oleh Sungai Padang dan Sungai
Bahilang yang membelah Kota
Tebingtinggi membuat Pemko
Tebingtinggi berupaya keras.
Hal ini dibuktikan oleh Waliko-
ta Tebingtinggi Ir Umar Zu-
naidi yang berhasil mendorong
pihak Kementrian Pekerjaan
Umum (Kemen PU)
mengucurkan anggaran pada tahun 2013 ini terkait Dam bergerak Bajuyu yang berlokasi di Kelura- han Tambangan Hilir Kecamatan Padang Hilir Kota Tebingtinggi senilai Rp250miliar.
Banjir kiriman di Kota Tebingtinggi yang di sebabkan meluapnya dua sungai memb- elah jantung Kota Tebingtinggi (Sei Padang dan Sei Bahilang) merupakan permasala- han sosial masyarakat tidak kunjung terata- si, permasalahan banjir di Kota Tebingting- gi harus menjadi prioritas oleh pihak Kemen PU.Tidak terlepas dari hal tersebut, memang harus ada kerjasama yang baik antara Pemerintah Kota Tebingtinggi dan Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai terutama dalam hal pembebasan tanah masyarakat, karena pembangunan Dam Bergerak Bajayu (Batak, Jawa dan Melayu) tersebut melibatkan lahan pertanahan dua Pemerintahan Kabupaten dan Kota. Kepentingan untuk masyarakat banyak, pembebasan tanah diharapkan tidak
menjadi kendala. Terpenting harus ada kerjasama yang baik antara Pemkab Sergai dan Pemko Tebingtinggi, pembangunan pengendali banjir di Kota Tebingtinggi ini harus berjalan tepat waktu.
Memang masalah banjir menjadi trend baru di seluruh Indonesia, penyebab ter- jadinya banjir dikarenakan di hulu sungai sepajang daerah aliran sungai (DAS) sering dijadikan lahan produktif tanaman sawit, sehingga tingkat abrasi dan sedimetasi (pendangkalan) sungai mudah terjadi, itu- lah salah satunya terjadi penyebab banjir. Menyikapi proyek pembangunan Dam Bergerak Bajayu, Kementrian PU telah melakukan kajian dan akan melaksanakan pada tahun 2013 ini.
S O S I A L
Menurut kajian Kepala Balai Wilayah Sun- gai Sumatera II, Pardomuan Gultom , telah dilakukan survei kelokasi terkait pemban- gunan dam bergerak Bajayu, sekitar lahan lokasi, ada lahan pertanian warga seluas 23 hektar akan menjadi lokasi pembangunan dengan cara short cut (memotong) sungai melalui jalur yang baru untuk memudah- kan pembangunan, sedangkan sungai yang lama akan ditutup menjadi milik Pemer- intah.
Proyek Pembangunan Dam Bergerak Bajayu ini sifatnya Multi Years (bertahap), biaya ditaksir mencapai Rp250 miliar dan akan rampung tiga tahun kedepan. Tahun 2013 ini akan mulai pelaksanannya, tetapi untuk mendukung pembangunan itu, Pemko Tebingtinggi dan Pemkab Sergai harus terlebih dahulu membebaskan tanah warga.
Keuntungan dari pembangunan Dam Bergerak Bajayu ini sangat banyak, selain untuk kepentingan irigasi bagi lahan perta- nian di Pemkab Sergai seluas 5.500 hektare di dua Kecamatan yakni Kecamatan Tebingtinggi dan Tebing Syahbandar, juga bisa digunakan untuk tempat pariwisata, study dan penyedia air baku untuk Pemko Tebingtinggi. Sistem mekanik pemban- gunan dam Bergerak Bajayu ini menggu- nakan tenaga listrik, apabila air dari hulu dengan big water (air besar), maka secara otomatis dam akan bergerak membuka sendiri.
Masalah pendangkalan sungai (sedimen- tasi), itu tidak akan terjadi lagi, karena le- taknya dam bergerak ini jauh dari wilayah perkotaan, sekitar 2,5 Km dari bronjong yang lama, maka penumpukan tanah akan terbawa arus sungai jika dam bergerak ini dibuka.
Pembuatan dam bergerak ini sudah tentu akan menyerap tenaga kerja banyak dan prospek kedepan dari pembangunan ini akan banyak dirasakan mamfaatnya bagi masyarakat Pemko Tebingtinggi dan Pem- kab Sergai. Terpenting untuk percepatan pembangunan dam bergerak, pembebasan tanah harus cepat dilaksanakan. Penyebab lamanya pembangunan ini, nanti terjadi di pembebasan lahan itu sendiri.
Walikota Tebingtinggi Ir Umar Zunaidi Hasibuan mangaku pelaksanaan pemban- gunan dam bergerak Bajayu Multi Years secapatnya dilaksanakan oleh BWS Sumut
II, menyangkut ini, kedepan masyarakat Kota Tebingtinggi tidak lagi menerima banjir kiriman yang ditimbulkan oleh Sun- gai Padang. Untuk Sungai Bahaling yang juga membelah jantung Kota Tebingtinggi, pihak BWS Sumut II telah melakukan sur- vei untuk membuat alur sungai yang baru melalui Sei Segiling. (SOPIAN)
Pembangunan Dam Gerak Bajayu, Butuh Kajian Ilmiah
Memang permasalahan banjir kiriman yang sering melanda Kota Tebingtinggi oleh luapan Sungai Padang dan Sungai Bahilang terus menyita perhatian. Untuk mengantisipasi banjir kiriman tersebut, pihak Kementrian Pekerjaan Umum (Kemenpu) telah mengucurkan anggaran sebesar Rp250 miliar untuk pembangunan dam bergerak dengan nama Bajayu (Batak, Jawa dan Melayu) yang mengambil dua lokasi yaitu wilayah Pemko Tebingtinggi dan Kabupaten Serdang Bedagai. Anggaran yang dikucurkan oleh pihak Kemenpu ini bersifat bertahap (multi years) selama tiga tahun dengan mulai program pembebasan lahan tahun 2013 ini, memang ada kendela pada tahun 2013 ini belum dilakukannya pembebasan tanah dikarenakan belum keluarnya izin lokasi dari pihak Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho karena pembangunan dam bergerak Bajayu yang menelan dana Rp250 miliar ini butuh kajian ilmiah apa dampak positif dan negatif yang akan ditimbulkan. Memang pihak Kemenpu melalui Balai Wilayah Sungai Sumut II tidak membatal- kan proyek pembangunan dam bergerak Bajayu tersebut, tetapi proyek yang sudah masuk kedalam anggaran BWSS II tersebut akan tetap dilaksanakan, hanya tinggal menunggu surat izin lokasi pembangunan oleh pihak Gubsu.
Kendalanya itu saja, kemungkinan Gubsu meminta kajian ilmiah terkait pemban- gunan bendungan dam bergerak Bajayu. Dinas Pengelolan Sumber Daya Air (PSDA) Sumut untuk melakukan kajian ilmiah tersebut. Karena pembangunan dam bergerak Bajayu menelan dana hingga Rp250 miliar, pihak Gubsu, harus terlebih dahulu mengetahui apa dampak negatif dan positif dari pembangunan Bajayu terhadap dampak lingkungan khususnya kepada masyarakat, tetapi program yang sudah ditanggung anggarannya tersebut
pasti akan tetap dilaksanakan dengan men- unggu proses izin lokasi dari Gubsu. Walikota Tebingtinggi Ir Umar Zunaidi Hasibuan melalui Sekdako telah melay- angkan surat kepada pihak Dinas PSDA Sumut terkait percepatan izin lokasi pem- bangunan dam bergerak Bajayu.Memang pembangunan dam bergerak Bajayu itu sangat mendesak sekali, karena setiap hujan deras menguyur bagian dihulu Sungai Padang seperti wilayah Kabupaten Simalungun dalam hitungan beberapa jam, Kota Tebingtinggi akan menerima dampak banjir kiriman dan itu sangat merugikan orang banyak terutama warga yang tinggal berdekatan dengan Daerah Aliran Sungai (Das) Sungai Padang dan Sungai Bahilang. Untuk kajian secara ilmiah dampak lingkungan atas pembangunan dam bergerak Bajayu tersebut dampak negat- ifnya sebenarnya tidak ada, dan hasilnya akan sangat banyak dirasakan oleh warga Kota Tebingtinggi dan Kabupaten Sergai, seperti untuk wilayah Sergai meliputi Kecamatan Tebingtinggi dan Kecamatan Tebing Syahbandar ribuan areal pertanian akan merasakan irigasi air, sementara itu, dam bergerak Bajayu ini setelah selesai rampung akan menjadi tempat rekreasi pariwisata warga, study banding pelajar, peyedia air baku dan irigasi pertanian. Ka- jian ilmiah itu bisa dilakukan oleh Univer- sitas ternama di Kota Medan seperti USU ataupun lembaga sosial yang menangani permasalahan Sungai.
Jadi upaya yang dilakukan Pemko Tebingtinggi terkait banjir sebelum ter- laksanannya pembangunan dam bergerak Bajayu, pihak Dinas Pekerjaan Umum Kota Tebingtinggi melakukan upaya pembangu- nan benteng di sepanjang Sungai Padang dan Sungai Bahilang yang membelah Kota Tebingtinggi serta membuat dam-dam penutup pintu air menuju ke daerah pe- mukiman warga, kenapa, karena pada saat banjir pintu pembuangan akan ditutup, dan waktu air surut maka pintu tersebut akan dibuka untuk memudahkan keluarn- ya air menuju sungai. Bahkan pihak Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Tebingtinggi melakukan normalisasi Sungai Bahilang dengan melakukan pengorekan sungai. (SOPIAN)