ANALYSIS THE INDEPENDENCY OF BAWASLU AUTHORITY IN THE ESTABLISHMENT OF BAWASLU REGULATIONS RELATED TO GENERAL
A. Bawaslu sebagai Lembaga Independen
Dalam konteks politik hukum makro, kata “independensi” hanya ditemui dalam pengaturan tentang bank sentral (Pasal 23D UUD 1945). Namun demikian, padanan kata serupa diterjemahkan menjadi merdeka
351 Jurnal Pettarani Election Review, Volume 1 Nomor 3, November 2020
atau mandiri. Kata “merdeka” lazim digunakan untuk lembaga peradilan sebagai pelaku kekuasaan kehakiman yang terdapat dalam Pasal 24 ayat (1) UUD 1945. Sedangkan kata “mandiri” dapat ditemui dalam pengaturan tentang lembaga penyelenggara pemilu (Pasal 22E ayat (5)), Badan Pemeriksa Keuangan (Pasal 23E ayat (1)), dan juga Komisi Yudisial (Pasal 24B ayat (1)). (Yulianto, 2010)
Ketentuan mengenai Bawaslu sebagai penyelenggara pemilu diatur dalam pasal 1 angka 7 UU No 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum. Dalam ketentuan tersebut disebutkan bahwa “Penyelenggara
pemilu adalah lembaga yang menyelenggarakan pemilu yang terdiri atas Komisi Pemilihan Umum, Badan Pengawas Pemilu, dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu sebagai satu kesatuan fungsi Penyelenggaraan Pemilu”.
Bawaslu sebagai lembaga penyelenggara pemilu kemudian diatur kedudukannya dalam Pasal 1 angka 17 bahwa “Badan
Pengawas Pemilu yang selanjutnya disebut Bawaslu adalah lembaga Penyelenggara Pemilu yang mengawasi Penyelenggaraan Pemilu di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
3 Risalah Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 11/ PUU-VIII/2010. hal.111-112
Dalam konteks lembaga penyelenggara pemilu, rujukan konstitusionalitas dalam UUD NRI Tahun 1945 terdapat pada pasal 22E ayat (5) yang menyatakan “Pemilihan
umum diselenggarakan oleh suatu komisi pemilihan umum yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri”. Banyak kalangan yang
menafsir bahwa ketentuan dalam pasal tersebut adalah merujuk kepada sebuah institusi yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU), jika demikian, Bagaimama dengan posisi Bawaslu? Menurut Mahkamah Konstitusi melalui putusannya Nomor 11/ PUU-VIII/2010 tentang pengujian norma UU Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum menegaskan bahwa3
“Kalimat “suatu komisi pemilihan umum” dalam pasal 22E ayat (5) UUD 1945 tidak merujuk kepada sebuah nama institusi, akan tetapi menunjuk pada fungsi penyelenggaraan pemilihan umum yang bersifat nasional, tetap dan mandiri. Dengan demikian, menurut
Mahkamah, fungsi
penyelenggaraan pemilihan umum tidak hanya dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), akan tetapi termasuk juga lembaga
352 Jurnal Pettarani Election Review, Volume 1 Nomor 3, November 2020
pengawas pemilihan umum dalam hal ini Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) sebagai satu kesatuan fungsi penyelenggaraan pemilihan umum yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri. Pengertian ini lebih memenuhi ketentuan UUD 1945 yang mengamanatkan adanya penyelenggara pemilihan umum yang bersifat mandiri untuk dapat terlaksananya pemilihan umum yang memenuhi prinsip-prinsip luber dan jurdil.”
Keberadaan tafsir pasal 22E Ayat (5) UUD NRI Tahun 1945 oleh Mahkamah Konstitusi yang mendudukkan Bawaslu juga sebagai salah satu bagian dari penyelenggara pemilu yang akibatnya juga terikat dari kedudukan penyelenggara pemilu yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri tentunya adalah hal yang memang sangat diperlukan, sebab jika dilihat secara fungsional kewenangan Bawaslu juga sangat vital dalam penyelenggaran pemilu. Keberadaan tafsir Mahkamah Konsititusi terhadap pasal 22E ayat (5) UUD NRI Tahun 1945 berdampak pada dapat dinyatakannya juga Bawaslu sebagai
4Lihat Naskah Komprehensif Perubahan UUD 1945: Latar Belakang, Proses, dan Hasil Pembahasan 1999-2002, Buku V Pemilihan Umum. Sekjen dan Kepaniteraan MK 2010, hlm. 517
lembaga organ konstitusi yang bersifat
constitutional importance. Hal ini menggeser pemahaman dalam penyelenggaraan pemilu yang selama ini menyebutkan hanya Komisi Pemilihan Uumum saja yang memiliki kedudukan
constitutional importance.
Diantara tiga prinsip penyelenggara pemilu yang disebutkan dalam pasal 22E ayat (5) UUD NRI Tahun 1945, prinsip yang penting untuk dikaji adalah perinsip kemandirian itu sendiri. Memaknai frasa “mandiri” dalam Pasal 22E ayat (5) UUD NRI Tahun 1945 dapat dimaknai bukan partai politik. Pemaknaan demikian terlihat dalam perdebatan penyusunan konstitusi (original intens) perubahan UUD 1945. Dalam naskah komperhensif terlihat bahwa perdebatan konstitusi mengarahkan agar penyelenggara pemilu bersifat mandiri, nonpartisan dan tidak berasal dari partai politik. Pandangan Fraksi PDIP4 pada waktu itu menyebutkan: “Pemilihan umum
harus diselenggarakan oleh suatu komisi pemilihan umum yang independen dan anggotanya bukan anggota aktif partai politik peserta Pemilu”. Pendapat itu
selanjutnya diperkuat dengan pandangan dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa5
5 Lihat Naskah Komprehensif Perubahan UUD 1945: Latar Belakang, Proses, dan Hasil Pembahasan 1999-2002, Buku V Pemilihan
353 Jurnal Pettarani Election Review, Volume 1 Nomor 3, November 2020
sebagai berikut: “Kita sepakat semua fraksi
menetapkan adanya komisi pemilihan umum yang mandiri, yang professional, yang non partisan, dengan penjelasan yang sudah disepakati juga, makna dari non partisan it”. Hal senada juga disampaikan
Ali Masykur Musa dari Fraksi Kebangkitan Bangsa mengatakan, “Pelaksanaan Pemilu
yang demikian hanya bisa tercapai apabila penyelenggaraannya adalah badan yang mandiri dan tidak terikat pada kekuatan politik tertentu”. (Nazariyah, 2011)
Asep Warlan Yusuf (Nazariyah, 2011) yang merupakan ahli Hukum Tata Negara dalam sidang perubahan UUD 1945 menyatakan bahwa istilah kemandirian penyelenggara pemilu menyiratkan tiga hal esensial, yaitu:
1. Penyelenggara pemilu tidak berada di bawah pengaruh/perintah pihak yang mengintervensi atau mempengaruhi anggota komisi pemilihan umum untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu;
2. Tidak boleh ada penyalahgunaan jabatan dan wewenang untuk kepentingan pihak-pihak yang mengintervensi atau yang mempengaruhi penyelenggara pemilu
Umum. Sekjen dan Kepaniteraan MK 2010, hlm. 521-522
3. Penyelenggara pemilu harus menjalankan dan memegang teguh hukum, keadilan, kebenaran, etika, dan moral.
Selain dari sisi original intent, jika dilihat dari segi fungsional Bawaslu, sejatinya memang sangat logis jika Bawaslu harus bersifat mandiri sebab adanya kemandirian Bawaslu akan berperan untuk menghindari keberpihakan. Adanya keberpihakan penyelenggara pemilu kepada salah satu peserta pemilu akan berakibat fatal sebab dapat memicu conflict of interest dan bisa berdampak pada ketidakpercayaan publik terhadap hasil pemilu. Hal ini tentunya sangat bertentangan dengan semangat pemilu yang harus dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.
B. Kewenangan Bawaslu dalam