BAB III METODE PENELITIAN
3.5. Definisi dan Batasan Operasional
3.5.2 Batasan Operasional
1. Penelitian ini dilakukan di Koperasi Kopi Mandailing Jaya, Desa Alahankae, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal.
2. Responden dalam Penelitian ini adalah karyawan yang bekerja di Koperasi Kopi Mandailing Jaya.
3. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2019.
BAB IV
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SAMPEL
4.1. Deskripsi Daerah Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Alahankae, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Desa Alahankae memiliki luas wilayah sebesar 1.951,12 . Jarak tempuh dari Desa Alahankae ke ibukota Kabupaten Ulu Pungkut adalah sekitar 1 Km dan ke Ibukota Provinsi Sumatera Utara sekitar 515 Km.
Desa Alahankae, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal, memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Desa Simpang Duhu Sebelah Selatan : Desa Huta Godang
Sebelah Timur : Kecamatan Muara Sipongi Sebelah Barat : Desa Batahan
Masyarakat di Desa Alahankae, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal, sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani kopi Arabika.
4.1.1 Keadaan Penduduk
4.1.1.1 Penduduk Menurut Kelompok Umur Tahun 2018
Penduduk Desa Alahankae, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal berjumlah 452 jiwa yaitu terdiri dari 218 jiwa laki-laki dan 234 jiwa perempuan dengan 113 kepala rumah tangga. Berdasarkan golongan umur penduduk di Desa Alahankae dapat dilihat pada Tabel 4.1 sebagai berikut:
Tabel 4.1. Penduduk Menurut Kelompok Umur Tahun 2018
Sumber: Kantor Kepala Desa Alahankae, 2019
Dapat dilihat pada Tabel 4.1 di atas bahwa jumlah penduduk Desa Alahankae pada tahun 2018 adalah sebesar 452 jiwa. Dari tabel di atas juga menunjukan bahwa jumlah perempuan lebih banyak daripada jumlah laki-laki dengan selisih sebesar 16 jiwa. Penduduk dengan usia non produktif sebanyak 26,11% dengan kelompok umur 0-15 tahun sebesar 118 jiwa. Penduduk dengan usia produktif sebanyak 25,8% dengan kelompok uur 16-45 tahun sebesar 117 jiwa.
4.1.1.2 Penduduk Menurut Agama Tahun 2018
Tabel 4.2. Penduduk Menurut Kelompok Agama Tahun 2018 No. Agama Laki Laki
Sumber: Kantor Kepala Desa Alahankae Tahun 2019
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa seluruh penduduk Desa Alahankae beragama Islam yaitu sebesar 452 jiwa.
4.1.1.3 Penduduk Menurut Kelompok Jenis Pekerjaan Tahun 2018
Mata pencaharian penduduk Desa Alahankae terdiri dari beberapa jenis yaitu petani, Pegawai Negeri Sipil (PNS), pedagang, peternak, pegawai honorer, bidan.
Untuk mengetahui lebih jelas mengenai mata pencaharian penduduk Desa Alahankae dapat dilihat pada Tabel 4.3 sebagai berikut:
Tabel 4.3. Penduduk Menurut Kelompok Jenis Pekerjaan Tahun 2018 No. Mata pencaharian Laki-laki
(jiwa)
Sumber: Kantor Kepala Desa Alahankae Tahun 2019
Tabel 4.3 menunjukan bahwa penduduk Desa Alahankae sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani yaitu sebesar 234 jiwa.
4.1.2 Sarana dan Prasarana Tahun 2018
Peningkatan kesejahteraan masyarakat suatu desa dipengaruhi oleh sarana dan prasarana yang tersedia di desa tersebut. Desa Alahankae memiliki berbagai sarana dan prasarana seperti yang ditunjukan pada Tabel 4.4 sebagai berikut:
Tabel 4.4. Sarana dan Prasarana Tahun 2018
No. Sarana dan Prasarana Jumlah (unit)
1. Sarana Pendidikan
- Sekolah Dasar (SD) 1
- Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) 1
- Madrasah Tsanawiyah (MTs) 1
Sumber: Kantor Kepala Desa Alahankae 2019
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa di Desa Alahankae memiliki sarana pendidikan
yang cukup baik, yaitu sebanyak 5 unit yang terdiri dari 1 Sekolah Dasar, 1 Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), 1 Madrasah Tsanawiyah (MTs),
1 Madrasah Aliyah (MA), dan 1 Pondok Pesantren. Sarana ibadah di Desa
Alahankae sudah memadai yaitu sebanyak 5 unit, terdiri dari 2 mesjid dan 3 surau. Sarana kesehatan belum memadai karena hanya terdapat 1 unit sarana
yaitu posyandu. Untuk sarana olahraga yaitu terdapat 1 lapangan bola voly.
4.2. Karakteristik Sampel Penelitian
Sampel dalam penelitian ini adalah usaha pengolahan kopi Arabika yaitu Koperasi Kopi Mandailing Jaya. Koperasi ini berdiri pada tahun 2016. Koperasi ini melakukan pengolahan kopi biji Arabika menjadi kopi bubuk dengan jumlah anggota koperasi sebanyak 30 orang petani kopi Arabika yang menjual hasil usahataninya dalam bentuk kopi biji ke koperasi. Proses produksi dilakukan sebanyak 3 kali dalam seminggu.
Industri ini tergolong ke dalam industri kecil, sesuai dengan peraturan kementerian perindustrian, yaitu industri kecil adalah industri yang memiliki tenaga kerja berjumlah sekitar 5 sampai 19 orang dan nilai investasi minimal 1 milyar rupiah. Adapun karakteristik dari usaha pengolahan kopi Arabika di desa Alahankae ini dapat dilihat pada Tabel 4.5 sebagai berikut:
Tabel 4.5. Karakteristik Sampel Pengolahan Kopi Arabika No. Nama
Tabel 4.5 memperlihatkan bahwa usaha pengolahan kopi Arabika pada Koperasi Kopi Mandailing Jaya sudah dilakukan selama 2 tahun dan mampu memproduksi kopi bubuk Arabika sebanyak 144 kg/bulan.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Sistem Produksi Usaha Pengolahan Kopi Bubuk Arabika
Berdasarkan hasil wawancara dengan responden di daerah penelitian yaitu pada Koperasi Kopi Mandailing Jaya, diketahui dalam pengolahan kopi Arabika menjadi kopi bubuk dilakukan beberapa tahapan. Untuk lebih jelasnya alur tahapan proses pengolahan kopi Arabika menjadi kopi bubuk dapat dilihat pada Gambar 5.1 sebagai berikut:
Gambar 5.1. Tahapan Pengolahan Kopi Bubuk Arabika Pengeringan Kopi Biji
Pengupasan Kulit Tanduk
Sortasi Biji
Penyangraian
Penggilingan
Pengemasan
1. Pengeringan Kopi Biji
Proses pertama yang dilakukan dalam pengolahan kopi biji menjadi kopi bubuk Arabika di daerah penelitian adalah pengeringan atau penjemuran kopi biji.
Pengeringan bertujuan untuk menurunkan kadar air biji kopi dari 80% hingga 13%. Pengeringan di daerah penelitian dilakukan dengan cara menjemur biji kopi secara alami dengan memanfaatkan sinar matahari. Biji kopi dijemur di atas jaring kawat (paranet nylon) dengan ketebalan lapisan kopi maksimum 1,5 cm atau sekitar 2 lapisan, setiap jam hamparan kopi dibalik agar keringnya merata. Bila matahari terik, penjemuran bisa berlangsung selama 10-14 hari. Namun bila cuaca mendung penjemuran akan berlangsung selama 3 minggu.
2. Pengupasan Kulit Tanduk
Pengupasan kulit tanduk atau hulling bertujuan untuk memisahkan biji kopi yang sudah kering dari kulit tanduk dan kulit ari. Pemisahan dilakukan dengan menggunakan mesin huller. Proses hulling menghasilkan kopi beras.
3. Sortasi Biji
Sortasi biji dilakukan untuk membersihkan kopi dari kulit tanduk yang belum terbuang dan kotoran - kotoran seperti kerikil, pasir serta benda asing lainnya.
4. Penyangraian
Proses penyangraian dilakukan untuk mendapatkan kopi beras yang berwarna cokelat kayu manis - kehitaman. Pada proses penyangraian, kopi akan berubah warna dari hijau atau cokelat muda menjadi coklat kayu manis kemudian menjadi hitam dengan permukaan berminyak. Penyangraian dilakukan dengan mesin roaster. Kopi disangrai selama 15-30 menit sampai warna biji kopi sudah coklat
kelam (kehitam-hitaman) dan mudah pecah. Setelah disangrai, kemudian kopi didinginkan selama 2 hari untuk menghasilkan cita rasa kopi yang baik.
5. Penggilingan
Penggilingan dilakukan untuk memecah butiran biji kopi yang telah disangrai sehingga halus menjadi kopi bubuk. Penggilingan dilakukan dengan mesin giling kopi atau grinder. Ukuran partikel kopi diatur di mesin grinder sehingga menghasilkan kopi bubuk dengan ukuran partikel yang diinginkan.
6. Pengemasan
Pengemasan dilakukan agar kopi yang sudah digiling tidak mengalami perubahan aroma dan cita rasa kopi. Dalam tahap pengemasan, dilakukan dengan dua cara yaitu secara manual dengan memasukkan kopi bubuk ke dalam plastik alumunium foil kemudian dipak dalam kotak dan paperkraft yang telah bermerk dagang
“Banamon”, dan secara modern dengan menggunakan mesin packing. Berikut disajikan dokumentasi dari proses pengolahan kopi bubuk Arabika:
1. Pengeringan Kopi Biji 2. Pengupasan Kulit Tanduk (dengan Mesin Huller)
3. Sortasi Biji 4. Penyangraian
(dengan Mesin Roaster)
5. Penggilingan (dengan Mesin 6.a. Pengemasan (Manual) Grinder)
6.b. Pengemasan dengan Mesin Packing
Gambar 5.2. Alur Proses Pengolahan Kopi Bubuk Arabika
Berdasarkan Gambar 5.2 dapat dilihat bahwa proses pengolahan kopi bubuk Arabika dilakukan secara tradisional seperti pada tahapan pengeringan biji kopi, sortasi biji dan pengemasan manual. Proses pengolahan kopi bubuk Arabika juga menggunakan bantuan mesin seperti pada pengupasan kulit tanduk, penyangraian, penggilingan, dan pengemasan dengan mesin packing.
5.1.1 Penggunaan Input Dalam Pengolahan Kopi Bubuk Arabika 5.1.1.1 Penggunaan Bahan Baku
Kegiatan pengadaan bahan baku merupakan kegiatan paling penting yang dapat mempengaruhi proses produksi suatu usaha. Bahan baku dalam pengolahan kopi bubuk Arabika di daerah penelitian adalah kopi biji. Bahan baku diperoleh dari petani kopi Arabika di Desa Alahankae dan Kecamatan Ulu Pungkut. Berikut keterangan lebih lanjut mengenai penggunaan bahan baku dalam usaha pengolahan kopi bubuk Arabika.
Tabel 5.1. Penggunaan Bahan Baku dalam Usaha Pengolahan Kopi Bubuk Arabika Per Satu Kali Proses Produksi
No. Uraian Kebutuhan
Tabel 5.1 memperlihatkan bahwa kopi biji yang diperlukan dalam satu kali proses produksi adalah sebanyak 15 kg, dimana harga per kilogram kopi biji adalah Rp.
32.000. Jadi biaya yang dikeluarkan untuk pembelian bahan baku dalam satu kali proses produksi adalah sebesar Rp. 480.000.
5.1.1.2 Sumbangan Input Lain
Selain bahan baku, dalam pengolahan kopi bubuk Arabika juga dibutuhkan beberapa bahan penunjang (input lain) seperti kemasan kotak, plastik alumunium foil, paperkraft, lem, gas, bbm, dan listrik. Secara rinci bahan penunjang yang
digunakan dalam pengolahan kopi bubuk Arabika dapat dilihat pada Tabel 5.2 berikut:
Tabel 5.2. Sumbangan Input Lain Per Satu Kali Proses Produksi dalam Pengolahan Kopi Bubuk Arabika di Koperasi Kopi Mandailing
Total Sumbangan Input Lain (Rp) 256.727
Penggunaan Bahan Baku (Kg) 15
Sumbangan Input Lain (Rp/Kg Bahan Baku) 17.115,13 Sumber: Lampiran 3, 2019
5.1.1.3 Penggunaan Modal Investasi
Ketersediaan modal yang mencukupi dalam menjalankan suatu usaha sangat diperlukan demi keberlangsungan usaha yang dijalankan. Besar atau kecilnya modal yang digunakan tergantung skala usahanya. Semakin besar usaha yang dijalankan semakin besar modal yang digunakan dan demikian sebaliknya.
Adapun penggunaan modal investasi dalam pengolahan kopi bubuk Arabika di daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 5.3 berikut:
Tabel 5.3. Biaya Penyusutan Peralatan Per Satu Kali Produksi dalam Pengolahan Kopi Bubuk Arabika di Koperasi Kopi Mandailing Jaya Tahun 2019
No. Jenis Alat Jumlah Biaya Penyusutan (Rp/Hari)
1 Mesin Pengupas (Huller) 1 3.125 Rp. 30.527/hari. Adapun biaya penyusutan yang paling tinggi adalah biaya mesin
pengemas yaitu sebesar Rp. 18.750. Sedangkan biaya penyusutan yang paling rendah adalah biaya sendok yaitu sebesar Rp. 17.
5.1.1.4 Penggunaan Tenaga Kerja
Dalam proses produksi tenaga kerja merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjang kegiatan suatu usaha. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, pada usaha pengolahan kopi bubuk Arabika tenaga kerja diperlukan untuk mengerjakan berbagai kegiatan seperti pengeringan atau penjemuran kopi biji, pengupasan kulit tanduk dan ari (hulling), sortasi biji, penyangraian (roasting), penggilingan (grinder), serta pengemasan. Dimana jumlah tenaga kerja yang digunakan sebanyak 10 orang yang merupakan tenaga kerja luar keluarga.
4. Pengeringan Kopi Biji
Dalam proses pengeringan kopi biji digunakan tenaga kerja sebanyak 1 orang dengan waktu kerja selama 4 jam. Upah yang dikeluarkan untuk 1 orang tenaga kerja yaitu sebesar Rp. 80.000/ hari.
5. Pengupasan Kulit Tanduk dan Ari (Hulling)
Dalam proses pengupasan kulit tanduk atau hulling digunakan tenaga kerja sebanyak 2 orang dengan waktu kerja selama 2 jam. Upah yang dikeluarkan untuk 1 orang tenaga kerja yaitu sebesar Rp. 80.000/ hari.
6. Sortasi Biji
Dalam proses penyortiran biji kopi digunakan tenaga kerja sebanyak 3 orang dengan waktu kerja selama 4 jam. Upah yang dikeluarkan untuk 1 orang tenaga kerja yaitu sebesar Rp. 80.000/ hari.
7. Penyangraian (Roasting)
Dalam proses penyangraian biji kopi digunakan tenaga kerja sebanyak 1 orang dengan waktu kerja selama 2 jam. Upah yang dikeluarkan untuk 1 orang tenaga kerja yaitu sebesar Rp. 100.000/ hari.
8. Penggilingan (Grinder)
Dalam proses penggilingan kopi beras yang telah disangrai digunakan tenaga kerja sebanyak 1 orang dengan waktu kerja selama 1 jam. Upah yang dikeluarkan untuk 1 orang tenaga kerja yaitu sebesar Rp. 100.000/ hari.
9. Pengemasan
Dalam proses pengemasan kopi bubuk Arabika digunakan tenaga kerja sebanyak 2 orang dengan waktu kerja selama 2 jam. Upah yang dikeluarkan untuk 1 orang tenaga kerja yaitu sebesar Rp. 100.000/ hari.
Untuk lebih jelasnya penggunaan tenaga kerja dan biaya tenaga kerja dapat dilihat pada Tabel 5.4 berikut:
Tabel 5.4 Kebutuhan dan Upah Tenaga Kerja Per Proses Produksi dalam Pengolahan Kopi Bubuk Arabika di Koperasi Kopi Mandailing Jaya Tahun 2019
Tabel 5.4 di atas memperlihatkan bahwa penggunaan tenaga kerja dalam satu kali proses produksi pembuatan kopi bubuk Arabika membutuhkan tenaga kerja sebanyak 10 orang. Jadi, hari kerja orang yang digunakan dalam satu kali
produksi adalah sebanyak 2.93 HKO dengan rata-rata upah/HKO sebesar Rp. 300.341,29. Jadi, total upah yang dikeluarkan dalam satu kali produksi adalah Rp. 880.000.
5.1.1.5 Penerimaan dalam Pengolahan Kopi Bubuk Arabika
Penerimaan dalam pengolahan kopi bubuk Arabika adalah besarnya produksi dikalikan dengan harga jual produk. Jumlah penerimaan dari pengolahan kopi bubuk Arabika dapat dilihat pada Tabel 5.5 berikut ini:
Tabel 5.5. Penerimaan Hasil Pengolahan Kopi Bubuk Arabika Per Satu Kali Proses Produksi di Koperasi Kopi Mandailing Jaya Tahun 2019
No. Uraian Jumlah Satuan Penerimaan pengolahan kopi bubuk Arabika adalah sebanyak 12 kg kopi bubuk, yang dikemas dalam kemasan 200 gr sebanyak 30 kotak, kemasan 100 gr (sachet 10 x 10 gr) sebanyak 30 bungkus, dan kemasan 50 gr sebanyak 60 bungkus. Maka penerimaan yang diperoleh Koperasi Kopi Mandailing Jaya per proses produksi adalah sebesar Rp. 4.350.000.
5.2. Nilai Tambah Yang Diperoleh Dari Pengolahan Kopi Bubuk Arabika Menurut Hayami et al (1987), nilai tambah (value added) adalah pertambahan nilai suatu komoditas karena mengalami proses pengolahan, pengangkutan
ataupun penyimpanan dalam suatu produksi. Dalam proses pengolahan, nilai tambah dapat didefenisiskan sebagai selisih antara nilai produk dengan nilai biaya bahan baku dan input lainnya, tidak termasuk tenaga kerja. Sedangkan marjin adalah selisih antara nilai produk dengan harga bahan bakunya saja. Dalam marjin ini tercakup komponen faktor produksi yang digunakan yaitu tenaga kerja, input lainnya dan balas jasa pengusaha.
Metode analisis data yang digunakan untuk menghitung besarnya nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan kopi bubuk Arabika adalah Metode Hayami.
Kelebihan Metode Hayami adalah dapat diketahui besarnya nilai tambah, nilai output, dan produktivitas, serta dapat diketahui besarnya balas jasa terhadap pemilik-pemilik faktor produksi. Berikut ini merupakan tabel perhitungan nilai tambah usaha pengolahan kopi bubuk Arabika menggunakan Metode Hayami:
Tabel 5.6. Nilai Tambah yang Diperoleh dari Pengolahan Kopi Biji Menjadi Kopi Bubuk Arabika di Koperasi Kopi Mandailing Jaya Tahun 2019
Variabel Keterangan Nilai
I Output, Input dan Harga
1. Output/Produk Total (Kg/Proses Produksi) A 12
2. Input Bahan Baku (Kg/Proses Produksi) B 15
3. Input Tenaga Kerja (HOK/Proses Produksi) C 2,93 4. Faktor Konversi (Kg Output/Kg Bahan Baku) D = A/B 0,8 5. Koefisien Tenaga Kerja (HOK/Kg Bahan Baku) E = C/B 0,195
6. Harga Output (Rp/Kg) F 350.000 III Balas Jasa Untuk Faktor Produksi
14. Marjin (Rp/Kg) Q = J – H 248.000
Tabel 5.6 menjelaskan bahwa dalam usaha pengolahan kopi biji Arabika menjadi kopi bubuk Arabika dengan mengunakan bahan baku kopi biji sebanyak 15 kg dapat menghasilkan output 12 kg kopi bubuk. Sehingga menghasilkan faktor
konversi sebesar 0,8. Nilai konversi ini menunjukkan bahwa setiap pengolahan 1 kg kopi biji dapat menghasilkan 0,8 kg kopi bubuk Arabika. Proses pengolahan
kopi bubuk Arabika menggunakan tenaga kerja sebanyak 2,93 HOK. Sehingga
koefisien tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksi 1 kg kopi bubuk Arabika digunakan sebanyak 0.195 HOK.
2. Penerimaan dan Keuntungan
Dari tabel dapat diuraikan bahwa harga bahan baku yang digunakan untuk pengolahan kopi bubuk Arabika di daerah penelitian adalah Rp. 32.000,00/Kg.
Sedangkan sumbangan input lain dalam pengolahan kopi bubuk Arabika adalah
Rp. 17.115,13/Kg bahan baku. Harga output produk kopi bubuk Arabika adalah Rp. 350.000,00/Kg dan nilai output adalah Rp. 280.000/Kg.
Dapat diketahui bahwa nilai tambah yang di peroleh dari usaha pengolahan kopi biji Arabika menjadi kopi bubuk arabika adalah sebesar Rp. 230.844,87/Kg yang diperoleh dari nilai output dikurang harga input bahan baku dan sumbangan input lain, dengan rasio nilai tambah sebesar 82,44% yang artinya 82,44% dari nilai output merupakan nilai tambah yang diperoleh dari proses pengolahan kopi biji Arabika menjadi kopi bubuk Arabika.
Pendapatan tenaga kerja yang diperoleh dari hasil kali antara koefisien tenaga kerja dengan upah rata-rata tenaga kerja yaitu sebesar Rp. 58.566,55/Kg dengan bagian tenaga kerja sebesar 25,37%. Keuntungan yang diperoleh dari usaha
pengolahan kopi biji menjadi kopi bubuk Arabika adalah sebesar Rp. 172.278,32/Kg, dengan tingkat keuntungan sebesar 61,52%.
3. Balas Jasa Untuk Faktor Produksi
Dari tabel analisis nilai tambah Metode Hayami dapat dilihat bahwa margin yang diperoleh dari nilai output dikurangi dengan harga input bahan baku adalah sebesar Rp. 248.000/Kg, dengan persentase pendapatan tenaga kerja sebesar
23,61%, sumbangan input lain sebesar Rp. 6,92%, dan keuntungan pengusaha sebesar 69,47%.
Dari hasil penelitian diperoleh besarnya nilai tambah pada usaha pengolahan kopi bubuk Arabika di Koperasi Kopi Mandailing Jaya adalah Rp. 230.844,87/Kg dengan rasio nilai tambah sebesar 82,44% (>50%). Jika nilai tambah >50%
maka nilai tambah dinyatakan tinggi, maka hipotesis 1 dapat diterima.
5.3. Pendapatan yang Diperoleh dari Pengolahan Kopi Bubuk Arabika Pendapatan dalam pengolahan kopi bubuk Arabika adalah total penerimaan dari hasil penjualan kopi bubuk Arabika dikurangi total biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi. Biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi kopi bubuk Arabika terdiri dari biaya bahan baku, biaya bahan penunjang, biaya penyusutan peralatan dan biaya tenaga kerja. Besarnya pendapatan yang diperoleh dari pengolahan kopi bubuk Arabika dapat dilihat pada Tabel 5.7 berikut:
Tabel 5.7. Pendapatan Bersih dari Hasil Pengolahan Kopi Bubuk Arabika Per Satu Kali Produksi di Koperasi Kopi Mandailing Jaya Tahun 2019
No. Uraian Total (Rp)
1 Penerimaan (TR) 4.350.000
2 Biaya Produksi Biaya Tetap
- Biaya Penyusutan Peralatan 30.527
Biaya Variabel
- Biaya Bahan Baku 480.000
- Biaya Input Lain 226.200
- Biaya Upah Tenaga Kerja 880.000
Total Biaya (TC) 1.616.727
3 Pendapatan (TR-TC) 2.733.273
Sumber: Lampiran 2,3,4,6,8 2019
Tabel 5.7 memperlihatkan bahwa penerimaan yang diperoleh Koperasi Kopi Mandailing Jaya per proses produksi yaitu sebesar Rp. 4.350.000. Biaya yang
dikeluarkan per proses produksi kopi bubuk Arabika adalah sebesar Rp. 1.616.727, yang terdiri dari biaya tetap yaitu biaya penyusutan peralatan
sebesar Rp. 30.527, dan biaya variabel yaitu biaya bahan baku sebesar Rp. 480.000, biaya input lain sebesar Rp. 226.200, dan biaya upah tenaga kerja
sebesar Rp. 880.000. Dengan demikian pendapatan yang diperoleh dari
pengolahan kopi biji Arabika menjadi kopi bubuk Arabika adalah Rp. 2.733.273 per satu kali produksi.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa usaha pengolahan kopi bubuk Arabika memperoleh keuntungan karena penerimaan yang didapat lebih besar daripada total biaya produksi yang dikeluarkan. Artinya, produsen mendapatkan keuntungan dari pengolahan kopi bubuk Arabika. Maka Hipotesis 2 dapat diterima.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Proses pengolahan kopi biji Arabika menjadi kopi bubuk Arabika di Koperasi Kopi Mandailing Jaya terdiri dari 6 tahapan, yaitu tahap pengeringan kopi biji atau penjemuran, pengupasan kulit tanduk dan ari, sortasi biji, penyangraian, penggilingan, dan pengemasan.
2. Nilai tambah yang dihasilkan dari pengolahan kopi biji Arabika menjadi kopi bubuk Arabika pada Koperasi Kopi Mandailing Jaya tergolong tinggi, yaitu sebesar Rp. 230.844,87/Kg dengan rasio nilai tambah sebesar 82,44% .
3. Pendapatan yang diperoleh dari usaha pengolahan kopi biji Arabika menjadi kopi bubuk Arabika pada Koperasi Kopi Mandailing Jaya tergolong menguntungkan, yaitu sebesar Rp. 2.733.273.
6.2. Saran
1. Kepada Pengolah Kopi Bubuk Arabika
Kepada pengolah khususnya Koperasi Kopi Mandailing Jaya diharapkan agar terus mengembangkan usahanya dibidang pengolahan kopi bubuk Arabika dan terus berupaya dalam memperluas jangkauan pemasaran produk serta lebih mengefisienkan biaya produksi untuk meningkatkan nilai tambah.
2. Kepada Pemerintah
Kepada pemerintah diharapkan agar lebih memperhatikan industri kecil dan menengah. Pemerintah diharapkan lebih memperhatikan kebijakan harga dan
diharapkan dapat memberikan bantuan seperti memberikan peralatan atau mesin yang akan digunakan dalam usaha, memberikan kredit modal usaha dan pelatihan terkait usaha pengolahan kopi Arabika.
3. Kepada Peneliti Selanjutnya
Kepada peneliti selanjutnya agar meneliti lebih lanjut mengenai strategi pemasaran produk kopi bubuk Arabika, agar dapat diketahui strategi yang dapat diterapkan untuk memperluas jangkauan pemasaran produk.
DAFTAR PUSTAKA
Budiman, Haryanto. 2012. Prospek Tinggi Bertanam Kopi Pedoman Meningkatkan Kualitas Perkebunan Kopi. Pustaka Baru Press.
Yogyakarta.
Dinas Pertanian Kabupaten Mandailing Natal. 2018. Kabupaten Mandailing Natal Dalam Angka 2018. Badan Pusat Statistik: Kabupaten Mandailing Natal.
Hayami, Y; Kawagoe, T; Morooka, Y; Siregar, M. 1987. Agricultural Marketing and Processing in Upland Java A Perspective from a Sunda Village.
CGPRT Centre. Bogor.
Kirana, S. 2017. Nilai Tambah Rantai Pasok Kopi Pada Koperasi Produsen Kopi Margamulya di Kecamatan Pengalengan Kabupaten Bandung: Komparasi Antara Petani dan Pengolah Kopi. Agrisep Vol. 16 No. 2 September 2017 Hal: 165-176. Universitas Padjajaran. Bandung.
Lubis, N. 2017. Model Bisnis Inklusif Kopi Arabika Mandailing Dan Strategi Pengembangannya Di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.
Skripsi: Program Sarjana Alih Jenis Manajemen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Najiyati, S. dan Danarti. 2008. Kopi: Budidaya Dan Penanganan Pasca Panen Kopi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Panggabean, E. 2011. Buku Pintar Kopi. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Rahadjo, P. 2012. Kopi: Panduan dan Pengolahan Kopi Arabika dan Robusta.
Jakarta: Penebar Swadaya
Sitorus, U. M. 2014. Analisis Nilai Tambah Dan Strategi Pengembangan Produk Olahan Kopi Arabika (Coffea Arabica) Di Tingkat Kelompok Tani Simalungun Jaya Desa Sait Buttu Saribu Kabupaten Simalungun.
Skripsi: Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Soekartawi. 2000. Pengantar Agroindustri. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Soekartawi. 2003. Agribisnis Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada.
Sudiyono, A. 2004. Pemasaran Pertanian. UMM Press. Malang
Suprapto. 2006. Proses Pengolahan Dan Nilai Tambah. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Suratiyah, K. 2015. Ilmu Usahatani. Bogor: Penebar Swadaya.
Surya Ni, I Made dan Putu Udayani. 2016. Nilai Tambah dan Kelayakan Usaha Pengolahan Kopi Arabika pada Unit Usaha Produktif Ulian Murni Kabupaten Bangli. E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata ISSN:2301-6523
Surya Ni, I Made dan Putu Udayani. 2016. Nilai Tambah dan Kelayakan Usaha Pengolahan Kopi Arabika pada Unit Usaha Produktif Ulian Murni Kabupaten Bangli. E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata ISSN:2301-6523