 1 0 0 0 1 4 0,5 0 0,5 6
31 0,25 0 0 1 0 1 4 0,5 0 0,5 6
32 0,2 1 0 0 0 1 4 0,5 0 0,5 6
Jumlah 14,2 24 4 13 1 43 128 29,5 4,4 33,9 412,8
Lampiran 8. Curahan Tenaga Kerja Pemupukan
Frekuensi Pemupukan ( 4 kali dalam 1 tahun) No.
Sampel
Luas Lahan
Dalam Keluarga Luar Keluarga
HK JK HOK
21 0,2 1 1 0 0 2 4 1 0,8 1,8 7,2
22 1,5 0 0 2 1 2 4 2 0,8 2,8 11,2
23 0,2 0 0 1 1 2 4 1 0,8 1,8 7,2
24 0,25 1 1 0 0 2 4 1 0,8 1,8 7,2
25 0,5 1 2 0 0 2 4 1 1,6 2,6 10,4
26 0,25 0 0 1 1 2 4 1 0,8 1,8 7,2
27 0,4 1 1 0 0 2 4 1 0,8 1,8 7,2
28 0,4 1 1 0 0 2 4 1 0,8 1,8 7,2
29 0,2 1 1 0 0 2 4 1 0,8 1,8 7,2
30 0,25 1 1 0 0 2 4 1 0,8 1,8 7,2
31 0,25 0 0 1 1 2 4 1 0,8 1,8 7,2
32 0,2 1 1 0 0 2 4 1 0,8 1,8 7,2
Jumlah 14,2 23 22 14 11 64 128 37 26,3 63,4 253,6
Lampiran 9. Curahan Tenaga Kerja Pemanenan
Frekuensi Pemanenan (24 kali dalam 1 tahun) No.
Sampel
Luas Lahan
Dalam Keluarga Luar Keluarga
HK JK HOK
22 1,5 0 0 3 1 2 8 6 1,6 7,6 182,4
23 0,2 0 0 2 1 2 8 4 1,6 5,6 134,4
24 0,25 2 1 0 0 2 8 4 1,6 5,6 134,4
25 0,5 2 2 0 0 2 8 4 3,2 7,2 172,8
26 0,25 0 0 2 1 2 8 4 1,6 5,6 134,4
27 0,4 2 1 0 0 2 8 4 1,6 5,6 134,4
28 0,4 1 1 0 0 2 8 2 1,6 3,6 86,4
29 0,2 1 1 0 0 2 8 2 1,6 3,6 86,4
30 0,25 1 1 0 0 2 8 2 1,6 3,6 86,4
31 0,25 0 0 1 1 2 8 2 1,6 3,6 86,4
32 0,2 1 1 0 0 2 8 2 1,6 3,6 86,4
Jumlah 14,2 32 27 24 10 64 256 112 59,2 171,2 4,108,8
Lampiran 10. Total HKP (HKP/Ha)
Tanah Penanaman Penyiangan Pengendalian
Hama Pemupukan Pemanenan Total HKP