• Tidak ada hasil yang ditemukan

BBM NAIK DAN RAMADAN, INFLASI MENCAPAI ANGKA TERTINGG

Dalam dokumen MEDIA PEMERINTAH KOTA TEBING TINGGI (Halaman 48-50)

Harga Kebutuhan Pokok Melonjak - Sejumlah pedagang menunggu pembeli di pasar Karet, Setia Budi, Jakarta, Kamis (11/7). Harga kebutuhan pokok menjelang puasa melonjak di beberapa pasar di Jakar- ta seperti harga jual cabai yang mengalami kenaikan cukup tinggi sehingga mencapai Rp55.000/kg dari harga Rp40.000/kg. (sumber: BeritaSatu)

Jakarta – Bank Indonesia menyatakan inflasi pada minggu ketiga Juli mencapai 2,7 persen secara month to month (mtm) sedangkan tingkat inflasi tahunannya (YoY) mencapai delapan persen.

Angka ini merupakan yang tertinggi pada tahun ini, setelah pada bulan sebelumnya inflasi hanya tercapat 1,03 persen sebagai dampak lanjutan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo menjelaskan angka inflasi tersebut didapat dari survey perkemban- gan harga yang dilakukan di 20 kota setiap minggu. Angka inflasi tersebut dinilai

bisa meningkat meningat masih tersisa seminggu lagi hingga berakhirnya periode perhitungan inflasi Juli.

“Kita melihat sampai minggu ketiga bisa mencapai delapan persen YoY. Tapi kita ada masih waktu seminggu lagi kondisi inflasi, delapan persen itu mksdnya YoY ya. Sedangkan untuk inflasi month to month (MTM) 2,7 persen. Cukup tinggi,” ujar Agus di kantornya, Jakarta, Kamis (25/7). Kendati tinggi namun Agus optimis angka inflasi akan bisa dikendalikan melalui koordinasi yang baik antara otoritas fiskal dan moneter. Dengan demikian Agus yakin inflasi tahunan bisa mencapai target pada APBN-P 2013 sebesar 7,2 persen. Agus mengaku mengapresiasi langkah konkrit yang dilakukan pemerintah untuk menekan inflasi, seperti langkah intervensi dan melancarkan distribusi melalui operasi pasar yang dilakukan Kementerian Perda- gangan dan Kementerian Pertanian untuk menekan harga komoditi-komoditi yang meningkat tajam seperti bawang merah,

daging dan cabai.

“Jadi saya melihat kalau seandainya dalam survey BI Juli MtM 2,7 persen, kemu- dian nanti di Agustus lebih rendah dan di September sudah kembali normal, kita harapkan yang 2,7 persen ini lebih ren- dah nantinya. Apalagi kalau koordinasi pemerintah dengan pemda bisa lebih baik,” katanya.

Menteri Keuangan Chatib Basri berharap pada September tidak akan ada inflasi atau jika ada angkanya relatif kecil. Dia bahkan yakin periode setelah September akan terjadi deflasi seiring berakhirnya dampak kenaikan harga BBM subdisi.

“Maka dengan itu harapannya ekspektasi inflasi ada penurunan. Maka bond yield juga mengalami penurunan,” tukas dia. Kepala Ekonom Danareksa Research Institute (DRI) Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya mengatakan inflasi pada Juli akan menembus angka dua persen. Hal ini dengan memperhitungkan sisa inflasi akibat kenaikan BBM sekitar satu persen. Dia mengungkapkan ada dua kemungki- nan dampak inflasi akibat kenaikan harga BBM, yakni kemungkinan dampaknya bisa separuh di Juli dan separuh lagi di Agustus atau kemungkinan semua dampak inflasin- ya pada Juli. Apabila kemungkinan semua dampak inflasi pada Juli, maka bisa di atas 2,5 peresen dengan inflasi tahunanmenca- pai delapan persen.

“ Jadi Juli ini agak menegangkan bagi kita, di bawah tiga persen atau di atas tiga persen. Itu masih dalam ekspektasi lah. Kalau di atas tiga persen orang pasti akan kaget,” katanya.

Apabila BI tidak siap terhadap dampak in- flasi maka suku bunga acuannya (BI Rate) diyakini bisa kembali dinaikkan hingga 25 basis poin. padahal, katanya, BI telah berjanji untuk tidak kembali menaikkan BI Rate. ( Aswin Nasution )

I N F O N A S I O N A L

Mulai semester pertama Juli tahun depan, pembiayaan Kurikulum 2013 akan didanai melalui tiga sumber, yakni Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) pusat, ban- tuan operasional sekolah (BOS), dan dana alokasi khusus (DAK). Pos-pos anggaran itu akan difokuskan untuk penggandaan buku dan pelatihan guru.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebu- dayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim mengatakan, kementerian akan menge- luarkan surat edaran terkait pembiayaan Kurikulum 2013. Ke depan, kata dia, pelaksanaan pembiayaan Kurikulum 2013 tidak hanya dari DIPA pusat seperti saat ini.

"Semester satu tahun depan bulan Juli digunakan dana BOS, sedangkan dana DAK digunakan untuk semester dua mulai

Januari," katanya di Kemdikbud, Jakarta, Senin (11/11).

Musliar mengatakan, untuk penggandaan buku akan menggunakan dana BOS dan sebagian dari DAK. "Kalau BOS kurang akan ditransfer dari pusat dari DIPA untuk tambahan BOS Buku," katanya.

Dijelaskan Musliar, saat ini dana BOS SD dan SMP sebanyak Rp 580 ribu dan Rp 710 ribu, jika digunakan untuk membeli buku mencapai Rp 70 ribu, sedangkan BOS SMA cukup besar yaitu Rp 1 juta. "Kita transfer lebih kurang Rp 800 miliar untuk beli buku khusus buku SD dan SMP, yang bosnya kecil, tetapi kalau SMA kan BOS-nya besar," ujarnya.

Sementara untuk pelatihan guru, sebagian besar akan menggunakan dana dari DIPA pusat. Namun, daerah juga diharapkan

berpartisipasi seperti di Provinsi Jawa Timur, biaya pelatihan guru 50 persen ditanggung pemerintah pusat, 30 persen pemerintah provinvsi, dan 20 persen di- tanggung pemerintah kabupaten atau kota. "Banyak daerah-daerah di tahun ini saja melaksanakan sendiri tanpa diminta, tapi dalam edaran ini betul-betul kita minta dan kita arahkan bahwa buku diadakan melalui tiga sumber tadi," katanya. Musliar menambahkan, saat ini sebagian kabupaten kota telah menerapkan Kuri- kulum 2013 secara mandiri dari segi biaya pelatihan guru maupun pengadaan buku. "Semuanya hampir 800 sekolah menerap- kan mandiri," katanya.

(Aswin Nasution)

T E K N O L O G I I N F O R M A S I

Jawaban singkatnya

– jika Pak Menteri Negara INKOM (Pak Syamsul) memaksa- kan untuk menangani e-government hari ini juga – e-government akan GAGAL. Kenapa? Teknologi Informasi akan dengan mudah membuat segala sesuatu menjadi transparan – termasuk kondisi moral aparat pemerintah, kebijakan pemerintah, borok pemerintah yang berorientasi pada lisensi, sweeping, palak memalak, sogok menyogok jusrtu akan semakin transparan kepada masyarakat, belum lagi semakin menjamurnya orang yang mengejar-ngejar proyek untuk e-government.

Contoh sederhana, proses komputerisasi KTP & SIM yang sebenarnya merupakan proses e-government paling sederhana - apakah membuat sistem menjadi effisien? Yang jelas saya pribadi mempunyai 2 buah KTP (Bandung & Jakarta) & SIM bah- kan bisa diperoleh dengan mudah tanpa perlu ujian dll, cukup datang foto & tanda tangan saja. Tentunya semua dilakukan dengan menyogok para oknum yang ada di depan komputer dengan dana yang cukup orde-nya cukup beberapa puluh ribu Rupiah saja.

Apakah yang demikian yang kita inginkan? Jelas, selama prosedur, tata kerja, moral & kebijakan aparat pemerintah masih belum memihak pada masyarakat banyak – masih kepada kepentingan jangka pendek (mungkin jangka dapur) dari kantong aparat pemerintah. Tampaknya e-govern- ment akan GAGAL total.

e-government apakah itu? Mungkin persepsi saya akan sangat berbeda sekali dengan sebagian orang terutama para bi- rokrat di pemerintahan. Secara teknologi, e-government tidak lebih daripada sekedar proses effisiensi kerja / prosedur pelayanan yang ada di pemerintahan – termasuk yang sifatnya B2B antar departemen, maupun B2C ke masyarakat. Jika kita cari ekuiva- lensinya, dalam dunia bisnis kita mengenal proses mengeffisienkan pelayanan dunia bisnis yang kemudian dikenal sebagai e- commerce.

Teknologi di balik e-government sebet- ulnya berbasis Internet biasa, mengguna- kan saluran fisik yang ada seperti leased channel, VSAT, dial-up, wireless Internet di enkapsulasi dalam protokol TCP/IP untuk mengirimkan berbagai data / transakasi aplikasi e-government yang di drive oleh basis data (yang biasanya distributed) dengan mekanisme transaksi antar de- partemen menggunakan format standard berbasis Electronic Data Interchange (EDI) atau yang lebih kompleks menggunakan eXtensible Mark-up Langunge (XML). Pada tahapan ini e-government dapat men- jadi tool yang sangat baik untuk melaku- kan B2C service kepada rakyat; maupun B2B antar departemen.

Tentunya sekedar effisiensi proses / prosedur tidaklah cukup untuk membuat pemerintah ini membawa bangsa Indone- sia kepada knowledge based society yang sifatnya sangat kompetitif. Knowledge Management internal pemerintah perlu di bangun, budaya baca, kompetisi & pro- fesional perlu di injeksi kepada pola kerja aparat pemerintah. Knowledge manage- ment paling sederhana adalah dalam me- manage berbagai explicit knowledge yang berupa laporan penelitian, buku, laporan kegiatan, naskah legal berupa UU, PP, KEPMEN, SK DIRKEN dll dalam sebuah perpustakaan digital yang terintegrasi satu sama lain antar departemen membentuk knowledge infrastructure e-government. Disamping, management berbagai tacit knowledge dari diskusi, rekaman tatap muka, debat publik kedalam knowledge infrastructre yang dapat di akses secara mudah dari mana saja. Dalam konteks yang sederhana knowledge infrastructure ini merupakan jaringan digital library yang sudah dikembangkan oleh teman-teman di Knowledge Management Research Group (KMRG) ITB yang melibatkan 20+ lem- baga pendidikan / penelitian di Indonesia. Dengan adanya effisiensi & competitive- ness yang di drive oleh infrastructure IT & knowledge infrastructure. Idealnya e-government bisa menjadi “one-stop non-stop service” dari pemerintah dalam

melayani rakyat Indonesia. Jadi para pega- wai negeri sipil yang merupakan pelayan masyarakat dapat melayani dengan baik & effisien. Bermain dengan kuantitas rakyat yang dilayaninya.

Proses yang akan paling berat adalah melakukan mapping dari proses pelayanan pemerintah ke code / program data base yang dilakukan oleh para sistem analyst. Secara teori de yure kita banyak mengacu pada UU, PP, KEPMEN, SK DIRJEN dll .. tapi pada kenyataan di lapangan (de facto), banyak sekali peraturan tidak tertulis yang dilakukan oleh para aparat pemerintah di lapangan, tidak usah jauh-jauh lah … dilingkungkan dunia telekomunikasi, siapa sih yang tidak kenal bagaimana sulitnya memperoleh ijin frekuensi, belum lagi untuk memperoleh lisensi operator selular, operator voice mail dll … kadang menyak- itkan hati memang.

Selama pimpinan departemen, dirjen, direktur & kepala biro maupun aparat di bawahnya tidak bisa berjalan secara bersih tanpa menggunakan komputer …. Maka kita sebaiknya jangan harap dengan mengimplementasikan e-government & komputerisasi akan membuat proses men- jadi lebih baik & transparan. Yang terjadi adalah aparat yang baik akan di singkirkan karena akan menutupi tindak kejahatan aparat lain yang ingin memperoleh keun- tungan dari ketidak transparan-an proses & data.

Pada akhirnya rakyat hanya menjadi objek belaka, bukan subjek yang harus diber- dayakan & difasilitasi agar lebih maju. Maaf saya agak sinis, suka atau tidak suka karena memang demikian yang saya lihat di pemerintahan selama saya mengabdi di PNS. Semoga Mba Mega & para menteri kabinet-nya menyadari bahwa mensubjek- kan rakyat adalah kunci utama keberhasi- lan mereka dalam memerintah pada hari ini, bukan mengejar proyek, ijin, lisensi - seperti yang dilakukan banyak aparat & kebijakan pemerintah sekarang ini. (Rozi)

AKANKAH E-GOVERNMENT MEMECAHKAN

Dalam dokumen MEDIA PEMERINTAH KOTA TEBING TINGGI (Halaman 48-50)

Dokumen terkait