Kawasan Wisata Jembatan Barito di Kabupaten Barito Kuala d. Kawasan perindustrian
Kawasan Industri :
1) Kawasan industri simpang tiga Liang Anggang-Banjarbaru di Kota Banjarbaru;
2) Kawasan industri pengolahan kayu Alalak di Kabupaten Barito Kuala; 3) Kawasan industri Batulicin di Kabupaten Kotabaru;
4) Kawasan Industri Bati-bati di Kabupaten Tanah Laut; Zona Industri :
1) Zona industri galangan kapal Batulicin di Kabupaten Kotabaru; 2) Zona industri semen di Tarjun Kabupaten Kotabaru;
3) Zona industri perabot Kayu dan rotan di Kasbupaten Hulu Sungai utara; 4) Zona agro industri Murung Pudak di Kabupaten Tabalong;
5) Zona industri logam di Negara Kabupaten Hulu Sungai Selatan
Berdasarkan Struktur pemanfaatan ruang wilayah meliputi sistem Kota-kota dan prasarana wilayah, Kabupaten Tanah Laut termasuk dalam Orde III.
Berdasarkkan Fungsi Kota sesuai dengan hirarkhi kotanya, Kabupaten Tanah Laut diarahkan sebagai Pusat pelayanan komunikasi, Pusat Permukiman, Pusat Administrasi pemerintahan serta pusat pelayanan lokal
Pengembangan Kota Orde III (Kab. Tanah Laut) :
a. Peningkatan sarana dan prasaranan kota sesuai dengan fungsi kota.
b. Peningkatan kerjasama antara pemerintah dan swasta dalam pengadaan fasilitas, sarana dan prasarana perkotaan.
c. Pengendalian lingkungan, terutama untuk Pelaihari yang memiliki industri pengolahan tebu.
Penataan ruang kota melalui perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian tata ruang.
E. RTRW Kawasan Strategis Nasional
Penetapan kawasan strategis nasional dilakukan berdasarkan kepentingan pertahanan dan keamanan, pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi, serta fungsi dan daya dukung lingkungan hidup.
3-
103
1-103
Sesuai dengan amanat dalam Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang RencanaTata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), bahwa kawasan strategis nasional di Provinsi Kalimantan Selatan hanya ditetapkan 1 lokasi yaitu Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) Batulicin (Lampiran X PP. No. 26 Tahun 2008) yang berlokasi di Kabupaten Tanah Bumbu. Dengan demikian mengingat kawasan strategis nasional tersebut berada diluar wilayah Kabupaten Tanah Laut, maka terkait dengan penyusunan RPI2-JM Kabupaten Tanah Laut ini tidak ada arahan kawasan strategis nasional yang dapat dikutip dalam kebijakan tersebut di Kabupaten Tanah Laut. Untuk itu ulasan tentang KSN digantikan dengan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) yaitu berupa KSP Metropolitan Banjar Bakula.
3.1.6 Kawasan Perencanaan Metropolitan Banjar Bakula
Lingkup wilayah kawasan Metropolitan Banjar Bakula mencakup 5 wilayah Kabupaten/Kota, yaitu Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, sebagian wilayah Kabupaten Banjar, sebagian wilayah Kabupaten Barito Kuala (Batola), dan sebagian wilayah Kabupaten Tanah Laut, dengan luas seluruh kawasan sekitar 337.800 Ha, dengan jumlah kecamatan sebanyak 32 (tiga puluh dua) buah.
Rencana Sistem Pusat Pelayanan
Rencana pusat pelayanan di kawasan Metropolitan Banjar Bakula adalah : 1. Pusat Kegiatan Nasional./PKN (Kota Inti) :
a. Banjarmasin b. Banjarbaru c. Martapura 2. PKL (Kota Satelit) :
a. Alalak d. Bati-Bati
b. Gambut-Krtak Hanyar e. Sungai Tabuk
c. Aluh-Aluh f. Tamban
C. Kota Kecil :
a. Tabunganen h. Martapura Barat
b. Mekarsari i. Astambul
c. Anjir Pasar j. Mataraman
d. Anjir Muara k. Karang Intan
e. Mandastana l. Kurau
f. Beruntung Baru m. Tambang Ulang g. Martapura Timur n. Bumi Makmur
3-
104
1-104
F. Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
(MP3EI)
Berikut kebijakan MP3EI pada Koridor Ekonomi Kalimantan yang didalamnya meliputi wilayah Provinsi Kalimantan Selatan sebagai berikut :
Gambar 3.10.
Koridor Ekonomi Kalimantan
Minyak dan Gas
Kegiatan ekonomi utama minyak dan gas di Koridor Ekonomi Kalimantan direncanakan terdapat di lokus Balikpapan, Blok Delta Mahakam, Rapak, dan Ganal. Rencana investasi industri migas yang akan dilakukan di Kalimantan pada periode 2011—2015 berupa proyek-proyek utama seperti penambahan kapasitas produksi BBM di Balikpapan dan sekitarnya, serta eksplorasi laut dalam di Rapak dan Ganal. Kegiatan ekonomi utama minyak dan gas di Koridor Ekonomi Kalimantan akan melibatkan pihak swasta, BUMN, maupun pemerintah Batubara
Kegiatan industri batubara Koridor Ekonomi Kalimantan terpusat di Provinsi Kalimantan Timur. Lebih dari 72 persen cadangan batubara Kalimantan terkonsentrasi di provinsi tersebut, kemudian diikuti oleh Kalimantan Selatan sebesar 23,7 persen, Kalimantan Tengah 3,1 persen, dan Kalimantan Barat 1 persen
Gambar 3.11. Rantai Nilai Batubara
Kelapa Sawit
Kegiatan ekonomi utama kelapa sawit di Koridor Ekonomi Kalimantan terdapat di lokus Kutai Timur, Kalimantan Selatan, Barito, Kotawaringin, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Rencana investasi industri kelapa sawit yang akan dilakukan di Kalimantan pada periode 2011—2015 berupa proyek-proyek pengembangan dan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. Terdapat juga pengembangan kapasitas pelabuhan di Kumai Kalimantan Tengah. Hampir semua kegiatan investasi kelapa sawit Koridor Ekonomi Kalimantan dilakukan oleh pihak swasta walaupun masih ada beberapa kegiatan perkebunan kelapa sawit yang dilakukan oleh perusahaan BUMN
Gambar 3.9.RENCANA STRUKTUR RUANG METROPOLITAN BANJAR BAKULA
3-
105
1-105
Gambar 3.12.
Rantai Nilai Industri Kelapa Sawit
Besi Baja
Kegiatan ekonomi utama besi baja di Kalimantan, terdapat di Kalimantan Tengah (Kotawaringin Barat) dan Kalimantan Selatan (Batulicin, Tanah Bumbu, dan Tanah Laut). Pengembangan proyek di lokasi tersebut antara lain pengolahan dan pemurnian bijih besi serta pengembangan industri benefisiasi yang mengolah bijih besi dari tambang menjadi bahan baku (pellet dan sponge iron) untuk industri baja di Indonesia. Pelaku usaha industri besi dan baja di Kalimantan didominasi oleh investor swasta dengan nilai investasi yang teridentifikasi hingga tahun 2015 sebesar IDR 40 Triliun.
Gambar 3.13. Rantai Nilai Industri Baja
Bauksit
Di Kalimantan, cadangan bauksit terbesar berada di wilayah Kalimantan Barat. Namun, hingga saat ini, mayoritas hasil tambang bauksit diekspor sebagai bahan baku mentah. Sebagai bahan baku pembuatan aluminium, kebutuhan akan industri pengolahan bauksit menjadi alumina perlu secara serius dikembangkan di Indonesia. Selain untuk menjalankan mandat UU No.4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara mengenai upaya optimalisasi nilai tambah bahan baku mineral, harga jual alumina yang bisa mencapai 10 kali harga jual bauksit, dan tingginya angka impor alumina merupakan salah satu alasan mengapa industri pengolahan bauksit menjadi alumina perlu dikembangkan di Kalimantan.
Gambar 3.14. Rantai Nilai Industri Bauksit
Perkayuan
Rencana investasi di industri perkayuan untuk jangka pendek dan menengah (rencana investasi fast track MP3EI) di Pulau Kalimantan telah tercatat berupa investasi HTI dan IPHHK. Rencana investasi HTI terluas tersebar di beberapa lokus di Kalimantan Barat (1.004.493 Ha, nilai investasi sekitar IDR 9,6 Triliun), diikuti oleh Kalimantan Timur (416.748 Ha, nilai investasi sekitar IDR 7,2 Triliun), Kalimantan Tengah (269.446 Ha, nilai investasi sekitar IDR 5,4 Triliun), dan Kalimantan Selatan (89.400 Ha, nilai investasi sekitar IDR 1,3 Triliun). Untuk rencana investasi di IPHHK tercatat masih terpusat di Kalimantan Timur (sekitar IDR 7,8 Triliun), dan di Kalimantan Tengah yang mencatat rencana investasi sebesar IDR 893 Miliar.
3-
106
1-106
Rantai Nilai Industri Perkayuan
Gambar 3.16.
Inisiatif Strategis Koridor Ekonomi Kalimantan
Tabel 3.6.
Aglomerasi Indikasi Ekonomi Koridor Kalimantan
Tabel 3.7.
Daftar Investasi Infrastruktur Pemerintah yang Terindentifikasi di Koridor Kalimantan Lanjutan Tabel..
Tabel 3.8.
Daftar Investasi Indrastruktur BUMN yang Terindentifikasi di Koridor Kalimantan Lanjutan Tabel..
Tabel 3.9.
Daftar Investasi Indrastruktur CAMPURAN yang Terindentifikasi di Koridor Kalimantan
3.1.7 ARAHAN WILAYAH PENGEMBANGAN STRATEGIS
Untuk mengurangi resiko seta dampak bencana, maka sasaran penaggulangan bencana di wilayah Kalimantan adalah kawasan pengembangan wilayah beresiko tinggi yaitu :
4 ( Empat ) PKN (Kota Samarinda, Kota Pontanak, Kota Palangkaraya dan Kota Tarakan) 10 PKW (Kota Singkawang, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Sambas, Kabupaten Sintang,
Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, Kabupaten Kotabaru, Kota Balikpapan, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Tanah Laut dan Kabupaten Nunukan) yang memiliki indeks resiko bencana tinggi, baik yang berfungsi sebagai PKN, PKW, KSN atau PKSN.
Rencana pembangunan infrastruktur penanggulangan bencana kawasan Kalimantan :
Pembangunan Pengendalian Banjir Tanjung Belimbing (Kanal, Retarding Basin dan
Drainase)Kota Malinau Kab. Malinau, Santui, Kintap dan Batu Licin, Jorong, Asam - Asam
&Kintap, Kandang Jaya, Kota Sintang Kab Sintang, Kab. Kapuas Hulu Kab Kapuas Hulu
Pembangunan Pintu Air dan Pompa Banjir Muara Sungai Karang Mumus Kota SamarindaKota Samarinda
Lanjutan Penanganan Banjir dan Pengaman Tebing Sungai Karang Mumus Kota SamarindaKota Samarinda
3-