• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENURUT UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN ANAK

C. Ketentuan Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak Sebagai Korban dan Anak Sebagai Pelaku

1. Batasan Usia Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum

Anak memiliki konsep nilai dan batasan yang beragam, dan akan terus berubah sesuai perkembangan peradaban manusia. Secara universal mengacu pada kerangka hukum internasional, konsep dan batasan tentang anak dapat dilihat dalam Konvensi Hak Anak (KHA) yakni anak yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun.129 KHA sebuah traktat atau perjanjian internasional yang mengatur pengakuan, penghormatan, dan perlindungan terhadap hak-hak fundamental anak.130

Batasan usia anak dalam Convention on the Rights of the Child tahun 1989 yang telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia melalui Keppres Nomor 36 Tahun 1990 ditegaskan usia anak adalah mereka yang berusia 18 (delapan belas) tahun ke bawah. Kemudian dalam United Nation Childern’s Fund (UNICEF) membatasai usia usia anak yaitu penduduk yang berusia antara 0 (nol) sampai dengan 18 (delapan belas) tahun. Konvensi ILO (International Labour Organization) mendefinisikan seorang anak sebagai siapapun yang berusia di bawah 18 tahun.131

Keppres Nomor 36 Tahun 1990 menjadi momentum penting sebagai upaya-upaya pemerintah dan masyarakat dalam melindungi hak-hak anak.132 Pasal 34 KHA

129 Marsudin Nainggolan, Gabriellah Angelina Gultom, Rosmalinda, Azmiati Zuliah, Saiful Azwar, Rafdial, & Faridawaty Nasution, Gugus Tugas Diversi Dengan Pendekatan Keadilan Restoratif Kota Medan, (Medan: Pusat Kajian Perlindungan Anak, 2016), hal. 1.

130 Chairul Bariah, Perlindungan Hukum Terhadap Korban Perdagangan Anak Perempuan Ke Luar Negeri, (Medan: Program Doktor Ilmu Hukum FH USU, 2012), hal. 16. Pemerintah Republik Indonesia telah meratifikasi Konvensi PBB mengenai Hak-Hak Anak (KHA) melalui Keppres Nomor 36 Tahun 1990 Tentang Konvensi Internasional Hak Anak.

131 Ibid., hal. 23.

132 KHA merupakan sebuah traktat atau perjanjian internasional yang mengatur pengakuan, penghormatan, dan perlindungan terhadap hak-hak fundamental dari anak. Pasal 32 KHA menegaskan pada negara diharapkan melindungi anak dari semua bentuk eksploitasi yang membahayakan fisik dan moral anak. Mengenai beberapa peraturan tentang anak antara lain: UU No.4 Tahun 1979 tentang

jelas ditegaskan secara spesifik mengharapkan semua negara untuk mengambil berbagai tindakan di tingkat nasional, bilateral atau multilateral untuk mencegah eksploitasi anak untuk tujuan seksual, termasuk pornografi.133

Keppres Nomor 36 Tahun 1990 menetapkan bahwa semua anak tanpa pengecualian apapun memiliki hak yang tercantum dalam deklarasi, tanpa perbedaan atau diskriminasi atas dasar ras, warna kulit, jenis kelamin, bangsa, agama, paham politik lainnya, asal kebangsaan atau asal sosial, kekayaan, kelahiran dan status dari dirinya sendiri atau dari keluarganya.134

Eksploitasi menurut KHA setidaknya mencakup pelacuran atau bentuk lain dari eksploitasi seksual, kerja paksa atau pelayanan paksa, melalui perbudakan atau praktek-praktek lain yang serupa dengan perbudakan, penghambaan atau pengambilan orang terhadap tubuh orang lain. Pengertian ini memberikan rumusan yang jelas, bahwa pengertian tersebut termasuk tindakan atau perbuatan yang meliputi unsur–unsur penyerahan (perekrutan), transportasi, pemindahan, penyembunyian, penampungan, penempatan dan penerimaan orang.135

UU RI No.1/1974 Tentang Perkawinan, anak yang belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan, ada di bawah kekuasaan orang tuanya selama mereka tidak dicabut dari kekuasaannya.136 UU RI

Kesejahteraan Anak, UU No.3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Keppres No.36 Tahun 1990 tentang Konvensi Internasional Hak Anak.

133 M. Joni dan Zulchaina Z. Tanamas, Aspek Hukum Perlindungan Dalam Perspektif Konvensi Hak Anak, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1999), hal. 39.

134 KHA, Vol. III No.3, Tanggal Juli 1999.

135 Chairul Bariah, Op. cit., hal. 81.

136 Pasal 47 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

No.39/1999 Tentang HAM, ditegaskan usia anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya.137

UU RI No.21/2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, menegaskan usia anak adalah seorang yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan. Penegasan usia anak termasuk dalam kandungan sudah dapat dimungkinkan menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).138

Konsep yang hampir sama juga tercantum dalam Pasal 1 angka 1 UU RI No.35/2014 Tentang Perubahan atas UU RI No.23/2002 Tentang Perlindungan Anak.

Berdasarkan ketentuan tersebut yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Batasan dan konsep anak yang berhadapan dengan hukum juga ditemukan dalam berbagai instrumen hukum nasional. Diantaranya UU RI No.35/2014 Tentang Perubahan atas UU RI No.23/2002, UU RI No.11/2012, dan Keputusan Bersama Mahkamah Agung, Jaksa Agung, Kapolri, Kementerian Sosial, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Berdasarkan perundang-undangan tersebut, ada tiga kategori anak yang berhadapan dengan hukum, yaitu: (i)

137 Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang HAM.

138 Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (UUPTPPO).

anak yang berkonflik dengan hukum atau anak sebagai pelaku tindak pidana; (ii) anak yang menjadi korban tindak pidana; dan (iii) anak sebagai saksi tindak pidana.139

UU RI No.11/2012 Tentang Sistim Peradilan Pidana Anak, juga menentukan tiga kategori anak yang berhadapan dengan hukum. Pasal 1 angka 2 UU RI No.11/2012, terdiri dari, anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang menjadi korban tindak pidana, dan anak yang menjadi saksi tindak pidana. Anak yang berkonflik dengan hukum adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.140

Anak yang menjadi korban tindak pidana adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tindak pidana.141 Anak yang menjadi saksi tindak pidana adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun.142

Batasan maksimal usia anak yang berhadapan dengan hukum adalah sama yakni anak yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, tetapi tidak termasuk anak yang masih dalam kandungan. Pada prinsipnya ketentuan-ketentuan batasan usia anak merujuk pada UU RI No.11/2012 dapat dimaknai batasan usia anak yang perkara pidananya dapat diselesaikan dengan konsep diversi, yaitu usia minimal berumur 12 (dua belas) tahun dan sebelum berusia 18 (delapan belas) tahun.

139 Marsudin Nainggolan, Gabriellah Angelina Gultom, Rosmalinda, Azmiati Zuliah, Saiful Azwar, Rafdial, & Faridawaty Nasution, Op. cit., hal. 2.

140 Pasal 1 angka 3 UUSPPA.

141 Pasal 1 angka 4 UUSPPA.

142 Pasal 1 angka 5 UUSPPA.

Batasan usia penyelesaian perkara pidana ABH secara diversi disepakati sesuai ketentuan Pasal 1 angka 3 UU RI No.11/2012 menentukan anak yang berkonflik dengan hukum adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.

Dari ketiga kelompok anak yang berhadapan dengan hukum tersebut, pendekatan keadilan restoratif dapat diterapkan ketika posisi anak sebagai pelaku atau disebut dengan anak yang berkonflik dengan hukum.143 Hal ini juga termasuk anak sebagai korban tindak pidana, dan anak sebagai saksi dalam perkara pidana.