• Tidak ada hasil yang ditemukan

BBM sebagai Penggerak Utama Sepeda Motor dan Mobil 13

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1. Transportasi

2.1.5. BBM sebagai Penggerak Utama Sepeda Motor dan Mobil 13

BBM merupakan modal utama penggerak sepeda motor dan mobil karena bahan bakar alternatif lain untuk kendaraan bermotor masih belum diterapkan secara massal di Indonesia.

Penjelasan asal usul minyak bumi sampai saat ini didominasi oleh teori yang menjelaskan bahwa minyak bumi adalah hasil proses fisika dan kimia ribuan tahun pada sisa-sisa makhluk hidup yang terjadi di perut bumi, yang hasilnya terperangkap di struktur bebatuan berpori (porous rocks). Karena prosesnya cukup lama, maka minyak bumi adalah sumber daya alam yang terbatas. Teori kedua, yang dianut oleh ilmu geologi Rusia, menyatakan bahwa minyak bumi bukanlah berasal dari sisa-sisa jasad hidup, melainkan berasal dari sebuah proses termodinamika yang hingga saat ini belum diketahui yang terjadi di tempat yang jauh lebih dalam di perut bumi. Teori yang kedua ini memungkinkan pencarian minyak bumi di tempat-tempat yang “kering minyak” menurut buku teks geologi konvensional (Maugeri, 2007).

Namun hingga saat ini, arus utama pandangan mengenai ketersediaan minyak bumi tampak lebih dipengaruhi oleh teori Puncak Minyak (Peak Oil), yang dikembangkan pada 1956 oleh Marion King Hubert, yang menerima

bulat-bulat asal muasal organik minyak bumi. Berdasarkan pengamatannya atas data-data migas di sebuah negara bagian Amerika Serikat, Hubbert dengan tepat memprediksikan bahwa produksi minyak AS akan menurun pada dekade 1970an. Dalam teori ini, sumur-sumur sebuah ladang migas yang berproduksi secara bersamaan, akan memiliki grafik terhadap waktu yang berbentuk seperti lonceng. Artinya, produksi ladang tersebut akan mencapai sebuah puncak untuk kemudian menurun dengan tingkat yang sama seperti kenaikan produksinya.

Tepatnya, prediksi teori Peak Oil Hubbert membuat percaya banyak orang, terutama yang menggantungkan pendekatan statistik dan murni matematis, bahwa minyak dunia akan segera habis. Persoalan bahwa Hubbert ternyata gagal memprediksikan peak oil di belahan dunia lain tidak membuat mereka surut. Geolog lain, Colin Campbell, yang sama seperti Hubbert membangun karirnya sebelumnya di perusahaan minyak, “menyempurnakan” teori peak oil, dan tanpa henti-henti melakukan revisi atas prediksi puncak produksi minyak dunia. Baik Hubbert maupun Campbell, tidak pernah menyebut angka sesungguhnya jumlah persediaan minyak dunia, sebuah angka yang sebenarnya sulit dipastikan hingga saat ini dan sangat tergantung pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada tahun 2000, setelah sekian lama terdiskreditkan oleh kegagalannya, teori peak oil kembali bergaung. Di tengah-tengah meroketnya harga minyak dunia, media mengutip kembali prediksi Campbell pada 1998 bahwa produksi minyak dunia akan mencapai puncak pada dekade pertama abad 21.

Ketika pada 2004-2005 harga minyak dunia kembali meningkat hingga menembus angka US$ 65 per barel, berbagai buku dan cover story berbagai jurnal terkemuka membahas teori peak oil. Data statistik dan kini model-model ekonometrik (kontribusi Campbell) yang disajikan teori peak oil, setidak-tidaknya telah berkontribusi pada iklim ketidakpastian di bursa komoditas.

Sudah dipaparkan sebelumnya bahwa bahan bakar minyak berasal dari minyak bumi yang merupakan sumber daya alam yang terbatas. Oleh karena itu produksi minyak mentah juga dikelola dengan terbatas pula. Terbatasnya produksi minyak dunia dan besarnya kebutuhan masing-masing negara akan minyak dunia membuat diaturnya perdagangan minyak pada bursa komoditas seperti: New York

Mercantile Exchange (NYMEX), Intercontinental Exchange (ICE) di London,

dan belakangan Iranian Oil Bourse (IOB), dan juga secara langsung (produsen-pembeli, dalam hal ini pemilik pengilangan minyak).

Perdagangan komoditas seperti minyak terjadi dalam dua cara. Pertama dengan perdagangan spot, di mana pengantaran barang dilakukan pada hari itu ataupun sesegera mungkin; kedua, dengan perdagangan kontrak-kontrak berjangka (futures), di mana ditentukan hari pengantaran, kualitas barang, dan jumlah barang.

Harga jenis minyak mentah (crude oil) dunia, ditentukan secara relatif terhadap pergerakan harga tiga jenis minyak mentah, yaitu Western Texas

Intermediate (WTI) yang diperdagangkan di NYMEX, Brent di ICE, dan Dubai.

Artinya, minyak mentah Minas Indonesia yang merupakan salah satu jenis minyak mentah referensi OPEC, dijual mengikuti naik turunnya harga ketiga jenis

minyak mentah tersebut (benchmark/patokan). Sejauh mana perbedaan harga Minas dan WTI, ditentukan oleh tingkat keenceran Minas (derajat API, American Petroleum Institute) dan kandungan sulfurnya.

WTI dan minyak mentah sekelasnya, merupakan minyak mentah yang sangat diinginkan oleh pengilangan minyak karena mudah menghasilkan BBM yang digunakan oleh kendaraan bermotor (gasoline, premium, pertamax dan lain sebagainya). Akibatnya, harga Minas yang memang derajat API-nya lebih rendah dan kandungan sulfurnya lebih banyak akan lebih murah. Perbedaan harga ini sebenarnya mencerminkan juga struktur pengilangan minyak dunia, di mana banyak yang didesain untuk memaksimalkan pengolahan WTI dan minyak mentah sekelasnya (light sweet oil) seperti, minyak mentah Brent, ataupun yang sedikit lebih rendah macam Arabian Light. Selain itu, tuntutan pengurangan jumlah timbal, sulfur, dan bentuk-bentuk polusi lainnya di BBM oleh perangkat peraturan ramah lingkungan negara-negara maju dan belakangan negara berkembang, juga menyebabkan tingginya permintaan minyak mentah semacam WTI. Persoalannya, jumlah produksi minyak mentah ini sangat terbatas: WTI diproduksi 300.000 bpd (barel/hari), Brent 300.000 bpd, dan Dubai 100.000 bpd.

Keterbatasan produksi jenis minyak mentah patokan membuat pasar spot patokan menjadi sangat kaku dan sensitif. Sedikit saja gangguan, misalnya sabotase pipa minyak di Nigeria (minyak mentahnya masuk dalam kategori sekelas dengan WTI dan Brent), dapat mendistorsi harga minyak dunia, karena naiknya harga minyak mentah patokan akan membuat jenis-jenis minyak mentah

lainnya naik. Di sinilah pintu masuk yang menjadikan aktivitas spekulasi di pasar minyak bumi dunia sebagai terdakwa.

Persoalan mendasar adalah keterbatasan/ketersediaan BBM (dunia) dari sisi penawaran sehingga cukup mempengaruhi harga minyak bumi di seluruh dunia dan sepanjang 150 tahun lebih penggunaannya secara modern. Dilain pihak BBM ini merupakan produk yang sangat vital bagi bidang transportasi Indonesia dan tentu saja perekonomian Indonesia, sehingga kebijakan harga BBM ini dikontrol dengan ketat oleh pemerintah. Keterangan dari Menteri Keuangan (2008) Pemerintah Indonesia berusaha mengontrol harga BBM agar selalu stabil dengan melakukan berbagai upaya antara lain :

1. Penghematan belanja Kementerian Negara dan Lembaga, 2. Peningkatan penerimaan Negara dari sektor non migas, 3. Penggunaan anggaran belanja risiko fiskal,

4. Pembiayaan defisit anggaran melalui pinjaman dalam negeri melalui penerbitan Surat Berharga Negara,

5. Pembiayaan defisit anggaran melalui pinjaman program (ADB, Bank Dunia, dan bilateral) secara maksimal,

6. Optimalisasi penerimaan migas dengan meningkatkan lifting minyak, 7. Konversi minyak tanah ke LPG untuk mengurangi konsumsi minyak tanah 8. Penghematan konsumsi listrik dan biaya PLN, serta peningkatan efisiensi

PLN,

Alasan yang dikemukakan pemerintah melakukan kebijakan kenaikan harga BBM pun berbeda-beda. Pada tahun 1998 kebijakan kenaikan BBM dilakukan pemerintah karena besarnya beban anggaran akibat krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun tersebut. Pada tahun 2000 dan tahun 2001 pemerintah mengambil kebijakan menaikan harga BBM karena alasan maraknya penyeludupan BBM keluar negeri karena faktor harga minyak dunia lebih tinggi dibandingkan dengan harga bahan bakar dalam negeri. Pada tahun 2003 dan tahun 2005 alasan yang dikemukakan pemerintah adalah tingginya harga minyak dunia sehingga anggaran subsidi harga BBM menjadi tinggi. Dan tahun terakhir 2008, pemerintah Indonesia mengedepankan konsep pemerataan atau realokasi subsidi dari orang kaya ke orang miskin dan mengambil kebijakan menaikkan harga BBM dengan mengemukakan beberapa alasan antara lain:

1. Jika harga BBM dalam negeri tidak dinaikkan, maka akan terjadi perbedaan harga yang sangat besar antara harga BBM di dalam negeri dengan di luar negeri yang dapat memicu penyelundupan BBM ke luar negeri.

2. Pengurangan harga BBM harus dilihat sebagai kebijakan redistribusi karena selama ini subsidi BBM lebih banyak dinikmati oleh kelompok masyarakat menengah ke atas yang memiliki kendaraan mobil dan motor. 3. Harga minyak dunia yang melonjak dua kali lipat dalam setahun terakhir,

mengakibatkan beban subsidi BBM meningkat drastis, subsidi BBM dalam angaran pemerintah tahun 2008 akan melonjak dari 126 triliun rupiah menjadi 190 triliun rupiah.

4. Anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk program-program rakyat miskin, bantuan pangan, kredit usaha rakyat dan program-program untuk masyarakat berpenghasilan rendah hanya sebesar Rp 60 triliun atau kurang dari satu pertiga subsidi BBM yang dinikmati kelompok menengah ke atas 5. Jika harga BBM tidak dinaikkan maka anggaran program-program untuk

rakyat miskin, pendidikan dan kesehatan serta subsidi pangan harus dikurangi.

Secara garis besar kenaikan harga premium dapat kita lihat pada Tabel 2.3. Tabel 2.3. Perkembangan Harga Premium

Tahun Bulan Harga Premium Kenaikan

Rupiah Persentase 2000 Oktober 1150 2001 Juli 1450 300 26,09 2002 Mei 1750 300 20,69 2003 Januari 1810 60 3,43 2005 Maret 2400 590 32,60 2005 Oktober 4500 2100 87,50 2008 Mei 6000 1500 33,33 Sumber: PT. Pertamina 2.2. Teori Permintaan

Teori permintaan individual adalah berbagai jumlah dari suatu barang tertentu yang hendak dibeli konsumen pada berbagai kemungkinan tingkat harga pada suatu waktu tertentu. Sedangkan permintaan pasar adalah berbagai jumlah suatu barang yang dibeli konsumen pada berbagai kemungkinan waktu tertentu.

Permintaan yang potensial merupakan permintaan yang berhubungan dengan keinginan seseorang untuk mendapatkan barang dan jasa. Sedangkan permintaan efektif adalah keinginan atau kebutuhan yang disertai dengan

kemauan dan kemampuan untuk membeli dan didukung oleh uang yang cukup untuk membayar harga.

Pengertian permintaan menurut Gilarso dalam Utami (2006) adalah jumlah dari suatu barang yang mau dan dapat diteliti oleh konsumen pada berbagai keyakinan harga dalam jangka waktu tertentu dengan anggapan hal-hal lain tetap sama (ceteris paribus).

Dalam teori permintaan dikenal dengan dua macam bentuk yaitu permintaan statis dan dinamis. Bentuk permintaan statis memperlihatkan jumlah barang yang diminta oleh masyarakat atau pada berbagai tingkat harga dalam periode tertentu dengan asumsi ceteris paribus. Perubahan harga akan menyebabkan terjadinya perubahan permintaan sepanjang demand curve. Sedangkan permintaan dinamis akan menggeser kurva permintaan ke kiri atau ke kanan karena berubahnya faktor-faktor ceteris paribus. Kondisi tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.1

P P P1 P0 P0 P2 D0 D1 Q1 Q0 Q2 Q Q0 Q1 Q Gambar 2.1 Kurva Permintaan Statis dan Dinamis

Dokumen terkait