PENCABULAN ANAK
A. Pertanggungjawaban Pidana
1. Pertanggungjawaban Pidana Berdasarkan Kesalahan
Subjek hukum dapat dipertanggungjawabkan secara pidana jika terlibat dalam perbuatan pidana. Perbuatan pidana dapat berupa een doen atau een niet doen atau dapat berupa melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu, atau juga karena een nalaten yaitu mengalpakan sesuatu yang diwajibkan undang-undang.225 Kedua-duanya dapat dipertanggungjawabkan secara pidana. Pertanggungjawaban pidana merupakan suatu kewajiban hukum pidana untuk memberikan pertanggungjawaban pada seseorang karena orang lain dirugikan.226
225 P.A.F., Lamintang, Dasar-Dasar…Op. cit, hal. 192-193.
226 Romli Atmasasmita, Asas-Asas Perbandingan Hukum Pidana, Cet. I, (Jakarta: Yayasan LBH, 1989), hal. 79.
Pertanggungjawaban pidana menyangkut pengenaan pidana karena sesuatu perbuatan yang bertentangan dengan hukum pidana.227 Pertanggungjawaban pidana menunjukkan suatu upaya diteruskannya celaan yang objektif pada tindak pidana berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku dan secara subjektif kepada pembuat yang memenuhi unsur dalam perundang-undangan untuk dapat dikenai pidana.228
Pertanggungjawaban pidana harus didasarkan pada kesalahan yang bersandarkan pada asas “tiada pidana tanpa kesalahan” (geen straf zonder schuld atau keine strafe ohne schuld atau no punishment without guilt). Asas ini merupakan asas yang fundamental sesuai dengan asas legalitas. Penegasan demikian merupakan perwujudan dari ide keseimbangan monodualistik (monisme dan dualisme).229
Kesalahan (schuld) menurut hukum pidana mencakup kesengajaan dan kelalaian. Kesengajaan (dolus) berkaitan dengan kejiwaan yang lebih erat kaitannya dengan suatu tindakan terlarang karena unsur penting dalam kesengajaan adalah niat (mens rea). Ancaman pidana karena sengaja lebih berat daripada lalai (culpa).230
Sifat pertama kesengajaan adalah dolus malus, yakni seseorang melakukan tindakan pidana tidak hanya ia menghendaki tindakannya, tetapi ia juga menginsyafi tindakannya itu dilarang dan diancam oleh undang-undang. Sifat kedua kesengajaan adalah mempunyai sifat tertentu (kleurloos begrip), yaitu seseorang melakukan tindak
227 Roeslan Saleh, Pikiran-Pikiran Tentang Pertanggungjawaban Pidana, Cetakan I, (Jakarta:
Ghalia Indonesia, 1982), hal. 33.
228 Naskah Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Baru Buku I dan II, 1991/1992.
229 Barda Nawawi Arief, “Sistem Pemidanaan Dalam Ketentuan Umum Konsep RUU KUHP 2004”, Bahan Sosialisasi RUU KUHP 2004, diselenggarakan oleh Departemen Hukum dan HAM, tanggal 23-24 Maret 2005, di Hotel Sahid Jakarta, hal. 13.
230 EY. Kanter, & SR. Sianturi, Op. cit, hal. 170.
pidana cukup hanya menghendaki tindakannya itu. Ada hubungan erat antara kejiwaan (batin) dengan tindakannya tidak disyaratkan apakah ia menginsyafi bahwa tindakannya itu dilarang dan diancam pidana oleh undang-undang.231
Teori yang berhubungan dengan kesengajaan yaitu teori kehendak dan teori pengetahuan (teori membayangkan). Teori kehendak memandang sengaja adalah kehendak mewujudkan unsur-unsur delik dalam rumusan undang-undang. Teori pengetahuan (teori membayangkan) memandang sengaja apabila suatu akibat yang ditimbulkan karena suatu tindakan yang dibayangkan sebagai maksud dan tindakan yang bersangkutan dilakukan sesuai dengan bayangan terlebih dahulu dibuat.232
Unsur kesengajaan disyaratkan means rea sedangkan kelalaian tidak.
Kesengajaan memiliki karakteristik dengan sengaja melakukan sesuatu yang ternyata salah atau kurang kewaspadaan dalam melakukan sesuatu sehingga mengakibatkan penderitaan atau kerugian pada orang lain. Pelaku masih dapat memperkirakan akibat yang akan terjadi dari perbuatannya, tetapi ia tidak mengurungkan niatnya berbuat sesuatu. Terhadapnya dapat dipertanggungjawabkan karena kesengajaan melakukan suatu perbuatan.233
Unsur kelalaian terdapat kurang pemikiran, kurang pengetahuan, dan kekurangan kebijaksanaan. Jika dipandang dari kelalaian yang disadari, ada kelalaian yang berat dan ada kelalaian yang ringan. Pelaku pada kelalaian yang disadari dapat atau mampu membayangkan atau memperkirakan akibat yang ditimbulkan
231 Ibid, hal. 171.
232 Ibid, hal. 180.
233 Ibid, hal. 192.
perbuatannya namun ketika melakukan tindakannya, tetap saja menimbulkan akibat fatal kepada orang lain walaupun sudah ada tindakan pencegahan dari pelaku. Pelaku pada kelalaian yang tidak disadari tidak dapat atau tidak mampu menyadari atau tidak memperkirakan akan timbulnya sesuatu akibat.234
Pertanggungjawaban pidana berdasarkan kesalahan merupakan asas fundamental sebagai pasangan dari asas legalitas.235 Penegasan yang demikian merupakan perwujudan pula dari ide keseimbangan monodualistik (monisme dan dualisme).236 Adanya pasal yang menegaskan “tiada pidana tanpa kesalahan”
diimbangi dengan asas pertanggungjawaban mutlak (strict liability) dan asas pertanggungjawaban pengganti (vicarious liability), sekalipun seseorang tidak memiliki kesalahan tetapi ia berdasarkan asas ini dapat dipertanggungjawabkan.237
Ajaran kesalahan (dolus) selain karena terdapat unsur kesengajaan agar seseorang dapat dipertanggungjawabkan menurut hukum pidana adalah karena kelalaian atau kealpaan (culpa). Seseorang dikatakan lalai atau alpa harus memiliki karakteristik dengan sengaja melakukan sesuatu yang ternyata salah atau karena kurang waspada sehingga mengakibatkan penderitaan atau kerugian dan bahkan kematian pada orang lain. Ia masih dapat memperkirakan akibat yang akan terjadi jika ia tidak lakukan sesuatu, tetapi ia melakukannya.238
234 Ibid, hal. 192-194.
235 Pasal 35 ayat (1) RUU KUH Pidana 2004.
236 Barda Nawawi Arief, “Sistem Pemidanaan...Op. cit, hal. 13.
237 Ibid, hal. 18.
238 EY. Kanter & SR. Sianturi, Op. Cit., 192.
Kelalaian dalam diri pelaku terdapat kurangnya pemikiran, kekurangan pengetahuan, dan kekurangan kebijaksanaan, sehingga jika dipandang dari kealpaan yang disadari, ada kelalaian yang berat dan ada kelalaian yang ringan. Unsur pelaku dalam kealpaan yang disadari masih dapat/mampu membayangkan atau memperkirakan akibat yang ditimbulkan dari perbuatannya namun tetap saja menimbulkan akibat fatal kepada orang lain walaupun sudah ada tindakan pencegahan dari pelaku. Unsur pelaku dalam kelalaian yang tidak disadari bilamana pelaku memang benar-benar tidak dapat/tidak mampu menyadari atau tidak memperkirakan akan menimbulkan sesuatu akibat yang diancam pidana.239
Kesengajaan maupun kelalaian menurut hukum pidana merupakan perbuatan kesalahan, berarti sama-sama dapat dipidana. Untuk membuktikan kesengajaan ataupun kelalaian itu adalah tugas dari pertanggunggjawaban pidana. Kesalahan tersebut dianut dalam hukum pidana umum di Indonesia dan sampai saat ini masih tetap dipandang sebagai yang lebih baik, sedangkan untuk tindak pidana khusus dalam berbagai undang-undang sudah dikenal pula pertanggungjawaban pidana secara mutlak (strict liability).
Dipidananya seseorang tidak cukup hanya disandarkan pada perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang atau bersifat melawan hukum formil. Walaupun perbuatannya telah memenuhi rumusan delik dalam undang-undang jika tidak terdapat kesalahan, maka terhadapnya tidak dapat dijatuhkan pidana. Dengan kata lain harus ada kesalahan (kesengajaan atau kealpaan) bila terkait tindak pidana umum
239 Ibid, hal. 192-194.
(tipidum) sebagaimana telah diuraikan di atas barulah seseorang itu dapat dipertanggungjawabkan secara pidana.
Perbuatan dikatakan memenuhi unsur kesalahan dalam hukum pidana umum (KUH Pidana) karena melakukan pebuatan pidana yang oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam pidana tertentu dalam undang-undang bagi siapa saja yang melanggar larangan tersebut.240 Simons, mengatakan perbuatan pidana merupakan suatu tindakan melanggar hukum yang dilakukan dengan sengaja ataupun karena kelalaian dari subjek hukum yang dapat dipertangungjawabkan atas tindakannya dan oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu perbuatan atau tindakan yang dapat dihukum.241 Dari penjelasan di atas maka siapa sajakah yang dapat dipertanggungjawabkan? yaitu mencakup semua subjek hukum setiap orang, atau individu, atau badan hukum, atau bukan badan hukum, atau suatu korporasi.
Unsur pokok subjektif didasarkan pada kesalahan (sengaja atau lalai).
Peratnggungjawaban berdasarkan kesahalan berarti tidak ada hukuman tanpa kesalahan (geen straf zonder schuld). Hal ini berlaku baik unsutk kesengajaan karena sebagai maksud, sengaja sebagai kepastian, sengaja sebagai kemungkinan maupun kealpaan. Penghukuman terhadap kelalaian lebih ringan dibandingkan dengan kesengajaan karena kelalaian disebabkan karena tidak berhati-hatinya pelaku dan tidak menduga-duga akibat perbuatan itu.242
240 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), hal. 54.
241 Leden Marpaung, Unsur-Unsur Perbuatan Yang Dapat Dihukum (Delik), Cetakan I, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1991), hal. 4.
242 Ibid.
Sifat melawan hukum sebagai suatu penilaian objektif terhadap perbuatan dan bukan terhadap si pembuat (subjektif). Sifat melawan hukum itu harus dilihat secara secara formil yaitu apabila suatu perbuatan telah mencocoki semua unsur yang termuat dalam rumusan delik. Melawan hukum sama dengan melawan undang-undang (hukum tertulis). Jika ada alasan-alasan pembenar, alasan-alasan tersebut harus juga disebutkan secara tegas dalam undang-undang. Bila memenuhi sifat melawan hukum secara materil, perbuatan itu harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat sebagai perbuatan yang tidak patut atau tercela sekalipun tidak diatur dalam undang-undang.243
Syarat pertanggungjawaban pidana terhadap orang tua anak yang lalai mengawasi anak-anaknya, tidak hati-hati, tidak acuh, tidak peduli masalah pendidikan dan tidak melakukan upaya-upaya kontrol yang berkesinambungan, mengandung sifat melawan hukum (wederrechtelijkheid) dalam arti materil.
Kewajiban dan tanggung jawab orang tua terhadap anak telah banyak disebutkan dalam UU RI No.35/2014 jo. UU RI No.23/2002, tapi tidak ada satupun pasal yang dapat menarik pertanggungjawaban pidana kepada orang tua atas perbuatan pidana yang dilakukan oleh anaknya (akan dijelaskan dalam sub B dalam bab ini).
Sifat melawan hukum formil jika suatu perbuatan mencocoki semua unsur yang termuat dalam rumusan delik. Jika ada alasan-alasan pembenar, alasan-alasan tersebut harus juga disebutkan secara tegas dalam undang-undang. Melawan hukum sama dengan melawan undang-undang. Tapi, sifat melawan hukum materil,
243 EY. Kanter & SR. Sianturi, Op. Cit, hal. 125 dan hal. 142.
perbuatan itu benar-benar dirasakan masyarakat sebagai perbuatan tidak patut atau tercela dan telah dilarang oleh hukum.244
Oleh sebab itu, agar konsep pertanggungjawaban pidana kepada orang tua anak yang melakukan pidana memiliki daya kekuatan hukum mengikat secara formil, maka konsep pertanggungjawaban pidana ini harus dirancang dalam undang-undang perlindungan anak. Sehingga para orang tua akan lebih hati-hati mengawasi, mengontrol, memberi pendidikan formal dan formal kepada anak-anaknya, dan lain-lain. Sebab, anak menjadi nakal atau jahat, tidak terlepas dari faktor lingkungan keluarga terutama sejauhmana orang tua anak mengayominya dari berbagai aspek.