ELECTIONS AS AN INSTRUMENT FOR GOOD GOVERNANCE
9. Visi Strategis
Para pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif yang luas dan jauh ke depan atas tata kelola pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia, serta kepekaan akan apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan perkembangan tersebut. Selain itu mereka juga harus memiliki pemahaman atas kompleksitas kesejarahan, budaya dan sosial yang menjadi dasar bagi perspektif tersebut.
4. Hasil dan Pembahasan
Pemilu amat penting untuk membawa bangsa ini keluar dari krisis multi dimensi yang sudah berlangsung 10 tahun lebih, dan entry point untuk membangun good goverment (pemerintah yang baik) sebagai syarat utama untuk mewujudkan good governance (tata kelola pemerintahan yang baik).
368 Jurnal Pettarani Election Review, Volume 1 Nomor 3, November 2020
Untuk mewujudkan prinsip-prinsip tersebut, Pemilu selain memilih para wakil rakyat yang terbaik, dan yang amat penting dan menentukan ialah memilih Presiden/Wakil Presiden yang mumpuni. Dengan terpilihnya para anggota legislatif yang terbaik, dan Presiden/Wakil Presiden yang terbaik pula, maka bangsa ini akan memasuki satu era baru yaitu “Indonesia Baru”, yang mempunyai pemerintah yang baik (good goverment) dan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Pemerintah yang baik, akan mendorong gerbong birokrasi ke arah yang lebih baik dan profesional.
membangun pemerintah yang baik diperlukan beberapa syarat, seperti yang dinyatakan Sutiyoso (2009 ) bahwa : Pertama, rakyat berhasil memilih pemimpin pemerintahan yang memiliki strong leadership (kepemimpinan yang kuat) yaitu yang memiliki kepemimpinan yang bisa memberi kebijakan, keteladanan, pencerahan, panduan, dan keberanian untuk melaksanakan visi dan program yang sudah dikampanyekan dalam pemilu Presiden/Wakil Presiden dan pemilihan kepala daerah.
Kedua, berhasil memilih pemimpin pemerintahan yang berpengalaman dari bawah, teruji dan memiliki visi besar, yaitu yang mempunyai mimpi besar untuk
membawa bangsa ini menjadi bangsa dan negara yang besar, makmur, dan sejahtera, kuat dan mandiri, bukan menjadi bangsa kuli seperti yang disinyalir oleh Bung Karno, tetapi menjadi bangsa produsen sebagaimana yang dikemukakan Mohammad Hatta. Hal itu bisa diwujudkan karena hampir semua syarat dimiliki oleh Indonesia, seperti kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, tanah yang luas dan subur, penduduk yang besar dan pekerja keras. Kalau bangsa ini berhasil memilih pemimpin pemerintahan di pusat dan daerah yang tepat dan diperlukan bangsa ini, maka dalam waktu yang tidak lama, Indonesia akan bangkit dan maju sebagaimana yang dilakukan Presiden Rusia Vladimir Putin, hanya memerlukan waktu 8 tahun, Rusia sebagai negara pecahan Uni Sovyet yang porak-poranda, bisa bangkit dan maju kembali, sehingga menjadi bangsa yang dihormati dan disegani oleh kawan dan lawan dalam pergaulan internasional.
Ketiga, berhasil memilih pemimpin pemerintahan yang berani dan tegas. Bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai ini mempunyai potensi yang besar untuk maju dan menjadi negara super power (adidaya), tetapi mempunyai banyak masalah seperti penguasaan ekonomi oleh pihak asing, sistem ekonomi yang dijalankan belum merujuk pasal 33 UUD
369 Jurnal Pettarani Election Review, Volume 1 Nomor 3, November 2020
1945, terjerat oleh utang yang amat besar, sehingga pengeluaran terbesar dalam APBN adalah membayar cicilan utang dan bunga serta berbagai masalah besar yang memerlukan pemecahan segera. Oleh karena bangsa dan negara ini sangat banyak masalahnya dan tidak dalam keadaan normal, maka diperlukan pemimpin pemerintahan di semua tingkatan yang tegas dan berani mengambil resiko dalam mengambil keputusan yang cepat dan tepat.
Keempat, berhasil memilih pemimpin pemerintahan yang bisa merealisasikan mimpi besarnya dengan memberi satu fokus dalam pembangunan, yang kalau program tersebut dijalankan, akan menjadi bola salju (snow ball) yang mempengaruhi bidang-bidang lain. Jadi pemimpin yang dibutuhkan Indonesia, selain visioner, juga memiliki pengalaman dan teruji kemampuan manajerialnya dalam melaksanakan pembangunan, sehingga bangsa dan negara ini bangkit dari kubangan keterpurukan dalam segala bidang.
Kalau rakyat Indonesia berhasil memilih wakil-wakil rakyat di parlemen pada semua tingkatan seperti yang diharapkan, dan berhasil memilih pemimpin pemerintahan di semua tingkatan terutama pemimpin nasional yang berwatak “satrio pinandito sinisih ing wahyu” seperti yang
dikemukakan, maka bangsa Indonesia dalam waktu lima tahun ke depan akan berhasil membangun tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) yang melayani, memberi inspirasi dan motivator bagi kemajuan masyarakat, bangsa, dan NKRI.
Apabila dikaitkan dengan masalah pemerintahan, penyelenggaraan pemilu mapun partai politik sendiri. Misalnya dalam aspek politik, secara internal, lembaga-lembaga politik dikelola tidak profesional, jauh dari etika politik dan tidak menjalankan fungsi partai politik yang sebenarnya. Akibatnya, merajalela KKN di kalangan birokrasi dan legislatif sebagai bukti nyata pelaksanaan pemerintahan yang buruk dan meninggalkan aspek good governance.
Terhadap gambaran Gambaran di atas, maka penyelenggaraan pemilu sebagai arena demokrasi harus mengacu dalam prinsip tata kelola yang baik (good governance) terdapat sepuluh prinsip diantaranya:
Pertama, partisipasi yaitu mendorong semua warga negara mengeksresikan pendapatanya/pilihannya dalam proses penyelenggaraan pemilu yang demokratis, jujur dan tidak memaksa yang menghasilkan partisipasi publik untuk memilih parti politik yang dinyakini dapat
370 Jurnal Pettarani Election Review, Volume 1 Nomor 3, November 2020
menyelesesaikan permasalahan publik dan membawa aspirasinya. Kedua, penegakan hukum yaitu, pelaksanaan dan penegakan hukum dan perundangan yang berlaku secara adil dan tanpa diskriminasi, serta mendukung HAM dalam pilihan dan sikap semua masyarakat. Ketiga, Transparansi yaitu, membangun saling kepercayaan antara pemerintah, penyelenggara pemilu, partai politik, LSM dan masyarakat dengan memberikan informasi yang dibutuhkan dan akses informasi yang mudah bila dibutuhkan. Keempat, Responsif yaitu, meningkatkan responsitas penyelenggaraan pemilu terhadap keluhan, masalah dan aspirasi masyarakat tanpa diskriminasi. Kelima, Pemerataan yaitu, memberikan peluang yang sama bagi semua warga, partai politik untuk ikut serta dalam pemilu. Keenam, Visi stratejik yaitu, memformulasikan suatu strategi (yang mengena bagi pemerintah, penyelenggara pemilu, partai pplitik), yang didukung dengan sistem penganggaran berbasis
kinerja, sehingga dapat
dipertanggungjawabkan kepada publik. Ketujuh, Efektifitas dan efesiensi yaitu, upaya penyelenggaraan pemilu yang dapat melibatkan semua warga dengan memanfaatkan sumber daya dan dana secara benar dan proporsional. Kedelapan, Profesionalisme yaitu, meningkatkan kapasitas, ketrampilan, dan moral
penyelenggara pemilu, partai politik, calon wakil rakyat sedemikian rupa, sehingga menghasil lokomotif demokrasi dan menghasilkan wakil-wakil rakyat yang diharapkan masyarakat. Kesembilan, Akuntabilitas yaitu, meningkatkan akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pemilu bagi KPU/KPUD, Bapilu, Partai Politik dan calon legislatif sejak dari awal kampanye hingga selesai pemilu serta selesai tugas sebagai penyelenggara pemilu atau wakil rakyat. Kesepuluh, Pengawasan yaitu, melakukan kontrol dan pengawasan atas tahapan-tahapan pemilu, serta administrasi bagi penyelenggaraan pemilu, partai politik di semua lini kegiatan pemilu.
Pada akhirnya, rakyat harus sadar betul bahwa Pemilu merupakan cara terbaik untuk membentuk representative government sebagai tahap awal ke arah pembangunan good governance. Pemilu juga merupakan expression of democratic
struggle, di mana rakyat menentukan siapa
saja yang dipandang layak dan dapat memimpin negara. Jadi, jangan lagi memilih calon legislatif, DPD atau presiden yang tidak punya kredibilitas, kapabilitas dan sarat partikularisme (KKN).
5. Kesimpulan
Good governance sesungguhnya telah
371 Jurnal Pettarani Election Review, Volume 1 Nomor 3, November 2020
khususnya setelah runtuhnya komunisme dan atau akhir perang dingin. Prinsip-prinsip yang harus diwujudkan dalam tata kelola pemerintahan melalui Pemilu adalah adanya partisipasi masyarakat, penegakan hukum, transparansi, responsif, pemerataan, visi stratejik, efektifitas dan efesiensi, profesionalisme, akuntabilitas pengawasan
Membangun good governance harus menjadi agenda besar bangsa Indonesia pascapemilu 2009. Untuk keluar dari segala macam kesulitan yang dihadapi, dan meraih kemajuan di segala bidang, diperlukan pemimpin pemerintahan di semua tingkatan yang memiliki strong leadership. Momentum pemilu 2009, harus menjadi arena untuk memilih wakil-wakil rakyat yang terpercaya, jujur, berdedikasi, cerdas, bermoral dan bertanggung jawab, serta pemimpin pemerintahan yang berani, tegas, teruji, dan mumpuni.
Hasil pemilu 2009 harus menjadi instrumen untuk membangun good governance serta sistem pemerintahan yang
melayani, mengayomi, memberi optmisme dan pencerahan kepada masyarakat yang mengalami keterpurukan ekonomi yang panjang.
372 Jurnal Pettarani Election Review, Volume 1 Nomor 3, November 2020
DAFTAR PUSTAKA
Dahl, Robert. Perihal Demokrasi Menjelajahi Teori dan Praktek Demokrasi Secara Singkat, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2001.
Karin Afriani, Fathul Wahid, dampak e-government pada good governance: temuan empiris dari kota jambi, SNATI, 2009
Mahfud MD, Moh. Hukum dan Pilar-Pilar Demokrasi, Cet I; Yogyakarta : Gama Media, 1999.
Muchsin, Tindak Pidana Pemilu Serta Tugas Peradilan Umum : Menurut UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu dalam Varia Peradilan No. 275 Oktober 2008.
Prihatmojo, Joko J. Pemilihan Kepala Daerah Langsung, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005.
Sutiyoso, Bangun Good Government and Good Governance untuk Meraih Masa Depan Indonesia diakses dari www.setneg.go.id pada 6 Juni 2009.